Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Tandem

Ayat bacaan: Amsal 16:3
================
“Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.”

tandemJika anda penggemar sepakbola, anda tentu memiliki tandem-tandem favorit yang perpaduannya bisa mendatangkan maut bagi lawan di lapangan hijau. Striker bisa banyak, tetapi ketika seorang striker dipadu dengan pasangan “sehati” nya dalam bermain, maka mereka bisa menjadi momok yang sangat menakutkan. Kehebatan pasangan sejati di lapangan sepak bola ini biasanya terlihat dari bagaimana mereka bisa mengetahui bola-bola yang disukai pasangannya sehingga mereka tahu bagaimana harus mengumpan, atau mereka bisa mengetahui pergerakan pasangannya dan dengan demikian tahu kemana mereka harus mengarahkan bola. Tandem seperti ini seringkali bisa membuat perbedaan dalam bermain, dan mereka akan terlihat timpang apabila tampil tidak dengan pasangannya. Tidak hanya striker, tapi pemain tengah atau bertahan pun akan tampil beda ketika mereka bermain dengan tandemnya. Mereka akan lebih tangguh dan kokoh sehingga tidak mudah untuk ditembus. Dalam level kompetisi liga atau pertandingan membawa nama negara tandem-tandem legendaris selalu datang dan pergi, dan kita mengenal mereka bukan hanya dari skill bermain tetapi juga chemistry yang solid dengan pasangan masing-masing.

Saya mengawali renungan hari ini dengan tandem sepak bola, karena dalam hidup ini pun kita memerlukan tandem yang bisa membawa perbedaan dalam mencapai keberhasilan. Seringkali kita berpikir bahwa kita sanggup melakukan segalanya sendirian, kita tidak butuh siapapun, dan yang lebih menyedihkan lagi, kita tidak merasa membutuhkan Tuhan sebagai partner atau tandem kita dalam meniti setiap jenjang kehidupan. Padahal Tuhan selalu rindu untuk berpasangan dengan kita, untuk membawa kita dari satu keberhasilan kepada keberhasilan berikutnya. Sayangnya hanya sedikit orang yang menyadari hal ini. Kebanyakan orang lebih tertarik untuk memutuskan segala sesuatu sendiri, menganggap mereka yang paling tahu apa yang terbaik buat mereka. Dalam skema rencana banyak orang, Tuhan tidak termasuk penting di dalamnya. Dan ironisnya, ketika rencana itu gagal, Tuhan malah yang dipersalahkan. Mungkinkah bertandem dengan Tuhan? Tentu saja, mengapa tidak? Kita bisa melihat tokoh-tokoh yang dengan jelas dikatakan “bergaul karib” dengan Tuhan bahkan menjadikan Tuhan sebagai Sosok Sahabat dalam hidup mereka. Lihatlah bagaimana Musa bisa “berhadapan muka (dengan Tuhan) seperti seorang berbicara kepada temannya” (Keluaran 33:11), Abraham yang dikatakan sebagai sahabat Tuhan (2 Tawarikh 20:7) atau Henokh yang disebut begaul dengan Allah selama ratusan tahun (Kejadian 5:22,24). Dan kita melihat bagaimana kualitas mereka sebagai manusia menjadi begitu istimewa ketika memiliki partner Tuhan sendiri.

Tuhan membuka kesempatan seluas-luasnya bahkan menantikan untuk membina sebuah hubungan erat dengan kita. Dan sebagai teman, Tuhan siap menyingkapkan apa saja yang menjadi rencana terbaikNya bagi kita. Lihatlah ayat berikut ini: “TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.” (Mazmur 25:14). Sebagai Sang Pencipta, tentu saja Tuhan yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita. Dan yang terbaik adalah jelas, menyelaraskan rencana kita dengan apa yang menjadi rencana Tuhan, dan melibatkanNya dalam setiap proses. Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita, tetapi sudahkah kita tahu apa yang Dia mau untuk kita lakukan? Sudahkah kita tahu apa rencanaNya buat kita dan bagaimana untuk mencapainya? Sudahkah kita peduli terhadap isi hati Tuhan? Tandem tidak akan menghasilkan apa-apa jika mereka bermain sendiri-sendiri. Tandem tidak akan sukses jika keduanya saling tidak mengenal, dan seperti itu pula hubungan kita dengan Tuhan. Tuhan mengenal kita, maka kita pun harus mengenalNya agar bisa membangun sebuah hubungan yang intim dan harmonis.

Firman Tuhan mengatakan “Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.” (Amsal 16:3). Ini adalah sebuah kunci penting untuk bisa mencapai keberhasilan. Tuhan harus dilibatkan dalam apapun yang kita lakukan, dan kita pun harus menjauhi segala sesuatu yang tidak sejalan dengan keinginan atau rencanaNya. Artinya jelas, “Manusia dapat membuat rencana, tetapi Allah yang menentukan jalan hidupnya.” (ay 9:BIS). Apa yang direncanakan Tuhan jelas yang terbaik, dan dengan mengikuti itu sambil terus melibatkan Tuhan di dalamnya maka kita akan bisa menggenapi satu persatu rencana Tuhan bagi kita dan terus berhasil, mulai dari pencapaian-pencapaian kecil hingga besar. Jika anda meluangkan waktu untuk membaca Ulangan 28:1-14 maka anda akan bertemu dengan skema luar biasa yang direncanakan Tuhan bagi setiap anak-anakNya. Demikian pula jika anda mau membagi waktu untuk merenungkan Yosua 1:1-18, dan banyak janji Tuhan lainnya. Kita butuh tahu apa yang menjadi keinginan Tuhan untuk kita lakukan, dan lihatlah bagaimana Tuhan melimpahi kita. Selain janji-janji yang sangat besar itu, Tuhan pun memberi jaminan akan penyertaanNya sebagai partner terbaik/sejati bagi kita. Anda bisa melihat itu dalam banyak ayat, misalnya dalam Keluaran 23:22-23, Yesaya 41:10, Ulangan 31:6, Ibrani 13:5, Matius 28:20 dan sebagainya. Bahkan Tuhan menyatakan bahwa Dia yang akan turun berperang dalam setiap pergumulan kita. (2 Tawarikh 20:15). Semua ini akan luput dari bagian kita apabila kita tidak mulai membangun hubungan yang baik dengan Tuhan. Mendengar suaraNya, mengetahui isi hatiNya dan membuka diri dalam membina persahabatan yang harmonis dengan Tuhan.

Tuhan selalu menanti kita untuk menyambut uluran tanganNya. Dia selalu siap untuk menjadi sahabat sejati kita, bersama dengan kita dalam menghadapi apapun dalam hidup ini, berjalan melewati satu keberhasilan menuju kepada keberhasilan berikutnya. Masalahnya, apakah kita siap untuk menjadikan Tuhan sebagai tandem sejati kita? Dengarlah apa yang menjadi rencana Tuhan bagi anda, dan libatkan Tuhan dalam setiap proses di dalamnya. Anda akan melihat sebuah perbedaan nyata dari setiap langkah yang anda ambil.

It will make a difference when you’re pairing with God 

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Menyatakan Kepedulian

Ayat bacaan: Filipi 2:2-3
===================
“karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri

kepedulianTeknologi seharusnya semakin mempermudah kita dalam berhubungan dengan orang lain, tetapi yang terjadi seringkali sebaliknya. Kita tidak lagi menganggap penting untuk bertemu karena toh bisa digantikan dengan telepon atau bahkan sms dalam karakter yang diusahakan sesingkat-singkatnya agar lebih hemat. Jika dulu kita memilih untuk bertemu dan memberi ucapan secara langsung pada momen-momen khusus tertentu, sekarang email, jejaring sosial maupun telepon genggam bisa menggantikan semua itu, bahkan kepada orang yang tinggalnya tidak jauh dari kita. Manusia menjadi semakin individualis dan egois. Akibatnya dunia menjadi semakin dingin dan jauh dari kesan hangat. Tanpa sadar kita orang percaya malah ikut-ikutan terkontaminasi dengan kecenderungan dunia. Membangun kubu-kubu, mempertegas garis batas perbedaan dan tidak lagi peka terhadap kepentingan orang lain. Kepada saudara-saudara seiman atau satu gereja saja sudah begitu, apalagi kepada orang lain di luar. Ketika kasih kita seharusnya bisa menjangkau orang asing atau bahkan musuh sekalipun, saat ini yang terjadi justru jauh dari itu. Bahkan untuk peduli kepada orang-orang terdekat sekalipun sudah merupakan sesuatu yang sulit bagi kebanyakan orang.

Dunia memang cenderung untuk terus membentuk manusia untuk bertambah egois dengan lebih mementingkan diri sendiri di atas segalanya. Orang terus merasa kekurangan dan merasa perlu terus menimbun. Mereka mengira bahwa kebahagiaan dan keamanan tergantung dari berapa besar harta yang dimiliki. Maka tidak heran ketika kita mendengar banyak orang yang berkata dengan mudahnya: “jangankan mengurusi orang lain dulu, untuk diri sendiri saja belum cukup.” Dunia boleh saja semakin cenderung kepada gaya hidup individualis dan egois, tetapi lihatlah apa kata firman Tuhan yang berbicara sebaliknya. “karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.” (Filipi 2:2-3). Sehati, sepikir, satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, itu menggambarkan panggilan untuk bersatu dan bertindak bersama-sama seperti yang telah saya sampaikan dalam renungan kemarin. Selanjutnya lihatlah bahwa kita pun diminta untuk bersikap rendah hati dengan mengedepankan atau mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri. Sesungguhnya ini merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh orang-orang percaya, karena kasih yang kita miliki seharusnya mampu membuat kita untuk peduli kepada orang lain dan tidak berpusat kepada kepentingan diri sendiri. Ayat selanjutnya kemudian berkata “dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (ay 4). Kemarin kita sudah melihat penggalan doa Yesus yang mengangkat kerinduanNya akan persatuan di antara orang percaya sebagai hal yang menurut Yesus akan sangat menentukan seberapa besar dunia bisa percaya kepada Kristus: “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yohanes 17:21). Tidak kalah penting juga semangat dan cara pandang kita dalam menyikapi kepentingan orang lain dibanding kepentingan diri sendiri. Jika kita masih terus bersikap egois dan tidak peduli kepada orang lain, bagaimana mungkin orang bisa mengenal pribadi Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kita dengan benar?

 Peduli kepada orang lain seringkali tidak cukup hanya sebatas kata-kata, tetapi sebuah perbuatan pun diperlukan untuk membantu mereka secara nyata. Kerinduan untuk memberi bukanlah tergantung dari seberapa besar harta milik kita, tetapi seberapa besar kepedulian kita terhadap penderitaan orang lain. Dan seringkali tidak perlu jauh-jauh untuk itu, karena disekitar kita pun ada banyak yang orang yang membutuhkan uluran tangan kita. Dan Firman Tuhan pun mengajarkan kita untuk mau memberi dengan sukacita. “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:38). Dengan demikian, jelas tidak pada tempatnya jika kita berharap Tuhan mencurahkan berkatNya kepada kita tetapi kita tidak peka sama sekali dengan penderitaan orang lain. Kasih yang dicurahkan dari Surga harusnya mampu membawa kita untuk memiliki belas kasih kepada orang lain, bukan saja yang kita kenal tetapi juga pada yang asing bagi kita. Begitu pentingnya hingga dikatakan “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.” (Amsal 19:17). Memiutangi Tuhan, itu menggambarkan betapa pentingnya bagi kita untuk membantu dan memberi kepada yang kekurangan, sekaligus menunjukkan betapa besarnya Tuhan menghargai setiap anakNya yang memiliki rasa belas kasih dan mau menjalankannya secara nyata.

Firman Tuhan mengatakan bahwa Tuhan akan membalas setiap orang sesuai perbuatannya. “yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman.” (Roma 2:7-8). Hidup kekal kepada yang tekun berbuat baik dan hidup dalam kebenaran, tetapi murka dan geram kepada orang-orang yang sibuk mementingkan diri sendiri dan tidak peduli kepada penderitaan orang lain. Kerajaan Tuhan tidak akan bisa dinyatakan di dunia tanpa adanya kepedulian dari kita terhadap orang lain. Ketika dunia mengarah kepada bentuk-bentuk individualis dan egoisme, janganlah kita malah terseret ikut di dalam arusnya. Kita harus bisa menunjukkan perbedaan sebagai anak-anak Tuhan dan sahabat-sahabat Kristus, sehingga orang bisa melihat siapa Yesus itu secara benar. Menyambung apa yang sudah saya sampaikan kemarin, marilah kita bersatu dan bersama-sama memberi karya nyata di dunia, keluar dari batas-batas tembok gereja dan menjadi terang dan garam bagi sesama. Hanya dengan demikianlah kita bisa menyatakan besarnya kasih Tuhan kepada seluruh manusia.

Nyatakan kasih Kristus kepada dunia melalui perbuatan nyata untuk menolong orang lain

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

Representasi Yesus

Ayat bacaan: Kis 2:46-47
========================
“Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.”

Seorang sales representative dalam sebuah perusahaan punya peran penting. Mereka bertugas menjamin kepuasan pembeli/klien, memastikan para klien mengerti akan fungsi dan kegunaan produk2 perusahaan, dan mampu menjawab segala pertanyaan klien sehubungan dengan produk2 yang ditawarkan. Mereka biasanya paham betul mengenai hal2 seputar produk, baik proses produksinya, manfaat dari produk2 tersebut dan disisi lain mampu mewakili perusahaannya dengan baik.

Analogi yang hampir mirip juga dalam kehidupan Kristiani. Sebagai anak2 Tuhan, murid2 Yesus yang tahu bagaimana kasih Yesus dalam hidup kita, tentu kita ingin lebih banyak jiwa diselamatkan. Terutama bagi teman2 yang mungkin pernah membaca beberapa buku mengenai beberapa orang yang mendapat pewahyuan dan diberi kesempatan untuk melihat seperti apa mengerikannya siksa kekal di neraka. Pertanyaannya sekarang, sudahkah kita merepresentasikan kehidupan Kristiani yang benar dalam kehidupan kita sehari2? Apakah lewat hidup kita orang sudah bisa melihat bagaimana kuasa Roh Kudus selalu memenuhi hidup kita dengan damai dan sukacita? bisakah orang melihat bagaimana berkat2 tercurah dari surga turun pada kita? sudahkah kita menjadi terang di lingkungan kita?

“Life is like an open book, each day is a page for people to look.” Itu sebuah quote yang pernah saya baca dan tetap saya ingat. Sadar atau tidak, setuju atau tidak, suka atau tidak, segala gerak gerik,sikap, tingkah laku, perbuatan dan tutur kata kita dalam hidup ini tidak pernah lepas dari pengamatan orang lain. Bayangkan apabila keberadaan kita bukannya menjadi terang, tapi disukai juga tidak. Bayangkan jika kita mengaku sebagai murid Yesus, tapi kehidupan keluarga kita dipenuhi pertengkaran. Jika ini yang terjadi, tidak akan ada yang bisa melihat bukti nyata akan luar biasanya menjadi murid Yesus.

Tuhan ingin pakai siapapun untuk menjadi wakilnya di dunia ini. Anda dapat menjadi saksi dalam apapun profesi anda. Seorang pejabat kristiani seharusnya beda dari pejabat lain. Seorang mahasiswa kristiani harusnya beda dari mahasiswa lain. Pengusaha kristiani harusnya beda dari pengusaha lain, dan seterusnya. Iman kristiani yang benar haruslah bisa nyata dalam kehidupan sehari2, baik melalui tingkah laku, perbuatan, tutur kata maupun gerak gerik kita. Ini saatnya kita berbenah, hidup kudus dan benar, sehingga kehidupan kita bisa menjadi berkat bagi orang2 disekeliling kita.

Mari kita buktikan bahwa hidup bersama Yesus memang beda!