Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

1 Juni

“Kamu adalah garam dunia” (1Kor 1:18-25; Mat 5:13-19)  "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terl…

Arise and Shine

Ayat bacaan: Yesaya 60:1
=======================
“Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu.”

bersinarAda orang yang senang tampil di depan dan diperhatikan banyak orang, ada yang lebih suka berada di belakang layar tidak ingin terekspos. Dalam kadar yang normal keduanya tidaklah buruk. Ada kalanya kita butuh orang-orang yang bisa membuat suasana menjadi lebih ceria dengan keberadaan mereka, ada kalanya pula kita butuh pekerja-pekerja keras yang lebih menikmati pekerjaannya tanpa harus terlihat di permukaan. Dalam kadar yang lebih dari normal, keduanya bisa menjadi negatif. Orang yang ingin eksis secara berlebihan bisa tampil over, menyombongkan diri atau bahkan merasa harus menjelekkan orang lain agar mereka terlihat hebat. Sebaliknya orang yang menutup diri secara berlebihan sulit dalam bergaul dan cenderung gagal melihat potensi diri mereka sebenarnya.Saya mengenal beberapa orang yang punya potensi luar biasa untuk sukses namun mereka bagaikan tertutupi kabut tebal, atau mungkin lebih tepat jika saya katakan diikat oleh kabut tebal akibat rasa rendah diri berlebihan ini sehingga tidak kunjung tampil “bersinar” seperti seharusnya. Burukkah untuk bersinar? Sampai batas tertentu itu tidak buruk, karena Tuhan sendiri tidak menginginkan kita menjadi orang-orang yang tidak berbuah apapun selama hidup di dunia ini. Tetapi ketika kita mempergunakan “sinar cemerlang” yang terpancar dari diri kita untuk kepentingan atau kepuasan diri sendiri, maka hal itu menjadi tidak lagi baik.

Perhatikanlah ayat berikut ini: “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu.” (Yesaya 60:1). Ini adalah seruan yang sesungguhnya penting untuk kita cermati, dan ini membuktikan bahwa setiap orang percaya sesungguhnya diminta untuk bangkit, dan menjadi terang dengan turunnya atau terbitnya kemuliaan Tuhan dalam diri kita. Perhatikan pula ayat-ayat berikut: Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga. (Matius 5:14-16). Kita diminta untuk menjadi terang. Terang tidak akan berfungsi maksimal bila diletakkan di bawah gantang atau dalam keadaan tertutup. Kita harus bersinar keluar, memancarkan sinar terang kemuliaan Tuhan kepada dunia, dan pakailah itu bukan untuk popularitas atau menonjolkan kehebatan diri sendiri melainkan untuk memuliakan Bapa di sorga. Ayat-ayat ini jelas menyebutkan bahwa kita tidak diminta untuk menutup diri, menghalangi sinar kemuliaan Allah yang sudah turun atas kita, melainkan tampil bersinar membawa terang demi kemuliaanNya. Arise and shine. Arise from the depression and prostration in which circumstances have kept you, and shine, be radiant with the glory of the Lord.
Mengapa harus bangkit? Karena seringkali kita gagal bersinar akibat berbagai pengalaman buruk di masa lalu atau rangkaian kegagalan yang pernah menimpa kita. Bisa jadi kita merasa tidak memiliki fisik yang sempurna, ada bekas-bekas cacat, merasa kurang cantik atau kurang pintar dibandingkan orang lain, merasa tidak memiliki aksesoris atau gadget-gadget yang dianggap gaul dan sebagainya. Mungkin juga kita dari kecil sering dibandingkan dengan kakak atau adik sendiri oleh orang tua sehingga rasa percaya diri kita menjadi rendah sejak kecil. Mendapat intimidasi dari saudara, teman atau orang lain, atau pernah mengalami hal-hal traumatis, ini pun bisa menjadi sebab orang menutup dirinya, tidak lagi mampu melihat potensinya apalagi mempergunakannya, dan akibatnya menjadi gagal bersinar. Karena itulah Firman Tuhan berkata dengan sangat jelas agar kita mampu melepaskan diri dari segala belenggu yang menghalangi kita untuk bersinar. Bangkitlah, dan menjadi teranglah. Arise, and shine.

Di mata orang lain mungkin kita dianggap tidak cukup baik untuk sukses. Mungkin kita pernah atau bahkan sering mendapat intimidasi dari orang lain, baik ketika masih kecil atau sampai sekarang. Tapi di mata Tuhan, siapapun kita, sesungguhnya kita tidak pernah dianggap kurang layak untuk bisa bersinar. Di mata Tuhan justru kita sangat berharga. Begitu berharga, sehingga Dia rela mengorbankan AnakNya yang tunggal untuk menggantikan kita semua di atas kayu salib. Secara tegas Firman Tuhan menyatakan hal ini: “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau…” (Yesaya 43:4a). Berharga dan mulia, dan dikasihi. Itu artinya jelas, siapapun kita, seperti apapun keadaan kita, Tuhan menganggap kita begitu berharga bahkan dikatakan mulia. Secara spesifik Tuhan bahkan menginginkan kita seperti ini: “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya.” (Ulangan 28:13-14). Perhatikan apa yang diinginkan Tuhan, dan perhatikan pula bagaimana syaratnya. Ini menjadi gambaran agar kita tidak kehilangan “image” atau gambar diri yang telah dipersiapkan Tuhan bagi kita, seperti rencanaNya atas masing-masing kita yang sudah Dia reka dalam blueprintNya jauh sebelum kita diciptakan.

Perbaiki dan pulihkanlah gambar diri yang mungkin sudah terlanjur rusak itu. Bangkitlah, dan menjadi teranglah. Arise and shine! Kita tidak diminta untuk menjadi pribadi-pribadi gelap yang terkungkung di dalam kerendah-dirian atau ketidakpercayaan diri, tetapi diminta untuk bisa menjadi terang yang mampu menyinari orang lain di muka bumi ini. Kita diminta menjadi orang-orang yang mampu memancarkan sinar terang kemuliaan Tuhan kepada orang lain, dan untuk itu Tuhan sudah membekali kita masing-masing dengan talenta-talenta istimewa. Jangan lupa pula untuk mempergunakan itu bukan untuk kepentingan atau kebanggaan diri sendiri, melainkan untuk memuliakan Tuhan. Tidak ada satupun alasan yang bisa menghalangi kita untuk tampil bersinar. Tidak ada gelap yang mampu melawan terang. Apapun kata orang, apapun kata ketidakyakinan diri anda, apapun kekurangan yang anda pikir buruk dari diri anda, anda tetaplah berharga dan mulia di mata Tuhan. Jika demikian, ubahlah cara pandang anda akan diri sendiri, bangkitlah dan menjadi teranglah.

Biarkan terang dalam diri kita bercahaya dimana kemuliaan Tuhan dinyatakan didalamnya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Zakheus di antara Yesus dan Ahli Taurat

Ayat bacaan: Lukas 19:7
====================
“Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.”

ZakheusSemua orang ingin terus lebih baik lagi dari hari ke hari. Terus belajar dan mendalami Firman Tuhan, menjauhi kejahatan, menghindari berbuat dosa dan menjaga kekudusan, terus berubah menjadi semakin baik, itu semua tentu saja sangat baik untuk dilakukan. Jika itu sudah atau sedang anda lakukan hari ini maka anda sedang terus semakin mendekati dan mencerminkan pribadi Kristus. Tetapi berhati-hatilah, karena di balik proses itu apabila kita tidak hati-hati maka kita bisa dengan gampang dirasuk dosa kesombongan. Kita bisa terjerumus ke dalam sebuah perasaan yang menganggap diri kita paling suci, paling bersih, paling benar dan kemudian merasa punya hak untuk menghakimi orang lain. Kita bisa menjadi orang yang merasa diri paling sempurna dan dengan cepatnya menjatuhkan “vonis” kepada orang lain. Jika dibiarkan, maka kita pun akan menjadi komentator-komentator cerewet yang penuh kesinisan dan kenegatifan. Si A berdosa ini, si B dosanya itu, gereja itu sesat, gereja ini tidak benar dan sebagainya. Begitu mudahnya kita memvonis orang, bahkan dengan berani menyatakan siapa yang ke surga atau neraka. Semakin banyak yang kita kritik maka rasanya semakin hebat pula diri kita. Bahkan di kalangan hamba-hamba Tuhan gejala seperti inipun bisa saja terjadi. Ini bukanlah hasil yang diharapkan dari sebuah pertobatan dan usaha menguduskan diri. Alih-alih menjadi garam dan terang dunia, kita malah bisa terperangkap dalam sikap yang cenderung menjauhi mereka yang sebetulnya sedang butuh pertolongan agar tidak binasa. Dan disisi lain itu sama saja seperti kita sedang membinasakan diri sendiri. 

Terjebak dalam sikap merasa diri paling berhak, layak dan benar ini sudah dipertontonkan sejak lama oleh para orang Farisi. Mereka ini adalah tokoh-tokoh pemuka agama yang berhak memutuskan segala sesuatu, haram dan halal pada masa itu. Mereka merasa superior karena mengetahui dan hafal terhadap hukum Taurat dan menganggap diri mereka sebagai representatif Tuhan di muka bumi ini, sehingga merasa punya hak untuk menghakimi orang lain sesuai pendapat atau keinginan mereka. Orang-orang Yahudi pun sama saja, mengikuti sikap yang salah dari para pemimpin agama mereka ini. Sementara di sisi lain, Yesus datang ke muka bumi ini justru untuk menyelamatkan domba-domba yang hilang, atau sebagai tabib yang menyembuhkan orang sakit, seperti apa yang dikatakan Yesus dalam Lukas 5:31, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.” Dan Yesus tidak pandang bulu dalam menyelamatkan orang. Ia bertemu dan bersinggungan dengan begitu banyak orang dengan latar belakang yang berbeda-beda dan masalah berbeda-beda, tetapi semua sama layaknya untuk menerima keselamatan, karena Tuhan mengasihi semua manusia tanpa terkecuali. Dia tetap membuka kesempatan untuk bertobat bagi siapapun tanpa menimbang terlebih dahulu berat ringannya dosa atau pantas tidaknya seseorang untuk diselamatkan. Antara orang Farisi dan Yesus terdapat perbedaan yang sungguh nyata mengenai sikap dalam menghadapi orang berdosa.

Salah satu contoh nyata yang menggambarkan perbandingan kontras mengenai sikap atau cara pandang antara Farisi dan Yesus ini bisa kita lihat dalam kisah perjumpaanNya dengan Zakheus sang pemungut cukai. Sosok Zakheus cukup jelas digambarkan di dalam Alkitab: “Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.” (Lukas 19:2-3). Zakheus yang berbadan pendek ini adalah seorang pemungut cukai yang kaya. Pada masa itu orang Yahudi terutama para ahli Taurat menggolongkan para pemungut cukai ini sebagai orang berdosa. Dicap sampah masyarakat, pendosa, bahkan digolongkan dalam satu kelas bersama orang lalim, penzinah dan perampok (Lukas 18:11). Para pemungut cukai ini biasanya dicemooh dan dipandang hina, bahkan uang mereka tidak diterima sebagai persembahan. Zakheus ada dalam kelompok ini. Tapi sepertinya Zakheus punya kerinduan yang sangat besar untuk dapat bertemu Yesus yang ia idolakan. Sayang badannya pendek, sehingga sulit baginya untuk bisa melewati orang-orang lain yang berpostur lebih tinggi darinya. Tapi ia tidak menyerah, ia pun berusaha sedemikian rupa dengan memanjat pohon ara. (Lukas 19:4). Usahanya berhasil. “Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Yesus melihatnya dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” (ay 5). Bisa dibayangkan betapa terkejutnya Zakheus. Tidak saja melihat dan berbicara kepadanya, tapi Yesus bahkan berkenan untuk masuk dan menumpang dirumahnya. Tentu saja hal ini disambut Zakheus dengan sukacita. Tapi lihatlah apa yang dikatakan kerumunan orang Yahudi dan orang-orang Farisi. “Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.” (ay 7). Mereka beranggapan bahwa Zakheus itu sangat hina sehingga Yesus seharusnya tidaklah pantas sama sekali untuk mendatangi rumah orang sehina dia. Kontroversial? Jelas. Tapi perhatikanlah bahwa cara pandang mereka ini sesungguhnya menutup pintu dari orang lain yang berkesempatan untuk diselamatkan. Mereka hanya dengan mudah menghakimi dan memberi cap tanpa mau berbuat apa-apa. Apa yang terjadi kemengharukangguh luar biasa. Tuhan Yesus menganugerahkan keselamatan kepada Zakheus sebagai buah pertobatannya. Bukan saja kepada diri Zakheus sendiri, namun seluruh anggota keluarganya pun turut diselamatkan. Yesus pun menutup jawaban terhadap protes kerumunan orang-orang yang merasa lebih benar ini dengan “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (ay 10).

Dari kisah ini, siapa yang ingin kita teladani? Yesus atau para ahli Taurat dan orang-orang Yahudi yang merasa dirinya sudah lebih baik dari orang lain? Adakah hak kita memvonis atau menjatuhkan penghakiman terhadap orang lain dan merasa kita lebih hebat dari mereka? Kalau Yesus saja mengasihi tanpa pandang bulu dan memberi kesempatan yang sama bagi siapapun untuk bertobat tanpa menimbang berat ringannya dosa yang pernah dibuat, siapalah kita yang merasa jauh lebih berhak untuk menilai orang lain dan menentukan kemana mereka nanti bakal ditempatkan. Tanpa sadar manusia sering membanding-bandingkan diri mereka dengan orang lain, mencari-cari kesalahan orang lain agar diri mereka terlihat hebat. Itu bukanlah cerminan pribadi Kristus. Membuang muka, mencibir, menghina, menjaga jarak juga merupakan bentuk-bentuk penghakiman yang seharusnya bukan menjadi hak kita. Padahal mungkin Tuhan memberi kesempatan kepada mereka untuk berbalik kembali ke jalan yang benar lewat kita. Dengan sikap yang salah, kita pun menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadi berkat bagi mereka yang butuh pertolongan.Kita gagal untuk memenangkan jiwa bagi Kerajaan Allah dan dengan demikian gagal untuk melakukan tugas yang telah diamanatkan oleh Yesus sendiri.

Ingatlah bahwa perkara menghakimi adalah mutlak milik Tuhan. “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Matius 7:1-2). Yesus datang justru untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, dan kepada kita pun telah diberikan amanat agung disertai pesan untuk menjadi terang dan garam di dunia ini. Semua itu tidak akan pernah bisa kita laksanakan apabila kita masih memiliki hati yang angkuh yang merasa berhak menghakimi, menilai, mencap, atau memvonis orang lain sesuka kita. Oleh karena itu, jauhilah perilaku seperti para ahli Taurat dan orang-orang Yahudi yang merasa diri mereka begitu benar sehingga layak untuk menghakimi dan menjauhi orang lain. Seperti Yesus yang tetap mengasihi dan mau mengulurkan tanganNya, kasihilah mereka, karena mereka pun layak beroleh kesempatan untuk selamat!

Jangan menghakimi agar tidak dihakimi

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Matahari dan Secangkir Kopi

Ayat bacaan: Ayub 5:9
=====================
“Ia melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan yang tak terduga, serta keajaiban-keajaiban yang tak terbilang banyaknya”

matahari, ciptaan TuhanBeberapa waktu yang lalu sebuah acara mengenai pabrik kopi yang sudah berusia sangat tua tampil di televisi. Saya melihat bagaimana citarasa kopi yang begitu spesial itu diproses sejak awal. Ternyata fungsi matahari sangatlah penting. Kopi itu dijemur selama beberapa hari di bawah terik matahari, dan menurut mereka cahaya matahari itu tidak bisa tergantikan dengan oven atau alat pemanas lainnya, karena bisa menjaga keharuman kopi dengan baik. Matahari diciptakan Tuhan sejak awal sekali dan itu bisa kita baca dalam awal kitab Kejadian. Tanpa cahaya matahari kita tidak akan mendapatkan terang. Dunia akan gelap gulita dan kehidupan pun tidak akan berjalan. Tidak ada tanaman yang bisa tumbuh, tidak ada hewan yang bisa bertahan hidup, tidak juga kita manusia. Namun dari waktu ke waktu ternyata kita terus mendapatkan manfaat lain dari matahari yang telah diciptakan Tuhan sejak awal. Orang-orang di jaman purbakala tahu bahwa mereka bisa membuat nyala api dari sinar matahari. Menjemur baju hingga kering, itu perlu sinar matahari. Fungsi matahari terus berkembang seiring perkembangan jaman. Dari waktu ke waktu kita melihat manfaat-manfaat lain dari ciptaan Tuhan yang satu ini. Hari ini kita melihat bagaimana tenaga surya mampu melakukan banyak hal. Mobil pun sebentar lagi tampaknya akan mampu digerakkan oleh tenaga surya. Bahkan sebuah kopi pun akan mampu terjaga citarasanya jika melewati proses dengan dibantu oleh sinar matahari. Entah apa lagi yang akan kita dapat dari manfaat sinar matahari di masa depan. Semua itu adalah misteri yang tidak ada habisnya.

Jika ada di antara anda yang meragukan keberadaan Tuhan saat ini, pandanglah sekeliling anda. Sebab di sekitar anda ada begitu banyak bukti nyata dari keberadaan, kebesaran serta kemuliaan Tuhan. Semua telah Dia ciptakan dengan begitu indah dan penuh manfaat. Tidak satupun ciptaanNya yang dirancang dengan sia-sia, termasuk pula kita di dalamnya, manusia, His masterpiece, yang diciptakan lengkap dengan rencana-rencana yang indah sejak semula. Sayangnya banyak manusia terus mengembangkan teknologi lewat segala yang telah disediakan Tuhan bukan untuk memuliakanNya tetapi malah untuk menyaingi Tuhan atau bertujuan jahat. Teknologi seringkali diciptakan bukannya semakin membuktikan keberadaan Tuhan, bukan untuk menyatakan kasih Tuhan kepada manusia, tetapi justru untuk membuktikan kekuatan sendiri, membuktikan bahwa kita tidak butuh Tuhan dan mempergunakannya untuk kehancuran. Jika kita berada di posisi Tuhan, kita pasti sangat kecewa dan sedih kita melihat itu semua.

Ayub menyadari betapa besarnya Tuhan lewat segala ciptaanNya. Dalam banyak ayat Ayub menyatakan kekagumannya atas semua ini. Ayub mengatakan “Ia melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan yang tak terduga, serta keajaiban-keajaiban yang tak terbilang banyaknya.” (Ayub 5:9). The wonders of God’s creation can really make us speechless. Lihatlah bagaimana luar biasanya Tuhan menciptakan seperti yang disebutkan Ayub dalam pasal 37 dan 38, termasuk bagaimana peran Tuhan mengatur alam dengan megahnya. “Tahukah engkau, bagaimana Allah memberi tugas kepadanya, dan menyinarkan cahaya dari awan-Nya?” (Ayub 37:15). Atau lihatlah ayat ini: “Tahukah engkau dari mana datangnya terang, dan di mana sebenarnya sumber kegelapan?” (38:19 BIS) “Siapakah yang menggali saluran bagi hujan deras dan jalan bagi kilat guruh, untuk memberi hujan ke atas tanah di mana tidak ada orang, ke atas padang tandus yang tidak didiami manusia; untuk mengenyangkan gurun dan belantara, dan menumbuhkan pucuk-pucuk rumput muda?” (ay 25-27). Begitu megahnya ciptaan Tuhan di muka bumi ini, mulai dari berbagai warna warni bunga, tanaman dan jutaan jenis hewan dalam berbagai rupanya, hingga petir, gerak awan dan juga matahari dan bulan, semua itu belum dan saya rasa tidak akan pernah mampu terselami oleh manusia sepenuhnya.

Kita akan tercengang jika kita mengamati dengan sungguh-sungguh segala sesuatu yang Dia ciptakan di muka bumi ini. Begitu besarnya kuasa Tuhan, dan begitu besar kasihNya kepada kita, sehingga kita bisa menikmati segalanya dengan anugerah Tuhan yang tidak terbatas ini.Ayub pun menyadari hal itu dan berkata: “tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui.” (Ayub 42:3). Atau dalam versi bahasa Inggris berbunyi: “things too wonderful for me.” Bukan hanya Ayub, tetapi Daud pun pernah merenungkan betapa hebatnya Tuhan menciptakan segala yang ada di alam ini dalam Mazmur 104 yang berbicara mengenai “Kebesaran Tuhan dalam segala ciptaanNya.” Daud mengatakan “Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.” (Mazmur 104:24). Itu hasil perenungan Daud melihat segala keindahan yang hadir di sekelilingnya. Jika kita melihat semua itu, bagaimana reaksi kita? Apakah kita juga bersyukur dan menaikkan pujian kepada Tuhan atau kita hanya menikmati seenaknya tanpa memperhatikan siapa Sosok yang berada dibalik semua itu? Daud mengajak kita untuk memuliakan Tuhan ketika melihat semua perbuatan atau ciptaan Tuhan yang luar biasa ini. “Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!” (ay 31).

Jika anda terbangun hari ini dan melihat cahaya matahari bersinar cerah, atau mungkin hujan turun membasahi bumi menyegarkan semua tanaman dan menyejukkan udara, pujilah Tuhan. Bersyukurlah atas segala perbuatanNya yang ajaib, all the things that are too wonderful for us. Ketika anda minum secangkir kopi yang nikmat, ingatlah bahwa ada banyak pekerjaan dan bukti keberadaan Tuhan di setiap kenikmatan tegukan anda. Meski anda tidak melihatNya dengan kasat mata, tapi keberadaan Tuhan hadir setiap saat dalam hidup anda. Pujilah Dia dan ucapkan syukur sekarang juga. “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu!” (Mazmur 34:8a).

Ketika kita tertegun melihat keindahan ciptaanNya, itu saat bagi kita untuk memujiNya

Panggilan Tuhan: Menjadi Terang dan Garam

Ayat bacaan: Matius 5:13-14
=========================
“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.”

terang dan garamBagaikan sayur tanpa garam, itu sebuah ungkapan yang sering kita pakai untuk menggambarkan sesuatu yang hambar atau kurang greget. Bayangkan jika tidak ada garam di dunia ini. Makanan yang kita makan pun akan terasa hambar, tidak berasa. Bukan cuma itu fungsi garam. Garam juga bisa dipakai untuk mengawetkan bahkan bisa pula berfungsi sebagai obat. Garam hanya akan bermanfaat apabila garam itu keluar dari botol penyimpanannya. Jika hanya disimpan, apa yang bisa diperoleh dari fungsi garam? Tidak ada. Garam itu malah akan menjadi rusak, mengeras dan tidak lagi berguna sama sekali. Apalagi jika garam menjadi tawar. Jika itu terjadi, artinya garam itu tinggal dibuang saja. Sekarang mari kita lihat terang. Terang hanya akan terlihat bercahaya apabila berada di tempat terbuka yang gelap. Jika anda meletakkan senter di dalam sebuah kotak kemudian menguncinya, maka terang itu tidak akan berarti apa-apa. Coba letakkan sebuah lentera di bawah kolong tempat tidur, kemudian bandingkan terangnya ketika anda menggantungnya di atas. Mana yang akan lebih bermanfaat untuk menerangi kegelapan? Kedua hal ini dipakai Yesus sebagai contoh bagaimana kita harus berlaku di dunia ini. Menjadi terang dan garam, itu panggilan Tuhan buat kita.

Setelah kemarin kita melihat panggilan Tuhan bagi kita untuk menguasai dan menaklukkan bumi beserta isinya, hari ini kita melihat sebuah panggilan yang merupakan keharusan untuk dimiliki dan dilakukan oleh anak-anakNya. Tidak ada alasan bagi kita untuk menyimpan berkat Tuhan untuk diri sendiri, dan tidak ada alasan pula bagi kita untuk tidak menjaga sikap, tingkah laku, perbuatan dan perkataan kita seperti apa yang digariskan Tuhan. Kenyataannya ada banyak orang Kristen yang berpikir bahwa beribadah setiap hari Minggu itu sudah cukup, lalu dari Senin sampai Sabtu hidupnya sama sekali tidak mencerminkan terang dan garam bagi orang-orang disekitarnya. Mereka lupa bahwa kita dituntut untuk menjadi saluran berkat, menjadi duta-duta Kerajaan Surga di muka bumi ini. Yesus menggambarkan panggilan ini dengan terang dan garam. “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” (Matius 5:13-14). Garam hanya akan berguna ketika keluar dari botol, sedangkan terang hanya akan bercahaya jika diletakkan pada tempat yang tepat. “Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.” (ay 15). Dan inilah seruan Yesus yang harus kita amalkan: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (ay 16).

Mengapa kita harus menjadi terang? Sebab segala tentang Allah adalah terang. Kedatangan Kristus sendiri adalah sebagai Terang yang memberikan cahaya keselamatan dan pengharapan kepada kita, manusia yang sudah terlalu lama berselubung kegelapan. “Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yohanes 8:12) Kita sebagai orang-orang percaya tentunya harus pula menghidupi Terang ini. Bukan demi nama baik, pamor, popularitas kita, tetapi untuk memuliakan Bapa di surga seperti yang dikatakan Yesus dalam Matius 5:16 di atas. Panggilan menjadi terang ini secara jelas juga bisa kita baca dalam Yesaya. “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” (Yesaya 60:1-2). Ketika Terang Kristus, terang dunia ada di dalam diri kita, bagian kita selanjutnya adalah untuk menyinari dunia yang gelap. Ini tidak bisa kita lakukan apabila kita terus menerus berperilaku kurang terpuji, terus terpengaruh atau ikut-ikutan dalam arus kesesatan dunia, membiarkan diri kita untuk jatuh berulang-ulang dalam dosa atau terus hidup dalam kecemaran. Dalam 1 Tesalonika 4:7 kita baca “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.” Dan ini adalah seruan yang sangat penting. Tanpa memastikan hidup kita kudus, taat dan patuh seturut kehendak Allah kita tidak akan mampu menjadi terang dan garam bagi dunia. Bukannya menjadi teladan dimana Tuhan bisa dipermuliakan, tapi kita malah menjadi batu sandungan dan contoh buruk. Ini harus kita hindari, karena salah satu panggilan Tuhan menghendaki kita agar mampu menjadi terang dan garam, yang mampu menerangi dan memberi banyak manfaat bagi banyak orang yang hidup kesulitan di dunia yang kejam ini.

Kita harus menjaga setiap aspek kehidupan kita untuk bisa menjadi bukti nyata bagaimana sebentuk kehidupan yang dipimpin oleh Kristus. Yesus mengingatkan: “Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang.” (Yohanes 12:36). Yesus telah mengangkat kita keluar dari kegelapan untuk masuk ke dalam terang Tuhan. Di dalam Dia kita telah menjadi ciptaan baru. Oleh karena itu kita harus benar-benar menyikapi hidup sebagai anak-anak terang. Paulus berkata “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran.” (Efesus 5:8-9). Dan lihatlah apa yang kita peroleh. “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.” (1 Yohanes 1:7). Hidup dalam terang bukan berarti menyimpannya untuk diri sendiri. Ingatlah bahwa terang tidak akan berarti apa-apa jika tidak ditempatkan pada posisi yang tepat.

Menjadi terang dan garam bagi dunia merupakan sebuah panggilan Tuhan untuk kita lakukan. Kita tidak akan bisa melakukannya apabila pola kehidupan yang kita pertontonkan kepada orang sama sekali tidak mencerminkan kasih Kristus sama sekali. Bagaimana mungkin kita bisa menjadi terang dan garam apabila kita hidup jahat, kerap berkelahi, berlaku curang dan sebagainya? Kehidupan kita dalam keluarga akan dilihat oleh banyak orang. Kehidupan di tempat kerja, ketika belajar, bermasyarakat dan sebagainya akan selalu diperhatikan orang. Sudahkah kita menjadi contoh yang baik? Kita harus mulai memakai kehidupan kita sendiri sebagai terang dan garam untuk memuliakan Tuhan, dan itulah salah satu panggilan Tuhan yang penting buat kita. Jadilah terang yang bercahaya dan garam yang bermanfaat dan menyempurnakan bagi banyak orang.

Menjadi terang dan garam merupakan panggilan Tuhan bagi kita

8 Juni 1Raj 17:7-16; Mat 5:13-16

“Kamu adalah garam dunia”

(1Raj 17:7-16; Mat 5:13-16)

 

"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Mat 5:13-16), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Garam kiranya merupakan salah satu kebutuhan vital bagi umat manusia dan harganya sangat murah. Fungsi garam adalah membuat makanan nikmat untuk disantap, dan memang pemakaian garam harus tepat, tidak lebih dan tidak kurang. Yesus mengingatkan dan memanggil kita semua yang beriman kepadaNya untuk menjadi ‘garam dan terang dunia’, maka marilah dengan rendah hati dan bantuan rahmat Tuhan kita berusaha untuk menjadi ‘garam dan terang dunia’. Kehadiran, sepak terjang dan perilaku kita dimanapun dan kapanpun diharapkan membuat lingkungan hidup enak dan nikmat didiami, saudara-saudari kita semakin mesra dan bersahabat dengan kita. Mungkin apa yang kita lakukan adalah hal-hal atau perkara-perkara kecil dan sederhana, sebagaimana garam adanya, namun sungguh merupakan bagian dari kebutuhan pokok sehari-hari. Panggilan untuk menjadi ‘garam dan terang dunia’ berarti panggilan untuk tidak takut dan gentar menghayati iman maupun menyatakan jati diri sebagai yang beriman kepada Yesus Kristus dalam hidup sehari-hari dimanapun dan kapanpun, meskipun sendirian. Maka dengan ini kami berharap kepada rekan-rekan, entah yang berkarya di perusahaan, kantor pemerintahan,  lembaga-lembaga Negara, yang pada umumnya merasa sendirian atau kecil, hendaknya tetap tegar dan ceria menjadi ‘garam dan terang lingkungan hidup dan kerja atau pelayanan anda’. Garam di dalam makanan juga tak kelihatan namun fungsional membahagiakan, maka baiklah kita juga tidak perlu menjadi orang nomor satu dalam hidup dan kerja bersama dan mungkin menjadi orang kedua, ketiga dst.., tetapi cara hidup dan cara kerja kita sungguh menjiwai kebersamaan hidup maupun kerja rekan-rekan yang lain.

·    "Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu” (1 Raj 17: 13), demikian kata nabi Elia kepada seorang perempuan miskin. Sang perempuan hanya memiliki segenggam tepung dan sedikit minyak untuk membuat roti guna makan bersama anaknya, dan setelah itu merasa akan mati karena tiada yang dapat dimakan lagi, namun demikian akhirnya ia melakukan apa yang diminta oleh Elia. Muzijat pun terjadi yaitu tepung tidak pernah habis, sehingga sang perempuan bersama anak-anaknya dapat makan kenyang, hidup sehat. Memberi dari kekurangan akhirnya kembali berlebihan, itulah yang terjadi, orang miskin pada umumnya lebih sosial daripada orang kaya itulah realitas kehidupan bersama kita, sebagaimana dapat dilihat di kota-kota besar serta pedesaan. Bercermin dari pengalaman sang perempuan yang mentaati dan melaksanakan saran dan perintah seorang nabi, kami mengajak anda sekalian untuk mengusahakan diri sendiri agar tumbuh berkembang menjadi ‘man or woman with/for others’. Untuk itu kita senantiasa harus membuka diri terhadap ajakan, sentuhan dan sapaan orang lain, terutama dari mereka yang berkehendak baik. Maka hendaknya kita juga saling membuka diri satu sama lain dengan jujur dan rendah hati, saling berbagi pengalaman, kekayaan/harta benda/uang, keterampilan, dst.. Kami berharap kita tidak menjadi orang  yang egois dan pelit, melainkan menjadi orang yang bermurah hati. Ingatlah dan hayati bahwa hidup kita serta segala sesuatu yang menyertai kita, yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai saat ini adalah angerah Allah, yang kita terima melalui mereka yang telah berbuat baik kepada kita, dimanapun dan kapanpun.

 

“Apabila aku berseru, jawablah aku, ya Allah, yang membenarkan aku. Di dalam kesesakan Engkau memberi kelegaan kepadaku. Kasihanilah aku dan dengarkanlah doaku! Hai orang-orang, berapa lama lagi kemuliaanku dinodai, berapa lama lagi kamu mencintai yang sia-sia dan mencari kebohongan?  Ketahuilah, bahwa TUHAN telah memilih bagi-Nya seorang yang dikasihi-Nya; TUHAN mendengarkan, apabila aku berseru kepada-Nya. Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam” (Mzm 4:2-5)

 

Jakarta, 8 Juni 2010

Meneladani Yesus atau Orang Farisi?

Ayat bacaan: Lukas 19:7
====================
“Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.”

meneladani Yesus, orang Farisi, ZakheusMenjadi lebih baik lagi dari hari ke hari tentu baik. Semakin hidup kudus, semakin menjauhi dosa, semakin mendekati dan mencerminkan pribadi Kristus, itu keinginan kita semua. Namun jika tidak hati-hati, kita bisa dimasuki dosa kesombongan, menganggap diri kita lebih baik dari orang lain dan akhirnya mulai menghakimi orang lain. Si A berdosa ini, si B berdosa itu, dan selanjutnya mulai mencibir dan menjauhi mereka. Ini bukanlah hasil yang diharapkan dari sebuah pertobatan dan usaha menguduskan diri. Alih-alih menjadi garam dan terang dunia, kita malah bisa terperangkap dalam sikap yang cenderung menjauhi mereka yang sebetulnya sedang butuh pertolongan agar tidak binasa.

Hari ini sebelum tidur saya diingatkan dengan kisah Zakheus. Kisah tentang pertemuan Zakheus dan Yesus tentu tidaklah asing lagi. Rasanya kisah ini pun sering dibawakan untuk anak-anak di sekolah Minggu. Gambaran visual Zakheus yang berbadan pendek namun sibuk memanjat pohon agar bisa melihat Yesus, dan kemudian kisah pertobatannya tidaklah sulit untuk dicerna oleh anak-anak. Zakheus yang berbadan pendek ini adalah seorang pemungut cukai yang kaya. Pada masa itu orang Yahudi terutama para ahli Taurat menggolongkan para pemungut cukai ini sebagai orang berdosa. Cap sampah masyarakat, pendosa, digolongkan dalam satu kelas bersama orang lalim, penzinah dan perampok (Lukas 18:11), para pemungut cukai ini biasanya dicemooh dan dipandang hina. Zakheus ada dalam kelompok ini. Tapi sepertinya Zakheus punya kerinduan yang sangat besar untuk dapat bertemu Yesus. Sayang badannya pendek, sehingga sulit baginya untuk bisa melewati orang-orang lain yang berpostur lebih tinggi darinya. Tapi ia tidak menyerah, ia pun berusaha sedemikian rupa dengan memanjat pohon ara. (Lukas 19:4). Usahanya berhasil. “Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” (ay 5). Wow, tidak saja melihat dirinya, tapi Yesus berkenan untuk mendatangi rumahnya. Tentu saja hal ini disambut Zakheus dengan sukacita. Tapi lihatlah apa yang dikatakan kerumunan orang Yahudi dan orang-orang Farisi. “Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.” (ay 7). Mereka beranggapan bahwa Zakheus itu sangat hina sehingga Yesus seharusnya tidaklah layak untuk mendatangi rumah orang sehina dia. Apa yang terjadi kemudian sungguh mengharukan. Tuhan Yesus menganugerahkan keselamatan kepada Zakheus sebagai buah pertobatannya. Bukan saja kepada diri Zakheus sendiri, namun seluruh anggota keluarganya pun turut diselamatkan. Yesus pun menutup jawaban terhadap protes kerumunan orang-orang yang merasa lebih benar ini dengan “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” (ay 10).

Siapa yang ingin kita teladani, Yesus atau para ahli Taurat dan orang-orang Yahudi yang merasa dirinya sudah lebih baik dari orang lain? Adakah hak kita menjatuhkan penghakiman terhadap orang lain dan merasa kita lebih hebat dari mereka? Tanpa sadar manusia sering membanding-bandingkan diri mereka dengan orang lain, mencari-cari kesalahan orang lain agar diri mereka terlihat hebat. Itu bukanlah cerminan pribadi Kristus. Membuang muka, mencibir, menghina, menjaga jarak juga merupakan bentuk-bentuk penghakiman yang seharusnya bukan menjadi hak kita. Padahal mungkin Tuhan memberi kesempatan kepada mereka untuk berbalik kembali ke jalan yang benar lewat kita. Dengan sikap yang salah, kita pun menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadi berkat bagi mereka yang butuh pertolongan. Kita gagal untuk memenangkan jiwa bagi Kerajaan Allah.

Ketika Yesus mengulangi pertanyaanNya tiga kali kepada Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” dan ketika Petrus selalu menjawab “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau”, tiga kali pula Yesus mengakhiri pertanyaanNya dengan “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” (Yohanes 21:15-19). Inilah yang seharusnya kita lakukan setelah kita memasuki fase kehidupan baru yang mengejar kekudusan dan ketaatan. Ada pesan penting bagi kita semua untuk menggembalakan domba-dombaNya, dan itu semua haruslah didasarkan atas kasih kita kepada Kristus, bukan hal lainnya. Selama masih bersikap sombong dan merasa diri lebih benar, niscaya kita tidak akan mampu menjangkau dan memenangkan jiwa-jiwa untuk diselamatkan. Bagaimanapun juga kita diingatkan “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” (Efesus 4:2), “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” (ay 31) dan “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” (ay 32). Ingatlah bahwa perkara menghakimi adalah mutlak milik Tuhan. “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Matius 7:1-2). Yesus datang justru untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, dan kepada kita pesan untuk menggembalakan domba-dombaNya dan mewartakan kabar gembira telah Dia wariskan. Oleh karena itu, jauhilah perilaku seperti para ahli Taurat dan orang-orang Yahudi yang merasa diri mereka begitu benar sehingga layak untuk menghakimi dan menjauhi orang lain. Kasihilah mereka, karena mereka pun layak beroleh kesempatan untuk selamat! Dan siapa tahu, mungkin lewat diri kita Tuhan mau menjangkau mereka untuk bertobat. Mungkin kita yang diutus Tuhan untuk memimpin mereka hingga mengenal kebenaran dan lepas dari jerat iblis. (2 Timotius 2:25-26). Hari ini marilah kita mengasihi saudara-saudara kita dan menjadi teladan yang baik, sesuai dengan keteladanan yang telah diberikan Kristus.

Teladani Yesus, bukan orang Farisi / ahil Taurat

Incoming search terms:

Tercorengnya Arti Cinta

Ayat Bacaan: YOHANES 15:17
=====================


“Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.”

Saya merasa heran, kenapa ya hari-hari ini banyak sekali lagu sekuler yang liriknya meremehkan “arti cinta”. Dari mulai lirik mengenai memiliki selingkuhan, diselingkuhi, sampai lirik yang menyatakan kurang lebih begini, “jangan berharap terlalu jauh karena aku hanya coba2 saja”, “aku punya lelaki cadangan”, dan sebagainya..duh saya dengernya terganggu loh. Tidak hanya liriknya yang memakai gaya bahasa anak gaul jaman sekarang, tapi maknanya sama sekali tidak mendidik anak-anak generasi kita. Artinya, lagu-lagu tersebut mengajarkan generasi sekarang untuk “tidak apa-apa selingkuh”, “tidak apa-apa pacaran untuk main-main saja”, “jangan serius2 amat sama yg namanya cinta.”

Arti cinta di dalam lagu-lagu tersebut sungguh diremehkan, agaknya pesan yang ingin disampaikan supaya kita jangan jatuh cinta, karena cinta itu menyakitkan. Memang manusia sudah membuat arti cinta jadi lain, lebih banyak rasa sakit yang didapatkan dari mencintai ketimbang tidak mencintai. Tapi sebagai anak-anak Tuhan, haruskah kita terbawa-bawa arus yang sama? untuk tidak mencintai ketimbang mencintai? wah, gawat yah kalo begitu. In the bigger picture, bayangkan dunia tanpa cinta? bukankah peperangan di seluruh belahan dunia ini terjadinya karena tidak ada cinta, jadi ingat lagu “where is the Love”. Sampai-sampai manusia menanyakan: dimana sih cinta? Sedangkan Allah kita mengajarkan: “Kasihilah seorang akan yang lain.” Mengasihi berarti juga tidak menyakiti, tidak mengecewakan dan menghormati orang itu. Jadi, sebaiknya kita sebagai garam dan terang dunia membuktikan kepada dunia bahwa cinta itu bukan untuk main-main, bukan untuk berpura-pura, tapi mencintai bahkan mengasihi sesama adalah hal yang harus kita sebarkan kepada sesama kita; teman, keluarga, pacar, istri, suami, bahkan musuh! Allah kita memang luar biasa bukan?

Incoming search terms: