Tag: penyakit kusta

Minggu Biasa VI

Minggu Biasa VI

Im 13:1-2.45-46; 1Kor 10:31-11:1; Mrk 1:40-45

"Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku."

Sebuah paroki di pedesaan Jawa Tengah selain pelayanan pastoral bagi umat katolik juga membuka pelayanan umum bagi masyarakat luas, yaitu sebuah poliklinik, bekerjasama dengan suster/biarawati serta beberapa dokter relawan. Di wilayah paroki yang bersangkutan yang cukup luas juga ada Puskesmas-Puskesmas di tiap kecamatan, yang konon cukup murah dan bahkan gratis. Suatu info yang menarik saya terima, yaitu: warga masyarakat umum ternyata lebih senang berobat ke poliklinik paroki dari pada ke Puskesmas, meskipun poliklinik paroki lebih jauh tempatnya. Konon tersebar berita di kalangan masyarakat umum bahwa pengobatan di poliklinik paroki lebih mujarab atau manjur dari pada Puskesmas-Puskesmas. Bahkan ada rumor di kalangan mereka :”Wah kalau berobat ke poliklinik paroki itu menyenangkan, bahkan sebelum diobati pun kami terasa sudah sembuh”. Dimana letak kemujaraban dan kemanjuran pengobatan di Poliklinik paroki, karena obat yang tersedia sama dengan obat yang ada di Puskesmas-Puskesmas? Rahasianya terletak pada pelayanan yang dilakukan oleh para dokter, suster maupun perawat. Keramahan pelayanan membuat menarik warga masyarakat, sehingga mereka bergairah mendatangi poliklinik paroki. Kegairahan pasien inilah juga merupakan rahasia kemujaraban dan kemanjuran pengobatan.

Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." (Mrk 1:40)

Seseorang yang sedang menderita penyakit kusta dengan penuh kepercayaan datang kepada Yesus dan mohon untuk disembuhkan dari penyakitnya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.". Penyembuhan pasien dari penyakit hemat saya tergantung pada tiga unsur, yaitu: pribadi pasien, obat dan pelayanan para dokter maupun paramedis lainnya. Pribadi pasien yang sedang menderita sakit hendaknya tetap dalam kegairahan dan semangat, lebih-lebih kegairahan dan semangat untuk disembuhkan, karena baik obat maupun pelayanan yang lain lebih merupakan bantuan atau dukungan. Memang ada hubungan timbal balik, yaitu relasi antara pasien dan pelayan-pelayan kesehatan: semangat melayani yang dihayati oleh para pelayan kesehatan mendorong dan memotivasi para pasien tetap bergairah dan bersemangat, sebaliknya kegairahan dan semangat pasien juga membuat para pelayan kesehatan semakin bergairah untuk melayani pasien.

Kegaiarahan dan semangat pasien merupakan wujud iman mereka kepada Tuhan atau Penyelenggaraan Ilahi. Kita semua mungkin sedang menjadi pasien alias sedang menderita sakit, tentu saja yang saya maksudkan tidak hanya sakit phisik, tetapi juga sakit hati, sakit jiwa maupun sakit akal budi. Mungkin kita tidak 100% (seratus persen) sakit, melainkan hanya 10, 20, 25 atau 50 %, sehingga kita mudah marah, membenci, iri hati, putus asa dst.. Maka kepada anda yang sedang menderita sakit kami harapkan bertobat dengan mengusahakan tetap bergairah dan bersemangat. Yang menyebabkan anda sakit dan tidak bergairah hemat saya adalah karena anda tidak mau mengampuni mereka yang menyalahi atau menyakiti anda. Maka berusaha untuk bergairah dan bersemangat berarti hidup dan bertindak mengampuni siapapun yang menyakiti atau menyalahi kita.

"Aku mau, jadilah engkau tahir."(Mrk 1:41), demikian tanggapan Yesus atas permintaan orang kusta. Tanggapan Yesus yang demikian ini hendaknya menjadi inspirasi atau pegangan bagi para pelayan kesehatan, para dokter maupun paramedis lainnya. Dengan kata lain marilah meneladan Yesus yang segera tanggap sepenuh hati pada orang yang mohon penyembuhan. Maka kami berharap kepada para pelayan kesehatan untuk sungguh tanggap sepenuh hati terhadap keluh kesah atau harapan para pasien. Layanilah mereka dengan sepenuh hati dan keramahan. Ingat dan sadari kata Inggris ‘rumah sakit’ adalah ‘hospital’ dan dari kata ‘hospital’ dapat menjadi kata ‘hospitality’ yang berarti keramahan. Semoga siapapun yang mendatangi rumah sakit serta seluruh pelayan kesehatan dan pegawai lainnya di rumah sakit memperoleh keramahan. Pasien yang sedang menderita sakit ditanggapi dengan pelayanan yang ramah akan segera sembuh dan sehat. Selanjutnya marilah kita renungkan ajakan Paulus di bawah ini.

Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” (1Kor 10:31)

AMDG = Ad Maiorem Dei Gloriam (Demi Kemuliaan Nama Tuhan, Amrih Mulyo Dalem Gusti), demikian salah satu motto St.Ignatius Loyola, yang hemat saya senada dengan nasihat Paulus di atas ini. “Lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah”, demikian saran atau nasihat Paulus kepada kita semua. Segala sesuatu yang ada di bumi atau dunia ini diciptakan oleh Allah, dan manusia sebagai ciptaan tertinggi atau termulia di dunia ini dipanggil untuk memfungsikan ciptaan-ciptaan lainnya demi kemuliaan Allah. Dengan kata lain melalui aneka kesibukan, pekerjaan, pelayanan, tugas atau apapun yang kita lakukan diharapkan kita semakin beriman, semakin berbakti kepada Allah , semakin suci, semakin dikasihi oleh Allah dan banyak orang.

Secara khusus Paulus mengingat dalam hal makan dan minum, suatu kegiatan yang menyenangkan bagi kita semua. Pertanyaannya adalah: apakah selama makan dan minum kita juga sekaligus memuliakan Allah, yang berarti aneka makanan dan minuman yang kita santap sungguh membuat tubuh segar-bugar, sehat wal’afiat, sehingga semakin bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak anda sekalian untuk mengkomsumi jenis makanan dan minuman yang sehat, meskipun tidak nikmat di lidah. Maklum mayoritas orang masa kini sudah kena budaya pasar yang konsumptif dalam hal makanan dan minuman, sehingga mudah kena penyakit dan tidak memiliki ketahanan phisik yang handal. Bukankah banyak orang lebih senang jenis makanan instant dalam kemasan plastik atau jajan ke restaurant dan warung dari pada memasak sendiri? Dengan kata lain banyak orang mengkomsumi makanan yang kurang atau tidak sehat. Kami mengajak dan mengingatkan anda sekalian: marilah kita mengkomsumi jenis makanan dan minuman alamiah yang sehat.

“Orang yang sakit kusta harus berpakaian yang cabik-cabik, rambutnya terurai dan lagi ia harus menutupi mukanya sambil berseru-seru: Najis! Najis! Selama ia kena penyakit itu, ia tetap najis; memang ia najis; ia harus tinggal terasing, di luar perkemahan itulah tempat kediamannya.” (Im 13:45-46). Kutipan ini kiranya dapat menjadi peringatan bagi kita semua agar kita jangan jatuh sakit, entah sakit apapun. Tanpa disingkirkan pada umumnya mereka yang menderita sampai menyingkirkan atau mengasingkan diri sendiri. Ia mengasingkan dari sesamanya, lingkungan hidupnya maupun tugas pekerjaannya. Saya percaya kita semua tidak mendambakan keterasingan macam itu, maka baiklah kalau kita senantiasa mengusahakan kesehatan dan kebugaran tubuh kita masing-masing. Anak-anak di dalam keluarga hendaknya sedini mungkin dibiasakan dan dididik untuk hidup sehat dan bugar, baik secara jasmani maupun rohani, phisik maupun spiritual.

“Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu!  Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: "Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku," dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku” (Mzm 32:1-2.5)

Ign 12 Februari 2012

5 pencarian oleh pembaca:

  1. renungan tentang penyakit kusta
Tags : , , , , ,

12 Jan

Aku mau jadilah engkau tahir”

(1Sam 4:1-11; Mrk 1:41-45)

‘Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka." Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru” (Mrk 1:40-45), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Pribadi Yesus, Penyelamat Dunia, memang sungguh berwibawa dan berkuasa, SabdaNya mampu menyembuhkan orang sakit, sehingga semakin banyak orang yang tergerak untuk datang kepadaNya serta mohon penyembuhan dari penyakitnya. Namun mereka salah faham atau tidak mengetahui siapa sebenarnya Yesus, dan Yesus pun juga menyadari hal itu, maka Ia mencoba menyingkir dengan “tinggal di tempat-tempat yang sepi” untuk berdoa dan menyadari Diri agar tidak terjebak pada dambaan kebanyakan orang yang salah faham perihal siapa Dia sebenarnya. Apa yang terjadi pada dan dilakukan oleh Yesus ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi, lebih-lebih bagi mereka yang menjadi favorit bagi banyak orang. Hendaknya jangan sampai kebanyakan orang terhenti pada pujian dan sanjungan pada diri anda yang favorit itu, sehingga ada kemungkinan anda menjadi sombong, tetapi berusahalah agar kebanyakan orang yang memperhatikan anda tidak terhenti pada diri anda, melainkan terarah kepada Dia yang telah menganugerahi kelebihan kepada anda, yaitu Tuhan. Dengan kata lain jika anda dianugerahi kelebihan yang membuat anda menjadi favorit, hendaknya anda tetap rendah hati serta berusaha mengarahkan mereka yang memuji dan memuja anda agar semakin beriman, semakin membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan. Secara khusus kami berharap kepada para pemimpin maupun artis, yang sering menjadi favorit bagi kebanyakan orang, untuk sering menyepi dan berdoa mohon kepada Tuhan agar tidak jatuh kepada kesombongan.

·   "Celakalah kita, sebab seperti itu belum pernah terjadi dahulu. Celakalah kita! Siapakah yang menolong kita dari tangan Allah yang maha dahsyat ini? Inilah juga Allah, yang telah menghajar orang Mesir dengan berbagai-bagai tulah di padang gurun.” (1Sam 4:7-8), demikian kata-kata orang Filistin yang berkendak jahat terhadap bangsa terpilih serta ingin menghabisi bangsa terpilih. Bangsa terpilih yang jumlahnya sedikit dan kelihatan lemah ternyata disertai dan didampingi oleh Tuhan di dalam perjalanannya menuju tanah terjanji. Bukankah hal ini dapat menjadi cermin untuk mawas diri bagi siapapun yang merasa terpilih? Terpilih menjadi juara lomba, akreditasi sekolah atau lamaran pekerjaan dst.. Yang terpilih pada umum sedikit, dan mungkin sebagai yang terpilih membuat iri hati bagi yang tak terpilih, maka bagi yang terpilih kami harapkan untuk tetap dalam Tuhan: hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan agar tidak jatuh ke kebencian atau permusuhan karena membuat iri hati banyak orang. Kutipan diatas kiranya juga baik untuk menjadi permenungan bagi kita umat Kristen atau Katolik, yang dalam kenyataan secara kwantitas termasuk kelompok kecil di Indonesia ini. Kami berharap kepada rekan-rekan umat Kristen maupun Katolik untuk tetap setia pada imannya, senantiasa hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan kapan pun dan dimana pun. Jika demikian adanya maka hendaknya tidak takut dan tidak gentar ketika menghadapi cemoohan, ejekan atau ancaman dari mereka yang tidak senang pada kita atau bahkan membenci kita.  Berdoalah kepadaNya dan biarkanlah Tuhan sendiri yang akan menegor dan mengingatkan mereka yang membenci atau mengancam kita. Percayalah bahwa sejelek-jelek orang di mata kita pasti dalam hatinya masih ada kerinduan akan Tuhan, dan ketika menerima tegoran atau peringatan dari Tuhan mereka pasti akan bertobat. Hendaknya menghadapi aneka ejekan, cemoohan atau ancaman dengan tenang seraya berdoa, sebagaimana pernah terjadi dalam revolusi di Filipina dimana para ibu sambil berdoa rosariyo menghadapi tentara dengan senjatanya yang canggih dan lengkap serta tank-tank tempurnya, dan akhirnya mereka pun mundur teratur.

“Namun Engkau telah membuang kami dan membiarkan kami kena umpat, Engkau tidak maju bersama-sama dengan bala tentara kami. Engkau membuat kami mundur dari pada lawan kami, dan orang-orang yang membenci kami mengadakan perampokan. Engkau membuat kami menjadi cela bagi tetangga-tetangga kami, menjadi olok-olok dan cemooh bagi orang-orang sekeliling kami. Engkau membuat kami menjadi sindiran di antara bangsa-bangsa, menyebabkan suku-suku bangsa menggeleng-geleng kepala.” (Mzm 44:10-11.14-15)

Ign 12 Januari 2012

Tags : , , , , ,

Jangan Lalai Mengucap Syukur

Ayat bacaan: Lukas 17:17-18
=======================
“Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”

mengucap syukurTidak ada yang mau terus menerus berada dalam jepitan kesulitan. Maka kita pun berdoa meminta Tuhan mengangkat kita keluar dari jerat masalah. Ketika Tuhan mengulurkan tanganNya dan membebaskan kita, seharusnya kita pun mengingat kebaikan Tuhan yang telah melepaskan kita. Tapi sayangnya tidak banyak orang yang ingat untuk mengucap syukur atas kebaikanNya. Mungkin sekedar ucapan terima kasih dalam satu atau dua doa, lantas sibuk menikmati kebebasan dan lupa untuk bersyukur. Sementara seharusnya, bukan hanya dalam keadaan baik, tapi dalam keadaan buruk pun kita terus mengucap syukur pada Tuhan. Seperti apa yang dikatakan Paulus kepada jemaat Tesalonika “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18). Ini hal yang penting yang seharusnya kita lakukan, sesuai dengan apa yang Allah kehendaki untuk senantiasa kita lakukan dalam hidup kita. Namun banyak orang yang hanya ingat untuk bersyukur untuk sementara waktu saja, atau malah tidak pernah sama sekali.

Terlena dalam kenyamanan hidup. Hal ini sudah sejak dahulu kala menjadi kebiasaan buruk manusia. Salah satu kisah mengenai ini langsung dialami oleh Yesus sendiri ketika Dia bertemu dengan sepuluh orang kusta yang tercatat pada Lukas 17:11-19. Pada masa itu orang yang menderita penyakit kusta dikucilkan dari masyarakat. Tidak ada yang mau dekat dengan mereka. Pada suatu kali kesempatan emas datang di hadapan mereka. Mereka melihat Yesus berjalan agak jauh di depan mereka. (ay 12). Mereka pun segera memanggil-manggil Yesus. “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”(ay 13). Yesus kemudian menyembuhkan/mentahirkan mereka semua. Tapi lihatlah berapa orang yang kembali menghadap Yesus. “Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.” (ay 15-16). Hanya satu orang! Dan itupun orang Samaria. Kemana 9 orang lagi? Mungkin sedang berlari-lari kegirangan menikmati kesembuhan mereka, lupa untuk mengucapkan terimakasih, bersyukur pada Tuhan yang telah menjamah mereka. “Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” (ay 17-18). Betapa memalukan. Tapi hingga hari ini, hal seperti ini masih juga sering terjadi.

Sudahkah anda bersyukur hari ini atas semua kebaikan Tuhan dalam hidup anda? Sudahkah anda memujiNya atas penyertaanNya sepanjang hari ini? Jika belum, kembalilah seperti orang Samaria yang disembuhkan di atas. Datanglah kepada Yesus, dan mengucap syukurlah. Bahkan dalam keadaan sulit sekalipun, sebab itulah yang dikehendaki Tuhan di dalam Kristus. Tokoh-tokoh dalam Alkitab pun punya pergumulannya sendiri sendiri. Namun mereka tahu bahwa kasih setia Allah sanggup melepaskan mereka dari belenggu masalah sebesar apapun sesuai waktunya Tuhan. Daud pun sering mengalami kesulitan. Salah satunya tertulis seperti ini: “Seperti tikaman maut ke dalam tulangku lawanku mencela aku, sambil berkata kepadaku sepanjang hari: “Di mana Allahmu?” (Mazmur 42:11). Lalu bagaimana reaksi Daud? Luar biasa. Ayat selanjutnya berkata: “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (ay 12). Ini sikap yang dikehendaki Allah. Janganlah pernah lalai untuk mengucap syukur padaNya. Seperti halnya kepada 10 orang kusta, Dia pun sanggup memulihkan kita. “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar” (Yesaya 59:1) Itu janji Tuhan. Karenanya belajarlah untuk terbiasa untuk mengucap syukur dalam keadaan apapun. Tuhan berfirman, meskipun kita terjatuh, kita tidak akan sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangan kita. (Mazmur 37:24). Inilah yang menjadi janji Tuhan ketika kita tetap tahu untuk bersyukur dan berterimakasih meski dalam keadaan sulit sekalipun. Jadi tidak perlu merasa tertekan, dan teruslah belajar untuk rajin mengucap syukur kepada Tuhan. “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.” (Ibrani 13:15).

Bersyukurlah kepada Tuhan karena itulah yang Dia kehendaki di dalam Kristus

Tags : , ,