Tempat Kebatinan dalam Pasamuan Katolik (1)

penghayat kepercayaan by UCANewsPengantar Redaksi: Ini juga sebuah naskah lawas, namun isinya sangat banyak dan memberi wawasan berharga mengenai kekayaan tradisi spiritual ‘asli’ yang ada di Indonesia. Bapak Uskup Diosis Purwokerto Mgr. Julianus Sunarka SJ menyampaikan makalah ini dalam sebuah acara seminari di Purwokerto tahun 2008. Beberapa bagian ada duplikasi dengan naskah yang kami rilis sebelumnya. Meski demikian, […]

penghayat kepercayaan by UCANews

Pengantar Redaksi:

Ini juga sebuah naskah lawas, namun isinya sangat banyak dan memberi wawasan berharga mengenai kekayaan tradisi spiritual ‘asli’ yang ada di Indonesia. Bapak Uskup Diosis Purwokerto Mgr. Julianus Sunarka SJ menyampaikan makalah ini dalam sebuah acara seminari di Purwokerto tahun 2008. Beberapa bagian ada duplikasi dengan naskah yang kami rilis sebelumnya. Meski demikian, paparan panjang ini mesti dibuat lengkap agar alur pikirnya tidak terpotong kalau harus membuang alinea-aliean duplikasi tersebut.

Kami mempublikasikan naskah berharga ini untuk menambah wawasan.

——————————

SEMINAR Penghayat Kebatinan dan  Kepercayaan ini difasilitasi oleh Komisi Hubungan Antaragaa Keuskupann Purwokerto. Terselenggara di kawasan sejuk di  Baturaden, Purwokerto, Jawa Tengah, 23-24 Agustus 2008.

Dhandhanggula: Doanga Pambuka

(Nang – Ning – Nung –Neng – Nong)
(Neng – Ning – Nung – Nang)

Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh ayu luputa ing lara
Luputa bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluhan tan ana wani
Miwah pengawe ala
Gunane wong luput
Gami atemahan tira
Maling adoh tan wani mring awak mami
Guna dhudhuk pan sira
“Batin” dalam arti yang “tan kasat pancadriya”

Segala sesuatu yang mengenai batin; ajaran atau kepercayaan bahwa pengetahuan kepada kebenaran dan ketuhanan dapat dicapai dengan penglihatan batin; ilmu yang mengajarkan jalan menuju kesempuranaan batin, suluk, tasawuf; ilmu yang menyangkut masalah batin: mistik.

Kebatinan dari istilah pokok “batin” berarti “perangan jero” atau bagian dalam ; yang ‘ora kasat mripat, ora keprungu ing talingan, orang kinecap ing ilat, ora ginanda pangambu, ora ginrayang ing asta”. Itulah: rasa, pangrasa panggraita, cita, cipta, karsa.

“Kebatinan” dalam kehidupan masyarakat Jawa sudah menjadi istilah tehnis yang menunjuk pada unsur kehidupan manusia yang bermartabat luhur. Lahir dan mekarnya pengutamaan olah kebatinan itu sebagai regenerasi “agama asli” yang menggejala dalam “kabudayan” Jawa. Maka dalam menyoroti masalah kebatinan, akan berguna bila terwawas selintas seluk beluk budaya Jawa. Dan bagaimana budaya Jawa “nitis” ke gerakan kebatinan. Baru dari situ digelar “kridha lumaksana”-nya Pasamuwan Katolik “Gereja Katolik” memaknai dan merasuki “kebatinan” .

Budaya sebagai wiradatnya kodrat
Budaya dalam arti gelar, olah dan guna daya, menyangkut dunia secara psikis, parapsikis, sosial, kosmis, theosofis, ialah wujud wiradat dalam kehidupan manusia demi pengembangan hidup manusia; maka masalah budaya bersangkutan juga dengan managemen daya: gelar, olah, bawa, sembah yang menynagkut rasa, panggraita, cita, cipta dan karsa, karya.

Istilah “budaya” dalam penangkapan penulis beraal kata budi (penerangan) -daya. Budi (penerangan) –budha (yang terterangi) menunjuk arti penerangan ‘enlightment”, penegasan keberadaan sesuatu. Budaya berarti penegasan dan penggalian makna keberadaan daya-daya atau kekuatan-kekuatan.

Bersangkutan dengan ‘Cultus-Culture’ (dari kata lain “colere”) yang berarti mengolah sesuatu. Hubunganya dengan wiradat, yang berarti mengolah kodrat. Hasil olahan daya kodrat itu sampai sekarang dibutirkan sebagai beriku : filsafat (metafisika, etika, hermeneutika, logika) , ilmu pengetahuan (gambaran terhadap dunia – psikologi, sosiologi, antropoloti, ekologi, geologi, astrologi dsb), seni dan tehnik.

Demikianlah, lalu ada budaya batin (alus) dan budaya lahir (wadhag).

Almarhum Romo Kuntara Wirymamartana SJ masih menambahkan “budaya agung = budaya kratonan yang refleksif, kritis” dan “budaya alit = budaya masyrakat bawahan yang berciri kosmis –statis”.

Gambaran dunia menyangkut klasifikasi waktu (peristiwa) dan klasifikasi ruang (isi dan volume). Klasifikasi waktu sehubungan dengan hal ihwal hari, bulan dan tahun bersangkutan dengan peristiwa-gerak.

A. Budaya Jawa dalam Segala Relungnya

Budaya klasifikasi waktu – Pranata Mangsa

Tanggal 1 Syuro menjadi Tahun Baru Kejawaan, yang dalam versi Sultan Agung, Raja Kerajaan Mataram, telah diresmikan dan berjalan sejak 8 Juli 1633 M (Tahun Saka 1555 dan Tahun Hijrah 1403). Merupakan sinkronisasi Tahun Saka dan tahun Hijrah. (Baca juga: Budaya Kejawen 1 Syuro)

Tahun 1971 “Tahun Baru Kejawaan ini menjadi begitu disemarakkan oleh oleh HPK dalam Munasnya di Yogyakarta yang dihadiri sejumlah hadirin terbanyak dibandingkan dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya.

Dalam perkembangan selanjutnya ada usaha penelusuran asal-usul Tahun Baru Kejawaan.dari Sultan Agung yang bergelar Senapatining alaga, Abdurrahman Sayidin Panatagama. Dalam strateginya secara politis mencoba mempersatukan dua aliran tatawaktu (luner dan solar) untuk kesatuan umat.

Mengacu pada kondisi lokal kosmis dan sosio-liturgis

Nama bulan kejawaan- Nama Arab – Pemaknaan

  • Syuro – Muharam -bulan suci-asyura-tewasnya Hasan Husein
  • Sapar – Syafar – bepergian-untuk perang
  • Mulud – Rabbiulawal -permulaan musim semi
  • Badkdamulud – Rabbulakhir – akhir musim semi
  • Djumadilawal – Jumadilawal – permulaan bulan jemaat
  • Djumadilakhir – Jumadilakhir – akhir bulan jemaat
  • Rejeb – Rajab – agung-mekradan-tidak berperang
  • Ruwah – Sya’ban —-mengumpulkan para serdadu
  • Pasa – Ramadan – bulan masa panas
  • Syawal – Syawal -mengangkat-unta birahi
  • Dulkaidah – Zulkaidah – masa santai
  • Besar – Zulhijah – masa hajj

Sedang hari-harinya:

  • Achad = awal,= radite, neptune 5
  • Isnain = senen = ahwan = soma, neptune 4
  • Salasa =jabari = anggara, neptune 3
  • Arba’a = rabu = dibari = budha, neptune 7
  • Chamis = kamis = munisa = respati, neptune 8
  • Jum’at, = jumuah = ngubarah = sukra , neptune 6
  • Saptu = sajari = tumpak, neptune 9

Selanjutnya, ditemukan hipotese bahwa ada Tahun Kejawaan yang berbeda dengan Tahun Kejawaan versi Sultan Agung. Itulah Tahun Kejawaan versi ke-Aji Saka-an” Tahun Kejawaan ke Aji Saka-an ini ‘solar”, yang menurut Karkono Partokusumo mulai 15 Maret tahun 78 M.

Menurut legenda Jawa tahun Saka dimulai waktu mendaratnya Aji Saka di tanah Jawa. Tetapi ada pula yang mengatakan bahwa titik awal tahun Saka adsalah saat pelantikan Salivahana (Aji Saka) menjadi raja di India. Penemuan terakhir ini masih menjadi pegangan Orang Hiindu Bali. Bulan-bulannya lebih mengacu pada nama atau kekuatan kosmis :

Zodiak (Rasi –Mintaqul-burruj)

  • Makara/Palguna – Ungker –Capricornus – udang
  • Kumbha – Pusuh –Aquarius – ulekan
  • Mina – Likasan – Pisces -ikan
  • Mesa/Cittra – Sumbul – Aries – banteng
  • Wrsabha/Menda – Wakul – Taurus – kambing
  • Mithuna – Lumbung – Gemini – kembar
  • Karkata – Wuluh/Yuyu – Cancer – kepiting
  • Singha – Kukusan – Leo – singa
  • Kanya- Piyik – Virgo – perawan
  • Tula – Waluka – Libra
  • Wrsikha/akrab – Sangkalputung- Scorpio – kalajengking Klapa doyong
  • Dhana – Wusu -Sagitarius – plengkung

Nama tahun-tahunnya: Alib, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, Jimakhir.
Windunya (periode 8 tahunan : Adi, Kuntara, Sengara, Sancaya

Ketujuh planit (siarah, saptagraha, saptawara)

  • Aditya – Syamsu – Matahari
  • Sasi/Soma – Kamari – Bulan
  • Anggara – Marish – Mars
  • Budha – Utarid – Mercurius
  • Guru, respati – Mushtari – Jupiter
  • Braghu/Sukra – Zakrah – Venus
  • Saniskara/Kona – Zuhal – Saturnus

Masih terdapat Tahun Kejawaan yang bernuansa Pranata Mangsa, yang bagi orang Jawa merupakan tata waktu agraris sehubungan dengan mangsa tanam dan panen atau tanem-tuwuh: kapan musim hujan, musim kemarau, musim pancaroba

Bahasa Jawa – Bahasa Kawi

  • Kasa – Kartika – srenenge wiwit ngidul
  • Karo – Pusa
  • Katelu – manggasari
  • Kapat – Sitra
  • Kaalima – Manggakala
  • Kaenem – Naya – srengenge pantog kidul
  • Kapitu – Palguna – srengenge wiwit ngalor
  • Kawolu – Wisaka
  • Kasanga – Jita
  • Kasepuluh – Srawana
  • Desta – Padrawana
  • Sadha – Asuji – srengenge pantog lor

Budaya klasifikasi Ruang – Pranata sasana , dalam hubungan dengan waktu

Klasifikasi ruang (untuk menentukan letak pusat kepemerintahan) dan waktu menjadi lima pasaran:

  • Legi – Iswara- Wetan – Putih – 5
  • Pahing – Brahma – Kidul – Merah – 9
  • Pon – Mahadewa – Kulon –Kuning – 7
  • Wage – Wisnu – Utara – Hijau – 4
  • Kliwon – Siwa – Tengah – Aneka- 8
  • Utara – Wisnu – Hitam – Wage – angka 4
  • Barat- Mahadewa
  • Tengah – Siwa
  • Timur – Iswara
  • Kuning-Pon-angka 7
  • Werna2-Kliwon, angka 8-
  • Putih, Legi, angka 5
  • Selatan-Brahma-Merah-Paing- angka 9

Kredit foto: Ilustrasi (UCANews)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply