Tag: pasangan

11 Agt

"Apakah yang akan kami peroleh?"
(Flp 3:8-14; Mat 19:27-29)

Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.” (Mat 19:27-29), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St Klara, perawan, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Bagi seorang gadis, keperawanan merupakan sesuatu yang paling berharga atau bernilai bagi dirinya. Keperawanannya pasti akan diserahkan atau dipersembahkan kepada yang terkasih, yang paling dikasihinya. Tentu saja saja jika ia dipanggil untuk hidup berkeluarga sebagai suami isteri, maka ia akan mempersembahkan keperawannya kepada pasangan hidupnya, suaminya, tetapi ketika ia terpanggil untuk tetap hidup sebagai perawan alias tidak menikah, maka ia mempersembahkan keperawanan atau kesuciannya kepada Yang Terkasih, Tuhan yang telah menciptakan dan mengasihiNya. Hari ini kita kenangkan St.Klara, yang mempersembahkan keperawanannya kepada Tuhan dengan “meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya”, yang kemudian “menerima kembali seratus kali lipat dan memperoleh hidup yang kekal”. Kami berharap kepada kita semua, umat beriman atau beragama, untuk senantiasa menjaga dan memperdalam kesucian kita masing-masing, dan untuk itu hendaknya senantiasa mempersembahkan diri kepada Tuhan, yang secara konkret melayani atau mempersembahkan diri kepada sesamanya, dengan kata lain marilah kita saling melayani dan mempersembahkan diri. Jika kita hidup saling melayani dan mempersembahkan diri, maka percayalah kita akan menerima anugerah atau rahmat berlipat ganda atau melimpah dan kelak menerima hidup kekal, mulia selamanya di sorga bersama Tuhan dan orang-orang kudus atau suci yang telah mendahului perjalanan kita menghadap Tuhan di sorga. Kepada rekan-rekan gadis, perempuan yang belum menikah atau tidak menikah, kami harapkan setia menjaga keperawanannya, dan jangan seenaknya dijual-belikan kepada laki-laki yang kurang atau tidak bermoral.

·   Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.” (Flp 3:8-9), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Filipi, kepada kita semua, umat beriman. Hidup mesra, bersama dan bersatu dengan Tuhan memang tak ternilai, tak dapat dijelaskan dengan akal sehat, dan hanya mungkin diimani dan dihayati. Merenungkan kesaksian Paulus di atas, saya teringat akan Ibu Teresa dari Calcuta, yang meninggalkan gedung mewah beserta kemegahan dan yang ada di dalamnya, sekolah favorit, dan kemudian menyatukan diri dengan orang-orang miskin, yang kurang diperhatikan dan kurang dikasihi, yang berada di jalanan atau tumpukan sampah, yang kotor dan menjijikkan. Karena pengenalannya dengan Yesus Kristus, yang meskpun kaya telah memiskinkan Dirinya, yang miskin dan senantiasa berpihak dan bersama dengan mereka yang miskin dan kekurangan, Ibu Teresa telah menganggap sampah kemegahan dan kemewahan duniawi ini. Kita semua tahu Ibu Teresa yang masih hidup saat itupun sudah dipandang oleh banyak orang sebagai orang suci, padahal orang suci adalah orang yang telah meninggal dunia dan dinyatakan suci. Memang ibu Teresa telah meninggalkan sikap mental duniawi atau materialistis ini untuk memeluk Yang Ilahi, yang hidup dalam diri mereka yang miskin, berkekurangan dan terlantar. Kita semua kiranya dipanggil untuk meneladan Ibu Teresa, yang telah dinyatakan sebagai “Beata”, Yang Berbahagia, hidup dalam kepercayaan dan kebenaran Ilahi dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari dimana pun dan kapan pun.
Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku. Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku. Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.” (Mzm 16:5.7-8)
Ign 11 Agustus 2012

Tags : , , , ,

Pendapat Jokowi-Ahok Tentang Ayat Suci Didukung

PERNYATAAN  pasangan calon gubernur dan wakil Gubernur DKI, Jokowi – Ahok terkait kitab suci, dimana harus lebih patuh pada ayat konstitusi daripada ayat suci menuai dukungan dari berbagai kalangan.

Salah satu yang mendukung Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Nusantara (Gema Nusantara), Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia ( GMNI), serta aktivis perempuan.

Ketua Umum Gema Nusantara, Jay Muliadi di Jakarta, Senin mendukung pemikiran Jokowi-Ahok yang memisahkan kepentingan ayat suci dan konstitusi.

“Indonesia khususnya Jakarta membutuhkan pemimpin yang berfikiran sekuler dan liberal agar masyarakat pluralis dapat terbentuk secara  baik,” katanya.

Paham yang tegas dalam pemikiran pasangan Jokowi-Ahok bakal menguatkan nilai-nilai persatuan.

“Sehingga tidak lagi terjadi pembenturan konflik di masyarakat yang mengatasnamakan agama,” tuturnya.

Pendapat senada disampaikan Pujadi Aryo S, Pengurus Alumni ( PA) Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia ( GMNI) yang menyatakan masyarakat Jakarta harus dididik melalui sejumlah pemikiran yang bebas sehingga tidak lagi kaku dan terhegemoni oleh doktrin-doktrin yang salah.

“Pemikiran yang memisahkan antara agama dan negara, itu sangat baik bagi kami, dalam bernegara, ayat suci no. Sedangkan ayat konstitusi yes,” tandasnya.

Aryo berharap, kalau pasangan Jokowi Ahok maju tidak ada lagi pemikiran kerdil
yang dalam beragama, sehingga harus dipisahkan antara urusan beragama dan bernegara.

“Yah kita ingin nanti pasangan Jokowi-Ahok tetap konsisten dengan pemikirannya dan juga mereka tidak lagi memberikan bantuan hibah baik untuk mesjid maupun gereja,” ujarnya.

Sementara aktivis perempuan, Ratna Sarumpaet berpendapat apa yang dikatakan oleh Ahok soal kitab suci untuk kepentingan pribadi sudah tepat.

“Dalam konteks apa yang diucapkan oleh Ahok itu benar. Dia tidak mengulas ayat dan sebatas  mengatakan ayat yang berhubungan dengan agama itu dimaknai untuk kepentingan pribadi,” ungkapnya.

Pernyataan itu benar, jika ada yang marah soal pernyataan itu, Ratna menegaskan, orangnya saja yang ’norak’.

Namun, Ratna juga mengingatkan agar Ahok tidak terlalu banyak bicara dan itu
tidak menolong diirinya sebagai calon.

“Ahok saat ini punya peluang dipojokan orang. Ahok terlalu banyak bicara akan merugikan semua orang.  Perlu ditegur. untuk kepentingan Jakarta, bukan kepentingan Ahok  tapi kita butuh pemimpin yang lebih baik ke depan. Ibukota, Jakarta ini harus dipimpin oleh cagub-cawagub dari keberagaman,” tegasnya.

Sebelumnya, kepercayaan masyarakat Jakarta kepada pasangan bernomer urut 3  semakin memudar saat Basuki T Purnama alias Ahok yang melecehkan Kitab Suci.

Ahok mengkritik sikap pemeluk agama tertentu yang menjadikan dalil ayat suci yang digunakan sebagai dalil menolak Lady Gaga.

Kata Ahok, kitab suci hanya digunakan untuk kepentingan pribadi, sehingga lebih tepat untuk patuh kepada kitab konstitusi.

“Kita tidak boleh taat pada ayat suci. Kita taat pada ayat-ayat konstitusi,” ujar Ahok.

5 pencarian oleh pembaca:

  1. khotbah mazmur 147 : 7 - 14
  2. renungan tentanang ahok
  3. Apa dalil yg di ucapkan ahok
  4. apa Dalil yg diucapkn ahok
  5. renungan kristen tentang sikap ahok
Tags : , , , , ,

Menunggu

Ayat bacaan: Mazmur 70:2
====================
“Ya Allah, bersegeralah melepaskan aku, menolong aku, ya TUHAN!”

menanti, menunggu, mengantriMengantri. Sukakah anda mendengar kata ini? Rasanya jika boleh memilih, tidak ada orang yang betah mengantri. Sayangnya ada banyak urusan di dunia ini yang harus didahului dengan antrian. Kita sering kesal saat harus antri di depan ATM, ketika kita buru-buru ternyata orang di depan kita begitu lama berada di dalam. Jika di depan ATM saja sudah repot, apalagi ketika kita harus menunggu giliran dilayani di bank. Antrian bisa jauh lebih panjang dan prosesnya jauh lebih lama. Kita sering harus menunggu giliran di toilet umum, di depan loket, menunggu dipanggil ketika harus menemui customer service dan sebagainya. Bahkan di restoran pun kita sekarang sering harus mengantri terlebih dahulu. Memang mengantri termasuk hal yang melelahkan. Seandainya bisa, alangkah nyamannya jika kita tidak perlu menunggu terlalu lama ketika mengurus sesuatu, dan tidak harus membiarkan banyak waktu terbuang sia-sia.

Semua contoh antrian di atas sebenarnya baru proses menunggu yang ringan. Ringan? Ya, ringan, karena ada banyak penantian yang jauh lebih berat dari itu. Pasangan suami istri yang menunggu dikaruniai anak, orang-orang yang masih lajang menantikan pasangan hidupnya, menunggu sanak keluarga kita di rumah sakit menunjukkan tanda-tanda kesembuhan, atau menunggu kesembuhan diri kita sendiri, menanti datangnya vonis dokter, menunggu perubahan dari pasangan atau anak dari sikap tidak baik mereka dan lain-lain. Semua itu jauh lebih berat ketimbang sekedar mengantri biasa, dan seringkali terasa jauh lebih lama dari waktu normal. Seringkali sulit bagi kita untuk bersabar dalam menunggu, apalagi ketika kita dihadapkan pada masalah, berada dalam kesesakan, dan itu dirasakan hampir semua orang, termasuk Daud.

Pada suatu kali Daud berdoa demikian: “Ya Allah, bersegeralah melepaskan aku, menolong aku, ya TUHAN!” (Mazmur 70:2). Bukankah kita juga sering berdoa seperti ini? Kita berkata “Jangan tunggu lama-lama Tuhan, cepatlah tolong aku, aku sudah tidak tahan lagi.. bebaskan aku sekarang juga!” Tidak ada orang yang betah berhadapan dengan masalah. Semakin cepat selesai tentu semakin baik. Namun seringkali pertolongan Tuhan terasa lama, bahkan terkadang terasa terlambat. Karena ketidaksabaran, ada banyak orang percaya yang akhirnya terjebak pada alternatif-alternatif yang menjanjikan pertolongan cepat padahal itu adalah pilihan yang jahat di mata Tuhan dan mengarah kepada kebinasaan. Kesabaran sangatlah diperlukan, dan lebih dari sekedar sabar, iman yang percaya penuh kepada Tuhan sangat kita butuhkan. Dalam kehidupan sehari-hari kita butuh itu, apalagi ketika kita sedang mengalami persoalan.

Tuhan tidak pernah merencanakan sesuatu yang jelek buat kita. Apa yang direncanakan Tuhan selalu sesuatu yang indah pada waktunya. Namun keterbatasan kemampuan kita untuk mengetahui apa yang dirancang Tuhan bagi kita membuat kita tidak bisa mengerti mengapa waktu Tuhan sering tidak sejalan dengan waktu kita dalam memberi pertolongan. Dalam Pengkotbah kita baca “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” (Pengkotbah 3:11). Dan Tuhan ternyata tahu benar akan hal ini. Dalam kesempatan lain kita temukan pesan dari Petrus mengenai waktu Tuhan ini. “Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari.” (2 Petrus 3:8). Waktu Tuhan tidak sama dengan waktu kita. Itu pesannya. Dan lihat penekanan di awal ayat tersebut. “Yang satu ini tidak boleh kamu lupakan.” Mengapa harus ada kata ini? Karena orang percaya sekalipun seringkali terjatuh dalam hal ini. Ketidaksabaran sering menjadi batu sandungan iman seseorang. Kecenderungan memaksakan waktu Tuhan untuk sesuai dengan hitungan waktu kita seringkali membuat kita kecewa dan bersungut-sungut, mengira Tuhan tidak peduli, lupa atau lalai. Petrus pun mengingatkan lagi: “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (ay 9). Ya, Tuhan sesungguhnya tidak lalai. Dia tidak pernah lupa untuk menepati janjiNya. Apa yang Dia rindukan bagi setiap kita itu jelas. Dia tidak menghendaki satupun dari kita untuk binasa, melainkan agar kita mau berbalik kepadaNya dan bertobat. Waktu Tuhan tidak sama dengan waktu kita. Apa yang direncanakan Tuhan adalah segala sesuatu yang indah pada waktunya. Karena itu, bersabarlah. Jangan tergesa-gesa, jangan mendesak, tetapi tetaplah memegang janji Tuhan dengan iman yang kuat tanpa kehilangan harapan sedikit pun.

Tidak gampang memang untuk bersabar ditengah tekanan. Tapi jika Tuhan sudah menjanjikan yang terbaik, seharusnya kita bisa lebih tenang menghadapinya. Di saat-saat seperti itu kita bisa mengalami proses pembentukan diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih tahan uji, lebih dewasa, dan di saat-saat sulit itulah kita bisa melatih diri kita untuk belajar mengandalkan Tuhan saja. Itu proses-proses berharga yang bisa tumbuh dalam diri kita jika kita menghadapinya bersama Tuhan, jika tetap sabar menanti datangnya pertolongan sesuai waktunya Tuhan dengan harapan dan kepercayaan penuh. Pada saat yang tepat, waktu yang terbaik, Tuhan akan menurunkan pertolonganNya dan segera mengangkat kita keluar dari pergumulan-pergumulan. Dia selalu siap untuk menempatkan kita dalam keadaan baik, meski mungkin saat ini kita sulit untuk bisa melihat atau mempercayai hal itu. Pada suatu saat nanti kita akan bisa bersukacita dan akan mengakui kebesaran Tuhan. Di saat itu kita akan bisa berkata seperti Daud:“Biarlah bergirang dan bersukacita karena Engkau semua orang yang mencari Engkau; biarlah mereka yang mencintai keselamatan dari pada-Mu selalu berkata: “Allah itu besar!” (Mazmur 70:5).

Jika anda berada dalam sebuah situasi sulit hari ini, jangan patah semangat. Jangan goyah, tapi tetaplah pegang janji Tuhan dengan iman penuh. Bagi yang tengah mengalami situasi sulit, firman Tuhan berkata: “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Roma 12:12). Ini langkah-langkah yang paling tepat untuk diambil sementara kita menunggu datangnya pertolongan Tuhan. Pastikan diri anda tetap berada di rel yang benar, dan pada saat yang tepat semua beban akan diangkat keluar dari diri anda. Penantian memang melelahkan, namun suatu hari nanti anda akan bersyukur pernah mengalami itu dan keluar sebagai pemenang bersama Tuhan. Tidak ada satupun masalah yang berada di atas kuasa Tuhan. Karena itulah Tuhan selalu menekankan pentingnya sikap yang selalu mengandalkan Tuhan dalam menghadapi situasi apapun. Be patient, because His help is surely on the way!

Waktunya Tuhan tidak sama dengan waktu kita, dan Dia tidak pernah lalai.Karena itu bersabarlah

5 pencarian oleh pembaca:

  1. sindiran buat manusia yg pola fikir sempit
Tags : , ,