Tahun Persatuan di Keuskupan Agung Jakarta dibuka dengan Sarasehan Kebangsaan

Foto dari Website KAJ

Foto dari Website KAJ

Sejak tiga tahun lalu Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) ditetapkan berdasarkan Pancasila, dan dalam rangka pembukaan Tahun Persatuan 2018, sesuai sila ketiga, KAJ menyelenggarakan Sarasehan Kebangsaan yang menghadirkan pembicara Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo dan aktivis serta cendekiawan muda yang kini bertugas sebagai Kepala Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila Yudi Latif.


Kegiatan di Aula Katedral, 6 Januari 2018, yang bertema “Amalkan Pancasila; Kita Bhinneka, Kita Indonesia,” itu dihadiri juga perwakilan agama Islam, Kristen, Buddha, Hindu dan Konghucu, serta 200-an pengurus dewan paroki yang membidangi hubungan antaragama dan kepercayaan.


Pancasila sebagai Ideologi bangsa diejawantahkan dalam bentuk gagasan dan diwujudkan dengan gerakan. “Harapannya, jika gerakan itu diulang dan diulang, akan menjadi sebuah habitus yang berlaku dalam keseharian,” kata Mgr Suharyo dalam dalam acara yang diawali dengan doa dan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” yang dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Panitia, Camat Jakarta Pusat dan Pastor Paroki Katedral.


Mgr Suharyo mengawali paparannya dengan menceritakan tentang mantan Uskup Agung Semarang yang menjadi Pahlawan Nasional Mgr Albertus Soegijapranata SJ. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia Mgr Soegijapranata meninggalkan Semarang dan pindah ke Yogyakarta karena pemerintah Indonesia pindah ke sana, dan menulis surat ke Vatikan agar mengakui kemerdekaan RI dan Vatikan menanggapi dengan menghadirkan Kedutaan Besar Vatikan di Indonesia tahun 1947.


Juga dijelaskan bahwa Mgr Soegijapratana membuat berbagai ikatan dengan nama Pancasila, atau Gerakan Ekonomi Pancasila yakni Ikatan Buruh Pancasila (1954), Ikatan Petani Pancasila (1958), Ikatan Paramedis Pancasila (1959), Ikatan Usahawan Pancasila (1959) dan (4) Ikatan Nelayan Pancasila (1964).


Bagi umat Katolik, tegas Mgr Suharyo, “ini sebenarnya adalah tindakan kenabian, warisan dan pesan agar umat Katolik sungguh-sungguh menjadi warga negara yang baik.” Bahkan, lanjut Uskup Agung Jakarta yang bertugas sebagai Ketua Konferensi Waligereja Indonesia itu, dikenal satu semboyan Mgr Soegijapranata yakni “100 % Katolik, 100 % Indonesia,” yang sebetulnya menurut Mgr Suharyo dirumuskan oleh Mgr Soegijapranata dengan “100 % Patriotik, 100 % Katolik,” jadi tidak bukan Katolik baru Indonesia.


Khusus untuk Tahun Persatuan 2018, Mgr Suharyo juga memperkenalkan Bunda Pelindung Berbagai Suku dengan atribut Bunda Maria yang khas Indonesia, Lambang Pancasila di dada, selubung merah putih, dan mahkota bertuliskan Nusantara, dengan harapan agar “umat berdoa untuk pribadi, umat berdoa juga untuk kebaikan negara,” kata Mgr Suharyo.


Setelah sarasehan, peserta ikut bersama menyaksikan  pelepasan burung dan penanaman pohon di depan Katedral Jakarta yang dilakukan para tokoh agama yang hadir.(Konradus R Mangu)


Tahun Persatuan KAJ1Tahun Persatuan KAJ2


HIDUP

HIDUP

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: