Tag: sukacita

IYD 2016 Manado: Tuhan Berkuasa atas Alam Semesta, Inilah Sukacita Injil Pembukaan IYD (1)

Suasana umum di Lapangan Koni Sario Manado sebelum berlangsung defile anggota kontingen masing-masing Keuskupan dari seluruh Indonesia menuju Stadion Olah Raga Klabat, Manad0 — termpat diselenggaraknnya misa pembukaan Indonesian Youth Day 2016. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

JARAK tempuh Kotamobago dengan Kota Manado sungguh tida dekat, melainkan butuh waktu sedikitnya empat jam perjalanan darat. Namun, terhadap kendala jarak tempuh dan waktu yang sedemikian lama agar bisa sampai tepat waktu  di pusat Kota Nyiur Melambai ini,  ratusan anggota OMK Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) sama sekali tidak pernah mengeluh.

Yang ada hanyalah sukacita dan rasa ini sungguh menggema sangat kencang dari dalam dada mereka, sesaat setelah memasuki Lapangan Koni  Sario. Dari Lapangan Koni Sario inilah seluruh kontingen peserta IYD ke-2 akan memulai aksi parade mereka berdefile menyusuri jalan-jalan utama di Kota Manado untuk akhirnya ‘berlabuh bersama’ di Stadion Olahraga Klabat, sekitar 2,5 km jauhnya dari Lapangan Koni Sario.

foto-pak-mathias5

Sukacita massal

Gegap gempita sekaligus hingar bingar atmosfer  sukan ribuan OMK di Lapangan Koni Sario tidak hanya milik OMK KAJ. Melainkan seluruh kontingen yang berasal dari 37 Keuskupan di Indonesia plus satu kontingen asing utusan dari Keuskupan Agung Kota Kinabalu, Negeri Sabah, Malaysia Timur, yang membawa 25 peserta ‘luar biasa’ untuk mengikuti perhelantan iman skala nasional di kalangan OMK Indonesia ini.

 Masing-masing kontingen memasuki arena Lapangan Koni Sario dengan perasaan sukacita. Utamanya, setelah mereka masing-masing mengalami keramahan dan kebaikan keluarga-keluarga di tengah masyarakat Manado yang majemuk, namun toh bersedia menerima mereka dengan tangan terbuka. Belum lagi kalau harus disebut, banyak keluarga yang menjadi ‘tuan rumah’ peserta live in ini malah membawa peserta OMK ini pergi rekreasi mengunjungi kawasan wisata, sekadar mengurangi ‘rasa bersalah’ sebagai tuan rumah yang baik dan ingin menyenangkah hati para tetamunya.

Memang menjadi ‘salah arah’ keluar dari ‘rel’ maksud dan tujuan live in itu sendiri. Namun, ya sudahlah,  memang inilah citarasa sukacita Injil yang ingin ditunjukan warga masyarakat Manado kepada para tetamunya yang datang dari seluruh pelosok negeri Nusantara  dan Negeri Sabah di Malaysia Timur. Tak enak membiarkan tetamunya hanya di rumah atau mengikuti irama kerja mereka, maka lebih baik  dibawa sedikit  ‘pesiar’ melihat keindahan kota Manado.

foto-pak-mathias1 foto-pak-mathias3

Mendung menggantang di langit

Mendung sangat tebal menghiasi langit Kota Manado sejak pagi. Kecemasan akut melanda siapa saja di Manado. Para Uskup tentu saja ikut gelisah, apalagi semua pihak yang menjadi anggota Panitia IYD ke-2 di Manado ini, termasuk semua peserta kontingen dari berbagai Keuskupan di Indonesia dan Malaysia.

Semua orang tahu betul, program acara defile atau parade setiap kontingen Keuskupan akan dimulai langkah awalnya dari Lapangan Koni di Sario. Tidak ada tribun beratapkan ‘alas pelindung’ dari matahari dan hujan, kecuali hanya di tataran bangku-bangku VIP. Selebihnya ini adalah kawasan terbuka yang beralaskan rumput dan beratapkan langit; langsung tanpa ‘separasi’ apa pun berupa tribun atau terpal pelindung dari ancaman hujan dan sengatan matahari.

Semangat muda disertai sukacita Injil yang telah direguk dari tengah masyarakat Manado tak urung membuat segala kecemasan di kalangan panitia itu tidak merembet ke kalangan kontingen OMK. Yang ada hanyalah teriakan yel-yel sukacita mengikuti IYD ke-2 di Manado.

Awan  mendung tipis masih menggantang di langit, ketika setiap kontingen peserta IYD dari Keuskupan mulai memasuki lapangan. Sejam sebelumnya hujan deras masih membasahi Manado dan di beberapa titik di pusat kota mengalami kemacetan luar biasa.

Hujan deras yang membasahi Pineleng dan sekitarnya sedikit ikut membuat ciut para peserta IYD dan panitia lokal terdiri dari para volunteer OMK setempat. Mereka mencemaskan satu hal: hujan deras sama artinya rencana defile bisa berantakan alias tidak akan bisa berlangsung tertib dan teratur sebagaimana mereka desain sebelumnya.

foto-pak-mathias1

Mendung tebal pergi

Bagaimana akan bisa berdefile menyusuri jalanan kota sepanjang 2,5 km di Kota Manado, kalau mau masuk lapangan saja baju mereka sudah kusut dan basah oleh kucuran hujan?

Namun, entah mengapa perlahan-lahan awan tebal yang menggantung di pusat kota Manado mulai beringsut ‘pergi menjauh’ dari kawasan Lapangan Koni di Sario. Ketika tiba waktunya defile akan dimulai,  atmosfer yang terjadi di lapangan itu benar-benar ‘menggila’ oleh luapan kegembiraan ribuan peserta IYD.

Langit mulai terang, meski mendung tipis masih tergantung di langit. Tidak ada lagi terik panas matahari, melainkan semilir angin membuat semua peserta bernafas lebih lega: tidak ada hujan, maka defile pun segera bisa digelar.

Dan memang benar, sepanjang hampir dua jam pelepasan rombongan defile meninggalkan Lapangan Koni di Sario, hujan tidak pernah menyentuh tanah Kota Manado dan Stadion Olahraga Klabat yang akan menjadi venue untuk misa pembukaan IYD.

Tuhan berkuasa atas alam semesta

Saat memberi sambutan singkat di hadapan ribuan manusia yang memenuhi setiap sudut stadion utama di Kota Manado ini, Romo Terry Ponomban Pr –imam diosesan Keuskupan Manado yang menjadi Direktur Program Acara IYD ke-2 Manado ini—menyapa sekalian audiens peserta misa pembukaan IYD ke-2 di Manado ini dengan sebuah pidato ringkas tentang ‘pengalaman iman’ yang terjadi sehari itu di Kota Manado.

Sepanjang pagi hingga siang pukul 13.00, kawasan Manado masih diguyur hujan secara tidak merata. Menjelang persiapan acara defile, hujan berhenti total meski langgit masih mendung.

foto-pak-mathias4

Atas fenomena alam yang ‘istimewa’  ini, Romo Terry Ponomban –salah satu pendiri Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan (KBKK)—hanya berujar pendek.  “Inilah bukti bahwa Tuhan memang berkuasa atas alam. Tidak ada hujan. Biasa diandaikan kalau sungguh terjadi hujan, maka sudah bisa dibayangkan bagaimana acara sepanjang hari ini …,” kata Romo Terry Ponomban.

Awal defile terjadi di lapangan terbuka. Misa pembukan IYD juga berlangsung di lapangan terbuka dimana ribuan peserta IYD harus rela duduk di lapangan rumput beratapkan langit bebas. Kalau hujan sungguh jadi turun, tak bisa dibayangkan kisah ceritanya.

Tuhan berkarya sungguh nyata di acara Indonesian  Youth Day ke-2 di Kota Manado ini. Inilah salah satu sukacita Injil yang dialami oleh ribuan peserta IYD sepanjang defile dan akhirnya saat misa pembukaan dan program-program lanjutannya sejak petang hingga lewat ganti hari.

Ikut menjadi saksi atas sukacita Injil berupa Tuhan berkuasa atas langit dan bumi ini adalah 20-an ribu umat katolik Manado yang  mengikuti misa pembukaan di atas bangku-bangku tribun Stadion Olahraga Klabat di pusat Kota Manado.

Pengalaman merasakan sukacita Injil di perhelatan pembukaan IYD ke-2 ini adalah Tuhan berkuasa atas langit dan bumi.

 Ref: http://www.dokpenkwi.org/?p=2698&preview=true

Co-founder dan chief editor Sesawi.Net; Konsultan Media & Communication di lembaga internasional mhariyadi@sesawi.net, mathias.hariyadi@gmail.com

Sumber: Sesawi.net

5 pencarian oleh pembaca:

  1. foto kegiatan pembukaan iyd 2016
Tags : , , , , , , ,

IYD 2016 Manado: Sukacita Injil Kontingen Keuskupan Agung Kota Kinabalu di Keuskupan Manado

Keluarga Sam Luly menerima tim Dokpen KWI, AsiaNews dan Sesawi.Net di rumahnya untuk sebuah wawancara dengan anggota kontingen ‘peserta luar biasa’ dari Keuskupan Agung Kota Kinabalu di forum Indonesian Youth Day ke-2 di Manado 1-6 Oktober 2016. (Matius Bramantyo/Dokpen KWI)

MARI kita andaikan saja bisa ditarik garis lurus dari Kota Kinanalu (KK) di Negeri Sabah, Malaysia Timur di bagian utara Pulau Kalimantan menuju Manado di wilayah utara Pulau Sulawesi. Lagi, andaikan saja bisa mengikuti garis lurus dari KK menuju Kota Nyiur Melambai –sebutan akrab untuk Kota Manado—ada rute penerbangan langsung, maka 25 anggota peserta asing Kontingen KK dari Malaysia Timur itu tidak perlu tepar dan harus menghabiskan waktu dua hari hanya untuk bisa menjadi ‘peserta luar biasa’ di forum Indonesian Youth Day 2016 di Kota Manado ini.

Tapi, ibarat seperti garis tangan yang  sudah tertulis di ‘kitab sejarah’  masing-masing individu, pada akhirnya ke-25 ‘peserta luar biasa’ dari Malaysia ini harus mengikuti rute penerbangan ‘reguler’ dari Negeri Jiran Sabah di Malaysia Timur menuju Indonesia. Rute panjang nan lama itu harus mereka tempuh dari KK menuju Kuala Lumpur (KL) sepanjang dua jam penerbangan. Lalu berlanjut dengan penerbangan rute KL – Jakarta, juga selama hampir dua jam plus tambahan beberapa puluh menit untuk urusan imigrasi, perpindahan dari Terminal Kedatangan Internasional menuju Pintu Penerbangan Domestik di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng, Tangerang.

Kisah ‘penderitaan’ kontingen KK berjumlah 25 orang terdiri OMK laki-laki dan perempuan bersama Sr. Rosa –seorang biarawati—ternyata tidak berhenti di Cengkareng. Justru di Cengkareng inilah, derita karena harus pindah dari rute penerbangan internasional menuju rute domestik ini  menjadi pangkal masalahnya.

“Kami berangkat meninggalkan KK sudah lewat tengah hari dan tiba di KK sudah sore hari. Akhirnya kami terbang ke Jakarta dan mendarat di Cengkareng sudah pada waktu malam hari dan tidak ada penerbangan lanjutan langsung di malam hari menuju Manado dari Jakarta,” tutur John Gasam Faranandze, salah satu anggota kontingen asing dari KK menjawab Sesawi.Net dan tim Dokpen KWI dalam sebuah wawancara di rumah sebuah keluarga katolik di Paroki St. Theresia Malalayang di Kota Manado, Sabtu 1 Oktober 2016 di tengah hari yang sangat terik.

“Finally we have to stay overnight in the airport to get the next flight early morning from Cengkareng to Manado in the different terminal,” tambah pemuda dengan anting di telinganya ini.

Pertemanan lama

Menjawab Sesawi.Net dan tim Dokpen KWI, John mengatakan pihaknya sangat antusias mengikuti acara Indonesian Youth Day 2016 di Manado berkat  pertemanan lama koordinator OMK Keuskupan Agung Kota Kinabalu dengan Sekretaris Eksekutif Komisi Kepemudaan KWI RD Antonius Haryanto. Hal itu langsung dibenarkan oleh Denis Patrick, koordinator OMK Keuskupan Agung KK yang pernah menerima pastor diosesan Keuskupan Bandung itu di rumahnya saat berlangsung Kota Kinabalu Youth Day beberapa tahun silam.

Karena itu, tandas Arnold Jr. Agustine dan Roger Guarner, rencana cepat segera disusun untuk mencari peserta OMK Keuskupan KK yang berminat mengikuti perhelatan iman skala nasional berlabel IYD 2016 di Manado ini. “We spread the news through our group to meet the deadline,” tutur kedua orang anggota kontingen KK yang kami wawancarai di tengah suasana pesta ulang tahun sebuah keluarga katolik di Paroki St. Theresia Malalayang.

Ternyata, untuk bisa sampai ke Kota Manado dan mengikuti acara Indonesian Youth Day ke-2 di Kota Nyiur Melambai dari tanggal 1-6 Oktober 2016 ini, biayanya juga relatif mahal untuk ukuran orang Indonesia. “Sedikitnya kami harus menyediakan dana tak kurang dari 2.000 ringgit untuk perjalanan panjang dan lama ini,” kata mereka.

Merasa di rumah sendiri

Meski datang dari Negeri Jiran Sabah di Malaysia Timur, namun toh Denis Patrick –koordinator OMK Keuskupan KK—mengaku senang dan bahagia berada di tengah masyarakat Manado yang menurutnya sangat luar biasa hangat dan ramah. Selain tidak mendapat kesulitan dalam berkomunikasi karena Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia nyaris ‘sama’, Denis dan ketiga temannya merasa diperlakukan seperti anggota keluarga sendiri di tengah keluarga-keluarga katolik Indonesia.

foto-delegatus-kinabalu-sabah1Beberapa kesempatan mewawancarai beberapa anggota Kontingen Keuskupan Agung Kota Kinabalu di Negeri Sabah, Malaysia Timur di keluarga-keluarga umat Paroki St. Theresia Malalayang, Kota Manado, Sabtu siang tanggal 30 September 2016. (Matius Bramantyo/Dokpen KWI/Ist)

Denis misalnya merasakan keakraban bergaul dengan orang Indonesia ketika menerima Romo Antonius Haryanto di rumahnya saat berlangsung KK Youth Day beberapa tahun silam. Denis yang mantan seorang seminaris di KK ini merasakan betapa keakraban yang telah terbina dengan orang Indonesia melalui Romo Haryanto itu membuat dia bersama ke-24 anggota rombongan asing Kontingen Keuskupan Agung KK merasa yakin bahwa perjalanan panjang dan lama mereka dari KK menuju Jakarta dan akhirnya Manado akan terbayarkan oleh  perasaan sukacita.

Pengalaman Sindy di IYD 2012 Sanggau

Hal sama ditegaskan oleh Felicia, satu-satunya anggota perempuan Kontingen KK yang berhasil kami jumpai di tengah suasana hari yang sungguh terik ini.

Felicia tinggal di keluarga Sam Luly bersama ketiga putrinya yang sudah beranjak dewasa.

Kepada tim Dokpen KWI dan Sesawi.Net, pasangan suami-istri Sam  mengaku senang dan sangat antusias ketika diberitahu Panitia IYD 2016 Manado bahwa mereka dimintai kesediaan menerima tamu anggota peserta IYD di Manado 1-6 Oktober 2016. “Setahun sebelum akhirnya digelar Indonesian Youth Day 2016 ini, keluarga kami sudah dimintai kesediaannya apakah  bisa menerima inap peserta IYD di rumah keluarga kami,” terang Sam Luly.

cindy-luly-iyd-2012-sanggauChristel Sindy Luly bersama Bapak Uskup Keuskupan Sanggau Giulio Mecuccini saat mengikuti perhelatan iman di antara OMK skala nasional di forum Indonesian Youth Day pertama tahun 2012 di Keuskupan Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat. (Dok. Sindy Luly)

Rupanya tangan terbuka keluarga Luly berkenan menerima kedatagan tamu anggota peserta IYD 2016 di Manado ini sangat  termotivasi oleh pengalaman si sulung Christel Sindy Luly yang di tahun 2012 menjadi anggota kontingen Keuskupan Manado mengikuti Indonesian Youth Day pertama di Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat.

Menurut Sam Luly, dia dan istrinya merasa bangga ketika Sindy bersedia meninggalkan pola hidup kota untuk sejenak mengalami dan merasakan denyut kehidupan di daerah lain dengan latar belakang budaya, Bahasa, dan etnik berbeda di Kalimantan Barat.  Sepulang dari Sanggau pun, kata Sam, pihaknya dibuat semakin termotivasi dan berbangga hati bahwa anaknya mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial baru.

“Atas pengalaman anak sulung itu, kami sungguh bangga hati bahwa melalui Indonesian Youth Day tahun 2012 di Kabupaten Sanggau, Sindy bisa bergaul dan tinggal  kerasan  di keluarga Dayak setempat. Sindy mengatakan dirinya sungguh senang telah diterima dengan sangat baik oleh keluarga Dayak yang menjadi ‘orang tua asuhnya’ di Sanggau.  Pengalaman  itu ternyata sangat membekas dalam-dalam dan mengesan di hati Sindy,” terang Sam Luly yang juga dibenarkan oleh Ny. Deisy Conny Wongkar, istrinya.

Sindy pun tidak menyangkal omongan kedua orangtuanya, karena dirinya memang menjadi sumber kisah pengalaman sangat personal ketika dia tinggal di tengah keluarga Dayak di luar kota Sanggau. Ia mengaku tidak pernah membayangkan sebelumya,  kalau sekali waktu punya kesempatan tinggal di rumah keluarga ‘asing’ namun nyatanya dia dianggap seperti anggota keluarga sendiri.

Lainnya adalah pengalaman yang tak pernah dia lupakan seumur-umur yakni harus berani mandi di tepi sungai. “Karena memang di sungai itulah, kami harus mandi dan mencuci baju,” terang Sindy yang jago menyanyi ini.

cindy-luly-di-iyd-2012-sanggau-2Kontingen Keuskupan Manado di forum Indonesian Youth Day pertama di Keuskupan Sanngau, Provinsi Kalbar, di tahun 2012 silam. (Dok. Sindy Luly)

** Artikel lengkap berita ini bisa diakses di website Dokpen KWI.

Co-founder dan chief editor Sesawi.Net; Konsultan Media & Communication di lembaga internasional mhariyadi@sesawi.net, mathias.hariyadi@gmail.com

Sumber: Sesawi.net

Tags : , , , , , ,

Mengandalkan Yesus Kristus dengan Sukacita

Sabtu, 1 Oktober 2016
Pesta S. Teresia dari Kanak-kanak Yesus, Perawan dan Pelindung Misi
Ayb 42:1-3.5-6.12-16; Mzm 119:66.71.75.91.125.130; Luk 10:17-24

Pada waktu itu ketujuh puluh dua murid Yesus kembali dari perutusannya dengan gembira … Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Kausembunyikan bagi orang bijak dan pandai, tetapi Kaunyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan di hati-Mu.”

DARI Injil hari ini kita belajar tentang sukacita menjadi murid-murid Yesus Kristus. Ketujuh puluh dua murid Yesus kembali kepada-Nya dengan gembira sambil memuji Allah. Yesus sendiri lalu bergembira dan memuji Allah dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Kausembunyikan bagi orang bijak dan pandai, tetapi Kaunyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan di hati-Mu.”

St. Lukas memberi kita kesaksian, bahwa keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan  (Kis 4:12). Yesus Kristus telah datang menebus kita.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi sementara kita bersembah sujud di hadirat Yesus Kristus kita bergembira memuji Allah dan bersyukur kepada Bapa, Tuhan langit dan bumi. Di sana kita bersyukur pada-Nya atas kasih kerahiman-Nya bagi kita. Apakah kita mengerti bahwa kita dipanggil untuk mengasihi dan mengikuti jejak Yesus Kristus hingga akhir hidup kita? Apakah kita selalu dan pertama-tama mencari dan berbuat baik kepada sesama?

Tuhan Yesus Kristus, kasih menguasai-Mu terutama kasih kepada Bapa Surgawi. Bantulah kami bergembira berkorban diri bagi sesama. Semoga kami selalu dan pertama-tama mencari dan berbuat baik kepada sesama kini dan selamanya. Amin.

Sumber: Sesawi.net

Tags : , , , ,

Melayani Dengan Tulus, Sukacita Dan Penuh Kasih

PARA murid dengan penuh semangat dan sukacita menceritakan kesuksesan mereka kepada Yesus. Yesus segera mengingatkan mereka agar tidak larut dalam suasana kegembiraan yang berlebihan; mereka harus menyadari bahwa Allah turut berkarya di dalam pelayanan mereka, bukan semata-mata karena kehebatan diri mereka.

Pelayanan merupakan tugas yang tidak mudah dilaksanakan. Membutuhkan kesabaran, kerendahan hati dan komitmen, terutama dalam menghadapi berbagai macam pribadi dengan beragam karakter. Namun disinilah tempat di mana karakter kita mengalami tempaan dan pembentukan daripadaNya agar bertumbuh semakin serupa dengan Dia.

Hendaknya kita selalu mengandalkan Tuhan setiap saat, agar di saat sukses tidak menjadi angkuh dan mencuri kemuliaan namaNya, dan sebaliknya di saat penuh tantangan dan penolakan, kita tidak menjadi patah semangat dan mundur teratur.

Mari senantiasa bersatu denganNya, menimba kekuatan daripadaNya agar kita selalu mendapat suntikan semangat untuk tetap setia melayani sesama dengan tulus, sukacita dan penuh kasih.

 

Sumber: Sesawi.net

Keuskupan Agung Palembang Youth Day 2016: Usung Sukacita Injil di Tengah Masyarakat

OMK Saat Mengikuti Ekaristi

SENIN (20/6), sekitar pukul 18.15, hujan deras dan angin menerpa Bumi Tegalarum, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Sejumlah wilayah masih mengadakan pembukaan Keuskupan Agung Palembang Youth Day (KYD) 2016.

Sejumlah tenda berterbangan. Namun ratusan Orang Muda Katolik (OMK) tetap bertahan di tempat. Mereka mengalaminya sebagai hujan rahmat yang mengiringi perjalanan KYD 2016. Kendala kecil ini kemudian diatasi dengan baik, meski sempat membuat panik.

Keuskupan Agung Palembang Youth Day 2016 (KAPal Youth Day 2016) dimulai Senin hingga Jumat (20-24/6) di Stasi Keluarga Kudus Tegalarum, Paroki Santo Petrus dan Paulus Baturaja, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Kegiatan empat  tahunan ini merupakan kegiatan perjumpaan antar OMK di Keuskupan Agung Palembang untuk saling mengenal dan menjaring teman-teman OMK yang belum aktif di gereja sendiri.

Rangkaian acara KYD 2016 ini dimulai dengan kegiatan pra-KYD berupa pertemuan katekese di masing-masing paroki di Keuskupan Agung Palembang. KYD 2016 ini menggunakan sistem live in, pertama kali dibuat, yaitu hidup bersama keluarga yang baru dikenal.

Persiapan tidak hanya dilakukan bagi Orang Muda Katolik (OMK). Keluarga-keluarga juga disiapkan melalui rekoleksi yang diberikan oleh RD Vinsensius Setiawan Triatmojo, Sabtu (18/6) lalu, di Stasi Tegalarum dan Paroki Batu Putih. Tujuannya agar KYD tahun ini, dengan sistem yang baru, berjalan dengan baik dan lancar.

omk palembang 23Ki-ka: RP Blasius Sukoto SCJ, Uskup Agung Keuskupan Palembang Mgr. Aloysius Sudarso SCJ menyapa peserta, OMK tekun khitmad mengikuti perayaan ekaristi di bawah tenda.

Live in

Minggu (19/6), diadakan juga rekoleksi untuk panitia KYD 2016 yang diberikan oleh RP Blasius Sukoto SCJ, Moderator Komisi Kepemudaan KAPal. RP Sukoto memotivasi panitia untuk melayani para peserta secara maksimal untuk  mensukseskan perhelatan KYD 2016.

Lokasi live in dibagi menjadi delapan wilayah, dengan tujuh wilayah berada di Stasi Tegalarum, Paroki St Petrus dan Paulus Baturaja dan satu  wilayah di Paroki Sang Penebus Batuputih. Hari Senin (20/6) kegiatan KYD 2016 secara resmi dibuka di wilayah-wilayah.  Sebelumnya, sejak pagi diadakan registrasi dan penempatan para peserta di wilayah-wilayah.

Misa pembukaan KYD di wilayah 7, misalnya, dipimpin oleh RD Paulus Kristanto. Meski masih ada beberapa peserta yang terlambat untuk mengikuti misa, misa ini berjalan dengan baik. Setelah misa, para peserta diajak berdinamika bersama panitia. Setelah itu, diberikan materi dan santap malam bersama.

omk palembang 2Ki-ka: Walau baru kenal, tapi sudah mau berakrab ria, bergembira bersama, Sutan Bonamora, bersama-sama membersihkan lingkungan.

Kembangkan Sistem Live In

KYD 2016 kali ini menggunakan sistem yang berbeda dari yang sebelumnya, yaitu peserta tinggal bersama dengan penduduk setempat (live in) dan ikut berproses selama berada di rumah penduduk. Peserta juga tinggal bersama teman-teman lainnya dari paroki yang berbeda-beda.

Menurut Sutan Bonamora, Ketua Steering Commitee, untuk menjalani proses selama mengikuti KYD 2016, peserta dibekali dengan lima  katekese yang diberikan selama pra-KYD di masing-masing paroki. “Hal ini bersifat wajib dan menjadi syarat untuk menjadi peserta KYD 2016,” kata Sutan.

Kelima katekese tersebut adalah Sukacita Injil dalam Panggilan Hidup Kristiani/Katolik, Sukacita Injil dalam Gerakan Moral, Sukacita Injil dalam Gerakan Devosional, Sukacita Injil dalam Dunia IT sebagai sarana Evangelisasi dan Sukacita Injil dalam Bingkai Kebhinekhaan.

Sutan mengatakan, dalam proses persiapan pihak panitia telah melakukan audiensi dengan pemerintah Sumatera Selatan serta penduduk di Tegalarum dan Batuputih. Pihak pemerintah Sumatera Selatan menyambut baik KYD, karena merupakan kegiatan yang positif yang melibatkan orang muda.

“Keluarga di Tegalarum dan Batuputih juga sangat senang menyambut orang muda yang akan tinggal di rumah-rumah mereka. Mereka menganggap hal ini sebagai salah satu bentuk pelayanan bagi Gereja,” kata Sutan.

omk palembang 1Bekerja bersama dengan suasana suka cita dan kompak dalam kegiatan bersama.

Menurut Sutan, persiapan yang tak kalah penting adalah kepanitiaan. Tuan rumah KYD 2016 adalah Dekanat 2. Seharusnya kepanitiaan berasal dari Dekanat 2. Dekanat 2 terdiri dari tujuh paroki, yaitu Paroki Sang Penebus Batuputih, Paroki Santo Petrus dan Paulus Baturaja, Paroki Trinitas Bangunsari, Paroki St Maria Assumpta Mojosari, Paroki Santa Maria Tak Bernoda Tegalrejo, Paroki Para Rasul Kudus Tegalsari dan Paroki Kristus Raja Tugumulyo.

“Namun karena keterbatasan OMK yang berada di Dekanat 2 ini, maka dibentuk sebuah panitia pendukung untuk mem-back up kegiatan ini. Banyak orangtua di lokasi yang ikut serta membantu,” kata Sutan.

Anggota-anggota panitia juga diambil dari volunteer. Tujuan dibentuknya volunteer sendiri sebenarnya bukan hanya untuk kegiatan ini. Volunteer dibentuk untuk jangka panjang, sebuah proses pendampingan yang dilakukan oleh Komisi Kepemudaan untuk menciptakan kader-kader Gereja.

“Jadi KYD 2016 ini merupakan salah satu bentuk praktik dari beberapa pelatihan yang sudah diberikan. Ke depan jika ada kegiatan lagi, lalu kita berikan pelatihan lagi, juga praktik lagi,” tutur Sutan.

OMK wujudkan sukacita Injil

Empat tahun lalu, acara ini diberi nama Temu Akbar OMK KAPal. Lantas di-upgrade menjadi KAPal Youth Day menyesuaikan dengan pertemuan yang terjadi di tingkat nasional dan tingkat dunia.

Menurut RP Blasius Sukoto SCJ, temu akbar ini mengungkapkan kegembiraan dan syukur atas hadirnya orang muda. Keprihatinan diungkapkan dalam tema seperti orang muda belum siap menghadapi IT, bagaimana orang muda mengambil pilihan  hidup: prolife atau prochoice.

“Muaranya pada Injil. Kita ingin bersaksi tentang suka cita Injil di tengah masyarakat, khususnya yang majemuk baik karena etnis, sosial ekonomi, agama maupun keyakinan,” tutur RP Sukoto, moderator Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Palembang.

Tema KYD 2016 adalah Suka Cita Injil di Tengah Masyarakat Indonesia yang Majemuk. RP Sukoto memberikan alasan bahwa berbicara tentang kegembiraan, maka tema syukurnya adalah bersaksi tentang kegembiraan, suka cita Injil. “Kita tidak bisa berbicara tentang Injil, tanpa bicara tentang suka cita. Mengapa? Karena Injil sendiri adalah kabar gembira. Suka cita dibangun dari kesadaran pada hal-hal yang mau dicapai melalui hidup bermasyarakat yang lebih real, berani dan menjawab tantangan di tengah masyarakat yang majemuk.

“Bagaimana kita menjadi saksi, misalnya saksi perdamaian, saksi pengampunan? Tahun ini saksi belas kasih. Itulah suka cita Injil. Karena itu, diharapkan Injil sungguh hidup dalam diri orang muda Katolik dan masyarakat bisa melihat kegembiraan itu,” kata RP Sukoto SCJ.

Untuk membangun kebersamaan tentu saja tidak sekali jadi. Dibutuhkan sejumlah perjumpaan dengan fokus-fokus tertentu yang ingin dicapai. Pertemuan yang terukur baik dengan jumlah maupun dari isinya.

“Untuk itu, butuh keseimbangan antara kuantitas dan kualitas. Dalam acara tahun ini, yang diunggulkan adalah kualitas. Jadi kuantitas bukan yang pertama. Maka terjadilah proses eliminasi alam dan pembangunan motivasi. Yang datang bukan hanya ikut-ikutan, tapi harus mengikuti proses yang berjalan.  Dengan demikian, kredibilitas panitia tidak dipertanyakan,” kata RP Sukoto.

Ia berpesan, agar orang muda datang dengan membawa kegembiraannya dan membawa keprihatinan dari tempat-tempatnya. Tetapi yang ingin dibangun adalah kegembiraan yang punya dasar dari semangat Injil.

“Jadi tidak hanya euforia kegembiraan pribadi, tapi kita bagi dengan lingkungan dan membangun kebersamaan dengan masyarakat,” tandas RP Sukoto SCJ.

Tim reportase:  Silvia Kuswanti, Aldian Sinurat, Indra,  dan Wahyu

avatar Imam religius anggota Kongregasi Hati Kudus Yesus (SCJ); delegatus Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Palembang; pengelola Tabloid “Komunio” dan Majalah “Fiat”; sekarang dipercaya menjadi Ketua Signis Indonesia.

Sumber: Sesawi.net

5 pencarian oleh pembaca:

  1. download lagu rohani suka cita injil omk batu raja
  2. download lagu rohani suka cita injil omk baturaja

Berbagi Sukacita dalam Roh Kudus

Selasa, 31 Mei 2016
Pesta S.P. Maria Mengunjungi Elisabet
Zef 3:14-18a; Mazmur dari Yes 12:2-3.4bcd.5-6; Luk 1:39-56

Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua wanita, dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”

HARI ini adalah Pesta St. Perawan Maria Mengunjungi Elizabeth. Apa yang dapat kita timba dari peristiwa ini?

Seperti St. Perawan Maria, Elizabeth dan janin dalam kandungannya, kita dapat belajar membuka hati pada karya Roh Kudus. Roh Kudus memenuhi jiwa Maria dengan sukacita dan menggerakkannya untuk mengunjungi Elizabeth dalam perjalanan yang penuh bahaya. Roh Kudus yang sama seperti diberitakan Injil hari ini memenuhi hati Elizabeth berkat salam yang disampaikan Maria yang membuat janin dalam rahim Elizabeth melonjak kegirangan.

Maka, buah pertama dari Roh Kudus adalah sukacita. Sukacita itu melampaui dimensi roh manusiawi memancar dari kegelisahan egoisme dan menghadirkan kasih sejati.

Sukacita Maria, Elizabeth dan janin dalam rahimnya mengalir dari kerendahan hati. Kerendahan hati Elizabeth terungkap mendalam di kesadaran akan ketidaklayakannya menerima kunjungan Maria, Ibu Tuhan. Maria menggemakan kerendahan hatinya melalui Kidung Magnificatnya.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita menyembah Yesus Kristus yang menganugerahkan sukacita kepada Maria, Elizabeth dan janin dalam rahimnya. Di sana kita bersukacita dalam keterbatasan kita. Kita mohon Roh Kudus melakukan hal yang besar bagi Kristus dalam hidup kita.

Tuhan Yesus Kristus, kami percaya pada kebaikan dan kasih-Mu yang utama. Kami menyerahkan seluruh hidup kami pada-Mu dengan seluruh harapan, ketakutan dan sukacita kami. Terima kasih atas anugerah Diri-Mu dalam Ekaristi. Terima kasih atas anugerah Ibunda-Mu sebagai Ibu kami. Inilah kami yang ingin seperti Bunda-Mu melakukan kehendak-Mu dengan rendah hati selamanya. Amin.

Sumber: Sesawi.net

Injil dalam Keluarga: Sukacita bagi Dunia

DublinorsInjil dalam Keluarga: Sukacita bagi Dunia 0By RD. Kamilus Pantus onMay 27, 2016Urbi

Pertemuan Internasional dari keluarga-keluarga yang IX akan diselenggarakan di Dublin 22-26 Agustus 2018. Hal ini disampaikan oleh Uskup Agung Irlandia,  Mgr Diarmuid Martin dan Presiden Dewan Kepausan untuk Keluarga, Mgr Vincenzo Paglia dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Vatikan Selasa, 24 Mei 2016.

Tema yang dipilih oleh Paus Fransiskus, adalah: “Injil keluarga, Sukacita bagi Dunia.”

Sebua tema – menurut Uskup Agung Paglia – yang terprogram: memiliki refrensi yang jelas dari  anjuran Apostolik Paus Fransiskus ‘Amoris Laetitia’. Dalam Pertemuan Dunia yang diikuti perwakilan keluarga dari seluruh dunia akan menjadi saat yang tepat untuk mengevaluasi dan merefleksikan buah apa yang telah dicapai dari harapan Sinode Keluarga setalah dua tahun berlalu.

Dalam sambutannya, Uskup Agung Martin menyampaikan terima kasih atas kepercayaan akan diselenggarakannya Pertemuan tingkat dunia dari keluarga-keluarga, yang akan menyapa secara khusus Gereja dan Keluarga di Dublin dan masyarakat Irlandia pada umumnya, sebuah negara yang masih muda dalam usia dan sedang terhimpit krisis ekonomi, yang siap membuka diri dengan Gereja-Gereja di seluruh dunia, membangun kerjasama sejak persiapan sampai pada hari berlangsungnya perhelatan internasional tersebut.

Sumber: http://www.familiam.org

Kredit Foto: http://www.familiam.org

 

Renungan Harian│ Senin, 04 April 2016│ Pekan Paskah II (P) │Hari Raya Kabar Sukacita │St. Isidorus dr Sevilla; St. Benediktus Moor │Yes 7:10-14;18-10, Injil Luk. 1:26-38│

Magnificat, www.mccmurcia.orgRenungan Harian¦ Senin, 04 April 2016¦ Pekan Paskah II (P) ¦Hari Raya Kabar Sukacita ¦St. Isidorus dr Sevilla; St. Benediktus Moor ¦Yes 7:10-14;18-10, Injil Luk. 1:26-38¦ 0By admin onApril 4, 2016Harian, Jendela Alkitab

Pemberitahuan tentang kelahiran Yesus

1:26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel  pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,

  1:27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf   dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.

1:28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai  , Tuhan menyertai engkau.”

1:29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.

1:30 Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut,   hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.

 1:31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.

  1:32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud,   bapa leluhur-Nya,

1:33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya   tidak akan berkesudahan. ”

1:34 Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”

1:35 Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus   akan turun atasmu   dan kuasa Allah Yang Mahatinggi   akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.  

1:36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki   pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.

1:37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”

1:38 Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu  .” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

 Renungan

Seorang prajurit bersumpah setia kepada negara dan pada perintah komandannya. Dalam kenyataannya kita melihat ada prajurit-prajurit yang tidak taat dan tidak berdisiplin. Mereka lebih memilih mengatur dan mengurus diri sesukanya. Dalam lingkungan Gereja, kita juga sering mendengar keluhan para Uskup dan Pimpinan Tarekat terhadap ketidaksetiaan para imam dan biarawan-biarawati. Dalam dunia kerja pun sama, omset perusahan tidak akan tercapai jika para pimpinan dan karyawannya tidak taat azas dan suka-suka saja mengurus perusahaan itu.

Hari raya kabar sukacita yang jatuh tepat 9 bulan sebelum hari Natal, menawarkan sebuah “model” ketaatan dari seorang gadis sederhana bernama Maria, 2000 tahun yang lalu, “Fiat Voluntas Tua” – Terjadilah padaku menurut perkataanmu.

Ia tidak bertanya upah apa yang akan diterimanya. Ia tidak mau masuk dalam debat kusir , gossip sana gosip sini, apalagi mau adu otot. Ia tidak memaksakan rencananya sendiri. Ia juga tidak memosisikan diri menjadi “orang istimewa” di hadapan siapa pun. Sebaliknya, dalam penyerahan diri yang total, ia persembahkan hidupnya menjadi “alat” di tangan Tuhan, agar rencana Tuhanlah yang terjadi…! Berkat ketaatan dan ketulusan hati Maria, ia pun beroleh kabar sukacita. Inilah kabar sukacita itu, yakni menjadi alat di tangan Tuhan untuk mewujudkan karya belas kasih-Nya menyelamatkan dunia. Melalui rahimnya, Yesus penyelamat dunia turun ke bumi. Pada hari ini kita pun hendaknya bersama Maria berbagi sukacita kepada semua orang yang kita jumpai.

Bunda Maria, aku ingin belajar setia dan taat seperti engkau sendiri menyelaraskan rencanamu dengan rencana Allah yang amat indah. Amin.

==========

Sumber: Ziarah Batin 2016

Kredit Foto:Magnificat, www.mccmurcia.org

Dari Dukacita Menuju Sukacita Paskah

Selasa, 29 Maret 2016
Dalam Oktaf Paskah
Kis 2:36-41; Mzm 33:4-5.18-19.20.22; Yoh 20:11-18

Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid, “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Tuhanlah yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.

INJIL hari ini menyampaikan kepada kita pengalaman Maria Magdalena. Ia belum mengerti yang dikatakan dalam Kitab Suci bahwa Yesus Kristus harus bangkit dari alam maut (bdk. Yoh 20:9). Maka, realitas Kebangkitan belum juga masuk ke dalam pikiran dan hatinya.

Di sini kita dapat mengkontemplasikan saat kasihnya yang menunjukkan kedalaman kasihnya bagi Tuhan Yesus Kristus. Injil menyatakan kepada kita bahwa meskipun malaikat pun tidak dapat menghentikan tangisnya, meski sudah bertanya, “Ibu, mengapa engkau menangis?”

Syukur kepada Allah sebab kasih Maria Magdalena berada di saat yang tepat, di tempat yang tepat dan pada Pribadi yang tepat. Air matanya untuk Tuhan-nya. Tentu digerakkan oleh ungkapan kasihnya itu, Yesus tidak akan membiarkan ia terus berduka dan tanpa pengharapan. Maka kini Yesus Kristus sendirilah yang tak hanya bertanya kepadanya “Ibu, mengapa engkau menangis?” tetapi juga memanggil namanya, “Maria!” Dan itu membuat Maria Magdalena lantas seketika itu juga mengenali Yesus Kristus yang bangkit. Yesus Kristus mengubah dukacitanya menjadi sukacita.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi sementara kita menyembah Yesus Kristus kita ingin mengagumi kasih Maria Magdalena dan meniru kasihnya. Kita juga menginginkan yang dia inginkan, yakni selalu berada bersama Tuhan Yesus Kristus. Kita berdoa agar kasih kita kepada Tuhan kita Yesus Kristus memberikan kepada kita kekuatan yang sama dalam kasih seperti ditunjukkan Maria di makam.

Tuhan Yesus Kristus, pimpinlah kami dekat selalu pada-Mu, mengandalkan jalan-Mu selalu dan tidak pernah takut memanggul salib kami. Semoga kami mengasihi Dikau dari salib kehidupan kami yang kecil kini dan selamanya. Amin.

Sumber: Sesawi.net

Menabur Kasih dan Damai Menuai Sukacita

UNGARAN – Kabupaten Semarang (Jumat, 04/03/2016). Sedikitnya, 23 orang yang tertulis dalam presensi mengikuti rapat persiapan kedua untuk penyelenggaraan Pertemuan “Perempuan Berkerudung Beragama Islam dan Katolik” (terdiri dari Perempuan Muslimat, Fatayat dan Ikatan Pelajar Putri NU; para Suster Biarawati dari berbagai tarekat dan perempuan Katolik bermantila maupun berpasmina) bersama Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Kom HAK KAS) dalam kerja sama dengan Bidang Diakonia Paroki Kristus Raja Ungaran dan Forum Persaudaraan Perempuan Lintas Agama Semarang.

Forum Persaudaraan Perempuan Lintas Agama sendiri baru dibentuk dalam rapat perdana di Ruang Yohanes Paulus II Paroki Kristus Raja Ungaran, pada hari Jumat, 18 Februari 2016 yang lalu dan disepakati oleh para hadirin yang terdiri dari IPPNU, Fayat dan Muslimat NU serta para Suster Biarawati dari Tarekat AK, PI, PYM, dan OSF yang hadir kala itu.

Dalam rapat yang kedua ini, setelah dibuka oleh Lukas Awi Tristanto, dan diawali dengan berdoa sesuai dengan agama masing-masing, acara dilanjutkan dengan pengantar dari Romo Aloys Budi Purnomo Pr sebagai Ketua Kom HAK KAS.

Dalam pengantarnya, kami menyampaikan ucapan terima kasih atas tanggapan positif untuk rencana pertemuan yang akan diselenggarakan pada tanggal 09 Maret mendatang. Sejak rapat yang pertama yang lalu, dan warta tentang rencana penyelenggaraan pertemuan tanggal 09 Maret mendatang diberitakan, banyak respon positif dari berbagai pihak dan kalangan. Salah satu respon positif diberikan oleh Sekretaris Dewan Kepausan Untuk Hubungan Antaragama dan Kepercayaan dari Vatikan, Romo Markus Solo, SVD.

Bahkan, Romo Markus juga menghubungkan Romo Budi dengan Pemimpin Redaksi Majalah OASIS dan OASIS Foundation yang berbasis di Milan dan Venezia, Italia, Rosa Maria Teresa Scolari yang akan berkunjung ke Indonesia pada tanggal 7 Maret mendatang.

Begitu positifnya tanggapan dari Rolla Scolari, hingga yang bersangkutan melakukan kontak intensif dengan  kami sendiri dan mengatakan akan mengikuti dan hadir dalam acara pada tanggal 9 Maret tersebut. Melalui email, Rolla Scolari memastikan akan datang ke Ungaran untuk bergabung dalam acara tersebut.

Selanjutnya, seluruh rangkaian rapat dipimpin oleh duet antara Sr. Yuliani PI dan Mbak Ida dari Fatayat NU Semarang. Dalam pembicaraan yang mereka pimpin tersebut menghasilkan beberapa rangkaian kepastian acara untuk tanggal 9 Maret mendatang sebagai berikut.

Pertama, acara tanggal 9 Maret juga akan ditempatkan dalam rangka Hari Perempuan Internasional yang sudah berlangsung sejak tanggal 08 Maret 1910 dan dirintis oleh Clara Zetkin. Kebetulan pula, tanggal 9 Maret 2016 merupakan hari libur Hari Raya Nyepi bagi Umat Hindu.

Kedua, rangkaian acara akan berlangsung sebagai berilkut. Registrasi ulang peserta akan dilaksanakan sejak pukul 08.00 – 09.00 WIB. Pada pukul 09.00 -10.00 WIB dilangsungkan “opening ceremony” yang terdiri dari menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, pembacaan ayat suci Alquran dan pendarasan Kidung Magnificat Maria, dilanjutkan dengan laporan ketua panitia, sambutan dewan paroki Ungaran, dan sambutan Ketua Kom HAK KAS.

Sesudah itu, acara dilanjutkan dengan dinamika keakraban dengan menyany8kan beberapa lagu “gaul” yang membuat peserta bisa saling akrab dan cair, misalnya lagu “Beragam Kita Satu”, “Dalam Tuhan Kita Bersaudara” dan “Perdamaian”.

Ketiga lagu itu akan dinyanyikan oleh panitia inti yang terdiri dari para Suster berbagai Tarekat dan Fatayat-Muslimat. Acara selanjutnya adalah Tausyiah yang akan disampaikan oleh duet Kiai Budi Hardjono dan Romo Budi Purnomo Pr.

Semua rangkaian acara itu akan dilaksanakan di halaman Gereja Katolik Ungaran. Sesudah semua itu, acara Ishoma (istirahat, sholat dan makan siang). Dalam acara ini, para peserta Muslim akan berdoa di Masjid Jami’ Istiqomah sementara para Suster dan Perempuan Katolik mengadakan Ibadat Siang di Gereja Kristus Raja.

Sesudah itu, peserta yang beragama Kristiani akan menyusul ke Masjid Jami’ Istiqomah untuk mengadakan acara Pengenalan Masjid dan Penutupan di kompleks masjid dengan menyanyikan lagu Kemesraan. Setelahnya dilanjutkan dengan makan siang kembali di halaman Gereja Kristus Raja Ungaran.

Itulah kurang lebih rangkaian acara untuk tanggal 9 Maret mendatang sebagaimana diputuskan dalam rapat kedua hari ini, Jumat (04 Maret 2016). Sesudah itu, para Suster dan para Perempuan Muslimat mengadakan latihan bersama menyanyikan dua lagu, “Beragam Kita Satu” dan “Perdamaian”. Tampak mereka begitu akrab dan bersukacita dalam kerja sama dan berlatih bersama. Alangkah indahnya. Baru kemudian semua menikmati santap siang dan rapat ditutup dengan berfoto bersama dan salam perpisahan.

Semoga semua rancangan yang baik itu akan menaburkan kasih dan damai-sejahtera untuk menuai sukacita demi mewujudkan peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia dan dunia yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agamanya.***

5 Maret 2016 - Berita - Pic 1

avatar Imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang (KAS), Ketua Komisi Hubungan Antaragama KAS, dan melayani tugas pastoral di Paroki Ungaran, Kab. Semarang. Pernah menjabat Rektor Seminari Tinggi Sinaksak di Pematang Siantar, Sumatra Utara dan gemar memainkan saksofon.

Sumber: Sesawi.net