Tangan yang Bersih dan Hati yang Murni

Ayat bacaan: Mazmur 24:4-5=======================”Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang me…

Ayat bacaan: Mazmur 24:4-5
=======================
“Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.”

Jika melihat lowongan kerja, apa yang biasanya dijadikan syarat-syarat utama? Untuk negara kita, sarjana akan selalu menjadi salah satu syarat, lantas pengalaman dan batas usia maksimal. Diatas 30 tahun dianggap sudah tidak produktif lagi, tapi dibawah 30 tahun pun masih dibebankan pengalaman minimal sekian tahun. Lalu ada yang mencantumkan bisa bekerjasama dalam kelompok, punya kendaraan, bersedia ditempatkan dimana saja, menguasai beberapa bahasa selain bahasa Indonesia dan ada pula yang menyaratkan kemampuan diluar pendidikan formal seperti penguasaan penggunaan komputer dan lain-lain. Semua sah-sah saja, meski secara pribadi saya rasa tidak selamanya yang bergelar sarjana pasti lebih pintar dari yang tidak, berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya sendiri. Tapi akan jarang sekali ada lowongan kerja yang mencantumkan hal yang sebenarnya sangat menentukan karakter dari seorang calon pekerja, yaitu kejujuran. Ini adalah kualitas yang semakin lama semakin jarang ditemukan, dan ironisnya semakin pula tidak diperlukan oleh sebuah perusahaan atau lembaga pencari kerja. Sejujur-jujurnya orang hari ini, ada banyak tekanan yang cepat atau lambat akan mendorong mereka untuk masuk ke dalam jerat kecurangan. Orang akan semakin tidak tulus dalam bekerja. Semua didasari pamrih, untung rugi dan sebagainya. Penipuan terjadi hampir di setiap lini. Karenanya kualitas orang-orang yang masih bisa bertahan dari tekanan dan terus menekankan hidup jujur akan terlihat sangat berbeda.

Sebagian akan kagum, sebagian lainnya akan memandang mereka sebagai ‘mahluk-mahluk’ aneh yang dianggap membuang-buang kesempatan untuk bisa mendapatkan lebih dari seharusnya. Orang semakin cenderung berpikir pendek dan mementingkan urusan duniawi. Apa yang dikatakan Daud dahulu: “Orang bebal berkata dalam hatinya: “Tidak ada Allah.” Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik” (Mazmur 14:1), masih terjadi bahkan mungkin tambah jelas sebagai kenyataan hari ini. Orang tidak lagi memikirkan pertanggungjawaban kelak di hadapan Tuhan. Atau kalaupun tahu bahwa Allah itu ada, tetapi mereka mengira bahwa Tuhan tidak akan menghukum karena mereka menyalah artikan bentuk kasih dan kesabaran Tuhan yang besar dan panjang. Bentuk ilusi rohani seperti inipun sudah disinggung dalam Alkitab. “Kamu menyusahi TUHAN dengan perkataanmu. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menyusahi Dia?” Dengan cara kamu menyangka: “Setiap orang yang berbuat jahat adalah baik di mata TUHAN; kepada orang-orang yang demikianlah Ia berkenan–atau jika tidak, di manakah Allah yang menghukum?” (Maleakhi 2:17). Bukankah kita melihat sendiri banyak orang dengan tenang melakukan kecurangan karena mengadopsi pola pikir seperti itu di jaman sekarang ini?

Selain janji Tuhan yang sangat indah yang sudah saya sebutkan dalam beberapa renungan terdahulu dari Yesaya 33:15-16, ada firman yang berbunyi: “Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.” (Mazmur 24:4-5). Orang yang bersih tangannya (jujur) dan murni hatinya (tulus), yang tidak tergoda pada kecurangan, itulah yang berkenan di hadapan Tuhan. Bersih tangannya, berarti menjauhi bentuk-bentuk penipuan, menjauhi kecurangan dan tidak gampang tergoda oleh keuntungan-keuntungan lewat jalan yang salah. Murni hati itu artinya hati tidak terkontaminasi/tercemar oleh berbagai motif-motif tersembunyi dalam melakukan sesuatu, tidak pamrih, tidak ada politik kepentingan dalam perbuatan, bersih hatinya. Kepada mereka-mereka yang seperti ini akan diganjar berkat juga akan diselamatkan dengan keadilan yang langsung berasal dari Tuhan. Inilah upah besar yang dijanjikan Tuhan bagi orang yang hidup jujur dan tulus.

Kasih dalam tingkatan seperti yang diinginkan Tuhan mengandung kebaikan-kebaikan yang mencakup jujur dan tulus. Lihatlah rinciannya yang disampaikan Paulus. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (1 Korintus 13:4-7). Dalam penjabaran kasih pada ayat ini terkandung bentuk-bentuk hidup dengan hati yang murni berisi kejujuran. Artinya jika kita mengaku hidup dalam kasih Tuhan, seharusnya sikap hati seperti inilah yang terpancar dari kehidupan kita. Bagaimana mungkin orang yang tidak jujur, tidak murni hatinya masih berani mengaku punya kasih dalam dirinya? Dan bagaimana mungkin orang yang tidak memiliki kasih mengaku mengenal Allah? Sebab ada dikatakan “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:8).

Segala sesuatu itu berasal dari Tuhan. Meski kita yang berusaha, semua itu kita peroleh atas ijin Tuhan. Bahkan segala talenta, bakat, kemampuan dan keahlian merupakan pemberian dari Tuhan juga. Akan halnya pemenuhan kebutuhan, kita tidak perlu takut kekurangan dan khawatir akan hari depan sehingga merasa harus melakukan tindakan-tindakan yang tidak jujur atau curang agar bisa mencukupinya. Kita tidak perlu merasa iri melihat orang lain, dan harus bisa belajar untuk mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang kepentingan diri sendiri. Yakobus mengingatkan “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” (Yakobus 3:16). Kita harus selalu menghindari berbuat curang yang mencermarkan hati kita. Ketahuilah bahwa meski mungkin kita berhasil mengelabui manusia, tapi Tuhan akan selalu melihat segala perbuatan kita. Dan Firman Tuhan berkata: “Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” (Ibrani 4:13). Secara tegas Tuhan juga berfirman:  “Seharusnya mereka merasa malu, sebab mereka melakukan kejijikan; tetapi mereka sama sekali tidak merasa malu dan tidak kenal noda mereka. Sebab itu mereka akan rebah di antara orang-orang yang rebah, mereka akan tersandung jatuh pada waktu mereka dihukum, firman TUHAN.” (Yeremia 8:12). Orang bisa saja menganggap bahwa Tuhan tidak menghukum mereka saat ini dan berpikir bahwa mereka aman dari hukuman. Orang-orang jahat ini bisa saja pintar dalam menipu manusia, atau menghamburkan uangnya untuk menyuap penegak hukum agar terlepas dari jerat hukum. Sekarang mungkin lepas, tapi pada suatu ketika nanti hukuman Tuhan itu tetap akan tiba biar bagaimanapun. Akan datang waktunya dimana semua harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, dan disana tidak akan ada yang bisa berkelit lagi. Kepentingan sesaat di dunia fana diprioritaskan dengan sebuah hidup yang kekal? Itu jelas tidak sebanding.

Dunia bisa jadi semakin lama semakin buruk, orang saling hancur menghancurkan, saling menohok dan menjatuhkan. Tetapi kita orang percaya tidak boleh ikut-ikutan seperti itu. Dunia semakin kekurangan orang-orang yang punya hati murni dan berintegritas dengan kejujuran berada disana. Kita harus menunjukkan bahwa sebagai umatNya yang ada di dunia pada saat ini bisa tampil beda dengan ketulusan dan kejujuran sebagai bagian dari kehidupan kekristenan yang sebenarnya. Apapun alasannya, apapun resikonya, kita harus menjauhi kecurangan, kebohongan dan bentuk-bentuk penipuan. Belajarlah untuk senantiasa mempercayakan hidup ke dalam tanganNya dengan sepenuh hati. Tuhan menyediakan berkat-berkat bagi orang yang hidup dengan ketulusan, kejujuran dan kemurnian hati. “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” (Matius 5:8). Ini janji Tuhan sendiri. “Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya.” (Mazmur 73:1). Dunia boleh saja memandang anda dengan sinis, melihat kitasebagai mahluk aneh, mengolok-olok atau menertawakan kejujuran dan ketulusan sebagai suatu hal yang dianggap bodoh. Tapi itu tetap tidak sebanding dengan seperti apa kita terlihat di mata Tuhan. Bukan apa kata manusia yang penting, tapi bagaimana Tuhan memandang hidup kita itulah yang penting. Tuhan menjanjikan berkat dan keadilan bagi orang-orang yang hidup dengan tangan yang bersih dan hati yang murni. Nikmati kebaikan Tuhan lewat hidup yang kudus dimana kejujuran berperan didalamnya. Tuhan sanggup memberkati anda berlimpah-limpah dan melindungi hidup setiap orang yang berjalan seturut kehendakNya tanpa anda harus menipu agar bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup.

Kejujuran merupakan bagian dari integritas yang harus dihidupi anak-anak Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply