Tempat di Rumah Bapa (1)

Ayat bacaan: Yohanes 14:2
======================
“Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.”

Dalam sebuah artikel yang saya baca, kemampuan rata-rata pasangan baru di Indonesia untuk membeli rumah berkisar pada angka 250 juta rupiah. Meski angka ini sudah terbilang besar, harga seperti itu sudah semakin sulit ditemukan terlebih di kota-kota besar. Agar terjangkau, perumahan-perumahan baru pun terus bertumbuh di pinggiran yang jaraknya lumayan jauh dari pusat kota. Lantas ketika pengembangan kota terjadi dengan pertumbuhan pembangunan dan penduduk, harga pun mengalami penyesuaian alias naik. Ketika harga terus naik, orang akan bergeser semakin kepinggir, semakin jauh dari pusat kota. Di kota tempat saya tinggal, untuk menyiasati daya beli pencari rumah maka developer mengambil langkah dengan memangkas ukuran tanah per kapling. Jika 5 tahun lalu rata-rata rumah tipe minimalis ada di kisaran 100 m2, sekarang ukuran tersebut dipangkas menjadi rata-rata 70 m2 an. Kapling semakin kecil, lokasi semakin jauh, daya beli yang semakin menurun, ini membuat orang semakin sulit untuk bisa memiliki rumah yang layak tinggal. Bank-bank menawarkan kredit pemilikan rumah (KPR) dengan janji-janji muluk, kemudahan dan gigi-gigi putih bersih dibalik senyuman dalam iklan-iklan, tapi pada kenyataannya proses tidaklah segampang dan semurah itu. Lantas ketika pada suatu ketika tidak ada lagi lahan yang bisa dipakai, bagaimana manusia akan tinggal? Beberapa kota yang ukurannya kecil tapi padat sudah melakukan pengembangan bukan lagi ke samping (horizontal) tapi ke atas (vertikal). Tapi tetap saja ada batas ketinggian yang tidak boleh dilewati jika tidak mau mendapat masalah.

Tempat di dunia ini punya batas maksimal. Tapi nanti di “rumah masa depan” kita, Tuhan telah menjanjikan bahwa masih ada begitu banyak lahan kosong untuk kita tempati dengan luas yang tidak akan ada habisnya. Rumah Bapa yang menjadi tujuan kita selanjutnya tidaklah terbatas luasnya, tidak akan pernah ditutup karena kepenuhan. Bahkan dalam kondisi ideal seandainya seluruh isi dunia ini bertobat, semuanya pasti akan mendapat tempat disana.

Gambaran ini dikatakan langsung oleh Yesus. “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” (Yohanes 14:2). Selanjutnya Dia bersabda: “Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” (ay 3). Jadi perhatikan rangkaian ayat di atas. Yesus sudah kembali ke sana untuk mempersiapkan tempat bagi orang percaya, dan pada suatu saat nanti Dia akan kembali untuk membawa kita pulang ke rumah Bapa yang telah Dia persiapkan secara khusus untuk kita. Sudah disediakan rumah, dijemput pula. Bukankah itu luar biasa?

Rumah Bapa, atau Kerajaan Allah adalah sesuatu yang sifatnya kekal dan tidak tergoncangkan. Dunia boleh saja gonjang ganjing, tetapi Kerajaan Allah adalah sebuah tempat yang tidak akan goyah dalam kondisi apapun. Penulis Ibrani mengingatkan kita mengenai Kerajaan yang tidak tergoncangkan dan bagaimana caranya agar kita bisa mendapat bagian di dalamnya. “Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia, yang berfirman. Sebab jikalau mereka, yang menolak Dia yang menyampaikan firman Allah di bumi, tidak luput, apa lagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari sorga?” (Ibrani 12:25). Kita tidak boleh menolak Dia dan firmanNya. Kita harus mampu menjaga diri kita agar tetap hidup berkenan di hadapan Tuhan. Sebab jika orang yang tidak mau mendengar saja sudah kehilangan kesempatan, apalagi kita yang sudah mendengar tapi masih bebal? Penulis Ibrani melanjutkan: “Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: “Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga. Ungkapan “Satu kali lagi” menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan.” (ay 26-27). Bumi memang bisa dan akan digoncangkan. Pengayakan akan terjadi, dimana gandum akan dipisahkan dari ilalang. Gandum akan dikumpulkan dan selanjutnya masuk kedalam lumbung, sedangkan lalang akan dilemparkan ke dalam api, terbakar musnah (Matius 13:24-30). Bagi para “gandum”, yaitu orang-orang percaya yang taat kepada Tuhan, mereka akan masuk ke dalam lumbung Kristus, Kerajaan Allah, yang tidak akan pernah tergoncangkan. “Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.” (Ibrani 12:28). Apa yang dijanjikan Allah untuk kita terima adalah anugerah yang luar biasa. Sebuah tempat di rumah Bapa yang tidak tergoncangkan, tanpa ratap tangis dan dukacita, tanpa penderitaan,penyakit dan berbagai masalah-masalah lainnya seperti yang ada di dunia ini, telah disediakan Kristus bagi kita yang percaya kepadaNya. Untuk itulah kita sudah lebih dari sepantasnya untuk mengucap syukur dan beribadah kepada Tuhan dengan penuh rasa hormat dan takut.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: