Tag: penciptaan manusia

Pembunuhan Karakter (2)

(sambungan)

Mengapa Tuhan harus begitu keras akan hal ini? Mari kita coba renungkan bersama. Bukankah sama dengan membunuh ketika kita membuat orang menjadi sulit bertumbuh, sulit maju dan sulit berhasil akibat perkataan kita yang meruntuhkan mental mereka? Ucapan-ucapan seperti itu bisa berdampak besar bagi masa depan mereka, dan tidak jarang hal itu akan menghantui mereka seumur hidup. Secara fisik mereka hidup, tetapi karakter mereka sesungguhnya sudah mati sejak lama. Karakter mereka bisa hancur lebur akibat hinaan kita atau kata-kata mengutuk yang kita keluarkan. Itu sama saja dengan terbunuh. Disamping itu, kita harus ingat pula bahwa manusia, siapapun itu, baik yang disengaja maupun tidak. Lalu perhatikanlah sebuah ayat dalam penciptaan manusia, dimana Tuhan berkata: “Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…” (Kejadian 1:26). Jadi apabila kita mengatakan orang lain tolol, atau mengutuk mereka dengan berbagai kata-kata yang tidak pantas, bukankah itu artinya kita pun menghina Sang Pencipta, yang telah mendesain manusia seperti gambar dan rupaNya sendiri? Kemudian lihatlah bagaimana manusia itu di mata Tuhan, yaitu dikatakan “berharga di mata-Ku dan mulia, dan AKu ini mengasihi engkau” (Yesaya 43:4). Ketika kita justru mengatakan sebaliknya terhadap pribadi seseorang, bukankah itu pun artinya kita menghina Tuhan pula? Dan lihatlah bagaimana Tuhan sampai rela mengorbankan Kristus untuk mati atas dosa-dosa kita atas dasar kasihNya yang begitu besar pada kita. (Yohanes 3:16). Jika demikian, tidaklah heran apabila Tuhan bertindak sangat keras terhadap perilaku seperti ini. Bukan saja hal itu sama dengan membunuh, dan Firman Tuhan sudah berkata “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.” (Matius 5:21) yang merupakan perintah Allah ke enam dari sepuluh perintah Allah yang diturunkan kepada Musa, tetapi juga hal tersebut berarti kita bersikap tidak pantas terhadap Tuhan yang memandang manusia secara begitu istimewa. 

Amsal Salomo sudah mengingatkan pentingnya untuk menjaga mulut sejak semula. “Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan.” (Amsal 13:3). Kita bisa melihat pula peringatan dalam kitab 1 Samuel: “Janganlah kamu selalu berkata sombong, janganlah caci maki keluar dari mulutmu. Karena TUHAN itu Allah yang mahatahu, dan oleh Dia perbuatan-perbuatan diuji.” (1 Samuel 2:3). Dari bibir, lidah dan mulut yang sama bisa keluar berkat dan kutuk apabila tidak kita jaga dengan baik. Jangan sampai itu kita lakukan. Yakobus mengingatkan “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.” (Yakobus 3:9-10). Manusia diciptakan menurut rupa Allah, dan ketika kita mengutuk sesama manusia, itu artinya kita sedang melakukan penghinaan besar kepada Allah. Dan itu akan berakibat fatal. Ganjaran hukumannya jelas yaitu berakhir di neraka yang menyala-nyala untuk selamanya. Dan itu sudah diingatkan kepada kita, sehingga tidaklah ada alasan bagi kita untuk mengaku tidak tahu akan hal itu.

Seharusnya kita bisa mejaga mulut dengan baik dan dipergunakan untuk membangun bukan sebaliknya untuk menghancurkan orang lain. “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari  mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.” (Efesus 4:29). Perkataan kotor tidak akan pernah bermanfaat kecuali menghancurkan karakter orang lain dan membuat kita harus berakhir di api belerang menyala-nyala selamanya. Jika ada diantara teman-teman yang biasa mengatai orang atau anak/pasangan/keluarga sendiri atau teman, meski mungkin hanya dimaksudkan sebagai bercandaan atau sesuatu yang tidak serius sekalipun,  berhentilah sekarang juga. Mungkin perkataan itu tidak berarti apa-apa bagi kita, mungkin itu hanya ungkapan kekesalan sesaat saja, mungkin itu cuma cetusan spontan atau bahkan hanya bercanda, tetapi sadarilah bahwa bagi korban yang terkena hal itu bisa berdampak sangat berat. Di mata Tuhan itu sama saja dengan membunuh. Oleh karena itu, marilah kita jaga mulut kita dan memakainya hanya untuk membangun orang lain. Mari belajar untuk memuliakan Tuhan lewat ucapan-ucapan yang keluar dari mulut kita.

Menghina Sang Pencipta berarti keluar dari anugerah dan kasih karunia, berhati-hatilah dalam berkata

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

5 pencarian oleh pembaca:

  1. renungan harian tentang penciptaan
Tags : , ,

Menyampaikan Berita Perdamaian

Ayat bacaan: 2 Korintus 5:19
======================
“Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.”

berita perdamaianPeperangan, konflik, perselisihan dan permusuhan yang terus saja terjadi di berbagai belahan dunia membuat harga sebuah perdamaian semakin mahal. Tidaklah heran apabila penghargaan besar akan diberikan oleh banyak lembaga internasional ketika ada tokoh-tokoh yang berjuang keras untuk menciptakan perdamaian. Persinggungan antar manusia dari masa ke masa memang bisa saja menimbulkan konflik, dan kita tahu sejak awal masa penciptaan manusia sekalipun sebuah pembunuhan yang dilakukan Kain atas Habel, saudaranya sendiri yang didasari iri hati pun menjadi bukti bagaimana sebuah kebencian bisa melukai perdamaian, bahkan berakibat fatal. Peace on earth menjadi impian banyak orang, tetapi masih saja sulit untuk dicapai. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa dosa-dosa kita pun menciptakan jurang yang lebar dengan Sang Pencipta? Akibat dosa, kita berseteru dengan Tuhan, dan karenanya jurang kebinasaan pun menganga lebar, siap untuk menelan kita. Tetapi Kristus datang ke dunia, bukan hanya untuk menebus dosa-dosa kita, tetapi juga mendamaikan hubungan kita dengan Tuhan. Jika hari ini kita bisa datang memasuki hadirat Tuhan untuk bersekutu denganNya secara langsung, semua itu merupakan anugerah yang tak terhingga besarnya lewat karya penebusan Kristus.

Lihatlah apa yang terjadi ketika Yesus wafat di atas kayu salib. “Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah.” (Markus 15:38). Tabir atau tirai dalam Bait Suci selama ini dipakai sebagai pembatas, dimana orang yang boleh melewati batas tirai tersebut dan masuk ke dalam “Ruang Kudus” hanyalah para imam besar. Sebelum tabir itu terbelah, ruang ini adalah sebuah ruang yang tidak terjangkau oleh orang biasa, tapi lewat penebusan Kristus, tabir itu terbelah. Secara simbolis hal ini menggambarkan adanya proses pemulihan hubungan antara kita dengan Tuhan. Kita tidak perlu lagi takut kehilangan nyawa untuk masuk ke hadirat Tuhan yang kudus, kita tidak lagi membutuhkan perantaraan imam-imam besar, karena Yesus sendiri kini menjadi perantara. Dia membuka jalan kepada kita sehingga kita pun dapat bertemu dengan Bapa.

Jerat-jerat dosa yang membelenggu kita seharusnya membuat kita binasa, “Sebab upah dosa ialah maut.” (Roma 6:23). Hubungan kita pun terputus dari Tuhan karenanya. Tetapi lewat Kristus hubungan itu dipulihkan. Perseteruan berakhir, dan perdamaian dengan Tuhan pun terjalin. Paulus mengatakan dalam surat Roma: “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! (Roma 5:10). Tidak saja kita diperdamaikan, tetapi juga mendapat anugerah keselamatan. Yohanes pun mengatakan “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah.” (1 Yohanes 3:1a). Status sebagai anak-anak Allah pun disematkan kepada kita. Bukankah ini sebuah berita yang sangat besar?

Pertanyaannya sekarang, apakah kita sudah cukup peduli dengan hal itu, dan memiliki kerinduan untuk menyampaikannya secara lebih luas agar lebih banyak lagi orang yang diperdamaikan dan menerima anugerah keselamatan? Itu menjadi sebuah prioritas besar bagi Tuhan. Lewat Amanat Agung yang diberikan Kristus tepat sebelum kenaikanNya ke Surga, kita sebenarnya sudah diberi tugas untuk itu. “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20). Sudahkah kita melakukannya? Paulus sadar akan tugas itu. Kepada jemaat Korintus ia menyampaikan Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.” (2 Korintus 5:19). Ia rela memberikan segala sisa hidupnya untuk melakukan tugas besar itu, ia rindu melihat lebih banyak lagi jiwa-jiwa untuk diperdamaikan dan menerima keselamatan. “Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. (ay 20).

Hari ini tugas menyampaikan berita pendamaian itu ada di pundak kita. Keselamatan yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma itu seharusnya bisa menjangkau lebih banyak lagi jiwa lewat diri kita, bukan untuk disimpan sendiri. Jika sebuah berita pendamaian di dunia saja sudah penting, apalagi sebuah berita pendamaian antara kita dengan Sang Pencipta. Menyampaikan berita damai dengan jalan damai, menyampaikan kasih Kristus lewat kasih yang hidup di dalam diri kita, itulah yang seharusnya menjadi kerinduan kita hari ini. Dan ingatlah bahwa kita tidak sendirian dalam melakukannya, tetapi Yesus sudah menjanjikan akan menyertai kita untuk itu. Dan Roh Kudus yang tinggal diam di dalam diri kita pun akan menjadi Penolong yang memampukan kita untuk menunaikan tugas mulia ini. Sudahkah kita peduli dan mau untuk melakukannya? Masih ada banyak orang yang belum mengetahuinya. Hari ini mari kita mulai memegang komitmen untuk menjadi duta-duta surgawi secara benar, karena alangkah indahnya jika ada lebih banyak lagi orangyang bisa memperoleh perdamaian dan keselamatan itu secara luas.

Jadilah pembawa berita pendamaian yang teguh

Tags : , , , , ,