Tag: st ignatius loyola

Romo N Drijarkara SJ: Antara Ke-Yesuitan dan Ke-intelektualan-nya (8)

PERTANYAAN yang belum terjawab, sebagaimana juga diajukan oleh Romo Albertus Sujoko MSC dalam paparannya adalah pokok-pokok berikut ini: 

  • Dari siapakah seorang Djenthu –nama karapan akrab Romo N. Drijarkara waktu masih anak di kampung—sampai akhirnya ‘bersentuhan’ dengan  iman katolik? Padahal pada zaman itu, sudah pastilah mayoritas seluruh penduduk kampung Kedunggubah adalah muslim. Jadi kemungkinan besar, pengelaman Jenthu akan kekatolikannya terjadi ketika dia bersekolah di Cangkrep dan di Purworejo.
  • Atas dorongan, ilham atau wangsit dari manakah seorang Djenthu masuk seminari dan ingin menjadi imam? Ini menjadi pertanyaan saya, karena zaman sebelum pra kemerdekaan, masih sangat minim di Purworejo ada anak-anak putra daerah tiba-tiba ingin masuk seminari dan menjadi imam. Apalagi, waktu itu juga belum ada imam pribumi yang bisa menjadi panutan.
  • Apa dan siapa yang berhasil memotivasi Jenthu hingga akhirnya menjadi seorang Yesuit? Ini perlu saya angkat, kartena setelah  tahun 1927 hanya para imam MSC lah yang berkarya di Purworejo. Setahu saya, hanya Romo N. Drijarkara SJ satu-satuya Yesuit yang berasal dari Purworejo, selain juga pernah Sugeng Agus Priyono, mantan Jesuit dan kini menjadi awam.
  • Selama hidup dan karya sebagai Yesuit, bagaimanakan beliau menghidupi dan menghayati semangat ke-Yesuit-annya sebagaimana yang dihayati oleh St. Ignatius Loyola sang  pendiri ordon. Hanya para Yesuit yang ada di sekitar beliaulah yang tahu betul kesehariannya. 

Cerita sana-sini

Menurut barbagai catatan dan kesaksian orang-orang terdekatnya, keintelektualannya tidak saja berpengaruh di lingkungan internal gereja katolik, tetapi juga membahana seantero bangsa ini. Pemikirannya didengar oleh banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat: dari kalangan akademis sampai rakyat biasa. 

Romo Drijarkara SJ mampu menkomunikasikan pemikirannya dengan bahasa yang berbeda-beda, tergantung pada siapa pendengarnya. Beliau mampu membumikan filsafat pada kenyataan-kenyataan sederhana, dan sebaliknya mengangkat peristiwa biasa ke dalam lensa filsafat. Beliau tidak hanya berfilsafat dan mengajarkan pemikiran filsafat tetapi juga mengajak orang berfilsafat, bertanya, menggugat, mendudukkan dan menjernihkan peristiwa keseharian ke dalam konteks relasi antara manusia-alam dan Tuhannya. 

Bahkan, pada lelucon-nyapun masih terasa ada filsafatnya. Dalam arti ini bisa ditafsirkan beberapa hal:

  • Gaya berpikir dan mengkomunikasikan pemikirannya merupakan cara bertindak (our way of proceeding) salah satu unsur yang khas dalam spiritualitas Ignasian. Distingsi yang jelas antara sarana dan tujuan dalam bertindak. Hal tersebut memperlihatkan bahwa Drijarkara SJ mampu menjadi jembatan dan diterima di berbagai kalangan. Orang pertama-tema menerima dirinya dan kemudian dapat menyerap pemikirannya.
  • Romo N. Drijarkara SJ memperlihatkan ketotalan dalam studi maupun karya, malampaui keterbatasan yang pernah dialami pada masa kecilnya. Selain totalitasnya dan sekalipun sudah menyandang nama besar, Romo N. Drijarkara SJ tetap bermati raga dengan kesahajaan dan keugahariannya. Beliau memperlihatkan konsistensi antara pemikiran dan hidup kesehariannya. Dalam konteks ini beliau amat menghidupi semangat magis yang juga khas dalam Serikat Yesus. Pada intinya, dengan menghidupi keintelektualannya dan bermatiraga dengan kesederhanaannya beliau menghayati ke-Yesuit-annya.
  • Romo N. Drijarkara SJ bersedia diutus kemana pun untuk memberikan diri dan keahliannya di berbagai institusi dalam rangka turut mencerahkan bangsanya. Bahkan pernah, entah diundang atau diutus, beliau juga pernah menjadi guru besar tamu di Universitas St. Louis di Amerika Serikat,  sebuah universitas Yesuit dan bahkan universitas katolik tertua (SLU berdiri tahun 1818) kedua di Amerika setelah Georgetown University (berdiri tahun 1789). Hal ini memperlihatkan bahwa kapasitas keintelektualannya dibarengi dengan sikap kesiapsediaannya. 

Dalam sebuah uraiannya tentang Majalah Basis, Romo Dr. GP. Sindhunata SJ dengan amat memikat menyebutkan, dalam perjalanannya mengelola majalah budaya ini, Basis hendak menghidupi roh yang diwariskan oleh kedua ‘suhu’ pendiri Basis  yakni Prof. PJ. Zoetmulder SJ dan Prof. N. Drijarkara SJ. Menurut Romo Sindhu, roh yang diwariskan oleh Romo Zoetmulder adalah semangat untuk menggali, merawat, dan menghidupkan kembali kebudayaan masa lampau, dalam hal ini adalah sastra Jawa kuno. Sedangkan warisan Romo Drijarkara SJ adalah kegelisahan dan pencarian kebudayaan untuk masa akan datang.  (Bersambung)

Artikel terkait:

Tags : , , , ,

27 April

"Setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan melakukannya  ia sama dengan orang yang bijaksana yang mendirikan rumahnya di atas batu”

(2Tim 4:1-8; Mat 7:21-27)

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya." (Mat 7:21-27), demikian kutipan Warta Gembira dalam rangka mengenangkan pesta St.Petrus Kanisius hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Petrus Kanisius hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   St.Petrus Kanisius menjadi pelindung beberapa karya pastoral SJ atau SJ terlibat didalamnya, misalnya: Kolese Kanisius – Jakarta, Yayasan Kanisius – Semarang, Seminari Menengah Mertoyudan dst.. Jika anda membuka situs Google dan kemudian mencari gambar orang suci/santo-santa, maka anda akan menemukan dua orang suci yang digambarkan lain daripada yang lain, yaitu St.Ignatius Loyola dan St.Petrus Kanisius. Kedua orang suci ini digambarkan sedang bekerja, dan memang demikianlah salah satu spiritualtas Ignatian, yaitu ‘bekerja dalam Tuhan’ atau menemukan Tuhan dalam segala sesuatu, antara lain kerja/tugas sehari-hari, yang menyita banyak waktu dan tenaga kita setiap hari. Maka bacaan Injil yang diambil dalam rangka mengenangkan St.Petrus hari ini adalah sabda Yesus yang begitu menekankan pentingnya penghayatan, pelaksanaan, perilaku atau kerja. “Setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu”, demikian sabda Yesus. Kutipan ini juga kami ambil untuk ditulis di bawah patung St.Petrus Kanisius, di halaman Seminari Menengah Mertoyudan. Sabda Yesus ini kiranya diarahkan kepada siapapun yang percaya atau beriman kepadaNya, entah secara formal maupun informal. Keunggulan hidup beragama atau beriman terletak dalam penghayatan atau perilaku/tindakan, bukan diskusi atau omongan. Motto Petrus Kanisius yang sering diangkat ialah “persevere”, bekerja keras. “Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif dan tidak suka berpangku tangan serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu” (Prof Dr Edi Setyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10). Maka kami berharap kepada kita semua untuk senantiasa bekerja keras dalam melakukan apapun, melaksanakan tugas atau kewajiban.

·   Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya” (2Tim 4:7-8), demikian kesakian iman Paulus, yang selayaknya juga menjadi kesaksian iman kita. Marilah kita selesaikan aneka tugas, panggilan dan kewajiban pada waktunya, jangan ditunda-tunda; syukur selesai lebih awal dari waktu yang diharapkan atau ditentukan. Sebagaimana seorang petani yang bertugas mencangkul setiap hari: jika satu hari dapat melakukan seratus kali cangkulan berarti setahun sudah ribuan cangkulan dilakukan. Maka kepada mereka yang sedang membaca buku, bacalah setiap hari buku setebal apapun dengan tekun dan teliti, sehingga dalam waktunya isi seluruh buku akan dikuasai; demikian pula mereka yang sedang bertugas mengerjakan sesuatu, kerjakan terus dengan tekun agar pada waktunya tugas dapat diselesaikan dengan baik dan memuaskan. Tegorlah dalam kasih dan kesabaran mereka yang suka menganggur atau bermalas-malasan. Didiklah anak-anak anda untuk menjadi pekerja keras demi masa depan mereka dengan teladan konkret dari anda, sebagai orangtua. Para pelajar, belajarlah sehingga terampil dalam belajar, sedangkan para pekerja, bekerjalah sehingga terampil dalam bekerja.

“Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu. Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.Terpujilah Engkau, ya TUHAN; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku. Dengan bibirku aku menceritakan segala hukum yang Kauucapkan. Atas petunjuk peringatan-peringatan-Mu aku bergembira, seperti atas segala harta” (Mzm 119:9-14)

Ign 27 April 2012

Tags : , , , , ,

Minggu Palma

Minggu PALMA:

Yes 50:4-7; Fil 2:6-11; Mrk 14:1-15:47

“Dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib

Oleh karena itu, aku mengharapkan supaya kalian dengan rajin dan tekun memperdalam dan melatih diri untuk memandang Kristus Tuhan dalam setiap Pembesar. Hendaklah kalian mempersembahkan hormat serta taat dengan khidmat yang besar kepada kedaulatan ilahi melalui Pembesar. Apakah itu sesuatu yang aneh? Tidak!. Perhatikanlah saja perintah rasul untuk pembesar-pembesar, bahkan kepada pembesar duniawi dan kufur sekali pun, seperti kepada Kristus, asas segala wewenang yang teratur baik” (St.Ignatius Loyola, Surat kepada para Yesuit di Portugal, 26 Maret 1533, art. 4). Ada kecenderingan umum sejak dahulu sampai sekarang bahwa orang-orang pandai dan cerdas otaknya ada kemungkinan hidup dan bertindak menurut kemauan, keinginan atau selera pribadi, dengan mengandalkan keunggulan manusiawinya, keccmerlangan otaknya. Ignatius Loyola mengajak para pengikutnya untuk setia menjadi sahabat-sahabat Yesus. Selama Minggu/Pekan Suci ini kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus diajak dan dipanggil untuk semakin mengenal dan bersahabat dengan Yesus Kristus, maka marilah kita awali Minggu Suci ini dengan merenungkan ajakan rasul Paulus kepada umat di Filipi.

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Fil 2:5-8).

Saya percaya bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang ingin hidup sendirian, kccuali mereka yang bermasalah atau sedang menghadapi masalah serta kemudian untuk sementara menyepi guna bermeditasi. Di dalam meditasi pun sebenarnya juga tidak sendirian, melainkan secara spiritual dalam kebersamaan dengan sesamanya dan Tuhan. Paulus mengingatkan dan mengajak kita semua agar di dalam hidup bersama “menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”, yang rendah hati dan taat kepada kehendak Allah sampai mati, “bahkan sampai mati di kayu salib”.

Hidup bersama yang paling konkret hemat kami terjadi di dalam keluarga, antara suami dan isteri, suami-isteri dan anak-anak, anggota keluarga dan para pembantunya, serta kemudian diperluas dalam kehidupan bersama dalam satu rukun tetangga (RT). Maka kami berharap keluarga-keluarga yang dibangun dan dihidupi oleh cintakasih dapat menjadi teladan dalam hidup bersama. Cintakasih berarti saling mengasihi dan hemat saya masa kini yang sering dilupakan dan sulit dihayati adalah dikasihi bukan mengasihi. Banyak orang bersedia mengasihi tetapi tak bersedia dikasihi. Marilah kita kenangkan bahwa kasih tidak senantiasa nikmat di hati, tetapi juga sering menyakitkan hati, misalnya ketika kita ditegor keras atau dimarahi oleh orangtua atau guru/pendidik. Bukankah tegoran dan kemarahan tersebut merupakan wujud kasih mereka kepada kita, dan kita merasa sakit karenanya?

Yesus “telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba“. Nasib seorang hamba yang baik hemat kami harus siap sedia untuk menderita karena kesetiaan dan ketaatannya. Seorang hamba yang baik senantiasa berusaha dengan rendah hati dan kerja keras untuk membahagiakan tuan-tuanya atau mereka yang harus dilayani. Sebagai murid-murid atau pengikut Yesus kita dipanggil untuk hidup dan bertindak saling melayani, saling membahagiakan dan saling menyelamatkan. Marilah kita kerahkan atau persembahkan hati, jiwa, akal budi dan tenaga atau kekuatan kita untuk melayani, membahagiakan dan menyelamatkan orang lain, dan hendaknya dijauhkan aneka cara hidup dan cara bertindak yang hanya mementingkan kepentingan pribadi, kelompok atau saudara sedarah dan sedaging saja.

“Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah. Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: "Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” (Mrk 15:38-39)

Mereka yang disebut tentara atau pasukan pada umumnya memiliki kesehatan tubuh prima, dan memang kesehatan tubuhnya merupakan andalan pokok atau utama dalam melaksanakan tugas atau kewajibannya. Maka pada tentara akan membanggakan kesehataan dan kekuatan tubuhnya dan ada kecenderungan untuk menjadi sombong. Maka cukup menarik dan mengesan apa yang terjadi di dekat salib Yesus, ketika Yesus mati di kayu salib, dimana kepala pasukan yang menyaksikanNya dengan rendah hati berkata: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!”, pengakuan iman bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi Manusia, Penyelamat Dunia yang dinanti-nantikan kedatanganNya oleh banyak orang.

Anak Allah” berarti orang yang menunjukkan melalui cara hidup dan cara bertindaknya ada hubungan khusus dengan Allah, sehingga melalui cara hidup dan cara bertindaknya orang dapat menyaksikan Allah hidup dan berkarya di dalam dirinya. Sebagai orang beriman kita sering disebut sebagai ‘Umat Allah’, dengan kata lain memiliki hubungan khusus dengan Allah. Kita semua tak mungkin terlepas dari Allah, hidup, pertumbuhan dan perkembangan kita tergantung dari Allah, maka hendaknya tidak pernah melupakan sedikitpun peran Allah dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun.

Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.” (Yes 50:4-6), demikian kesaksian iman Yesaya. Marilah sebagai umat beriman atau umat Allah kita belajar dari atau meneladan Yesaya. Kegiatan yang paling banyak kita lakukan adalah berkata dan mendengarkan: dalam berkata-kata kita diharapkan memberi semangat baru kepada yang letih lesu dan kita diharapkan juga menjadi pendengar yang baik, tidak menjadi pemberontak.

Ada pepatah bahwa lidah itu lebih tajam dari pada sebilah pedang, kata-kata yang keluar sering lebih pedas dari aneka jenis lombok, menusuk hati sehingga sakit hati dan sulit disembuhkan. Kita semua diharapkan mengeluarkan kata-kata yang memberi semangat atau menggairahkan mereka yang letih lesu dan putus asa. Maka hendaknya berkata-kata dengan cintakasih, rendah hati dan lemah lembut atau dalam bahasa Indonesia sering dikatakan berbudi halus. “Lidah pun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah” (Yak 3:6-9). Kita semua diharapkan memiliki lidah yang senantiasa memuji Tuhan melalui saudara-saudari kita. Maka marilah kita saling memuji satu sama lain di dalam kehidupan sehari-hari kita.

“Anjing-anjing mengerumuni aku, gerombolan penjahat mengepung aku, mereka menusuk tangan dan kakiku. Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku. Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku. Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku” (Mzm 22:17-20)

Ign 1 April 2012

 

Tags : , , , , ,

3 Des

“Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk

 (Rm 10:8-17; Mat 28:16-20)


“Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya” (Mrk 16:15-20) demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St Fransiskus Xaverius, imam dan pelindung Misi, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   “SJ” = Setan Jalanan, alias orang yang suka pergi, demikian kata plesetan yang sering dikenakan pada Sahabat-sahabat Yesus atau anggota Serikat Yesus, para pengikut St.Ignatius Loyola. Fransiskus Xaverius adalah pengikut Ignatius Loyola atau termasuk anggota Serikat Yesus yang pertama, yang sering disebut sebagai ‘primi patres’. Terpanggil menjadi sahabat Yesus memang akhirnya harus meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus, antara lain senantiasa berkeliling dari desa/kota ke desa/kota untuk mewartakan Kabar Baik atau Kerajaan Allah. Maka dalam rangka mengenangkan pesta St.Fransiskus Xaverius, Pelindung Misi, kami mengajak segenap umat yang percaya kepada Yesus Kristus untuk setia menjadi sahabat-sahabatNya juga, “pergi ke seluruh dunia dan mewartakan Kabar Baik kepada segala makhluk”. Dengan kata lain marilah kita mawas diri apakah di lingkungan hidup kita masing-masing dalam umat basis kita sungguh menjadi pewarta-pewarta kabar baik, senantiasa berbuat baik kepada orang lain dan yang terdengar atau tersiar dari diri kita juga apa-apa yang baik karena kita senantiasa berbuat baik. Percayalah bahwa “Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya”, antara lain setan-setan atau aneka kejahatan minggir atau mundur, yang sakit, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi atau sakit tubuh akan menjadi sembuh, dan kita sendiri tahan dan tabah terhadap aneka macam serangan virus penyakit. Kita dipanggil untuk mempersembahkan dunia seisinya kepada Tuhan, yang telah menciptakannya dengan penuh kasih dan kemurahan hati, yang berarti menyelamatkan bagian-bagian dunia yang tidak selamat, mengatur yang tidak teratur dst..

·   Bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya” (Rm 10:14), demikian pertanyaan reflektif Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua umat beriman. Iman memang terutama muncul dan lahir melalui pendengaran, apa-apa yang didengarkan. Kita semua dipanggil untuk memberitakan apa-apa yang dijiwai oleh iman, entah kata-kata, tindakan, ceritera, pengalaman dst.. Maka marilah kita senantiasa hidup dan bertindak dijiwai oleh iman kita, sehingga yang teerberitakan atau terwartakan dari kita apa-apa yang dijiwai iman, dan dengan demikian siapapun yang mendengarkan cara hidup dan cara bertindak kita, apalagi melihatnya, semakin beriman, semakin membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan. Untuk itu kami berharap agar segala usaha atau upaya pendidikan, entah pendidikan informal maupun pendidikan formal, diselenggarakan dalam dan oleh iman atau lebih mengedepankan atau mengutamakan agar anak-anak atau para peserta didik tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik dan berbudi pekerti luhur atau bermoral atau cerdas spiritual. Suasana proses pendidikan hendaknya hendaknya dijiwai oleh kebebasan dan cintakasih Injili. Ingatlah dan sadari bahwa masing-masing dari kita diciptakan dalam kebebasan dan cintakasih, serta dapat tumbuh berkembang sebagaimana adanya pada saat ini juga hanya dengan kebebasan dan cintakasih. Cintakasih itu bebas alias tak dapat dibatasi atau dipagari oleh apapun  dan kebebasan dibatasi oleh cintakasih. Cintakasih antara lain berarti tidak pernah melecehkan atau menginjak-injak harkat martabat manusia, sebagai ciptaan Allah terluhur dan termulia di dunia ini,yang diciptakan sebagai citra atau gambar Allah. Mendidik berarti berpartisipasi dalam karya penciptaan, yang bersifat menghidupkan, mengembangkan dan menumbuhkan.

Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa! Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!” (Mzm 117)

Ign 3 Desember 2011

Tags : , , , , ,

26 Nov

“Berjagalah senantiasa sambil berdoa”
(Dan 7:15-27; Luk 21:34-36)
 "Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” (Luk 21:34-36), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan St.Yohanes Berchmans, biarawan Yesuit, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   “Tiga benda inilah yang paling kusayangi: dengan tiga benda ini aku mati dengan rela hati”, demikian kata Yohanes Berchmans di akhir hidupnya seraya memegang salib, rosario dan aturan-aturan Serikat Yesus. Ia adalah pengikut St.Ignatius Loyola yang kerja keras dalam melaksanakan tugas belajarnya, sehingga senantiasa sukses dalam belajar, dan dipanggil Tuhan dalam usia muda karena penyakit. Memegang salib berarti berbakti kepada Yesus, menjadi sahabat Yesus, memegang rosario berarti berbakti kepada Bunda Maria alias meneladan Bunda Maria, teladan umat beriman, sedangkan memegang aturan Serikat Yesus berarti taat dan setia melaksanakan aneka tata tertib yang terkait dengan panggilan hidupnya. Dengan kata lain Yohanes Berchmans sungguh menghayati sabda Yesus juga, yaitu “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi, dan supaya kamu tahan di hadapan Anak Manusia”. Maka di akhir tahun liturgy ini kami mengajak kita semua untuk mawas diri: apakah kita senantiasa berjaga-jaga sambil berdoa dalam hidup dan bertindak kita setiap hari. Berjaga-jaga berarti senantiasa siap sedia atas segala sesuatu yang akan terjadi, sedangkan sambil berdoa berarti kesiap-siagaan bersama dan bersatu dengan Tuhan, dengan kata lain dalam keadaan dan situasi apapun senantiasa setia pada iman, setia pada kehendak dan perintah Tuhan, senantiasa hidup baik dan berbudi pekerti luhur. Marilah setiap hari kita renungkan sabda Tuhan dan kita hayati, kita berdoa rosario serta membaca dan merefleksikan tata tertib yang terkait dengan panggilan, tugas pengutusan dan kewajiban kita masing-masing.
·   Lalu Majelis Pengadilan akan duduk, dan kekuasaan akan dicabut dari padanya untuk dimusnahkan dan dihancurkan sampai lenyap. Maka pemerintahan, kekuasaan dan kebesaran dari kerajaan-kerajaan di bawah semesta langit akan diberikan kepada orang-orang kudus, umat Yang Mahatinggi: pemerintahan mereka adalah pemerintahan yang kekal, dan segala kekuasaan akan mengabdi dan patuh kepada mereka” (Dan 7:26-27), demikian penglihatan Daniel. ‘Pemerintahan, kekuasaan dan kebesaran dari kerajaan-kerajaan di bawah semesta langit akan diberikan kepada orang-orang kudus’ inilah yang kiranya baik kita renungkan atau refleksikan. Orang kudus berarti orang baik dan berbudi pekerti luhur, membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan, mengandalkan diri pada Penyelenggaraan Ilahi dalam cara hidup dan cara bertindaknya setiap hari kapan pun dan dimana pun. Tuhan hidup dan berkarya dimana saja dan kapan saja, terutama dalam diri maanusia yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citraNya. Maka membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan secara konkret berarti membaktikan diri kepada sesama manusia demi keselamatan atau kesejahteraan mereka, terutama jiwa manusia. Kami berharap kepada para pemimpin maupun pebisnis atau mereka yang berada di dalam poros bisnis dan poros badan publik untuk senantiasa berpihak pada dan bersama dengan rakyat. Ingatlah dan sadari bahwa anda dapat duduk di badan publik di tingkat apapun kiranya karena dukungan rakyat, demikian pula anda sukses dalam bisnis karena dukungan rakyat juga. Maka jika anda yang berada di poros bisnis maupun poros badan publik tidak memihak dan bersama rakyat berarti anda bunuh diri pelan-pelan dan pada waktunya akan segera hancur berantakan. Para pengelola, pengurus maupun pelaksana karya pendidikan atau sekolah hendaknya senantiasa berpihak pada peserta didik, maka boroskan waktu, tenaga dan harta benda atau uang anda bagi para peserta didik. Para kepala daerah beserta para pembantunya kami harapkan sungguh berpihak pada dan bersama rakyat yang harus dilayani. Kepada semua saja yang berpengaruh dalam hidup bersama kami harapkan hidup dengan rendah hati dan melayani.
Pujilah Tuhan, hai anak-anak manusia, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai Israel, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai para imam Tuhan, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai para hamba Tuhan, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai roh dan jiwa orang-orang benar, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai semua yang mursid dan rendah hati, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya” (Dan 3:82-87)
Ign 26 November 2011

Tags : , ,

31 Juli -Ul 30:15-20; Gal 5:16-25; Luk 9:18-26

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?”

Pesta St Ignatius Loyola: Ul 30:15-20; Gal 5:16-25; Luk 9:18-26


“Ignatius lahir pada tahun 1491 di Guipuzooa di daerah Baskia, Sepanyol. Ia putera bungsu keluarga bangsawan Loyola. Di masa mudanya ia tinggal bersama dengan orang-orang istana dan tentara. Pada tahun 1521 dalam pertempuan untuk mempertahankan benteng Pamplona ia mengalami luka berat. Berbulan-bulan lamanya ia terikat pada tempat tidurnya. Namun masa itu penuh rahmat baginya. Ia mulai menyadari bahwa hatinya digerakkan kesana kemari oleh roh-roh yan berbeda-beda. Dengan menuruti gerakan roh yang baik diambilnya keputusan untuk selanjutnya mencari kemuliaan Allah yang lebih besar, bukan lagi hal-hal yang dikagumi dunia. Maka seluruh sisa hidupnya dibaktikannya untuk mengabdi yang Mahaagung. Dalam ziarahnya ke Tanah Suci dan selama tahun-tahun pengembaraan-nya di Sepanyol, Perancis, Vlaanderen dan Italia, ia selalu mencari kemuliaan Allah dan keselamatan jiwa-jiwa,  baik dalam studi maupun dalam kerasulan, baik dalam percakapan-percakapan maupun dalam doanya.

Sebagai mahasiswa di Paris ia berhasil mengumpulkan sekelompok sahabat-sahabat dan pada tahun 1534 mereka bersama-sama mengucapkan kaul di kapel Santo Dionysius di Montmarte dengan maksud  mengabdikan diri kepada Paus sebagai wakil Kristus. Enam tahun kemudian kelompok mereka yang telah memilih nama “Serikat Yesus” mendapat pengakuan resmi dari Paus. Sampai wafatnya, 31 Juli 1556, Ignatius berkarya terus untuk menyusun konstitusi Serikatnya. Seperti Latihan Rohani mencerminkan pengalaman pribadinya dalam pergaulan dengan Tuhan, demikian konstitusi  mengungkapkan pengalaman-pengalaman Serikat Yesus yang masih muda itu. Pengaruh timbale balik antara aksi dan kontemplasi, kepercayaan bahwa manusia terpanggil untuk memainkan peranan dalam rencana keselamatan Tuhan, cintakasih yang seluas dunia yang tidak mau terikat pada satu tempat saja melainkan membuat orang tetap dinamis, pencarian kehendak Allah dengan mempelajari tanda-tanda zaman: itu semua merupakan tanda-tanda pengenal spiritualitas Santo Ignatius” (dari Buku Misa Seriikat Yesus, Provinsialat SJ, Semarang  1 Maret 1996,  hal 85-86)

 

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” (Luk 9:25)

Kutipan di atas ini kiranya juga menjadi inspirasi bagi Ignatius ketika ia mengambil keputusan “untuk selanjutnya mencari kemuliaan Allah yang lebih besar, bukan lagi hal-hal yang dikagumi dunia”. Sabda Yesus di atas ini kiranya juga bagi kita semua yang percaya atau beriman kepadaNya, maka marilah kita jadikan motto atau motivasi dan inspirasi hidup, kerja dan pelayanan kita setiap hari dimanapun dan kapanpun. Memang hidup dan bertindak sesuai dengan sabda tersebut pada masa kini akan menghadapi banyak tantangan, masalah dan hambatan, mengingat dan memperhatikan sikap mental materialistis menjiwai hampir semua orang, termasuk mereka yang disebut sebagai pemuka-pemuka agama. Masih maraknya tindakan korupsi yang dilakukan oleh para pegawai maupun pejabat menunjukkan bahwa sikap mental materialistis begitu kuat pada mereka, dan tentu saja cara hidup dan cara bertindak mereka mempengaruhi masyarakat atau rakyat pada umumnya.

 

“Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging — karena keduanya bertentangan — sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.” (Gal 5:16-17), demikian kesaksian iman dan peringatan Paulus kepada umat di Galatia, kepada kita semua, yang orang beriman. Kita semua dipanggil hidup oleh Roh, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan buah-buah Roh seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.”(Gal 5:22-23). Maka baiklah kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk senantiasa berusaha menghayati keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh tersebut di dalam hidup kita sehari-hari demi keselamatan jiwa kita sendiri maupun saudara-saudari kita. Jauhkan aneka macam bentuk sikap materialistis atau ‘keinginan daging’ seperti “: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya” (Gal 5:19-21). St.Ignatius Loyola juga dikenal dengan kemahirannya dalam pembedaan roh atau ‘spiritual discernment’ , maka baiklah kita refleksikan apa itu pembedaan roh.

 

“Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan, karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya” (Ul 30:15-16).

Setiap hari kita menghadapi ‘kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan’  alias tawaran atau ajakan untuk mengikuti roh baik atau roh jahat, berbuat baik atau berbuat jahat. Sebagai orang-orang beriman kiranya kita semua mendambakan hidup baik alias senantiasa mengikuti dan melaksanakan aneka ajakan, sapaan atau sentuhan untuk berbuat baik. Agar kita mahir dalam membedakan apa yang baik dan jahat hendaknya setiap melakukan pemeriksaan batin setiap hari, yang menjadi bagian dari doa harian, yaitu doa malam. Pemeriksaan batin bukan mencari kesalahan atau dosa-dosa saja, melainkan mencari dan mengenali apa yang baik, mulia, luhur dan indah dalam diri kita dan sebaliknya. Kami percaya dalam diri kita masing-masing pasti lebih banyak apa yang baik daripada apa yang jahat.

 

Untuk dapat melihat dengan teliti, benar dan tepat kiranya kita butuh ‘penerangan’ yang baik dan memadai. Jika kita berada di dalam kegelapan kiranya kita tak mungkin membedakan mana yang baik dan yang jahat, mana yang membawa ke kehidupan dan mana yang membawa ke kematian. Maka dinamika pemeriksaan batin kurang lebih secara berurutan atau kronologis terjadi demikian:

1). Mohon terang atau rahmat Roh Kudus

2). Memutar ‘film kehidupan kita sendiri’ sambil mengenali pengalaman kecenderungan hati untuk berbuat baik maupun aneka perbuatan baik serta kecenderungan hati untuk berbuat jahat dan aneka perbuatan jahat.

3). Bersyukur dan berterima kasih atas kecenderungan untuk berbuat baik serta aneka kebaikan yang telah kita lakukan.

4). Mohon rahmat dan kekuatan untuk pertobatan, memperbaiki apa yang jahat serta menyesali segala perbuatan jahat yang telah kita lakukan artinya niat untuk tidak melakukan kejahatan yang sama.

5). Bersyukur dan berterima kasih atas segala anugerah atau rahmat Tuhan yang telah kita nikmati.

 

Salah satu cara konkret agar kita semakin trampil dan mahir dalam pembedaan roh adalah seantiasa berusaha hidup dan bertindak ‘berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturanNya’, artinya dengan rendah hati, pengorbanan dan perjuangan berusaha mentaati dan melaksanakan aneka aturan dan tatanan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Maka marilah kita baca, renungkan, refleksikan dan hayati aturan dan tatanan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Jika kita terbiasa mentaati dan melaksanakan aturan dan tatanan hidup yang berlaku, maka kita akan terbantu untuk mendengarkan, mentaati dan melaksanakan bisikan roh baik atau Roh Kudus. Marilah kepada anak-anak di dalam keluarga dibiasakan untuk mentaati dan melaksanakan aneka aturan atau kesepakatan atau kebijakan yang telah dibuat.

“Ambillah ya Tuhan kebebasanku, kehendakku budi ingatanku . Pimpinlah diriku dan Kau kuasai. Perintahlah akan kutaati. Hanya rahmat dan kasih dariMu,  yang kumohon menjadi milikku. Berikanlah menjadi milikku. Lihatlah semua yang ada padaku,  kuhaturkan menjadi milikMu.  Pimpinlah diriku dan Kau kuasai,  perintahlah akan kutaati” (St. Ignatius Loyola)

Jakarta, 31 Juli 2010            

 

Tags : , , , , ,

18 Juni – 2Raj 11:1-4.9-18.20; Mat 6:19-23

“Di mana hartamu berada di situ juga hatimu berada”

(2Raj 11:1-4.9-18.20; Mat 6:19-23)

 

"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” (Mat 6:19-23), demikian kutipan Warta Gembira hari ini 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Perwujudan perhatian atau cintakasih yang utama hemat saya adalah ‘pemborosan waktu dan tenaga’ bagi yang diperhatikan atau dicintai. ‘Pemborosan waktu dan tenaga’ tersebut merupakan perwujudan apa yang ada di dalam hati seseorang. Apa yang menjadi perhatian utama kita setiap hari, dimana kita memboroskan waktu dan tenaga kita? Sabda Yesus hari ini mengingatkan dan memanggil kita semua untuk ‘memperhatikan harta di sorga’ alias nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup yang menyelamatkan dan membahagiakan jiwa. Memang apa yang harus kita kerjakan atau lakukan setiap adalah hal-ihwal atau seluk-beluk duniawi, maka baiklah kita dalam mengerjakan atau melakukan sesuatu  senantiasa berusaha untuk menghasilkan buah-buah yang menyelamatkan atau membahagiakan jiwa. “Menemukan Tuhan dalam segala sesuatu atau segala sesuatu di dalam Tuhan”, itulah motto atau pedoman hidup yang harus kita hayati setiap hari. Untuk menghayati motto atau pedoman ini antara lain kita menempatkan atau memfungsikan aneka macam jenis harta benda, pekerjaan, kesempatan dst.. sebagai sarana untuk memuji, memuliakan, menghormati dan mengabdi Tuhan, maka sebagaimana dinasehatkan oleh St.Ignatius Loyola di dalam Latihan Rohani: hendaknya ketika harta benda mengganggu dalam mengusahakan keselamatan atau kebahagiaan jiwa disingkirkan, dihindari atau dibuang saja. Sabda Yesus hari ini juga mengingatkan kita semua untuk menjaga kesucian anggota-anggota ttubuh kita masing-masing, maka baiklah kita saling menjaga dan mengingatkan. Kami juga mengingatkan dan mengajak kita semua perihal pendidikan anak-anak: hendaknya anak-anak dididik dan dibina agar tumbuh berkembang menjadi pribadi baik dan berbudi pekerti luhur, dan tentu saja dengan teladan konkret dari para orangtua maupun guru/pendidik.

·   “Mereka menangkap perempuan itu. Pada waktu ia masuk ke istana raja dengan melalui pintu bagi kuda, dibunuhlah dia di situ.” (2Raj 11:16), demikian berita akhir hidup Atalya, yang telah membunuh keturunan saja di istana raja.  Perhatiannya terarah untuk membunuh atau membinasakan orang lain, dan akhirnya menjadi ‘senjata makan tuan’, dimana ia sendiri menjadi korban perhatiannya. Apa yang dilakukan dan dialami oleh Atalya ini kiranya baik menjadi bahan refleksi atau permenungan kita semua, lebih-lebih bagi mereka yang masih suka atau sering menghabisi, membenci, melecehkan, memeras, menindas orang lain. Kepada mereka ini kami ingatkan bahwa pada suatu saat anda sendiri akan menjadi korban yang mengerikan jika anda tidak bertobat pada saat ini.  Ingatlah bahwa ketika anda membenci atau melecehkan orang lain berarti pada saat itu tambah musuh, meskipun  yang anda benci atau lecehkan tidak memusuhi anda. Hendaknya juga diingat dan disadari bahwa ketika kita membenci orang lain berarti memboroskan waktu dan tenaga tiada guna, dan untuk itu butuh energi atau tenaga besar. Saya memperoleh info dari beberapa orang perihal mereka yang suka membunuh dan merusak di negeri ini, bahwa mereka akhirnya meninggal dunia dengan tidak wajar; dan mungkin dalam bahasa rakyat berarti mereka kena ‘hukum karma’. Atalya melakukan pembunuhan sebagai balas dendam atas anaknya yang telah dibunuh, dan memang balas dendamnya lebih besar dan mengerikan, begitulah orang yang telah gelap mata maupun hati. Atalya kiranya ingin menjadi raja dengan membunuh anak-anak raja, namun ada seorang anak raja yang selamat yaitu Yoyada, yang akhirnya menjadi raja yang berpihak pada rakyat dan Tuhan. Kami berharap kepada para pemimpin, raja, tokoh masyarakat untuk berpihak pada rakyat dan Tuhan: boroskan waktu dan tenaga anda demi kebahagiaan dan keselamatan rakyat.

 

“TUHAN telah menyatakan sumpah setia kepada Daud, Ia tidak akan memungkirinya: "Seorang anak kandungmu akan Kududukkan di atas takhtamu; jika anak-anakmu berpegang pada perjanjian-Ku, dan pada peraturan-peraturan-Ku yang Kuajarkan kepada mereka, maka anak-anak mereka selama-lamanya akan duduk di atas takhtamu." Sebab TUHAN telah memilih Sion, mengingininya menjadi tempat kedudukan-Nya: "Inilah tempat perhentian-Ku selama-lamanya, di sini Aku hendak diam, sebab Aku mengingininya.”

(Mzm 132:11-14)

    

Jakarta, 18 Juni 2010

Tags : , , , , ,