Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Pendapat Jokowi-Ahok Tentang Ayat Suci Didukung

PERNYATAAN  pasangan calon gubernur dan wakil Gubernur DKI, Jokowi РAhok terkait kitab suci, dimana harus lebih patuh pada ayat konstitusi daripada ayat suci menuai dukungan dari berbagai kalangan. Salah satu yang mendukung Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Nusantara (Gema Nusantara), Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia ( GMNI), serta aktivis perempuan. Ketua Umum Gema Nusantara, Jay Muliadi di [...]

Menunggu

Ayat bacaan: Mazmur 70:2
====================
“Ya Allah, bersegeralah melepaskan aku, menolong aku, ya TUHAN!”

menanti, menunggu, mengantriMengantri. Sukakah anda mendengar kata ini? Rasanya jika boleh memilih, tidak ada orang yang betah mengantri. Sayangnya ada banyak urusan di dunia ini yang harus didahului dengan antrian. Kita sering kesal saat harus antri di depan ATM, ketika kita buru-buru ternyata orang di depan kita begitu lama berada di dalam. Jika di depan ATM saja sudah repot, apalagi ketika kita harus menunggu giliran dilayani di bank. Antrian bisa jauh lebih panjang dan prosesnya jauh lebih lama. Kita sering harus menunggu giliran di toilet umum, di depan loket, menunggu dipanggil ketika harus menemui customer service dan sebagainya. Bahkan di restoran pun kita sekarang sering harus mengantri terlebih dahulu. Memang mengantri termasuk hal yang melelahkan. Seandainya bisa, alangkah nyamannya jika kita tidak perlu menunggu terlalu lama ketika mengurus sesuatu, dan tidak harus membiarkan banyak waktu terbuang sia-sia.

Semua contoh antrian di atas sebenarnya baru proses menunggu yang ringan. Ringan? Ya, ringan, karena ada banyak penantian yang jauh lebih berat dari itu. Pasangan suami istri yang menunggu dikaruniai anak, orang-orang yang masih lajang menantikan pasangan hidupnya, menunggu sanak keluarga kita di rumah sakit menunjukkan tanda-tanda kesembuhan, atau menunggu kesembuhan diri kita sendiri, menanti datangnya vonis dokter, menunggu perubahan dari pasangan atau anak dari sikap tidak baik mereka dan lain-lain. Semua itu jauh lebih berat ketimbang sekedar mengantri biasa, dan seringkali terasa jauh lebih lama dari waktu normal. Seringkali sulit bagi kita untuk bersabar dalam menunggu, apalagi ketika kita dihadapkan pada masalah, berada dalam kesesakan, dan itu dirasakan hampir semua orang, termasuk Daud.

Pada suatu kali Daud berdoa demikian: “Ya Allah, bersegeralah melepaskan aku, menolong aku, ya TUHAN!” (Mazmur 70:2). Bukankah kita juga sering berdoa seperti ini? Kita berkata “Jangan tunggu lama-lama Tuhan, cepatlah tolong aku, aku sudah tidak tahan lagi.. bebaskan aku sekarang juga!” Tidak ada orang yang betah berhadapan dengan masalah. Semakin cepat selesai tentu semakin baik. Namun seringkali pertolongan Tuhan terasa lama, bahkan terkadang terasa terlambat. Karena ketidaksabaran, ada banyak orang percaya yang akhirnya terjebak pada alternatif-alternatif yang menjanjikan pertolongan cepat padahal itu adalah pilihan yang jahat di mata Tuhan dan mengarah kepada kebinasaan. Kesabaran sangatlah diperlukan, dan lebih dari sekedar sabar, iman yang percaya penuh kepada Tuhan sangat kita butuhkan. Dalam kehidupan sehari-hari kita butuh itu, apalagi ketika kita sedang mengalami persoalan.

Tuhan tidak pernah merencanakan sesuatu yang jelek buat kita. Apa yang direncanakan Tuhan selalu sesuatu yang indah pada waktunya. Namun keterbatasan kemampuan kita untuk mengetahui apa yang dirancang Tuhan bagi kita membuat kita tidak bisa mengerti mengapa waktu Tuhan sering tidak sejalan dengan waktu kita dalam memberi pertolongan. Dalam Pengkotbah kita baca “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” (Pengkotbah 3:11). Dan Tuhan ternyata tahu benar akan hal ini. Dalam kesempatan lain kita temukan pesan dari Petrus mengenai waktu Tuhan ini. “Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari.” (2 Petrus 3:8). Waktu Tuhan tidak sama dengan waktu kita. Itu pesannya. Dan lihat penekanan di awal ayat tersebut. “Yang satu ini tidak boleh kamu lupakan.” Mengapa harus ada kata ini? Karena orang percaya sekalipun seringkali terjatuh dalam hal ini. Ketidaksabaran sering menjadi batu sandungan iman seseorang. Kecenderungan memaksakan waktu Tuhan untuk sesuai dengan hitungan waktu kita seringkali membuat kita kecewa dan bersungut-sungut, mengira Tuhan tidak peduli, lupa atau lalai. Petrus pun mengingatkan lagi: “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (ay 9). Ya, Tuhan sesungguhnya tidak lalai. Dia tidak pernah lupa untuk menepati janjiNya. Apa yang Dia rindukan bagi setiap kita itu jelas. Dia tidak menghendaki satupun dari kita untuk binasa, melainkan agar kita mau berbalik kepadaNya dan bertobat. Waktu Tuhan tidak sama dengan waktu kita. Apa yang direncanakan Tuhan adalah segala sesuatu yang indah pada waktunya. Karena itu, bersabarlah. Jangan tergesa-gesa, jangan mendesak, tetapi tetaplah memegang janji Tuhan dengan iman yang kuat tanpa kehilangan harapan sedikit pun.

Tidak gampang memang untuk bersabar ditengah tekanan. Tapi jika Tuhan sudah menjanjikan yang terbaik, seharusnya kita bisa lebih tenang menghadapinya. Di saat-saat seperti itu kita bisa mengalami proses pembentukan diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih tahan uji, lebih dewasa, dan di saat-saat sulit itulah kita bisa melatih diri kita untuk belajar mengandalkan Tuhan saja. Itu proses-proses berharga yang bisa tumbuh dalam diri kita jika kita menghadapinya bersama Tuhan, jika tetap sabar menanti datangnya pertolongan sesuai waktunya Tuhan dengan harapan dan kepercayaan penuh. Pada saat yang tepat, waktu yang terbaik, Tuhan akan menurunkan pertolonganNya dan segera mengangkat kita keluar dari pergumulan-pergumulan. Dia selalu siap untuk menempatkan kita dalam keadaan baik, meski mungkin saat ini kita sulit untuk bisa melihat atau mempercayai hal itu. Pada suatu saat nanti kita akan bisa bersukacita dan akan mengakui kebesaran Tuhan. Di saat itu kita akan bisa berkata seperti Daud:“Biarlah bergirang dan bersukacita karena Engkau semua orang yang mencari Engkau; biarlah mereka yang mencintai keselamatan dari pada-Mu selalu berkata: “Allah itu besar!” (Mazmur 70:5).

Jika anda berada dalam sebuah situasi sulit hari ini, jangan patah semangat. Jangan goyah, tapi tetaplah pegang janji Tuhan dengan iman penuh. Bagi yang tengah mengalami situasi sulit, firman Tuhan berkata: “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Roma 12:12). Ini langkah-langkah yang paling tepat untuk diambil sementara kita menunggu datangnya pertolongan Tuhan. Pastikan diri anda tetap berada di rel yang benar, dan pada saat yang tepat semua beban akan diangkat keluar dari diri anda. Penantian memang melelahkan, namun suatu hari nanti anda akan bersyukur pernah mengalami itu dan keluar sebagai pemenang bersama Tuhan. Tidak ada satupun masalah yang berada di atas kuasa Tuhan. Karena itulah Tuhan selalu menekankan pentingnya sikap yang selalu mengandalkan Tuhan dalam menghadapi situasi apapun. Be patient, because His help is surely on the way!

Waktunya Tuhan tidak sama dengan waktu kita, dan Dia tidak pernah lalai.Karena itu bersabarlah