Tempat Yang Disediakan Bagi Orang-Orang Penakut

Ayat bacaan: Wahyu 21:8
=======================
“Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.”

orang penakut, pengecut

Mungkin tidak aneh jika orang berpendapat bahwa pembunuh, pemerkosa, perampok dan tukang sihir layak ditempatkan di neraka. Tapi bagaimana jika orang-orang penakut ternyata dikelompokkan pada posisi yang sama? Jika ada diantara teman-teman yang kaget, anda sama dengan saya. Ayat bacaan hari ini saya temukan tadi malam sebelum berdoa menjelang tidur, dan saya pun tersentak. Rasa takut bukanlah hal yang jarang kita temui dalam kehidupan sehari-hari, dan ternyata Tuhan punya pandangan sendiri terhadap bagaimana kita menyikapi sebuah masalah. Banyak penafsir yang mengartikan rasa takut pada ayat ini mengarah pada mereka yang tidak berani mengakui imannya disaat penderitaan atau penganiayaan datang, atau malu mengakui di depan orang bahwa kita adalah orang yang percaya pada Kristus (dalam versi bahasa Inggrisnya, “orang-orang penakut” ini diterjemahkan dengan “coward” atau “pengecut”), dan saya tidak menentang hal tersebut sama sekali. Saya setuju. Tapi di sisi lain saya mendapatkan sebuah sudut pandang lain.

Mari kita lihat Injil Markus 4:35-41. Disana ada kisah angin ribut yang diredakan Tuhan Yesus. Ketika itu murid-murid Yesus ketakutan menghadapi topan yang sangat dahsyat. Ombak menyembur masuk ke dalam perahu sehingga perahu mulai dipenuhi air. Dimana Yesus pada saat itu? Yesus tengah tidur di buritan di atas sebuah tilam. Mereka pun segera membangunkan Yesus dan berkata “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”. Yesus bangun, kemudian menghardik angin itu dan selanjutnya angin menjadi reda dan danau seketika menjadi teduh sekali. Sesaat setelah Yesus meredakan angin ribut, Dia pun langsung menegur murid-muridnya: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Ketika angin ribut melanda, tidakkah wajar jika mereka merasa takut? Bukankah sudah pada tempatnya jika angin ribut itu membuat mereka cemas dan khawatir akan tenggelam? Tapi lihatlah, Tuhan Yesus tidak berkata, “aduh murid-muridKu, maaf Aku tidak cepat bangun dan kalian keburu ketakutan seperti itu..” Tidak. Tuhan Yesus malah menegur mereka, karena tidak ada setitik imanpun dalam hati mereka, tidak ada keyakinan sedikitpun bahwa mereka akan baik-baik saja dengan kehadiran Yesus di kapal bersama mereka. Hal ini mengingatkan kita bahwa di tengah badai sehebat apapun kita wajib menggunakan iman kita dan percaya dengan sepenuh hati bahwa Allah selalu memegang kendali. Tidak ada yang harus kita takuti.

Mengapa menjadi orang penakut atau pengecut bisa mengarahkan kita menuju lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang? Rasa takut itu berarti kita tidak percaya pada perkataan dan janji-janji Allah. Itu artinya kita meragukan firman Allah. Dengan kata lain, artinya kita tidak percaya pada Allah. Padahal tidak kurang dari 300 kali Allah meyakinkan kita dengan perkataan “Jangan takut!” pada Alkitab. Lebih jauh lagi, orang yang dicekam rasa takut akan lemah dan mudah disusupi godaan iblis. Tidak sedikit orang yang memilih untuk mencari jawaban instan lewat kuasa-kuasa kegelapan, okultisme karena mereka berada dalam ketakutan atau kekhawatiran tertentu yang tengah melanda mereka. Tidak sedikit yang tersesat bahkan terikat karenanya. Ketika dunia meyakinkan kita bahwa inilah saatnya bagi manusia untuk takut, cemas dan khawatir, ketika sebagian orang bahkan berpikir untuk tidak punya anak karena takut melihat anaknya tumbuh ditengah-tengah dunia yang begitu kejam, ketika begitu banyak kejahatan, penyakit dan problema yang seolah tanpa solusi, ketika ekonomi dunia semakin memburuk, ketika masa depan seolah-olah terlihat kelam, ingatlah bahwa Tuhan telah berulang kali meyakinkan kita bahwa ada alasan kuat untuk tidak putus pengharapan dan tetap hidup di dalam keyakinan penuh akan janji-janjiNya. Di surga tidak ada penakut dan pengecut. Mereka semua adalah orang yang percaya pada Allah dan firmanNya. Rasa takut mungkin sekali waktu akan menyerang kita, namun jika hal ini terjadi, ingatlah kembali akan janji-janji Allah pada kita. Kita punya Allah yang setia dan tidak pernah ingkar janji. “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.”(Matius 24:35).

Ketika rasa takut menyergap, tetaplah berdiri tegak dengan keyakinan penuh bahwa kita hidup dalam janji Allah

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply