Tag: Senyum

Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan O.Carm: Menerima Tugas dengan Senyum Mengembang

Senyum gembira dan bahagia Uskup baru untuk Keuskupan Malang: Mgr. Prof. Dr. Henricus Pidyarto Gunawan O.Carm (Romo Michael Agung Christiputro O.Carm)

BEBERAPA cuplikan foto dikirimkan ke Redaksi Sesawi.Net oleh Pastor Michael Agung “Ciput” Christiputro O.Carm, dosen teologi STFT Widya Sasana Malang sekaligus Pastor Kepala Paroki Gembala Baik di Batu, Malang.

Foto-foto ini menggambarkan betapa Uskup baru untuk Keuskupan Malang Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan O.Carm menerima tugasnya dengan hati gembira.

Baca juga: 

Berikut ini sumbangan foto hasil jepretan alumnus Seminari Mertoyudan Magelang tahun masuk 1978 yang baru saja membesut acara Reuni Merto 78/KPA 81 di Beji, Batu, Malang 24-26 Juni 2016.

uskup malang pidyarto 4Pengumuman Uskup Baru untuk Keuskupan Malang dibeberkan langsung dalam sebuah ‘konferensi pers’ di Gereja Katedral Malang oleh Mgr. Herman Joseph Sahadat Pandoyoputro O.Carm, kini masih menjabat Uskup Keuskupan Malang. (Romo Michael Agung Christiputro O.Carm) Uskup baru Keuskupan Malang Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan O.Carm memberi sambutan usai resmi diumumkan penunjukannya menjadi Uskup baru untuk Keuskupan Malang. (Romo Michael Agung Chistiputro OCarm)Uskup baru Keuskupan Malang Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan O.Carm memberi sambutan usai resmi diumumkan penunjukannya menjadi Uskup baru untuk Keuskupan Malang. (Romo Michael Agung Christiputro O.Carm) avatar Co-founder dan chief editor Sesawi.Net; Konsultan Media & Communication di lembaga internasional mhariyadi@sesawi.net, mathias.hariyadi@gmail.com

Sumber: Sesawi.net

Tags : , , , , , , , ,

Pelangi dan Kebaikan Tuhan

Ayat bacaan: Mazmur 104:24
=======================
“Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.”

Ketika saya kecil saya sangat suka melihat pelangi. Untaian rangkaian warna yang indah melengkung menghias langit itu membuat saya betah menatapnya. Pernah pada suatu kali saya mencoba mencari “pot of gold” yang di dongeng-dongeng dikatakan terletak di ujung pelangi. Tentu saja saya tidak menemukannya. Tapi meski demikian, tanpa seember emas itu pun pelangi memang indah untuk dilihat. Sampai sekarang saya senang sekali jika bisa melihat pelangi. Itu semakin jarang karena gedung-gedung tinggi semakin menutupi pandangan kita dari keindahan langit biru. Sehabis hujan tadi saya beruntung bisa kembali menyaksikan lengkungan pelangi yang indah walau hanya sebentar saja. Dan saya merasakan kebaikan Tuhan lewat pelangi itu. Kebaikan? Ya, kebaikan. Ditengah kesibukan menggunung dan tekanan-tekanan hidup, pelangi yang saya lihat seolah mengingatkan saya bahwa Tuhan tetap ada dengan kasihNya yang indah. Lengkungan pelangi seolah menjadi lengkungan senyum Tuhan yang penuh warna dalam menyapa anak-anakNya. Dan tidak terasa saya pun membalas senyum itu dengan seuntai senyum bahagia.

Kita sering kesal atau bahkan marah ketika hujan membasahi bumi. Seringkali kita hanya mengeluhkan apa yang kita dapatkan dari cuaca yang kita anggap buruk. Padahal tanpa hujan itu, mungkinkah bunga-bunga yang cantik bermekaran, atau mungkinkah pelangi yang indah hadir menghias langit? Hari yang panas pun salah juga. Terik matahari membuat kita berkeringat dan kita seringkali kesal ketika harus berada dibawah terik matahari ketika sedang berada di tengah jalan atau di saat terjebak kemacetan. Padahal tanpa matahari itu tidak satupun mahluk hidup yang bisa bertahan. Keindahan matahari terbit, senja yang berwarna merah, langit biru penuh awan, matahari yang bersinar, bintang-bintang yang berkilauan, bulan berbentuk sabit atau ketika sedang utuh, burung-burung yang berkicau menjelang pagi, semua itu ada yang menciptakan. Begitu indahnya apa yang diciptakan Tuhan, begitu indah seolah-olah itu semua merupakan bentuk senyum Tuhan yang penuh kasih menyapa kita setiap harinya. Apakah kita menanggapi sapaan itu dan mengingat Pribadi yang menciptakan, atau kita malah mengeluh terhadap segala sesuatu yang Dia ciptakan karena mengasihi kita? Daud tidak terperangkap pada hal itu. Dia menyadari betul betapa kreatifnya Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan sangat indah. “Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.” (Mazmur 104:24).

Begitu luasnya alam semesta, begitu banyaknya keragaman hewan dan tumbuhan, bukit dan lembah, darat dan laut, beserta isinya, dan itu semua diciptakan oleh Dia atas dasar kasihNya yang begitu besar kepada kita. Apa yang Dia ciptakan dengan begitu indah seringkali lewat dari pandangan kita. Semua itu tertutupi oleh keluh kesah atau kesibukan kita pada hal-hal lainnya. Padahal ada begitu banyak keindahan yang seharusnya lebih dari cukup buat menjadi dasar bagi kita untuk mengucap syukur kepadaNya. Itu baru dari sudut keindahan bumi beserta isinya dan alam semesta yang luas. Bagaimana mengenai kita, manusia yang Dia ciptakan secara begitu istimewa menurut gambar dan rupaNya? Lihat apa kata Tuhan mengenai kita: “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.” (Yesaya 49:15-16). Seperti itulah Tuhan mengasihi kita. Yesus memberikan janji yang sama dari sisi lain. “Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” (Lukas 12:6-7). Jika burung pipit yang kecil dan lemah saya saja diperhatikan Tuhan, apalagi kita yang Dia ciptakan menurut gambar dan rupaNya sendiri. Tangan Tuhan menciptakan alam semesta yang begitu besar, luas dan tak terukur berikut isinya, tapi tangan yang sama bisa juga memeluk kita yang begitu kecil ini. Daud melihat ini semua dan berkata: “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mazmur 8:4-5). Dan ia lalu menutup Mazmur bagian ini dengan indah: “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” (ay 10).

Menurut pandangan kita, hidup mungkin penuh ketidakpastian. Karena itu kita bekerja keras, terkadang malah terlalu keras sehingga diri kita rontok, untuk memampukan kita menghadapi segala ketidakpastian itu. Bekerja keras itu baik Namun janganlah lupa untuk berhenti sejenak untuk menghargai dan mensyukuri segala yang telah Dia sediakan bagi kita. Senyum Tuhan yang penuh kasih menyapa kita setiap hari lewat segala keindahan alam, hembusan angin, goyang dedaunan dan bunga-bunga yang harum dan indah. KasihNya hadir lewat hujan, pelangi dan sinar matahari. Semua itu menggambarkan kebesaranNya, dan semua itu adalah hal-hal yang kita lihat sehari-hari di sekitar kita. Seharusnya keindahan alam dan segala isi alam semesta yang kita lihat dengan mata kepala sendiri ini bisa dipakai sebagai ‘reminder’ atas kasih Tuhan yang luar biasa besarnya bagi kita. Tangan yang sama yang Dia pakai untuk menciptakan segala sesuatu Dia pakai pula untuk memeluk dan menjaga kita. Sudahkah anda mengucap syukur atas kasih setia, penyertaan dan kebaikanNya hari ini?

“Bersyukurlah kepada TUHAN, serukanlah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa!” (Mazmur 105:1)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

5 pencarian oleh pembaca:

  1. renungan kristen tentang kebaikan tuhan
  2. imamat 19 9-18
  3. Ilustrasi kristen pelangi
  4. Renungan Kristen tentang kebaikan yang terlupakan
  5. tema renungan kristen pelangi
Tags : , , , ,

Say Cheese

Ayat bacaan: Markus 7:6
=======================
“Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.”

say cheese“Say cheese…”, jepret, dan semua orang terlihat tersenyum bahagia. Itu sudah menjadi rutinitas dalam setiap kesempatan foto bersama. Tidak peduli apakah sedang sedih, sedang tidak mood, sedang marah, di dalam momen seperti itu senyum akan selalu diusahakan mengembang. Ada yang memang benar-benar sedang gembira, tapi tidak jarang pula orang memasang senyum palsu yang tidak keluar dari lubuk hatinya. Yang penting, hasil foto terlihat indah. Yang penting, semua terlihat bahagia. Maka “say cheese” pun menjadi sebuah keharusan dalam kesempatan foto bersama.

Dalam hidup kita memang terbiasa untuk menampilkan rona muka terbaik dalam berbagai kesempatan. Apakah itu untuk menjaga suasana sekeliling kita, agar terlihat baik di mata orang lain, atau tidak ingin membuat orang lain susah dan lain-lain, kita seringkali dituntut untuk selalu tersenyum dan terlihat bahagia. Dan ketika kita sedang dirundung duka, kita pun akan mengasingkan diri agar bisa menangis, tanpa harus mengeluarkan senyum yang terpaksa. Seorang teman berkata, paling enak berkomunikasi lewat fasilitas chatting, karena disana ada berbagai “smiley” yang bisa bertugas menggantikan suasana hati sebenarnya. Kita bisa tetap terlihat gembira meski suasana hati sedang galau. Kita tidak harus tersenyum betulan, icon smiley-lah yang akan membantu kita untuk urusan senyum-senyum ini. Ada banyak orang yang berlaku sangat ramah, tapi di dalam hatinya yang terjadi adalah sebaliknya. Semua ini merupakan hal-hal terjadi sehari-hari. Betapa kita terbentuk menjadi pribadi-pribadi yang semakin lama semakin mementingkan penampilan luar ketimbang memancarkan sesuatu yang murni dari dalam diri atau hati kita.

Jika dalam keadaan dunia itu seolah wajar, bagi Tuhan itu adalah hal yang sangat tidak bisa diterima. Tuhan sangat tidak suka kepalsuan ketika kita datang menghadapNya. Tuhan selalu ingin kita tampil apa adanya, memancarkan apa yang ada di dalam diri kita. Ingin memuji? menangis? tertawa? menyanyi? mengeluh? meminta? bertanya? Apapun itu yang sedang ada di dalam hati kita, itulah yang diinginkan Tuhan untuk kita bawa ke hadapanNya. Kepalsuan agar terlihat rohani di mata orang, agar terlihat paling suci, paling baik dan paling-paling lainnya tidak akan pernah berharga di mata Tuhan. Inilah kebiasaan buruk yang dipertontonkan para orang Farisi dan ahli-ahli Taurat di jaman Yesus. Dan lihatlah bagaimana kerasnya Yesus mengecam mereka semua dalam berbagai kesempatan. Betapa ironis, ketika mereka seharusnya menjadi teladan terdepan, tapi kemunafikan mereka justru merajalela dimana-mana.

Ambil contoh ketika orang Farisi dan ahli Taurat menyinggung masalah cuci tangan dalam Markus 7. Masalahnya sepele, tapi bagi Yesus hal itu sudah menunjukkan perilaku mereka yang lebih terfokus kepada adat istiadat dan tata cara ciptaan manusia ketimbang secara sungguh-sungguh mengarahkan seluruh diri mereka kepada Tuhan. “Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.” (Markus 7:6). Apa yang dikatakan Yesus ini mengacu kepada apa yang terdapat dalam kitab Yesaya: “Dan Tuhan telah berfirman: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan..” (Yesaya 29:13). Soal gaya berdoa, mereka jagonya. Soal durasi, pemilihan kata dan pengambilan posisi doa, mereka sungguh pintar. Tapi semua itu bagaikan lips service saja, yang sama sekali tidak berasal dari kesungguhan mereka mengasihi dan memuliakan Tuhan. Dan semua itu tidak akan membawa manfaat apa-apa di mata Tuhan alias sia-sia. “Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” (Markus 7:7-8). Dan bagi orang-orang yang menomorsatukan kepalsuan seperti ini, firman Tuhan berkata demikian: “maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi.” (Yesaya 29:14). Hal ajaib, keajaiban yang menakjubkan bukan dalam artian positif, tapi justru sebaliknya, azab atau hukuman bahkan kebinasaanlah yang akan menimpa habis-habisan. Lihatlah bagaimana kerasnya Yesus mengecam para orang Farisi dan ahli Taurat ini dalam Lukas 11:37-54.

Tidak ada tempat bagi kepalsuan kita di hadapan Tuhan. Mengganti ekspresi wajah kita di dunia mungkin mudah, jauh lebih mudah ketimbang membenahi diri kita secara sungguh-sungguh dari dalam. Tapi ketahuilah bahwa untuk bisa memuliakan Tuhan dengan benar dibutuhkan kesatuan dari hati, jiwa dan raga kita. Hanya kesatuan dari segenap diri kita inilah yang akan bisa membuat apa yang kita bawa ke hadapan Tuhan berharga di mataNya. Bukan hanya di bibir saja tapi hati kita melenceng ke hal lain, bukan hanya di gaya saja tapi fokus kita malah menjauh dari Tuhan. Bahkan dalam situasi tertekan atau berbeban berat sekalipun, kita seharusnya bisa terus bersyukur atas kebaikan Tuhan dan percaya bahwa pada saatnya Dia sendiri yang akan membebaskan kita. Dan itu akan membuat kita mampu menampilkan sebuah senyum yang tulus, yang asli berasal dari hati kita. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23). Hati yang mengasihi Tuhan dan dipenuhi iman yang percaya penuh akan mampu memancarkan sebuah sinar kehidupan penuh sukacita yang sesungguhnya. Hari ini, satukanlah segenap diri kita, tubuh, jiwa dan roh untuk menyembah Tuhan secara sungguh-sungguh. God is worthy of a genuine praise like that.

Kepalsuan tidak akan pernah berharga di mata Tuhan

Tags : , , , , ,

Senyum dan Sukacita

Ayat bacaan: 2 Kor 7:4
==================

“…Dalam segala penderitaan kami aku sangat terhibur dan sukacitaku melimpah-limpah.”

Tadi siang salah satu mahasiswa bimbingan saya menghadapi sidang. Dalam presentasinya dia kelihatan super gugup sampai2 mukanya pucat. Setelah sidang selesai, saya bertanya pada dia, apa yang menyebabkan dia sampai begitu gugupnya. Dan katanya, ada satu dosen penguji yang senyumnya bikin down. Loh, bikin down gimana? katanya senyum yang terasa mengintimidasi, sehingga dia kehilangan kepercayaan diri. Saya berpikir, bahkan sebuah senyum pun bisa membuat orang kehilangan percaya diri instan. Benar juga ya.. senyum itu bisa muncul dalam berbagai bentuk, sifat dan alasan, juga dapat memberi pengaruh yang berbeda2. Ada senyum yang menenangkan, ada yang menyenangkan, ada yang penuh kasih.. tapi ada juga yang kecut,terasa pura2, sinis, senyum menyeringai, kejam dan lain2. Iseng, saya pun menanyakan lagi pada bimbingan saya itu, “tapi saya kan senyum2 juga selama sidang? berarti mengintimidasi juga dong? Dia menjawab, “beda pak… senyum bapak sebaliknya, selalu bikin tenang.” Puji Tuhan… artinya senyum yang selama ini keluar dari rasa sukacita di hidup saya tidak diartikan berbeda di dunia.

Senyum yang berasal dari sukacita… Sukacita adalah salah satu buah Roh (Gal. 5:22),
anugerah Kristus (Yoh. 15:11), dan salah satu elemen dalam Kerajaan Allah (Rm. 14:17). Bentuk sukacita ini sulit didefenisikan secara manusia, karena prosesnya memang berasal dari Tuhan. Sukacita tidak akan terpengaruh oleh kondisi kehidupan, karena rasa sukacita ini memancar keluar dari dalam. Maka, seseorang yang bersukacita akan dapat tersenyum dalam badai, angin ribut, atau gelombang hidup sekalipun. Lihatlah rasul Paulus yang kaya dalam penderitaan, biar bagaimanapun ia tetap mengakui bahwa ia mempunyai sukacita melimpah.

Saya teringat salah satu cerita dari kotbah salah seorang pendeta di gereja saya. Ada seorang pengusaha yang sedang berlibur ke kota lain. Pada hari minggu dia bermaksud mencari gereja terdekat dari hotelnya, dan ketika dia melihat seorang polisi, dia pun meminta informasi dimana dia dapat beribadah. Polisi itu berkata, ada banyak gereja disekitar hotel, tapi menganjurkan satu gereja yang letaknya justru paling jauh dari lokasi. Maka si pengusaha bertanya, mengapa polisi itu memilih gereja yang jauh itu? Sang polisi berkata, “saya memang bukan Kristen, tapi saya selalu melihat orang2 yang keluar dari gereja itu sepertinya orang2 yang paling bahagia. Mereka selalu tersenyum gembira. Mungkin gereja seperti ini yang anda cari.”

Betapa indahnya senyum yang keluar dari ungkapan rasa sukacita. Di saat-saat penuh kesulitan, ketidakstabilan dan semakin beratnya perjuangan hidup, tentu dunia sangat membutuhkan banyak bantuan. Dan sadarkah anda, jika dengan sebuah senyum tulus yang berasal dari sukacita kita akan dapat meringankan beban orang banyak? This world needs us, and while we’re thinking what’s best to give, why don’t we just smile first?

Senyuman yang berawal dari sukacita bersumber dari Roh Kudus yang tinggal dalam setiap orang percaya.

5 pencarian oleh pembaca:

  1. ayat alkitab tentang senyum
  2. ayat alkitab tentang tersenyum
  3. ayat alkitab tentang senyuman
  4. ayat firman tuhan tentang senyuman
  5. ayat alkitab tersenyum
Tags : , , , , ,