Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

9Agt

“Engkau bukan memikirkan apa yg dipikirkan Allah melainkan apa yg dipikirkan manusia.” (Yer 31:31-34; Mat 16:13-23) “Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia…

2 Juli

“Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya." (Am 2:6-10.13-16; Mat 8:18-22) “Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada…

2 Juni

“Baptisan Yohanes itu dari sorga atau dari manusia?” (Yud 17.20b-25; Mrk 11:27-33) ” Lalu Yesus dan murid-murid-Nya tiba pula di Yerusalem. Ketika Yesus berjalan di halaman Bait Allah, datanglah kepada-Nya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat d…

1Maret

“Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepadaNya” (Est 4:10a.10c.12.17-19; Mat 7:7-12) "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang…

13 Jan

“Angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” (1Sam 8:4-7.10-22a; Mrk 2:1-12) “Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah. Maka datanglah orang-orang berkerumun sehing…

Upgrade Iman

Ayat bacaan: Ezra 7:10
==================
“Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel.”

upgrade imanJika anda orang yang sering atau bahkan rutin mempergunakan komputer atau gadget-gadget elektronik lainnya, anda pasti akan selalu berhadapan dengan pesan update. Apakah itu program atau software, bahkan operating system, aplikasi, hardware dan lain-lain selalu mengeluarkan update-update terbarunya yang dipercaya mampu memberikan performance lebih baik dan tinggi dibanding sebelumnya. Bisa jadi untuk menutupi bugs atau masalah-masalah sekuriti yang muncul dan lain-lain, tetapi kita memang dianjurkan untuk melakukan upgrade secara rutin agar bisa mengurangi berbagai resiko yang tidak kita inginkan atau jika ingin software dan aplikasi-aplikasi berfungsi maksimal. Dalam hidup pun kita tidak pernah dianjurkan untuk tidak berkembang. Kita harus terus mengupdate ilmu dan pengetahuan kita, terus mempelajari hal-hal baru atau kita akan ketinggalan jaman. Ada banyak orang yang tidak tertarik untuk mengikuti perkembangan teknologi, dan sekarang kelabakan karena tiba-tiba teknologi menjadi sesuatu yang mutlak untuk terus diikuti perkembangannya. Istilah “gaptek” atau gagap teknologi pun muncul yang dipakai untuk menggambarkan mereka yang tidak tahu mengoperasikan gadget-gadget yang dianggap sudah umum. Dalam perjalanan iman kita, hal upgrade ini pun memegang peranan yang sangat penting pula. Dalam banyak kesempatan Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa hidup ini adalah sebuah proses, termasuk pula didalamnya iman kita. Iman kita akan bertumbuh dalam sebuah proses, dimana cepat tidaknya, sehat tidaknya atau baik tidaknya pertumbuhannya akan sangat tergantung dari sejauh mana kita rajin melakukan update, alias terus membaca, merenungkan dan kemudian melakukan atau mengaplikasikan Firman Tuhan. Kita akan melewatkan begitu banyak hal apabila kita tidak tertarik untuk menggali lebih dalam berbagai prinsip-prinsip Kerajaan Allah yang sebenarnya sudah dibuka begitu lebar di dalam Alkitab. Kita akan luput dari pengetahuan akan janji-janji Tuhan dan solusi atas semua permasalahan yang juga telah dinyatakan lengkap di dalam Alkitab. Untuk itu kita perlu sering melakukan update baik dalam hal pengetahuan umum, kepandaian, keahlian dan terlebih iman kita, agar kita bisa bertumbuh lebih baik lagi dari hari ke hari.

Kita bisa belajar dari Ezra dan ketekunannya untuk terus mendalami lebih jauh lagi apa yang menjadi pesan-pesan Tuhan. Dalam Perjanjian Lama, Ezra dikenal sebagai seorang ahli kitab yang sangat mahir mengenai Taurat Musa. Dikatakan demikian: “Ezra ini berangkat pulang dari Babel. Ia adalah seorang ahli kitab, mahir dalam Taurat Musa yang diberikan TUHAN, Allah Israel. Dan raja memberi dia segala yang diingininya, oleh karena tangan TUHAN, Allahnya, melindungi dia” (Ezra 7:6). Ezra sudah dianggap sebagai seorang ahli atau expert dalam mengenali Firman Tuhan. Tapi ternyata Ezra tidak pernah berpuas diri hingga disitu saja. Ia ternyata merupakan orang yang terus bertekad untuk meningkatkan kapasitasnya. Dengan sangat jelas itu bisa kita lihat dalam sebuah ayat berikut ini: “Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel.” (ay 10). Lihatlah bahwa Ezra terus melakukan update baik dari segi kemampuan dan pengetahuan maupun karakternya. Ia terus ingin meneliti lebih dalam lagi, dan tidak berhenti disana karena ia pun ingin terus mengaplikasikan semua yang ia ketahui dalam kehidupannya bahkan mengajarkannya kepada orang lain. Apa yang dilakukan Ezra inilah yang memberkati dirinya. Ia terus memperlengkapi dirinya dengan firman Tuhan dan terus bertekun melakukan firman. Dan hasilnya, kita bisa melihat bahwa ia memperoleh segala yang diingininya karena dengan jelas ayat 6 diatas mengatakan bahwa tangan Tuhan sendiri yang melindungi dia.

Ada banyak yang ditawarkan dunia untuk menghambat pertumbuhan iman kita. Berbagai gelimang kenikmatan terus ditawarkan sehingga jika tidak hati-hati kita bisa melupakan pentingnya upgrade iman bagi keselamatan kita. Oleh karena itulah Paulus mengingatkan kita untuk mau terus melakukan perubahan lewat pembaharuan budi. “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2). Semakin jauh kita meningkatkan kapasitas diri kita dan memperbaiki diri, semakin pula kita mampu membedakan mana yang berasal dari Allah dan mana yang tidak. Semakin besar tekad kita untuk terus menjadi lebih baik dari hari ke hari maka semakin baik pula kita sebagai anak Allah. Ingatlah bahwa ini tidak berarti kita cukup membaca saja, tetapi harus pula dilanjutkan dengan merenungkan, memperkatakan dan melakukannya dalam hidup kita. Yakobus mengatakan demikian: “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” (Yakobus 1:22). Bagaimana jika tidak? Yakobus lalu memberikan sebuah contoh. “Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya.” (ay23-24). Jika ini terjadi dalam hal iman kita, bukankah itu bisa berbahaya? Itulah sebabnya penting bagi kita untuk selalu mengingat pesan berikut ini: “Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.” (ay 25).

Hidup adalah sebuah proses, dan alangkah baiknya jika proses kehidupan kita terus diisi dengan melakukan segala sesuatu yang menuju ke arah perbaikan sesuai dengan kehendak Tuhan, terus mengupgrade diri dalam segala hal untuk hal-hal yang baik dan benar, yang sesuai dengan isi hati Tuhan. Dalam hal beribadah pun sama. Paulus mengingatkan “Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.” (1 Timotius 4:7). Ada kata latih disana, yang berbicara mengenai sebuah proses berkesinambungan untuk mencapai peningkatan-peningkatan. Singkatnya, adalah penting bagi kita untuk terus mengupgrade diri kita menuju ke arah yang lebih baik, dan terus berusaha sungguh-sungguh untuk lebih lagi menyenangkan Tuhan.

Kita harus mau membuka hati kita untuk terus belajar, jika perlu berubah untuk menuju ke arah yang lebih baik. Ketika kita berpikir bahwa melakukan perubahan itu tidak mudah, maka itu memang menjadi tidak mudah. Lupakan pikiran negatif tersebut, itu tidak akan membawa kita kemanapun. Coba berpikir bahwa bukan kita yang merubah diri kita sendiri, tapi Allah, tetapi itu akan tergantung dari mau atau tidaknya kita membiarkannya terjadi.  Katakan anda dan saya mau, maka niscaya Tuhan sendiri yang akan menuntun kita pada perbaikan diri kita dari hari ke hari. Roh Kudus akan dengan senang hati membukakan banyak hal dan menuntun kita menjadi semakin serupa dengan Kristus seiring perjalanan kehidupan kita.

Dalam segala hal kita harus terus melakukan upgrade rutin agar bisa memperoleh hasil atau performance yang lebih baik. Orang yang berhenti berproses tidak akan pernah bisa memperoleh sesuatu yang baru. Menjadi orang gagap teknologi dan berbagai kemajuan di dunia tidak baik, apalagi jika kita gagap dalam urusan mengetahui suara Tuhan. Latihlah terus diri kita untuk beribadah, temukan berbagai janji, pesan, teguran dan nasihat Tuhan dan segala rahasia Kerajaan yang sudah dibukakan di dalam Alkitab, lalu renungkan, perkatakan dan aplikasikan dalam hidup kita. Teruslah bertumbuh, dan bertumbuhlah dengan subur.

Hidup di dunia butuh upgrade, untuk kehidupan kekalpun kita butuh update

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

12 Okt

“Kamu telah mengabaikan keadilan dan kasih Allah”

(Rm 2:1-11; Luk 11:42-46)

” Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya." Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya: "Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga." Tetapi Ia menjawab: "Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun.’ (Luk 11:42-46), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang-orang yang bersikap mental “Farisi’ memang senantiasa mengabaikan keadilan dan kasih Allah, hidup dan bertindak hanya mengikuti selera pribadi demi kepentingan pribadi atau kelompoknya serta tidak memiliki kepekaan social terhadap sesamanya.  Keadilan dan kasih Allah hemat saya antara lain dapat kita fahami sebagai ‘menjunjung tinggi, menghormati dan menghargai harkat martabat  manusia yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah’. Dengan kata lain memperhatikan keadilan dan kasih Allah berarti dapat mengimani dan menghayati Allah yang hidup dan berkarya dalam diri manusia. Ingatlah dan hayati bahwa manusia diciptakan sebagai gambar atau citra Allah, dan hidup kita adalah milik Allah, demikian juga segala sesuatu yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai kini adalah anugerah Allah yang telah kita terima melalui sekian banyak orang yang telah memperhatikan dan mengasihi kita melalui aneka macam cara dan bentuk.  Jika kita dapat menghayati diri sebagai gambar atau citra Allah, maka kita pasti akan hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah dan dengan demikian senantiasa menghomati, menjunjung tinggi dan menghargai harkat martabat manusia. Maka perkenankan secara khusus saya mengingatkan dan mengajak siapapun yang mempekerjakan manusia dalam usaha atau kesibukannya atau keluarganya untuk sungguh memperhatikan keadilan dan kasih Allah dengan memberikan gaji atau imbal jasa yang memadai kepada mereka serta member kesempatan dan kemungkinan bagi mereka untuk terus tumbuh berkembang sebagai pribadi manusia beriman maupun pekerja. Hendaknya jangan menjadikan mereka bagaikan sapi perahan saja, tidak manusiawi. Selanjuntya marilah kita renungkan peringatan Paulus kepada umat di Roma di bawah ini. 

·   Karena itu, hai manusia, siapa pun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama.” (Rm 2:1).  Hendaknya kita jangan menghakimi orang lain dalam hidup dan kerja kita setiap hari dimanapun dan kapanpun. Apa yang dimaksudkan dengan menghakimi disini tidak lain adalah melecehkan atau menjelek-jelekkan orang lain, yang berarti juga tidak menghomati Tuhan, tidak bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang telah mengasihi kita. Melecehkan atau merendahkan manusia berarti melecehkan Tuhan.  Maka marilah kita hormati sesama kita tanpa pandang bulu dan sebagai bangsa Indonesia marilah kita hayati sila kedua “Perikemanusiaan yang adil dan beradab”.  Kita diharapkan sebagai warganegara yang beradab. Memang untuk itu pendidikan penting sekali atau sangat berperan, karena dengan dan melalui pendidikan yang baik dapat diusahakan manusia-manusia yang beradab, tahu dan menghayati sopan santun atau tata karma dan berbudi pekerti luhur. Sekali lagi dan tanpa bosan-bosannya saya mengingatkan dan mengajak para orangtua untuk mendidik dan membina anak-anaknya sedini mungkin agar tumbuh berkembang sebagai manusia yang beradab, untuk itu ajaklah dan binalah anak-anak tahu berterima kasih dan bersyukur atas kasih yang telah diterimanya. Ssaling bererima kasih dan bersyukur antar anggota keluarga di dalam rumah kiranya juga merupakan modal dan kekuatan untuk bersyukur dan berterima kasih kepada sesamanya dalam lingkungan yang lebih luas daripada keluarga. Kepada kita semua saya ajak dan ingatkan: hendaknya dalam keadaan dan situasi apapun kita senantiasa bersyukur dan berteima kasih; entah sukses atau gagal dalam hidup maupun bekerja hendaknya tetap bersyukur atau berterima kasih. Kegagalan juga dapat menjadi alasan untuk bersyukur dan berterima kasih, karena dengan dan melalui kegagalan kita pasti akan bertanya mengapa gagal, dan dengan demikian kita akan berusaha untuk menemukan cara-cara baru agar tidak gagal. Dengan kata lain kegagalan merupakan wahana pembaharuan diri. Maka ketika gagal hendaknya tidak menjadi putus asa atau murung.

” Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah” (Mzm 62:2-3.6-7)

Ign 12 Oktober 2011

23 spt

"Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan”
(Hag 2:1b-10: Luk 9:19-22)

” Jawab mereka: "Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia,
ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah
bangkit." Yesus bertanya kepada mereka: "Menurut kamu, siapakah Aku
ini?" Jawab Petrus: "Mesias dari Allah." Lalu Yesus melarang mereka
dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa
pun. Dan Yesus berkata: "Anak Manusia harus menanggung banyak
penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli
Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” (Luk
9:19-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Padre Pio,
imam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:
•        Padre Pio menerima anugerah Tuhan berupa stigmata, yaitu luka-luka
berdarah pada kaki, tangan dan lambungnya. Namun apa yang dialami
tersebut mendapat tantangan dan ancaman dari saudara-saudarinya, para
imam bahkan dari Vatikan. Ia dituduh kerasukan setan. Memang mujizat
pada awalnya senantiasa mendapat kecurigaan dan ketidak-percayaan dari
orang lain, termasuk dari mereka yang berkuasa atau berwenang.
Anugerah Tuhan secara khusus memang menimbulkan pertanyaan dan
kecurigaan, sebagaimana banyak orang kurang percaya kepada Yang
Tersalib. Dalam Warta Gembira hari ini Petrus menyatakan imannya
kepada Yesus bahwa Ia adalah “Mesias dari Allah”, namun Yesus melarang
untuk memberitahukan hal itu kepada siapapun, karena para pengikut
atau pendengarNya belum siap untuk mengimani seutuhnya. Setia beriman
kepada Yesus atau Allah berarti harus siap sedia dan rela menanggung
banyak penderitaan karena kesetiaannya. “Setia adalah sikap dan
perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian
yang telah dibuat” (Prof Dr Edi Sedyawati/ edit: Pedoman Penanaman
Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 24). Kami mengajak
kita semua, segenap umat beriman atau beragama, untuk setia pada
ajaran utama dari agamanya masing-masing, yang tidak lain adalah sama,
yaitu saling mengasihi. Semua agama(cq pendiri agama!) pasti
mengajarkan cintakasih dan mendambakan para pemeluk atau pengikutnya
hidup saling mengasihi dengan siapapun dan dimanapun. Ketika dihina,
dilecehkan atau direndahkan tetap  mengasihi mereka yang menghina,
melecehkan atau merendahkan, memang untuk itu secara phisik,
psikologis maupun sosial merasa sakit dan menderita; jika demikian
adanya hayatilah sakit dan derita tersebut dengan gembira dan
bergairah, dan secara khusus kepada  yang beriman kepada Yesus Kristus
hendaknya berbahagia karena telah diperkenakan untuk berpartisipasi
dalam penderitaan dan sengsaraNya.
•       “Sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman
TUHAN; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar;
kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN;
bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN
semesta alam, sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kamu pada
waktu kamu keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di
tengah-tengahmu. Janganlah takut” (Hag 2:5-6). Kutipan ini kiranya
dapat menjadi pegangan atau pedoman hidup dan bertindak kita dimanapun
dan kapanpun. Marilah tetap teguh hati dalam melakukan apapun asal
baik dan menyelamatkan serta membahagiakan, terutama keselamatan atau
kebahagiaan jiwa, meskipun untuk itu harus bekerja keras dan
menderita. “Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut”,
inilah firman yang hendaknya menjadi pedoman dan pegangan kita dalam
hidup dan bertindak. Tuhan senantiasa menyertai dan menjiwai siapapun
yang berkehendak dan bertindak baik, maka bersama dan bersatu dengan
Tuhan kita pasti akan mampu mengatasi aneka tantangan, hambatan dan
penderitaan. Rekan-rekan ibu atau perempuan yang pernah melahirkan
anak kiranya memiliki pengalaman dalam menghadapi dan mengalami
penderitaan, maka kami berharap untuk meneguhkan dan mengembangkan
pengalaman tersebut dalam hidup sehari-hari serta kemudian
menyebarluaskan kepada sesamanya. Bukankah ketika sedang melahirkan
anak mengalami penderitaan dan meskipun demikian tidak takut
sedikitpun? Penderitaan yang lahir dari kesetiaan pada iman, panggilan
dan tugas pengutusan adalah wahana atau jalan menuju ke keselamatan
dan kebahagiaan sejati yang tak akan luntur. Maka tetap bersyukur dan
berterima kasihlah ketika setia pada panggilan dan tugas pengutusan
harus menderita!.
“Hatiku meluap dengan kata-kata indah, aku hendak menyampaikan sajakku
kepada raja; lidahku ialah pena seorang jurutulis yang mahir. Engkau
yang terelok di antara anak-anak manusia, kemurahan tercurah pada
bibirmu, sebab itu Allah telah memberkati engkau untuk selama-lamanya.
Ikatlah pedangmu pada pinggang, hai pahlawan, dalam keagunganmu dan
semarakmu!” (Mzm 45:2-4)

Ign 23 September 2011

11 April – Dan 13:41c-62; Yoh 8:1-11

"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."

(Dan 13:41c-62; Yoh 8:1-11)

“Yesus pergi ke bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."(Yoh 8:1-11), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Pagi-pagi di Bait Allah alias di tempat beribadat ingin menjebak Yesus, itulah yang dilakukan para ahli Taurat dan orang Fairisi dengan berkata kepada Yesus:"Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?".  Yesus sungguh cerdas menanggapi jebakan tersebut dan Ia menjawab mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu”. Mendengar jawaban tersebut mereka berreaksi dengan pergi, meninggalkan Yesus dan  perempuan tersebut, mulai dari yang tertua. Jawaban Yesus menyadarkan mereka bahwa mereka juga orang berdosa, dan semakin tua atau tambah usia berarti semakin tambah dosa dan kekurangannya. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk tidak dengan mudah menyalahkan atau  melecehkan orang lain, serta secara khusus mengajak dan mengingatkan mereka yang sudah tua atau lebih tua untuk dengan rendah hati menyadari dan mengakui dosa-dosanya. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk lebih menghormati dan menghargai mereka yang lebih muda dari kita, antara lain lebih memberi kesempatan dan kemungkinan untuk tumbuh berkembang atau memberi fungsi dalam kehidupan bersama. Mereka yang lebih tua atau lanjut usia hendaknya rela mengundurkan diri dan memberi kesempatan yang lebih muda untuk menggantinya.


·   Sesuai dengan Taurat Musa kedua orang itu dibunuh. Demikian pada hari itu diselamatkan darah yang tak bersalah” (Dan 13:62), demikian kesimpulan sekitar masalah Susana yang dituduh berselingkuh, padahal ia tidak melakukannya. Senjata makan tuan, itulah yang terjadi dengan dua lelaki tua yang mengajukan tuduhan palsu kepada Susana. Kisah ini kiranya baik menjadi bahan permenungan bagi para lelaki, yang juga dengan mudah sering menuduh rekan-rekan perempuan sebagai sumber dosa, padahal sang lelaki sendiri yang tak mungkin mengendalikan nafsu bejatnya. Dengan kata lain kami berharap rekan-rekan laki-laki untuk menghormati dan menjunjung tinggi rekan-rekan perempuan; ingatlah dan sadari bahwa kita semua pernah dikandung, dilahrkan dan dibina dengan penuh cintakasih oleh seorang perempuan, yaitu ibu kita masing-masing, maka menuduh atau melecehkan perempuan berarti melecehkan ibu kita masing-masing. Para lelaki ketika melihat perempuan cantik dan mempesona, hendaknya tergerak untuk memuji dan memuliakan Tuhan, bukan membiarkan nafsu untuk memperkosanya atau melecehkannya. Hendaknya juga disadari dan dihayati bahwa rekan-rekan perempuan terpaksa harus melacurkan diri alias menjadi wanita simpanan karena kebejatan kaum laki-laki; mereka menjadi korban nafsu seksual laki-laki yang tak bertanggungjawab -> memandang dan menyikapi rekan perempuan sebagai pemuas nafsu seksual belaka, bukan sebagai citra atau gambar Tuhan. Dengan ini juga kami mengingatkan para orangtua untuk sungguh memperhatikan anak-anaknya jangan sampai terjebak pada pemuasan nafsu seksual belaka. Kepada kita semua kami ajak dan ingatkan untuk menyadari diri sebagai yang berdosa yang telah menerima kasih pengampunan Tuhan secara melimpah ruah. 

 

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah” (Mzm 23:1-5).

Jakarta, 11 April 2011