Tepat Sesuai Ukuran

Ayat bacaan: Roma 12:3
======================
“Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.”

tepat sesuai ukuran

Saya mempunyai sebuah kolam kecil di taman. Menyenangkan sekali melihat ikan-ikan hias dengan berbagai warna indah berenang kesana kemari. Karena kolamnya kecil, ikan yang saya isi di sana pun rata-rata berukuran kecil pula. Ada beberapa yang berukuran lebih besar, dan ikan-ikan ini akan terlihat sangat besar ketika berada dalam sebuah kolam kecil. Tetapi coba tempatkan di danau besar, maka ikan itu tidak lagi terlihat besar. Big fish in small pond looks small in a large ocean.

Itulah yang saya dapatkan ketika melihat kolam ikan saya pagi ini. Betapa relatifnya sebuah ukuran itu. Kita bisa terlihat hebat di dalam sebuah lingkungan kecil, tetapi menjadi biasa-biasa saja atau malah tidak ada apa-apanya jika ditempatkan dalam lingkungan yang lebih besar lagi. Adalah mudah bagi kita untuk kemudian menjadi sombong ketika berada dalam lingkaran kecil lingkungan kita dimana kita mungkin terlihat hebat, tetapi ketika kita ditempatkan dalam situasi yang lebih besar, dengan tekanan yang lebih besar, tingkat persaingan dan permintaan atau demands yang lebih tinggi, kita akan tersadar bahwa kita pun seperti ikan yang terlihat besar di kolam kecil saja. We can look like a big fish in a small pond, but we will shrink quickly when we are placed in a large ocean.

Saya bukan menganjurkan untuk merasa rendah diri, menganggap diri tidak ada apa-apanya. Sama sekali bukan demikian. Kita diciptakan Tuhan dengan sangat istimewa dengan mengambil gambar dan rupaNya sendiri dengan tujuan masing-masing. Untuk itu Tuhan pun telah memperlengkapi kita dengan talenta-talenta atau bakat tertentu yang akan sangat berguna demi menggenapi tujuan yang telah disediakan Tuhan untuk kita masing-masing. Talenta-talenta itu hendaknya disertai rasa syukur dan dipergunakan untuk menggenapi tujuan hidup kita dimana di dalamnya kita lakukan untuk memuliakan Tuhan, bukan untuk dipakai sebagai alasan untuk menjadi sombong dan tinggi hati. Betapa mudahnya bagi manusia untuk terjatuh ke dalam kesombongan apabila memiliki kelebihan akan sesuatu. Seseorang bisa merasa lebih tinggi dari orang lain bahkan bisa merasa bahwa merekalah yang paling hebat sehingga tidak butuh siapa-siapa lagi termasuk Tuhan. Dosa kesombongan adalah sebuah pelanggaran yang serius di mata Tuhan.

Paulus pun merasa perlu untuk mengingatkan jemaat di Roma akan hal ini. “Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” (Roma 12:3). Paulus berpesan agar para jemaat jangan merasa lebih tinggi dari yang sebenarnya. Jangan menjadi sombong ketika menyadari sebuah karunia istimewa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Tetapi jadilah orang-orang yang mampu menilai diri sendiri dengan kerendahan hati, masing-masing menilai dirinya menurut kemampuan yang diberikan Tuhan itu. Merasa rendah diri itu tidak baik, menjadi sombong juga tidak baik. Mengukur sesuai ukuran yang tepat seperti yang telah disediakan Tuhan, itulah yang baik.

Orang yang tinggi hati tidak akan pernah berkenan di hadapan Tuhan. Yakobus berkata: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (Yakobus 4:6). Dan pesan yang sama disampaikan pula oleh Petrus dalam 1 Petrus 5:5. Kepada orang-orang yang rendah hati Tuhan siap memahkotainya dengan keselamatan, seperti apa yang bisa kita lihat dalam kitab Mazmur. “Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan.” (Mazmur 149:4). Dalam Amsal pun kita bisa menemukan pesan akan pentingnya sebuah kerendahan hati ini. “Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan.” (Amsal 18:12). Sikap sombong akan mendatangkan banyak kerugian hingga berakibat pada kehancuran, tetapi sebaliknya kerendahan hati akan menjadi awal hadirnya kehormatan.

Sadarilah bahwa besar dan kecil itu relatif. Kita bisa terlihat hebat di lingkungan kecil kita, tetapi kita akan menyusut seketika jika ditempatkan pada situasi atau lingkungan yang lebih besar. Karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk menyombongkan diri, merasa lebih hebat dari yang lain dan perasaan-perasaan angkuh lainnya. Hendaknya kita menyadari benar-benar siapa kita menurut ukuran yang sebenarnya. Menyadari apa yang telah Tuhan berikan kepada kita dan bagaimana mempergunakannya demi kemuliaan Tuhan dengan didasari sikap bersyukur dan penuh kerendahan hati. Let’s ask Him to help us see who we really are, to help us see ourselves as we really are. Dengan tuntunan Roh Kudus kita bisa belajar untuk membuang segala rasa kesombongan yang sia-sia itu dari dalam diri kita.

Kenali diri kita tepat sesuai ukuran

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: