Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Mensejahterakan Bangsa Sesuai Panggilan

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 17:16-17
=============================
“Sementara Paulus menantikan mereka di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala. “Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ.

kesejahteraan bangsa“Ask not what your country can do for you – ask what you can do for your country.” Demikianlah sebuah penggalan dari pidato John F Kennedy pada peresmian pengangkatannya menjadi Presiden Amerika Serikat ke 35 tahun 1961. Tidak banyak yang mengetahui bahwa quote yang sangat terkenal ini sesungguhnya dikutip dari tulisan Khalil Gibran. Demikian pentingnya kalimat ini karena sebagian besar penduduk suatu negara hanya menuntut haknya tanpa memperhatikan kewajiban mereka sebagai warga negara. Begitu juga dengan kita. Kita hanya mengeluh melihat banyaknya pengemis, gelandangan, pengamen dan lain-lain, kita memprotes tingginya tingkat kejahatan, kesemrawutan jalan raya, kondisi jalan yang buruk dan lain-lain tetapi tidak mau berbuat sesuatu untuk itu. Apa yang bisa kita buat? Apa kita semua harus menjadi polisi atau harus terlebih dahulu diberi kekuasaan mutlak atas negara ini baru kita mau berbuat sesuatu? Sesungguhnya tidak. Hal sekecil apapun yang kita lakukan sesuai panggilan kita dengan sungguh-sungguh atas dasar kasih bisa dipakai Tuhan untuk berbuah secara luar biasa.

Kemarin kita sudah meilhat panggilan penting bagi setiap orang percaya untuk turut berperan aktif secara nyata dalam mensejahterakan kota dimana kita tinggal. “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” (Yeremia 29:7). Secara spesifik dan jelas ayat ini menyerukan pentingnya untuk memberi kontribusi nyata dan berdoa demi kesejahteraan kota. Mengapa? Karena kesejahteraan kita sesungguhnya tergantung dari kesejahteraan kota tempat tinggal kita. Ada banyak orang yang sebenarnya tahu akan hal ini, tetapi tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan untuk itu. Mereka mengira bahwa untuk mengubah nasib sebuah bangsa mereka harus melakukan hal-hal yang besar saja. Padahal itu tidaklah benar. Setiap orang pada dasarnya memiliki panggilannya sendiri-sendiri. Apapun panggilan kita, dimanapun kita bekerja dan tinggal, kita bisa berbuat sesuatu, berkontribusi secara aktif dan nyata demi kesejahteraan bangsa kita. Itu seringkali dimulai dari hal-hal kecil dahulu, yang nantinya akan terus meningkat apabila kita melakukannya dengan sungguh-sungguh, dan itu sedikit banyak akan berdampak bagi kesejahteraan kota, bangsa dan negara.

Sebuah contoh kegelisahan akan panggilan demi kesejahteraan kota bisa kita lihat dari sosok Paulus. Ketika ia sampai di Yunani tepatnya di kota Athena, ia merasa sedih melihat banyaknya patung-patung berhala yang berdiri di sana. “Sementara Paulus menantikan mereka di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala.” (Kisah Para Rasul 17:16). Paulus pergi berkeliling dari satu tempat ke tempat lain sebenarnya untuk mewartakan berita keselamatan. Tetapi lihatlah bahwa ia tidak hanya berpuas diri akan hal itu saja, meski apa yang ia lakukan sesungguhnya sudah sangat besar. Mari kita perhatikan apa yang kemudian ia lakukan. “Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ.” (ay 17). Paulus tidak berdiam diri. Ia gelisah untuk melakukan sesuatu demi kesejahteraan kota Atena yang disinggahinya. Ia tidak tinggal disana untuk selamanya, tetapi tetap saja ia peduli akan kesejahteraan dan keselamatan kota itu. Ini adalah sebuah contoh yang sangat baik untuk melihat apa yang bisa kita lakukan sesuai kapasitas kita demi kota dimana kita berada saat ini. Paulus tidak meminta dirinya terlebih dahulu untuk menjadi gubernur atau raja disana. Sebagai seorang Paulus yang hanya pendatang pun ia tahu bahwa ia harus peduli, dan ia berbuat sesuai dengan batas kemampuannya.

Pada dasarnya setiap kita didesain dengan cara yang berbeda oleh Tuhan. Kita masing-masing diberi talenta dan panggilan masing-masing, dan semua itu tidak ada yang tidak berguna bagi kesejahteraan kota. Tuhan menciptakan binatang sesuai kemampuan dan fungsinya masing-masing. Kuda diciptakan untuk berlari sedang ikan untuk berenang. Burung diciptakan untuk terbang sedang cicak untuk merayap. Agar bisa berlari kencang kuda diberi kaki-kaki yang kuat dan kokoh. Ikan diberi insang dan sirip agar bisa berenang di dalam air, burung memiliki sayap dan cicak memiliki telapak kaki yang bisa merekat di dinding. Masing-masing diciptakan sesuai fungsi dan kegunaannya masing-masing. Dan manusia pun seperti itu. Paulus mengatakan “Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.” (Efesus 4:7) Ayat ini mengatakan dengan jelas bahwa siapapun kita telah diberikan talenta-talenta tersendiri menurut ukuran pemberian Kristus yang semuanya bisa dipakai sebagai karya nyata dalam memenuhi panggilan kita. Masing-masing kita diberi fungsi dan karunia masing-masing, dan kebersatuan kita dalam membangun bangsa ini akan menyatakan kemuliaan Tuhan. “Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, –yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota–menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.” (ay 16).

Sebagai manusia, kita semua telah dilengkapi Tuhan secara khusus dengan berbagai talenta, bakat dan kemampuan tersendiri yang tentunya bisa kita pakai dalam kehidupan kita, untuk memberkati sesama dan memuliakan Tuhan. Ayat bacaan hari ini diambil dari Amsal yang berbunyi: “Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan, dan dengan pengertian kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik.” (Amsal 24:3-4). Rumah disini bukan berbicara hanya mengenai masalah rumah biasa, rumah yang didirikan dari batu, pasir, kayu, rangka besi, dan berbagai bahan bangunan lainnya. Tapi rumah disini berbicara akan sesuatu yang lebih luas, yaitu sebuah kehidupan. Sebuah kehidupan yang baik haruslah didirikan atas hikmat, ditegakkan dengan kepandaian, dan kehidupan itu selanjutnya diisi dengan berbagai hal berharga. Tidak hanya atas satu hal saja, melainkan berbagai hal berharga, berharga buat hidup kita sendiri, berharga buat sesama, berharga buat bangsa dan negara, dan tentunya berharga di mata Tuhan. Inilah sebuah pelajaran penting dari penulis Amsal akan betapa berharganya sebuah kehidupan.

Apapun pekerjaan kita bisa dipakai secara nyata untuk kesejahteraan bangsa. Kita memiliki panggilan dan tugas sendiri-sendiri yang akan sangat bermanfaat untuk itu. Tidak peduli sekecil apapun, tidak peduli dimanapun atau apapun pekerjaan yang sedang ditekuni saat ini. Dengan panggilan yang sudah diberikan Tuhan, dimana kita ditempatkan hari ini, dan dengan talenta-talenta yang sudah Dia sediakan, kita bisa berkarya maksimal untuk melakukan sesuatu demi kesejahteraan bangsa, dan dengan demikian menegakkan KerajaanNya di muka bumi ini. Anda merasa “cuma” pekerja kantoran? Anda tetap bisa menjadi terang dan garam dan menjadi role model sebagai sosok yang baik dan cakap dalam bekerja. Tidak korupsi, berlaku sopan dan ramah, disiplin waktu dan menghargai atau mengasihi teman sekerja, itupun sudah merupakan sesuatu yang baik untuk dilakukan. Anda bergelut di dunia hiburan? Anda bisa membawa terang disana dan menunjukkan bahwa dunia hiburan tidak harus selalu negatif. Panggilan anda dalam dunia politik, pendidikan atau kesehatan? Sama, anda bisa berperan banyak disana.  So, let’s find out our callings, let’s fulfill our destiny. Let God use us to transform our city and community, and that will surely give some impacts to our nations.

Kepada kita sudah diberikan panggilan dan talenta masing-masing yang akan sangat bermanfaat untuk kesejahteraan kota, bangsa dan negara kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

Jaga Perkataan

Ayat bacaan: Yakobus 1:26
=====================
“Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.”

jaga perkataan, menjaga omongan, menjaga mulutBaru-baru ini David Letterman secara resmi mengajukan permohonan maaf kepada Sarah Palin, mantan calon wakil presiden Amerika Serikat yang dikalahkan Obama. Pasalnya, salah satu gurauan David Letterman di acara “Late Show” nya ternyata menyinggung Sarah Palin dan keluarganya. Hanya dimaksudkan bercanda, tapi secara tidak sengaja menyakiti perasaan sang Gubernur Alaska. Banyak orang kemudian mengecam Letterman karena joke yang dikeluarkannya terlalu kasar. Menyadari kesalahannya, ia pun kemudian menyampaikan permohonan maaf secara terbuka di depan publik. Ada kalanya kita kurang berhati-hati mengeluarkan candaan atau perkataan. Tidak ada maksud menyakiti orang lain, namun ternyata bisa menyinggung. Bayangkan jika perkataan yang tidak sengaja kita keluarkan mendatangkan dendam terhadap kita. Selain menyinggung, perkataan sia-sia pun bisa mencelakakan kita dalam banyak bentuk. Kebiasaan menggosip misalnya, kebiasaan mengumpat dan berbagai bentuk dosa lain yang keluar dari perkataan sia-sia.

Yakobus mengatakan sia-sialah kita beribadah jika kita tidak sanggup mengekang lidah dalam mengeluarkan perkataan. Hal itu dikatakan sama artinya dengan menipu diri sendiri. “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.” (Yakobus 1:26). Ada banyak pula Amsal yang memberikan peringatan untuk berhati-hati dalam mengeluarkan perkataan. Salah satunya adalah “Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.” (Amsal 10:19). Semakin banyak kita bicara, semakin besar pula kemungkinan untuk mengeluarkan perkataan yang mendatangkan pelanggaran. Ketika kita tidak mampu mengendalikan ucapan, kita akan mudah terjerumus ke dalam percakapan yang mengarahkan kita pada dosa. Gosip, dosa kesombongan, ceroboh dalam berkata-kata, mengumpat dan sebagainya, semua itu bisa dengan sangat mudah keluar dari mulut kita ketika kita tidak punya kendali terhadap apa yang keluar dari mulut kita.

Tuhan Yesus sendiri mengingatkan kita mengenai pentingnya menjaga perkataan. “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” (Matius 12:36-37). Jangan sampai ketika kita menghadapi penghakiman, kita akan dihadapkan pada daftar panjang perkataan sia-sia yang pernah kita ucapkan selama kita hidup. Seringkali kita mati-matian menjaga sikap, perbuatan dan tingkahlaku kita, namun mengabaikan soal mengeluarkan perkataan ini. Tidak berhati-hati dalam bercanda, kurang awas dalam berbicara. Semua ini nanti harus kita pertanggungjawabkan. Apakah kita mempergunakan mulut untuk memuji dan menyembah Tuhan, mengucap syukur dan memberkati orang lain, atau semua yang keluar hanya sumpah serapah dan lain-lain yang sia-sia sifatnya. Mulut letaknya sama, namun dari mulut yang sama bisa keluar keduanya, baik berkat maupun kutuk. (Yakobus 3:10). Ini harus kita cermati dengan baik, agar segala ibadah kita jangan menjadi sia-sia.

Menjaga sikap, tingkah laku dan perbuatan itu baik. Namun jangan lupa bahwa ada bahaya yang mengancam lewat mulut yang tidak terjaga. Kita diingatkan untuk terus menjaga hati, “karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.” (Matius 12:34). Selain itu, ingatlah pesan penting dari Yakobus. “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” (Yakobus 1:19). Berhati-hatilah ketika berbicara, jangan terlalu banyak mengumbar omongan, karena cepat atau lambat omongan kita bisa menyinggung orang lain. “Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran.” (Amsal 21:23). Ini tentu bukan berarti kita tidak boleh berbicara, tidak boleh bercanda, namun hendaklah kita selektif dan bijaksana dalam mengeluarkan perkataan.

Pakailah mulut untuk memperkatakan firman Tuhan, bersyukur dan memberkati orang lain