Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

21 April

“Aku ini jangan takut” (Kis 6:1-7; Yoh 6:16-21) “Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sedang laut be…

Fwd: 30 Nov

“Kamu akan Kujadikan penjala manusia”

(Rm 10:9-18; Mat 4:18-22)

“Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.” (Mat 4:18-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Andreas, rasul, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Tugas utama seorang rasul adalah menjadi ‘penjala manusia’, artinya berpartisipasi dalam karya penyelamatan dunia, terutama keselamatan jiwa manusia. Kebanyakan dari dua belas rasul yang mengikuti Yesus berasal dari para penjala ikan, dengan kata lain panggilan menjadi penjala manusia merupakan pengembangan dan pendalaman anugerah yang telah diterimanya. Sebagai orang beriman kita semua juga memiliki panggilan rasuli, tugas untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatan dunia, maka marilah dalam rangka mengenangkan pesta St.Andreas, rasul, ini kita mawas diri perihal panggilan rasuli kita masing-masing. Salah satu bentuk usaha karya penyelamatan dunia adalah perbuatan baik, maka hendaknya kapan pun dan dimana pun kita senantiasa melakukan apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan jiwa manusia. Tanda bahwa kita semua saling berbuat baik satu sama lain antara lain adalah kita semua senantiasa dalam keadaan baik, sehat wal’afiat dan damai sejahtera baik lahir maupun batin, phisik maupun spiritual. Maka baiklah kita lihat, perhatikan dan cermati apakah di lingkungan hidup dan kerja kita ada yang menderita sakit, entah sakit hati, sakit jiwa sakit akal budi atau sakit phisik, dan kemudian kita tolong penyembuhannya. Rasanya di antara kita cukup banyak yang menderita sakit hati atau sakit jiwa, meskipun belum begitu parah dan baru sedikit saja, misalnya mereka yang suka marah, menggerutu atau mengeluh terhadap aneka macam peristiwa atau kejadian.

·   Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Rm 10:17), demikian kata Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua umat beriman. Mendengarkan hemat saya merupakan anugerah Tuhan dari pancaindera yang pertama-tama dianugerahkan Tuhan kepada kita semua. Ketika kita masih berada di rahim ibu kita masing-masing, kita telah dapat mendengarkan aneka suara di lingkungan hidup kita dan apa yang kita dengarkan membekas dalam diri kita, membentuk pribadi kita sebagaimana adanya saat ini. Maka dengan ini kami berharap kepada kita semua untuk memperdengarkan atau menyuarakan apa-apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan manusia, terutama keselamatan jiwa manusia. Secara khusus sebagai orang beragama kita diharapkan mewartakan atau menyebarluaskan firman Tuhan sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Hemat saya seluruh isi firman sebagaimana tertulis di dalam kitab-kitab suci apapun dapat dipadatkan ke dalam firman Tuhan atau perintah Tuhan untuk hidup saling mengasihi satu sama lain, sebagaiman Tuhan telah mengasihi kita sampai kini. Maka marilah kita hidup dan bertindak saling mengasihi kapan pun dan dimana pun, sehingga yang terdengar atau terwartakan dari cara hidup dan cara bertindak kita, entah secara pribadi atau bersama adalah perihal saling mengasihi. Panggilan atau tugas saling mengasihi hemat saya mudah kita hayati atau lakukan jika masing-masing dari kita menyadari dan menghayati diri sebagai ‘yang terkasih’, diciptakan dan dibesarkan dalam  dan oleh kasih. Ingat dan hayati bahwa masing-masing dari kita adalah buah atau korban hidup bersama bapak-kita yang saling mengasihi, saling bekerjasama atau bergotong-royong. Hendaknya jangan mengingkari diri bahwa kita adalah buah kasih dan gotong-royong, maka selayaknya kita menghayati diri sebagai yang terkasih dan dengan demikian bertemu dengan siapapun berarti yang terkasih bertemu dan yang terkasih dan dengan demikian saling mengasihi.

Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari”

 (Mzm 19:2-5)

Ign 30 November 2011

1 Spt

"Jangan takut mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia."
(Kol 1:9-14; Luk 5:1-11)

” Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang
orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia
melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan
sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu
perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit
jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas
perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon:
"Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk
menangkap ikan." Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami
bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau
menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga." Dan setelah mereka
melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala
mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya
di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu
datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan
hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun
tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku,
karena aku ini seorang berdosa." Sebab ia dan semua orang yang
bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka
tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang
menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: "Jangan takut, mulai
dari sekarang engkau akan menjala manusia." Dan sesudah mereka
menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala
sesuatu, lalu mengikut Yesus.” (Luk 5:1-11), demikian kutipan Warta
Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Hidup terpanggil menjadi imam, bruder atau suster maupun aneka
jabatan atau fungsi dalam hidup dan kerja bersama hemat saya merupakan
pengembangan dan pendalaman aneka bakat dan keterampilan alias
anugerah Tuhan yang kita terima dalam kehidupan masa kanak-kanak dan
remaja kita di dalam keluarga maupun masyarakat. Mereka yang pada masa
dewasanya menjadi imam, bruder atau suster ataupun pejabat dan pegawai
rajin, tekun, bekerja keras, disiplin, cermat, kreatif, proaktif,
dst…pada umumnya sifat-sifat tersebut telah dididikkan atau dibiasakan
oleh orangtua maupun lingkungan hidupnya. Itulah yang terjadi dalam
diri para rasul dari penjala ikan ditingkatan menjadi penjala manusia.
Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk senantiasa
mengutamakan atau mengedepankan keselamatan jiwa manusia dalam cara
hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun. Maka marilah
kita fungsikan bakat, keterampilan serta kecerdasan kita untuk hidup
dan bekerja demi keselamatan jiwa manusia. Kepada para pengusaha atau
mereka yang mempekerjakan manusia kami harapkan sungguh memperhatikan
keselamatan jiwa mereka; ingatlah dan hayati bahwa semakin mereka,
para pekerja, semakin selamat dan sejahtera hidupnya berarti akan
semakin sukses pula usaha anda. Hendaknya aneka macam usaha dan
kesibukan senantiasa lebih mengutamakan keselamatan jiwa manusia
daripada aneka macam  sarana-prasarana lainnya. Dekati dan sikapi
setiap manusia secara manusiawi serta cinta dengan segenap hati, jiwa,
akal budi dan tenaga/kekuatan.
•       “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita
ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki
penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.” (Kol 1:13-14). Kutipan ini
kiranya mengingatkan kita semua yang telah dibaptis, yaitu telah
dipersatukan dengan Yesus Kristus alias menjadi sahabat-sahabat Yesus
Kristus, hidup dan bertindak dengan menghayati sabda-sabda serta
meneladan cara hidup dan cara bertindakNya. Dengan kata lain kita
diharapkan hidup dalam ‘terang’, yang antara lain memiliki cirikhas
jujur, transparan, terbuka, disiplin, tertib, teratur dst.. ;
kemanapun kita pergi atau dimanapun kita berada senantiasa menerangi
saudara-saudari kita, menjadi fasilitator bagi mereka, dst.. Maka
marilah kita mawas diri apakah kita sungguh hidup dalam ‘terang’,
senantiasa berbuat baik kepada sesama, serta tidak pernah mengewakan
mereka. Hidup dalam terang juga berarti hidup dijiwai oleh Roh Kudus,
sehingga kita memiliki dan menghayati keutamaan-keutamaan seperti
“kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan,
kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23), sedangkan
hidup dalam kegelapan berarti dijiwai oleh roh jahat atau setan,
sehingga suka melakukan apa yang jahat, seperti “percabulan,
kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan,
perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan,
roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya” (Gal
5:19-21). Kami harapkan hidup dalam ‘terang’ sedini mungkin dibiasakan
atau dididikkan bagi anak-anak di dalam keluarga dengan teladan
konkret dari orangtua atau bapak-ibu.
“TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah
menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa.Ia mengingat kasih
setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah
melihat keselamatan yang dari pada Allah kita.Bersorak-soraklah bagi
TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan
bermazmurlah! Bermazmurlah bagi TUHAN dengan kecapi, dengan kecapi dan
lagu yang nyaring, dengan nafiri dan sangkakala yang nyaring
bersorak-soraklah di hadapan Raja, yakni TUHAN!” (Mzm 98:2-6)
Ign 1 September 2011

28Juni – Kej 19:15-29; Mat 8:23-27

“Mengapa kamu takut?”
(Kej 19:15-29; Mat 8:23-27)

” Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nyapun mengikuti-Nya.  Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur.  Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.”  Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali.  Dan heranlah orang-orang itu, katanya: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?”(Mat 8:23-27), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Irenius, Uskup dan Martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•    Penakut memang dapat mendua: menutup/mengurung diri atau membuka diri dengan rendah hati. Secara jujur kiranya kita semua memiliki ketakutan-ketakutan tertentu, misalnya takut tidak naik kelas/tingkat, tidak lulus ujian, takut gagal, takut berbuat baik, takut maju, tumbuh dan berkembang alias berubah lebih baik dst. .. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua bahwa jika kita merasa takut hendaknya membuka diri dengan rendah hati terhadap aneka bantuan dari orang lain maupun Tuhan. Jika tidak ada orang lain yang siap membantu atau meringankan ketakutan kita, marilah meneladan para murid, yang berseeru “Tuhan, tolonglah, kita binasa”. Tumbuh berkembang sebagai pribadi beriman, sebagai yang terpanggil sebagai suami-isteri, imam, bruder atau suster memang tak akan terlepas dari aneka masalah, tantangan dan hambatan yang dapat membuat kita takut tumbuh, berkembang dan maju. Jika kita setia pada panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, ketika merasa takut hendaknya dengan rendah hati segera menghadap Tuhan alias berdoa untuk mohon rahmat dan bantuanNya seraya mengamini bahwa Tuhan yang mengutus, Dia pula yang akan menyelesaikan-nya pula. Bersama dan bersatu dengan Tuhan alias hidup baik, jujur dan berbudi pekerti luhur kita pasti mampu mengatasi ketakutan dan semakin terampil setiap menghadapi aneka tantangan, hambatan maupun masalah. Maka baiklah sebagai orang beriman atau beragama kita tidak melupakan hidup doa, marilah kita awali hidup kita hari ini serta setiap kali akan melaksanakan tugas atau kewajiban dengan doa singkat, sehingga hidup dan kerja ini bagaikan sedang beribadat, lingkungan hidup dan kerja bagaikan lingkungan ibadat, rekan hidup dan kerja bagaikan rekan beribadat, sarana-prasarana hidup dan kerja bagaikan sarana-prasarana beriadat, dengan kata lain marilah kita  hayati  bahwa Allah ada di dalam segala sesuatu atau segala sesuatu dalam Allah. Marilah kita hayati rahmat kemartiran kita dengan meneladan St.Irenius yang kita kenangkan hari ini.

•    “Baiklah, dalam hal inipun permintaanmu akan akan kuterima dengan baik, yakni kota yang telah kau sebut itu tidak akan kutunggangbalikkan. Cepatlah, larilah ke sana, sebab aku tidak dapat berbuat apa-apa, sebelum engkau sampai ke sana” (Kej 19:21-22), demikian kata malaikat kepada Lot, yang dengan rendah hati mohon keselamatannya. Dari pengalaman dan pengamatan kita sering tak mampu menghadapi aneka tantangan, hambatan atau masalah, karena keterbatasan kita, kemungkinan maupun kesempatan. Maka baiklah dengan rendah hati hendaknya kita rela dan besar hati berani mengakui kelemahan dan kerapuhan kita, maka baiklah ketika kita merasa tak berdaya menghadapi tantangan, hambatan atau masalah untuk sementara menyingkir. Pengalaman ini kiranya tidak hanya terjadi di dalam diri Lot, tetapi juga pernah terjadi dalam Keluarga Kudus Nazaret ketika mereka menerima ancaman dari Herodes yang bengis dan serakah. Dengan kata lain hendaknya kita membuka diri terhadap bantuan `orang asing’, yang belum kita kenal sebelumnya dengan mempercayai mereka bahwa mereka pasti akan membantu kita dalam menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan; kita dipanggil untuk tidak membatasi diri dengan apa yang telah kita kenal dan nikmati saja, melainkan berani membuka diri terhadap kemungkinan atau kesempatan yang belum kit bayangkan. Marilah kita ingat, sadari dan hayati bahwa Tuhan hidup dan berkarya dimana-mana, tiada batas ruang dan waktu, bangsa dan negara, atau SARA. Hendaknya tidak takut terhadap lingkungan, orang-orang atau tugas pekerjaan baru, yang belum kita kenal dan ketahui sebelumaya. Takut berarti tidak beriman atau  tidak percaya pada Penyelenggaraan Ilahi.

“Ujilah aku ya Tuhan, dan cobalah aku, selidikilah hatiku dan batinku. Sebab mataku tertuju pada kasih setiaMu, dan aku hidup dalam kebenaranMu” (Mzm 26:2-3)
Ign 28 Juni 2011

9 Mei – Kis 6:8-15; Yoh 6:22-29

Hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”

(Kis 6:8-15; Yoh 6:22-29)


 

“Pada keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain dari pada yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus. Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: "Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?" Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya." Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?"Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (Yoh 6:22-29), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Percaya kepada Tuhan pada masa ini mengalami erosi, sebagaimana pernah saya angkat dalam renungan-renungan sebelumnya, karena pengaruh sarana tehnologi modern seperti HP (Hand Phone). Sabda hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua agar kita ‘percaya kepada Dia yang telah diutus Allah’, yaitu Yesus Kristus, yang telah wafat dan bangkit dari mati, dan kini berkarya melalui RohNya dalam diri mereka yang percaya kepadaNya, dalam manusia beriman. Karena kita semua orang beriman, maka hendaknya pertama-tama kita saling percaya satu sama lain, lebih-lebih dengan mereka yang hidup dan berkarya dengan kita setiap hari. Jika kita dapat saling percaya satu sama lain, maka dengan mudah kita akan dapat percaya kepada Tuhan. Marilah kita lihat karya Roh dalam diri kita sendiri maupun saudara-saudari kita sebagai langkah awal agar kita saling percaya satu sama lain. Orang yang percaya kepada Tuhan senantiasa melaksanakan kehendak atau perintah Tuhan dimanapun dan kapanpun, perintahNya yang utama adalah hendaknya kita saling mengasihi satu sama lain. Maka sebagai tanda bahwa kita percaya kepada utusan Allah, entah kepada Yesus Kristus atau saudara-saudari kita yang percaya kepadaNya, adalah kita hidup saling mengasihi kapanpun dan dimanapun. Tanda-tanda hidup bersama orang yang saling mengasihi antara lain: rukun bersatu padu, saling berbagi aneka harta benda atau kekayaan, dan tidak ada seorangpun yang berkekurangan, maka jika masih ada saudara-saudari kita yang berkekurangan berarti dalam hidup bersama kurang saling mengasihi atau kurang saling percaya.

·   Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat” (Kis 6:15), demikian berita perihal Stefanus, orang yang sungguh percaya kepada Tuhan sepenuhnya. Orang yang percaya kepada Tuhan semakin tertindas atau semakin menghadapi aneka macam jenis tantangan, hambatan atau masalah, justru semakin nampak bersinar mukanya. Sebagaimana emas murni semakin dibakar semakin nampak kemurniannya, tak akan hancur atau meleleh karena  panas api yang membara. Orang yang percaya kepada Tuhan senantiasa mengandalkan diri sepenuhnya kepada Tuhan dan hidup dalam atau oleh Roh, sehingga senantiasa bergairah, ceria dan dinamis dalam kondisi atau situasi apapun. Maka sebagai orang beriman marilah kita mawas diri: apakah kita senantiasa ceria dan bergairah menghadapi aneka tantangan, hambatan atau masalah. Ingatlah dan sadari bahwa jika kita ceria dan bergairah berarti tak akan mudah jatuh sakit, tahan terhadap aneka serangan virus penyakit. Saya sendiri memiliki suatu pengalaman yang sangat mengesan, yaitu ketika harus mengantar seorang pastor, yang menderita hepatitis B berat dari Semarang ke Jakarta pp, dengan mobil, bersama seorang perawat dan suster. Dokter memberi nasihat agar hati-hati karena penyakit ybs bersangkutan dengan mudah dapat menular, artinya yang dekat dan bersama dengan sang pasien dapat kena virus tersebut. Namun saya tetap bergairah, maka setelah sang pastor tersebut dipanggil Tuhan, kami dicek darahnya, dan ternyata daya tahan tubuh saya semakin tangguh, sementara perawat dan suster harus disuntik vaksin hepatitis B. Kegairahan memperkuat dan mempertebah daya tahan tubuh itulah yang terjadi.

 

“Jalan-jalan hidupku telah aku ceritakan dan Engkau menjawab aku — ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku. Buatlah aku mengerti petunjuk titah-titah-Mu, supaya aku merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib. Jiwaku menangis karena duka hati, teguhkanlah aku sesuai dengan firman-Mu. Jauhkanlah jalan dusta dari padaku, dan karuniakanlah aku Taurat-Mu.Aku telah memilih jalan kebenaran, telah menempatkan hukum-hukum-Mu di hadapanku.” (Mzm 119:26-30)

 

Jakarta, 9 Mei 2011            

7 Mei – Kis 6:1-7; Yoh 6:16-21

“Aku ini jangan takut!”

(Kis 6:1-7; Yoh 6:16-21)

 

“Dan ketika hari sudah mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari sudah gelap Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sedang laut bergelora karena angin kencang. Sesudah mereka mendayung kira-kira dua tiga mil jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Maka ketakutanlah mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Aku ini, jangan takut!" Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tujui” (Yoh 6:16-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Pesan “Jangan takut” senantiasa disampaikan oleh Tuhan kepada mereka yang terpanggil secara khusus seperti para rasul, dan kiranya juga bagi kita semua yang beriman kepada Tuhan. Perasaan takut hemat saya menghinggapi kita semua: ada yang takut kehilangan jabatan, takut kehilangan harta benda atau uang, takut jatuh, takut tidak naik kelas atau lulus ujian, takut mati, dst.. Penakut ada dua kemungkinan tindakan yang dilakukan, yaitu ‘mengurung diri atau membela diri’ atau dengan rendah hati mohon perlindungan dan bantuan kepada mereka yang dapat melindungi atau membantunya. Sebagai orang beriman kami mengajak dan mengingatkan kita semua jika merasa takut, marilah kita dengan rendah hati mohon perlindungan Tuhan, entah dengan berdoa atau secara konkret minta perlindungan kepada saudara-saudari kita yang kita anggap mampu melindungi kita. Dengan kata lain ketika kita takut hendaknya tidak menutup diri, melainkan membuka diri sepenuhnya terhadap aneka macam bantuan yang mungkin mendatangi kita. Penakut memang dengan mudah jatuh sakit, entah sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi atau sakit tubuh, karena ketahanan dirinya melemah atau rapuh. Memang untuk mengatasi ketakutan hendaknya juga jangan ‘kebablasen’ menjadi sombong atau begitu percaya diri, sebaliknya di satu pihak hendaknya menyadari dan menghayati bahwa dalam diri kita ada kekuatan untuk mengatasi ketakutan, di sisi lain terbuka terhadap aneka bantuan dan uluran kasih orang lain. Marilah kita imani atau hayati bahwa Yesus yang telah bangkit dari mati hadir dan berkarya dalam diri saudara-saudari kita yang berkehendak baik, dan kemudian kita tanggapi dengan positif semua kehendak baik saudara-saudari kita.

·   "Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja.Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman.” (Kis 6:2-4), demikian kata para rasul kepada segenap umat yang menyertainya,yang sedang berkumpul. Yang dimaksudkan dengan ‘pelayanan meja’ adalah perhatian secara phisik terhadap orang lain, terutama terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan atau para janda sebagaimana terjadi pada masa Gereja Perdana. Akhirnya memang  terpilih beberapa orang yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat untuk melaksanakan tugas pengutusan tersebut. Jika kita mawas diri kiranya kita semua menyadari dan menghayati bahwa mayoritas waktu dan tenaga kita terarah pada hal-hal duniawi, dan ada kemungkinan di antara kita ada yang bertugas untuk mendistribusikan harta benda atau uang, atau secara khusus bertugas sebagai pengambil keputusan atau kebijakan dalam memberi gaji atau imbal jasa. Kami berharap dalam melaksanakan tugas pengutusan sungguh adil dan merata, sehingga tidak ada seorangpun yang kurang diperhatikan. Memang pada umumnya mereka yang miskin dan berkekurangan atau para janda kurang memperoleh perhatian yang memadai, maka baiklah jika mereka ini menjadi opsi utama dalam pelayanan atau pelaksanaan tugas pengutusan. Karena dalam Warta Gembira secara khusus disebut para janda, maka baiklah kami mengajak anda sekalian untuk memperhatikan para janda, yang mungkin kesepian. Tentu saja perhatian yang diberikan tidak tumbuh berkembang menjadi perbuatan amoral. Memang tidak mudah memperhatikan para janda: kalau yang memperhatikan laki-laki jangan-jangan dituduh berselingkuh, sedangkan kalau yang memperhatikan perempuan jangan-jangan dituduh lesbian. Maka baiklah ketika memperhatikan mereka tidak sendirian, paling tidak berdua, sehingga tidak mudah jatuh ke perilaku amoral, yang berlawanan dengan kehendak Tuhan.

 

Bersorak-sorailah, hai orang-orang benar, dalam TUHAN! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang-orang jujur. Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali!  Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN” (Mzm 33:1-2.4-5)

 

Jakarta, 7 Mei 2011

29 April – Kis 4:1-12; Yoh 21:1-14

"Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu maka akan kamu peroleh."

(Kis 4:1-12; Yoh 21:1-14)

 

“Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka: "Aku pergi menangkap ikan." Kata mereka kepadanya: "Kami pergi juga dengan engkau." Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka: "Hai anak-anak, adakah kamu mempunyai lauk-pauk?" Jawab mereka: "Tidak ada." Maka kata Yesus kepada mereka: "Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh." Lalu mereka menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan.”(Yoh 21:1-6), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Cukup banyak orang hidup dan bekerja hanya mengikuti kemauan pribadi atau selera pribadi dan tidak sesuai dengan tugas pokok atau utama atau sesuai dengan aneka tata tertib yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusannya. Hal ini antara lain juga nampak di jalanan dimana para pengendara atau pejalan kaki tidak mengikuti aturan lalu lintas serta rambu-rambu yang terpampang dengan jelas. Begitulah juga yang terjadi di antara para rasul yang sedang frustrasi karena kematian Yesus alias ditinggalkan Yesus: sebelum mengkuti Yesus kesibukan atau pekerjaan mereka adalah nelayan, maka ketika ditinggalkan Yesus mereka kembali menjadi nelayan. Cukup menarik dan mengesan bahwa sebagai nelayan yang berpengalaman mereka semalaman tidak seekor pun ikan dapat diperoleh. Namun ketika mereka menebarkan jala atas perintah Yesus yang telah bangkit, akhirnya mereka memperoleh ikan banyak sekali, bahkan jala mereka hampir sobek. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan anda sekalian: marilah kita hidup dan bertindak sesuai dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing serta aneka tata tertib yang terkait dengannya, jika mendambakan kesuksesan dalam hidup dan panggilan. Kami berharap kepada mereka yang hidup dan bekerja hanya mengikuti selera pribadi untuk segera bertobat dan memperbaharui diri. Marilah kita hidup dan bekerja secara tertib, teratur dan disiplin sesuai dengan aneka tata tertib yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing.

·   Bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati — bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu” (Kis 4:10), demikian kutipan jawaban Petrus atas pertanyaan dari tokoh-tokoh Yahudi perihal dari kuasa mana ia telah menyembuhkan orang lumpuh sehingga  dapat berjalan. “In nomine Ieu” (=Dalam nama Yesus), itulah yang menjadi motto gembala atau uskup kita Mgr.A.Djajaseputra SJ (alm) dan Bapak Julius Kardinal Darmaatmaja SJ dalam menggembalakan umat Allah yang dipercayakan kepada Yang Mulia. Maka marilah kita meneladan Petrus maupun para gembala kita tersebut. “Dalam terang iman kristiani berasaskan Pancasila dan UUD 45  kami hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”, itulah isi asas aneka yayasan atau LSM Kristen atau Katolik. Dengan dan dalam asas tersebut diharapkan segenap pengurus, pengelola maupun pelaksana pelayanan yayasan atau LSM menjiwai derap langkah pelayanannya dalam iman Kristiani. Mungkin baik kalau hal ini sedini mungkin dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga serta kemudian diperdalam dan diperkembangkan di sekolah-sekolah dengan teladan dari para orangtua dan para guru. Keteladanan orangtua dan para guru dalam hidup tertib, teratur dan disiplin sesuai dengan tata tertib atau janji yang pernah diikrarkan sangat penting, dan merupakan cara utama dan pertama dalam pendampingan atau pembinaan anak-anak. “Dalam Nama Yesus” berarti hidup dan bertindak dengan meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus maupun melaksanakan sabda-sabdaNya sebagaimana diwartakan melalui Kitab Suci. Maka baiklah untuk semakin mengenal dan dekat dengan Yesus kami harapkan kita semua dengan rajin setiap hari merenungkan dan meresapkan sabda-sabdaNya, atau silahkan merenungkan dan meresapkan kutiipan dari Kitab Suci yang setiap hari kami sampaikan dalam refleksi sederhana ini.

 

“Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya! Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran! Diberkatilah dia yang datang dalam nama TUHAN! Kami memberkati kamu dari dalam rumah TUHAN. TUHANlah Allah, Dia menerangi kita

 (Mzm 118:24-27a)

 

Jakarta, 29 April 2011

Incoming search terms:

29 Jan – Ibr 10:1-2, 8-19; Mrk 4:35-41

"Mengapa kamu begitu takut?”

(Ibr 10:1-2, 8-19; Mrk 4:35-41)

 

“Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang." Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?" Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Mrk 4:35-410, demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas  bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Maju kena mundur kena”, begitulah kiranya kata-kata yang ada dalam hati banyak orang masa kini dalam menghadapi aneka pertumbuhan dan perkembangan yang begitu pesat maupun aneka masalah dan tantangan. Memang ada orang takut untuk tumbuh dan berkembang, karena untuk itu harus berani berjuang dan berkorban. Sabda Yesus hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua agar tidak takut menghadapi aneka tantangan, masalah maupun hambatan kehidupan. Penakut pada umumnya ada ancaman kecil atau sedikit saja langsung berteriak-teriak. Penakut berarti kinerja syarat dan metabolisme darah atau otak bawah sadar atau otak yang berada dalam seluruh anggota tubuh kita tidak berfungsi secara normal atau prima. Sebaliknya jika kita tidak pernah takut berarti otak bawah sadar kita berfungsi secara prima, sehingga mampu mengatasi atau menghadapi aneka macam tantangan, masalah dan hambatan. Penakut berarti juga kurang/tidak beriman. Pemberani berarti memiliki harapan dan dengan penuh harapan menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan, yang berarti harapan menjadi nyata dalam kasih atau tindakan konkret. Marilah kita bersikap ksatria, meneladan Werkudoro yang tanpa takut dan gentar menerobos hutan belantara yang penuh ancaman dan bahaya guna mengusahakan kehidupan sejati. “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung”, demikian motto orang yang tidak takut alias pemberani. Hendaknya jika kita berkehendak baik tidak takut sedikitpun untuk mewujudkan kehendak tersebut dalam tindakan, meskipun ada kemungkinan yang kita lakukan salah. “Trial and error” (mencoba dan bersalah) hendaknya juga menjadi pedoman cara hidup dan cara bertindak kita. Takut mencoba tak akan tumbuh dan berkembang.

·   "Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.”(Ibr 10:9). Kutipan ini hendaknya menjadi pedoman atau acuan kita setiap kali kita melangkah atau datang ke suatu tempat, misalnya tempat belajar atau bekerja. Datang ke tempat belajar berarti untuk belajar, maka ketika sedang belajar kami harapkan belajar dengan sungguh-sungguh sehingga terampil belajar, demikian juga datang ke tempat kerja, sehingga terampil bekerja. Keterampilan inilah hendaknya yang kita usahakan dengan perjuangan dan pengorbanan, bukan selembar kertas berupa pengakuan formal alias ijasah atau sertifikat. Kita boleh belajar dari Bapak Andrie Wongso, promotor yang terkenal di Indonesia, yang dengan sungguh-sungguh bekerja keras sendiri (auto-didak), Ia memiliki cita-cita: ‘Success in my life”. Salah satu motto dalam mengusahakan sukses antara lain “Besi batangan pun kalau digosok terus menerus pasti menjadi sebatang jarum yang tajam”. Dalam hidup sehari-hari ada dukungan dalam melakukan kehendak Tuhan antara lain berupa aturan atau tata tertib, maka hendaknya senantiasa mentaati atau melaksanakan aneka aturan dan tata tertib yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Aneka aturan dan tata tertib dibuat dan diberlakukan atau diundangkan untuk dihayati atau dilaksanakan, bukan hanya untuk hiasan saja. Dengan kata lain jika kita mengikuti aturan atau tata tertib yang berlaku hendaknya tidak takut melangkah atau bertindak. Hendaknya juga tidak takut mengingatkan dan menegor saudara-saudari kita yang tidak taat pada aturan dan tata tertib. Kami berharap para penegak dan pejuang kebenaran dan keadilan tanpa takut dan gentar terus berjuang, meskipun untuk itu harus menghadapi aneka ancaman dan terror.

 

“Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, — seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus — untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut,  dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita

(Luk 1:69-75)     .

Jakarta, 29 Januari 2011