Tantangan Berkarya di Timor Leste

BERIKUT ini saya ingin sharing pengalaman pribadi setelah beberapa lama ikut berkarya di Timor Leste. Akhir masa tugas saya di Timor Leste ditutup dengan suatu kegiatan yang monumental bagi saya. Sebetulnya, rekan romo Jesuit sekali lagi meminta saya untuk mau memperpanjang tugas ini di Dili untuk tiga bulan lagi. Namun, kata hati saya: aku ingin pulang ke Tanahairku sendiri.

Bekerjasama dengan orang Timor Leste yang belum berpengalaman kerja memang menjadi tantangan. Dari awam saya terlibat dalam sebuah karya pastoral menggerakkan orang-orang muda Timor Leste untuk menulis naskah film melalui workshop penulisan naskah dan penyutradaraan. Akhirnya dengan supervisi yang intensif dan penuh dinamika, terpilihlah satu naskah yang menarik, tentang kisah persahabatan seorang anak yang ditunjukkan dalam perebutan bungkusan pembagian hadiah dari PMI atau ICRC sekitar tahun 1975.

Juga perebutan hadiah sama dari PMI dan ICRC tahun 1979, ketika lembaga kemanusiaan itu diizinkan masuk ke wilayah Timor Leste. Persahabatan dan “pertengkaran” ini berlanjut ketika anak-anak ini tumbuh dewasa dan masuk dalam perjuangan masing-masing sebagai klandenstine (gerakan bawah tanah) untuk mendapatkan kemerdekaan.

Syuting terberat terjadi di Maubessi, sebuah kawasan dataran tinggi dengan kondisi cuaca yg tidak jelas. Kadang berkabut seperti Bogor. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri. Siap di lokasi  pukul 5 pagi dalam kedinginan untuk kemudian menyiapkan properti syuting sampai selesai pukul 7 malam. Belum lagi, pertemuan setiap malam menjadi tantangan tersendiri untuk bisa mengorganisir anak-anak muda Timor Leste dan masyarakat di sana yang mendukung kegiatan syuting.

Akhirnya film berjudul Tanba Bungkusan Ida (Hanya Sebuah Bungkusan) dan yang pertama kali dibuat oleh tangan-tangan orang asli Timor Leste ini pun berhasil diproduksi.

Sebelumnya ada beberapa film tentang Timor Leste yang dibuat beberapa Rumah Produksi, namun kameramen, editor, sound man, sutradara masih kulit putih alias orang-orang Australia.  Orang Timor Leste hanya menjadi kuli angkat junjung properti dan kabel.

Penulis naskah Dino Hanjam yang mewakili klandenstine ketika usianya 18 th. Sutradaranya adalah Humberto da Cunha beserta crew audio dan lain sebagainya adalah orang-orang Timor Leste dan mereka bersama berhasil menciptakan mimpi ini. Apalagi sebelumnya film Youth Parliament  juga mendapat New Generation Award di Prix Jeunesse Festival di Munich, Jerman.

Mereka semakin merasakan kebanggaan ini.

Setelah coba kami koordinasi untuk pra produksi –diselingin proses editing film yang membosankan–  akhirnya staf bisa diyakinkan bahwa mereka bisa berhasil menyelesaikan dengan cepat. Dan dalam kesibukan editing, sambil membuat iklan layanan masyarakat pesanan UNICEF utk menarik masyarakat agar datang ke pemilihan Parlemen 7 Juli mendatang, staf kami menyiapkan acara launching film yg akan dilaksanakan malam ini (16 Juni 2012) pukul 19.00-21.00 di Fundacao Oriente Building yg akan dilaunching oleh presiden baru Timor Leste Taur Matan Ruak dan Kristy Sword Gusmao istri Perdana Menteri (Xanana Gusmao). Film ini juga akan dikirim ke beberapa festival film international beberapa bulan ke depan.

Saya bersyukur dalam masa-masa terakhir meninggalkan Timor Leste untuk kembali ke Indonesia, masih bisa menyumbangkan sesuatu untuk “nation building” bagi Timor Leste untuk menemukan identitas diri sebagai bangsa yg membentuk negara baru.

Mereka juga meminta saya menambah tinggal di Timor Leste selama 9 hari ke depan. Padahal rencana pulang sudah matang, apalagi visa pun sudah akan habis tanggal 20 Juni ini.  Mereka minta agar bisa membantu membuat dokumentasi lengkap dari proses awal sampai proses terwujudnya film ini.

Saya pulang dengan penuh syukur.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: