Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Belajar dari Perwira Kapernaum (1)

Ayat bacaan: Matius 8:13
===================
Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

perwira kapernaum, imanPengalaman dari profesi ayah saya sebagai dokter sejak tahun 70an hingga kini menyisakan banyak kisah menarik. Dulu ia sering bercerita sambil tertawa bahwa ada pasien-pasien yang tidak mau membayar jika tidak disuntik dan diberi obat. Terutama suntik, katanya. Padahal tidak semua penyakit harus ditindaklanjuti dengan jarum, tapi itulah yang mereka harapkan ketika datang ke dokter. Tidak jarang, katanya, pasien langsung hanya bilang “terima kasih, dok..” dan langsung beranjak meninggalkan praktek tanpa bayar. Padahal menulis resep dan merekomendasikan obat tidak sembarangan. Butuh pendidikan bertahun-tahun untuk bisa seperti itu, namun tanpa jarum suntik rasanya kurang afdol bagi mereka. Lucu memang, tapi itu kejadian nyata dari pola pemikiran pasien di kota kelahiran saya sekian tahun yang lalu.

Kisah di atas sebenarnya mirip dengan pola pemikiran sebagian orang terhadap keimanan. Ketika kita atau salah seorang keluarga kita sedang sakit atau perlu didoakan, cukupkah kita minta didoakan jarak jauh? Ada banyak orang yang merasa kurang afdol jika hanya lewat jarak jauh. Kalau tidak datang langsung, tumpang tangan, dijamah, mukjizat rasanya tidak akan bisa terjadi. Kalau tidak pendeta yang top kesembuhan rasanya tidak mungkin terjadi. Kesembuhan atau mukjizat lainnya menjadi bukan berasal dari Tuhan, namun tergantung dari manusianya, pendetanya. Ini adalah pola pikir yang sudah menyimpang. Kita bisa belajar dari kisah seorang perwira Kapernaum yang mendatangi Yesus.

Mari kita baca Matius 8:5-13. Disana dikisahkan ketika Yesus memasuki Kapernaum, ada seorang perwira yang menjumpaiNya. Si perwira ternyata ingin minta tolong atas nama salah seorang pelayannya yang saat itu terbaring di rumah karena lumpuh. “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” (Matius 8:6). Mendengar hal itu, Yesus pun menjawab “Aku akan datang menyembuhkannya.” (ay 7). Bayangkan jika kita ada di posisi sang perwira Kapernaum, apa reaksi kita? Mungkin kita akan berteriak kegirangan, menarik tangan Yesus untuk secepatnya mendatangi rumah kita, menumpang tangan atas si pelayan, mendoakannya langsung di tempat bahkan mungkin menahan Yesus di sana hingga mukjizat terjadi. Tapi lihatlah apa reaksi perwira Kapernaum. “Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” (ay 8). Iman si perwira begitu luar biasa. Dia ternyata percaya bahwa Tuhan punya kuasa yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Mukjizat bukan terjadi semata-mata akibat perjumpaan langsung, jamahan, tumpang tangan atau apapun yang dilakukan orang, namun semua itu adalah berasal dari Tuhan. Artinya, kapanpun, dimanapun, dengan cara apapun, mukjizat itu bisa terjadi, karena sekali lagi, kuasa Tuhan berada di atas segalanya dan tidak terbatas oleh apapun. Kembali pada kisah perwira Kapernaum, Imannya membuat Yesus kagum. “Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.” (ay 13).

Lewat sepatah kata, Yesus sanggup menyembuhkan orang yang sedang tergeletak jauh disana. Sang Perwira percaya itu, dan itulah yang terjadi, sesuai apa yang ia percayai. Inilah bentuk iman yang mampu menyaksikan turunnya mukjizat Tuhan. Iman mampu membuat perbedaan. Penulis Ibrani menulis demikian: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1). Dan Yesus berkata: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yohanes 20:29b). Meski kita belum melihatnya, seperti halnya perwira Kapernaum yang saat itu masih jauh dari rumahnya dan belum mengetahui apakah hambanya sudah sembuh saat itu juga atau belum, namun imannya membuatnya yakin bahwa itu telah terjadi meski belum melihat langsung. Dan dalam ayat 13 tadi kita bisa membaca apa yang terjadi. Ya, hambanya memang sembuh saat itu juga! Iman yang teguh akan membuat kita bisa menerima berkat dan mukjizat Tuhan. Bukan atas kehebatan manusia, melainkan iman akan Kristus lah yang menyelamatkan. Ingatlah apa yang dikatakan Yesus: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Markus 11:23-24). Percaya dalam iman yang teguh, maka kita akan menerima. Kemudian ingatlah bahwa semua itu haruslah sesuai dengan kehendakNya, bukan kehendak kita. “Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya.” (1 Yohanes 5:14-15). Itu janji Tuhan dan kita tahu janji Tuhan itu “ya dan amin”. Belajar dari iman perwira Kapernaum hari ini, milikilah iman yang sungguh-sungguh, dan percayalah sepenuhnya pada Tuhan. Jangan menggantungkan diri kepada sosok manusia yang terbatas tapi berpeganglah pada Tuhan yang punya kuasa diatas segalanya. Malam ini secara khusus saya mendoakan dari jauh dalam nama Yesus untuk teman-teman yang sedang mengalami sakit penyakit, permasalahan dan lain-lain yang membuat anda sulit bangkit dan menderita. Tuhan memberkati.

“”Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.”

Yes, I Do

Ayat bacaan: Maleakhi 2:14
====================
“Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu.”

pernikahan, keluarga Ilahi, materai Tuhan, selingkuh, ceraiBulan lalu saya bertemu dengan seorang artis senior yang sudah menjalani karir di dunia entertainment selama 58 tahun. Sebuah rentang masa yang sungguh panjang dalam berkarir, yang ternyata diikuti pula dengan catatan rekor luar biasa dalam hubungan suami istri. Beliau sudah menjalani 42 tahun pernikahan, dan hingga sekarang masih sangat harmonis. Saya bertanya apa rahasianya, karena kita sudah begitu terbiasa mendengar kisah artis kawin-cerai dengan didasari berbagai alasan. Ia menjawab: “intinya adalah, ketika kita mengatakan “yes i do”, it’s the end of a love seeking journey. Kita mengucapkan “Yes I do” bukan berbicara kepada penghulu, pastur, pendeta, pemuka agama, orang tua dan sebagainya, tetapi kepada Tuhan sendiri.” Ia melanjutkan: “Pernikahan itu bukan kontrak, tapi komitmen. Dan komitmen itu tidak main-main karena kita bicara sama Tuhan”. Ketika dunia selebritis seolah mempermainkan ikatan suami-istri seenaknya, apa yang dikatakan oleh artis senior ini sungguh mencengangkan. Istrinya ada disana, dan terlihat betapa hubungan mereka begitu mesra. Dan kita sedang berbicara mengenai sepasang suami istri yang mengucapkan ikrarnya 42 tahun yang lalu.

Gaya hidup modern penuh dengan kawin-cerai. Celakanya tidak hanya terjadi di antara mereka yang kurang menghayati pentingnya sebuah komitmen saja, tapi malah dituliskan pula menjadi lirik-lirik lagu yang sedikit banyak bisa mempengaruhi pola pikir seluruh lapisan masyarakat. Ada begitu banyak lagu yang seolah melegalkan kawin-cerai dan perselingkuhan. Sephia, Kekasih Gelap, Aku Cinta Kau dan Dia, Lelaki Cadangan, Jadikan Aku Yang Kedua, dan banyak lagi, menjadikan perasaan dan excuse-excuse lainnya sebagai legalitas berselingkuh dan bercerai. Tuhan tidak menyukai hal itu. Dia membenci hal itu. Mari kita baca Maleakhi 2. “Dan inilah yang kedua yang kamu lakukan: Kamu menutupi mezbah TUHAN dengan air mata, dengan tangisan dan rintihan, oleh karena Ia tidak lagi berpaling kepada persembahan dan tidak berkenan menerimanya dari tanganmu. Dan kamu bertanya: “Oleh karena apa?” Oleh sebab TUHAN telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu. Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya. Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel–juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman TUHAN semesta alam. Maka jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!” (Maleakhi 2:14-16). Tuhan membenci perceraian, Tuhan membenci orang yang berkhianat. Dan ketika ini terjadi, jangan heran jika hidup tidak lagi memiliki sukacita dan damai, karena Tuhan tidak lagi berkenan menerima persembahan apapun dari tangan mereka.

Sebuah pernikahan kudus adanya, dimateraikan bukan lagi dua melainkan menjadi satu langsung oleh Tuhan. Kita berbicara mengenai materai Tuhan, dimana Tuhan sendiri menjadi saksi sebuah pernikahan, bukan materai seharga Rp 6000 yang kita beli di kantor pos. Jika orang sudah takut melanggar sebuah perjanjian yang dimateraikan dengan keping kertas seharga Rp 6000, apalagi jika materai tersebut menyangkut Tuhan di dalamnya. Sebuah pernikahan di mata Tuhan adalah sebuah perjanjian Ilahi yang harus diisi dengan menghayati sebuah kesatuan. “Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Matius 19:5-6). Lebih lanjut, sebuah pernikahan, seperti yang dikatakan oleh sang artis senior, berarti sebuah komitmen untuk mengemban tanggung jawab. Mari kita lihat kitab Efesus. “Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.” (Efesus 5:33). Suami dan istri memiliki peran masing-masing yang haruslah saling isi, karena mereka bukan lagi dua melainkan satu.

“Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” (1 Petrus 3:7). Lihatlah konsekuensi serius jika seorang tidak menghormati konstitusi pernikahan. Jika dalam Maleakhi di atas kita membaca Allah tidak berkenan menerima apapun dari tangan mereka lagi, dalam 1 Petrus 3:7 kita membaca bahwa doa-doa kita akan terhalang jika kita bisa menghormati pasangan hidup kita. Masalah akan selalu ada, baik dalam keluarga yang paling harmonis di dunia sekalipun. Yang membedakan adalah bagaimana menyikapinya. Semua masalah bisa diselesaikan dengan keterbukaan dan kejujuran, dan hendaklah diselesaikan dengan cepat, jangan ditunda-tunda hingga menumpuk dan menjadi rumit. Mencari pelarian di luar bukanlah sebuah penyelesaian, malah seringkali membuka permasalahan demi permasalahan baru yang akan mempersulit segalanya. Lebih dari itu, hal tersebut pun dibenci Tuhan. Walaupun ada teman-teman pembaca yang saat ini belum menikah, suatu saat nanti akan tiba saatnya bagi anda untuk memasuki jenjang pernikahan ini. Baik teman-teman yang sudah menikah maupun yang belum, mari kita bangun sebuah hubungan pernikahan yang sesuai dengan prinsip-prinsip firman Tuhan, sehingga rumah tangga kita bisa menjadi sebuah kesaksian yang indah bagi keluarga-keluarga lainnya. Ketika dunia penuh dengan kawin-cerai, ini saatnya kita memperkenalkan keindahan keluarga ilahi yang dimateraikan langsung oleh Tuhan.

Setia, saling mengasihi dan hidup sesuai firman, itulah ciri keluarga Ilahi yang diberkati Tuhan

Perselisihan Itu Biasa (1) : Cepat Mendengar

Ayat bacaan: Yakobus 1:19
=====================
“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah”

bertengkar, peselisihan, cepat mendengarPerselisihan/pertengkaran dalam rumah tangga? Itu biasa.. kita semua memiliki kepribadian yang berbeda. Pola pikir untuk menyelesaikan masalah berbeda, cara menghadapi persoalan berbeda, pendapat tentang sesuatu hal bisa berbeda, dan seterusnya, sehingga pada saat-saat tertentu bisa saja terjadi “gesekan-gesekan” kecil akibat berbagai perbedaan tersebut. Sayangnya, seringkali gesekan kecil itu bisa berkembang menjadi besar. Bagaikan manusia purbakala yang menggesek-gesekkan kayu sehingga menimbulkan api kecil, namun api ini bisa menjadi sebuah nyala yang besar ketika api kecil itu mulai menyambar benda-benda yang mudah terbakar. Demikian pula dalam rumah tangga, antara suami dan istri, ayah/ibu dengan anak, antar saudara dan sebagainya. Sebuah pertengkaran sering dimulai dari hal yang kecil, namun ketika emosi meningkat, emosi mulai menyambar kemana-mana sehingga eskalasinya pun menjadi tak terkendali. Padahal jika dikembalikan pada pokok masalah, mungkin tidaklah sulit untuk diselesaikan. Tapi ketika kemarahan sudah memuncak, perselesihan sudah menyambar kesana kemari, sudah jauh dari pokok masalah, dan seperti api besar bisa membakar habis rumah bahkan kota, begitu pula hubungan antara satu dengan yang lain.

Yakobus mengingatkan sebuah ayat yang baik dijadikan dasar untuk menghindari hal tersebut. “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” (Yakobus 1:19). Ini tiga prinsip penting yang bisa menjaga situasi agar tidak berkembang lebih parah. Hari ini kita mulai dari prinsip pertama dulu, yang akan disusul oleh prinsip kedua dan ketiga besok dan lusa.

Pertama, kita diminta cepat untuk mendengar. Berbeda pendapat itu normal, tidak sepakat itu wajar, namun kita harus membiasakan diri kita untuk mau mendengar. Dengarkan dulu alasan-alasan dan pendapat mereka lalu cobalah komunikasikan. Seringkali perselisihan memuncak karena ego kita sendiri, menganggap bahwa hanya kita yang benar, sehingga ketika sesuatu terjadi tidak sesuai dengan keinginan kita, kita pun menjadi marah. Berikan suatu ruang tertentu dengan menjadi pendengar yang baik, sehingga kita mampu melihat sebuah permasalahan dengan lebih jelas sebelum buru-buru menarik kesimpulan hanya berdasarkan pandangan kita sendiri. Lihatlah bagaimana tanggapan Yesus ketika Dia berkunjung ke rumah Marta dan Maria (Lukas 10:38-42). Marta memilih untuk sibuk melayani, tetapi Maria memilih untuk diam di dekat kaki Yesus dan terus mendengarkan perkataan Yesus dengan sungguh-sungguh. Apa yang dilakukan Maria menurut Yesus adalah “memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari padanya.” (ay 42). Begitu pentingnya untuk mau mendengar dengan hati yang lembut. “Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar..” (Lukas 8:18).

Dalam mendengar apa kata Tuhan pun demikian. Seperti yang telah saya tulis dalam renungan-renungan kemarin, seringkali kita tidak mendengar apa kata Tuhan karena kita terlalu sibuk dengan “daftar permintaan” kita di setiap doa, atau karena kita tidak mau melembutkan hati untuk menerima nasihat, teguran dan kebenaran. Jangan keraskan hati ketika Tuhan berbicara. Dengarlah baik-baik apa kata Tuhan. Miliki hati yang peka sehingga kita bisa mendengar bimbingan Roh Kudus dalam setiap langkah kehidupan yang kita jalani. “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!” (Ibrani 4:7)

Ada kalanya kita harus berbicara, namun ada juga saat dimana kita harus menjadi pendengar yang baik, yang mampu mendengar dengan cepat sebelum menarik kesimpulan dengan tergesa-gesa atau terburu-buru menuduh. Hati yang cepat mendengar akan akan membuat kita mampu melihat dengan lebih jelas permasalahan dari sudut pandang orang lain. sehingga bisa menghindarkan kita dari amarah berlebihan yang akan merusak diri kita sendiri dan menyakiti orang lain.

Cepatlah mendengar sebelum terburu-buru mengambil kesimpulan hanya berdasarkan emosi belaka

Bersyukurlah Senantiasa Atas Kasih SetiaNya

Ayat bacaan: Mazmur 106:1
=========================
“Haleluya! Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”

bersyukurlah, mawar, duriBeberapa orang mengeluh karena mawar memiliki duri, tapi saya kira kita seharusnya bersyukur karena duri memiliki mawar. Orang yang tertusuk duri mungkin menyesalkan kenapa bunga mawar yang begitu indah harus berduri, tapi jika duri bisa bicara, mungkin duri akan bersyukur bahwa ia memiliki mawar. Kita bisa memandang dari banyak sisi akan benda yang sama, baik dengan keluhan ataupun bersyukur. Saya pernah mengatakan bahwa saya punya pandangan “it’s all in the state of mind”. Bahwa dalam hal buruk tidaklah berarti semuanya buruk. Pasti ada hal baik dibalik situasi buruk yang kita alami. Ajakan untuk bersyukur pun sebenarnya bukan hal baru. Kita sudah sering berhadapan dengan ajakan ini baik lewat tulisan, kotbah dan sebagainya. Namun pola pikir untuk selalu bersyukur ini memang bukanlah semudah membalik telapak tangan, apalagi jika kita sedang berada dalam tekanan. Yang lebih ironis lagi, banyak orang berusaha mencari Tuhan ketika mereka tengah membutuhkan bantuan, namun lupa bersyukur saat mereka diberkati. Banyak orang memandang mukjizat dari Tuhan hanyalah datang dari hal-hal ajaib yang “bombastis” seperti orang sakit parah disembuhkan, orang lumpuh berjalan,orang buta melihat, bahkan orang mati dibangkitkan. Padahal, ketika kita masih memiliki kesehatan dan kemampuan untuk berjuang di tengah kesulitan, itu pun merupakan mukjizat dan berkat yang berasal dari Tuhan.

Begitu sulitnya untuk mengucap syukur pada saat sulit, sehingga ada orang yang berusaha mengucapkan syukur namun terbatas hanya pada kata-kata saja, tidak didasarkan dari hati. Karena itu alkitab pun mencatat banyak nasihat untuk mengucap syukur dalam segala hal. Salah satunya yang saya jadikan ayat bacaan hari ini, sebuah kalimat yang rasanya sudah tidak asing lagi bagi kita. “Haleluya! Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Kalimat ini dituliskan berkali-kali dalam kitab Mazmur, bahkan tampil juga dalam kitab Tawarikh dan Yeremia. Saya yakin Tuhan menyadari benar sulitnya berada dalam sebuah situasi berat sehingga Dia merasa perlu mengingatkan kita berkali-kali bahwa kasih setiaNya bagi kita berlaku untuk selama-lamanya. Bukankah itu patut kita syukuri?

Jika kita bercermin pada alkitab, ada banyak tokoh disana yang tetap mampu memandang lewat iman ketika masalah menghadang mereka. Lihatlah Ayub yang memuji Tuhan meski mengalami penderitaan (Ayub 1:20-22). Selanjutnya Daud, yang pada suatu ketika dikejar, hendak dibunuh oleh Saul dan terjebak di dalam gua. Apa yang dilakukan Daud? Dia malah memuji Tuhan dan bermazmur! (Mazmur 57:1-12). Lalu apa yang terjadi ketika Paulus dan Silas tengah dipasung dalam penjara? Mereka bukannya menyesali nasib, namun malah berdoa dan menyanyikan puji-pujian pada Allah dengan lantang, hingga semua orang dipenjara itu mendengarkan. Apa yang terjadi selanjutnya? Terjadilah gempa sehingga semua pintu dan belenggu terbuka membebaskan mereka. Bukan itu saja, namun terjadi pertobatan pada diri kepala penjara dan keluarganya. (Kisah Para Rasul 16:19-40). Lihatlah bukti kasih setia Tuhan, Dia tetap menyertai dalam segala hal. Tidak ada yang harus kita takutkan. Yang harus kita lakukan adalah tetap mengucap syukur dan melantunkan puji-pujian. We are never alone even in the deepest trouble.

Apa yang diberikan Tuhan pada kita sebenarnya adalah baik, meski ketika pada saat ini terlihat seolah-olah sulit untuk dilalui. Dia adalah Allah yang tidak pernah berubah. “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.”(Yakobus 1:17) Karena itulah, dalam kondisi sulit sekalipun kita pantas mengucap syukur. Paulus pun menyadari berbagai pengalaman dari tokoh-tokoh alkitab di masa lalu, ia pun berulang kali menyatakan bahwa dirinya dipenuhi ucapan syukur meski dalam penderitaan berat. “Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. “ (2 Timotius 1:3). Dunia boleh gonjang ganjing, namun kita harus tetap tegar dan percaya pada Tuhan lewat berbagai pujian,penyembahan dan ucapan syukur kita. Dia ingin kita tampil sebagai terang, seperti lentera di tengah kegelapan, sebuah posisi yang tidak akan mampu kita jalani jika kita sendiri goyah imannya.

Jika anda percaya bahwa Tuhan setia mengasihi anda, dan tidak ada satupun dari janjiNya yang Dia ingkari, mengucap syukurlah sekarang juga. Tuhan mengasihi anda lebih dari apapun. Bahkan setiap helai rambut di kepala kita pun dihitungNya. (Matius 10:30). Dia telah melukiskan kita dalam telapak tanganNya dan kita selalu ada di ruang mataNya. (Yesaya 49:16). Tuhan tidak pernah melupakan anda. Karena itu, pandanglah setangkai mawar dengan pola pandangan baru. Jangan bersungut-sungut melihat duri, tapi bersyukurlah bahwa duri yang tajam itu memiliki mawar yang sungguh indah.

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. (1 Tesalonika 5:18)

Incoming search terms:

Mengasihi Musuh

Ayat bacaan: Amsal 24:17
=========================
“Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh, jangan hatimu beria-ria kalau ia terperosok”

mengasihi dan berdoa bagi musuhBagaimana defenisi musuh bagi anda? Bagi sebagian besar orang, musuh berarti seseorang yang dibenci, mungkin karena menyebabkan kerugian, sakit hati, kekecewaan dan lain-lain. dan karenanya mereka ini tidak pada tempatnya diampuni, apalagi dikasihi. Dalam sebuah acara siraman rohani saudara kita yang berlainan keyakinan di radio, seorang guru agama menjelaskan perbedaan antara lawan dan musuh. Lawan adalah kompetitor yang dibutuhkan, seseorang yang berbeda pendapat dengan anda dan sebagainya. Sedang musuh adalah seseorang yang harus diperangi, dihancurkan, dimusnahkan. Mungkin pola pikir duniawi pun demikian, karena seorang musuh telah menyebabkan kerugian atau kekecewaan yang tidak sedikit. Mengasihi orang yang memang kita kasihi, membalas kebaikan dengan kebaikan tidaklah sulit. Tapi ajakan mengasihi musuh, ini sebuah ajakan yang bisa kita anggap aneh dan umumnya sangat sulit untuk dilakukan.

Coba bayangkan jika musuh yang anda benci mengalami masalah, malapetaka atau setidaknya problema, tidakkah hal itu bisa memuaskan hati kita? Banyak orang yang akan sangat menikmati hal tersebut, malah ironisnya banyak yang memanjatkan syukur pada Tuhan ketika si musuh sedang menderita. Ayat bacaan hari ini menegaskan janganlah kita bersukacita dan bergembira ria ketika musuh kita jatuh. Dalam kesempatan lain Yesus pun dengan tegas mengajarkan: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Mat 5:44). Mengapa harus demikian? ayat selanjutnya menjelaskan alasannya. “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.”(Mat 5:45) Alasannya adalah, karena dengan mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menyakiti kita-lah kita menjadi anak-anak Bapa. Ini sebuah ajaran luar biasa yang membedakan kita yang percaya pada Yesus dengan orang-orang duniawi. Meskipun demikian, ajaran ini tidaklah mudah untuk dilakukan, dan bisa jadi makan waktu yang tidak singkat untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan.

Seorang penulis Kristen bernama Alfred Plummer (1841–1926) pernah menulis: “To return evil for good is devilish; to return good for good is human; to return good for evil is divine. To love as God loves is moral perfection.” Plummer benar, membalas kebaikan dengan kejahatan berarti membiarkan iblis mempengaruhi kita dengan kebencian,iri dan dengki. Membalas kebaikan dengan kebaikan adalah sesuatu yang manusiawi, sedang membalas kejahatan dengan kebaikan adalah sifat Ilahi. Untuk kehidupan kita pun, sebuah rasa sakit hati dan kebencian akan musuh tidaklah sehat. Kita tidak akan pernah bisa hidup bahagia dalam damai dan sukacita jika kita masih menyimpan dendam dan kebencian. Lihatlah bagaimana tindakan Yesus di atas kayu salib. Dalam Lukas 23:34 Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Bukankah luar biasa, ketika Yesus tengah mengalami penderitaan di luar batas kemanusiaan, Dia masih bisa berdoa bagi mereka yang menyalibkan dan menyiksa-Nya. Jika mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka masih terasa sulit bagi anda, biarkanlah diri anda dituntun oleh Roh Kudus untuk hal itu. Jangan keraskan hati, berdoalah dan minta agar Roh Kudus menerangi diri anda. Terang cahaya dari Roh Kudus akan mampu menembus kegelapan yang paling dalam sekalipun di hati kita, dan itu akan membuat kita sanggup untuk memaafkan musuh kita. Sulit memang, tapi kita harus sanggup mencapai tingkat tersebut. “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Matius 5:48)

Roh Kudus mampu memberikan kelegaan sehingga kita sanggup memberikan pengampunan dan mendoakan musuh kita

Membangun Sikap Positif

Ayat bacaan: Bilangan 13:27
=====================
“Mereka menceritakan kepadanya: “Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya…”

membangun sikap positif berdasarkan iman teguh
Apa yang anda lihat dari gambar di sebelah kiri, gelas setengah kosong atau setengah penuh? Pertanyaan ini bisa dipakai sebagai sebuah tes kecil bagaimana sikap kita dalam memandang hidup. Orang yang punya pola pikir positif atau optimis akan melihatnya sebagai gelas yang setengah penuh, sebaliknya mereka yang pola pikirnya negatif atau pesimis akan melihatnya setengah kosong. Dalam sebuah gambar dengan kondisi yang sama, kesimpulan bisa berbeda, tergantung dari pola pikir yang mendasari diri seseorang.

Dalam sebuah kisah dalam kitab Bilangan, Musa mengutus 12 orang untuk mengintai tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan lewat Abraham (Kejadian 17:8). Hasil dari pengintaian mereka menyimpulkan hal yang sama: tanah yang dijanjikan Tuhan memang tanah yang makmur, berlimpah susu dan madunya. Sampai di sini kesimpulan yang diperoleh kedua belas pengintai adalah sama. Tapi selanjutnya terjadi perbedaan pendapat dengan persentase tidak sebanding. 10 orang berkata bahwa bangsa yang tinggal disana adalah raksasa-raksasa yang jauh lebih kuat, menjadikan bangsa Israel hanya seperti belalang kecilnya dibanding mereka. “There’s no chance..” itu kata 10 orang. Hanya Kaleb dan Yosua yang berpandangan beda dengan iman yang teguh pada Tuhan. Karena tanah itu adalah tanah yang dijanjikan Tuhan, maka ada penyertaan Tuhan yang akan membuat mereka PASTI (bukan mungkin atau mudah-mudahan) mampu menduduki tanah terjanji itu. Dua belas pasang mata mengarah pada satu tempat yang sama selama 40 hari, kesimpulan akhir yang didapat berbeda. Sayangnya suara terbanyak yang pesimis lah yang akhirnya didengar. Akibatnya adalah sebuah keputusan yang fatal: mereka harus berputar-putar di padang gurun selama 40 tahun sebelum akhirnya bisa memasuki Kanaan. Sebuah fakta lain, diantara orang-orang yang ketika itu sudah dewasa sebelum mengalami 40 tahun di padang gurun, hanya Yosua dan Kaleb lah yang akhirnya mampu memasuki tanah Kanaan. Jika kita fokus pada Kaleb, kita melihat bahwa Kaleb mempunyai sikap positif dengan dasar iman teguh yang percaya sepenuhnya pada Tuhan. Ketika ia diutus untuk mengintai ia masih berusia 40 tahun. 45 tahun berikutnya, ketika usianya telah menginjak 85 tahun ia masih tetap bersikap sama, tetap percaya penuh pada Tuhan. Pada usia 85 tahun dia masih siap dengan semangat tinggi untuk menduduki Hebron yang banyak raksasanya. 40 tahun berada di padang gurun tidak sedikitpun meruntuhkan imannya. Kaleb memiliki mental seorang pemenang, penuh sikap positif karena imannya sangat kokoh. “Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini;pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk.” (Yosua 14:10-11)

Kita tentu sudah sering mendengar janji-janji Tuhan mengenai hidup yang kekal, perlindungan dari bahaya, kelepasan dari kesesakan dan lain-lain. Semua itu tidaklah asing bagi kita. Tapi seberapa banyak diantara kita yang bisa bersikap seperti Kaleb? Apakah kita mampu selalu menghadapi setiap permasalahan dengan sikap positif, mempercayai semua janji Tuhan secara penuh seperti halnya Kaleb atau kita masih lebih banyak bersikap pesimis dan hidup penuh ketidakpastian? Lihatlah bahwa pandangan pesimis dari 10 orang pengintai bukan saja berakibat hanya pada mereka, tapi juga berdampak pada konsekuensi yang harus ditanggung seluruh bangsa Israel. Belajarlah dari sikap positif Kaleb karena sikap tersebut akan memberikan perbedaan yang signifikan bukan saja kepada diri sendiri, tapi juga pada orang lain.Mari kita belajar memandang gelas di atas sebagai gelas yang setengah penuh, bukan setengah kosong.

Iman yang teguh membangun sikap positif yang menyehatkan

Incoming search terms:

Lebih dari sekedar mencari nafkah

Ayat bacaan: Efesus 4:28
===================

“Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.”

Untuk apa kita bekerja? tentu semuanya setuju bahwa kita bekerja untuk mencari nafkah, agar kita mampu menghidupi diri dan keluarga kita, agar kita mampu hidup layak dan berkecukupan. Itu esensi dasar mengapa kita bekerja, walaupun ada banyak orang yang punya paradigma berbeda, yaitu untuk menumpuk kekayaan, kejayaan dan lain2. Renungan hari ini dimulai dengan kalimat:”Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi.” Rasanya bagian kalimat ini tidak perlu kita bahas panjang lebar, karena sejak awal pun Tuhan telah melarang kita untuk mencuri dari siapapun, tidak peduli dari saudara seiman ataupun saudara2 kita yang berbeda kepercayaan. Kalau ada yang mengaku anak Tuhan, percaya Yesus tapi masih mencuri, mulai dari mencuri hal2 kecil seperti kue atau yang punya istilah “keren” seperti korupsi, itu jelas kebangetan. Mari fokus pada bagian kalimat terakhir dari ayat ini, “supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.”

Dari bagian terakhir ayat ini, jelas Tuhan menekankan satu lagi alasan kuat bagi kita untuk bekerja, diluar untuk mencari nafkah. Bekerja juga merupakan sarana untuk melakukan pelayanan. Kita seringkali menggerutu ketika ada orang2 yang berkekurangan memohon bantuan dari kita, dan merasa semua hasil yang diperoleh dari buah jerih payah kita itu adalah hak kita pribadi. Padahal, ketika kita memutuskan untuk menanggapi panggilan Allah untuk bertobat dan percaya pada Kristus, pola pikir kita terhadap pekerjaan dan penghasilan pun seharusnya mengalami transformasi. Kita harus melakukan pekerjaan secara jujur dan siap untuk membagi milik kita kepada orang lain yang membutuhkan. Mungkin berat pada awalnya, tapi percayalah, tidak ada yang sia2 jika kita melakukannya untuk Tuhan dengan penuh sukacita.

Kita tidak perlu menunggu untuk menjadi kaya raya untuk bisa membantu sesama kita. Ukuran kekayaan itu sangat relatif, orang yang secara umum dianggap kaya sekalipun sering masih merasa kurang kaya. Dan ukuran kekayaan itu bukanlah segala2nya di dunia ini. Ketika kita memiliki pekerjaan, itu artinya kita wajib membantu saudara2 kita yang kekurangan, yang bagi dunia direndahkan, disisihkan. Menjadi anak Tuhan yang taat bukanlah semata2 rajin membaca alkitab dan berdoa, tapi juga melakukannya dalam perbuatan2 nyata. Kita bisa menjadi saluran berkat di dunia. Lewat anda dan saya, orang2 seharusnya bisa kenal pribadi Kristus. Siapkah anda menjadi wakil Tuhan untuk menjadi lentera dalam kegelapan hidup mereka?

Bekerja bukan hanya sekadar mencari nafkah, tapi juga merupakan misi pelayanan sebagai tanda kasih dan kepatuhan kita kepada Allah.