Teladan dari Paulus (1)

Ayat bacaan: 1 Korintus 4:16====================”Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!”Keteladanan  biasanya mengacu kepada sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh seperti dalam sifat, sikap, perbuatan, perilaku dan seba…

Ayat bacaan: 1 Korintus 4:16
====================
“Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!”

Keteladanan  biasanya mengacu kepada sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh seperti dalam sifat, sikap, perbuatan, perilaku dan sebagainya. Hanya saja, ada banyak orang yang mengidolakan orang-orang yang justru tidak pantas jadi teladan karena memberi contoh atau pengaruh buruk. Musisi, artis atau selebritis yang hidupnya penuh dengan obat-obat terlarang, hubungan bebas, menyampaikan pengajaran-pengajaran buruk dalam karyanya dan sebagainya, itu tentu bukan merupakan teladan yang baik meski banyak yang mengidolakan. Ada yang malah mengidolakan tokoh dunia yang terkenal kejam dan sudah membantai begitu banyak jiwa karena mereka pikir akan membuat mereka keren di mata orang lain. Ada saja memang orang yang seperti itu, tetapi itu bukanlah sebuah keteladanan menurut pengertian sebenarnya. Seorang yang bisa dijadikan panutan atau teladan adalah orang yang terus menanamkan nilai-nilai kebenaran, budi pekerti dan berbagai kebaikan lainnya yang bukan hanya sebatas ajaran lewat kata-kata saja tetapi tercermin langsung dalam keseharian hidup mereka. Artinya, orang-orang yang menjadi teladan adalah orang berintegritas yang punya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan.

Seorang ahli teologia/filsuf asal Jerman yang semasa hidupnya bertugas sebagai misionaris di Afrika bernama Albert Schweitzer suatu kali berkata: “Example is not the main thing in influencing others. It’s the only thing”. Memberi contoh atau keteladanan bukanlah hal yang utama dalam mempengaruhi orang, tapi itu adalah satu-satunya cara. Artinya, menunjukkan keteladanan atau menjadi teladan itu sangat penting kalau kita mau menyampaikan nilai-nilai kebenaran. Itu sebabnya untuk menjadi teladan bukanlah perkara mudah. Bila dalam mengajar kita hanya perlu membagikan ilmu dan pengetahuan lewat perkataan, tetapi dalam menerapkan keteladanan kita harus mengadopsi langsung seluruh nilai-nilai  yang kita ajarkan untuk tampil secara langsung dalam perbuatan kita. Ada orang-orang yang mampu menunjukkan nilai-nilai kebenaran dalam hidupnya sehingga mampu memberi pengajaran tersendiri meski tanpa mengucapkan kata-kata sekalipun. Sebaliknya ada orang yang terus berbicara tapi hasilnya tidak maksimal karena tidak disertai dengan contoh nyata dari cara atau sikap hidupnya.

Banyak orang tua yang sudah terlalu letih akibat kesibukan bekerja sehingga mereka merasa tidak lagi perlu menanamkan nilai-nilai luhur akan kebenaran kepada anak-anaknya. Mereka mudah memarahi anak-anaknya tanpa memeriksa terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi. Pengajaran hanya satu arah dan otoriter, kalau salah ya marahin saja sepuasnya supaya kapok, tanpa diberi penjelasan dimana letak salahnya dan kenapa itu salah. Di satu sisi mereka melarang, tapi di sisi lain mereka melanggar sendiri peraturan yang mereka buat. Mereka menganggap bahwa sebagai orang tua mereka punya kekuasaan absolut yang bisa dipakai seenaknya. Saya orang tua, kamu anak. Jadi pokoknya harus menurut. Titik. Perhatikan, ini bukanlah sikap orang menurut standar kekristenan karena hanya memerintah tanpa mencontohkan. Hanya menuntut tanpa memberi teladan. Anak pun akan sulit belajar tentang kebenaran jika berada dalam bentuk keluarga otoriter yang tidak menganggap penting proses mendidik dan keteladanan seperti itu.

Agar bisa menjadi teladan itu berat dan seringkali butuh pengorbanan. Kalau anda mengajarkan bahwa tidak baik untuk cepat marah, anda harus terlebih dahulu menunjukkan kesabaran, bukan malah menunjukkan betapa pendeknya sumbu kesabaran anda. Kalau anda mengajarkan harus hidup jujur dan bersih, anda harus terlebih dahulu melakukannya. Kalau anda mengajarkan harus rajin membangun hubungan dengan Tuhan, anda harus mencontohkannya dan bukan hanya menyuruh tapi sendirinya malas dengan dalih tidak lagi punya cukup waktu untuk itu. Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang pintar mengajarkan tentang yang baik dan benar tapi kita sendiri tidak memberi keteladanan. Atau malah sehari-hari perilaku masih buruk dan secara transparan dilihat oleh orang lain.

Mengenai keteladanan, ada banyak tokoh dalam Alkitab yang sangat baik kita teladani. Salah satunya yang ingin saya angkat kali ini adalah Paulus. Pada suatu kali Paulus berkata dengan tegas kepada jemaat Korintus: “Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!” (1 Korintus 4:16). Hanya sebuah kalimat singkat dan sederhana, tapi tidak main-main. Paulus tidak mungkin berani berkata seperti itu apabila ia tidak atau belum mencontohkan apapun yang ia sampaikan mengenai kebenaran Firman Tuhan. Bukan cuma mendengar apa yang ia sampaikan, tapi ia pun menasihatkan orang untuk menuruti keteladanan yang sudah ia contohkan secara langsung. Artinya, Paulus bukan hanya mengajar, tapi juga memberi contoh langsung terhadap apa yang ia ajarkan. Dan cara termudah bagi orang untuk memahami apa yang ia ajarkan adalah dengan melihat keteladanannya.

Kita tahu seperti apa cara hidup Paulus. Ia mengalami perubahan hidup 180 derajat dalam waktu relatif singkat. Dari seorang yang jahat dan kejam, ia berubah menjadi orang yang sangat radikal dan berani dalam menyebarkan Injil keselamatan. Ia mengabdikan seluruh sisa hidupnya untuk pergi ke berbagai pelosok dalam menjalankan misinya bahkan hingga ke Asia kecil. Tidak ada pesawat waktu itu yang mampu mengantar orang dalam waktu singkat, tidak ada pula sarana internet yang memungkinkan orang bisa berhubungan tatap muka secara langsung meski berada jauh satu sama lain seperti chatting, tele conference dan sebagainya.

Kalau itu saja sudah luar biasa, perhatikan pula fakta yang tertulis di dalam Alkitab bahwa ia masih harus bekerja demi membiayai keperluan pelayanannya. Bisa kita bayangkan bagaimana beratnya perjuangan Paulus. Cobalah letakkan diri kita pada posisinya, rasanya kita bisa stres, depresi dan sebagainya diterpa kelelahan dan tekanan dalam menghadapi hari demi hari. Atau mungkin saja kita merasa kecewa dan tawar hati karena apa yang dialami berbeda dengan yang diharapkan. Tapi Paulus bukanlah orang yang punya mental seperti itu. Ia tahu diatas segalanya anugerah keselamatan yang ia terima merupakan sebuah anugerah yang luar biasa besar sehingga ia ingin melihat banyak orang lagi bisa mengikuti jejaknya. Ia memang berkeliling menyampaikan berita keselamatan, tetapi yang jauh lebih penting adalah ia mencontohkan sendiri aplikasi kebenaran dalam hidup lewat cara hidupnya. Ia benar-benar menghayati keselamatan yang diperolehnya dengan penuh rasa syukur dan mempergunakan seluruh sisa hidupnya secara penuh hanya untuk Tuhan.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply