Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Berdoa dengan Ucapan Syukur

Ayat bacaan: Filipi 4:6
=======================
“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”

berdoa dengan ucapan syukurBagaimana kehidupan yang kita jalani setelah memasuki bulan ke 4 di tahun 2010 ini? Bagi sebagian orang hidup di tahun ini mungkin lebih berat dibanding tahun sebelumnya. Setiap tahun hidup semakin sulit, dan pada kenyataannya memang dunia tidak pernah dikatakan akan menjadi semakin mudah. Seribu satu tekanan terus membebani kita, seribu satu masalah datang silih berganti bahkan menyerbu beriringan, dan kekhawatiran pun biasanya menjadi bagian hidup kita yang sulit terpisahkan. Sekali lagi, hidup tidaklah mudah. Kita selalu harus berjuang untuk mampu bertahan hidup di dunia yang sulit ini, apalagi bertahan menghadapi berbagai hal yang siap menghancurkan iman kita. Tapi haruskah kita terus hidup dibawah tekanan kekhawatiran? Tuhan tidak menginginkan satupun dari kita untuk merasakan itu. Tuhan tidak menginginkan kita untuk masuk ke dalam pola kehidupan dunia yang penuh dengan kecemasan. Apa yang diinginkan Tuhan adalah agar kita tidak takut, tidak khawatir, tidak perlu cemas, karena Allah siap menjadi tempat kita berlindung. Dia siap mendengar dan menjawab doa-doa kita. Tapi ada satu kunci yang seringkali kita lupakan, yaitu mengisi doa-doa kita dengan ucapan syukur.

Firman Tuhan yang saya jadikan ayat bacaan hari ini berbicara jelas mengenai hal tersebut. “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. (Filipi 4:6). Mengapa hal ini penting untuk diingat? Karena pada kenyataannya ada banyak di antara kita yang lupa untuk mengisi doa-doa kita dengan ucapan syukur. Mungkin kita memang memulai doa kita dengan ucapan terima kasih, tapi seberapa banyak yang benar-benar menghayati ucapan syukur itu secara sungguh-sungguh? Seringkali kita hanya sekedar terbiasa mengucapkannya sementara isi pikiran kita sudah langsung penuh dengan daftar permintaan sejak awal kita mulai berdoa. Tuhan tidak menginginkan yang seperti itu. Dia ingin kita terlebih dahulu percaya lewat iman kita. Dia ingin kita memulai doa kita tanpa diselimuti perasaan khawatir, lalu mengangkat permohonan kita dengan rasa percaya yang penuh, dan hanya itu yang memungkinkan kita untuk mampu mengisi doa dengan ucapan syukur yang sesungguhnya. Tuhan ingin rasa sukacita dalam diri kita tidak hilang dalam keadaan apapun, dan rasa sukacita itulah yang memampukan kita untuk bisa menaikkan puji-pujian dan rasa syukur kita.

Sukacita. Seperti apa sukacita itu? Ada banyak orang yang mengaitkan sukacita dengan kondisi yang tengah dialami saat ini. Tekanan, problema kehidupan, permasalahan dan pergumulan akan membuat sukacita berkurang atau malah hilang sama sekali. Sebaliknya hidup yang sedang tenang akan membuat kita mampu bersukacita. Itu bukanlah sukacita yang sebenarnya. Alkitab jelas berkata seperti ini: “Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!” (Nehemia 8:11b). Artinya, sukacita yang sesungguhnya bukanlah yang berasal dari apa yang kita alami, melainkan berasal dari Tuhan. Sukacita karena Tuhan, itulah yang menjadi perlindungan kita. Bukannya kita harus kehilangan sukacita karena tertimpa beban, namun justru sukacita itu seharusnya mampu memberikan sebentuk kekuatan tertentu yang memampukan kita bertahan bahkan keluar sebagai pemenang di tengah kesulitan apapun. Itulah sukacita yang sesungguhnya, dan itulah yang memampukan kita untuk terus mengucap syukur dengan tulus dan sungguh-sungguh dalam penghayatan penuh dalam doa kita, meski situasi dan kondisi sulit sekalipun tengah berkecamuk dalam hidup kita.

Itulah ucapan syukur yang dikehendaki Tuhan untuk hadir dari hati, memenuhi pikiran dan keluar dari mulut kita dalam berdoa menaikkan permohonan. Itulah yang memungkinkan kita untuk menerima jawaban dari Allah. Bukan sekedar ucapan syukur biasa, tetapi sebuah ungkapan syukur yang berasal dari hati terdalam kita, yang dipenuhi sukacita dan dihayati secara sungguh-sungguh. Naikkan dengan penuh ucapan syukur, dan jangan lupa pula, lakukan dalam nama Yesus. Sebab firman Tuhan berkata “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” (Kolose 3:17). Lalu kita pun diingatkan untuk “Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.” (4:2). Jangan pernah berhenti, putus asa atau hilang harapan. Teruslah bertekun dan tetaplah siaga sambil mengucap syukur kepada Allah, teruslah lakukan demikian hingga tiba saatnya dimana tangan Tuhan sendiri yang akan turun mengangkat anda keluar dari masalah dan mengabulkan permohonan-permohonan anda.

Kita tidak perlu khawatir meski berada dalam kondisi seperti apapun, karena kita punya Allah yang setia dan penuh belas kasih. Berada dalam himpitan masalah sekalipun bukan berarti kita harus cemas, karena sesungguhnya Tuhan tidak pernah sekalipun meninggalkan kita menghadapi itu semua sendirian. Rest your worries on Him. Tuhan mendengar dan siap mengabulkan permohonan kita. Tapi nyatakanlah itu dengan ucapan syukur yang sesungguhnya. Penuhi diri kita terlebih dahulu dengan iman yang disertai rasa percaya sepenuhnya, jangan biarkan sukacita Allah yang sejati hilang dari diri kita, lalu berdoalah. Betapa pentingnya ucapan syukur dalam hidup kita, bukan saja ketika hidup tengah tenang, tapi terlebih ketika guncangan demi guncangan tengah membuat kita terlempar kesana kemari. Itulah yang diinginkan Tuhan untuk kita lakukan. “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18). Tidak ada perkara mustahil untuk dilakukan Tuhan bagi kita orang percaya. Imanilah itu, dan berhentilah khawatir. Tetaplah bersukacita, penuhi doa anda dengan ucapan syukur yang percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Berhentilah memusingkan masalah dan mengisi doa hanya dengan sederet daftar permintaan, gantilah dengan ucapan syukur yang tulus dari hati. Percayalah bahwa Tuhan siap untuk mengabulkan permintaan anda, yang tersulit sekalipun.

Kecemasan menghambat doa kita, karena itu gantilah dengan ucapan syukur yang tulus yang berasal dari hati

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

The Power of Rejoicing

Ayat bacaan: Nehemia 8:11b
========================
“Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!”

Kebanyakan manusia mengasosiasikan sukacita sebagai suatu perasaan dimana tidak ada penderitaan atau permasalahan yang sedang menimpa mereka. Artinya, sukacita seringkali dihubungkan dengan kondisi atau keadaan yang sedang dialami. Jika sedang menghadapi persoalan, itu tandanya sukacita pun harus dihilangkan sejenak dari hidup kita, setidaknya hingga situasi bisa menunjukkan perubahan terlebih dahulu. Sebab bagaimana mungkin bersukacita jika sedang dalam keadaan tersesak? Bukankah itu tidak mungkin? Itu pandangan sebagian besar dari kita. Sebenarnya sebuah sukacita bukanlah seperti itu. Sukacita sesungguhnya tidak tergantung dari apa yang sedang kita alami atau rasakan. Bagaimana bisa demikian? Sebab sukacita yang sesungguhnya itu seharusnya berasal dari Tuhan dan tidak boleh tergantung dari manusia, situasi, kondisi atau keadaan apapun.

Firman Tuhan datang lewat Nehemia: “Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!” (Nehemia 8:11b). Sukacita karena Tuhan, itulah yang menjadi perlindungan kita. Artinya tidak saja sukacita itu tidak tergantung dari keadaan atau kondisi yang tengah kita hadapi, tetapi seharusnya sukacita itu pun bisa memberikan sebuah kekuatan tertentu untuk bisa bertahan bahkan menjadikan kita keluar sebagai pemenang ditengah kesesakan apapun. The power of joy, the power of rejoicing, itu bisa dimungkinkan karena sukacita itu berasal dari Tuhan.

Mari kita lihat bagaimana Paulus mengaplikasikan sebentuk sukacita ini dalam perjalanan pelayanannya. Setelah bertobat, hidup Paulus bukanlah menjadi lebih gampang. Justru setelah itu ia mengalami berbagai tekanan, siksaan, deraan bahkan ancaman yang setiap saat bisa menamatkan nyawanya. Tapi apakah Paulus menyesal mengambil jalan bertobat? Tidak. Ia terus konsisten dalam mewartakan firman Tuhan kemanapun ia pergi, apapun taruhannya. Bukan itu saja, sukacita pun dengan jelas tetap menyertainya. Lihat apa katanya: “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! … Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:4,6-7). Dan dengan tegas ia juga menyatakan “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (ay 13). Inilah bentuk iman Paulus yang tahu betul bagaimana pentingnya memiliki sukacita yang berasal dari Tuhan, yang mampu memberikannya kekuatan dalam menghadapi berbagai masalah dalam pelayanannya. Berada dalam penjara? Paulus tidak patah semangat. Dia tidak menganggap penjara sebagai sebuah halangan, kendala atau kerugian, tapi justru sebagai kesempatan atau keuntungan baginya. Ia mempergunakan ruang penjaranya bukan sebagai tempat untuk meratapi nasib, tapi mengubahnya sebagai pusat penginjilannya. Banyak surat ia tuliskan berasal dari dalam penjara. Ia terus membagi sukacita kerajaan Allah dan tips-tips kehidupan yang penuh kemenangan seperti apa yang ia alami. Sebuah sukacita yang berasal dari Tuhan tidak terpengaruh oleh keadaan sekitar. Semua itu sesungguhnya adalah sebuah pilihan bagi kita. Apakah kita mau membiarkan diri kita dikuasai masalah dan kemudian kehilangan sukacita, atau kita mau memakai sukacita ini sebagai kekuatan yang memampukan kita menghadapi badai apapun dengan tegar.

Apa yang terjadi saat ini menekan hidup kita? Apa yang kita alami rasanya sungguh tidak adil? Permasalahan terus timbul dan membuat kita kesulitan? Paulus menanggapinya seperti ini: “Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita.” (Filipi 1:18b). Seperti itu pula hendaknya prinsip hidup kita. Jangan sampai kita menyerah dikalahkan oleh masalah, jangan sampai pula berbagai tekanan hidup itu menjadi jalan masuk bagi iblis untuk merampas kemenangan kita. Pergunakanlah the power of rejoicing dari Tuhan sebagai kekuatan yang memampukan anda menghadapi semuanya dengan tegar. Dengan adanya sukacita Kerajaan Allah dalam hidup kita, maka kita bisa bebas dari kekhawatiran, kecemasan dan ketakutan. Masalah boleh hadir, tapi sukacita harus tetap tinggal di dalam diri kita, sebab sukacita karena Tuhan, itulah perlindunganmu!

Sukacita yang berasal dari Tuhan tidak akan terpengaruh oleh situasi dan kondisi yang kita hadapi