Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Bahasa Kasih Tuhan

Ayat bacaan: 1 Yohanes 4:21
=======================
“Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.”

bahasa kasihBeberapa waktu lalu saya membelikan istri saya seikat bunga mawar segar. Say it with flowers, begitu kata orang, dan saya pikir bunga mawar yang indah bisa menjadi perantara yang tepat untuk mengungkapkan cinta. Ia terlihat senang menerimanya dan segera memasukkannya ke vas bunga. Tetapi ternyata hanya sampai disitu saja, karena kemudian ia tidak lagi memperhatikan bunga itu sampai layu. Dari situ saya pun sadar bahwa bahasa kasih orang ternyata berbeda. Saya pikir bunga merupakan bahasa yang universal untuk menyatakan cinta, tetapi ternyata tidak. Istri saya memiliki bahasa kasih bukan dalam bentuk pemberian, tetapi ia lebih mementingkan perhatian, kepedulian dan keberadaan saya di dekatnya. Mau mendengarkannya, ada bersamanya ketika ia butuhkan, itulah yang akan membuatnya merasa dicintai. She’s far more interested in my time and attention more than anything else. Itulah bahasa kasihnya. Jika saya meluangkan waktu untuknya tanpa gangguan, jika saya berada didekatnya, ngobrol, jalan-jalan atau nonton bersama, itulah saat ia merasa benar-benar dikasihi.

Bahasa kasih orang berbeda-beda. Ada yang merasa dikasihi lewat pemberian/hadiah, ada yang butuh pujian/pengakuan, ada yang bahasa kasihnya berbentuk pelukan atau belaian, ada pula yang seperti istri saya lewat perhatian dan kepedulian. Bayangkan jika dua orang berbeda bahasa dipaksa berbicara satu dengan yang lain, komunikasi pastilah akan sulit berjalan. Seperti itu pula bahasa kasih. Agar kita bisa menyampaikan atau mengekspresikan rasa cinta kita secara maksimal, kita harus mengetahui bahasa kasih mana yang dipakai oleh pasangan kita.

Pernahkah anda berpikir bahasa kasih Tuhan seperti apa? Pernahkah anda berpikir apa yang Tuhan mau kita lakukan untuk menunjukkan kasih kita kepadaNya? Kita bisa melihatnya dalam 1 Yohanes 4:7-21. Perikop ini bertajuk Allah adalah kasih.” Disini Yohanes menguraikan panjang lebar mengenai bagaimana hubungan yang seharusnya antara Tuhan dan manusia atas nama kasih. Yohanes membuka bagian ini dengan sebuah ajakan penting: “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (ay 7-8).  Kasih bukan hanya karakter Allah, tetapi Allah adalah kasih itu sendiri. Yohanes lalu mengingatkan, “Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.” (ay 11). Pada dua ayat berakhir kita baca: Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (Ay 20) lalu “Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.” (ay 21). Firman ini jelas. Kita tidak bisa mengatakan mengasihi Allah sambil menyimpan kebencian dari sesama kita. That shows that we’re a liar, kata Firman Tuhan. Mengaku mengasihi Tuhan tetapi membenci orang lain tidaklah bisa berjalan bersamaan. Ternyata Tuhan akan merasa dikasihi lewat seberapa besar kita mengasihi saudara-saudara kita. He will feel our true love to Him by our willingness to love the others.Itulah bahasa kasih Tuhan.

Ada banyak orang yang mengaku mengasihi Tuhan. Mereka menyampaikannya lewat begitu banyak cara, gaya dan pola. Ada yang menunjukkannya lewat doa yang panjang-panjang, lewat kerajinan beribadah dan lain-lain. Tetapi perhatikanlah bahwa semua itu tidak akan ada gunanya apabila kita tidak mengasihi saudara-saudara kita dan masih menyimpan kebencian, bahkan terlalu mudah untuk menghakimi. Merasa tata caranya paling benar lalu menghina atau menghujat sesama saudara dalam Kristus yang berbeda gereja, itu menunjukkan bahwa kita belumlah mengasihi Tuhan, meski mungkin kita begitu rajin beribadah dan berdoa setiap saat. If you do that, the Bible said, “you’re a liar” (1 Yohanes 4:20). Pointless, useless. Meskipun rajin beribadah dan memuji Tuhan itu sangat baik, tapi tanpa mengasihi sesama maka kita tidak akan pernah berhak mengaku bahwa kita mengasihi Tuhan. Dua perintah Yesus yang terutama pun mengaitkan antara mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. (Bacalah Matius 12:28-34). Kata kuncinya adalah kasih. Itu merupakan esensi yang paling mendasar. Mengapa? Sebab Allah adalah kasih itu sendiri. God, is love. Itu jauh lebih berharga di mata Tuhan ketimbang segala tata cara peribadatan, segala yang hanya mementingkan penampilan luar dan sebagainya. Hati yang mengasihi orang lain, itulah yang bisa membuat Tuhan bisa merasa kita kasihi dengan sungguh-sungguh. That’s His language of love. Belajarlah mulai sekarang untuk memperbesar aliran kasih untuk menjangkau saudara-saudara kita. Hindari bentuk-bentuk ejekan, hinaan, sindirian atau kebencian terhadap saudara sendiri, karena Tuhan Yesus pun tidak pernah mengajarkan hal seperti itu. Dia justru ingin semua anggota tubuhNya bersatu, tidak tercerai berai. We’re a liar if we say we love Him but still hating each other at the same time. Do you love God? If so, love your brothers.

Tuhan mengetahui kita mengasihiNya dengan sungguh-sungguh ketika kita mengasihi saudara kita dengan sungguh-sungguh pula

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

Mencintai Firman Tuhan

Ayat bacaan: Mazmur 119:97
========================
“Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari.”

mencintai firman Tuhan, taurat TuhanAnda pernah jatuh cinta? Jika pernah, tentu anda tahu bagaimana rasanya. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, begitu kata orang. Kita gelisah ketika jauh, rasa rindu akan segera menyerang begitu kita berpisah meski hanya untuk waktu yang singkat. Setiap saat kita ingin bertemu, mendengar suaranya, melihat wajahnya dan menghabiskan waktu bersama dengan orang yang kita cintai. Rasa cinta bisa begitu dalam hingga kita rela mengorbankan apapun untuk itu. Bagaikan magnet yang akan selalu berusaha menarik satu sama lain, seperti itu pula rasanya ketika cinta tengah melanda diri kita dan orang yang kita kasihi.

Sebuah ungkapan cinta ditulis lengkap oleh Daud dalam Mazmur 119. Bukan kepada seseorang, tetapi tentang rasa cintanya yang begitu besar kepada firman Tuhan. Tidak hanya dalam Mazmur 119 saja, tetapi jika kita melihat isi dari kitab Mazmur, maka kita akan menemukan ada begitu banyak ayat yang menyatakan kecintaan sang Penulis terhadap firman Tuhan. Tapi hari ini mari kita melihat pasal 119 yang sangat panjang ini. Disana Daud melukiskan dengan indah mengenai rasa cintanya dan apa yang ia peroleh dari taurat Tuhan yang sangat ia cintai itu. Dengan lantang Daud berseru: “Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari.” (Mazmur 119:97).

Layaknya rasa cinta yang tidak asing lagi bagi kita, Daud pun merasakan hal seperti itu terhadap firman Tuhan. Bagi Daud, merenungkan dan melakukan firman Tuhan bukanlah sebuah paksaan, bukan sebuah kewajiban semata dan bukan pula beban, melainkan sebuah kesukaan yang didasari rasa cinta. Ia terus merindukan firman Tuhan hingga ia menyatakannya dengan “merenungkannya sepanjang hari”, dan di awal kitab Mazmur ia mengatakan merenungkannya “siang dan malam”. Inilah bentuk kecintaan Daud yang luar biasa besarnya terhadap firman Tuhan. Mengapa ia bisa jatuh cinta sedemikian dalam? Daud menemukan begitu banyak hal yang membuktikan keampuhan firman Tuhan. Mari kita lihat beberapa diantaranya hanya dengan fokus kepada pasal 119 saja.

- Daud tahu bahwa firman Tuhan itu memberi kehidupan. “Untuk selama-lamanya aku tidak melupakan titah-titah-Mu, sebab dengan itu Engkau menghidupkan aku.” (ay 93)
- Firman Tuhan membuatnya lebih bijaksana. “Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku.” (ay 98)
- Firman Tuhan membuatnya lebih berakal budi. “Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan.” (ay 99)
- Ia menjadi lebih paham dari orang-orang tua yang bijaksana sekalipun. “Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua, sebab aku memegang titah-titah-Mu.” (ay 100)
- Ia menjadi lebih mampu menahan diri dari segala godaan tindak kejahatan. “Terhadap segala jalan kejahatan aku menahan kakiku, supaya aku berpegang pada firman-Mu.” (ay 101).
- Ada janji yang manis yang mampu memberikan penghiburan dikala susah. “Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku.” (ay 103)
- Firman Tuhan memberi pengertian sehingga ia tahu apa yang dibenci Tuhan. “Aku beroleh pengertian dari titah-titah-Mu, itulah sebabnya aku benci segala jalan dusta.” (ay 104)
- Firman Tuhan mampu mengarahkan masa depannya ke arah yang diinginkan Tuhan. “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (ay 105)

Dan ada banyak lagi kuasa firman Tuhan yang akan sangat berguna bagi diri kita, baik saat ini maupun untuk masa depan kita kelak. Singkatnya, Daud tahu pasti bahwa ada kerugian besar yang akan kita derita apabila kita tidak hidup bersama firman Tuhan.

Di dalam firman Tuhan ada banyak janji, petunjuk, nasihat, tuntunan, hikmat dan teguran. Di dalam firman Tuhan ada kuasa yang ampuh untuk kesembuhan, pemulihan, berkat dan tentu saja keselamatan. Secara singkat Daud mengatakan seperti ini: “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik… tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:1-3). Alangkah ruginya apabila kita hari ini masih menganggap menggali firman Tuhan itu sebagai sesuatu yang membosankan. Bagaimana dengan anda? Seberapa besar cinta anda akan firman Tuhan hari ini? Apakah membaca Alkitab, membaca, merenungkan, memperkatakan dan melakukannya sudah menjadi kerinduan bagi anda? Apakah menggali firman Tuhan merupakan sebuah kesukaan yang didasari rasa cinta atau malah beban? Tuhan siap berbicara menyingkapkan banyak hal kepada anda hari ini, Dia rindu untuk menyampaikan banyak hal kepada anda sekarang juga, dan anda bisa memperolehnya lewat firman Tuhan yang hidup. Seperti Daud, hiduplah bersama firman Tuhan dan temukan segala tuntunan Tuhan yang akan mampu membuat hidup kita jauh lebih baik, seturut rencanaNya dan akan mengarahkan kita kepada jalan yang telah Dia persiapkan bagi kita.

Firman Tuhan merupakan kabar dari Tuhan yang memerdekakan

Mengasihi

Ayat bacaan: 1 Yohanes 4:11
========================
“Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.”

mengasihi, valentineSeberapa jauh kita peduli terhadap penderitaan orang lain? Boleh jadi kita memimpikan sebuah keadaan yang aman, tentram dan damai. Tidak ada peperangan, tidak ada kebencian, tidak ada kejahatan, tapi kita lupa untuk melihat ke sebelah. Pikiran kita pergi terlalu jauh padahal yang dekat kita lupakan. Mungkin tetangga di sebelah sedang butuh bantuan, mungkin teman kita ada yang butuh didengar, kita tidak menghiraukan mereka padahal keberadaan mereka begitu dekat dengan kita. Pengemis dan gelandangan di jalan yang setiap hari kita lewati tidak pernah kita hiraukan. Jika tidak memulai dari yang kecil, bagaimana kita bisa memimpikan yang besar? Tidak selalu butuh sesuatu yang besar untuk melakukan perubahan, karena lewat hal-hal sederhana pun sebenarnya kita bisa membuat sesuatu untuk itu. Kuncinya adalah kasih.

Bayangkan betapa gersangnya hidup tanpa cinta. Cinta atau kasih seringkali mampu membuat perubahan. Rasa cinta bisa membuat kita bertahan, membuat kita tetap tegar ditengah kesesakan, membuat kita lebih kuat menghadapi apapun. Seperti yang saya katakan kemarin, kita harus menyadari bahwa cinta atau kasih itu adalah sebuah anugerah yang sangat indah yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Kita ingin Tuhan selalu mengasihi kita, tapi kita sendiri merasa terlalu sibuk untuk mengasihi Tuhan. Dan kita lupa untuk menjadi saluran berkat mengasihi sesama kita.

Valentine Day is the day of love. Jika kemarin saya mengajak anda semua untuk memberikan sebuah perhatian khusus di hari kasih sayang kepada pasangan anda atau orang-orang terdekat yang anda sayangi, hari ini saya mengajak anda untuk melihat dari sudut yang lebih luas. Kasih yang dikaruniakan Tuhan kepada kita sesungguhnya begitu besar dan tidak terbatas. Betapa egoisnya kita jika semua itu hanya kita telan sendiri tanpa dibagikan kepada saudara-saudara kita yang lain. Kita seringkali terlalu sibuk menikmati berkat dan tidak mau membagikannya kepada orang lain. Kekristenan tidak mengajarkan hal seperti itu. Kita diberkati untuk memberkati, kita dikasihi untuk mengasihi, dan kita diselamatkan untuk menyelamatkan. Selalu ada keterkaitan yang erat antara hubungan vertikal antara kita dengan Tuhan dan hubungan horizontal antara kita dengan sesama. Bersyukurlah jika hari ini kita diberikan kebahagiaan setidaknya lewat kasih dan perhatian orang-orang yang dekat dengan kita. Tapi di luar sana, ada banyak orang yang begitu merindukan kasih dan perhatian. Hidup sebatang kara, tidak ada yang peduli atau bahkan tertolak. Tidakkah indah jika kita mau membagikan kasih itu kepada mereka, agar mereka pun bisa merasakan hangatnya dicintai?

Tuhan terus mencurahkan kasihNya kepada kita. Itu tidak akan pernah ada habisnya. Karena itu kita tidak perlu takut kehabisan dan hanya mau menyimpannya sendiri. Jika kita menyadari bahwa Allah mengasihi kita, maka tidak bisa tidak kita harus pula mengasihi orang lain. Seperti apa yang dikatakan Yohanes: “Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.” (1 Yohanes 4:11). Dan hanya dengan saling mengasihilah Allah akan tetap berada di dalam kita, dengan kasihNya yang menjadi sempurna pula di dalam diri kita. (ay 12). Kasih merupakan inti dari kekristenan. Betapa ironisnya jika kita mengaku sebagai pengikut Kristus tapi tidak menunjukkan kasih Kristus itu kepada orang lain lewat diri kita.

Mengapa kita harus menyatakan kasih? Sebab kasih merupakan wujud dari Allah sendiri. “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (ay 8). Yohanes pun mengingatkan “Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” (ay 16). Pergunakanlah hari ini untuk memberikan perhatian khusus, ucapan atau ungkapan kasih kepada orang-orang yang anda kasihi. Tidak saja pasangan anda, tapi juga kepada orang lain. Orang tua, saudara, kakek/nenek dan sebagainya. Jangan berhenti sampai disitu, tapi perluaslah saluran kasih anda untuk menyentuh orang lain. Dalam bentuk perhatian, bantuan, kepedulian atau sekedar senyum tulus, itu semua akan sangat berharga bagi mereka. Ada banyak orang yang haus akan kasih sayang, ada banyak orang yang tidak memperoleh kasih sayang dari orang tuanya, ada banyak keluarga berantakan, orang yang hidupnya susah dan sebagainya. Betapa baiknya jika hari kasih sayang tidak hanya dirayakan bersama orang-orang terdekat saja, tapi mampu pula menyentuh banyak orang secara luas. Seperti itulah Yesus mengharapkan kita. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34)

 Jangan berhenti hanya pada kekasih atau pasangan hidup saja, hanya pada keluarga, tapi keluarlah untuk menyalurkan kasih dan terang Kristus kepada sesama kita. Alangkah indahnya jika momen ini bisa dipakai untuk menyatakan kasih dan kepedulian kepada sesama kita secara luas. Alangkah indahnya jika hari spesial ini bisa dijadikan sebuah momentum untuk membagikan kasih yang telah kita terima dari Tuhan sendiri kepada orang lain. Selain itu, adalah baik pula jika kita memanfaatkan hari kasih sayang ini untuk memperbaiki hubungan dengan seseorang yang mungkin sedang mengalami keretakan. It’s time to share the love, it’s the right moment to give love. Let’s celebrate the day of love by sharing God’s love to each other.

Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. (1 Yohanes 4:7)

Incoming search terms:

Kehilangan Kasih Mula-Mula (5) : Rutinitas

Ayat bacaan: Yesaya 29:14-15
=======================
“Dan Tuhan telah berfirman: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi.”

kehilangan kasih mula-mula, ibadah hanya rutinitasDi saat orang pertama kali jatuh cinta, mereka akan merasakan segala-galanya sangat indah. Yang paling pahit pun terasa manis. Segala kekurangan pasangannya akan dirasa seperti sebuah kelebihan dengan perasaan cinta yang meluap-luap. Semua hal yang dapat menyenangkan kekasih akan dilakukan dengan penuh semangat dan kebahagiaan. Itu hal yang biasa kita jumpai ketika orang yang baru jatuh cinta. Pada suatu saat ketika sebuah hubungan berjalan sebagai sebuah rutinitas dari hari ke hari, perlahan orang akan mulai kehilangan rasa cinta yang meluap-luap seperti di awal. Tidak lagi ada gairah disana, tidak lagi ada semangat dan hasrat untuk melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya demi orang yang kita cintai, tapi hanya didasarkan semata-mata karena itu adalah sebuah kewajiban. Ketika pertama kali lahir baru, kita pun mengalami cinta yang meluap-luap pada Kristus. Kita akan sangat termotivasi dan bersemangat ketika melakukan ibadah karena kita sangat mengasihi Kristus. Namun lama kelamaan jika semua itu menjadi satu rutinitas, tanpa sadar banyak diantara anak-anak Tuhan yang akhirnya kehilangan arah dan tujuan, kehilangan kasih mula-mula mereka.

Ada banyak orang yang rajin ke gereja, rajin berdoa, namun melakukannya hanya karena sebuah kebiasaan atau rutinitas. Dulu saya pernah bertanya kepada seorang teman, untuk apa ia pergi ke gereja pagi-pagi benar? Ia menjawab karena ia orang kristen, dan ia harus ke gereja supaya tidak dimarahi orang tuanya. Ketika ibadah dilakukan hanya atas alasan sebuah rutinitas semata, kebosanan dan kejenuhan pun mengintip. Gairah akan hilang, kasih menurun, dan akhirnya orang bisa kehilangan kasih mula-mula mereka kepada Tuhan.

Di dalam rutinitas seringkali kita temui kejenuhan. Segala sesuatu terasa membosankan dan monoton. Tidak ada gairah dan semangat di dalamnya, dan orang akan menjadi lupa pada motivasi, alasan atau tujuan sebenarnya dari apa yang mereka lakukan. Dalam kehidupan rohani pun tujuan beribadah ini bisa melenceng menjadi sekedar rutinitas. Mungkin awalnya dilakukan karena sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, namun seiring waktu, semuanya menjadi pola kebiasaan yang tidak lagi didasarkan dari hati yang mengasihi. Ada banyak orang yang berdoa hanya menyampaikan teks hafalan itu-itu saja, karena sudah setiap hari mengucapkan hal yang sama. Ada pula yang memang hadir di gereja, tapi mereka tidaklah memiliki hati yang haus akan firman Tuhan, bukan mencari Tuhan. Mereka akan mengobrol, mencari humor dari kotbah pendeta, atau sms-an. Ketika hal ini terjadi, kita bisa melihat bahwa kasih mula-mula yang pernah mereka alami sudah terkikis. Ketika ada orang yang menganggap sebuah kotbah membosankan, atau “acara”nya buruk, lagu-lagunya tidak enak, tidak sesuai selera dan sebagainya, itu karena mereka mementingkan tata caranya di atas hubungan pribadi dengan Tuhan. Jika itu terjadi, bukan gerejanya yang buruk, tapi hubungan pribadi mereka dengan Tuhan lah yang buruk. Ibadah tidak berbicara soal selera, melainkan berbicara tentang kerohanian seseorang dalam membangun hubungan dengan Tuhan.

Sebuah ibadah yang baik seperti yang diajarkan Yesus sendiri adalah menyembah Allah didalam Roh dan kebenaran. (Yohanes 4:24). Adalah penting bagi kita untuk terus meningkatkan kualitas Roh dan kebenaran secara terus menerus, dan itu semua tidaklah akan berhasil apabila kita kehilangan kasih mula-mula dan melakukan ibadah hanya sebagai simbol maupun rutinitas semata. Sebuah ibadah sejati digambarkan jelas oleh Paulus. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati (Roma 12:1). Sebuah ibadah hendaklah dilakukan atas kasih dan rasa syukur tak terhingga bagi Allah saja. Janganlah sampai semua itu hanya merupakan rutinitas tanpa disertai rasa maupun ucapan syukur yang tulus dari hati dan akibatnya kita menjadi bodoh dan kehilangan penyertaan Allah dalam hidup kita. “Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh.” (Roma 1:21). Sebuah ibadah sejati tidak boleh terbatas hanya pada ritual-ritual keagamaan, rajin ke gereja, aktif dalam pelayanan atau ikut persekutuan, tapi ibadah sejati haruslah juga menyangkut sebuah hubungan atas kasih dan syukur kepada Tuhan dalam Roh dan Kebenaran dalam kehidupan sehari-hari, kapan saja dan dimana saja.

Miliki motivasi dan dasar yang benar dalam beribadah agar kita tidak kehilangan kasih mula-mula

Incoming search terms:

Koruptor

Ayat bacaan: 1 Timotius 6:10
============================
“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”

koruptor, akar kejahatan adalah cinta uangSeorang jaksa yang terlibat kasus korupsi baru-baru ini menangis di persidangan ketika tengah membacakan pledoi di hadapan majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Dia dituntut hukuman 15 tahun, tuntutan yang membuatnya syok hingga tidak bisa makan dan tidur. Dia pun menangis membayangkan bagaimana nasib istri dan anak-anaknya jika ia harus dipenjara selama 15 tahun. Baginya hukuman 15 tahun itu sama saja dengan hukuman mati bagi anak-anak, istri, orang tua dan mertuanya. “Bagaimana nasib kedua anak saya yang masih balita, dan yang akan lahir..” katanya. Istri sang jaksa memang tengah hamil tua. Anehnya, walaupun jelas-jelas terbukti korupsi, ia masih menganggap hukumannya tidak adil. Lho, apakah ketika melakukan korupsi dia tidak memikirkan bahwa hal tersebut tidaklah adil bagi masyarakat umum? Mendapatkan uang dengan cara kotor kini membawa konsekuensi serius tidak saja bagi dirinya sendiri, tapi bagi keluarganya. Vonis sudah dijatuhkan bagi dirinya, yang ternyata lebih berat dari tuntutan diatas. Dia akhirnya mendapat vonis 20 tahun penjara. Saya membayangkan keluarganya akan sulit hidup normal sebagai keluarga koruptor. Bentuk hukuman dari penilaian masyarakat dalam gerak gerik mereka sehari-hari akan sangat menyakitkan. Ketika mungkin tadinya ia membayangkan bahwa uang yang ia peroleh dapat membuat dia tertawa terbahak-bahak kini berubah menjadi syok, ratapan kesedihan yang tak kunjung usai.

Harta kekayaan tentu menjadi keinginan hampir semua orang. Saya rasa tidak akan ada yang mau hidup miskin dan kekurangan. Orang bekerja keras agar mampu membiayai hidupnya beserta keluarga dan meningkatkan taraf hidup mereka. Tapi rasa cinta berlebihan terhadap uang akan membuat orang tergoda untuk mengambil jalan pintas yang salah, lewat cara-cara jahat, penipuan, penggelapan, suap dan sebagainya. Dan lihatlah akibatnya.

Berusaha untuk mendapatkan penghasilan tidaklah salah jika dilakukan lewat cara-cara benar atas hasil jerih payah kita. Banyak orang yang salah mengartikan ayat bacaan hari ini sebagai larangan untuk mengumpulkan uang. Yang menjadi akar kejahatan bukanlah “uang”, tapi “cinta uang”, menjadikan uang sebagai yang paling utama di dalam hidup. Hal ini sama artinya dengan menomor duakan Tuhan. Yesus mengatakan, “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (dewa uang).” (Matius 6:24). Selanjutnya kita lihat firman Tuhan mengenai orang yang memperkaya dirinya dengan apa yang bukan menjadi haknya. “Celakalah orang yang menggaruk bagi dirinya apa yang bukan miliknya…”(Habakuk 2:6). Kejahatan cinta uang, mencari keuntungan lewat jalan pintas dan menguasai apa yang bukan menjadi hak adalah sebuah kejahatan serius di mata Tuhan. Daud pun mengingatkan bahwa “lebih baik yang sedikit pada orang benar dari pada yang berlimpah-limpah pada orang fasik, sebab lengan orang-orang fasik dipatahkan, tetapi TUHAN menopang orang-orang benar.” (Mazmur 37:16-17).

Tuhan adalah Allah yang peduli pada kita, yang tidak akan membiarkan siapapun yang terus dekat padaNya menderita sendirian. Tuhan Yesus pun menjabarkan dengan jelas dalam Matius 6:25-34 bahwa kita tidak perlu khawatir akan kesusahan hidup, karena Allah mengetahui segalanya yang kita butuhkan. Menggaruk uang lewat jalan salah memang sepintas terlihat nikmat, korupsi memang bisa mendatangkan kekayaan dengan instan, tapi semua itu adalah kejahatan di mata Allah. Dengan alasan apapun, kita tidak dibenarkan untuk mengambil jalan pintas demi mengumpulkan harta. Doakan setiap pekerjaan anda agar diberkati Tuhan. Biarkan Tuhan bertahta di atas segala usaha anda, tetaplah mengucap syukur dan jangan lupa kewajiban untuk membayar apa yang menjadi hak Tuhan lewat persembahan persepuluhan, maka lihatlah Tuhan mencukupkan segala sesuatu dalam hidup anda.

Bukan tawa bahagia, tapi ratapan tak kunjung akhir-lah yang dituai orang yang mengeruk keuntungan dengan cara kotor