Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Pilih Hikmat

Ayat bacaan: Amsal 13:6
===================
“Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan.”

pilih hikmatSulap dengan menggunakan koin merupakan salah satu sulap sederhana yang cukup populer. Sulap yang mengandalkan kecepatan tangan ini biasanya akan mampu mengecoh mata sehingga sulit bagi kita untuk memilih di tangan sebelah mana uang koin itu berada, di kiri atau di kanan. Salah atau benar, kita memang harus memilih untuk tahu apakah yang kita putuskan sebagai pilihan itu tepat atau tidak. Bicara soal pilih memilih di tangan kiri dan kanan, saya jadi ingat sebuah lagu yang sangat populer di tahun 80an, Madu dan Racun. Refrainnya berbunyi: “Madu di tangan kananmu, racun di tangan kirimu”. Hidup ini berisi penuh dengan pilihan. Setiap hari kita akan berhadapan dengan pilihan-pilihan yang menunggu kita untuk mengambil keputusan. Apakah pagi ini anda ingin meneruskan tidur atau mulai bangun untuk memulai aktivitas anda. Apakah anda mau berdoa dan bersaat teduh dahulu atau langsung bersiap pergi kerja. Mau jujur atau curang dalam ulangan atau bekerja, dan sebagainya. Ada begitu banyak pilihan yang dihadapkan kepada kita, dimana sebagian di antara pilihan-pilihan itu bisa membawa dampak serius, apakah kita memilih madu yang manis dan menyehatkan atau racun yang pahit dan mematikan.

Jika seandainya anda diberi satu kesempatan untuk meminta sesuatu yang pasti akan dikabulkan saat ini juga, apa yang menjadi pilihan anda? Ini pertanyaan yang sepertinya sederhana namun sangatlah sulit untuk dijawab. Jika memilih panjang umur, bagaimana jika sepanjang umur itu hidup miskin? Jika memilih kekayaan, bagaimana jika hidup bakalan singkat? Ini dua pilihan yang rasanya termasuk yang bakal paling banyak dipilih orang. Bagaimana jika kita memilih sesuatu yang salah, padahal kesempatan memilih cuma diberikan satu kali saja? Ini bukan pilihan yang gamblang seperti memilih madu atau racun, karena terkadang dalam realita ada racun yang awalnya semanis madu, dan sebaliknya ada pula yang dikira sepahit racun tapi hasilnya ternyata madu.

Salomo pernah mendapatkan kesempatan emas seperti ini dari Tuhan untuk memilih. Berawal dari cara hidup Salomo yang seperti ayahnya Daud, cara hidup yang menunjukkan kasih kepada Tuhan dengan taat kepada ketetapan-ketetapan sang ayah yang telah terbukti berkenan di hadapan Tuhan, pada suatu malam di Gibeon, Salomo mendapat kesempatan emas untuk meminta sesuatu dari Tuhan. “Di Gibeon itu TUHAN menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi pada waktu malam. Berfirmanlah Allah: “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu.” (1 Raja-Raja 3:5). Ini sebuah hadiah yang begitu besar dari Tuhan. Jika itu terjadi pada diri anda, apa yang akan anda minta? Pilihan Salomo cukup menarik, dan pasti mengagetkan orang jika mereka melihat jawaban Salomo. Salomo tidak meminta kekayaan, Salomo tidak meminta panjang umur. Ia tidak minta berkat materi dan tidak meminta hal-hal yang berhubungan dengan pemuasan dirinya sendiri. Apa yang ia minta adalah HIKMAT. Hah, bisa minta kekayaan, kemakmuran, ketenaran atau umur panjang, tapi malah meminta hikmat? Untuk apa? Mari kita lihat seperti apa jawaban Salomo ketika itu. “Maka sekarang, ya TUHAN, Allahku, Engkaulah yang mengangkat hamba-Mu ini menjadi raja menggantikan Daud, ayahku, sekalipun aku masih sangat muda dan belum berpengalaman. Demikianlah hamba-Mu ini berada di tengah-tengah umat-Mu yang Kaupilih, suatu umat yang besar, yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya.Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?” (ay 7-9). Salomo tidak meminta untuk kepentingan dirinya, tapi apa yang ia minta adalah sesuatu yang berhubungan dengan apa yang digariskan Tuhan untuk ia kerjakan. Salomo meminta hikmat, meminta kebijaksanaan memenuhi dirinya, agar ia mampu membedakan mana yang baik dan jahat, benar dan salah, supaya ia mampu menimbang perkara dan memutuskan dengan benar. Ternyata itu adalah sebuah pilihan yang berkenan dan dikatakan baik di mata Tuhan. (ay 10). Tuhan pun memberikannya. Ia tumbuh menjadi seseorang yang begitu hebat dari segi hikmat, tak tertandingi oleh siapapun. “Dan Allah memberikan kepada Salomo hikmat dan pengertian yang amat besar, serta akal yang luas seperti dataran pasir di tepi laut sehingga hikmat Salomo melebihi hikmat segala bani Timur dan melebihi segala hikmat orang Mesir.” (1 Raja Raja 4:29-30). Tapi ternyata tidak berhenti sampai disitu saja. Pilihan yang diambil Salomo ternyata membawa berkat-berkat lain pula ke dalam hidupnya. Firman Tuhan berkata demikian: “Dan juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan, sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorangpun seperti engkau di antara raja-raja. Dan jika engkau hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dan tetap mengikuti segala ketetapan dan perintah-Ku, sama seperti ayahmu Daud, maka Aku akan memperpanjang umurmu.” (ay 13-14). Wow, bukan saja hikmat, tapi juga kekayaan, kemuliaan dan umur yang panjang. Itu diperoleh Salomo. Maka kita tahu hari ini bahwa selain raja hikmat, Salomo adalah salah satu tokoh terkaya dalam alkitab, dan mungkin tidak akan pernah bisa tersaingi oleh orang terkaya dunia manapun sampai dunia ini berakhir. Kemahsyuran namanya pun melegenda, hingga hari ini kita mengenal namanya. Alkitab mencatat seperti ini: “Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat.” (1 Raja Raja 10:23). Sebuah pilihan yang luar biasa ketika ia bisa menekan egonya dan lebih memilih untuk kepentingan orang lain agar bisa mendapatkan pertimbangan/keputusan yang adil sesuai hikmat dari Tuhan. Dan itulah hasilnya, Salomo diberkati luar biasa dalam segala hal.

Di kemudian hari ketika Salomo menulis Amsal, ia kembali menyinggung hal mengenai hikmat ini berdasarkan pengalamannya sendiri. Demikian Salomo menulis: “Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas.” (Amsal 3:13-14). Tidak saja melebihi emas dan perak, tapi juga lebih berharga dari permata, begitu berharganya seingga tidak ada sesuatu hal lain yang mampu menandingi nilai sebuah hikmat ini. (ay 15). Dan seperti apa yang dikatakan Tuhan, juga sesuai dengan kesaksiannya sendiri, Salomo pun mengatakan kembali apa yang difirmankan Tuhan. “Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan.” (ay 16). Pilihan yang tidak terpusat pada kepentingan sendiri, itulah ternyata yang berkenan di mata Tuhan.

Jika kita mundur sedikit ke belakang, ternyata ayah Salomo, Daud, sudah mengetahui pentingnya hikmat ini dalam kehidupan kita, dan bukan itu saja,dia pun telah menuliskan dari mana hikmat itu bermula. “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.” (Mazmur 111:10). Dan hal ini diulangi kembali oleh Salomo dengan mengatakan “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.” (Amsal 9:10). Dengan hikmat yang berawal dari takut akan Tuhan, kita akan mendapat pengertian, kita akan menjadi bijaksana dan bisa mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang madu, mana yang racun secara tepat, meski apapun bentuk kemasan awalnya. Tersamar atau tidak, kita akan bisa membedakan keduanya jika kita memiliki hikmat. Betapa pentingnya hikmat ini agar kita tidak salah jalan, terperangkap, tersandung dan jatuh. Itulah sebabnya mengapa hikmat ini jauh lebih bernilai ketimbang emas, perak, permata atau keinginan/kekayaan lainnya yang pernah kita impikan. Jika demikian, seandainya pilihan itu jatuh kepada anda, jangan sampai salah menentukan pilihan. Lupakan segala kenikmatan-kenikmatan daging karena semua itu bukanlah yang terutama, melainkan pilihlah sebuah pilihan yang berkenan bagi Kerajaan Sorga. Siapkah kita memilih yang terbaik? Jika siap, jangan salah pilih. Hikmat, itulah pilihan yang tepat.

Berbahagialah orang yang mendapat hikmat

Incoming search terms:

Allah Segala Bangsa

Ayat bacaan:Yunus 4:11
==================
Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?”

niniwe, yunusSelain kisah mengenai ketidaktaatan yang berujung pada turunnya angin ribut dan badai besar dilanjutkan dengan keberadaan dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam, kisah Yunus juga bercerita tentang adanya perasaan superior menjadi anak Allah. Yunus menunjukkan kemarahannya karena Niniwe luput dari murka Tuhan, meskipun sebenarnya Niniwe selamat atas peringatan yang berasal dari Yunus sesuai apa yang diperintahkan Tuhan. Yunus mengira bahwa hanya bangsa Israel lah yang mendapat janji Tuhan, satu-satunya bangsa yang diselamatkan, dan tidak ada bangsa lain selain Israel yang layak diselamatkan. Tuhan menjawab itu dengan menumbuhkan sebatang pohon jarak yang menyejukkan Yunus yang sedang emosi, kemudian di hari berikutnya layu dan mati. Yunus yang merasa terik matahari menyakiti kepalanya karena tidak lagi dipayungi pohon kembali kehilangan gairah hidup. Dan jawab Tuhan, : “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?” (Yunus 4:10-11). Ya, bagaimana mungkin Tuhan berpangku tangan dan mengabaikan keselamatan kota Niniwe yang besar, yang juga hasil ciptaanNya? Tuhan peduli dan mengingatkan mereka lewat Yunus, mereka tidak keras hati dan mendengar. Maka keselamatan datang atas kota Niniwe sebagai akibat pertobatan mereka yang hanya dalam waktu singkat.

Menyambung kisah Yunus kemarin, kita melihat bahwa Tuhan bukanlah Allah yang pilih kasih. Dia tidak hanya peduli pada umat pilihanNya, tapi juga peduli dan memberikan pengampunan yang sama atas bangsa-bangsa lain. Kesempatan untuk bertobat diberikan sama kepada semua orang tanpa terkecuali, dan bagi mereka yang bertobat diberiNya keselamatan. Di sisi yang sama kehendak bebas bisa mengakibatkan anak-anak Tuhan menjadi sesat, dan jika waktu telah tiba mereka masih dalam kesesatan, maka keselamatan pun tidak akan menjadi milik mereka. Selain kisah ketidaktaatan, Yunus juga bercerita banyak mengenai kasih Tuhan yang tidak terbatas bagi segala bangsa di muka bumi ini. Ada ayat lain yang menegaskan hal tersebut, “Ada kalanya Aku berkata tentang suatu bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan mencabut, merobohkan dan membinasakannya.Tetapi apabila bangsa yang terhadap siapa Aku berkata demikian telah bertobat dari kejahatannya, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak menjatuhkan malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka. Ada kalanya Aku berkata tentang suatu bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan membangun dan menanam mereka.Tetapi apabila mereka melakukan apa yang jahat di depan mata-Ku dan tidak mendengarkan suara-Ku, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak mendatangkan keberuntungan yang Kujanjikan itu kepada mereka.” (Yeremia 18:7-10)

Ketika kita telah bertobat dan menyerahkan hidup sepenuhnya pada Kristus,hal itu bukan berarti kita boleh menjadi sombong sebagai anak Allah. Kita tidak boleh hanya berpangku tangan dan menertawakan, bahkan mengutuki mereka yang belum selamat. Kenapa? Karena Tuhan mengasihi semua bangsa, siapapun, dimanapun dan kapanpun! Tuhan tidak pernah pilih kasih, Dia memberikan kesempatan yang sama bagi semuanya untuk mendapatkan keselamatan. Dan untuk itu, Tuhan sangat rindu memakai anak-anakNya sebagai penyampai kabar, seperti Amanat Agung yang diberikan Yesus sesaat sebelum naik ke surga. Tetap rendah hati dan memberi contoh indahnya hidup bersama Yesus, berbuat baik dengan hati yang penuh kasih, berjalan dalam hidup sesuai firman Tuhan adalah perilaku yang harus kita amalkan dalam hidup sehari-hari. Lihat apa kata Paulus kepada jemaat Roma, “Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain!” (Roma 3:29). Allah adalah Allah segala bangsa yang akan mengadili semuanya dengan adil. Kita harus menjadi murid-murid Yesus, anak-anak Allah yang peduli dan taat kepada kehendak Tuhan. Tidak saja agar hidup kita luput dari angin ribut, tapi juga untuk menyelamatkan lebih banyak jiwa.

Allah kita adalah Allah segala bangsa yang tidak pilih kasih