Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Buta Rohani

Ayat bacaan: Mazmur 119:130
=======================
“Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh.”

buta rohani“Punya mata tapi kok tidak melihat!” begitulah seorang ibu menegur orang yang secara tidak sengaja menubruknya sehingga bawaannya jatuh di sebuah mal. Saya kebetulan berada dekat dari mereka sehingga melihat kejadian itu. Agaknya si orang itu terburu-buru dan meleng lalu menabrak sang ibu dari belakang. Saya pun berpikir, memiliki sepasang mata sebagai anugerah Tuhan yang sangat luar biasa tidak serta merta membuat kita mampu melihat segalanya dengan jelas. Ada kalanya seperti orang tadi kita meleng dan melakukan kesilapan. Jika kita berjalan dan tidak hati-hati, kita bisa tersandung dan jatuh. Akibat dari meleng bisa ringan saja, seperti contoh-contoh di atas, tapi bisa pula beresiko besar bahkan fatal, misalnya ketika kita meleng ketika mengemudi di jalan raya. Apapun itu, yang pasti memiliki sepasang mata yang berfungsi normal tidak serta merta menjamin kita untuk bisa melihat segalanya dengan baik.

Saya ingin menyambung sedikit lagi mengenai buta rohani yang telah saya bahas kemarin. Kita sudah melihat bagaimana reaksi dari murid-murid Yesus dan orang-orang Farisi terhadap seorang pengemis buta yang menunjukkan kebutaan rohani mereka seperti yang tertulis dalam Yohanes 9. “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (Yohanes 9:2). Demikian pertanyaan yang dilemparkan para murid kepada Yesus. Belum kenal, belum tahu orangnya, belum apa-apa mereka sudah langsung menuduh bahwa kebutaan itu akibat dosa. Sementara orang Farisi lebih parah lagi. Mereka lebih mementingkan tata cara dan adat ketimbang membantu orang lain dan mengasihi. Bukan hanya sampai disitu saja, mereka bahkan berani-beraninya menuduh Yesus berdosa hanya karena Yesus menyembuhkan si pengemis buta itu di hari Sabat. (ay 16). Tanpa sadar, mereka menunjukkan bahwa sesungguhnya merekalah yang buta, yaitu buta rohani.

Ketika Yesus datang ke dunia, Dia memang menyembuhkan banyak kebutaan jasmani di samping berbagai mukjizat kesembuhan lainnya. Tapi apa yang sesungguhnya menjadi kepedulian terbesar Yesus di muka bumi ini justru kebutaan rohani. Perhatikanlah. Ada begitu banyak pemuka agama alias orang-orang Farisi yang menyelidiki kesembuhan si pengemis buta itu tidak mau percaya terhadap Yesus, malah menuduhNya berdosa. Bacalah Yohanes 9:13-34 untuk lebih jelasnya. Karena itulah Yesus kemudian berkata: “Yesus pun kemudian mengatakan kepada mereka “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta.” (ay 39). Lucunya lagi, orang-orang Farisi tidak juga sadar bahwa mereka buta secara rohani. Mereka merasa mata rohani mereka paling tajam dan paling hebat, sehingga mereka masih bisa menantang Yesus setelah mendengar kata-kata Yesus tersebut. (ay 40). Dan kembali Yesus menegaskan: “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.” (ay 41).

Di kemudian hari rasul Paulus kembali menyinggung perihal kebutaan rohani ini. “Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.” (2 Korintus 4:3-4). `Ini menunjukkan sebuah kebutaan rohani yang bisa menimpa siapa saja. Seperti halnya mata jasmani kita yang walau berfungsi tapi tidak serta merta membuat kita mampu melihat segalanya, mata rohani pun bisa tetap buta meski suara hati Tuhan sudah tertulis dengan jelas di dalam Alkitab apalagi lewat sabda-sabda Kristus yang membawa pesan dari Kerajaan Allah secara langsung. Tuhan ingin mencelikan mata rohani semua manusia agar bisa melihat kebenaran, namun tidak semua mau menerima itu. Sebagian orang bertindak seperti orang Farisi yang merasa paling alim, paling benar, paling melihat namun sesungguhnya buta, sebagian lagi seperti murid-murid Yesus yang merasa diri sudah aman sehingga menganggap mereka berhak menuduh atau menghakimi orang dengan begitu mudahnya.

Jika kita mundur ke belakang, kita bisa pula menemukan Pemazmur mengatakan:Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh.” (Mazmur 119:130). Firman hanya bisa memberi terang dan pengertian kepada orang bodoh apabila firman itu tersingkap. Jika tidak, maka kita tidak akan bisa menangkap maknanya dan akan seterusnya buta secara rohani, meski firman itu sudah kita baca dengan mata kepala sendiri atau malah sudah kita kenal betul bunyinya. Paulus pun mengatakan: “Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya. Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka. Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya. Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.” (2 Korintus 3:14-17). Roh Kudus siap menyingkapkan segala rahasia atau kunci Kerajaan Allah dan memberi kemerdekaan kepada kita, mencelikan mata rohani kita yang tadinya buta untuk kemudian dapat melihat. Namun semuanya tergantung kita, apakah kita mau menerima anugerah itu atau menolaknya. Kedatangan Kristus turun ke dunia membawa kerinduan Tuhan untuk memberi kesembuhan atas kebutaan rohani. Jangan sia-siakan itu, dan milikilah mata rohani yang berfungsi dengan benar.

Firman Tuhan memberi terang dan pengertian dan mencelikan kebutaan rohani

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Mensejahterakan Bangsa Sesuai Panggilan

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 17:16-17
=============================
“Sementara Paulus menantikan mereka di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala. “Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ.

kesejahteraan bangsa“Ask not what your country can do for you – ask what you can do for your country.” Demikianlah sebuah penggalan dari pidato John F Kennedy pada peresmian pengangkatannya menjadi Presiden Amerika Serikat ke 35 tahun 1961. Tidak banyak yang mengetahui bahwa quote yang sangat terkenal ini sesungguhnya dikutip dari tulisan Khalil Gibran. Demikian pentingnya kalimat ini karena sebagian besar penduduk suatu negara hanya menuntut haknya tanpa memperhatikan kewajiban mereka sebagai warga negara. Begitu juga dengan kita. Kita hanya mengeluh melihat banyaknya pengemis, gelandangan, pengamen dan lain-lain, kita memprotes tingginya tingkat kejahatan, kesemrawutan jalan raya, kondisi jalan yang buruk dan lain-lain tetapi tidak mau berbuat sesuatu untuk itu. Apa yang bisa kita buat? Apa kita semua harus menjadi polisi atau harus terlebih dahulu diberi kekuasaan mutlak atas negara ini baru kita mau berbuat sesuatu? Sesungguhnya tidak. Hal sekecil apapun yang kita lakukan sesuai panggilan kita dengan sungguh-sungguh atas dasar kasih bisa dipakai Tuhan untuk berbuah secara luar biasa.

Kemarin kita sudah meilhat panggilan penting bagi setiap orang percaya untuk turut berperan aktif secara nyata dalam mensejahterakan kota dimana kita tinggal. “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” (Yeremia 29:7). Secara spesifik dan jelas ayat ini menyerukan pentingnya untuk memberi kontribusi nyata dan berdoa demi kesejahteraan kota. Mengapa? Karena kesejahteraan kita sesungguhnya tergantung dari kesejahteraan kota tempat tinggal kita. Ada banyak orang yang sebenarnya tahu akan hal ini, tetapi tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan untuk itu. Mereka mengira bahwa untuk mengubah nasib sebuah bangsa mereka harus melakukan hal-hal yang besar saja. Padahal itu tidaklah benar. Setiap orang pada dasarnya memiliki panggilannya sendiri-sendiri. Apapun panggilan kita, dimanapun kita bekerja dan tinggal, kita bisa berbuat sesuatu, berkontribusi secara aktif dan nyata demi kesejahteraan bangsa kita. Itu seringkali dimulai dari hal-hal kecil dahulu, yang nantinya akan terus meningkat apabila kita melakukannya dengan sungguh-sungguh, dan itu sedikit banyak akan berdampak bagi kesejahteraan kota, bangsa dan negara.

Sebuah contoh kegelisahan akan panggilan demi kesejahteraan kota bisa kita lihat dari sosok Paulus. Ketika ia sampai di Yunani tepatnya di kota Athena, ia merasa sedih melihat banyaknya patung-patung berhala yang berdiri di sana. “Sementara Paulus menantikan mereka di Atena, sangat sedih hatinya karena ia melihat, bahwa kota itu penuh dengan patung-patung berhala.” (Kisah Para Rasul 17:16). Paulus pergi berkeliling dari satu tempat ke tempat lain sebenarnya untuk mewartakan berita keselamatan. Tetapi lihatlah bahwa ia tidak hanya berpuas diri akan hal itu saja, meski apa yang ia lakukan sesungguhnya sudah sangat besar. Mari kita perhatikan apa yang kemudian ia lakukan. “Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ.” (ay 17). Paulus tidak berdiam diri. Ia gelisah untuk melakukan sesuatu demi kesejahteraan kota Atena yang disinggahinya. Ia tidak tinggal disana untuk selamanya, tetapi tetap saja ia peduli akan kesejahteraan dan keselamatan kota itu. Ini adalah sebuah contoh yang sangat baik untuk melihat apa yang bisa kita lakukan sesuai kapasitas kita demi kota dimana kita berada saat ini. Paulus tidak meminta dirinya terlebih dahulu untuk menjadi gubernur atau raja disana. Sebagai seorang Paulus yang hanya pendatang pun ia tahu bahwa ia harus peduli, dan ia berbuat sesuai dengan batas kemampuannya.

Pada dasarnya setiap kita didesain dengan cara yang berbeda oleh Tuhan. Kita masing-masing diberi talenta dan panggilan masing-masing, dan semua itu tidak ada yang tidak berguna bagi kesejahteraan kota. Tuhan menciptakan binatang sesuai kemampuan dan fungsinya masing-masing. Kuda diciptakan untuk berlari sedang ikan untuk berenang. Burung diciptakan untuk terbang sedang cicak untuk merayap. Agar bisa berlari kencang kuda diberi kaki-kaki yang kuat dan kokoh. Ikan diberi insang dan sirip agar bisa berenang di dalam air, burung memiliki sayap dan cicak memiliki telapak kaki yang bisa merekat di dinding. Masing-masing diciptakan sesuai fungsi dan kegunaannya masing-masing. Dan manusia pun seperti itu. Paulus mengatakan “Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.” (Efesus 4:7) Ayat ini mengatakan dengan jelas bahwa siapapun kita telah diberikan talenta-talenta tersendiri menurut ukuran pemberian Kristus yang semuanya bisa dipakai sebagai karya nyata dalam memenuhi panggilan kita. Masing-masing kita diberi fungsi dan karunia masing-masing, dan kebersatuan kita dalam membangun bangsa ini akan menyatakan kemuliaan Tuhan. “Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, –yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota–menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.” (ay 16).

Sebagai manusia, kita semua telah dilengkapi Tuhan secara khusus dengan berbagai talenta, bakat dan kemampuan tersendiri yang tentunya bisa kita pakai dalam kehidupan kita, untuk memberkati sesama dan memuliakan Tuhan. Ayat bacaan hari ini diambil dari Amsal yang berbunyi: “Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan, dan dengan pengertian kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik.” (Amsal 24:3-4). Rumah disini bukan berbicara hanya mengenai masalah rumah biasa, rumah yang didirikan dari batu, pasir, kayu, rangka besi, dan berbagai bahan bangunan lainnya. Tapi rumah disini berbicara akan sesuatu yang lebih luas, yaitu sebuah kehidupan. Sebuah kehidupan yang baik haruslah didirikan atas hikmat, ditegakkan dengan kepandaian, dan kehidupan itu selanjutnya diisi dengan berbagai hal berharga. Tidak hanya atas satu hal saja, melainkan berbagai hal berharga, berharga buat hidup kita sendiri, berharga buat sesama, berharga buat bangsa dan negara, dan tentunya berharga di mata Tuhan. Inilah sebuah pelajaran penting dari penulis Amsal akan betapa berharganya sebuah kehidupan.

Apapun pekerjaan kita bisa dipakai secara nyata untuk kesejahteraan bangsa. Kita memiliki panggilan dan tugas sendiri-sendiri yang akan sangat bermanfaat untuk itu. Tidak peduli sekecil apapun, tidak peduli dimanapun atau apapun pekerjaan yang sedang ditekuni saat ini. Dengan panggilan yang sudah diberikan Tuhan, dimana kita ditempatkan hari ini, dan dengan talenta-talenta yang sudah Dia sediakan, kita bisa berkarya maksimal untuk melakukan sesuatu demi kesejahteraan bangsa, dan dengan demikian menegakkan KerajaanNya di muka bumi ini. Anda merasa “cuma” pekerja kantoran? Anda tetap bisa menjadi terang dan garam dan menjadi role model sebagai sosok yang baik dan cakap dalam bekerja. Tidak korupsi, berlaku sopan dan ramah, disiplin waktu dan menghargai atau mengasihi teman sekerja, itupun sudah merupakan sesuatu yang baik untuk dilakukan. Anda bergelut di dunia hiburan? Anda bisa membawa terang disana dan menunjukkan bahwa dunia hiburan tidak harus selalu negatif. Panggilan anda dalam dunia politik, pendidikan atau kesehatan? Sama, anda bisa berperan banyak disana.  So, let’s find out our callings, let’s fulfill our destiny. Let God use us to transform our city and community, and that will surely give some impacts to our nations.

Kepada kita sudah diberikan panggilan dan talenta masing-masing yang akan sangat bermanfaat untuk kesejahteraan kota, bangsa dan negara kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

Mata Iman

Ayat bacaan: 2 Raja Raja 6:15
=======================
“Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya: “Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?”

mata imanPunya mata tapi tak bisa melihat. Betapa seringnya manusia mengalami masalah seperti ini. Cobalah mengemudi di jalan raya tanpa mempergunakan mata dengan baik. Meleng sedikit saja resikonya bisa bahaya. Anda bisa menabrak kendaraan lain, terjerembab masuk ke dalam lubang menganga di tengah jalan dan sebagainya. Mata adalah organ tubuh yang sangat penting bagi kita. Jika kita melihat seorang pengemis buta bernama Bartimeus yang bertemu dengan Yesus dalam Markus 10:46-52, kita melihat bahwa meskipun Bartimeus bisa meminta macam-macam ketika berkesempatan bertemu langsung dengan Yesus, lebih dari segalanya ia hanya minta agar matanya dipulihkan. “Tanya Yesus kepadanya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang buta itu: “Rabuni, supaya aku dapat melihat!” (ay 51). Tidak saja mata jasmani yang penting, tetapi mata rohani pun jelas harus mampu melihat dengan jelas. Tanpa itu niscaya kita akan kesulitan dalam menjalani hidup dengan benar. Hidup akan terus diliputi ketidakpastian, kecemasan, kekhawatiran dan sebagainya, kita hanya akan penuh dengan ketakutan karena tidak mampu melihat apapun lewat iman kita.

Masalah ketajaman kemampuan mata iman bisa kita lihat secara jelas dalam kisah Elisa yang tertulis pada 2 Raja Raja 6:8-23 mengenai raja Aram yang mengirimkan bala tentaranya untuk mengepung kota dan menangkap Elisa. Singkatnya adalah sebagai berikut. Pada suatu kali raja Aram hendak menangkap Elisa dengan mengutus pasukan besar lengkap dengan kuda dan kereta perang. Untuk menangkap Elisa saja, seluruh kota dikepung oleh bala tentaranya. Pelayan Elisa bernama Gehazi ketika bangun pagi dan keluar merasa kaget melihat tentara pasukan berkuda dengan kereta perang ada di sekeliling kota. Ia pun panik. “Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya: “Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?” (ay 15). Tapi Elisa lalu berkata: “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka.” (ay 16). Lalu Elisa berdoa agar Tuhan membukakan mata Gehazi sehingga ia bisa melihat bagaimana sebenarnya Tuhan telah melindungi mereka dengan pasukan yang jauh lebih besar dari bala tentara Aram itu. Setelah itu tentara Aram pun kemudian disesatkan lewat doa yang dipanjatkan oleh Elisa hingga terlempar ke Samaria, keluar dari Israel. Bacalah lebih lengkapnya dalam kitab 2 Raja Raja tersebut.

Dari kisah ini kita bisa melihat tiga jenis mata iman, yaitu yaitu dari orang Aram, Gehazi sang bujang, dan mata iman Elisa. Kemampuan mata dari Orang Aram menggambarkan tipikal orang bebal, yang buta total, sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di depan mereka. Tipikal orang Aram tidak akan mampu melihat apa yang terjadi di depannya, dibawa menuju kebinasaan pun mereka tidak tahu. (ay 18-20).Lihatlah bagaimana butanya mata mereka sehingga tidak sadar ketika disesatkan oleh Elisa, seperti yang bisa kita baca dalam ayat 18-20. 

Jenis seperti Gehazi bisa melihat apa yang terjadi di depan mata, namun tidak tahu harus berbuat apa dan hanya fokus pada masalah sehingga gampang panik. Bayangkan betapa capainya hidup seperti ini. Hanya mengandalkan logika, kepandaian, sepenuhnya bergantung pada segala sesuatu yang kelihatan di depan mata. Mata rohaninya tidak berfungsi dengan baik, sehingga berbagai keadaan masih begitu gampang membuat panik. Perhatikan perkataannya: “Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?” (2 Raja Raja 6:15). Gehazi pun dikisahkan merasa panik ketakutan dan langsun berlari pada Elisa. Jenis mata seperti Gehazi inilah yang dimiliki oleh banyak orang percaya. Mereka seperti halnya Gehazi, hanya bisa melihat apa yang terjadi di depan mata mereka. Mereka percaya Tuhan, tapi saat menghadapi masalah, mereka akan dipenuhi oleh banyak pertanyaan. Mereka hanya berpikir celaka, bingung, diombang-ambingkan keadaan dan hidup penuh keraguan. Jenis Gehazi tentulah jauh lebih baik dari tipe orang-orang Aram yang hendak menangkap mereka. Gehazi menjadi tenang setelah Elisa berdoa untuk meminta Tuhan membuka mata bujangnya. “Lalu berdoalah Elisa: “Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.” Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa.” (ay 17). Apa yang dilihat Gehazi setelahnya sungguh luar biasa. Ia melihat ada begitu banyak kuda di sekeliling gunung dan kereta berapi (chariots of fire) di sekeliling Elisa.

Tapi tentu mata Elisa jauh lebih baik dari tipe Gehazi. Pribadi Elisa sungguh berbeda. Tipe Elisa adalah mampu melihat apa yang tidak dapat dilihat orang lain. Orang yang memiliki tipikal Elisa mampu melihat Tuhan dan tahu bahwa Tuhan jauh lebih besar dari masalah. “Jawabnya: “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka.”(ay 16). Mata iman Elisa berfungsi dengan baik. Ia tidak panik meski keadaan kasat mata sama sekali tidak kondusif. Ia tahu bahwa Tuhan ada bersamanya dan akan melindunginya, dan mata imannya sanggup melihat hal itu.

Hidup memang tidak akan mungkin tanpa masalah. Masalah akan senantiasa ada dalam perjalanan kehidupan kita. Tapi ingatlah bahwa ada Tuhan yang menyertai kita, dan Tuhan jauh lebih besar dari segala pergumulan yang kita hadapi. Kita harus terus melatih diri kita untuk melibatkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita, karena hanya dengan hidup bersama denganNya lah kita akan mampu menghadapi masalah dengan ketenangan. “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13). Jika kita masih berada pada fase seperti Gehazi, berdoalah seperti Elisa, “Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.” Ini sejalan dengan ayat bacaan kita kemarin dimana Daud berkata “Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu.” (Mazmur 119:18). Roh Kudus siap menyingkapkan segalanya, memberi hikmat bagi kita untuk mengetahui rencana Tuhan dalam hidup kita, memungkinkan kita melihat dengan jelas lewat mata iman dan karenanya kita tidak perlu khawatir dalam menjalani hari depan.

Miliki mata iman yang berfungsi benar seperti Elisa

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

3 Maret – Sir 42:15-25; Mrk 10:46-52

"Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?"

(Sir 42:15-25; Mrk 10:46-52)

 

“Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!" Lalu Yesus berhenti dan berkata: "Panggillah dia!" Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: "Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau." Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus. Tanya Yesus kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang buta itu: "Rabuni, supaya aku dapat melihat!" Lalu kata Yesus kepadanya: "Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya” (Mrk 10:46-52), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang buta matanya pada umumnya memiliki kepekaan ‘mendengarkan tinggi’. Si pengemis buta, Bartimeus, begitu peka mendengarkan Yesus bersama rombonganNya lewat, dan ia berteriak kepada Yesus mohon kasih pengampunan dan belas kasihNya agar dapat melihat. Banyak orang menegornya, namun Yesus mendengarkan dan menanggapinya. Karena imannya yang begitu mendalam si buta Bartimeus akhirnya menerima anugerah dapat melihat. Kami percaya kebanyakan dari kita tidak buta matanya, namun apakah dapat melihat kehadiran Tuhan di dalam lingkungan hidup kita melalui saudara-saudari kita kiranya boleh dipertanyakan. Marilah dengan rendah hati kita lihat dan dengarkan kehadiran dan karya Tuhan melalui saudara-saudari kita di lingkungan hidup dan kerja kita masing-masing, dan dengan rendah hati juga siap sedia mohon bantuan mereka agar kita dapat melihat segala sesuatu dengan jelas, lebih-lebih karya dan kehadiran Tuhan dalam diri saudara-saudari kita. Karya dan kehadiran Tuhan dalam diri saudara-saudari kita antara lain menggejala dalam kehendak dan perbuatan baik mereka. Kami percaya masing-masing dari kita berkehendak baik dan ingin melakukan apa yang baik, namun karena keterbatasan dan kelemahan apa yang kita lakukan sering kurang berkenan di hati Tuhan alias apa yang tidak atau kurang baik, misalnya menegor keras orang yang sedang berseru kepada Tuhan alias berdoa. Sebagai contoh kita sering marah-marah ketika mendengar suara adzan di pagi hari dari masjid, langgar atau surau. Lihat dan dengarkan bahwa suara adzan merupakan ajakan untuk berdoa, memuji dan memuliakan Tuhan. Iman lahir dan berkembang dari dan dengan mendengarkan. Jika anda ingin selamat hendakya menjadi pendengar yang baik atau meneladan Bunda Maria, yang senantiasa ‘mendengarkan dan merenungkan segala sesuatu di dalam hatinya’, artinya mempersembahkan segala sesuatu kepada Tuhan.

·   “Pekerjaan Tuhan hendak kukenangkan, dan apa yang telah kulihat hendak kukisahkan. Segala pekerjaan Tuhan dijadikan dengan firman-Nya. Matahari bercahaya memandang segala sesuatunya dan ciptaan Tuhan itu penuh dengan kemuliaan-Nya”(Sir 42: 15-16). “Mengenangkan pekerjaan Tuhan” itulah yang hendaknya kita renungkan dan hayati dalam hidup kita sehari-hari. Mengenangkan pekerjaan Tuhan berarti mengingat-ingat dan melakukan apa yang baik, mulia, luhur, indah dan suci, apa-apa yang berkenan di hati Tuhan. Maka marilah kita lihat dan imani ‘kemuliaan Tuhan dalam ciptaan-ciptaanNya’, entah dalam diri manusia, binatang maupun tanaman atau tumbuh-tumbuhan. Salah satu karya Tuhan yang layak dimuliakan adalah menganugerahkan pertumbuhan dan perkembangan dalam ciptaan-ciptaanNya, sehingga ciptaan-ciptaanNya bergairah dan dinamis serta berbahagia. Kita imani bahwa kegairahan sesama manusia maupun binatang merupakan karya Tuhan, maka kita tanggapi dengan rendah hati dan keterbukaan. Jangan padamkan kegairahan saudara-saudari kita, sebagaimana dilakukan para murid menegor kegairahan Bartimeus. Memang generasi muda dan anak-anak pada umumnya lebih bergairah dan dinamis daripada orangtua atau orang dewasa, maka dengan ini kami berharap kepada para orangtua maupun orang dewasa untuk menanggapi kegairahan generasi muda dan anak-anak dengan senang hati dan gembira, artinya memberi kemungkinan dan kesempatan untuk menyalurkan kegairahan mereka dalam mengembangkan diri agar tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang cerdas beriman. Sebaliknya kepada generasi muda dan anak-anak kami harapkan tidak menyia-nyiakan kesempatan dan kemungkinan yang ada.

 

“Bersyukurlah kepada TUHAN dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali! Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru; petiklah kecapi baik-baik dengan sorak-sorai! Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan.Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN. Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya” (Mzm 33:2-6)          

 

Jakarta, 3 Maret 2011.

Mental Pengemis

Ayat bacaan: 2 Tesalonika 3:12
========================
“Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri.”

mental pengemisHari ini saya teringat kepada seorang teman lama yang bercerita bahwa ia sudah dibiasakan bekerja di toko ayahnya sejak masih duduk di sekolah dasar. Pada usia seperti itu ia sudah terbiasa melayani pembeli dan sudah tau mengembalikan uang. Ketika masuk SMP ia sudah bisa menghafal harga-harga dari barang di toko, dan setelah ia tamat kuliah, ia pun melanjutkan usaha ayahnya hingga ke level yang lebih besar dengan beberapa cabang di tempat lain. Mungkin agak ekstrim bagi kita ketika melihat anak sekecil itu sudah diajar bekerja, itu kembali kepada masing-masing orang. Namun satu hal yang saya ingat selalu dikatakan oleh teman saya itu adalah pesan ayahnya berulang-ulang agar ia menjadi pekerja keras dan tidak bermental pengemis. Saya tidak menutup kemungkinan bahwa ada sebagian orang yang tidak bisa melakukan apa-apa lagi padahal ia butuh makan setiap hari. Mau tidak mau mereka terpaksa mengemis. Di tengah kondisi dunia yang sulit seperti ini hal seperti itu mungkin saja terjadi. Tetapi kita tidak bisa menutup mata bahwa ada banyak pula orang yang seharusnya mampu melakukan sesuatu tetapi mereka malas untuk itu. Mereka lebih suka pergi ke saudara atau teman-temannya untuk meminta. Mereka tidak mau repot dan lebih memilih cara yang gampang atau instan. Inilah yang disebut dengan mental pengemis. Dan mental seperti ini seharusnya tidak menjadi bagian dari gaya hidup kita.

Setelah Saulus bertobat dan menjadi Paulus, ia kita kenal sebagai rasul yang radikal. Ia melakukan segalanya demi mewartakan Kerajaan Allah kemanapun ia pergi tanpa mempedulikan lagi kenyamanannya, bahkan nyawanya. Kita tahu bagaimana sibuknya kegiatan Paulus hingga ke Asia Kecil. Tidak jarang pula ia menderita akibat dianiaya, ditangkap dan sebagainya. Kita tentu akan sangat maklum apabila ia memilih untuk tidak bekerja, bukankah ia sudah meluangkan seluruh waktunya sebagai rasul? Tapi ternyata Paulus memiliki pandangan yang berbeda. Ia tidak mau meminta-minta melainkan tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhannya maupun rekan sepelayanannya. “Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku.” (Kisah Para Rasul 20:34-35). Bisakah kita membayangkan bahwa Paulus disamping pergi kemana-mana menghadapi bahaya untuk mewartakan kabar keselamatan masih juga harus membanting tulang bekerja? Itulah yang ia putuskan untuk dilakukan. Ia tidak meminta kepada Tuhan untuk nafkah hidupnya, ia pun tidak meminta kepada orang lain. Ia bekerja dengan tenaga atau tangannya sendiri, dan nyatalah bahwa mental pengemis bukan menjadi bagian dari sikap Paulus.

Karena itulah Paulus pun bisa berkata keras kepada jemaat yang hidup malas. “Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. (2 Tesalonika 3:10). Bekerja merupakan hal yang mutlak untuk dilakukan oleh manusia. Lihatlah serangkaian janji berkat dari Tuhan dalam Ulangan 28:1-14 pun diarahkan kepada berkat-berkatNya yang turun atas pekerjaan kita, dan bukan memberikan sesuatu secara instan. Salah satu alasannya jelas, Tuhan tidak menginginkan kita tumbuh dengan mental pengemis. Peringatan Paulus di atas mengacu kepada sikap sebagian jemaat yang lebih memilih untuk tidak bekerja tapi malah sibuk melakukan hal-hal yang tidak berguna. (2 Tesalonika 3:11). Dan selanjutnya Paulus pun mengingatkan kita agar terus bertekun dalam bekerja agar kita bisa mencari nafkah untuk mencukupi diri sendiri. “Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri. (ay 12).

Dalam suratnya kepada jemaat Efesus, ia pun kembali mengingatkan akan hal ini. “Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan. (Efesus 4:28). Kali ini Paulus memberikan sebuah alasan lagi bagi kita untuk bekerja, yaitu agar kita mampu memberi kepada mereka yang membutuhkan. Ketika berkat-berkat Tuhan turun atas pekerjaan kita, semua itu bukanlah untuk disimpan dan dipergunakan sendiri saja. Ada kewajiban kita juga untuk memberi kepada orang lain, dan ini juga jangan dilupakan.

Bekerja keras melakukan pekerjaan yang baik dengan tangan sendiri, seperti itulah yang seharusnya dilakukan oleh anak-anak Tuhan. Bukan hanya menunggu diberi, apalagi meminta ke kiri dan ke kanan. Tuhan menuntut keseriusan dalam bekerja, bukan hanya untuk kita sendiri atau pimpinan, tetapi secara spesifik Tuhan pun menuntut kita untuk memberi yang terbaik seperti kita melakukannya untuk Tuhan. (Kolose 3:23). Pengkotbah juga mengingatkan akan hal ini. “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.” (Pengkotbah 9:10). Selagi masih bisa, selagi masih ada waktu dan kesempatan, selagi masih diberikan kemampuan, tenaga dan otak, marilah kita menjadi pekerja-pekerja yang tangguh. Tuhan akan dengan senang hati memberkati apapun yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh untuk Dia.

Jadilah pekerja keras dan hindari mental pengemis

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Ibu Pengemis dan Anak Bayinya

Ayat bacaan: Filipi 2:5
=================
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.”

sepikiran dengan KristusSeorang siswa saya kemarin menceritakan sebuah pengalamannya yang unik. Ia sedang berjalan kaki di sebuah trotoar jalan. Sayup-sayup ia mendengar suara tangisan anak bayi, yang katanya jelas terdengar seperti tangisan bayi yang baru lahir. Ketika ia mencari sumber suara, tampaklah olehnya seorang bayi kecil yang hanya dibungkus koran, terletak sendirian di belakang semak-semak. Tidak lama kemudian sang ibu yang ternyata seorang pengemis datang kesana. Anaknya baru lahir dua bulan, dan ia pun masih terlihat sangat pucat. Siswa saya lalu tergerak oleh rasa belas kasihan dan kemudian memberi seluruh uang di kantongnya, sejumlah Rp 150.000 yang seharusnya dia pakai untuk membayar tes penyaringan masuk di sebuah universitas. Akibat membantu si ibu, ia harus melupakan tes itu, dan ia pun harus berjalan kaki untuk masuk ke kelas dimana saya mengajar. “Capai pak, dan sayang memang harus gagal mengikuti tes, tapi saya merasa sangat lega..” katanya sambil tersenyum. Ia bercerita bahwa si ibu mengucapkan terima kasih sambil menangis terisak-isak. Si ibu dan anak bayi ini hanyalah satu dari ribuan kasus yang sehari-hari terjadi di sekitar kita. Semakin sulitnya kehidupan di muka bumi ini membuat kita semakin mudah menemukan orang-orang yang tengah dihimpit beban hidup dalam berbagai rupa. Siswa saya memilih untuk melakukan perbuatan baik, tetapi ada banyak orang lain yang tidak mau ambil pusing dalam situasi seperti ini.

Welcome to the self-centered world. Sebuah kehidupan dunia yang berisikan orang-orang yang hanya berjuang untuk keselamatan dirinya sendiri. Apapun akan dilakukan, kalau perlu orang lain pun akan dikorbankan demi mencapai tujuan pribadinya sendiri. Dalam dunia yang seperti ini, apa yang dibuat siswa saya tentu sangat langka dan sulit dipercaya. Saya bertanya dalam hati saya, seandainya saya ada di sana waktu itu, akankah saya melakukan hal yang sama, menyerahkan seluruh uang di kantong saya untuk menolong sang ibu dan bayinya? Apakah anda juga akan melakukan hal seperti itu?

Sebagai pengikut Kristus kita seharusnya melakukan hal yang sama. Dalam surat Filipi 2:1-11 kita bisa membaca pesan penting mengenai hal ini. “Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan.” (Filipi 2:1). Belas kasihan, penghiburan kasih itu ada di dalam Kristus. Dan oleh karenanya kita sebagai pengikut-pengikut Kristus pun seharusnya sehati, sepikir dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, (ay 2) “dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.” (ay 3). Kita digugah untuk berhenti mementingkan diri sendiri tetapi harus mulai memkirikan orang lain pula. “dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (ay 4). Mengapa demikian? Perhatikanlah ayat selanjutnya “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” (ay 5). Yesus yang pada dasarnya sama dengan Allah rela melepaskan semuanya. Mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba dan kemudian merendahkan dirinya sedemikian rupa hingga mati di atas kayu salib demi kita semua, orang-orang yang masih berada dalam jerat kebinasaan. Betapa besarnya kasih dan pengorbananNya untuk kita semua. Apabila kita menyatakan diri sebagai sahabat-sahabatNya, sudah seharusnya kita pun melakukan hal yang sama, menaruh pikiran dan perasaan kita seperti apa yang dirasa atau dipikirkan Yesus. Ingatlah bahwa Yesus tidak memandang orang ketika menaruh belas kasihan. Dia siap membantu siapapun tanpa terkecuali selama keberadaanNya dalam rupa seorang hamba di muka bumi ini, bahkan orang-orang asing sekalipun. Dan ingat pula, bukankah Yesus mati untuk menebus dosa seluruh umat manusia dan bukan hanya untuk segelintir orang saja? Jika belas kasih Kristus itu tanpa batas, kita sebagai pengikutNya pun harus memiliki kepedulian dan belas kasih yang sama terhadap sesama kita.

Kita memang tidak diselamatkan oleh perbuatan baik yang kita lakukan. Itu benar. Dalam Titus dikatakan “Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita.” (Titus 3:4-7). Bukan perbuatan baik yang menyelamatkan kita, tetapi bukan berarti kita bisa berpangku tangan untuk tidak melakukan apapun yang baik. Seperti yang pernah saya katakan, kita bukan diselamatkan OLEH perbuatan baik, tetapi kita diselamatkan UNTUK melakukan perbuatan baik. Begitu pentingnya untuk menyatakan kasih Kristus yang mengalir dalam diri kita kepada sesama kita yang membutuhkan bantuan, sehingga bahkan dikatakan “Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.” (Ibrani 13:2). Tumpangan kepada orang dalam bahasa Inggrisnya dikatakan “extend hospitality to strangers.” Artinya kita harus siap berbuat baik, doing the kindness bahkan kepada orang yang tidak kita kenal sekalipun alias orang-orang asing. Siapa tahu, satu ketika nanti kita malah menjamu para malaikat tanpa sadar. Firman Tuhan berkata bahwa “..tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” (2 Timotius 3:17). Dia sudah melengkapi kita untuk melakukan itu semua. Alangkah keterlaluan apabila semua itu hanya kita pendam sendiri untuk kepentingan pribadi.

Pengorbanan yang dilakukan oleh siswa saya itu belumlah sebanding dengan apa yang diberikan Kristus untuk kita semua, tetapi tetap apa yang ia perbuat merupakan sesuatu yang luar biasa yang patut kita puji dan teladani. Menjadi pengikut Kristus berarti menaruh diri kita untuk sepikiran dan seperasaan dengan Kristus. Sudahkah anda menoleh ke sekeliling anda? Ada banyak orang yang saat ini tengah terjepit kesulitan hidup. Ada banyak yang kehilangan harapan, tidak lagi memiliki sukacita dalam hatinya. Anda mungkin bisa berkata, “tapi saya tidak mengenal mereka, buat apa saya harus peduli?” Itu tidak akan pernah cukup sebagai alasan. Saya yakin apabila Yesus masih berjalan di muka bumi hari ini, Dia akan menunjukkan belas kasihNya kepada mereka, siapapun atau apapun latar belakangnya tanpa terkecuali. Sebagai pengikut Kristus, apa yang bisa anda bisa anda perbuat hari ini untuk mereka?

Menjadi pengikut Kristus artinya sepikiran dan seperasaan dengan Kristus

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Terlambat Bertobat

Ayat bacaan: Lukas 16:25
=====================
“Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.”

terlambat bertobatSungguh memprihatinkan melihat banyaknya tokoh selebritis dalam dan luar negeri yang berubah sikap setelah mencapai kesuksesan. Ketika mereka tadinya hidup baik di saat masih susah, setelah berhasil mereka bukannya memuliakan Tuhan dengan penuh ucapan syukur, bukannya memberkati orang lewat keberhasilan mereka, tetapi mereka malah semakin menjauh dan semakin sesat. Ada banyak yang akhirnya terjerumus ke dalam berbagai masalah seperti menjadi pemakai obat-obatan terlarang, hidup dalam pergaulan yang salah, melakukan berbagai perbuatan dosa, melupakan orang tua, menjadi sombong dan sebagainya. Apa yang diinginkan Tuhan adalah pertumbuhan iman yang signifikan dari hari ke hari, bukan sebaliknya semakin merosot. Ketika kekayaan dan kesuksesan menjadi bagian dari diri kita, jika tidak hati-hati kita bisa terlena dan akhirnya terjatuh. Kejatuhan kerap kali terjadi bukan di kala kita sedang menderita, tetapi justru ketika kita sedang berada dalam sebuah situasi nyaman dan berkelimpahan.

Kemarin kita sudah melihat dua hal yang terlambat dilakukan oleh si orang kaya dalam kisahnya bersama Lazarus (Lukas 16:19-31), yaitu “terlambat untuk berbuat baik” dan “terlambat bersaksi”. Ada satu keterlambatan lagi yang dialami oleh si orang kaya, yaitu “terlambat bertobat.”

Sehari-hari kehidupan si orang kaya dipenuhi oleh kemewahan. Ia selalu berpakaian mewah dan mahal, dan selalu bersukaria dalam kekayaannya. Sementara tidak jauh darinya, tepat di depan pintu rumahnya ada seorang pengemis penuh borok yang selalu berbaring disana. Kekayaan yang berlimpah tidak membuatnya tergerak untuk menolong Lazarus, si pengemis kotor itu. Ia tidak berpikir sama sekali untuk mempergunakan waktu-waktu yang ada untuk mensyukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Ia tidak mengisi waktu yang dipercayakan kepadanya untuk hidup benar. Kekayaan membuatnya terlena dan buta. Ia mungkin berpikir bahwa ia dapat membeli semuanya dengan uang, ia berpikir bahwa uang akan mampu menyelamatkannya. Ada waktu yang sebenarnya lebih dari cukup untuk dipergunakan sebagai saat untuk bertobat, tetapi si orang kaya ini membuang kesempatan itu. Akhirnya ia pun mati sebelum sempat melakukan pertobatan. Di dunia orang mati ia dikatakan menderita, sedangkan Lazarus yang juga meninggal dunia ternyata duduk di pangkuan Abraham. Dalam siksaan terbakar dalam api, si orang kaya pun memohon kepada Abraham. “Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.” (Lukas 16:24). Lalu apa jawab Abraham? “Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.” (ay 25). Abraham mengingatkan si orang kaya bahwa ia membuang-buang kesempatan ketika ia menerima segala yang baik semasa hidupnya. Lazarus menderita dalam kehidupannya, tetapi ia tetap taat. Akibatnya di alam maut keadaan pun berbalik. Lazarus kini lepas dalam penderitaannya dan masuk dalam kemuliaan, sementara si orang kaya tidak lagi memiliki kemewahan malah masuk ke dalam siksaan kekal selamanya.

Pengkotbah mengingatkan demikian: “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” (Pengkotbah 3:1). “Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal..” (ay 2). Dan di saat meninggal siap atau tidak siap kita harus berhadapan dengan tahta Allah untuk memberikan pertanggung jawaban. Paulus mengatakan “Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” (Roma 14:12). Penulis Ibrani juga menyerukan hal yang sama. “Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” (Ibrani 4:13). Segala perbuatan dan perkataan kita kelak haruslah kita pertanggung jawabkan, siap atau tidak siap.

Mengenal Firman tetapi tidak kunjung bertobat. Itu banyak diperbuat oleh orang-orang percaya yang begitu terlena dalam keadaan mereka yang sedang berada di puncak kesuksesan penuh dengan kemewahan. Orang kaya itu bukanlah orang yang tidak percaya, tetapi ia tidak melakukan Firman Tuhan semasa hidupya. Ia membiarkan hidupnya terlena dalam kemewahan dan menyia-nyiakan waktu yang diberikan Tuhan untuk melakukan pertobatan. Ia lupa bahwa segala sesuatu di muka bumi ini ada waktunya, ia lupa bahwa ia tidak akan hidup selama-lamanya. Tidak peduli sekaya apapun, semua itu tidak akan mampu membeli keselamatan. Ketika ia seharusnya mempergunakan berkat yang ia terima untuk memberkati orang lain, ketika ia seharusnya memuliakan Tuhan dengan hartanya, ketika ia seharusnya bersyukur dan lebih dekat lagi kepada Tuhan, semua yang ia lakukan justru sebaliknya. Alkitab tidak mengajarkan kita untuk hidup dalam kemiskinan, karena Tuhan sudah berjanji untuk memberkati kita hingga berkecukupan bahkan berkelimpahan. Tetapi semua itu seharusnya dipakai untuk memberkati orang lain. Semua itu seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menyatakan kasih Tuhan yang luar biasa terpancar lewat diri kita. Orang kaya itu terlambat melakukan semuanya, ia bahkan terlambat untuk bertobat. Dan pada akhirnya semua itu sia-sia. sebuah keterlambatan yang fatal yang tidak akan pernah bisa diperbaiki kembali.

Kepada Timotius,Paulus berpesan “Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.” (1 Timotius 6:17). Peringatan ini juga ditujukan kepada kita agar jangan terlena dalam kekayaan atau kemewahan. Jangan pernah berharap bahwa kekayaan mampu membeli segalanya termasuk keselamatan, karena itu tidak akan pernah terjadi. Bukan menjadi kaya dalam harta yang penting, tetapi menjadi kaya dalam kebajikan, itulah yang seharusnya kita cari. “Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.” (ay 18-19). Menjadi kaya dalam kebajikan artinya rajin memberi dan membagi, dan bukan menimbun. Firman Tuhan sudah mengingatkan kita agar bijaksana dalam menghitung hari-hari, memperhatikan dengan seksama waktu yang masih diberikan dan memanfaatkannya dengan baik. Musa menyadari pentingnya hal ini dan ia pun berdoa “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90:12). Ingatlah bahwa tidak ada pertobatan lagi di dunia orang mati. Ketika kita sampai pada masa itu, tidak ada lagi satupun yang bisa kita perbuat untuk merubah keadaan. Karena itu jangan sampai terlambat. Pergunakanlah waktu-waktu yang masih ada ini untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan. Jangan sampai apa yang dialami orang kaya itu terjadi atas diri kita.

Bertobatlah selagi masih ada waktu sebelum semuanya terlambat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Mengetahui Apa Yang Harus Diminta (2)

Ayat bacaan: 1 Raja Raja 3:9
========================
“Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?”

tahu apa yang dimintaIf you got a chance to make one wish, what would you ask? Kemarin kita sudah melihat bagaimana Bartimeus mampu meminta hanya satu permintaan ditengah berbagai kebutuhan yang mendesak. Ia adalah seorang pengemis buta yang sehari-hari menyambung hidup dari belas kasihan orang sebagai peminta-minta. Pasti ada begitu banyak kebutuhan yang ia inginkan, tapi dalam perjumpaannya dengan Yesus, ia tidak tergoda sedikitpun untuk meminta kekayaan, pekerjaan atau lainnya selain matanya dicelikan. Dan Yesus pun memberikan tepat seperti yang ia minta. Ia tahu bahwa dengan bisa melihat maka ia akan bisa berusaha untuk mencari nafkah dan tidak lagi perlu meminta-minta. Ia tahu bahwa ia harus berusaha agar bisa berhasil, ia harus bekerja untuk hidup. Ia tidak meminta jalan pintas dari Tuhan untuk mendapatkan segalanya dengan instan, tapi ia membutuhkan mata yang mampu melihat agar ia bisa maksimal melakukan itu semua. Singkatnya, Bartimeus tahu apa yang harus ia minta, dan ia pun memperolehnya.

Pada ribuan tahun sebelumnya, kasus yang mirip pernah terjadi pada Salomo. Pada suatu malam Salomo mendapat kesempatan emas untuk meminta sesuatu dari Tuhan. “Di Gibeon itu TUHAN menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi pada waktu malam. Berfirmanlah Allah: “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu.” (1 Raja-Raja 3:5). Hal ini berkenaan dengan gaya hidup Salomo yang sama seperti ayahnya Daud, gaya hidup yang mengasihi Tuhan dan melakukan dengan taat ketetapan-ketetapan sang ayah yang semuanya telah terbukti berkesan di mata Tuhan. Kembali seperti Bartimeus, kita dikejutkan dengan jawaban yang diberikan Salomo. Ada kesempatan datang, yang mungkin sulit terulang lagi. Permintaan apapun akan dijawab saat itu juga! Apa yang akan kita jawab? Hidup seribu tahun lagi? Tidak ada penyakit? Jauh dari kemiskinan selamanya? Mendapat jodoh paling cantik/ganteng? Tidak. Apa yang dijawab Salomo cukup mengejutkan. “Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?” (1 Raja Raja 3:9). Salomo tahu apa yang paling ia butuhkan. Ia tahu bahwa usianya yang masih muda dan pada suatu ketika akan menggantikan ayahnya sebagai raja, ia membutuhkan hikmat yang mampu menuntun umat yang sangat besar lebih dari segalanya. Itulah yang paling ia butuhkan, lebih dari harta kekayaan, materi, kemakmuran, popularitas dan sebagainya, atau hal-hal yang lebih berpusat kepada pemuasan diri atau egonya sendiri. Tidak pula umur panjang, sehat 100% selama hidup, bebas dari masalah, dan berbagai permintaan lain, tapi yang ia minta hanyalah satu: Hikmat. Maka Tuhan pun senang dengan permintaannya dan langsung mengabulkannya. “Dan Allah memberikan kepada Salomo hikmat dan pengertian yang amat besar, serta akal yang luas seperti dataran pasir di tepi laut sehingga hikmat Salomo melebihi hikmat segala bani Timur dan melebihi segala hikmat orang Mesir.” (1 Raja Raja 4:29-30). Tapi apa yang terjadi? Bukan saja hikmat yang ia peroleh, tetapi lewat permintaannya yang baik di mata Tuhan itu mengalir pula berkat-berkat lain ke dalam hidupnya. Firman Tuhan berkata “Dan juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan, sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorangpun seperti engkau di antara raja-raja. Dan jika engkau hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dan tetap mengikuti segala ketetapan dan perintah-Ku, sama seperti ayahmu Daud, maka Aku akan memperpanjang umurmu.” (ay 13-14). Salomo mendapatkan segalanya, dan itu berawal dari permintaannya yang tidak didasari ego atau mementingkan diri sendiri. Salomo memperoleh semuanya karena ia tahu apa yang harus ia minta.

Tuhan sanggup memberikan segalanya bagi kita secara berkelimpahan. Tapi mental dan sikap kita haruslah terlebih dahulu kita benahi agar segala yang dipercayakan Tuhan kepada kita akan mampu menjangkau dan memberkati orang lain lewat diri kita dan bukan dipakai untuk menimbun diri sendiri saja. Sikap Salomo menunjukkan pribadinya yang tidak mementingkan kenyamanan dan kemakmuran diri sendiri, tetapi secara bijaksana ia meminta sesuatu agar apa yang ditugaskan Tuhan kepadanya mampu ia lakukan dengan sebaik-baiknya. Tidak heran jika Tuhan memberkati Salomo secara luar biasa. Berdasarkan pengalamannya, Salomo pun kemudian menulis dalam Amsal: “Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas. Ia lebih berharga dari pada permata; apapun yang kauinginkan, tidak dapat menyamainya. Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan. Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata. Ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya, siapa yang berpegang padanya akan disebut berbahagia.” (Amsal 3:13-18). Berbahagialah Salomo karena ia tahu apa yang perlu ia minta, dan itu membawa berbagai berkat masuk ke dalam dirinya.

Salomo dan Bartimeus adalah contoh dari orang yang tahu apa yang harus ia minta. Mereka tidak tergiur dengan berbagai kenikmatan dunia, tapi mereka meminta sesuatu yang akan mampu mereka pakai untuk bisa melakukan hal terbaik untuk Tuhan dalam hidup mereka. Bagaimana dengan kita? Banyak di antara kita yang menghabiskan waktu untuk terus meminta tapi lupa bersyukur. Meminta, meminta dan meminta lagi tanpa henti, memboroskan tenaga dan membuang-buang waktu doa untuk meminta hal-hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Tidak heran jika akhirnya semua berjalan di tempat dan tidak mencapai kemajuan apapun. Arahkan fokus seperti pandangan mata Tuhan, yang tahu betul apa yang terbaik buat kita. Mintalah sesuatu yang benar-benar kita butuhkan dan mampu memuliakan Tuhan lebih dari sebelumnya. Kita bisa melihat bagaimana Tuhan mampu menjawab doa lebih dari yang kita minta sekalipun jika fokus dan tujuan kita meminta itu terarah dengan benar. Mari kita belajar dari Salomo dan Bartimeus dan arahkan permintaan kita kepada sesuatu yang tepat. Let’s find out what we really need today, and God will answer it.

Sudahkah anda tahu apa yang benar-benar perlu anda minta?

Menindas Yang Lemah

Ayat bacaan: Imamat 25:14
=========================
“Janganlah kamu merugikan satu sama lain, tetapi engkau harus takut akan Allahmu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu.”

menindas, merugikanSi kaya menindas si miskin, itu sudah menjadi cerita lama yang masih saja berlaku hingga hari ini. Bahkan mungkin jika boleh saya katakan semakin menjadi-jadi sejalan dengan perjalanan hidup manusia. Siapa yang berkuasa akan menindas yang lebih lemah sepertinya sudah menjadi hukum alam. Yang kaya menekan sesamanya yang lebih lemah dalam perdagangan, para majikan mempekerjakan pembantunya melebihi batasan normal tapi dengan upah yang ditekan serendah mungkin. Mereka terus dimanipulasi, dimanfaatkan dan diperalat karena tahu mereka butuh uang untuk tetap hidup. Tidak perlu memperhatikan kesejahteraan dan nasib mereka, diberi uang saja sudah bagus. Perilaku seperti ini terlihat wajar di dunia. Perhatikan kita bisa memberi tips besar ketika sedang senang-senang di restaurant, cafe dan sebagainya, tapi kesal ketika memberi sedikit sedekah atau sumbangan kepada pengemis, anak jalanan atau pengamen. Kepada tukang parkir kita bisa ribut karena perbedaan beberapa ratus rupiah, kepada tukang sayur kita tega menawar hingga puluhan rupiah sekalipun. Padahal bagi kita yang mampu jumlah itu mungkin tidak ada apa-apanya, tapi bagi mereka itu sudah sangat besar artinya.

Tuhan kita adalah Allah yang penuh kasih. Dia sangat memperhatikan umatNya di muka bumi ini. Dia adalah Allah yang selalu memiliki belas kasihan. He is full with compassion. Sejak dahulu kala di jaman Musa, Tuhan sebenarnya sudah mengingatkan mengenai perintahNya agar kita semua bisa hidup rukun dan tidak merugikan satu sama lain. Tapi memang dasarnya sifat manusia sulit untuk diubah. Perilaku memperdaya yang lebih lemah terus saja berlanjut dari masa ke masa. Betapa sulitnya untuk taat kepada perintah Tuhan yang satu ini. Tidak membunuh orang, itu mungkin mudah. Tapi tidak memperdaya? Mungkin tidak secara sadar, tapi dosa ini begitu sering kita lakukan tanpa kita sadari. Anda pintar tapi tidak punya uang? Jangan harap bisa masuk ke perguruan tinggi yang baik. Anda berprestasi di kampus tapi tidak mampu memberi pelicin? Jangan harap menjadi pegawai negeri. Uang memegang peran paling penting di dunia ini. Orang terus berusaha mencari untung sebesar-besarnya dengan pengeluaran sekecil-kecilnya, tidak peduli apakah itu merugikan orang lain sekalipun.

Firman Tuhan turun melalui Musa di gunung Sinai yang melarang kita mencari untung dengan merugikan orang lain. “Apabila kamu menjual sesuatu kepada sesamamu atau membeli dari padanya, janganlah kamu merugikan satu sama lain.” (Imamat 25:14). Ini pesan penting yang seringkali kita abaikan dalam berbagai aspek kehidupan. Berbagai bentuk penipuan dihalalkan asal bisa menguntungkan diri sendiri. Menjual barang rusak dikatakan bagus, menipu pembeli dengan berbagai cara dihalalkan. Padahal itu jelas-jelas melanggar perintah Tuhan. Bentuk-bentuk yang merugikan itu sama sekali tidak sejalan dengan kasih yang menjadi inti dasar kekristenan. Firman Tuhan selanjutnya berkata Janganlah kamu merugikan satu sama lain, tetapi engkau harus takut akan Allahmu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu.” (ay 17). Orang yang takut akan Tuhan dengan sendirinya tidak akan tega merugikan orang lain. Tapi melihat kenyataan banyaknya orang yang terus dirugikan, ditindas, dijajah dan ditekan menunjukkan bahwa semakin lama semakin sedikit saja orang yang hidup dengan sebentuk rasa takut akan Tuhan.

Jangankan kepada yang lemah, kepada musuh sekalipun kita diingatkan untuk tidak boleh membenci, tapi harus membantu bahkan berdoa bagi mereka. “Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” (Lukas 6:27-28). Kita juga diminta untuk bisa bersikap seperti ini: “Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.” (ay 30). Karena apalah perbedaan kita dari orang dunia jika kita pamrih dalam membantu orang lain. “Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.” (ay 34). Karena itulah Tuhan Yesus secara khusus menekankan “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” (ay 35). Begitu murah hatinya Tuhan, yang juga mengasihi orang-orang yang tidak tahu berterimakasih dan jahat sekalipun. Bagi mereka kesempatan bertobat dan mendapat pengampunan serta keselamatan tetap disediakan Tuhan tanpa terkecuali. Karena itulah kita sebagai anak-anak Tuhan, sebagai umatNya di dunia ini diminta untuk “murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” (ay 36).

Kembali kepada firman Tuhan melalui Musa di gunung Sinai, Tuhan mengingatkan keharusan kita untuk taat kepada perintahNya agar kita bisa tetap berada dalam lindunganNya. “Demikianlah kamu harus melakukan ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-Ku serta melakukannya, maka kamu akan diam di tanahmu dengan aman tenteram.” (Imamat 25:18). Kasih tidak mengenal kecurangan dan hal-hal yang merugikan sesama kita, siapapun mereka itu. Yang lebih lemah justru seharusnya dikasihi dan dibantu, bukan malah semakin dirugikan. Jika apa yang kita lakukan sebaliknya, itu artinya kita tidaklah mengenal siapa Allah yang penuh belas kasih itu sebenarnya. “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. (1 Yohanes 4:8).

Orang percaya yang hidup dengan takut akan Tuhan tidak akan mau menekan yang lemah. Kita seharusnya punya perasan belas kasihan terhadap mereka, dan selalu rindu berupaya untuk membantu meringankan beban mereka. Tidak akan ada gunanya kekristenan yang kita miliki jika kita masih saja tega melakukan berbagai hal yang menguntungkan diri sendiri dengan mengorbankan mereka yang lebih lemah dari kita. Jika orang berdosa saja bisa mengasihi orang lain, mengapa kita yang mengaku percaya pada Kristus malah berlaku sebaliknya? Oleh karena itu ingatlah pesan Tuhan hari ini baik-baik. Tidak ada gunanya memperoleh keuntungan dengan merugikan orang lain, tapi sebaliknya, bantulah mereka dengan apa yang kita miliki. Segala berkat itu berasal dari Tuhan dan bukan dari dunia. Tuhan sanggup menurunkan berkatNya secara berkelimpahan kepada kita semua tanpa kita harus merugikan orang lain.

Sia-sialah iman kekristenan kita tanpa belas kasih

Follow RHO Twitter: https://twitter.com/DailyRHO

Incoming search terms: