Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Say Cheese

Ayat bacaan: Markus 7:6
=======================
“Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.”

say cheese“Say cheese…”, jepret, dan semua orang terlihat tersenyum bahagia. Itu sudah menjadi rutinitas dalam setiap kesempatan foto bersama. Tidak peduli apakah sedang sedih, sedang tidak mood, sedang marah, di dalam momen seperti itu senyum akan selalu diusahakan mengembang. Ada yang memang benar-benar sedang gembira, tapi tidak jarang pula orang memasang senyum palsu yang tidak keluar dari lubuk hatinya. Yang penting, hasil foto terlihat indah. Yang penting, semua terlihat bahagia. Maka “say cheese” pun menjadi sebuah keharusan dalam kesempatan foto bersama.

Dalam hidup kita memang terbiasa untuk menampilkan rona muka terbaik dalam berbagai kesempatan. Apakah itu untuk menjaga suasana sekeliling kita, agar terlihat baik di mata orang lain, atau tidak ingin membuat orang lain susah dan lain-lain, kita seringkali dituntut untuk selalu tersenyum dan terlihat bahagia. Dan ketika kita sedang dirundung duka, kita pun akan mengasingkan diri agar bisa menangis, tanpa harus mengeluarkan senyum yang terpaksa. Seorang teman berkata, paling enak berkomunikasi lewat fasilitas chatting, karena disana ada berbagai “smiley” yang bisa bertugas menggantikan suasana hati sebenarnya. Kita bisa tetap terlihat gembira meski suasana hati sedang galau. Kita tidak harus tersenyum betulan, icon smiley-lah yang akan membantu kita untuk urusan senyum-senyum ini. Ada banyak orang yang berlaku sangat ramah, tapi di dalam hatinya yang terjadi adalah sebaliknya. Semua ini merupakan hal-hal terjadi sehari-hari. Betapa kita terbentuk menjadi pribadi-pribadi yang semakin lama semakin mementingkan penampilan luar ketimbang memancarkan sesuatu yang murni dari dalam diri atau hati kita.

Jika dalam keadaan dunia itu seolah wajar, bagi Tuhan itu adalah hal yang sangat tidak bisa diterima. Tuhan sangat tidak suka kepalsuan ketika kita datang menghadapNya. Tuhan selalu ingin kita tampil apa adanya, memancarkan apa yang ada di dalam diri kita. Ingin memuji? menangis? tertawa? menyanyi? mengeluh? meminta? bertanya? Apapun itu yang sedang ada di dalam hati kita, itulah yang diinginkan Tuhan untuk kita bawa ke hadapanNya. Kepalsuan agar terlihat rohani di mata orang, agar terlihat paling suci, paling baik dan paling-paling lainnya tidak akan pernah berharga di mata Tuhan. Inilah kebiasaan buruk yang dipertontonkan para orang Farisi dan ahli-ahli Taurat di jaman Yesus. Dan lihatlah bagaimana kerasnya Yesus mengecam mereka semua dalam berbagai kesempatan. Betapa ironis, ketika mereka seharusnya menjadi teladan terdepan, tapi kemunafikan mereka justru merajalela dimana-mana.

Ambil contoh ketika orang Farisi dan ahli Taurat menyinggung masalah cuci tangan dalam Markus 7. Masalahnya sepele, tapi bagi Yesus hal itu sudah menunjukkan perilaku mereka yang lebih terfokus kepada adat istiadat dan tata cara ciptaan manusia ketimbang secara sungguh-sungguh mengarahkan seluruh diri mereka kepada Tuhan. “Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.” (Markus 7:6). Apa yang dikatakan Yesus ini mengacu kepada apa yang terdapat dalam kitab Yesaya: “Dan Tuhan telah berfirman: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan..” (Yesaya 29:13). Soal gaya berdoa, mereka jagonya. Soal durasi, pemilihan kata dan pengambilan posisi doa, mereka sungguh pintar. Tapi semua itu bagaikan lips service saja, yang sama sekali tidak berasal dari kesungguhan mereka mengasihi dan memuliakan Tuhan. Dan semua itu tidak akan membawa manfaat apa-apa di mata Tuhan alias sia-sia. “Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.” (Markus 7:7-8). Dan bagi orang-orang yang menomorsatukan kepalsuan seperti ini, firman Tuhan berkata demikian: “maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi.” (Yesaya 29:14). Hal ajaib, keajaiban yang menakjubkan bukan dalam artian positif, tapi justru sebaliknya, azab atau hukuman bahkan kebinasaanlah yang akan menimpa habis-habisan. Lihatlah bagaimana kerasnya Yesus mengecam para orang Farisi dan ahli Taurat ini dalam Lukas 11:37-54.

Tidak ada tempat bagi kepalsuan kita di hadapan Tuhan. Mengganti ekspresi wajah kita di dunia mungkin mudah, jauh lebih mudah ketimbang membenahi diri kita secara sungguh-sungguh dari dalam. Tapi ketahuilah bahwa untuk bisa memuliakan Tuhan dengan benar dibutuhkan kesatuan dari hati, jiwa dan raga kita. Hanya kesatuan dari segenap diri kita inilah yang akan bisa membuat apa yang kita bawa ke hadapan Tuhan berharga di mataNya. Bukan hanya di bibir saja tapi hati kita melenceng ke hal lain, bukan hanya di gaya saja tapi fokus kita malah menjauh dari Tuhan. Bahkan dalam situasi tertekan atau berbeban berat sekalipun, kita seharusnya bisa terus bersyukur atas kebaikan Tuhan dan percaya bahwa pada saatnya Dia sendiri yang akan membebaskan kita. Dan itu akan membuat kita mampu menampilkan sebuah senyum yang tulus, yang asli berasal dari hati kita. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23). Hati yang mengasihi Tuhan dan dipenuhi iman yang percaya penuh akan mampu memancarkan sebuah sinar kehidupan penuh sukacita yang sesungguhnya. Hari ini, satukanlah segenap diri kita, tubuh, jiwa dan roh untuk menyembah Tuhan secara sungguh-sungguh. God is worthy of a genuine praise like that.

Kepalsuan tidak akan pernah berharga di mata Tuhan

Incoming search terms:

Senyum dan Sukacita

Ayat bacaan: 2 Kor 7:4
==================

“…Dalam segala penderitaan kami aku sangat terhibur dan sukacitaku melimpah-limpah.”

Tadi siang salah satu mahasiswa bimbingan saya menghadapi sidang. Dalam presentasinya dia kelihatan super gugup sampai2 mukanya pucat. Setelah sidang selesai, saya bertanya pada dia, apa yang menyebabkan dia sampai begitu gugupnya. Dan katanya, ada satu dosen penguji yang senyumnya bikin down. Loh, bikin down gimana? katanya senyum yang terasa mengintimidasi, sehingga dia kehilangan kepercayaan diri. Saya berpikir, bahkan sebuah senyum pun bisa membuat orang kehilangan percaya diri instan. Benar juga ya.. senyum itu bisa muncul dalam berbagai bentuk, sifat dan alasan, juga dapat memberi pengaruh yang berbeda2. Ada senyum yang menenangkan, ada yang menyenangkan, ada yang penuh kasih.. tapi ada juga yang kecut,terasa pura2, sinis, senyum menyeringai, kejam dan lain2. Iseng, saya pun menanyakan lagi pada bimbingan saya itu, “tapi saya kan senyum2 juga selama sidang? berarti mengintimidasi juga dong? Dia menjawab, “beda pak… senyum bapak sebaliknya, selalu bikin tenang.” Puji Tuhan… artinya senyum yang selama ini keluar dari rasa sukacita di hidup saya tidak diartikan berbeda di dunia.

Senyum yang berasal dari sukacita… Sukacita adalah salah satu buah Roh (Gal. 5:22),
anugerah Kristus (Yoh. 15:11), dan salah satu elemen dalam Kerajaan Allah (Rm. 14:17). Bentuk sukacita ini sulit didefenisikan secara manusia, karena prosesnya memang berasal dari Tuhan. Sukacita tidak akan terpengaruh oleh kondisi kehidupan, karena rasa sukacita ini memancar keluar dari dalam. Maka, seseorang yang bersukacita akan dapat tersenyum dalam badai, angin ribut, atau gelombang hidup sekalipun. Lihatlah rasul Paulus yang kaya dalam penderitaan, biar bagaimanapun ia tetap mengakui bahwa ia mempunyai sukacita melimpah.

Saya teringat salah satu cerita dari kotbah salah seorang pendeta di gereja saya. Ada seorang pengusaha yang sedang berlibur ke kota lain. Pada hari minggu dia bermaksud mencari gereja terdekat dari hotelnya, dan ketika dia melihat seorang polisi, dia pun meminta informasi dimana dia dapat beribadah. Polisi itu berkata, ada banyak gereja disekitar hotel, tapi menganjurkan satu gereja yang letaknya justru paling jauh dari lokasi. Maka si pengusaha bertanya, mengapa polisi itu memilih gereja yang jauh itu? Sang polisi berkata, “saya memang bukan Kristen, tapi saya selalu melihat orang2 yang keluar dari gereja itu sepertinya orang2 yang paling bahagia. Mereka selalu tersenyum gembira. Mungkin gereja seperti ini yang anda cari.”

Betapa indahnya senyum yang keluar dari ungkapan rasa sukacita. Di saat-saat penuh kesulitan, ketidakstabilan dan semakin beratnya perjuangan hidup, tentu dunia sangat membutuhkan banyak bantuan. Dan sadarkah anda, jika dengan sebuah senyum tulus yang berasal dari sukacita kita akan dapat meringankan beban orang banyak? This world needs us, and while we’re thinking what’s best to give, why don’t we just smile first?

Senyuman yang berawal dari sukacita bersumber dari Roh Kudus yang tinggal dalam setiap orang percaya.

Incoming search terms: