Tali Kekang

Ayat bacaan: Mikha 6:8
======================
“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”

tali kekang

Kuda yang bisa dinaiki biasanya disertai dengan tali kekang. Tali ini akan mampu mengatur kapan kuda harus berhenti, kapan harus belok ke kiri atau kanan. Akan sangat sulit untuk membuat kuda patuh jika kita tidak memiliki kendali lewat tali atas dirinya. Mata kuda pun sering ditutup habis agar ia hanya tergantung pada kehendak penunggangnya. Sebagai manusia yang berakal budi, yang bisa membedakan mana yang benar dan salah, memiliki hati nurani dan nalar untuk berpikir, seharusnya kita tidak perlu seperti kuda yang harus diikat dengan tali kekang terlebih dahulu agar patuh. Tetapi kenyataannya ada banyak orang yang sulit untuk mengendalikan diri terhadap berbagai godaan atau tipuan sehingga harus tetap diikat atau bahkan dicambuk agar mau taat dan mengerti.

Seperti apa sebenarnya hubungan yang Tuhan ingin bangun dengan kita anak-anakNya? Tuhan tentu meninginkan sebuah hubungan erat yang didasarkan dengan kasih dan kepatuhan terhadap semua perintahNya. Tuhan menginginkan kita mengerti isi hatiNya, sama seperti Dia mengerti isi hati kita. Sayangnya banyak orang merasa bahwa serangkaian peraturan yang membatasi hidup manusia ini seolah rantai pengekang yang membuat kita seolah tidak berhak untuk menikmati kenikmatan hidup. Ini dilarang, itu dilarang. Malah ada yang berpikir lebih ekstrim, bahwa Tuhan gemar menyiksa manusia dan tidak ingin kita sedikitpun merasakan kesenangan dalam hidup ini. Mereka merasa bahwa Tuhan terus mengekang. Benarkah seperti itu? Tentu tidak. Kasih Tuhan sebenarnya sudah memberikan “tali” yang cukup panjang bagi kita untuk menjalani kehidupan. Bukankah ada kehendak bebas yang Dia berikan kepada kita? Tuhan sama sekali tidak menciptakan kita seperti robot-robot yang harus dikendalikan sepenuhnya. Kita bisa memilih apakah kita mau menjadi anak-anakNya yang patuh atau pembangkang. It’s all about choice, and we are free to choose. Tapi ingatlah bahwa apapun keputusan kita akan membawa konsekuensi.

Ketika Tuhan memberi peraturan kepada kita, itu tujuannya baik. Semua itu semata-mata karena Dia tidak ingin satupun dari kita berakhir dalam bara api penyiksaan yang kekal. Itu adalah bentuk sayangNya kepada kita. Apabila pada suatu kali kita bandel dan harus “dicambuk”,  itu pun tetap baik tujuannya. Lihat apa kata Firman Tuhan berikut: “Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” (Ibrani 12:5-6). Meski demikian, itu bukanlah hal yang Tuhan inginkan. Dia tidak menikmati hubungan seperti itu. Apa yang Dia inginkan adalah kehidupan kita yang tidak perlu dikekang. Tuhan ingin kita bisa bebas, merdeka benar-benar, tetapi kita mengisi kemerdekaan itu dengan sebuah bentuk ketaatan sepenuhnya dan berjalan bersamaNya. Tuhan akan sangat senang jika kita bisa berjalan dalam kepatuhan tanpa harus diikat atau dicambuk.

Bangsa Israel pada jaman Mikha masih menunjukkan sikap yang sangat buruk. Mereka terus bersungut-sungut dan mengomel kepada Mikha mengenai susahnya menyenangkan hati Tuhan. Tuhan memberi sebuah jawaban yang singkat dan tegas bahwa sebenarnya menyenangkan hati Tuhan itu tidaklah sulit. “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8). Lihatlah, cuma itu yang dituntut Tuhan bagi kita. Berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapannya. Dalam bahasa Inggrisnya disebutkan lebih lengkap: “to do justly, to love kindness and mercy and to humble yourself and walk humbly with your God.” Itu saja. Hal ini sudah pernah diungkapkan Tuhan sebelumnya. Tuhan berkata “Sebab perintah ini, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh.” (Ulangan 30:11). Dan inilah perintahNya: “Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.” (ay 19-20). Dia mau kita menyerahkan diri sepenuhnya kepadaNya. He wants us to fully surrendered and cling to Him, to walk with Him in obedience. Jika kita mampu hidup seperti itu, tidak perlu ada cambukan mendera kita. Bahkan kita tidak perlu diikat atau dikekang. Kita bisa bebas merdeka dengan ketaatan atau kepatuhan penuh terhadap Tuhan. Dan itulah hubungan yang Dia inginkan untuk dibangun bersama kita.

Dalam Mazmur kita bisa melihat kerinduan Tuhan yang sama. “Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau” (Mazmur 32:9). Kalau kuda harus diikat dengan tali kekang, kita seharusnya tidak perlu diperlakukan seperti itu.  Tuhan menginginkan sebuah hubungan yang luwes, bebas merdeka dalam keintiman yang didasarkan ketaatan sepenuhnya kepadaNya. Tuhan menjanjikan begitu banyak berkat seperti yang bisa kita baca dalam Ulangan 28:1-14, dan syaratnya pun sama. “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu.” (ay 1-2).

Coba bayangkan seandainya kuda dilepas begitu saja. Bukan saja kuda itu bisa mencederai orang banyak, tetapi dirinya sendiripun akan beresiko terancam bahaya. Kita pun sama. Tuhan rindu untuk memberi kebebasan kepada kita, tetapi mampukah kita menjaga kepercayaan seperti itu andaikata kita dilepas sepenuhnya? Sudah mampukah kita hidup benar bergantung kepadaNya meski tanpa tali kekang sekalipun? Ingatlah bahwa apapun yang dilakukan Tuhan, semua itu adalah demi kebaikan kita sendiri. Hari ini mari kita membuat komitmen untuk benar-benar berjalan dalam ketaatan penuh bersamaNya. Marilah kita bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Hiduplah adil, penuh kasih dan kerendahan hati dan ketaatan. Disanalah anda akan benar-benar mengalami sebuah kehidupan yang benar-benar merdeka, penuh sukacita tanpa perlu sebuah talipun untuk diikatkan kepada anda.

Dapatkan kebebasan sepenuhnya dengan berjalan dalam ketaatan bersama Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. ilustrasi khotbah tentang ketaatan
  2. renungan kristen tentang ketaatan
  3. ilustrasi khotbah kristen tentang kerendahan hati
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: