Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

5 Juni – 2Tim 4:1-8; Mrk 12:38-44

“Janda ini memberi dari kekurangannya”

(2Tim 4:1-8; Mrk 12:38-44)

 

“Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: "Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat." Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” (Mrk 12:38-44), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St. Bonifasius, uskup dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Dari berbagai pengalaman dan pengamatan saya apa yang disabdakan Yesus bahwa “Sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan” sungguh up to date dan nyata juga pada masa kini. Melayani mereka yang kaya dan berduit sungguh melelahkan dan penuh perhitungan, karena mereka begitu rewel dan menuntut, dan setelah menerima pelayanan pun sering lupa mengucapkan terima kasih, sebaliknya melayani mereka yang miskin dan berkekurangan enak adanya dan sungguh bahagia menerima ucapan terima kasih mereka. Ucapan terima kasih dari yang miskin dan berkekurangan bukan basa-basi dan sungguh keluar dari hati, bahkan saya berkali-kali mengalami hal konkret, misalnya: orang kaya itu memberi stipendium lebih kecil daripada yang miskin. Sabda Yesus hari ini mengingatkan kita semua bahwa berbagai jenis harta benda yang kita miliki dan kuasai pada saat ini adalah anugerah Allah, yang kita terima melalui mrreka yang telah berbuat baik kepada kita atau membantu kita, maka hendaknya juga difungsikan sesuai kehendak Allah. Kehendak Allah terhadap harta benda duniawi adalah demi kesejahteraan seluruh umat manusia, dan harta benda pada dasarnya bersifat sosial. Semakin memiliki banyak harta benda hendaknya semakin sosial, bersyukur dan berterima kasih -> mewujudkan syukur dan terima kasih dengan membantu mereka yang miskin dan berkekurangan. Memberi yang baik adalah memberi dari kekurangan kita, memberi dari kelimpahan berarti membuang sampah alias menjadikan orang lain yang menerima pemberian kita sebagai tempat sampah dan dengan demikian melecehkan yang lain, seperti orang-orang Farisi yang melecehkan orang-orang miskin.

·   “Kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu! Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat” (2Tim 4:5-6), demikian pesan Paulus kepada Timoteus.  Memberitakan Injil atau kabar baik serta menunaikan tugas pelayanan dengan baik pada masa kini tentu akan mengalami aneka macam bentuk penderitaan. Penderitaan yang lahir dari kesetiaan pada panggilan dan tugas pengutusan adalah jalan keselamatan atau kebahagiaan sejati, maka hendaknya sabar dalam penderitaan. “Sabar adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri dan tetap bertahan seperti keadaan semula dalam menghadapi berbagai rangsangan dan masalah” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Menghayati kesabaran pada masa kini sungguh penting sekali dan mendesak untuk disebarluaskan, mengingat dan memperhatikan semakin merosotnya keutamaan kesabaran bagi banyak orang. Sadar atau tidak sadar sarana komunikasi seperti HP membuat kita kurang sabar, mengapa? Terbiasa dilayani segera itulah pengalaman berkomunikasi dengan HP alias tak pernah diitunda atau dikecewakan. Dengan kata lain yang bersangkutan senantiasa ingin didahulukan, dan dengan demikian pasti tidak sabar mengalami aneka derita yang dapat muncul setiap saat. Generasi muda kurang atau tidak sabar menghadapi rangsangan seks dan dengan mudah mengadakan hubungan seks diluar atau sebelum menikah. Pengalaman tersebut jelas akan mendorong orang semakin tidak sabar dalam kehidupan yang lain.

 

“Aku datang dengan keperkasaan-keperkasaan Tuhan ALLAH, hendak memasyhurkan hanya keadilan-Mu saja! Ya Allah, Engkau telah mengajar aku sejak kecilku, dan sampai sekarang aku memberitakan perbuatan-Mu yang ajaib  Aku pun mau menyanyikan syukur bagi-Mu dengan gambus atas kesetiaan-Mu, ya Allahku, menyanyikan mazmur bagi-Mu dengan kecapi, ya Yang Kudus Israel” (Mzm 71:16-17.22)

 

Jakarta, 5 Juni 2010

Incoming search terms:

Berikan Yang Terbaik

Ayat bacaan: Maleakhi 1:8a
=======================
“Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat?”

berikan yang terbaik, memberi yang terbaik, persembahanSaya ingat sebuah kebiasaan untuk saling berkirim parcel pada perayaan hari besar kira-kira sepuluh tahun yang lalu. Ketika itu, untuk menyampaikan ucapan terima kasih, ucapan selamat dan sebagainya, orang mengirimkan berbagai bentuk parcel kepada teman/keluarga/atasan/kolega/rekanan bisnis mereka dan sebagainya. Parcel itu disusun sedemikian rupa sehingga terlihat indah, berisikan berbagai macam produk atau benda di dalamnya, dan dibungkus dengan rapi dan indah. Paketnya pun bermacam-macam. Bisa parcel produk makanan/minuman, parcel peralatan, aksesoris, produk kecantikan atau buah-buahan. Saya pernah berbisnis parcel bersama beberapa teman saya ketika masih kuliah, dan saya tahu bahwa merangkai produk-produk itu agar terlihat indah tidaklah semudah yang diperkirakan. Yang pasti, pemberian itu tidak boleh terlihat asal-asalan, dan yang paling penting lagi, jangan sampai isi di dalamnya mengandung barang kadaluarsa, jika isinya adalah produk snack, minuman atau produk-produk yang dikonsumsi. Tidak ada satupun orang yang mau memberikan parcel berisi produk kadaluarsa, atau benda-benda yang sudah retak atau sompel. Maka ketika saya dan teman-teman membeli, merangkai hingga mengantar, kami harus benar-benar memastikan bahwa paket-paket parcel itu masih berada dalam kondisi baik dan layak untuk diterima orang yang dituju.

Jika kepada manusia kita berhati-hati dan selalu mau memberikan yang terbaik, bagaimana ketika kita memberi persembahan? Mari ambil salah satu contoh ketika kita memberi persembahan di Gereja. Setelah saya melayani sebagai diaken, saya sering melihat kondisi uang yang ada di dalam kantung persembahan ketika kami menghitungnya. Ada begitu banyak uang yang dalam kondisi “lecek”, terlipat-lipat, kusut, lusuh, bahkan ada yang sobek. Memang secara nominal uang itu masih utuh dan bisa dipergunakan, namun jelas itu bukanlah dalam kondisi yang baik secara fisik. Jika kita kembali pada analogi parcel di atas, bukankah makanan di dalam parcel itu masih bisa dimakan tanpa disusun rapi? Tapi kita menyusunnya dengan baik, dibungkus indah, karena kita menghormati orang yang diberi dan ingin memberikan yang terbaik buat mereka. Seperti itu pula seharusnya ketika kita memberi persembahan,dan seharusnya kita lebih memperhatikan, karena kita memberi persembahan bagi Tuhan. Betul, kita memberikan kepada Gereja, dan tidak langsung kepada Tuhan. Tapi bukankah apa yang kita persembahkan itu akan dipergunakan oleh Gereja untuk pekerjaan Tuhan, pelebaran kerajaanNya dimana Allah sendiri yang dimuliakan? Bukankah ketika kita memberi persembahan itu sebenarnya kita sedang memberi persembahan kita kepada Tuhan?

Ayat hari ini diambil dari kitab Maleakhi, dimana Tuhan menunjukkan kekesalannya ketika Dia hanya diberikan kurban binatang dalam kondisi yang tidak selayaknya Dia terima. Apa yang dipersembahkan orang Israel waktu itu cukup keterlaluan. Bukannya memberikan persembahan terbaik, namun mereka malah memberikan binatang yang timpang dan sakit. Dan Tuhanpun menganggap itu jahat. “Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat?” (Maleakhi 1:8a). Selanjutnya Tuhan pun membandingkan dengan pemberian kepada bupati atau para pemimpin/atasan duniawi. “Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam.” (ay 8b). Ya, bukankah ironis ketika kita memberi yang terbaik kepada orang-orang yang kita hormati di dunia, tapi di sisi lain kita memberikan asal-asalan kepada Tuhan semesta alam? Ingatlah betapa Tuhan mengasihi kita. Dia selalu memberikan rancangan yang terbaik bagi kita, menyediakan yang terbaik bagi kita, bahkan menganugrahkan Kristus, anakNya sendiri untuk menyelamatkan kita. Alangkah keterlaluan jika kita membalasnya dengan sekedar memberikan tanpa ada rasa hormat, misalnya dengan memberikan uang yang kondisinya paling jelek dalam dompet kita, atau melipat-lipat/meremas uang sebelum memasukkannya ke dalam kantong kolekte. Tuhan pantas dihormati jauh dari itu. Mari kita lihat ayat sebelumnya. “Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: “Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?” (ay 6). Singkatnya, Tuhan mempertanyakan kepada kita demikian: “Jika benar Aku BapaMu, dimana hormat dan takutmu kepadaKu?”

Ketika memberi, memberilah dengan hormat. Kita memberikan persembahan kepada Tuhan yang bukan saja telah menciptakan kita, tapi juga melindungi, menyertai dan mengasihi kita lebih dari segalanya. Tuhan sangat layak menerima pemberian yang terbaik dari anak-anakNya. Ketika kita memberikan dengan sungguh hati atas besarnya kasih kita kepadaNya, kita seharusnya juga memberikan apa yang terbaik dari kita. Di atas segalanya itu, Yesus mengingatkan kita bahwa mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan mengasihi manusia seperti diri sendiri jauh lebih baik daripada semua korban. “Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” (Markus 12:33). Artinya, jika kita mau mempersembahkan yang terbaik, maka kita tidak boleh hanya berhenti dengan memberikan persepuluhan/ persembahan syukur dengan nominal-nominal tertentu saja, tidak boleh juga hanya berhenti pada memberi dengan hormat, tapi kita juga harus memberikan hidup kita sendiri kepada Tuhan, mempersembahkan seluruh hidup kita yang telah kita jaga untuk selalu kudus agar berkenan di hadapanNya. Hal ini juga dijelaskan Paulus kepada jemaat Roma. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1). Tidak terpengaruh dunia, terus memperbaharui budi untuk menjadi lebih baik, mampu membedakan kehendak Allah, dan tahu apa yang berkenan dan sempurna untuk diberikan kepada Allah, itulah tubuh kita yang layak dipersembahkan kepada Tuhan.

Dalam bersyukur kepada Tuhan, hendaklah kita memberi yang terbaik kepadaNya dengan penuh hormat dan takut, karena kita mengasihiNya. Dalam pemberian kolekte, berikanlah persembahan dengan rapi dan pilih uang dalam kondisi yang terbaik. Dan lebih dari itu, persembahkanlah hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan, bukan hidup yang acak-acakan dan penuh dosa, tapi hidup yang sudah menjadi ciptaan baru, hidup yang bertumbuh dan berbuah dalam Roh, sebagai sebuah persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Allah sudah memberikan segala yang terbaik untuk kita. Mari kita melakukan giliran kita untuk memberikan segala yang terbaik pula bagi Tuhan.

Berikan hanya yang terbaik bagi Allah kita yang luar biasa

Kasih Sejati

Ayat bacaan:1 Kor 13:5
===================
Ia (Kasih) tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

kasih sejatiA baru saja naik jabatan. Dia pun mendapatkan banyak hadiah. B, teman A, juga memberi hadiah. Karena kesibukannya,A lupa mengirimkan kartu ucapan terima kasih kepada B, atau sekedar telepon. B terus menunggu tanggapan dari A, tapi tanggapan itu tidak pernah datang, meskipun mereka berulang kali bertemu setelahnya. Seiring waktu berjalan, ternyata B merasa tersinggung karena pemberiannya seolah-olah tidak mendapat tanggapan dan merasa tidak dihargai. B merasa disisihkan, karena hadiah pemberiannya tidak mendapat balasan sesuai yang ia harapkan.

Dalam banyak bentuk lain hal seperti ini sering terjadi. Banyak orang yang memberi mengharapkan ucapan terima kasih, atau mengharapkan imbalan, atau mengharapkan hadiah kembali sebagai bentuk balasan. Bahkan banyak Pemberian kerap kali bukanlah sebagai ungkapan kasih, melainkan mengharapkan bentuk-bentuk keuntungan seperti mendapat promosi kenaikan jabatan, lulus ujian dan lain-lain. Ini sesungguhnya tidak sejalan dengan gambaran kasih menurut alkitab. Di dalam ayat bacaan hari ini kita melihat bahwa kasih sejati adalah kasih yang tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Kasih sejati tidak mengharapkan balasan, tidak pamrih, dan keluar dari hati sebagai ungkapan kasih kita terhadap orang lain. Ketika kita memberi sesuatu dengan motif lain dan bukan berdasarkan kasih, hal-hal seperti di atas pun mungkin terjadi. Itu karena kita berharap orang yang kita beri seharusnya mengembalikan lagi dalam bentuk lain sesuai keinginan kita. Kasih sejati akan membuat kita memberi dengan sukacita, tanpa menyimpan apapun dibalik pemberian, dan tidak mengharapkan apapun, bahkan ucapan terima kasih sekalipun. Seperti Tuhan mengasihi kita tanpa henti, ketika Tuhan selalu mengampuni kita setiap kali kita, ketika kita sadar bahwa Yesus rela mengorbankan diriNya demi menebus kita, kita merasakan kasih tak terbatas Tuhan atas diri kita. Sebagai anak-anak Tuhan, kita pun seharusnya bisa merefleksikan kasih tak terbatas Tuhan kepada orang lain.

Kasih sejati tidak menuntut imbalan