Tag: taurat

9Agt

“Engkau bukan memikirkan apa yg dipikirkan Allah melainkan apa yg dipikirkan manusia.”

(Yer 31:31-34; Mat 16:13-23)

“Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi." Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga." Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias. Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mat 16:13-23), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sikap mental materialistis sudah begitu menjiwai banyak orang, sehingga pikirannya senantiasa terarah atau terkonsentrasikan pada hal-hal dunia atau mungkin manusiawi, namun tidak sampai pada Yang Ilahi. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua, umat beriman, untuk senantiasa mengarahkan pikiran kepada Yang Ilahi atau Allah. Ingatlah dan sadari bahwa apa yang akan kita lakukan pada umumnya sangat tergantung pada apa yang kita pikirkan: begitu bangun pagi hari kita memikirkan apa, itulah yang akan kita lakukan sepanjang hari atau menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita sepanjang hari. Kami berharap begitu bangun pagi pikiran diarahkan kepada Yang Ilahi atau Allah, antara lain begitu bangun segera berdoa singkat untuk berterima kasih dan bersyukur kepada Allah bahwa masih dianugerahi hidup dan kesehatan, dan dengan rendah hati mohon rahmat dan bantuan Allah agar sepanjang hari yang akan dilalui atau dijalani senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintah Allah. Mengarahkan pikiran kepada Allah berarti senantiasa memikirkan apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan, terutama keselamatan atau kebahagiaan jiwa manusia. Jika kita senantiasa memikirkan yang demikian itu, maka sepanjang hari kita pasti senantiasa melakukan apa yang baik, dan tidak pernah mengecewakan orang lain. Semoga cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari tidak menjadi batu sandungan bagi saudara-saudari kita untuk berbuat jahat.

·   Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku” (Yer 31:33), demikian firman Tuhan melalui nabi Yeremia. Marilah firman Tuhan ini kita tanggapi dengan rendah hati dan keterbukaan. Apa yang ada dalam hati dan batin memang mempengaruhi atau menjiwai cara berpikir atau pikiran kita. Apa yang ada di dalam batin dan hati bagaikan ‘akar’ dalam sebuah tanaman, tidak kelihatan di permukaan, namun sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang bersangkutan. Kami berharap agar batin dan hati senantiasa memperoleh perhatian yang memadai dalam aneka bentuk pendidikan atau pembinaan, entah di dalam keluarga, sekolah atau masyarakat. Salah satu usaha untuk itu antara lain rajin untuk membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci atau aneka tata tertib dan aturan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Atau mungkin anda mempunyai rumusan singkat visi atau spiritualitas, baiklah jika rumusan kata-kata singkat tersebut ditulis dengan baik dan kemudian ditaruh di atas meja atau ditempel di pintu-pintu kamar kita, sehingga setiap hari dapat melihat dengan harapan juga dapat mencecap dalam-dalam visi atau spiritualitas tersebut dan kemudian menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita. Kami percaya bahwa anda semua masing-masing memiliki motto hidup pribadi atau bersama, baiklah motto tersebut dicecap dalam-dalam.

Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu” (Mzm 51:12-15)

Ign 9 Agustus 2012

Tags : , , , ,

2 Juli

“Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya."

(Am 2:6-10.13-16; Mat 8:18-22)

Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: "Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: "Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka." (Mat 8:18-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berreflkesi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Yesus adalah Penyelamat Dunia dan memiliki tugas pengutusan untuk menyelamatkan seluruh dunia. Ia memang telah berusaha keras untuk berkeliling kemana-mana, namun Ia juga membutuhkan tenaga atau bantuan orang lain untuk meneruskan dan menyebarluaskan tugas pengutusanNya, dengan kata lain Ia membutuhkan orang-orang yang bersedia untuk menjadi pengikut atau muridNya. Pengajaran maupun kepribadianNya menyentuh dan mempesona banyak orang, maka cukup banyak orang akhirnya menjadi pengikutNya. Untuk menjadi pengikut Yesus harus dengan besar hati dan sukarela meninggalkan segala sesuatu atau segala yang dimilikiNya serta siap sedia untuk diutus kemanapun tanpa syarat. Dalam kisah hari ini ada seseorang ingin mengikuti Yesus, namun ketika menerima jawaban Yesus bahwa Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya, ia pun mengundurkan diri karena kelekatannya pada sesuatu yang tak dapat ditinggalkan. Alasan ‘menguburkan ayah’ atau melayat merupakan sesuatu yang tak mungkin dibantah, dengan kata lain merupakan alasan yang tak mungkin dapat dibicarakan atau didiskusikan. Itulah yang sering disebut sebagai kelekatan tak teratur. Maka dengan ini kami mendambakan anda sekalian yang menjadi pengikut Yesus Kristus untuk sungguh melepaskan diri dari aneka kelekatan yang tak teratur, entah itu berupa harta benda atau sifat pribadi atau kenikmatan-kenikmatan tertentu yang berlawanan dengan kehendak Allah. Menjadi pengikut Yesus Kristus harus bebas merdeka secara total.

·   Karena TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian. Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya, sambil menjaga jalan keadilan, dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia. Maka engkau akan mengerti tentang kebenaran, keadilan, dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik. Karena hikmat akan masuk ke dalam hatimu dan pengetahuan akan menyenangkan jiwamu;” (Ams 2:6-10). Jika kita sungguh secara total meninggalkan kelekatan-kelekatan tak teratur, maka kita akan mampu menerima anugerah Tuhan, yaitu “mengerti tentang kebenaran, keadilan dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik”. Kami percaya bahwa kita semua mendambakan untuk tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik dan kami berharap para orangtua maupun para pengelola dan pelaksana karya pendidikan/sekolah lebih mengutamakan agar anak-anak atau para peserta didiknya lebih tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik daripada pandai, cerdas secara spiritual daripada cerdas secara intelektual. Memang mendidik anak-anak atau peserta didik untuk tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik lebih sulit daripada mendidik agar lebih pandai. Jika orang sungguh memiliki kecerdasan spiritual alias baik, hemat saya kecerdasan-kecerdasan lainnya seperti kecerdasan intelektual, sosial, emosional, fisik dapat diusahakan dengan mudah. Kecerdasan spiritual merupakan landasan atau dasar kecerdasan-kecerdasan lainnya. Apa yang disebut dalam kutipan diatas, yaitu kebenaran, keadilan dan kejujuran hemat saya sungguh penting dan mendesak untuk kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini, mengingat kebohongan, ketidak-adilan dan korupsi masih merebak di sana-sini dan lebih sungguh memprihatinkan bahwa hal itu terjadi dalam diri para tokoh atau pemuka hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di negeri kita tercinta ini. Sekali lagi saya angkat salah satu usaha yang  hendaknya dikerjakan bersama-sama adalah peraturan dilarang menyontek di sekolah-sekolah, karena membiarkan para peserta untuk menyontek berarti mempersiapkan mereka untuk menjadi pembohong-pembohong dan koruptor-koruptor.

"Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu, padahal engkaulah yang membenci teguran, dan mengesampingkan firman-Ku? Jika engkau melihat pencuri, maka engkau berkawan dengan dia, dan bergaul dengan orang berzinah. Mulutmu kaubiarkan mengucapkan yang jahat, dan pada lidahmu melekat tipu daya. Engkau duduk, dan mengata-ngatai saudaramu, memfitnah anak ibumu.Itulah yang engkau lakukan, tetapi Aku berdiam diri; engkau menyangka, bahwa Aku ini sederajat dengan engkau. Aku akan menghukum engkau dan membawa perkara ini ke hadapanmu” (Mzm 50:16-21)

Ign 2 Juli 2012

 

Tags : , , , , ,

2 Juni

“Baptisan Yohanes itu dari sorga atau dari manusia?”

(Yud 17.20b-25; Mrk 11:27-33)

” Lalu Yesus dan murid-murid-Nya tiba pula di Yerusalem. Ketika Yesus berjalan di halaman Bait Allah, datanglah kepada-Nya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua, dan bertanya kepada-Nya: "Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?" Jawab Yesus kepada mereka: "Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Baptisan Yohanes itu, dari sorga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!" Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata: "Jikalau kita katakan: Dari sorga, Ia akan berkata: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi, masakan kita katakan: Dari manusia!" Sebab mereka takut kepada orang banyak, karena semua orang menganggap bahwa Yohanes betul-betul seorang nabi. Lalu mereka menjawab Yesus: "Kami tidak tahu." Maka kata Yesus kepada mereka: "Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.” (Mrk 11:27-33), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Karena merasa tersingkir dan pamornya di kalangan rakyat semakin berkurang gara-gara kehadiran Yesus, maka imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua Yahudi berusaha menyingkirkan Yesus dengan pertanyaan-pertanyaan jebakan. Mereka mempertanyakan perihal kuasa yang Ia terima, dan Yesus  tahu maksud jahat mereka, maka Ia pun ganti bertanya perihal baptisan Yohanes, dari sorga atau dari manusia. Baptisan Yohanes telah dipercaya oleh rakyat banyak sebagai yang berasal dari sorga, maka mereka pun tak berani menanggapinya serta mengaku tidak tahu, karena takut kalah berdebat, dan dengan demikian pamor mereka semakin merosot. Begitulah orang-orang yang gila kuasa dan kehormatan duniawi serta hanya mengutamakan kepentingan pribadi: mereka semakin terpojok dan tersingkir. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk tidak mengutamakan kepentingan pribadi, melainkan kepentingan dan kesejahteraan umum atau rakyat dalam cara hidup dan cara bertindak kita dimana pun dan kapan pun. Ingatlah dan hayati bahwa masing-masing dari kita berasal dari Allah, ciptaan Allah, dan Allah menghendaki agar kita semua selamat dan berbahagia, seluruh umat manusia di dunia ini selamat, bahagia dan sejahtera, baik lahir maupun batin, fisik maupun spiritual. Hari ini kami di Seminari Menengah Mertoyudan sedang mengenangkan satu abad berdirinya Seminari Menengah, mengenangkan proses pembinaan dan pembelajaran pribadi-pribadi yang tergerak untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umum, dan ribuan alumni telah tersebar ke seluruh dunia, maka kami berharap kepada para alumni Seminari Menengah Mertoyudan untuk senantiasa dapat menjadi orang bagi dan bersama orang lain (to man with/for others).

·   Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal. Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu, selamatkanlah mereka dengan jalan merampas mereka dari api. Tetapi tunjukkanlah belas kasihan yang disertai ketakutan kepada orang-orang lain juga, dan bencilah pakaian mereka yang dicemarkan oleh keinginan-keinginan dosa.” (Yud 21-23). Kutipan ini kiranya cukup jelas bagi kita semua: suatu ajakan untuk senantiasa hidup dalam kasih Allah dengan berbelas kasih kepada mereka yang hidup dalam keraguan atau berkeinginan jahat. Kepada mereka ini hendaknya kita sampaikan pencerahan-pencerahan, entah berupa kata-kata atau tindakan, sebagaimana dilakukan oleh Yesus kepada orang-imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua Yahudi, yang berpikiran dan berkeinginan jahat. Pikiran dan keinginan jahat mereka memang muncul dari keraguan, yang terus-menerus ditutup-tutupi atau disembunyikan. Maka kepada mereka yang berada dalam keraguan kami harapkan dengan jujur mengakuinya dan kemudian dengan rendah hati minta bantuan orang lain guna mengatasi keraguannya. Ingatlah akan motto ‘malu bertanya sesat di jalan’!. Sebaliknya kepada siapapun yang membantu mereka yang berada dalam keraguan hendaknya sungguh dijiwai oleh belas kasih Allah, yang berarti dengan lemah lembut, rendah hati dan sopan memberi penerangan atau penjelasan, sehingga penerangan atau penjelasan yang disampaikan kepada orang lain dapat diterima dengan senang hati. Belas kasih Allah kami harapkan juga menjiwai cara hidup dan cara bertindak para orangtua maupun para guru/pendidik dalam rangka mendampingi dan mendidik anak-anaknya/para peserta didiknya.

Bagi-Mulah puji-pujian di Sion, ya Allah; dan kepada-Mulah orang membayar nazar. Engkau yang mendengarkan doa. Kepada-Mulah datang semua yang hidup karena bersalah. Bilamana pelanggaran-pelanggaran kami melebihi kekuatan kami, Engkaulah yang menghapuskannya. Berbahagialah orang yang Engkau pilih dan yang Engkau suruh mendekat untuk diam di pelataran-Mu! Kiranya kami menjadi kenyang dengan segala yang baik di rumah-Mu, di bait-Mu yang kudus” (Mzm 65:2-5)

Ign 2 Juni 2012

Tags : , ,

10 Maret

"Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."

(Mi 7:14-15.18-20; Luk 15:1-3.11-32)

” Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka” (Luk 15:1-3), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat memang dikenal sebagai orang-orang yang sombong, yang senantiasa merasa dirinya yang terbaik dan meremehkan atau melecehkan orang-orang berdosa. Padahal jika dicermati secara mendalam banyak orang melakukan dosa atau berbuat jahat karena kesombongan mereka, sebagaimana juga terjadi di negeri kita ini. Hemat saya banyak orang berbuat jahat atau melakukan apa yang tidak baik disebabkan oleh cara hidup dan cara bertindak para pejabat atau petinggi atau mereka yang berpengaruh dalam kehidupan bersama, yang sombong, yang melecehkan mereka yang miskin, bodoh, kurang terdidik dst.. Perumpamaan perihal anak hilang hari ini hemat saya lebih terarah atau ditujukan kepada orang-orang sombong seperti orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang bersungut-sungut ketika menyaksikan Yesus menerima orang-orang berdosa dan makan  bersama-sama dengan mereka. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan siapapun yang sombong untuk bertobat serta menjadi rendah hati, kemudian meneladan Yesus yang dengan penuh belas kasih menerima dan makan bersama-sama dengan orang berdosa. Saya percaya bahwa kita semua sebenarnya juga berdosa, namun sering tak menyadarinya atau memang sengaja menyembunyikannya. Ketika ada orang mengampuni mereka yang berdosa atau bersalah, hendaknya juga tidak bersungut-sungut, melainkan bersyukur dan berterima kasih. Sekali lagi rasanya kita ini lebih seperti anak sulung yang merasa diri baik-baik terus-menerus, padahal tindakan baik yang kita lakukan hanya bertujuan agar dipuji orang. Sekiranya anda merasa diri bagaikan anak bungsu, yang hilang, hendaknya dengan rendah hati serta penuh harapan mengakui dosa-dosanya serta mohon kasih pengampunan Allah. Fungsikan aneka kesempatan mengaku dosa yang ada di gereja-gereja atau kapel-kapel untuk mengaku dosa sccara pribadi.

·   Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri; yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut. Kiranya Engkau menunjukkan setia-Mu kepada Yakub dan kasih-Mu kepada Abraham seperti yang telah Kaujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang kami sejak zaman purbakala” (Mi 7:18-20). Kutipan ini kiranya dapat menjadi kekuatan dan dorongan bagi kita semua untuk tidak takut dan tidak malu mengakui dosa dan kesalahan kita kepada Allah maupun saudara-saudari yang telah kena dampak perilaku dosa dan perubuatan salah kita. Allah adalah Maha Setia dan Maha Pengampun, kesetiaan dan kasih pengampunanNya telah menjadi nyata melalui sekian banyak orang yang telah memperhatikan kita serta tidak pernah memperhitungkan kesalahan dan dosa-dosa kita. Tentu saja pertama-tama dan terutama mereka itu  adalah  ibu kita masing-masing. Bukankah ketika kita masih bayi atau kecil pasti senantiasa menyusahkan dan membuat ibu menderita, dan ibu tidak pernah mengingat dan memperhitungkan kesalahan dan dosa-dosa kita, sebagaimana sering dikidungkan dalam sebuah nyanyian “Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”?. Kakak-kakak kandung kita atau bapak kita juga demikian adanya, dengan setia dan kasih pengampunan memperlakukan kita. Jika kita berani dan mampu menghayati kesetiaan dan kasih pengampunan ibu dengan mendalam, kiranya kita memiliki kekuatan dan keberanian untuk mengakui kesalahan dan dosa-dosa kita terhadap saudara-saudari kita yang lain serta mohon kasih pengampunan mereka. Marilah kita saling setia dalam mengasihi dan mengampuni satu sama lain, tanpa pandang bulu.

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat” (Mzm 103:1-4)

Ign 10 Maret 2012

5 pencarian oleh pembaca:

  1. romo priambono
Tags : , , , , ,

1Maret

“Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepadaNya”

(Est 4:10a.10c.12.17-19; Mat 7:7-12)

"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada ereka yang meminta kepada-Nya." "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 7:7-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·    Berdoa merupakan salah satu cirikhas hidup orang beragama atau beriman; mengaku beragama atau beriman tetapi tidak pernah berdoa setiap hari berarti pembohong. Memang ada orang malas berdoa atau tidak mau berdoa lagi karena merasa tidak ada gunanya, doa-doanya tidak pernah dikabulkan oleh Tuhan. Ada kemungkinan mereka salah berdoa atau berdoa mohon kepada Tuhan bukan apa yang berkenan pada Tuhan, bukan apa yang baik. Apa yang baik adalah apa-apa yang menyelamatkan jiwa manusia, maka ketika berdoa mohon kepada Tuhan hendaknya mohon apa-apa yang baik, yang menyelamatkan jiwa. Jika dicermati doa-doa  permohonan dalam Perayaan Ekaristi hari Minggu dapat dilihat contoh-contoh: pertama-tama mendoakan para pemimpin kita, entah pemimpin bangsa maupun Gereja/Agama, kemudian berdoa bagi mereka yang miskin dan berkekurangan dan baru kemudian berdoa bagi diri sendiri, yang isinya adalah agar dapat menghayati sabda Tuhan sebagaimana diwartakan hari ini. Kita perlu mendoakan para pemimpin karena mereka memiliki tugas berat dan mulia yaitu harus bekerja dan berjuang demi kesejahteraan dan keselamatan jiwa rakyat atau umat Allah. Kita berdoa bagi mereka yang miskin dan berkekurangan agar dengan rendah hati berani menyatukan diri dengan Yesus yang telah memiskinkan DiriNya untuk memperkaya orang lain, dan tentu saja mohon agar Tuhan mengutus orang-orang untuk menolong mereka yang miskin dan berkekurangan. Mohon untuk diri sendiri adalah agar kita menjadi pelaksana-pelaksana sabda Tuhan. Jika kita mohon yang demikian itu percayalah bahwa permohonan kita pasti dikabulkan. Yang tidak boleh dilupakan adalah doa syukur dan terima kasih karena kita telah menerima anugerah Allah secara melimpah ruah melalui sekian banyak orang yang telah memperhatikan kita, berbuat baik kepada kita.

·   "Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangku pun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati." Maka pergilah Mordekhai dan diperbuatnyalah tepat seperti yang dipesankan Ester kepadanya.” (Est 4:16-17). Berpuasa demi tujuan atau maksud yang baik, itulah kiranya isi utama dari kutipan di atas ini. Dan memang kiranya siapapun yang melakukan puasa pasti mendambakan sesuatu yang baik, yang membahagiakan dan menyelamatkan jiwa manusia. Coba perhatikan dan cermati kisah-kisah mereka yang bertapa dan berpuasa di tempat-tempat sepi dan sunyi untuk beberapa waktu! Bukankah mereka melakukan yang demikian itu demi tujuan yang mulia, yang baik dan menyelamatkan jiwa manusia? Maka dengan ini kami berharap kepada kita semua , yang sedang berada dalam masa Puasa atau masa Berahmat atau Retret Agung umat ini, untuk melakukan matiraga demi tujuan yang baik dan yang menyelamatkan atau membahagiakan jiwa. Hal ini kiranya juga dapat kita hayati secara positif, artinay selama masa Prapaska ini kita lebih meningkatkan dan memperdalam penghayatan panggilan maupun pelaksanaan tugas pengutusan kita masing-masing, sehingga yang terpanggil menjadi imam semakin menjadi penyalur doa umat kepada Tuhan dans sebaliknya juga menjadi penyalur berkat Tuhan bagi umat, yang menjadi bruder atau suster semakin membaktikan diri seutuhnya  kepada Tuhan melalui pelayanan kepada sesamanya, yang menjadi suami-isteri semakin saling mengasihi, yang bertugas belajar semakin terampil dalam belajar, yang bekerja semakin terampil dalam bekerja, dst.. Hendaknya kita berusaha juga untuk melebihi dari apa yang diharuskan atau yang semestinya, dan jangan sampai kurang dari apa yang semestinya.

” Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para allah aku akan bermazmur bagi-Mu. Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu. Pada hari aku berseru, Engkau pun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.”

(Mzm 138:1-3)

Ign 1 Maret 2012

5 pencarian oleh pembaca:

  1. tafsiran mazmur 147:7-14
  2. mazmur 22 23-32
Tags : , ,

13 Jan

“Angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!”

(1Sam 8:4-7.10-22a; Mrk 2:1-12)

“Kemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersiarlah kabar, bahwa Ia ada di rumah. Maka datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap yang di atas-Nya; sesudah terbuka mereka menurunkan tilam, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: "Hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni!" Tetapi di situ ada juga duduk beberapa ahli Taurat, mereka berpikir dalam hatinya: "Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?" Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya, bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalan? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa" — berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –: "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!"Dan orang itu pun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya: "Yang begini belum pernah kita lihat." (Mrk 2:1-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Mujizat yang dibuat oleh Yesus membuat iri hati atau pikiran jahat para ahli Taurat, karena mereka merasa tersaingi dengan kehadiran dan karya Yesus. Sebaliknya orang-orang kebanyakan atau rakyat menjadi semakin percaya kepadaNya bahwa Ia adalah Penyelamat Dunia yang telah dijanjikan oleh Allah, dan mereka pun berkata “Yang begini belum pernah kita lihat”. Mereka menyaksikan bagaimana orang lumpuh karena sabdaNya menjadi sembuh dan dapat berjalan normal. Mungkin di antara kita juga dengan mudah iri hati serta merasa disaingi ketika ada sesuatu yang baru dan lebih menarik, mempesona dan berpengaruh; jika demikian adanya kami ajak menghayati sabda Yesus kepada orang lumpuh yang baru saja disembuhkan, yaitu “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!”. Pulang ke rumahmu artinya kembalilah ke jati dirimu sebagai ciptaan Allah, yang diciptakan untuk menghormati, mengabdi dan memujiNya melalui cara hidup dan cara bertindak setiap hari dimanapun dan kapanpun sesuai dengan panggilan, tugas pengutusan atau kewajiban masing-masing. Dengan kata lain: sebagai orang yang katolik hendaknya menghayati kekatolikannya, sebagai orang beragama menghayati ajaran agamanya, sebagai suami/isteri, imam, bruder atau suster menghayati janji atau kaulnya dst… Hendaknya jangan saling iri hati atau merasa diisaingi oleh orang lain yang memang sungguh berbeda dengan kita.     

·   Inilah yang menjadi hak raja yang akan memerintah kamu itu: anak-anakmu laki-laki akan diambilnya dan dipekerjakannya pada keretanya dan pada kudanya, dan mereka akan berlari di depan keretanya; ia akan menjadikan mereka kepala pasukan seribu dan kepala pasukan lima puluh; mereka akan membajak ladangnya dan mengerjakan penuaian baginya; senjata-senjatanya dan perkakas keretanya akan dibuat mereka. Anak-anakmu perempuan akan diambilnya sebagai juru campur rempah-rempah, juru masak dan juru makanan. Selanjutnya dari ladangmu, kebun anggurmu dan kebun zaitunmu akan diambilnya yang paling baik dan akan diberikannya kepada pegawai-pegawainya” (1Sam 8:11-14), demikian kata Samuel kepada bangsanya. Apa yang digambarkan oleh Samuel perihal raja ini kiranya raja yang serakah dan ingin memperkaya diri, dan rasanya kebanyakan raja di dunia ini demikian adanya. Raja pada umumnya ingin disembah, dipuji dan dihormati serta kepadanya dipersembahkan upeti, tetapi tak pernah melayani. Hal ini kiranya kebalikan dalam Gereja Katolik dimana para pemimpin sungguh berhasrat dan berkehendak untuk melayani, meneladan Yesus yang datang untuk melayani dan bukan dilayani. Maka kami berharap kepada siapapun yang menjadi pemimpin dalam umat katolik di tingkat apapun kami harapkan bersemangat melayani. Bapak atau ibu keluarga hendaknya bersemangat melayani, yaitu melayani anak-anak yang dianugerahkan kepada mereka. Melayani berarti senantiasa berusaha membahagiakan yang dilayani, maka para orangtua kami harapkan sungguh berusaha membahagiakan anak-anaknya, dengan gembira dan ceria memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anaknya disamping dana/uang atau harta benda. Kebahagiaan sejati para orangtua adalah jika anak-anaknya juga dalam keadaan bahagia masa kini maupun mendatang ketika mereka sudah dewasa dan mungkin juga berkeluarga, menjadi imam, bruder atau suster.

“Berbahagialah bangsa yang tahu bersorak-sorai, ya TUHAN, mereka hidup dalam cahaya wajah-Mu; karena nama-Mu mereka bersorak-sorak sepanjang hari, dan karena keadilan-Mu mereka bermegah. Sebab Engkaulah kemuliaan kekuatan mereka, dan karena Engkau berkenan, tanduk kami meninggi” (Mzm 89:16-18).

Ign 13 Januari 2012

 

Tags : , , , , ,

Upgrade Iman

Ayat bacaan: Ezra 7:10
==================
“Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel.”

upgrade imanJika anda orang yang sering atau bahkan rutin mempergunakan komputer atau gadget-gadget elektronik lainnya, anda pasti akan selalu berhadapan dengan pesan update. Apakah itu program atau software, bahkan operating system, aplikasi, hardware dan lain-lain selalu mengeluarkan update-update terbarunya yang dipercaya mampu memberikan performance lebih baik dan tinggi dibanding sebelumnya. Bisa jadi untuk menutupi bugs atau masalah-masalah sekuriti yang muncul dan lain-lain, tetapi kita memang dianjurkan untuk melakukan upgrade secara rutin agar bisa mengurangi berbagai resiko yang tidak kita inginkan atau jika ingin software dan aplikasi-aplikasi berfungsi maksimal. Dalam hidup pun kita tidak pernah dianjurkan untuk tidak berkembang. Kita harus terus mengupdate ilmu dan pengetahuan kita, terus mempelajari hal-hal baru atau kita akan ketinggalan jaman. Ada banyak orang yang tidak tertarik untuk mengikuti perkembangan teknologi, dan sekarang kelabakan karena tiba-tiba teknologi menjadi sesuatu yang mutlak untuk terus diikuti perkembangannya. Istilah “gaptek” atau gagap teknologi pun muncul yang dipakai untuk menggambarkan mereka yang tidak tahu mengoperasikan gadget-gadget yang dianggap sudah umum. Dalam perjalanan iman kita, hal upgrade ini pun memegang peranan yang sangat penting pula. Dalam banyak kesempatan Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa hidup ini adalah sebuah proses, termasuk pula didalamnya iman kita. Iman kita akan bertumbuh dalam sebuah proses, dimana cepat tidaknya, sehat tidaknya atau baik tidaknya pertumbuhannya akan sangat tergantung dari sejauh mana kita rajin melakukan update, alias terus membaca, merenungkan dan kemudian melakukan atau mengaplikasikan Firman Tuhan. Kita akan melewatkan begitu banyak hal apabila kita tidak tertarik untuk menggali lebih dalam berbagai prinsip-prinsip Kerajaan Allah yang sebenarnya sudah dibuka begitu lebar di dalam Alkitab. Kita akan luput dari pengetahuan akan janji-janji Tuhan dan solusi atas semua permasalahan yang juga telah dinyatakan lengkap di dalam Alkitab. Untuk itu kita perlu sering melakukan update baik dalam hal pengetahuan umum, kepandaian, keahlian dan terlebih iman kita, agar kita bisa bertumbuh lebih baik lagi dari hari ke hari.

Kita bisa belajar dari Ezra dan ketekunannya untuk terus mendalami lebih jauh lagi apa yang menjadi pesan-pesan Tuhan. Dalam Perjanjian Lama, Ezra dikenal sebagai seorang ahli kitab yang sangat mahir mengenai Taurat Musa. Dikatakan demikian: “Ezra ini berangkat pulang dari Babel. Ia adalah seorang ahli kitab, mahir dalam Taurat Musa yang diberikan TUHAN, Allah Israel. Dan raja memberi dia segala yang diingininya, oleh karena tangan TUHAN, Allahnya, melindungi dia” (Ezra 7:6). Ezra sudah dianggap sebagai seorang ahli atau expert dalam mengenali Firman Tuhan. Tapi ternyata Ezra tidak pernah berpuas diri hingga disitu saja. Ia ternyata merupakan orang yang terus bertekad untuk meningkatkan kapasitasnya. Dengan sangat jelas itu bisa kita lihat dalam sebuah ayat berikut ini: “Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel.” (ay 10). Lihatlah bahwa Ezra terus melakukan update baik dari segi kemampuan dan pengetahuan maupun karakternya. Ia terus ingin meneliti lebih dalam lagi, dan tidak berhenti disana karena ia pun ingin terus mengaplikasikan semua yang ia ketahui dalam kehidupannya bahkan mengajarkannya kepada orang lain. Apa yang dilakukan Ezra inilah yang memberkati dirinya. Ia terus memperlengkapi dirinya dengan firman Tuhan dan terus bertekun melakukan firman. Dan hasilnya, kita bisa melihat bahwa ia memperoleh segala yang diingininya karena dengan jelas ayat 6 diatas mengatakan bahwa tangan Tuhan sendiri yang melindungi dia.

Ada banyak yang ditawarkan dunia untuk menghambat pertumbuhan iman kita. Berbagai gelimang kenikmatan terus ditawarkan sehingga jika tidak hati-hati kita bisa melupakan pentingnya upgrade iman bagi keselamatan kita. Oleh karena itulah Paulus mengingatkan kita untuk mau terus melakukan perubahan lewat pembaharuan budi. “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2). Semakin jauh kita meningkatkan kapasitas diri kita dan memperbaiki diri, semakin pula kita mampu membedakan mana yang berasal dari Allah dan mana yang tidak. Semakin besar tekad kita untuk terus menjadi lebih baik dari hari ke hari maka semakin baik pula kita sebagai anak Allah. Ingatlah bahwa ini tidak berarti kita cukup membaca saja, tetapi harus pula dilanjutkan dengan merenungkan, memperkatakan dan melakukannya dalam hidup kita. Yakobus mengatakan demikian: “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” (Yakobus 1:22). Bagaimana jika tidak? Yakobus lalu memberikan sebuah contoh. “Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya.” (ay23-24). Jika ini terjadi dalam hal iman kita, bukankah itu bisa berbahaya? Itulah sebabnya penting bagi kita untuk selalu mengingat pesan berikut ini: “Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.” (ay 25).

Hidup adalah sebuah proses, dan alangkah baiknya jika proses kehidupan kita terus diisi dengan melakukan segala sesuatu yang menuju ke arah perbaikan sesuai dengan kehendak Tuhan, terus mengupgrade diri dalam segala hal untuk hal-hal yang baik dan benar, yang sesuai dengan isi hati Tuhan. Dalam hal beribadah pun sama. Paulus mengingatkan “Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.” (1 Timotius 4:7). Ada kata latih disana, yang berbicara mengenai sebuah proses berkesinambungan untuk mencapai peningkatan-peningkatan. Singkatnya, adalah penting bagi kita untuk terus mengupgrade diri kita menuju ke arah yang lebih baik, dan terus berusaha sungguh-sungguh untuk lebih lagi menyenangkan Tuhan.

Kita harus mau membuka hati kita untuk terus belajar, jika perlu berubah untuk menuju ke arah yang lebih baik. Ketika kita berpikir bahwa melakukan perubahan itu tidak mudah, maka itu memang menjadi tidak mudah. Lupakan pikiran negatif tersebut, itu tidak akan membawa kita kemanapun. Coba berpikir bahwa bukan kita yang merubah diri kita sendiri, tapi Allah, tetapi itu akan tergantung dari mau atau tidaknya kita membiarkannya terjadi.  Katakan anda dan saya mau, maka niscaya Tuhan sendiri yang akan menuntun kita pada perbaikan diri kita dari hari ke hari. Roh Kudus akan dengan senang hati membukakan banyak hal dan menuntun kita menjadi semakin serupa dengan Kristus seiring perjalanan kehidupan kita.

Dalam segala hal kita harus terus melakukan upgrade rutin agar bisa memperoleh hasil atau performance yang lebih baik. Orang yang berhenti berproses tidak akan pernah bisa memperoleh sesuatu yang baru. Menjadi orang gagap teknologi dan berbagai kemajuan di dunia tidak baik, apalagi jika kita gagap dalam urusan mengetahui suara Tuhan. Latihlah terus diri kita untuk beribadah, temukan berbagai janji, pesan, teguran dan nasihat Tuhan dan segala rahasia Kerajaan yang sudah dibukakan di dalam Alkitab, lalu renungkan, perkatakan dan aplikasikan dalam hidup kita. Teruslah bertumbuh, dan bertumbuhlah dengan subur.

Hidup di dunia butuh upgrade, untuk kehidupan kekalpun kita butuh update

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

5 pencarian oleh pembaca:

  1. Diberkatilah dia yg datang didalam nama Tuhan Mazmur 118 26
Tags : , ,

12 Okt

“Kamu telah mengabaikan keadilan dan kasih Allah”

(Rm 2:1-11; Luk 11:42-46)

” Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya." Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya: "Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga." Tetapi Ia menjawab: "Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun.’ (Luk 11:42-46), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang-orang yang bersikap mental “Farisi’ memang senantiasa mengabaikan keadilan dan kasih Allah, hidup dan bertindak hanya mengikuti selera pribadi demi kepentingan pribadi atau kelompoknya serta tidak memiliki kepekaan social terhadap sesamanya.  Keadilan dan kasih Allah hemat saya antara lain dapat kita fahami sebagai ‘menjunjung tinggi, menghormati dan menghargai harkat martabat  manusia yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah’. Dengan kata lain memperhatikan keadilan dan kasih Allah berarti dapat mengimani dan menghayati Allah yang hidup dan berkarya dalam diri manusia. Ingatlah dan hayati bahwa manusia diciptakan sebagai gambar atau citra Allah, dan hidup kita adalah milik Allah, demikian juga segala sesuatu yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai kini adalah anugerah Allah yang telah kita terima melalui sekian banyak orang yang telah memperhatikan dan mengasihi kita melalui aneka macam cara dan bentuk.  Jika kita dapat menghayati diri sebagai gambar atau citra Allah, maka kita pasti akan hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah dan dengan demikian senantiasa menghomati, menjunjung tinggi dan menghargai harkat martabat manusia. Maka perkenankan secara khusus saya mengingatkan dan mengajak siapapun yang mempekerjakan manusia dalam usaha atau kesibukannya atau keluarganya untuk sungguh memperhatikan keadilan dan kasih Allah dengan memberikan gaji atau imbal jasa yang memadai kepada mereka serta member kesempatan dan kemungkinan bagi mereka untuk terus tumbuh berkembang sebagai pribadi manusia beriman maupun pekerja. Hendaknya jangan menjadikan mereka bagaikan sapi perahan saja, tidak manusiawi. Selanjuntya marilah kita renungkan peringatan Paulus kepada umat di Roma di bawah ini. 

·   Karena itu, hai manusia, siapa pun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama.” (Rm 2:1).  Hendaknya kita jangan menghakimi orang lain dalam hidup dan kerja kita setiap hari dimanapun dan kapanpun. Apa yang dimaksudkan dengan menghakimi disini tidak lain adalah melecehkan atau menjelek-jelekkan orang lain, yang berarti juga tidak menghomati Tuhan, tidak bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang telah mengasihi kita. Melecehkan atau merendahkan manusia berarti melecehkan Tuhan.  Maka marilah kita hormati sesama kita tanpa pandang bulu dan sebagai bangsa Indonesia marilah kita hayati sila kedua “Perikemanusiaan yang adil dan beradab”.  Kita diharapkan sebagai warganegara yang beradab. Memang untuk itu pendidikan penting sekali atau sangat berperan, karena dengan dan melalui pendidikan yang baik dapat diusahakan manusia-manusia yang beradab, tahu dan menghayati sopan santun atau tata karma dan berbudi pekerti luhur. Sekali lagi dan tanpa bosan-bosannya saya mengingatkan dan mengajak para orangtua untuk mendidik dan membina anak-anaknya sedini mungkin agar tumbuh berkembang sebagai manusia yang beradab, untuk itu ajaklah dan binalah anak-anak tahu berterima kasih dan bersyukur atas kasih yang telah diterimanya. Ssaling bererima kasih dan bersyukur antar anggota keluarga di dalam rumah kiranya juga merupakan modal dan kekuatan untuk bersyukur dan berterima kasih kepada sesamanya dalam lingkungan yang lebih luas daripada keluarga. Kepada kita semua saya ajak dan ingatkan: hendaknya dalam keadaan dan situasi apapun kita senantiasa bersyukur dan berteima kasih; entah sukses atau gagal dalam hidup maupun bekerja hendaknya tetap bersyukur atau berterima kasih. Kegagalan juga dapat menjadi alasan untuk bersyukur dan berterima kasih, karena dengan dan melalui kegagalan kita pasti akan bertanya mengapa gagal, dan dengan demikian kita akan berusaha untuk menemukan cara-cara baru agar tidak gagal. Dengan kata lain kegagalan merupakan wahana pembaharuan diri. Maka ketika gagal hendaknya tidak menjadi putus asa atau murung.

” Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah” (Mzm 62:2-3.6-7)

Ign 12 Oktober 2011

Tags : , , , , ,

23 spt

"Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan”
(Hag 2:1b-10: Luk 9:19-22)

” Jawab mereka: "Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia,
ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah
bangkit." Yesus bertanya kepada mereka: "Menurut kamu, siapakah Aku
ini?" Jawab Petrus: "Mesias dari Allah." Lalu Yesus melarang mereka
dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa
pun. Dan Yesus berkata: "Anak Manusia harus menanggung banyak
penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli
Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” (Luk
9:19-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Padre Pio,
imam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:
•        Padre Pio menerima anugerah Tuhan berupa stigmata, yaitu luka-luka
berdarah pada kaki, tangan dan lambungnya. Namun apa yang dialami
tersebut mendapat tantangan dan ancaman dari saudara-saudarinya, para
imam bahkan dari Vatikan. Ia dituduh kerasukan setan. Memang mujizat
pada awalnya senantiasa mendapat kecurigaan dan ketidak-percayaan dari
orang lain, termasuk dari mereka yang berkuasa atau berwenang.
Anugerah Tuhan secara khusus memang menimbulkan pertanyaan dan
kecurigaan, sebagaimana banyak orang kurang percaya kepada Yang
Tersalib. Dalam Warta Gembira hari ini Petrus menyatakan imannya
kepada Yesus bahwa Ia adalah “Mesias dari Allah”, namun Yesus melarang
untuk memberitahukan hal itu kepada siapapun, karena para pengikut
atau pendengarNya belum siap untuk mengimani seutuhnya. Setia beriman
kepada Yesus atau Allah berarti harus siap sedia dan rela menanggung
banyak penderitaan karena kesetiaannya. “Setia adalah sikap dan
perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian
yang telah dibuat” (Prof Dr Edi Sedyawati/ edit: Pedoman Penanaman
Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 24). Kami mengajak
kita semua, segenap umat beriman atau beragama, untuk setia pada
ajaran utama dari agamanya masing-masing, yang tidak lain adalah sama,
yaitu saling mengasihi. Semua agama(cq pendiri agama!) pasti
mengajarkan cintakasih dan mendambakan para pemeluk atau pengikutnya
hidup saling mengasihi dengan siapapun dan dimanapun. Ketika dihina,
dilecehkan atau direndahkan tetap  mengasihi mereka yang menghina,
melecehkan atau merendahkan, memang untuk itu secara phisik,
psikologis maupun sosial merasa sakit dan menderita; jika demikian
adanya hayatilah sakit dan derita tersebut dengan gembira dan
bergairah, dan secara khusus kepada  yang beriman kepada Yesus Kristus
hendaknya berbahagia karena telah diperkenakan untuk berpartisipasi
dalam penderitaan dan sengsaraNya.
•       “Sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman
TUHAN; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar;
kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN;
bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN
semesta alam, sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kamu pada
waktu kamu keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di
tengah-tengahmu. Janganlah takut” (Hag 2:5-6). Kutipan ini kiranya
dapat menjadi pegangan atau pedoman hidup dan bertindak kita dimanapun
dan kapanpun. Marilah tetap teguh hati dalam melakukan apapun asal
baik dan menyelamatkan serta membahagiakan, terutama keselamatan atau
kebahagiaan jiwa, meskipun untuk itu harus bekerja keras dan
menderita. “Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut”,
inilah firman yang hendaknya menjadi pedoman dan pegangan kita dalam
hidup dan bertindak. Tuhan senantiasa menyertai dan menjiwai siapapun
yang berkehendak dan bertindak baik, maka bersama dan bersatu dengan
Tuhan kita pasti akan mampu mengatasi aneka tantangan, hambatan dan
penderitaan. Rekan-rekan ibu atau perempuan yang pernah melahirkan
anak kiranya memiliki pengalaman dalam menghadapi dan mengalami
penderitaan, maka kami berharap untuk meneguhkan dan mengembangkan
pengalaman tersebut dalam hidup sehari-hari serta kemudian
menyebarluaskan kepada sesamanya. Bukankah ketika sedang melahirkan
anak mengalami penderitaan dan meskipun demikian tidak takut
sedikitpun? Penderitaan yang lahir dari kesetiaan pada iman, panggilan
dan tugas pengutusan adalah wahana atau jalan menuju ke keselamatan
dan kebahagiaan sejati yang tak akan luntur. Maka tetap bersyukur dan
berterima kasihlah ketika setia pada panggilan dan tugas pengutusan
harus menderita!.
“Hatiku meluap dengan kata-kata indah, aku hendak menyampaikan sajakku
kepada raja; lidahku ialah pena seorang jurutulis yang mahir. Engkau
yang terelok di antara anak-anak manusia, kemurahan tercurah pada
bibirmu, sebab itu Allah telah memberkati engkau untuk selama-lamanya.
Ikatlah pedangmu pada pinggang, hai pahlawan, dalam keagunganmu dan
semarakmu!” (Mzm 45:2-4)

Ign 23 September 2011

Tags : , , , , ,

11 April – Dan 13:41c-62; Yoh 8:1-11

"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."

(Dan 13:41c-62; Yoh 8:1-11)

“Yesus pergi ke bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."(Yoh 8:1-11), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Pagi-pagi di Bait Allah alias di tempat beribadat ingin menjebak Yesus, itulah yang dilakukan para ahli Taurat dan orang Fairisi dengan berkata kepada Yesus:"Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?".  Yesus sungguh cerdas menanggapi jebakan tersebut dan Ia menjawab mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu”. Mendengar jawaban tersebut mereka berreaksi dengan pergi, meninggalkan Yesus dan  perempuan tersebut, mulai dari yang tertua. Jawaban Yesus menyadarkan mereka bahwa mereka juga orang berdosa, dan semakin tua atau tambah usia berarti semakin tambah dosa dan kekurangannya. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk tidak dengan mudah menyalahkan atau  melecehkan orang lain, serta secara khusus mengajak dan mengingatkan mereka yang sudah tua atau lebih tua untuk dengan rendah hati menyadari dan mengakui dosa-dosanya. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk lebih menghormati dan menghargai mereka yang lebih muda dari kita, antara lain lebih memberi kesempatan dan kemungkinan untuk tumbuh berkembang atau memberi fungsi dalam kehidupan bersama. Mereka yang lebih tua atau lanjut usia hendaknya rela mengundurkan diri dan memberi kesempatan yang lebih muda untuk menggantinya.


·   Sesuai dengan Taurat Musa kedua orang itu dibunuh. Demikian pada hari itu diselamatkan darah yang tak bersalah” (Dan 13:62), demikian kesimpulan sekitar masalah Susana yang dituduh berselingkuh, padahal ia tidak melakukannya. Senjata makan tuan, itulah yang terjadi dengan dua lelaki tua yang mengajukan tuduhan palsu kepada Susana. Kisah ini kiranya baik menjadi bahan permenungan bagi para lelaki, yang juga dengan mudah sering menuduh rekan-rekan perempuan sebagai sumber dosa, padahal sang lelaki sendiri yang tak mungkin mengendalikan nafsu bejatnya. Dengan kata lain kami berharap rekan-rekan laki-laki untuk menghormati dan menjunjung tinggi rekan-rekan perempuan; ingatlah dan sadari bahwa kita semua pernah dikandung, dilahrkan dan dibina dengan penuh cintakasih oleh seorang perempuan, yaitu ibu kita masing-masing, maka menuduh atau melecehkan perempuan berarti melecehkan ibu kita masing-masing. Para lelaki ketika melihat perempuan cantik dan mempesona, hendaknya tergerak untuk memuji dan memuliakan Tuhan, bukan membiarkan nafsu untuk memperkosanya atau melecehkannya. Hendaknya juga disadari dan dihayati bahwa rekan-rekan perempuan terpaksa harus melacurkan diri alias menjadi wanita simpanan karena kebejatan kaum laki-laki; mereka menjadi korban nafsu seksual laki-laki yang tak bertanggungjawab -> memandang dan menyikapi rekan perempuan sebagai pemuas nafsu seksual belaka, bukan sebagai citra atau gambar Tuhan. Dengan ini juga kami mengingatkan para orangtua untuk sungguh memperhatikan anak-anaknya jangan sampai terjebak pada pemuasan nafsu seksual belaka. Kepada kita semua kami ajak dan ingatkan untuk menyadari diri sebagai yang berdosa yang telah menerima kasih pengampunan Tuhan secara melimpah ruah. 

 

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah” (Mzm 23:1-5).

Jakarta, 11 April 2011

Tags : , , , , ,