Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Ulasan Injil: Minggu Paskah VI/B (Yoh 15:9-17)

BACAAN Injil Yohanes bagi Minggu Paskah VI tahun B ini (Yoh 15:9-17) sarat dengan kosakata yang berhubungan dengan gagasan “kasih”: saling mengasihi”, “tinggal dalam kasih” “memberikan nyawa demi sahabat-sahabatnya”. Baik diingat, petikan ini diangkat dari bagian Injil Yohanes yang menyampaikan pengajaran Yesus kepada para murid selama perjamuan malam terakhir (Yoh 13:31-17:26). Para murid perlu belajar hidup [...]

22Maret

“Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting dari pada kesaksian Yohanes” (Kel 32:7-14; Yoh 5:31-47) “Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak benar; ada yang lain yang bersaksi tentang Aku dan Aku tahu, bahwa kesa…

4 Feb

“Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya” (2Kor 4:16-18;5:1; Yoh 15:18-21) "Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu s…

Kepatuhan (2)

 (sambungan)

Kisah keselamatan ini tentu bukan lagi hal yang baru bagi kita. Tetapi itu tidaklah berarti apa-apa jika kita hanya mengetahui karya Tuhan yang agung kini tanpa mau mulai berbuat sesuatu untuk menanggapi dan melakukan sesuatu secara pribadi, bukan hanya didasarkan atas anjuran orang lain melainkan berasal dari keputusan kita sendiri. Alkitab berkata: “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” (Yohanes 1:12). Apa yang diberikan Tuhan ini adalah sebuah kasih karunia yang begitu luar biasa besarnya. Dari orang berdosa, yang gagal mencapai standar kelayakan bagi Tuhan, ternyata kita malah diberikan kuasa untuk menjadi anak-anak Allah dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi kita. Tidakkah itu seharusnya mampu menggerakkan hati kita untuk bersyukur dan memutuskan untuk menghargai segala kebaikan Tuhan yang luar biasa itu sepenuhnya dengan menunjukkan kasih lewat ketaatan dan kepatuhan kita kepadaNya?

Firman Tuhan juga berkata “Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.” (1 Yohanes 5:12). Ini sebuah firman yang berisi jaminan yang jelas dari Tuhan kepada kita lewat Kristus. Dengan menerima Kristus, Dia dengan sendirinya telah masuk ke dalam hidup kita, dan dengan demikian kita pun dianugerahkan hidup yang kekal. “Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” (Yohanes 14:6-7). Hanya lewat Kristus kita bisa datang kepada Bapa. Hanya lewat Dia kita memperoleh jalan dan kebenaran dan hidup. Hanya lewat Dia kita diselamatkan, dan hanya lewat Dia pula kita bisa mengenal Bapa, bahkan dikatakan telah melihatNya. Sebuah anugerah yang sungguh besar yang alangkah keterlaluan jika kita sia-siakan.

Anak teman saya sudah memetik buah dari kepatuhannya di usia yang sangat muda. Beberapa teman saya lainnya yang melihat perilakunya mengaku seperti tersentil, tertegur atau bahkan tertampar melihat sosok anak berusia 9 tahun ini. Sudahkah kita menanggapi dengan benar dari apa yang diberikan Tuhan kepada kita? Sudahkah kita menunjukkan kepatuhan dan menghargai semua anugerah dari Tuhan dengan pantas? Lewat Kristus kita memperoleh keselamatan kekal dan diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Sudahkah kita benar-benar menyadari hal itu? Sudahkah kita menanggapi terang rohani yang telah diberikan Allah kepada kita, lalu bagaimana dengan menyalurkannya kepada orang-orang di sekitar kita seperti kewajiban kita menurut Tuhan? Secara fisik Injil mungkin hanya terlihat sebagai sekumpulan tulisan saja. Namun sebenarnya Injil mengandung kebenaran yang mampu menembus hati, dan itu semua berasal dari kalimat-kalimat Allah sendiri. Mendengar Firman Tuhan itu baik, tetapi alangkah sia-sianya apabila kita tidak menghidupinya. Mari kita periksa diri kita masing-masing, jangan-jangan kita masih sebatas menjadi pendengar yang baik, namun perilaku, tindakan, pikiran dan perbuatan kita sama sekali tidak mencerminkan apa yang telah kita dengar. “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” (Yakobus 1:22). Patuh terhadap nasihat orang tua merupakan sebuah keharusan demi kebaikan kita sendiri, tapi patuh terhadap Tuhan tentu jauh lebih penting lagi. Hari ini mari kita sama-sama hidup dengan kebenaran firman Tuhan, menjadi pelaku-pelaku firman, menyesuaikan perilaku kita dengan apa yang kita baca atau dengar dari semua tulisan yang diilhamkan Tuhan sendiri yang tercatat dalam Alkitab. Hiduplah sebagai anak-anak Terang, berfungsilah sebagai terang dan garam dunia, dan tetaplah hidup dengan iman teguh akan Yesus,Tuhan dan Juru Selamat kita. Jangan biarkan anugerah luar biasa besar ini terbuang sia-sia akibat kebandelan kita sendiri.

Lewat Kristus kita memperoleh keselamatan kekal dan diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

27 des

“Murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus “

(1Yoh 1:1-4; Yoh 20:2-8)

” Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan." Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya.” (Yoh 20:2-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Yohanes, rasul dan pengarang Injil, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Setelah St.Stefanus, martir pertama, hari ini kita diajak untuk mengenangkan St.Yohanes, rasul dan pengarang Injil serta juga dikenal sebagai murid terkasih Yesus. Sebagai murid terkasih berarti telah menerima kasih lebih besar daripada para rasul/murid lainnya, dengan kata lain Yohanes sungguh berlimpah akan kasih. Kasih merupakan kekuatan luar biasa dalam perjalanan hidup dan panggilan kita. Orang yang sungguh merasa dikasihi pada umumnya akan hidup dengan penuh syukur dan terima kasih, serta kemudian akan lebih tanggap dan cekatan dalam menghadapi aneka masalah atau tantangan, seperti Yohanes yang berlari lebih cepat daripada Petrus menuju ke kubur, tempat dimana Yesus dimakamkan, ketika mereka mendengar bahwa Yesus tidak ada lagi di tempat/makam. Maka dengan ini kami mengajak kita semua untuk mawas diri: bukankah kita telah menerima kasih dari Allah secara melimpah ruah melalui saudara-saudari kita, entah itu berupa perhatian, sapaan, sentuhan, saran, nasihat, kritik, harta benda/uang dst..yang kiranya juga masih kita terima sampai kini? Marilah kita menyadari dan menghayati diri sebagai ‘yang terkasih’, agar kita pun juga cekatan dan sigap dalam menanggapi apa yang terjadi di lingkungan hidup kita. Dari Yohanes dan  injilnya kita kenal kata-kata yang sering muncul yaitu “melihat dan kemudian percaya”. Marilah kita melihat dengan cermat dan teliti apa yang terjadi di lingkungan hidup kita, dan kemudian menjadi ‘percaya’, artinya membaktikan diri sepenuhnya demi keselamatan dan kebahagiaan lingkungan hidup di sekitar kita.

·   Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna.” (1Yoh 1:3-4). “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga”, kata-kata inilah yang kiranya baik untuk kita renungkan atau refleksikan. Sebagai yang terkasih kiranya kita tidak akan tutup mulut terhadap apa yang kita lihat dan dengar dalam lingkungan hidup kita masing-masing. Tentu saja ketika kita melihat dan mendengar apa yang baik kemudian memuji atas apa yang  terjadi, sedangkan ketika melihat dan mendengar apa yang tidak baik segera tergerak untuk memperbaiki dan ketika tak mampu memperbaiki sendiri kemudian minta bantuan orang lain. Dengan kata lain apa yang kita lihat dan dengar merupakan wahana untuk membangun dan memperdalam persekutuan hidup bersama yang dijiwai oleh cintakasih. Kami berharap keutamaan melihat dan mendengarkan serta kemudian mewartakan kndepada orang lain apa yang dilihat dan didengan tersebut sedini mungkin dididikkan atau dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dengan teladan para orangtua. Semoga segenap anggota keluarga membangun dan memperdalam persekutuan sejati, mengingat dan memperhatikan bahwa keluarga dibentuk dan dibangun oleh dan berdasarkan cintakasih. Demikian juga kami berharap kepada komunitas imam, bruder dan suster agar dapat menjadi teladan persekutuan sejati bagi komunitas-komunitas lainnya. Persekutuan atau persahabatan sejati pada masa kini mendesak dan up to date untuk dihayati dan disebarluaskan, lebih-lebih di kota-kota besar seperti Jakarta yang masih marak dengan tawuran antar pelajar, yang menandakan kegagalan orangtua dalam mendidik dan mendampingi anak-anaknya.

TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita! Awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya. Gunung-gunung luluh seperti lilin di hadapan TUHAN, di hadapan Tuhan seluruh bumi. Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya.” (Mzm 97:1-2.5-6)

 Ign 27 Desember 2011

23 Des

“Namanya adalah Yohanes”

(Mal 3:1-4; 4:5-6; Luk 1:57-66)

Kemudian genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya, tetapi ibunya berkata: "Jangan, ia harus dinamai Yohanes." Kata mereka kepadanya: "Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian." Lalu mereka memberi isyarat kepada bapanya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini: "Namanya adalah Yohanes." Dan mereka pun heran semuanya. Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah. Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea. Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: "Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia.” (Luk 1:57-66), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catataan sederhana sebagai berikut:

·   Waarta Gembira hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua akan pentingnya merubah gaya hidup demi keselamatan atau kebahagiaan kita. Kita semua dapat merubah atau memperbaharui gaya hidup kita dengan merubah pikiran kita. Dalan tradisi anak laki-laki yang baru saja dilahirkan harus diberi nama seperti nama ayahnya, demikian seharusnya anak yang dilahirkan oleh Elisabeth harus diberi nama Zakharias seperti ayahnya, sebagaimana juga berlaku di suku-suku tertentu di Indonesia. Namun ternyata sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan ia tidak diberi nama Zakharias, melainkan Yohanes. Maka baiklah saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri perihal nama yang dikenakan kepada kita, lebih-lebih atau terutama yang telah mengganti nama, entah itu imam, bruder, suster atau suami-isteri. Kami percaya nama baru yang kita kenakan tidak datang begitu saja, tetapi cukup lama dipikirkan dan direnungkan serta kemudian diputuskan. “Menjadi apakah anak ini nanti”, demikian pertanyaan banyak orang terhadap nama anak yang baru saja dilahirkan Elisabeth. “Tangan Tuhan menyertai dia”, maka anak itu akan tumbuh berkembang sesuai dengan kehendak atau panggilan Tuhan. Kami percaya sebagai orang beriman kita juga disertai oleh Tuhan, maka marilah kita konsekwen atau konsisteen perihal nama yang dikenakan pada kita masing-masing. Hendaknya kita hidup dan bertindak sesuai dengan dambaan, harapan atau impian yang muncul menjelang nama dikenakan pada diri kita masing-masing. Mungkin sebagai anak kita hanya sekedar menerima nama dari orangtua kita masing-masing, maka marilah dengan rendah hati kita bertanya kepada orangtua kita perihal dambaan, kerinduan dan impian terhadap diri kita masing-masing.

·   ” Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam” (Mal 3:1). Kutipan ini kiranya dapat kita kenakan pada diri kita masing-masing. Seperti Yohanes dilahirkan untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Penyelamat Dunia, demikian juga kita semua umat beriman, khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus, Penyelamat Dunia. Persiapan merupakan sesuatu yang penting, jika kita mendambakan kesuksesan segala sesuatu yang kita impikan, cita-citakan, dambakan dan rencanakan , hendaknya kita sungguh mempersiapkan semuanya dengan sebaik dan seoptimal mungkin. Hidup ini adalah suatu persiapan untuk dipanggil Tuhan, dimana kita akan berhadapan dengan Tuhan secara pribadi; kita siap untuk dipanggil Tuhan jika kita hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak dan perintah Tuhan alias hidup baik dan berbudi pekerti luhur. Dalam keadaan, kondisi dan situasi apapun kita hendaknya senantiasa bersama dan bersatu dengan Tuhan, senantiasa berkehendak dan melakukan apa yang benar, mulia, luhur dan baik. Dengan kata lain hendaknya kita setia pada dan melaksanakan dengan sungguh-sungguh janji yang pernah kita ikrarkan. Para pelajar atau mahasiswa hendaknya setia belajar, para pekerja hendaknya setia bekerja, yang sedang mencinta hendaknya setia saling mencintai dst.. Secara khusus kami mengingatkan anda semua: siapkah kita untuk merayakan pesta kelahiran Penyelamat Dunia yang segera akan tiba? Siapkah kita didatangi oleh Tuhan kapan pun dan dimana saja?

“TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat. Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati. Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya” (Mzm 25:8-10)

Ign 23 Desember 2011

Incoming search terms: