Takut dan Bersembunyi

petak umpet“Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.” (Kej 3, 8) BUDHE pernah bercerita bahwa romo paroki sering melakukan kunjungan umat. Sebelum merayakan Ekaristi di kring, romo paroki sempat mampir ke rumah Budhe. Saat romo paroki datang, putri bungsunya, yang masih kecil, lari ke dapur dan bersembunyi di dalam ‘tumbu’ besar. Si putri bungsu rupanya malu atau takut berjumpa dengan romo paroki. Peristiwa itu terjadi pada tahun tujuh puluhan. Mantan romo parokinya pun masih ingat akan peristiwa itu. Rasa malu atau takut terhadap orang asing membuat seorang anak bersembunyi. Anak-anak lain juga sering bersembunyi, ketika mereka bermain ‘petak umpet.’ Mereka bersembunyi agar dicari oleh temannya yang lain. Beberapa anak muda juga pernah bersembunyi: saat mereka meninggalkan kelas dan mulai mengisap rokok. Mereka sembunyi agar tidak dilihat orang tua atau para guru. Orang-orang dewasa pun pernah bersembunyi-sembunyi dalam melakukan kegiatan tertentu, agar tidak diketahui oleh orang lain. Alasan untuk bersembunyi berbeda-beda antara anak-anak dengan orang tua, antara orang yang satu dengan orang lainnya. Anak-anak bersembunyi karena mereka bermain. Orang-orang dewasa bersembunyi agar dirinya dan perbuatannya tidak dilihat atau diketahui oleh orang lain, seperti Adam dan Hawa. Mereka bersembunyi di antara pepohonan di dalam taman, agar Tuhan tidak melihat dan menemukan mereka. Mungkin mereka juga merasa malu dan takut. Malu karena mereka ternyata telanjang; dan takut karena mereka telah makan buah dari pohon yang ada di tengah taman. Mereka takut bahwa apa yang telah mereka lakukan merupakan tindakan yang salah dan jahat. Orang bersembunyi tidak hanya di antara pepohonan, tetapi juga di tempat dan dalam peristiwa lain. Orang bisa bersembunyi di rumah, dalam kesibukan tugas atau pekerjaan, dalam hobinya, di balik panggung seni budaya atau kegaduhan politik. Bahkan orang bisa bersembunyi di balik tertawa dan senyumnya, dibalik pujian dan kata-katanya, dibalik berbagai macam kebaikannya. Orang bersembunyi karena tidak berani bertanggung jawab atas sikap dan perbuatannya. Bersembunyi banyak berkaitan dengan tindakan salah atau kejahatan. Teman-teman selamat pagi dan selamat berkarya. Berkah Dalem. Kredit foto: Ilustrasi (Herald)

petak umpet

“Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.” (Kej 3, 8)

BUDHE pernah bercerita bahwa romo paroki sering melakukan kunjungan umat. Sebelum merayakan Ekaristi di kring, romo paroki sempat mampir ke rumah Budhe. Saat romo paroki datang, putri bungsunya, yang masih kecil, lari ke dapur dan bersembunyi di dalam ‘tumbu’ besar. Si putri bungsu rupanya malu atau takut berjumpa dengan romo paroki. Peristiwa itu terjadi pada tahun tujuh puluhan. Mantan romo parokinya pun masih ingat akan peristiwa itu.

Rasa malu atau takut terhadap orang asing membuat seorang anak bersembunyi. Anak-anak lain juga sering bersembunyi, ketika mereka bermain ‘petak umpet.’ Mereka bersembunyi agar dicari oleh temannya yang lain.

Beberapa anak muda juga pernah bersembunyi: saat mereka meninggalkan kelas dan mulai mengisap rokok. Mereka sembunyi agar tidak dilihat orang tua atau para guru. Orang-orang dewasa pun pernah bersembunyi-sembunyi dalam melakukan kegiatan tertentu, agar tidak diketahui oleh orang lain. Alasan untuk bersembunyi berbeda-beda antara anak-anak dengan orang tua, antara orang yang satu dengan orang lainnya.

Anak-anak bersembunyi karena mereka bermain. Orang-orang dewasa bersembunyi agar dirinya dan perbuatannya tidak dilihat atau diketahui oleh orang lain, seperti Adam dan Hawa. Mereka bersembunyi di antara pepohonan di dalam taman, agar Tuhan tidak melihat dan menemukan mereka. Mungkin mereka juga merasa malu dan takut.

Malu karena mereka ternyata telanjang; dan takut karena mereka telah makan buah dari pohon yang ada di tengah taman. Mereka takut bahwa apa yang telah mereka lakukan merupakan tindakan yang salah dan jahat. Orang bersembunyi tidak hanya di antara pepohonan, tetapi juga di tempat dan dalam peristiwa lain.

Orang bisa bersembunyi di rumah, dalam kesibukan tugas atau pekerjaan, dalam hobinya, di balik panggung seni budaya atau kegaduhan politik. Bahkan orang bisa bersembunyi di balik tertawa dan senyumnya, dibalik pujian dan kata-katanya, dibalik berbagai macam kebaikannya. Orang bersembunyi karena tidak berani bertanggung jawab atas sikap dan perbuatannya. Bersembunyi banyak berkaitan dengan tindakan salah atau kejahatan.

Teman-teman selamat pagi dan selamat berkarya. Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Herald)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply