Takut Menikah?

Ayat bacaan: Kejadian 2:18
============================
“Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

takut menikah, perbedaan, saling melengkapi

Hari ini saya kebagian jadwal mengajar hingga larut malam hingga kira-kira pukul setengah sepuluh malam. Ketika saya sedang bersiap-siap hendak pulang, ada tiga orang siswa yang mendatangi saya dan meminta advis di luar pelajaran yang baru saja saya sampaikan. Saya pun meluangkan waktu untuk melayani mereka. Salah satu siswa ternyata punya masalah yang bagi saya cukup menarik. Ia bercerita bahwa sebentar lagi dirinya akan menikah. Karena harinya semakin dekat, ia menjadi semakin stres sampai tidak bisa tidur. Ia bertanya, bagaimana perbedaan antara sebelum dan sesudah menikah. Ia merasa takut karena ada banyak contoh di sekitarnya yang menunjukkan perbedaan signifikan antara sebelum dan sesudah menikah. Sebelum menikah, katanya, mereka terlihat bahagia, namun setelah menikah berbagai perbedaan muncul ke permukaan dan membuat pasangan menjadi sering berselisih. “Tidak sedikit yang ujung-ujungnya cerai, pak..” katanya. Ia menjadi takut. Saya menanyakan apakah ia mencintai kekasih yang akan dinikahinya? Ia menjawab ya. Lantas apa yang membuatnya stres? “Ada banyak perbedaan di antara kita, pak..” katanya. Dan ia merasa ngeri membayangkan jika harus menghadapi pertengkaran terus menerus.

Saya kira ada banyak orang yang mengalami hal ini menjelang hari pernikahan. Dan itu tidaklah aneh, karena memang antara pria dan wanita ada perbedaan yang nyata. Wanita dikatakan cenderung memakai perasaannya, sementara pria cenderung memakai logika. Belum lagi sifat-sifat manusia semuanya berbeda antara satu dengan yan lain. Adanya berbagai perbedaan akan membuat orang bisa berselisih paham, dan itu normal adanya. Tapi apakah itu bisa kita jadikan alasan untuk boleh bertengkar? Tentu tidak. Ketika siswa saya menceritakan ketakutannya kepada saya, ayat hari ini pun hadir dalam hati saya untuk saya sampaikan kepadanya.

Mungkin status sebagai kepala rumah tangga dan peran sebagai imam dalam keluarga bisa memberikan rasa superior sehingga para pria cenderung bertindak otoriter. Mereka akhirnya hanya memerintah dan melarang tanpa alasan, tidak lagi bersikap bijaksana. Ada banyak pria atau suami yang hanya memuntut hormat dari istri, tapi sebaliknya tidak menghargai istrinya, bahkan menindas mereka. Hal seperti ini tentu bukan kehendak Tuhan yang telah menciptakan pria dan wanita untuk bersatu. Dalam kitab Kejadian dikatakan demikian: “TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”(Kejadian 2:18). Perhatikan kata “penolong”, ini sebuah status yang sungguh mulia. Ini rencana Tuhan menciptakan wanita, dan bukan sebagai budak. Bertindak otoriter dan menindas istri menyalahi firman Tuhan. Kemudian kita lihat kata “sepadan”. Ada banyak orang yang menganggap kata sepadan ini dengan “kesamaan”. Sama sifat, sama hobi, sama gaya, sehingga jika ada perbedaan sedikit saja, mereka akan cepat memberikan reaksi negatif. Saya sendiri cenderung mengartikan “sepadan” sebagai sebuah status yang sama dimana keduanya bisa saling melengkapi. Manusia punya begitu banyak kelemahan, dan penolong yang sepadan yang diberikan Tuhan, itu akan melengkapi kita untuk menjadi lebih sempurna. Just like a piece of puzzle that finds its place. Antara saya dan istri saya saja misalnya, kami punya begitu banyak perbedaan. Namun ternyata ketika pasangan itu hadir berdasarkan pilihan Tuhan, segala kelemahan saya ia lengkapi, begitu pula sebaliknya. We feel very happy, we feel very blessed, we are joyful, every day. Artinya, saya lebih cenderung melihat bahwa perbedaan-perbedaan yang ada ternyata bisa membuat kita saling melengkapi dan menjadikan kita lebih sempurna dibandingkan ketika kita sendirian. Bagi saya, inilah gambaran yang begitu indah dari firman Tuhan dalam Kejadian 2:18 di atas.

Jika demikian, apa yang harus dilakukan pasangan suami istri? Saling mengasihi, itu pasti, dan kemudian jangan memandang perbedaan sebagai jurang pemisah, tapi pandanglah sebagai sebuah karunia yang akan sangat berguna untuk saling melengkapi. Karena saya pria, dan siswa yang saya layani pun pria, maka hari ini saya akan fokus kepada sisi pria. Seorang pria kristen dituntut untuk mengasihi istrinya, dan itu berulang kali dijabarkan dalam banyak ayat. Di sisi lain, istri diminta untuk menghormati suaminya pula. Bagi pria, tidak saja harus mengasihi istri, tapi harus pula mampu bersikap bijaksana terhadap istri, menghormati mereka, dan itu akan membuat segala doa-doa yang anda sampaikan tidak terhalang. “Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” (1 Petrus 3:7). Dalam ayat ini jelas terlihat bahwa kita para pria dituntut agar bijaksana. Tidak menindas, tidak otoriter, tidak egois, berlaku adil dan penuh kasih. itu artinya bijaksana. Termasuk di dalamnya mengalah. Ketika ada banyak pria lebih berpikir untuk merasa mereka yang paling absolut, hendaknya pria-pria yang taat pada Kristus bisa menunjukkan perbedaan, sesuai dengan apa yang difirmankan Tuhan.

Bentuk mengasihi istri menurut firman Tuhan pun tidak main-main. “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” (Efesus 5:25). Inilah sebuah kedalaman kasih yang seharusnya mampu kita capai. Yesus rela mati di atas kayu salib demi menyelamatkan kita, karena Dia begitu mengasihi kita, dan kita harus terus berusaha untuk bisa mencapai tingkat seperti itu. Tidak akan pernah ada manusia yang persis sama dalam segala hal. Begitu pula antara anda dengan calon istri anda, demikian pula sebaliknya. Perbedaan akan terus ada. Jangan pandang itu sebagai alasan perpecahan, namun pakailah sebagai alasan untuk saling melengkapi. Sebagai anak-anak Tuhan kita dituntut untuk sedapat mungkin selalu berdamai dengan siapapun, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Roma 12:18), lebih dari itu hidup damai juga harus disertai dengan mengejar kekudusan. “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.” (Ibrani 12:14). Bentuk pernikahan Kristen bukanlah untuk mendapatkan atau memuaskan sesuatu, namun untuk memberi sesuatu. Jika di antara teman-teman ada yang saat ini masih belum memperlakukan istri sebagaimana yang dikehendaki Tuhan, berbaliklah segera. Bagi yang sudah, teruslah jaga keharmonisan hubungan anda. Bagi yang akan atau bakal menikah satu saat nanti, peganglah firman Tuhan agar hubungan anda ke depan akan selalu bahagia dan penuh berkat.

Berbahagialah di atas perbedaan dalam kesatuan yang saling melengkapi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply