Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Kedip Menipu

Ayat bacaan: Amsal 6:12-15
===========================
“Tak bergunalah dan jahatlah orang yang hidup dengan mulut serong,yang mengedipkan matanya, yang bermain kaki dan menunjuk-nunjuk dengan jari, yang hatinya mengandung tipu muslihat, yang senantiasa merencanakan kejahatan, dan yang menimbulkan pertengkaran. Itulah sebabnya ia ditimpa kebinasaan dengan tiba-tiba, sesaat saja ia diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi.”

kedip menipuKedipan mata sering dipakai orang untuk menjadi kode atau isyarat akan sesuatu. Bisa untuk menggoda teman, ingin bercanda, atau bahkan untuk hal-hal yang negatif seperti menipu. Hari ini ketika berbelanja di pasar saya pun melihat penjual bermain mata dengan pegawainya tanpa sepengetahuan si pembeli. Entah apa yang ia isyaratkan dengan kedip mata yang disertai sedikit senyum itu, tapi tampaknya keduanya sama-sama mengerti kode yang disampaikan lewat kedipan itu. Mencari orang jujur semakin sulit saja memang. Dimana-mana kita bertemu dengan orang-orang yang gemar menipu dalam berbagai bentuk. Mungkin anda masih ingat sms penipuan yang marak beberapa waktu lalu yang isinya seolah-olah dari ibu yang dihubungi, meminta uang untuk sebuah keperluan. Teman saya pernah tertawa karena ibunya sudah lama tiada. Tetapi ada berapa banyak orang yang tertipu oleh sms seperti itu? Sms atau telepon yang mengatakan menang undian, pegawai yang menaikkan harga di kwitansi, murid yang bolos dengan mengaku sakit, supir yang mengisi bensin berbeda dengan yang tertera di bon dan sebagainya. Tipu menipu terus hadir dalam berbagai bentuk. Bahkan iklan-iklan lowongan pekerjaan di surat kabar harian pun tidak luput dari para penipu ini. Mereka terus mempergunakan segala cara dalam menjalankan operasinya. Bersepakat berbohong, menipu dan melakukan tipu muslihat akan terus ada selama peradaban manusia masih berjalan.

Firman Tuhan jelas menyatakan bahwa kebohongan atau tipu menipu itu adalah dosa. Masalahnya kita sering melegalisir atau membenarkan kebohongan itu dengan berbagai dalil atau alasan. Bohong sedikit tidak apa-apa, bohong demi kebaikan itu boleh, sekali-kali menipu itu wajar dan sebagainya. Kita mengedepankan alasan-alasan sebagai pembenaran untuk berlaku serong. Padahal kebohongan apapun bentuknya tetaplah sebuah kebohongan, menipu tetaplah menipu, yang harusnya tidak bisa dibenarkan atas alasan seperti apapun. Amsal Salomo berpanjang lebar menjabarkan hal ini. “Tak bergunalah dan jahatlah orang yang hidup dengan mulut serong,yang mengedipkan matanya, yang bermain kaki dan menunjuk-nunjuk dengan jari, yang hatinya mengandung tipu muslihat, yang senantiasa merencanakan kejahatan, dan yang menimbulkan pertengkaran. Itulah sebabnya ia ditimpa kebinasaan dengan tiba-tiba, sesaat saja ia diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi.” (Amsal 6:12-15). Lihatlah betapa seriusnya penipuan di mata Tuhan. Apa ganjaran dari pelaku tipu menipu ini? Firman Tuhan berkata: ditimpa kebinasaan dengan tiba-tiba, diremukkan tanpa bisa dipulihkan lagi. Broken without remedy, demikian versi bahasa inggrisnya.  Dalam rangkaian ayat selanjutnya kita juga bisa melihat bagaimana lidah dusta, hati yang membuat rencana jahat, saksi dusta yang menyemburkan kebohongan termasuk dalam tujuh perkara yang dibenci Tuhan dan dianggap sebagai kekejian bagi hati Tuhan. (ay 16-19).

Bersekongkol untuk menipu dengan segala cara termasuk dengat kedipan mata kembali bisa kita baca dalam pasal lainnya dalam kitab Amsal. “Siapa mengedipkan mata, menyebabkan kesusahan, siapa bodoh bicaranya, akan jatuh.” (Amsal 10:10). Jadi jelaslah bahwa apapun bentuknya, kebohongan atau tipu muslihat merupakan sebuah kejahatan di mata Tuhan. Secara lebih tegas kita bisa melihat dalam surat Korintus yang mengatakan: “..Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. (1 Korintus 6:9b-10). Menipu itu sama saja parahnya dengan menyembah berhala, percabulan, perzinahan, pencuri, pemabuk, pelit dan sebagainya. Semuanya sama-sama tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah, bahkan dikatakan akan binasa tiba-tiba, diremukkan tanpa dapat pulih lagi. Tuhan tidak mentolerir dosa seperti apapun. Adalah bagus jika kita tidak melakukan kejahatan-kejahatan yang kita anggap besar seperti membunuh atau menyiksa orang misalnya, tetapi itu hanya akan sia-sia apabila kita masih menghalalkan berbagai bentuk penipuan, karena dampaknya terhadap keselamatan kita akan sama saja.

Biasanya penipuan direncanakan dari hati yang sudah terkontaminasi menjadi jahat. Kita harus waspada menjaga hati kita karena meski kita bisa menyimpan rapi segala bentuk penipuan, walaupun kita bisa menipu banyak orang lewat berbagai muslihat jahat, sekiranya pun kita bisa menutup rapat isi hati kita, namun ingatlah bahwa tidak ada satu hal pun yang tersembunyi di hadapan Allah, “..sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita.” (1 Tawarikh 28:9a). Jika tidak waspada, maka hati kita akan terus bertambah jahat sehingga berbagai bentuk penipuan akan menjadi biasa saja bagi kita untuk dilakukan. Mungkin kita memulainya dengan kebohongan kecil yang kita anggap tidak apa-apa, tetapi jika tidak hati-hati kebohongan demi kebohongan dengan eskalasi meningkat bisa terjadi. Kita mulai dari mentolerir dosa kecil, lalu jika dibiarkan maka kita akan semakin sering melakukannya dengan bentuk-bentuk yang semakin besar pula. Pada suatu ketika kita akan menjadi seorang pembohong yang tidak lagi merasa bersalah. Alangkah berbahayanya jika hal ini terjadi, karena Tuhan jelas menganggap hal itu sebagai suatu kekejian di mataNya.

Apapun alasannya, hindarilah segala bentuk tipu muslihat. Berbohong, menipu, isyarat kedipan mata, bermain kaki dan sebagainya. Mungkin menipu bisa mendatangkan keuntungan materi, tetapi itu tidak ada gunanya jika pada akhirnya kita harus menuai kebinasaan. Ayat bacaan hari ini pun dengan tegas menyatakan bahwa itu tidak berguna alias sia-sia saja. Jagalah hati kita agar tidak penuh dengan segala yang jahat. Biasakan diri kita untuk bicara dan berlaku jujur sebelum kita terjebak dalam sikap hati yang jahat ini. Jagalah hati senantiasa dan isilah selalu dengan Firman Tuhan. Pastikan hati kita tetap berada dalam keadaan baik agar kita bisa tetap waspada terhadap berbagai jebakan yang mengarahkan kita kepada tipu muslihat dan kebohongan ini.

Penipuan merupakan kekejian di mata Tuhan dan akan mendapat ganjaran yang berat akibatnya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

Hati Yang Murni

Ayat bacaan: Matius 5:8
====================
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”

hati yang tulus, murni, suciApa yang ada di dalam hati kita ketika kita mengulurkan tangan kita untuk membantu orang-orang yang kekurangan, ketika kita melayani Tuhan dan melakukan pekerjaanNya? Banyak yang melayani, namun tidak seluruhnya memiliki kondisi hati yang sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Ada orang yang dengan tulus sungguh-sungguh melayani karena mengasihi Tuhan, tapi ada pula orang yang melayani karena ingin membesarkan dirinya sendiri. Ingin terlihat hebat, ingin terlihat rohani, ingin menonjolkan kemampuan dan sebagainya. Ada pula yang karena ingin menarik perhatian kekasihnya, karena paksaan orang tua, ingin mendapat pujian dan lain-lain. Ada pula yang melayani karena hanya ingin mendapatkan upah dari Tuhan. Betapa banyaknya motivasi yang bisa menjadi dasar dari pelayanan dan perbuatan yang kita lakukan untuk orang lain. Tuhan tentu menghargai pelayanan kita, namun itu hanya terjadi apabila kita melakukannya dengan tulus, dengan hati yang murni.

Salah satu ucapan Kristus dari rangkaian kotbahNya di atas bukit yang terkenal berbunyi seperti berikut: “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” (Matius 5:8). Dalam bahasa Inggrisnya, kata hati suci ini disebutkan dengan “pure heart”. Hati yang murni akan membuat kita melihat Allah. Melihat kuasa-kuasaNya, melihat jalan-jalanNya, melihat petunjukNya dan melihat rencanaNya. Ini sejalan dengan apa yang ditulis oleh Daud. “Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.” (Mazmur 24:4-5). Sesungguhnya Tuhan menyediakan upah kepada orang-orang yang memiliki ketulusan, kemurnian atau kesucian hati. Ada berkat dan keadilan serta keselamatan yang diberikan Tuhan kepada orang-orang yang demikian. Tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, termasuk menipu diri sendiri dan orang lain atau bahkan berpikir untuk bisa mengelabui Tuhan. Orang-orang yang memiliki ketulusan untuk melakukan firman Tuhan, menolong sesama, mengasihi sesama, melayani tanpa pamrih, bukan karena berharap apa-apa dan ingin terlihat seperti apa di mata orang, tapi hanya karena Allah, orang-orang seperti inilah yang akan menikmati perlindungan dari Tuhan dan berbagai berkat-berkatNya yang tercurah dari langit.

Hati yang tulus dan suci ini bisa kita dapatkan lewat pengenalan kita secara pribadi akan Tuhan, lewat firman-firmanNya yang tertulis dalam alkitab dan juga lewat doa-doa kita secara pribadi dengan Tuhan. Bergaul akrab dengan Tuhan, tinggal di dalam hadiratNya, semua ini akan membuat kita bisa memiliki sebentuk hati yang mengasihi Tuhan lebih dari segalanya. Bukan sekedar doa karena rutinitas, karena terpaksa, atau karena sekedar kewajiban saja, bukan pula doa yang berupa hafalan. Mencurahkan isi hati kita secara total kepada Tuhan dengan sejujur-jujurnya akan sangat berbeda dibandingkan doa berbentuk hafalan atau sekedar rutinitas semata. Disitulah kita akan mengalami proses pencucian dan pemurnian hati. Hari demi hari kita akan semakin terbentuk menjadi pribadi berkarakter yang kuat berakar pada Kristus. Dan hari demi hari kita pun akan semakin mampu melayani dengan ketulusan dan kemurnian hati. Inilah yang akan bernilai di hadapan Tuhan.

Tuhan tidak menyukai orang-orang yang munafik dalam hal apapun. Dalam hal memberi: “Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Matius 6:2-4). Dalam hal berdoa: “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya….Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.” (ay 5,7). Atau dalam hal berpuasa: “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” (ay 16). Munafik bertolak belakang dengan tulus dan murni, karena dalam kemunafikan ada begitu banyak motivasi yang tersembunyi di balik layar yang mencemarkan hati kita.

Mari hari ini kita sama-sama memeriksa hati kita. Sudahkah kita memiliki hati yang tulus, suci dan murni dalam menjalani hidup? Apakah kita sudah melayani dengan tulus ikhlas hanya karena Tuhan dan bukan hal-hal yang memegahkan diri kita sendiri? Pemazmur mengatakan “Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya.” (Mazmur 73:1). Sesungguhnya ada berkat-berkat dan perlindungan yang disediakan Tuhan kepada orang-orang yang tulus dan bersih hati ini. Itu adalah anugerah Tuhan yang dengan sendirinya akan datang kepada orang seperti ini tanpa harus ditagih terlebih dahulu. Dasarkanlah segala sesuatu yang kita lakukan dengan hati yang bersih dan tulus, suci dan murni agar kita bisa merasakan kebaikan Tuhan senantiasa menyertai kita dalam hidup. Karena akan sia-sia saja kita berbuat baik dan melayani apabila hati kita masih mengalami polusi dari berbagai limbah yang bukan berasal dari Allah. Munafik akan menerima upah, tulus dan murni pun menerima upah. Tapi upahnya jelas berbeda. Yang mana yang akan kita pilih sungguh tergantung dari bagaimana sikap dan kondisi hati kita. Sungguh tepat jika Salomo pun mengingatkan : “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23). Adakah hati kita masih mengalami pencemaran dari berbagai hal? Mari kita bersihkan dengan lebih bertekun lagi membina hubungan dengan Tuhan. Milikilah hati yang suci, karena hanya dengan demikianlah kita bisa melihat Tuhan.

Alami kebaikan, penyertaan, berkat dan perlindungan Tuhan lewat hati yang tulus, bersih, suci dan murni

Incoming search terms:

Hidup Nyaman Dalam Dosa

Ayat bacaan: Yunus 1:5
====================
“Awak kapal menjadi takut, masing-masing berteriak-teriak kepada allahnya, dan mereka membuang ke dalam laut segala muatan kapal itu untuk meringankannya. Tetapi Yunus telah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah dan berbaring di situ, lalu tertidur dengan nyenyak.”

hidup nyaman dalam dosaDosa tampaknya tidak lagi menyeramkan bagi banyak orang. Ada begitu banyak orang hari-hari ini yang terlalu terpaku pada kebutuhan duniawi, sehingga merasa tidak punya masalah jika harus mendapatkan harta dari cara yang tidak benar sekalipun. Menggelapkan uang, mark-up, korupsi, penipuan, penyalah-gunaan jabatan/wewenang dan sebagainya, menjadi sesuatu yang sangat biasa di mana-mana. Jika sudah bisa menutupi kejahatan mereka dari mata aparat, menghilangkan barang bukti atau menyuap aparat yang dianggap “berbahaya” bagi keselamatan mereka, mereka pun bisa dengan tenang hidup dari segala kemewahan yang tidak sah itu. Bahkan mereka berani tampil di depan publik, penuh senyum dan gaya berlebihan. Padahal pengadilan Tuhan, jauh lebih berat ketimbang pengadilan yang ada di dunia ini. Katakanlah di dunia hukumannya 20 tahun jika terbukti korupsi. Di tahta Tuhan nanti, ketika hari penghakiman tiba, dosa itu bisa mendatangkan maut yang kekal sifatnya. Sangat mengerikan. Dan kita tidak akan bisa menyuap Tuhan, meski seluruh uang yang ada di dunia ini adalah milik kita.

Melakukan dosa adalah kekejian bagi Tuhan. Dalam Amsal kita baca seperti ini: “karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat.” (Amsal 3:32). Melakukan dosa dan menyadari bahwa itu adalah salah, namun tidak bertobat, itu saja sudah berat. Apalagi jika kita malah menikmati hidup dalam dosa. Itu lebih mengerikan lagi. Saya ingin mengajak teman-teman untuk membaca kisah Yunus. Pada suatu kali, Yunus diberi tugas oleh Tuhan untuk mempertobatkan penduduk Niniwe, sebuah kota besar dan makmur. Apakah Yunus menurut? Tidak. Dia malah memilih untuk melanggar kehendak Tuhan, dengan jalan melarikan diri dengan kapal ke tempat lain dengan harapan agar ia jauh dari hadapan Tuhan. (Yunus 1:3). Maka Tuhan pun mendatangkan angin ribut yang mengakibatkan badai besar. (ay 4).Penumpang kapal pun menjadi panik ketakutan dan menyembah allah mereka masing-masing. “Awak kapal menjadi takut, masing-masing berteriak-teriak kepada allahnya, dan mereka membuang ke dalam laut segala muatan kapal itu untuk meringankannya.” (ay 5a). Perhatikan kata “allahnya”, dalam huruf kecil, berarti para awak kapal itu bukanlah orang percaya.

Ketika keadaan sedang genting, apa yang dilakukan Yunus, sang penyebab bencana itu? Alkitab mencatat ia malah sedang tidur dengan nyenyak. “Tetapi Yunus telah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah dan berbaring di situ, lalu tertidur dengan nyenyak.” (ay 5b). Keterlaluan. Sudah melanggar perintah Tuhan, sudah menghadapi kemarahan Tuhan akibat pelanggaran itu, tapi masih juga bisa tidur nyenyak! Kita tahu kisah selanjutnya. Yunus diketahui menjadi penyebab dari badai besar itu yang setiap saat siap untuk menenggelamkan kapal. Yunus pun menyadari hal itu, dan meminta agar dirinya dicampakkan saja ke laut. (ay 12). Namun lihatlah hal yang luar biasa yang dicatat di ayat berikutnya. “Lalu berdayunglah orang-orang itu dengan sekuat tenaga untuk membawa kapal itu kembali ke darat, tetapi mereka tidak sanggup, sebab laut semakin bergelora menyerang mereka.” (ay 13). Ternyata, para awak kapal masih berusaha untuk menyelamatkan kapal tanpa harus membuang Yunus ke laut. Mereka, yang bukan orang percaya saja mau memikirkan nyawa 1 orang, sementara Yunus tidak mau memikirkan keselamatan dari seisi kota besar, dan memilih untuk mementingkan dirinya sendiri saja. Lalu kita tahu, Yunus akhirnya ditelan ikan besar, dan berada di dalam perut ikan itu selama 3 hari 3 malam. Saya yakin itu bukanlah tempat yang menyenangkan untuk ditinggali selama 3 hari 3 malam. Bau, lembab dan menjijikkan, saya yakin dirasakan Yunus pada saat itu. Dan ia pun akhirnya bertobat dan memilih untuk menjalankan perintah Tuhan. Hasilnya? Seluruh kota Niniwe, termasuk raja bahkan ternak-ternak bertobat dan melakukan puasa serta mengenakan kain kabung. Satu orang Yunus bisa dipakai Tuhan untuk menyelamatkan seisi kota. Luar biasa.

Berhati-hatilah terhadap dosa, jangan sampai terlena di dalamnya. Kita harus menjaga diri kita agar tidak memberi toleransi atau berkompromi dengan dosa, walau sekecil apapun. Dosa yang kecil, mampu membuat kita lama-lama terbiasa hidup berselubung dosa, hidup nyaman bersama dosa, bahkan bisa tidur nyenyak bersamanya! Jika kita tidak bisa mengendalikan keinginan-keinginan kita sendiri, kita akan terseret masuk ke dalam dosa, dan pada saatnya dosa akan melahirkan maut. “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.”(Yakobus 1:14-15). Lihatlah apa yang terjadi pada Yunus, yang harus mengalami hidup dalam perut ikan selama 3 hari 3 malam terlebih dahulu baru bertobat. Marilah berbalik dengan cepat jika kita berbuat dosa, sehingga kita tidak perlu “dilemparkan ke dalam perut ikan” agar mau bertobat. Dosa adalah pelanggaran hukum Allah yang akan selalu menjadi penghalang hubungan kita dengan Tuhan. Ketika kita mendapat teguran dari Roh Kudus ketika melakukan kesalahan, jangan keraskan hati, dan berbaliklah segera, agar kita tidak perlu mengalami sesuatu yang menyakitkan terlebih dahulu untuk bisa bertobat.

Cegah dosa sejak dini sebelum kita terbiasa untuk hidup nyaman bersama dosa

Seterang Matahari

Ayat bacaan: Mat 13:43
===================

“Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

Betapa susahnya jadi “orang benar”. Sejak kecil, tanpa sadar anak2 sudah mulai terpengaruh oleh lingkungan yang makin lama makin kejam. Untuk bisa bergaul dengan kelompok2 tertentu, mereka harus mengikuti sejumlah atribut, kebiasaan dll. Contoh kecil saja, kita bisa melihat begitu banyak anak2 yang merokok cuma supaya dianggap “cool” dan bisa diterima oleh teman2nya. Hingga ke dunia dewasa pun, hal seperti ini masih berlangsung. Di banyak lahan pekerjaan, jika seseorang tidak bisa mengikuti “arus”, dia akan disingkirkan. Seorang atasan korupsi, kebawah pun harus sejalan, jika tidak, anda akan langsung ditendang ke divisi lain, atau malah dikeluarkan. Singkatnya, untuk menjadi orang benar, kita harus siap dianggap bodoh, kampungan, sok alim, jelek, ditolak dan disingkirkan. Dan, makin banyak orang yang berpikir pendek, mementingkan segala atribut, kedudukan dan status di dunia ini. “ah gimana ntar aja, pokoknya sekarang nikmati dulu. Jahat dikit kan wajar? soal nanti ya nanti aja dipikirin..” ini mungkin jadi excuse lazim disaat2 sekarang.

padahal hidup di dunia ini sangatlah singkat dan tidak sebanding dengan kehidupan kekal nantinya. Adakah orang yang bisa luput dari pengadilan Allah nanti? bisakah Allah ditipu, diperdaya atau, disogok? Semua akan begitu transparan, tidak ada lagi yang bisa ditutupi dan disembunyikan. Apapun yang kita lakukan di dunia ini, meskipun tidak ada orang yang melihat, meskipun kita bisa menggelontorkan sejumlah dana untuk menutupi borok, aib dan penipuan, Tuhan tetap melihat kita. Dia ada dimana2. Jadi, sebenarnya bukan “gimana ntar”, tapi “ntar gimana”. Meskipun mungkin sangat sulit untuk tampil “beda”, dan beresiko dikucilkan dan hal2 lain yang merugikan secara duniawi, tapi kita akan memetik buahnya nanti ketika kita sudah selesai berurusan dengan dunia ini. Tetap pegang erat firman Tuhan, jadilah anakNya yang punya gambaran sama dengan Dia, apapun resikonya dan nantikan saat dimana anda akan bersinar cemerlang disisi Bapa.

Jika anda terbiasa hidup terang di dunia ini, anda akan bercahaya seperti matahari dalam kerajaan Allah.