Terburu-buru Mencap Orang Lain

Ayat bacaan: Matius 13:55====================”Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?”Suatu kali saya pernah kecopetan ketika berada di stasiun bus di Kuala Lumpur sekia…

Ayat bacaan: Matius 13:55
====================
“Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?”

Suatu kali saya pernah kecopetan ketika berada di stasiun bus di Kuala Lumpur sekian tahun lalu. Sadar bahwa dompet saya lenyap, saya pun bergegas mendatangi pos polisi yang ada disana. Reaksi yang saya dapatkan bukanlah reaksi baik. Karena tahu bahwa saya berasal dari Indonesia, mereka malah tertawa dan berkata bahwa yang mencopet pun orang Indonesia juga. Itu sebuah tuduhan yang punya dasar lemah, karena mereka bahkan belum melakukan penyelidikan apa-apa, bahkan belum beranjak dari kursinya. Mungkin saja bahwa yang biasa mencopet disana adalah orang Indonesia yang punya sikap buruk, tetapi bukan berarti bahwa kalau ada yang kecopetan maka pasti pelakunya dari Indonesia. Satu hal lagi yang saya rasa tidak pantas adalah dengan mengarahkan kata Indonesia secara langsung. Kriminal tidak hanya berasal dari satu negara, dan kalau satu-dua orang berbuat jahat, tidak serta merta seluruh negara diberi cap sama. Tapi agaknya memang sudah kebiasaan orang untuk menggeneralisir sesuatu. Satu-dua oknum aparat berlaku buruk, instansinya kena getah. Beberapa anggota dewan korupsi, semua dicap jelek. Tidak jarang pula tanpa sadar kita sudah memberi cap sebelum kita mengenal seseorang, hanya berdasarkan dari mana ia berasal dan sebagainya.

Masalah seperti ini sebenarnya sudah terjadi sejak dahulu kala. Ketika Yesus hadir di dunia, Yesus juga mengalami hal yang sama. Yesus datang dengan  mengambil rupa orang biasa, Dia mengalami sendiri perlakuan-perlakuan buruk seperti diremehkan, disepelekan, dipandang rendah dan sebagainya. Ironisnya itu terjadi terlebih di kotanya sendiri, di Nazaret, dimana Yesus dalam rupaNya sebagai manusia bertumbuh dewasa.

Kita bisa melihatnya dalam Matius 13. Ketika Yesus mengajar di sana pada suatu kali, ada sekelompok orang yang dengan cibiran sinis meremehkan atau merendahkanNya. Lihatlah komentar orang-orang disana mengenai Yesus. “Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?” (Matius 13:55). Perhatikan bahwa mereka langsung memberi cap, belum apa-apa sudah menghakimi seenaknya. Apa sih yang bisa dilakukan oleh anak seorang tukang kayu? Begitu kira-kira pandangan mereka. Dan apa yang terjadi kemudian sangatlah disayangkan. “Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.” (ay 57b). Mereka menunjukkan sikap tidak percaya. Alkitab menyatakan apa yang terjadi selanjutnya. “Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.” (ay 58). Bukankah itu sangat disayangkan? Justru di ‘rumah’ sendiri Yesus mendapat penolakan, dan justru disana mukjizat tidak banyak terjadi. Mereka seharusnya bisa melihat berbagai kuasa dan mukjizat yang dilakukan Yesus, namun karena mereka sibuk memandang apa yang terlihat dari luar mereka pun meremehkan perbuatan-perbuatan luar biasa Yesus. Dan akibatnya mereka pun tidak mengalami mukjizat seperti yang banyak dilakukan Yesus justru diluar kotanya sendiri.

Mari kita lihat kejadian lainnya pada saat Samuel mencari anak-anak Isai untuk diurapi menjadi raja. “Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: “Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya.” (1 Samuel 16:6). Samuel berpikir demikian dengan memandang penampilan luar. Ganteng, tinggi, berwibawa, kurang apa lagi? Itu mungkin yang muncul dalam pikiran Samuel. Tapi nyatanya Tuhan tidak memandang dengan cara demikian. Tuhan pun kemudian menegurnya. “Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (ay 7). Lalu selanjutnya, bukankah Tuhan telah berfirman: “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti” ? (1 Korintus 1:27-28). Dalam banyak lagi kesempatan Tuhan juga sudah berkali-kali mengingatkan kita agar berhenti memandang segala sesuatu hanya berdasarkan penampilan luar yang dapat dilihat mata.

Dari renungan hari ini kita bisa melihat bahwa kecenderungan untuk memberi cap sebelum mengenal seseorang terlebih dahulu sebenarnya hanya merugikan kita sendiri. Sikap buruk seperti ini bukan hanya menimpa orang-orang biasa tapi bisa juga dilakukan oleh orang-orang yang seharusnya menjadi teladan, hamba-hamba Tuhan yang berada di barisan depan dalam melayani Tuhan. Nabi sekelas Samuel pun ternyata bisa melakukan kekeliruan seperti itu. Oleh karena itu kita harus mewaspadai agar jangan sampai perilaku seperti ini ada dalam diri kita. Ingatlah bahwa apa yang tampak hebat dari luar belum tentu sebaik apa yang terlihat, dan belum tentu hebat pula dalam pandangan Tuhan. Sebaliknya, ingat pula bahwa orang yang terlihat tidak istimewa dalam pandangan manusia bisa dipakai Tuhan secara luar biasa. Semua orang sama berharganya di mata Tuhan. Artinya, karena Tuhan mengasihi semua orang tanpa pandang bulu, ketika kita meremehkan seseorang itu sama saja dengan meremehkan Tuhan. Berhentilah menilai orang hanya dari kulit luarnya. Berhentilah menggeneralisir dan terburu-buru memberi cap sebelum mengenal betul seseorang. Yesus sudah memberi perintah jelas. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34). Bersikaplah sama baik kepada semua orang tanpa membeda-bedakan. Kasih yang diberikan Kristus kepada kita bukanlah sebentuk kasih yang membeda-bedakan seperti itu. Sama seperti Dia mengasihi kita tanpa memandang status, fisik, penampilan, asal usul atau latar belakang kita, seperti itu pula kita harus memperlakukan orang lain.

Tuhan tidak menilai penampilan luar, tetapi melihat hati

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply