Tahun Politik 2014: Sudahlah, Yang Tua Silakan Minggir

DISKUSI politik yang diprakarsai PUKAT KAJ dengan dua narasumber kompeten di bidangnya yakni Dr. J. Kristiadi dan Harry Tjan Silalahi akhirnya digiring manis oleh moderator Romo Benny Susetyo Pr dari Komisi HAK KWI dengan satu pertanyaan penutup. Nah, kira-kira siapa cawapres paling potensial di Tahun Politik 2014 mendatang?

Namanya saja penerawangan politik, maka kalkulasi Harry Tjan Silalahi pun juga berdasarkan ‘naluri politik’ dan perhitungan data survei.

Seperti diungkapkan sebelumnya, menurut pendapatnya pribadi, kans menang Jokowi untuk nyapres itu besar sekali. Bahkan, saat berkunjung ke Sumatra Utara pun, kata Harry Tjan, “Orang-orang Batak di Medan juga dengan amat meyakinkan sampai berani mengatakan: ‘Bang, siapa lagi kalau bukan Jokowi?’.

Inilah realitas politik yang ada saat ini,” kata Harry Tjan.

Namun, buru-buru dia memberi catatan penting soal ‘penerawangan politik’ itu.  Jokowi, kata dia, sangat  bisa menang kalau dia sekarang maju nyapres. Entah mau dengan siapa pasangannya, rasa-rasanya dia akan menang telak. “Apalagi kalau Jokowi jalan bareng sama Prabowo Subianto,” katanya mantap.

Bahkan secara bergurau pun, Harry Tjan lalu menimpali pernyataannya sendiri. Kalau pun misalnya saja tidak dengan Prabowo, tambahnya, “Misalnya dengan tukang becak pun, Jokowi saya yakini pasti menang!”

IMG_2185 Pukat

Remang-remang

Tapi ada persoalan serius dalam tatanan politik riil di depan yang menghadang Jokowi. Menurut Harry Tjan Silalahi, itu adalah perkara kendaraan politik mana yang akan dipakai oleh Jokowi untuk bisa nyapres.

Karena itu, prediksi siapa yang nantinya bakal menjadi pemimpin nasional di Tahun Politik 2014 –kata Harry Tjan—“Kita susah mendapatkan gambaran yang jelas. Semua serba remang-remang untuk saat ini,” kata dia.

Obscurity itu, kata Harry Tjan,  juga terjadi pada Jokowi yang sebenarnya punya kans bagus untuk bisa menang. Itu karena dia tidak punya ‘mesin dan kendaraan politik’ seperti para kandidat lainnya. “Modal blusukan tentu bagus. Tapi itu ya belum cukup,”kata dia.

PDIP –kata dia—hingga saat ini  kelihatan semakin  kurang sreg kalau Jokowi maju nyapres.

Persoalan penting bangsa Indonesian saat ini, timpal J. Kristiadi—adalah faktor partai politik itu sendiri. Belum tersedia ruang politik dimana ada kandidat potensial tapi tidak bisa nyapres hanya  karena tidak punya kendaraan politik yang boleh mengusung pencalonannya. “Belum ada ruang politik yang memberi kesempatan bagi calon independen untuk bisa nyapres,” kata J. Kristiadi.

Politik uang

Berkaitan dengan belum ada ruang politik bagi calon independen untuk nyapres itu  –kata J. Kristiadi—sebenarnya sudah ada upaya politik dari sejumlah pihak untuk melakukan judicial review di Mahkamah Konstitusi untuk merubah pasal-pasal tertentu agar caleg independen itu bisa ‘lolos verifikasi’.

Tapi, hasilnya masih jauh dari harapan.

Menurut J. Kristiadi, proses politik di Indonesia untuk maju ke babak pertandingan memperebutkan tiket menjadi pemimpin nasional masih banyak ditentukan oleh faktor uang. Mulai dari proses penyaringan nama, kampanye, sampai akhirnya sosialisasi program, kata J. Kristiadi, “Semuanya di situ… ya money talks!”.

Yang paling krusial harus diperjuangkan oleh para politisi di Senayan mestinya merombak aturan agar jangan ada lagi uang menjadi faktor penentu untuk maju nyapres atau nyaleg. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, mereka berpolitik untuk memroduksi aturan-aturan hukum yang mengatur bagaimana proses berpolitik merebut kekuasaan itu bisa dilakukan.IMG_2182 pukat

“Jadi, mereka ini sibuk bersiasat untuk mencari kompromi atas aturan-aturan hukum yang mengatur aturan berpolitik,” terang J. Kristiadi.

Yang lebih parah lagi, kata dia,  adalah fenomena bahwa “orang-orang lama masih saja antuasias untuk bisa nyaleg dan nyapres lagi”.

Terjadi kecenderungan umum, orang-orang ‘muka lama’  ini lebih suka ‘berkawan politik’ dengan rekan-rekan lama mereka sendiri daripada harus menerima ‘kawanan baru’.

Pertimbangannya sederhana saja, kata J. Kristiadi, “Karena dengan kawan lama, semuanya sudah saling pada tahu …dan itu lebih mengenakkan kedua belah pihak daripada harus ngajari orang-orang baru. Sudah harus ngajarin, belum tentu orang-orang baru ini mudeng … ,“ jelas dia yang disambut gelak ketawa.

Lalu, kata moderator Romo Benny Susetyo, bagaimana dengan para tokoh yang seperti tahun-tahun sebelumnya sudah mengindikasikan keinginannya untuk maju nyapres?

Terhadap pertanyaan menggelitik untuk menjawab ‘tanda-tanda zaman’ yang masih reman-remang itu, baik Harry Tjan Silalahi dan J. Kristiadi menyimpulkan pendapat mereka pribadi. Menurut keduanya, generasi muda Indonesia yang tidak ‘buta politik’ dan itu jumlahnya cukup signifikan rasa-rasanya sudah bosan dengan ‘muka-muka lama’.

Dua kali nyapres dalam Pemilu 2004 dan 2009, ‘wajah-wajah tua’ itu sudah keok, namun ya itu tadi –karena punya mesin politik (partai) dan dukungan uang– mereka tetap saja ingin nyapres lagi.  Emosi politik di masyarakat umum –menurut penerawangan mereka—rasanya sudah jenuh dengan melihat mereka tampil seakan-akan seperti ‘calon pemimpin masa depan’.

Ibarat kata sopir di jalanan, “Yang tua, ayo silakan minggir saja dan beri kesempatan pada yang muda untuk tampil ke depan”.

Generasi muda kebanyakan menginginkan tokoh baru tampil ke depan. Katakanlah mencari figur ‘anti-tesis’ dari keadaan sekarang.

Maka dari itu, kata J. Kristiadi, selain figur Jokowi memang lalu ada figur lain yang menarik, yakni Prabowo Subianto.

Mengikuti logika dialektika Hegelian, maka masyarakat menginginkan Prabowo maju ke depan, karena dia dinilai berani, tegas, mau ambil risiko, dan punya visi ke depan mau apa.

Tapi, kata Romo Benny, apakah kedua tokoh ini nantinya bisa jadi pemimpin nasional?

Sekali lagi,kata J. Kristiadi dan seniornya Harry Tjan Silalahi, obscurity masih membayang-bayangi masa depan Indonesia di Tahun Politik 2014. (Selesai)

Photo credit: Ketua PUKAT KAJ Alex Paul Budiman bersama J. Kristiadi, Romo Benny Susetyo Pr dan Harry Tjan Silalahi (Royani Lim)

Tautan:

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: