Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

28 Nov – Dan 7:15-27; Luk 21:34-36

Berjagalah senantiasa sambil berdoa supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu”

(Dan 7:15-27; Luk 21:34-36)

 

"Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia." (Luk 21:34-36), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hari ini adalah hari terakhir tahun Liturgy dan kepada kita diberi pesan atau nasehat “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu,”. Apa yang akan terjadi kiranya kita tidak tahu, meskipun sedikit banyak dapat meramalkan. Di musim penghujan ini mungkin akan terjadi banjir bandang dan tanah longsor; kita di Indonesia juga masih dalam ancaman bencana alam gempa bumi yang sewaktu-waktu dapat terjadi, dan sewaktu-waktu atau setiap saat masing-masing dari kita dapat dipanggil Tuhan atau meninggal dunia. Maka mungkin yang baik bagi kita semua adalah berjaga-jaga sewaktu-waktu dipanggil Tuhan atau meninggal dunia alias mati. Bentuk berjaga-jaga yang baik tidak lain adalah senantiasa hidup baik dan berbudi pekerti luhur, yang memang perlu disertai atau didukung oleh hidup doa. Dengan kata lain setiap hari kita senantiasa bersama dan bersatu dengan Tuhan dalam situasi dan kondisi apapun, kapanpun dan dimanapun atau kita senantiasa menemukan Tuhan dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Tuhan. Apa yang akan terjadi memang 100% karena Tuhan dan 100% karena manusia, maka kita, manusia, akan terluput dari malapetaka jika sepenuhnya mempersembahkan diri kepada Tuhan. Sedikit perihal doa: ada orang berdoa dengan kalimat panjang dan bertele-tele serta suara keras, ada orang berdoa dengan gerakan tubuh dan mimik wajah sedemikian rupa sehingga nampak khusuk berdoa, dst.. Yang utama dalam doa adalah hati yang terarah sepenuhnya kepada Tuhan, kepada Yang Ilahi, sehingga hati sungguh dikuasai dan dijiwai oleh Tuhan. Maka berdoa dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja, tidak terikat oleh ruang dan waktu.

·   Pemerintahan, kekuasaan dan kebesaran dari kerajaan-kerajaan di bawah semesta langit akan diberikan kepada orang-orang kudus, umat Yang Mahatinggi: pemerintahan mereka adalah pemerintahan yang kekal, dan segala kekuasaan akan mengabdi dan patuh kepada mereka“(Dan 7:27). Orang-orang kudus atau suci adalah orang-orang yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, Yang Ilahi, sehingga hati, jiwa, akal budi dan tubuh dikuasai dan dirajai oleh Tuhan, hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Secara konrkret orang kudus pada umumnya dikasihi oleh Tuhan dan sesamanya dimanapun dan kapanpun, karena ia sendiri senantiasa juga mengasihi siapapun dan dimanapun. Yang utama dalam kehidupan adalah kasih: masing-masing dari kita ada dan diadakan dalam dan oleh kasih, dapat tumbuh-berkembang sampai seperti saat ini hanya karena kasih, maka siapapun yang disapa dan diperlakukan dalam dan dengan kasih pasti akan patuh atau takluk. Binatang buas pun ketika didekati dan diperlakukan dalam dan oleh kasih juga akan patuh dan takluk alias menjadi sahabat. Tanaman dapat tumbuh berkembang dengan baik dan menghasilkan buah juga karena kasih. Maka baiklah di akhir tahun Liturgy ini kita mawas diri: apakah kita semua tetap setia hidup saling mengasihi. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.  Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu”(1Kor 12:4-7), demikian kata Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua. Marilah kita sikapi dan perlakukan aneka tatanan dan aturan hidup dalam dan oleh kasih, demi keselamatan dan kebahagiaan bersama atau umum.

.

“Pujilah Tuhan, hai anak-anak manusia, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai Israel, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai para imam Tuhan, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai para hamba Tuhan, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai roh dan jiwa orang-orang benar, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai semua yang mursid dan rendah hati, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya” (Dan 3:82-87)

Jakarta, 28 November 2009