Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Kemalasan (2)

(sambungan)

Dalam Amsal ada sebuah ayat yang menarik yang menggambarkan orang malas bagaikan sebuah pintu. “Seperti pintu berputar pada engselnya, demikianlah si pemalas di tempat tidurnya.” (Amsal 26:14). Perhatikanlah cara kerja sebuah pintu. Pintu hanya berputar pada engselnya. Bergerak sih bergerak, tapi tidak berpindah, alias hanya berputar ditempatnya saja. Orang yang malas untuk mulai melakukan sesuatu pun seperti itu, hanya akan berjalan di tempat dan tidak akan berpindah posisi. Jika malas menjadi kebiasaan kita, bagaimana kita bisa maju? Dalam ayat 16 kita membaca demikian: “Si pemalas menganggap dirinya lebih bijak dari pada tujuh orang yang menjawab dengan bijaksana.” (ay 16). Ayat ini menggambarkan lebih lanjut mengenai sikap orang yang malas. Meskipun banyak orang yang memotivasi, bahkan mungkin siap membantu, mereka tetap saja tidak mau memulai. Mereka tidak mau repot, mungkin terlalu malas untuk keluar dari zona nyaman mereka. Yang kerap terjadi selanjutnya adalah sikap untuk mencari pembenaran diri akibat kemalasannya sendiri.

 Kemalasan tidak akan membawa manfaat apa-apa dan hanya akan merugikan. Tuhan pun sangat tidak suka pada pemalas. Dalam perumpamaan tentang talenta, kita melihat apa jawaban Tuhan pada si hamba yang tidak mempergunakan dan melipatgandakan talenta yang telah dipercayakan padanya. “Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?” (ay 25:26). Dan bagi mereka ini, tempat yang disediakan adalah tempat yang tergelap yang penuh ratap tangis dan kertak gigi. (ay 30). Jika kita melihat tokoh-tokoh Alkitab pilihan Allah, semuanya yang dipilih adalah orang-orang yang giat bekerja, bahkan kita sering melihat orang-orang yang ketika mendapatkan panggilan justru tengah bekerja. Tuhan tidak mau memakai orang malas. Bahkan di dalam Alkitab tegurannya sungguh keras. “..jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” (2 Tesalonika 3:10).

Kemalasan bukanlah semata-mata berbicara mengenai orang yang tidak mau bekerja saja, tapi juga mengenai orang yang tidak disiplin, malas berusaha atau malas mencari Tuhan. Salomo juga menegur para pemalas untuk belajar dari semut dalam Amsal 6:6 yang berkata “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak.” Bayangkan semut yang ukurannya begitu kecil, lemah dan bisa mati dengan sedikit pencetan saja dari manusia, tetapi untuk urusan kerajinan, kita yang berukuran ratusan kali lebih besar dan lebih kuat ternyata harus belajar dari seekor semut. Maka dengan tegas teguran pun datang dalam hal ini.“Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.” (ay 9-11). Kemiskinan, itulah yang menjadi dampak atau akibatnya.

Kemiskinan itu kerap merupakan hasil dari kemalasan, dengan kata lain kemalasan menjadi sumber dari segala kemiskinan. Apakah itu miskin harta, miskin ilmu, miskin hikmat, miskin pemikiran, miskin pengertian, juga miskin rohani. Tuhan memberikan 24 jam sehari, dan itu seharusnya kita syukuri. Bukan saja dengan mengucapkan terima kasih kepada Tuhan, namun bentuk rasa syukur pun akan sangat indah apabila kita wujudkan dengan keseriusan kita untuk memanfaatkannya dengan baik demi kepentingan yang baik pula, bagi diri kita sendiri juga kepada sesama. Sayangnya masih banyak dari kita tidak memaksimalkannya. Sadarilah sedini mungkin bahwa waktu yang berlalu tidak akan pernah kembali. Mulailah belajar menghargai waktu sehingga tidak ada yang terbuang sia-sia. Kita harus melatih diri kita untuk disiplin dan tidak berkompromi pada kemalasan, karena gaya hidup malas tidak boleh menjadi bagian dari gaya hidup kita. Apa yang bisa kita lakukan untuk mengisi waktu yang dititipkan Tuhan kepada kita? Mulailah bangkit dan lakukan sesuatu. Do something for ourselves, for others, and most of all, for the glory of God. Atur dan manfaatkanlah waktu dengan sebaik-baiknya, dan itulah cara yang sangat baik untuk menunjukkan rasa terimakasih kita kepada Tuhan.

Waktu yang berlalu tidak akan pernah bisa kembali, jadi jangan buang sia-sia

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Berjalan dalam Bimbingan Tuhan

Ayat bacaan: Mazmur 37:23
====================
“TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya”

berjalan dalam bimbingan Tuhan“Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Memandang masa depan itu menakutkan rasanya..” keluh seorang teman saya beberapa waktu yang lalu. Ia bercerita bahwa ia sudah berganti-ganti profesi, mencoba berbisnis jual beli motor, jual pulsa hingga bekerja di perusahaan, tetapi sepertinya ia belum menemukan pekerjaan yang tepat. Seorang tetangga yang tinggal tidak jauh dari rumah saya pun mengalami kasus mirip. Ia terus berpindah dari satu tempat kerja ke yang lain dimana masa menganggurnya justru lebih panjang ketimbang masa bekerjanya. Akibatnya suasana rumahtangganya pun memanas. Hampir setiap hari ia bertengkar hebat dengan istrinya. Ada banyak kasus-kasus serupa yang bisa kita lihat di sekitar kita, apalagi ketika kita berada di jaman yang semakin sulit seperti sekarang ini. Mencari pekerjaan saja susahnya bukan main, apalagi mencari pekerjaan yang tepat seperti panggilan kita. Panggilan? Ya, saya menyebutnya pangggilan. Tuhan sudah merencanakan segala yang terbaik bagi kita. Rancangannya berupa rancangan damai sejahtera menuju hari depan yang penuh harapan. Dia sudah memberi talenta atau bakat-bakat khusus bagi setiap orang sebagai alat untuk mencapai keberhasilan itu. Tuhan sudah merencanakan yang terbaik, Tuhan sudah pula menyediakan sarana-sarana pendukungnya. Tetapi masih banyak orang yang tidak atau belum mengetahui apa yang menjadi panggilanNya sesuai dengan apa yang telah direncanakan Tuhan sejak semula atas diri mereka. Karena itu sangatlah penting untuk mengetahui apa yang menjadi rencanaNya bagi kita.

Apakah Tuhaan menyembunyikan dalam-dalam rencanaNya atas kita sehingga sulit atau hampir-hampir tidak mungkin untuk kita ketahui? Sama sekali tidak. Dia bukanlah Pribadi yang tertutup. Dia bukan Pribadi yang selalu terlalu sibuk untuk kita. Tuhan adalah Bapa yang penuh kasih yang sangat mencintai anak-anakNya. Masalahnya justru di kita. Apakah kita sudah bertanya lewat doa-doa kita, atau kita malah masih malas untuk meluangkan waktu sedikitpun untuk bersekutu denganNya? Atau kita sudah teratur meluangkan waktuk tetapi seberapa jauh kita percaya dan seberapa besar iman kita untuk bisa percaya? Atau mungkin juga kita masih terus melakukan banyak hal yang tidak berkenan di mata Tuhan sehingga kita berada di luar radar kasihNya.

Dalam Mazmur kita bisa membaca tulisan Daud yang ia buat ketika ia sudah lanjut usia. Pada saat itu kematangan dan pengalaman jatuh bangunnya sejak kecil hingga masa tuanya tentu sudah membuatnya menjadi lebih bijaksana dengan segudang pengalaman yang akan sangat berharga untuk dibagikan kepada generasi-generasi setelahnya termasuk bagi kita hari ini. Daud berkata: “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya” (Mazmur 37:23). Ini merupakan jawaban atas topik renungan kita hari ini. The steps of a [good] man are directed and established by the Lord. Itu janji Tuhan. Tetapi lihat ada hal yang harus kita lakukan terlebih dahulu, yaitu memastikan apakah diri kita sudah berkenan kepadaNya atau belum. Itu menjadi kunci penting apabila kita ingin Tuhan membimbing kita langkah demi langkah untuk mengetahui dan menghidupi rencanaNya. He will do that when He delights in our way. Bukan hanya sekedar melakukan, tetapi bahkan dikatakan: “He busies Himself with his (our) every step.” Tuhan akan dengan senang hati menyibukkan diriNya untuk membimbing orang-orang yang berkenan kepadaNya selangkah demi selangkah. Bayangkan betapa bahagianya ketika Tuhan tidak hanya memberitahukan rencanaNya bagi kita tetapi juga menuntun kita selangkah demi selangkah untuk menggenapinya. Bukankah itu terdengar sangat menyenangkan?

Meski demikian, kita harus tahu pula bahwa semua itu bukan berarti bahwa kita tidak akan mengalami kesulitan apapun dalam perjalanan kita. Ada saat-saat dimana kita tidak bisa menghindar untuk bertemu dengan masalah dalam langkah-langkah kita. Tetapi tentu berbeda jika kita menghadapinya sendirian atau bersama Tuhan. Dan ini kabar baiknya. Tuhan tetap ada bersama kita dan siap memegang tangan kita dalam menghadapi masalah-masalah tersebut! Dan itu bisa kita baca dalam ayat berikutnya: “apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.” (ay 24). Masalah boleh ada, tetapi kita tidak perlu kuatir apabila menghadapinya bersama-sama dengan Tuhan yang berkuasa di atas segalanya. Artinya bukan masalahnya yang harus kita kuatirkan, tetapi apakah kita berjalan bersama Tuhan atau sendirian, itulah yang harus menjadi perhatian kita.

Ayat selanjutnya menunjukkan kesaksian Daud sepanjang masa hidupnya tentang bagaimana Tuhan menggenapi janji penyertaanNya ini. “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti;  tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat.” (ay 25-26). Sejak masih muda hingga usia lanjut, Daud bersaksi bahwa ia tidak pernan melihat orang benar ditinggalkan Tuhan sendirian. Bahkan berkat dan penyertaan Tuhan itu tidak berhenti hanya pada orang itu saja, melainkan juga menyentuh keturunannya. Bukan saja orang benar yang berbahagia tetapi anak cucunya pun menjadi berkat. Tuhan siap memberi hikmat yang memungkinkan kita untuk bisa melihat apa yang menjadi rencana atau rancanganNya bagi kita. Dia telah menyediakan prasarana untuk itu lewat talenta-talenta yang telah diberikan sejak awal, dan Dia siap untuk menuntun kita dalam menjalaninya secara bertahap. Menjalani hidup yang berkenan di hadapanNya, itulah kunci yang akan membuat kita mendapatkan uluran tangan Allah sendiri untuk menuntun kita mencapai kemenangan demi kemenangan. Kesuksesan dan keberhasilan, itu merupakan janji yang telah disediakan Tuhan untuk kita. Jalannya memang tidak sama bagi setiap orang, tetapi semua yang sesuai dengan rencanaya adalah sesuatu yang mendatangkan damai sejahtera dan menuju kepada hari depan yang cerah, seperti Firman Tuhan dalam kitab Yeremia: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11).

Sudahkah kita bertanya kepada Tuhan lewat doa-doa dan waktu-waktu khusus persekutuan kita denganNya? Sudahkah kita meluangkan waktu untuk mendengar apa kata Tuhan dan tidak terlalu sibuk mengisi doa kita dengan keluh kesah tanpa henti secara sepihak saja? Firman Tuhan berkata: “Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati.” (Yeremia 29:12-13). Tuhan bukanlah Sosok yang tertutup. Dia terbuka kepada kita dan akan selalu dengan senang hati untuk membuka rencanaNya atas kita masing-masing. Rencana Tuhan tentu merupakan yang terbaik bagi kita. Daud pun tahu itu, sebab itu ia berkata: “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.” (Mazmur 37:5-6). Berjalan sesuai rencanaNya dan bersama dengan penyertaanNya secara langsung, itu akan membuat hidup kita menemukan maknanya dan akan mampu membuat kita merasakan betapa indah dan bahagianya hidup itu sebenarnya.

Raihlah kemenangan demi kemenangan dengan gemilang bersama Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

28 Agustus – 1Kor 1:26-31; Mat 25:14-30

Setiap orang yang mempunyai kepadanya diberi sehingga ia berkelimpahan”

(1Kor 1:26-31; Mat 25:14-30)

 

"Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya……Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi." (Mat 25:14-18.29-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Dari pengalaman dan pengamatan saya melihat bahwa mereka yang memiliki banyak bakat atau keterampilan alias anugerah, pada umumnya juga memiliki kesiap-sediaan mendalam, sehingga ketika yang bersangkutan dibebani aneka macam tugas tidak akan bermasalah, artinya semua tugas dapat diselesaikan pada waktunya. Sebaliknya mereka yang kurang memiliki bakat atau keterampilan tertentu diberi satu tugas yang mudah saja tak dapat diselesaikan dengan baik. Memang ada rumus bahwa ‘mereka yang merasa kurang memiliki waktu pada umumnya dengan efisien, efektif, afektif memanfaatkan  waktu alias hemat waktu, sedangkan yang merasa memiliki banyak waktu akan boros waktu alias suka bermalas-malas’. “Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga berkelimpahan”, demikian sabda Yesus. St.Agustinus yang kita rayakan hari ini pada masa mudanya memang dikenal dengan boros waktu,  berfoya-foya, namun karena bimbingan dan pendampingan ibunya, St.Monika, ia bertobat dan kemudian menjadi tokoh Gereja yang sangat berpengaruh. Agustinus membagikan anugerah Allah kepada sesamanya, antara lain melalui tulisan-tulisan (buku) yang tidak lain adalah buah refleksi imannya. Apa yang ia tulis atau ajarkan dalam hal filsafat dan teologi sampai kini masih berpengaruh dalam kehidupan Gereja. Maka dengan ini kami berharap kepada kita semua: marilah kita kembangkan bakat atau keterampilan kita, sekecil atau sebesar apapun, artinya kita fungsikan demi keselamatan dan kebahagiaan orang lain, kita bagikan kepada sesama kita. Bakat dan keterampilan semakin dibagikan atau diberikan kepada orang lain tidak akan berkurang, melainkan semakin bertambah, mendalam dan handal.

·   “Apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah” (1Kor 1:27-29), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua umat beriman. Paradigma Allah bertolak belakang dengan paradigma manusia. Dalam paradigma manusia apa yang kuat, terpandang dan berarti secara sosial atau duniawi pasti ‘memegahkan diri’ alias sombong. Kerajaan dunia memang berbeda dengan Kerajaan Allah, di dalam Kerajaan Allah, hidup beriman atau beragama yang utama, terpandang dan berarti ialah mereka yang suci, yang 100% menggantungkan diri pada Allah dan 100% menggantungkan diri pada dunia, sebagaimana Yesus tergantung di kayu salib, siap sedia dipandang sebagai yang bodoh, berdosa meskipun tiada noda dan dosa sedikitpun padaNya. Marilah kita sadari dan hayati bahwa hidup dan segala sesuatu yang kita miliki, kuasai dan nikmati sampai kini adalah anugerah Allah, sehingga kita dapat hidup dan bertindak dengan rendah hati, tidak sombong. Kami berharap kepada mereka yang terpandang dan berarti dalam kehidupan bersama, hidup  bermasyarakat, berbangsa dan bernegara untuk hidup dan bertindak dengan rendah hati yang mendalam, memfungsikan jabatan atau kedudukannya untuk melayani bukan menguasai, demi kebahagiaan atau kesejahteraan umum bukan demi diri sendiri, dst..  Kesejahteraan dan kebahagiaan umum atau rakyat merupakan tanda keberhasilan cara hidup dan cara bertindak dari mereka yang terpandang dan berarti dalam kehidupan bersama, para pejabat atau pemimpin. Jauhkan aneka macam bentuk egoisme yang mencelakakan diri sendiri maupun orang lain.

 

“Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri! TUHAN memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia;.. Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya,  untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan

 (Mzm 33:12-13.18-19)

  Jakarta, 28 Agustus 2010

Mempergunakan Talenta

Ayat bacaan: Matius 25:15
===================
“Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.”

mempergunakan talenta, memaksimalkan talenta, bakat, potensiDari segi pendidikan formal, saya tidak ada apa-apanya. Siapalah saya ini. Saya cuma tamatan SMA. Sempat kuliah, tapi kemudian tidak saya selesaikan. Jadilah saya seorang tanpa gelar, yang dalam dunia modern tidak berarti apa-apa. Tidak ada embel-ember Dr, Ir, SH, SE, ST atau apapun itu di depan dan belakang nama saya. Tapi mari saya bagikan sebuah cerita mengenai kehidupan saya. Saya sejak kecil menyukai musik jazz. Saya tidak pernah mendapat pendidikan formal dalam bahasa Inggris, namun saya sedikit-sedikit bisa berbicara dan setidaknya memahami tanpa masalah berarti. Saya menyukai dunia desain. Siapa sangka, saya yang bagaikan “kartu mati” di dunia lowongan pekerjaan ternyata saat ini bisa menjadi seorang dosen, sekaligus mengelola sebuah situs musik yang sudah menghasilkan pendapatan yang lumayan mencengangkan? Tuhan sanggup memberkati pekerjaan kita, jika kita mengerjakannya sungguh-sungguh. Pekerjaan Tuhan seringkali misterius bagi kita, maksud saya, sulit untuk dicerna secara nalar manusia yang terbatas, diluar kesanggupan logika kita mencerna. Dan satu hal lagi yang penting, yang saya angkat hari ini sebagai tema renungan, adalah bagaimana Tuhan memberikan talenta kepada semua orang tanpa terkecuali. Ada bekal yang diberikan Tuhan bagi setiap kita, bekal yang bisa menjadi modal berharga dalam kehidupan kita.

Ini sebuah hal yang terkadang luput dari pengamatan kita. Ada banyak orang yang menyesali hidupnya di masa lalu mengenai pendidikan. “Ah..seandainya saya dulu kuliah di A, pasti saya sukses..” , “jika saja saya belajar B, pasti sekarang saya sudah hidup enak..”, dan sebagainya. Mudah bagi kita untuk menjadikan masa lalu sebagai kambing hitam yang empuk, namun sulit bagi kita untuk menggali potensi apa yang sebenarnya telah Tuhan tanam dalam diri kita sejak awal. Ada banyak orang yang menyalahkan nasib, atau bahkan menyalahkan Tuhan atas kesulitan hidupnya. Ada banyak yang iri dengan kesuksesan orang lain, atau menginginkan talenta yang dimiliki orang lain. Padahal, Tuhan memberikan semua orang talenta tertentu, dalam jumlah tertentu, yang dalam Alkitab dikatakan sesuai dengan kesanggupannya. “Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya..” (Matius 25:15). Dari ayat bacaan hari ini, kita melihat bahwa semua orang diberikan talenta. Tidak ada yang tidak. Semua talenta bisa menjadi sangat istimewa apabila kita tahu bagaimana mengembangkannya, apapun talenta itu, tidak peduli sekecil apapun talenta itu. Semua bisa menjadi sangat luar biasa, ketika kita memaksimalkan talenta kita, mengerjakannya sungguh-sungguh seperti untuk Tuhan, dan siapapun anda dan saya, kita akan sama-sama menyaksikan bagaimana Tuhan memberkati usaha kita secara luar biasa.

Kembali ke ayat bacaan hari ini yang diambil dari perikop “Perumpamaan Tentang Talenta” (Matius 25:14-30), kepada hamba yang melipatgandakan talenta yang dipercayakan tuannya, baik yang diberi 5 talenta maupun yang diberikan 2 talenta, jawaban yang diberikan adalah sama. “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (ay 21,23). Maka jelaslah apa yang dimaksud Yesus kemudian: “Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” (ay 29). Tidak mempergunakan talenta, tidak memaksimalkan talenta, apalagi tidak tahu apa talenta yang disediakan Tuhan bagi kita, itu sama artinya dengan tidak menghargai berkat Tuhan. Ini adalah sebuah kesalahan besar, yang bisa berakibat fatal, menjerumuskan kita ke gelapan yang paling gelap, dimana hanya ada ratap dan kertak gigi. (ay 30).

Saya sudah sering mengatakan bahwa Tuhan sanggup memberkati dengan ajaib, penuh mukjizat, tapi seringkali Tuhan menyediakan kail dan kolam yang penuh ikan. Kita tetap harus bekerja sungguh-sungguh, dengan serius, dan tetap melibatkan Tuhan di dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan. Dan Tuhan pun akan memberkati pekerjaan kita. Adalah salah besar jika kita mengasihani diri secara berlebihan dan menganggap talenta orang lain jauh lebih hebat dari kita. Memaksimalkan talenta yang telah dipercayakan Tuhan pada kita adalah sebuah keharusan. Berapapun talenta yang ada pada kita saat ini, kembangkan dan maksimalkanlah sebaik-baiknya. Bisa jadi talenta yang ada pada kita kelihatannya sepele, namun jika Tuhan ada disana dan memberkati usaha serius kita, talenta yang mungkin sepele itu pun bisa berlipat ganda secara luar biasa. Itu pasti. Mungkin kita belum melakukan hal-hal yang kelihatannya besar saat ini, namun sekecil apapun itu, akan berharga sangat besar di mata Tuhan ketika lewat hal-hal kecil yang kita lakukan kita bisa memberkati orang lain. Dan Tuhan pun akan mempercayakan lebih besar lagi. Perumpamaan tentang talenta ini sudah tergenapi dari pengalaman dan kesaksian saya sendiri. Sudahkah anda menemukan potensi atau talenta yang ada di dalam diri anda? Sudahkah anda memakai dan mengolahnya semaksimal mungkin? Sudahkah anda mempergunakannya demi menyatakan kemuliaan Tuhan di tengah komunitas anda? Jika belum, mulailah sekarang, dan lihatlah bagaimana Tuhan memberkati dan melipatgandakan itu semua secara luar biasa.

Setiap orang telah dipercayakan dengan sejumlah talenta yang siap untuk diolah secara maksimal

Less is More, Little is Much, Small is Beautiful

Ayat bacaan: Zakharia 4:10
=====================
“Who despises the day of small things?”

less is more, little is much, small is beautifulDalam gambaran dasar pelajaran web desain yang saya ajarkan di kampus, saya selalu menekankan prinsip “less is more”, “little is much” dan “small is beautiful”. Tiga prinsip dalam merancang sebuah situs ini adalah sesuai dengan perkembangan jaman, dimana orang lebih menuntut sebuah situs yang cepat di akses ketimbang situs yang memiliki terlalu banyak fitur sehingga memberatkan tubuh situs tersebut dan memperlambat loading time nya. Berbeda dengan 4 tahun lalu, dimana rancangan situs yang dinilai bagus adalah situs yang memakai banyak flash dan memerlukan pemahaman tinggi dalam mengoperasikan berbagai software pendukung, dalam perkembangan situs saat ini, kesederhanaan lah yang harus jadi penekanan. Tapi hal tersebut bukan berarti mendesain situs menjadi lebih mudah saat ini dibanding dulu, karena saat ini desainer dituntut untuk mematangkan konsep mereka, sehingga lewat sebuah kesederhanaan pesan-pesan yang ingin disampaikan dapat diterima secara visual oleh orang yang mengakses situs. Itulah yang saya maksud dengan “less is more”, “little is much” dan “small is beautiful”.

Di dunia ini ada kecenderungan sebaliknya. “Bigger is better”, “the more the merrier”. Dalam pelayanan seringkali kita kurang bersemangat apabila yang dilayani sedikit jumlahnya. Dunia cenderung mementingkan kuantitas dan bukan kualitas. Ada yang bersemangat melayani ketika jemaat penuh, namun kehilangan gairah melihat bangku kosong. Padahal Tuhan tidak mengajarkan demikian. Kita tidak boleh memandang hina hal-hal kecil, karena seringkali berkat Tuhan pun dimulai dari sesuatu yang biasa. Bahkan kelemahan sekalipun bisa dipakai Tuhan untuk menjadi ladang subur untuk menabur berkatNya.

Kita lihat dalam perumpamaan Talenta. Kepada hamba dengan lima talenta dan dua talenta, Tuhan memberikan jawaban yang sama. “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:21,23). Baik talenta besar maupun kecil keduanya bisa menghasilkan buah. Dan Allah menghargai sama terhadap laba dua talenta dan lima talenta. Artinya disini, Tuhan tidak melihat kuantitas, melainkan kualitas. Dua talenta sekalipun akan sangat dihargai apabila kita melakukannya dengan sepenuh hati. Anda merasa gagal dalam pelayanan jika yang dilayani sedikit atau lambat berbuah? Jangan. Ingat bahwa Tuhan tidak melihat apa yang di depan mata, tapi melihat hati. (1 Samuel 16:7).

Kita lihat bagaimana Yesus melakukan pelayananNya di dunia. Yesus sungguh peduli baik pada jumlah massa yang banyak maupun pada orang per-orang yang datang kepadaNya. Yesus pernah melakukan kotbah di atas bukit dihadapan orang banyak (Matius 5-7). Tapi tidak pernah menutup mata dari pribadi-pribadi yang menjumpaiNya. Bahkan ketika muridNya berkurang, seperti yang kita baca dalam Yohanes 6:66, “Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia”, hal tersebut tidak mengganggu Yesus dalam menggenapi rencana Allah.

Jika saat ini anda mengalami masa surut dalam pelayanan, tetaplah bersyukur dan tetaplah melayani semaksimal mungkin. Size is nothing; substance is everything. Baik ketika anda melayani Gereja kecil, sekolah minggu, atau melayani hanya satu orang saat ini, layanilah dengan segenap hati. Jika kita setia dalam perkara kecil, Tuhan akan memberikan tanggung jawab dalam perkara yang lebih besar pada waktunya. Tetaplah beri yang terbaik dari diri anda dalam hal-hal kecil, karena bukan kuantitas yang penting, melainkan substansi dan kualitas yang murni berasal dari hati.

Small is much when God’s in it

Days Are Numbered

Ayat bacaan: Mazmur 90:12
=====================
“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”

days are numbered, menghitung hari, bijaksana, hikmatSemakin tua, semakin singkat pula rasanya waktu berjalan. Ini yang saya rasakan. Saya mengingat waktu saya kecil dimana saya kerap kali merasakan waktu berjalan begitu lambat. Begitu lambat sehingga rasanya saya cepat sekali bosan terhadap sesuatu. Tapi sekarang saya merasa waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru bangun, tiba-tiba tanpa terasa waktu untuk tidur sudah tiba. Rasanya baru saja hari senin, tahu-tahu sudah senin lagi. Bulan berlalu dengan cepat, tahun berlalu juga dengan cepat. Tidak terasa kita sudah hampir memasuki bulan ketiga di tahun ini, sementara rasanya baru saja kita merayakan tahun baru. Rasanya waktu seperti komet saja cepatnya. Malam ini saya merenung, sudah seberapa jauh saya memanfaatkan waktu-waktu, hari-hari yang diijinkan Tuhan untuk ada dalam hidup saya. Sudahkah saya memaksimalkan penggunaan waktu dengan seefektif mungkin? Sudahkah saya memakai segala talenta dan berkat dari Tuhan dalam waktu yang disediakan bagi saya untuk kemuliaanNya secara cukup? Begitu banyak pertanyaan, karena saya tahu saya tidak akan selamanya memiliki hari demi hari di dunia ini. Satu saat nanti itu akan berakhir. Dan saya tidak ingin mengakhirinya dengan sia-sia tanpa hasil. Saya ingin berbuah, meninggalkan jejak-jejak yang semoga bisa bermanfaat bagi sesama, dimana nama Tuhan bisa dipermuliakan lewat berbagai penggunaan waktu secara efektif dalam hidup saya. That’s what I want.

Dalam Mazmur 90 kita melihat doa Musa. Musa yang dipakai Tuhan ketika usianya sudah lanjut, bukan sejak muda. Musa menyadari betapa waktu manusia ini sungguh singkat. “Masa hidup kami tujuh puluh tahun, dan jika kami kuat, delapan puluh tahun..” (Mazmur 90:10). Begitu singkat sehingga jika tidak hati-hati, tanpa sadar kita akan menghabiskan masa hidup kita untuk segala sesuatu yang sia-sia. Begitu mudahnya kita disibukkan oleh segala sesuatu yang sesungguhnya tidak berguna. Lingkungan yang sulit, kesulitan hidup, mulai ketakutan ketika kerut-kerut wajah mulai muncul, uban yang mulai terlihat, kecemburuan terhadap orang yang lebih berada dari kita, dan sebagainya, bisa menimbulkan masalah, dan tanpa sadar kita akan mengisi hidup kita dengan berbagai keluhan. Hidup yang dikuasai emosi, penuh amarah, penuh kekesalan, penuh protes dan selalu merasa kurang. Akhirnya kita hidup dengan fokus yang salah, fokus pada segala permasalahan dan kekurangan daripada mensyukuri apa yang telah Tuhan lengkapi bagi kita, yang seharusnya sudah bisa kita manfaatkan untuk menjadi berkat buat orang lain. Di sisi lain, ada pula orang yang memanfaatkan waktunya hanya untuk bermalas-malasan. Tuhan tidak suka dengan hal ini. “Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.” (Amsal 6:9-11). Kemalasan bisa mendatangkan kemiskinan, dan itu baru salah satu akibat langsung dari pemborosan waktu yang langsung terasa dalam masa kehidupan di dunia ini. Untuk saat dimana kita menghadap Tuhan pun kita harus bertanggung jawab penuh atas segala yang Dia karuniakan dan untuk apa kita memanfaatkannya dalam hidup kita. “Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” (Roma 14:12). Tuhan tidak mau waktu yang tersedia bagi kita hanya terbuang sia-sia.

Victor Hugo, pengarang legendaris yang pernah menulis beberapa karya fenomenal seperti Les Miserables dan The Hunchback of Notre Dame suatu kali pernah berkata: “Short as life is, we make it still shorter by the careless waste of time.” Hidup sudah singkat, janganlah kita malah memperpendek hidup dengan membuang waktu secara percuma. Ada begitu banyak talenta yang sudah Tuhan percayakan pada hidup anda, ada begitu banyak yang bisa anda lakukan, ada begitu banyak orang yang bisa anda berkati, dimana semua itu bisa sangat bermakna baik bagi hidup anda, hidup orang lain dan dimata Tuhan. Betapa sayangnya jika waktu-waktu yang ada dalam hidup kita hanya dipakai untuk bermalas-malasan atau hanya dipenuhi keluh kesah. Musa tidak berdoa agar dia diberi kekayaan, diberi umur yang panjang, namun yang ia minta adalah hikmat untuk menghitung hari-hari dalam hidup dengan cermat hingga bisa semakin bijaksana. Untuk dapat memperoleh hikmat, kita harus bermula dari takut akan Tuhan dan selalu berpegang teguh pada firmanNya. “Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.” (Amsal 9:10). Daripada memperpendek hidup yang sudah singkat ini dengan segala keluh kesah dan kemalasan, lebih baik kita mengisi diri kita dengan firman Tuhan terus menerus dan melakukan segala sesuatu sesuai firmanNya. Terus bertumbuh dalam hikmat setiap hari. Fokus pada apa yang penting buat kehidupan kekal. Manfaatkan hari-hari yang ada dengan segala sesuatu yang bermanfaat baik bagi diri anda sendiri, bagi orang lain, dan lakukan semuanya dimana nama Tuhan bisa dipermuliakan. Seperti apa yang dinyanyikan sebuah grup band lawas Alan Parsons Project berjudul Days Are Numbered, demikian cuplikan liriknya: “Days are numbered, Watch the stars, We can only see so far..Someday, you’ll know where you are..” , kita harus terus menyadari waktu kita terbatas dan jangan sampai menyesal di kemudian hari. Apa yang kita tanam hari ini akan menentukan masa depan kita. Jika pertanyaan yang sama hadir buat anda, sudahkah anda menghitung hari-hari anda dan mempergunakannya secara maksimal, bagaimana jawaban anda? Jika anda merasa masih kurang memanfaatkannya, mulailah dari sekarang. God, teach us to number our days, may we all gain a heart of wisdom, because we know now that our days are numbered.

Days are numbered, use it effectively for the glory of God

Do Something Today!

Ayat bacaan: Matius 25:26
=====================
“Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?”

jangan menunggu, melipatgandakan talenta, do something, lakukan sesuatuTugas saya adalah mengajar teknik web dan grafik desain. Saya memberikan ilmu yang siap pakai bagi para siswa. Itu tugas utama saya. Tapi dalam berbagai kesempatan saya merasa perlu untuk memberikan nasihat. Nasihat seperti apa? Saya melihat ada banyak orang yang hanya duduk menunggu walaupun mereka sudah dibekali ilmu pengetahuan,keterampilan bahkan sekedar kemampuan yang cukup untuk bisa berbuat sesuatu. Tidak ada modal, tidak ada kesempatan, belum ada perusahaan yang memanggil dan sebagainya, selalu saja menjadi alasan orang untuk terus menunggu dan menunggu. Ketika orang selesai kuliah, mereka fokus hanya pada mencari lowongan kerja dan memasukkan lamaran. Selama tidak ada yang memanggil, mereka pun hanya terus menanti tanpa berbuat sesuatu. Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya dengan apa yang sudah mereka punya, mereka sudah bisa mulai untuk melakukan sesuatu. Kemarin saya memberi sebuah contoh pada siswa saya. Saya mengajak mereka keluar untuk melihat rumput di halaman, dan mengajak mereka berpikir apa yang dapat mereka hasilkan dari sepetak rumput tersebut. Mereka mulai berpikir dan ternyata mampu memberi jawaban beragam. Mereka bisa beternak, mereka bisa memotong rumput, bisa menanam bagian-bagian yang gundul dan sebagainya. Ada begitu banyak peluang namun sedikit yang mampu melihat, apalagi menangkap peluang dan mengolahnya menjadi sesuatu yang menghasilkan.

Perumpamaan tentang talenta dalam Matius 25:14-30 memberi sebuah gambaran jelas mengenai hal ini. Ada seorang tuan yang hendak bepergian ke luar negeri, dan dia mempercayakan hartanya pada hamba-hambanya. Seorang diberikan lima talenta, seorang lagi dua, dan seorang lagi satu, sesuai dengan kesanggupannya. Sekembalinya sang tuan, para hamba pun dipanggil. Yang mendapat lima talenta ternyata bisa menggandakannya menjadi sepuluh, yang mendapat dua telanta mampu menggandakannya menjadi empat. Dan keduanya pun mendapat jawaban yang sama. Mereka dianggap baik dan setia memikul tanggung jawab dalam perkara kecil, dan kepada mereka akan diberikan tanggung jawab dalam perkara yang lebih besar lagi. Mereka pun layak untuk masuk dalam kebahagiaan tuannya. Seorang lagi yang mendapat satu talenta ternyata hanya menanamnya, tidak menggandakan, malah menuduh tuannya sebagai manusia yang kejam. (ay 24). Tuannya pun menyebut sang hamba yang satu ini sebagai orang yang jahat dan malas. (ay 26). Perhatikan kata jahat. Apakah dia mencuri uang tuannya? Tidak. Apakah dia korupsi? Tidak. Apakah dia menggunakan uang tuannya untuk berbuat dosa? Tidak. Namun dia diganjar kata jahat. Hamba satu ini jahat, karena dia tidak setia. Dia tidak memanfaatkan apa yang telah dipercayakan kepadanya untuk berbuat sesuatu. Dia tidak menghargai tanggung jawab yang diberikan. Mungkin dia menganggap satu talenta itu sangat sedikit dibanding kedua temannya, dan dia merasa diperlakukan dengan tidak adil. Hamba dengan satu talenta tidak menyadari bahwa satu talenta pun, meski sedikit, namun tetaplah sebuah talenta yang bisa dilipat gandakan. Maka hukumannya pun jelas. “Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” (ay 30).

Tuhan memberikan kelimpahan kepada orang yang tahu memanfaatkan talentanya, mengolahnya menjadi sesuatu yang berhasil. “Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” (ay 29). Orang yang bisa melakukan pekerjaan kecil dengan baik dengan tanggung jawab penuh akan diberi hingga berkelimpahan, dan sebaliknya. Ingatlah bahwa kepada kita semua telah diberikan talenta, menurut kesanggupan kita. Jika mendapat talenta kecil, mulailah dari perkara kecil, maka Tuhan akan melimpahkan perkara-perkara yang lebih besar lagi hingga berkelimpahan. Tidak ada alasan untuk bersungut-sungut, malas-malasan dan berlindung di balik berbagai alasan, karena , sekali lagi, talenta tetaplah talenta, yang bisa kita pakai untuk berbuat sesuatu. Tuhan telah memberikan segala sesuatunya cukup bagi kita untuk mulai melakukan sesuatu. Tuhan sangat tidak suka pada pemalas. Dalam Amsal kita melihat hal yang sama, bahwa Tuhan memberkati orang yang rajin. “Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga.” (Amsal 12:27), “Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan.” (Amsal 13:4).

Dalam melayani Tuhan pun demikian. Kita telah diberikan kemampuan, waktu dan kesempatan yang cukup banyak selama kita masih ada dalam dunia ini. Maka kita juga harus melayani Tuhan selama masih ada waktu dan kesempatan, kemudian harus mampu melipatgandakan, mengembangkan talenta yang sudah Dia berikan dan menggunakannya dengan baik. Seseorang tidak harus menjadi pendeta utnuk melayani, tidak harus menjadi worship leader, tidak harus hafal Alkitab luar kepala, tidak harus berkotbah dimana-mana, untuk melayani. Sebuah perbuatan yang didasarkan atas kerinduan untuk melayani Tuhan dengan tulus karena mengasihiNya, sebesar atau sekecil apapun, sangatlah Dia hargai. Dan Tuhan siap memberkati dengan melimpah-limpah. Tuhan memberikan kita talenta bukan untuk disimpan dan ditimbun, tapi untuk pelipatgandaan dan digunakan dengan sebaik-baiknya untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai, baik bagi diri kita sendiri maupun orang lain. So, don’t just sit and wait, do something today.

Setiap orang telah dibekali talenta yang cukup untuk bisa mulai melakukan sesuatu

Meningkatkan Kapasitas

Ayat bacaan: Matius 25:15
=========================
“Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.”

meningkatkan kapasitas, renungan harianPerkenalan saya dengan komputer sudah terbilang cukup lama. Saya masih sempat menggunakan disket besar tipis berwarna hitam yang cuma bisa diisi sekitar 400 kb. Kemudian muncul disket kecil yang kapasitasnya 1.4 mb. Teknologi kemudian berkembang menjadi flash disk yang kapasitasnya terus semakin besar. Hard disk pun demikian, sekarang sudah mencapai ukuran terra bytes. Semakin besar kapasitasnya, semakin banyak pula yang bisa kita simpan disana. Jika kita membeli disk berkapasitas besar, rasanya sayang jika hanya diisi sedikit sekali. Semakin banyak yang kita simpan di dalamnya maka disk itu pun akan semakin tinggi nilai kegunaannya bagi kebutuhan kita. Teknologi mengembangkan ukuran kapasitas disk sehingga makin besar dan makin tinggi nilai gunanya.

Dalam perumpamaan tentang Talenta, kita melihat bahwa Tuhan mempercayakan kita tanggung jawab sesuai dengan kesanggupan kita masing-masing. “Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya..” (Matius 25:15). Tuhan bukan sedang pilih kasih, ada yang diberi sedikit, ada yang banyak, tapi perhatikan bagian kalimat “menurut kesanggupannya”, atau dengan kata lain sesuai kapasitas kita. Artinya, bagaimana mungkin Tuhan mempercayakan talenta besar pada kapasitas kecil. Jika diilustrasikan dengan disket atau disk diatas, bisakah kita mengisi disk tersebut melebihi batas kapasitasnya? Kalau begitu, kita harus memiliki kapasitas yang memadai agar mendapat kepercayaan untuk menerima sebuah tanggung jawab dari Tuhan. Bukan hanya kapasitas mengenai kemampuan saja, seperti keahlian, bakat-bakat tertentu, tapi juga kapasitas yang berhubungan dengan karakter seperti jujur, sabar, tidak sombong, mampu bekerja sama dan lain-lain. Ayat bacaan diatas berbicara mengenai panggilan untuk mengembangkan kapasitas kita lebih lagi, agar Tuhan dapat mempercayakan hal-hal yang lebih besar pula bagi kita.

Mari kita lihat Ezra. Ezra dikatakan sebagai seorang ahli kitab dan mahir dalam Taurat Musa (Ezra 7:6). Tapi meski demikian, dia tidak berhenti sampai disitu. Selanjutnya dikatakan bahwa “Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat Tuhan dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel.” (ay 10). Fakta ini menunjukkan bahwa Ezra terus meningkatkan kapasitasnya, baik kemampuan (meneliti Taurat Tuhan) maupun karakter (melakukannya). Untuk memperoleh hal-hal yang lebih besar dari Tuhan, kita harus meningkatkan kapasitas kita terlebih dahulu. Jika kita tidak memperhitungkan hal ini, maka kitapun dapat kehilangan banyak kesempatan untuk memperoleh sesuatu yang besar dalam hidup kita. Oleh karena itu, mari kita sama-sama terus bertumbuh baik dalam kemampuan maupun karakter sesuai firman Tuhan, memperbesar kapasitas kita sehingga kita akan siap ketika Tuhan mempercayakan sesuatu yang besar dalam hidup kita serta mampu melipatgandakannya.

Teruslah mengasah dan mengembangkan kapasitas agar siap menerima tanggung jawab yang lebih besar

Ora Et La Bora

Ayat Bacaan: 2 Tesalonika 3: 1-15
==========================

(10) “Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.”


Ora et Labora. Sebuah kalimat bahasa latin yang pasti sudah tidak asing lagi bagi kita, yang artinya, Berdoa dan Bekerja. Semakin lama, kelihatannya kalimat ini semakin ditinggalkan orang. Kehidupan yang semakin keras dan semakin sulit seringkali membuat orang susah membagi waktunya dengan baik. Ada yang mati2an bekerja banting tulang siang dan malam, sehingga jangankan berdoa, untuk meluangkan waktu bersama keluarga pun sudah sangat sulit dan hampir2 tidak mungkin. Disisi lain, banyak pula orang Kristen yang menerjemahkan berkat2 dari Tuhan itu secara sepihak. Mereka kerap mengharapkan berkat turun dicurahkan dari langit lewat serangkaian mukjizat2 spektakuler setiap saat, dan tidak melakukan apapun untuk mendapatkan berkat itu, selain berdoa siang dan malam.

Saya tidak menutup kemungkinan bahwa Tuhan bisa menurunkan berkatNya dalam keadaan apapun. Mukjizat tentu dapat terjadi kapan saja selama kita tekun dalam doa dan memandang Dia. Itu benar, tetapi ingat, bahwa Tuhan pun telah memberikan bakat dan talenta yang berbeda2 kepada setiap manusia. Coba lihat disekeliling kita, ada berapa banyak ragam dan jenis profesi seperti usahawan, dokter, petani, nelayan, guru, pengusaha, pegawai, penyedia jasa dan sebagainya. Betapa Tuhan itu begitu luar biasa memberikan bakat dan talenta beragam bagi manusia agar kita semua dapat saling diperlengkapi. Dan bakat serta talenta itu, tentu saja juga merupakan berkat dari Allah Bapa, sebuah berkat yang harus kita pergunakan agar dapat mendatangkan hasil. Disisi lain, jangan lupa berdoa. Segala pekerjaan yang kita lakukan juga perlu dilengkapi dengan doa, supaya apapun yang kita lakukan dapat menghasilkan buah yang manis sesuai firman Tuhan, bukan hanya terhadap kita dan keluarga, tapi juga terhadap sesama seperti yang tertulis pada Ef 4:28.

Allah menentang orang yang malas, itu ada di Ams 6:6. Rasul Paulus pada surat2nya untuk jemaat di Tesalonika menulis orang yang tidak bekerja dilarang makan. Tuhan juga seringkali mengangkat nabi2Nya, justru ketika mereka tengah melakukan kerja, dan bukan dalam keadaan malas2an. Artinya, berdoa dan bekerja ini arus dilakukan berbarengan secara seimbang. Dan ingat pula, bekerja disini bukan berarti kita boleh melakukan segala jenis pekerjaan asal bisa menghasilkan uang. Lakukan pekerjaan2 yang dihalalkan oleh firman Tuhan, dan dukunglah selalu dalam doa. Dan jangan pakai berkat2 Tuhan itu hanya untuk diri sendiri, tetapi biarkan juga berkat yang kita terima itu mengalir buat sesama kita yang membutuhkan.

Jadilah pengikut Kristus yang rajin bekerja dan tekun dalam doa.

Incoming search terms: