Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

15 Juni – 2Kor 9:6-11; Mat 6:1-6.16-18

 “Janganlah kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka”

(2Kor 9:6-11; Mat 6:1-6.16-18)

 "Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.  Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.  Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."  "Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu,  supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." (Mat 6:1-6.16-18), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut;

·   Sikap mental liturgis atau formalistis rasanya masih menjiwai banyak orang masa kini, yaitu melakukan sesuatu agar dilihat dan dipuji orang, tentu saja sesuatu tersebut baik adanya. Hal yang senada adalah mereka yang senantiasa menyombongkan diri dengan ijasah atau gelar yang dimilikinya. Berbuat baik agar dilihat dan dipuji orang antara lain terjadi ketika berpartisipasi dalam gerakan social untuk membantu korban bencana alam seperti banjir, gempa bumi dst.., maka orang begitu mengedepankan seragam atau bendera organisasi sementara itu pelayanan dalam gerakan social tersebut layak dipertanyakan. Sabda Yesus hari ini mengingatkan kita semua agar “Jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu di sorga”. Marilah peringatan ini kita renungkan dan tanggapi secara positif dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Ketika hendak berbuat baik kepada orang lain atau melaksanakan tugas-kewajiban, buatlah atau laksanakanlah tanpa memperhitungkan apakah akan dilihat dan dipuji orang atau tidak, dengan demikian kita akan sungguh menjadi diri pribadi yang dewasa dan bertanggungjawab, alias tidak kekanak-kanakan. Berbuat baik atau melakukan tugas kewajiban hemat kami merupakan ‘value of being’, artinya bernilai pada dirinya sendiri serta memantapkan jati diri kita masing-masing; berbuat baik dan melakukan tugas-kewajiban merupakan cara hidup dan cara bertindak kita sebagai orang beriman, maka entah dilihat atau  tidak dilihat orang lain hendaknya kita tetap setia untuk berbuat baik dan melakukan tugas-kewajiban seoptimal dan sebaik mungkin.

·   Camkanlah ini. Orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2Kor 9:6-7), demikian peringatan Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua umat beriman. Begitu selesai menabur kita tak mungkin langsung melihat hasil atau buahnya, hasil atau buahnya akan nampak kemudian; kalau yang kita menabur benih tanaman, maka buahnya akan kita lihat kapan tergantung jenis tanamannya, sedangkan kalau menabur benih hidup baik dan berbudi pekerti luhur alias aneka ajaran dan nasihat yang baik kepada anak-anak, peserta didik atau saudara-saudari kita maka buahnya akan kita lihat ketika kelak mereka menjadi dewasa. Dengan kata lain penabur memang harus sabar dalam menikmati buah dari benih yang telah ditaburkannya. Marilah kita menabur dengan sukahati dan rela hati bukan dengan paksaan atau tekanan. Kami percaya bahwa dari kedalaman lubuk hati kita  masing-masing ada kerinduan untuk ‘menabur’ alias memberi nasihat, petuah, ajaran dst… atau ada pengharapan yang begitu indah dan mulia. Hendaknya pengharapan tersebut segera diusahakan perwujudan atau pemenuhannya dengan bekerja keras dan bersama dengan rahmat Allah. Pengharapan hemat saya menjiwai penabur, dan penabur yang baik tentu tidak langsung tidur atau istirahat setelah menabur, melainkan dengan penuh  pengharapan terus-menerus memonitor dan mendampingi apa yang telah ditaburkannya agar menghasilkan buah yang membahagiakan dan menyelamatkan. Ingat para suami-isteri bahwa benih atau sperma yang ditaburkan dalam telor kiranya dengan penuh pengharapan dan sukacita mendampingi dan merawatnya!

Berbahagialah orang yang takut akan Tuhan, yang sangat suka kepada perintah-perintahNya. Anak cucunya akan perkasa di bumi, angkatan orang benar akan diberkati” (Mzm 112:1-2)

Ign 15 Juni 2011

Ragi Orang Farisi

Ayat bacaan: Matius 23:13-14
=========================
“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk…Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.”

ragi orang FarisiGereja seharusnya menjadi tempat dimana orang bisa mengalami jamahan Tuhan, mengalami pemulihan, mengenalNya lebih dari sebelumnya juga menjadi tempat untuk bertumbuh. Gereja seharusnya menjadi tempat anak-anak Tuhan untuk saling berbagi, saling menguatkan, saling bantu dan bekerja sama untuk membawa terang keluar dari dinding-dinding pembatas untuk menjangkau lingkungan sekitarnya, kota, bangsa maupun dunia. Tetapi betapa memprihatinkannya ketika sebagian dari hamba-hamba Tuhan di dalamnya yang seharusnya menjadi panutan justru sebaliknya berubah menjadi batu sandungan bagi jemaatnya sendiri. Saya mengenal beberapa orang yang menjadi apatis karena kecewa melihat sosok-sosok yang perkataan dan kehidupannya tidak sinkron. Ada gereja yang mendahulukan donatur untuk duduk di depan, sementara jemaat biasa harus dibelakang walaupun di depan masih kosong. Ada juga orang yang setiap hari Minggu terlihat suci tetapi di dalam pekerjaan mereka melakukan banyak kecurangan. Ada yang sepertinya sangat kudus dengan gaya yang selalu menasihati orang lain seolah dirinya tanpa cela, tetapi mereka terus hidup dalam pesta pora, minum-minum dan menghamburkan uang tidak pada tempatnya. Mereka menciptakan peraturan sendiri mengenai mana yang boleh dan tidak sesuai dengan kesukaan mereka, bahkan tidak jarang mereka menciptakan sosok Tuhan menurut versi mereka sendiri. Tidak adil tentu saja jika kesalahan beberapa oknum ini akhirnya ditimpakan kepada gereja dimana mereka melayani. Tetapi hal seperti itu kerap terjadi, dan itu tentu saja menyakiti hati Tuhan. Bukan saja mereka menjadi batu sandungan bagi banyak orang, tetapi juga menjadi penghalang yang bisa menggagalkan pekerjaan Tuhan di muka bumi ini.

Sejak dahulu Tuhan Yesus sudah menyinggung mengenai perihal kemunafikan dari orang-orang yang seharusnya menjadi teladan dan panutan seperti itu. Kemunafikan ini digambarkan Tuhan sebagai ragi orang Farisi. “Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.” (Lukas 12:1). Orang-orang Farisi dikenal sebagai pemuka-pemuka agama yang tampil sangat alim kapanpun dan dimanapun, mengaku mengenal hukum-hukum Taurat dan hafal luar dalam, selalu berkata tentang kebenaran tetapi perilaku mereka jauh dari semua yang mereka ajarkan. Mereka selalu merasa diri paling benar, paling suci dan paling bersih, sehingga mereka terbiasa untuk gampang menghakimi orang lain. Inilah ragi Farisi yang sangat dikecam Tuhan. Perhatikan apa kata Yesus. “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. (Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.)” (Matius 23:13-14). Hukuman yang lebih berat, itu akan menjadi ganjaran akan orang-orang dengan perilaku seperti ini karena beberapa hal. Mereka sudah mengetahui kebenaran tetapi masih juga melanggarnya. Mereka menyelewengkan kebenaran dan memanfaatkannya hanya sebagai topeng agar mereka terlihat hebat di mata manusia. Dan bukan itu saja, mereka pun menjadi batu sandungan bagi banyak orang, sesuatu yang berbanding terbalik dengan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang percaya, yaitu sebagai terang dan garam bagi orang lain. (Matius 5:13-16).

Hukuman yang lebih berat menanti orang-orang yang munafik, orang yang seharusnya menjadi guru dengan keteladanan tetapi malah sebaliknya merintangi orang lain untuk selamat lewat sikap hidupnya yang sama sekali tidak menunjukkan pribadi Kristus yang sebenarnya. Yakobus pun mengingatkan seperti itu ketika menyinggung masalah dosa lidah. “Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.” (Yakobus 3:1). Alangkah ironis ketika anak-anak Tuhan yang seharusnya menjadi cermin Kristus di dunia, ternyata malah menjadi batu sandungan bagi sesamanya. Alangkah ironis ketika kita seharusnya menjadi terang dan garam, tetapi malah menjadi awan gelap dan empedu pahit bagi orang lain. Seharusnya kita menjadi sumber kasih, seperti halnya Tuhan sendiri mengasihi kita, bukan memusuhi, menghakimi, menjelek-jelekkan orang lain, atau malah menunjukkan perilaku yang tidak terpuji dan tidak sesuai dengan apa yang mereka tunjukkan pada hari Minggu. Kenyataannya ada banyak orang percaya yang berpikir bahwa hidup lurus cukup dilakukan hanya pada hari Minggu saja, itupun hanya ketika berada di dalam ruang gereja. Kemunafikan seperti ini bisa membawa konsekuensi fatal bagi kita, oleh karena itu kita harus ingat betul bahwa tidak hanya di gereja, tetapi dalam kehidupan sehari-hari pun Firman Tuhan tidak boleh sedikitpun dikesampingkan. Ketika Yesus meminta kita untuk menggembalakan domba-dombaNya seperti dalam Yohanes 21:15-19, tidakkah ironis jika kita malah mengusir domba-dombaNya untuk pergi menjauh lewat kemunafikan? Tidakkah ironis jika anak-anak Tuhan yang seharusnya berperan dalam mengenalkan kebenaran justru membuat orang semakin jauh dari kebenaran? Bukannya membawa berkat tetapi malah menjadi batu sandungan yang membuat orang meninggalkan Tuhan?

Ragi orang Farisi akan dengan sangat mudah hinggap pada diri kita. Mengetahui firman Tuhan memang bagus, tapi jika tidak disertai perbuatan, maka iman kita itu hanyalah sebentuk iman yang mati, dan disitulah kita bisa terjebak pada berbagai dosa kesombongan, merasa diri paling benar dan sebagainya. Kecenderungan seperti ini memang cenderung hadir dalam diri manusia. Oleh karenanya Paulus mengingatkan “Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!” (Roma 14:13). Jika kita sudah dibebaskan dengan menerima Kristus sebagai Juru Selamat kita, langkah selanjutnya adalah komitmen kita untuk terus menjaga diri kita, agar kebebasan itu jangan sampai menjadi batu sandungan bagi yang lemah. (1 Korintus 8:9).Sebagai wakil-wakilNya di dunia, seharusnya kita selalu melakukan apa yang bisa mendatangkan damai sejahtera dan bisa membangun bahkan menyelamatkan orang lain. “Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun” (Roma 14:19), bukan sebaliknya mendatangkan kepahitan dan menghancurkan masa depan orang. Merusak pekerjaan Allah adalah fatal akibatnya.  Karena itu kita harus senantiasa menjaga diri kita, menyelediki hati kita dan menjadikannya nyata lewat sikap, tingkah laku, pikiran, perkataan dan perbuatan kita. Buanglah segala kemunafikan dari diri kita, dan jadilah orang yang berintegritas tinggi. Jangan sampai orang salah mengenal sosok Yesus hanya gara-gara kita tidak bisa menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang buruk. Berjalanlah sesuai Firman Tuhan kapanpun dan dimanapun, ada atau tidak ada orang yang melihat, karena biar bagaimanapun Tuhan tahu segala sesuatu yang kita perbuat. Sekali kita menjadi batu sandungan, hukuman yang lebih berat pun menanti kita. Karenanya, mari perhatikan benar bagaimana cara kita hidup agar kita tidak termasuk orang-orang yang terkontaminasi oleh ragi Farisi ini.

Jangan sesatkan domba-dombaNya, tapi gembalakanlah dengan benar!

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

8 Feb – Kej 1:20-2:4a; Mrk 7:1-13

“Firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu”

(Kej 1:20-2:4a; Mrk 7:1-13)


“Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: "Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?" Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia." Yesus berkata pula kepada mereka: "Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban — yaitu persembahan kepada Allah –, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan." (Mrk 7:5-13), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Dalam berbagai suku atau bangsa apa yang disebut ‘adat istiadat’ begitu kuat mempengaruhi cara hidup dan cara bertindak warganya. Memang ada adat istiadat yang baik alias sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman dan penghayatan iman, tetapi juga ada yang tidak baik. Tentu saja yang sering menonjol dalam pembicaraan adalah yang kurang baik, yaitu yang mencelakakan jiwa manusia.  Memang masalah sering muncul dalam liturgy atau upacara formal, ada hal-hal formal atau liturgis yang mengganggu keselamatan jiwa manusia atau yang tidak penting kemudian diutamakan, sebagaimana dilakukan orang-orang Farisi perihal cuci tangan sebelum makan. Maka baiklah dengan ini kami mengajak dan mengingatkan anda semua untuk tidak memutar-balikkan sarana menjadi tujuan dan tujuan menjadi sarana. Mencuci tangan bertujuan agar tangan bersih, tetapi jika tangan sudah bersih tidak perlu cuci tangan lagi. Ornamen-ornamen atau hiasan-hiasan dalam upacara formal atau liturgy merupakan sarana bukan tujuan, sarana untuk mendukung penghayatan liturgy. Misalnya Perayaan Ekaristi Perkawinan maupun pesta perkawinan : beaya untuk hiasan bunga di kapel atau gereja jutaan rupiah dan pesta perkawinan di gedung atau hotel lebih dari satu milyard, sementara itu hidup keimanan dan kepribadian yang bersangkutan amburadul, sehngga ada kemungkinan mereka yang baru saja menikah dalam waktu singkat bercerai  Pesta begitu mewah tetapi beaya berasal dari pinjaman atau hutang, maka setelah pesta sengsara, dst.. Marilah kita hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah atau sabda-sabda Allah sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci.

·   "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kej 1:28), demikian salah perintah Allah kepada manusia. Manusia dipanggil untuk menguasai bumi, ikan-ikan di laut, burung-burung di udara dan segala binatang yang merayap di bumi. Namun apa yang sering terjadi masa kini adalah sebaliknya: manusia dikuasai oleh bumi, ikan, burung dan binatang; demikian juga panggilan untuk beranak-cucu diputar-balikkan hanya menjadi kenikmatan hubungan seksual belaka. Salah-kaprah atau pemutar-balikkan tersebut terjadi karena keserakahan dan kesombongan sementara manusia. Sebagai contoh kalau burung atau binatang dikurung sendirian di kandang atau kurungan berarti tidak mungkin beranak-cucu dan membutuhkan beaya atau dana besar guna merawatnya. Beaya perawatan burung atau binatang dapat lebih besar atau mahal daripada kebutuhan manusia, pemiliknya. Sementara itu jika burung berterbangan bebas dapat mencari makan sendiri dan berkembang biak. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk hidup dan bertindak dijiwai oleh ‘cintakasih dan kebebasan injili’. Cintakasih itu bebas dan kebebasan hanya dapat dibatasi oleh cintakasih. Cintakasih sejati ialah tidak pernah melecehkan dan merendahkan martabat ciptaan Allah di dunia ini, entah itu manusia, binatang atau tanaman. Dengan kata lain anda dapat bertindak bebas seenaknya asal tidak melecehkan atau merendahkan harkat martabat ciptaan Allah, terutama manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Allah. Hendaknya dijauhkan aneka sikap mental dan hidup materialistis yang merusak hidup pribadi maupun bersama. Secara khusus kepada anda para suami-isteri hendaknya tidak dikuasai oleh seks saja, dan semoga saling mengasihi dalam kebebasan sejati.

 

Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya

(Mzm 8:4-7)

Jakarta, 8 Februari 2011    

22 Okt – Ef 4:1-6; Luk 12:54-59

“Rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?”

(Ef 4:1-6; Luk 12:54-59)


“Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas."(Luk 12:54-59), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kepekaan sosial merupakan salah satu keutamaan yang perlu dididikkan sedini mungkin bagi anak-anak, entah di dalam keluarga maupun sekolah-sekolah, dan tentu saja teladan dari para orangtua serta guru atau pendidik sangat dibutuhkan. Kecenderungan kebanyakan orang masa kini lebih ke arah sikap mental egois, kurang peka terhadap saudara-saudarinya, hanya mencari keuntungan atau kenikmatan diri sendiri. “Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakan kamu tidak dapat menilai zaman ini?”, demikian kecaman Yesus terhadap orang-orang munafik. Tanda-tanda zaman antara lain ‘pemanasan global’ telah diberitakan atau disebarluaskan ke mana-mana melalui aneka macam media, namun kebanyakan orang tidak menyikapi dengan benar atau tepat terhadap pemanasan global tersebut. Hal itu kiranya menggambarkan ketidak-pekaan orang terhadap aneka gejala maupun peristiwa yang terjadi di sekitarnya atau di dalam tubuhnya sendiri. Sabda hari ini kiranya mengajak dan mengingatkan kita semua pentingnya mengenal diri dengan baik dan memadai, sehingga dapat menempatkan diri dengan tepat dalam kehidupan bersama dimanapun dan kapanpun. Salah satu cara untuk lebih mengenal diri antara lain telah diusahakan oleh beberapa sekolah-sekolah katolik di kota-kota besar dengan menyelenggarakan ‘live in’ bagi para siswa atau peserta didik, tinggal dan hidup bersama untuk beberapa waktu dengan mereka yang miskin dan berkekurangan di desa-desa atau pelosok-pelosok. Pengalaman menunjukkan bahwa cukup banyak siswa atau peserta didik dapat melihat nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup yang tidak mereka temukan atau alami selama tinggal di kota, antara lain disiplin, matiraga, kerja keras, tidak mudah mengeluh,, persaudaraan sejati, dll.. Maka baiklah gerakan semacam ‘live in’ ini sering diusahakan atau diselenggarakan, entah secara pribadi atau bersama-sama.


·   Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua“(Ef 4:2-6), demikian ajakan atau peringatan Paulus kepada umat di Efesus, kepada kita semua umat beriman, khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus. Marilah ajakan ini kita laksanakan bersama-sama. Kita diajak dan diingatkan untuk senantiasa hidup dalam persaudaraan atau persahabatan sejati dengan siapapun dan dimanapun. Persaudaraan atau persahabatan sejati kiranya mendesak untuk kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini, mengingat dan memperhatikan masih maraknya aneka pertentangan, permusuhan, tawuran di sana-sini antar suku, agama, desa, dst., sebagaimana sering dapat kita saksikan dalam aneka pemberitaan di media elektronik/TV. Marilah kita saling membantu dengan rendah hati, lemah lembut dan sabar. Sering kita dengarkan bahwa semua agama mengajarkan cintakasih, namun ada sementara orang atas nama agama mencederai atau melukai orang lain seenaknya. Kelompok-kelompok garis keras di beberapa agama mempersulit kegiatan agama lain. Mendirikan rumah ibadat lebih sulit daripada ruko atau losmen, yang sering digunakan untuk panti pijat atau pelacuran. Kami berharap kepada kita semua untuk menghadapi dan menyikapi kelompok-kelompok garis keras tersebut dengan rendah hati, lemah lembut dan sabar. Percayalah dan imanilah bahwa kerendahan hati, kelemah-lembutan dan kesabaran pasti dapat mengalahkan aneka bentuk kekerasan yang mengarah ke permusuhan atau tawuran dan pertentangan serta balas dendam.

 

“TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai."Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?" "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.” (Mzm 24:1-5)

.

Jakarta, 22 Oktober 2010       

 

10 Juli – 1Kor 9:16-19.22b-27; Luk 6:39-42

“Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu”

(1Kor 9:16-19.22b-27; Luk 6:39-42)

 

“Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: "Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang? Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya. Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” (Luk  6:39-42), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Pertama-tama saya ucapkan “Selamat Idul Fitri, maaf lahir dan batin” bagi yang sedang merayakannya. Pada hari ini kiranya banyak di antara kita sedang saling bersilaturahmi, bersalam-salaman dan saling memaafkan, dan rasanya juga bertindak sebagaimana disabdakan oleh Yesus hari ini, yaitu ‘mengeluarkan balok dari mata’ alias mengakui dan menghayati kesalahan serta kekurangannya dan kemudian mohon kasih pengampunan pada sesamanya. Semoga apa yang terjadi dan dilakukan pada hari-hari ini terus menjiwai dalam perjalanan hidup dan kerja selanjutnya, sehingga dalam hidup dan kerja sehari-hari kita tidak saling ‘melihat selumbar di dalam mata saudaramu’. Marilah kita jauhkan dan berantas aneka bentuk kemunafikan dalam kehidupan kita bersama, hendaknya masing-masing dari kita dengan rendah hati menyadari dan menghayati diri sebagai pendosa yang diampuni dan dipanggil Tuhan untuk menyalurkan kasih pengampunanNya kepada saudara-saudari kita atau sesama kita dimanapun dan kapanpun. “Seorang murid tidak lebih daripada gurunya”, kita adalah murid-murid atau pengikut Yesus, Sang Guru Sejati, yang datang ke dunia untuk melayani dengan rendah hati yang mendalam. Marilah kita meneladan Guru Sejati dengan hidup saling melayani dengan rendah hati yang mendalam serta saling berpikiran positif terhadap orang lain. Semoga saling memaafkan yang terjadi pada hari-hari ini tidak munafik dan kemudian menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita selanjutnya. Semoga di dalam hidup sehari-hari kita tidak munafik dalam hidup dan bertindak.

·   “Jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1Kor 9:16), demikian kesaksian iman Paulus sebagai pewarta Injil, pewarta Kabar Gembira. Injil adalah Warta Gembira, maka mewartakan Injil berarti mewartakan atau menyebar-luaskan apa-apa yang menggembirakan serta menyelamatkan. Hari ini adalah hari gembira bagi yang sedang merayakan  Idul Fitri, hari kemenangan atas dosa dan kejahatan. Maka apa yang terjadi hari ini sungguh inspiratif dan kiranya memotivasi kita untuk berani berkata dan bersaksi seperti Paulus, yaitu “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil, celakalah aku, jika aku tidak menyebar-luaskan apa-apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan” . Paulus juga bersaksi bahwa upah mewartakan kabar baik atau kabar gembira adalah dalam mewartakan kabar gembira atau baik tersebut. Memang kegembiraan dari berbuat baik kepada orang lain tak mungkin dihargai dengan uang atau harta benda, dan kiranya tak akan mudah hilang atau musnah. Orang yang senantiasa gembira dan ceria juga tabah dan tegar terhadap aneka macam serangan penyakit atau virus, karena secara phisik metabolisme darah dan kinerja syarat berjalan secara prima sebagai anti-body atau benteng kuat melawan aneka serangan penyakit dan virus. Kita semua memiliki keharusan untuk mewartakan kabar baik atau kabar gembira, dan tentu saja kita juga harus gembira dan ceria terus menerus. “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya” (1Kor 9:24). Marilah kita berlomba, saling mendahului dengan cepat, dalam mewartakan apa-apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan. Jauhkan aneka kemalasan dan kelesuan dalam berbuat baik kepada saudara-saudari kita atau sesama kita dalam hidup sehari-hari.

 

SELAMAT IDUL FITRI, 1 Syawal 1431 H, maaf lahir dan batin “

“Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku! Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau. Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah” (Mzm 84:3-6)

 

Jakarta, 10 September 2010

23 Agustus – 2Tes 1:1-5.11b-12; Mat 23:13-22

 “Apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu?”

(2Tes 1:1-5.11b-12; Mat 23:13-22)

 

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. [Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.] Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri. Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu?”(Mat  23:13-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·  Setiap hari kiranya kita berdoa ‘Bapa kami’, jika tidak melupakan kebutuhan doa harian. Dalam doa Bapa kami antara lain kita berdoa/berkata “Dimuliakanlah namaMu…..di atas bumi seperti di dalam sorga”. Dengan kata lain kita mendambakan cara hidup dan cara bertindak yang memuliakan Tuhan dalam situasi dan kondisi apapun dan dimanapun. Memuliakan Tuhan berarti menomorsatukan atau mengutamakan Tuhan di dalam segala sesuatu. Maka sabda atau pertanyaan Yesus kepada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi “apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu?”  baik menjadi permenungan atau refleksi kita semua. Apakah yang lebih penting harta benda/uang atau kesucian hidup? Makanan dan pakaian atau manusia, tubuh atau jiwa? Sebagai orang beriman sejati tentu saja kita akan memilih dan mengutamakan kesucian hidup manusia alias keselamatan jiwa manusia. Maka marilah keselamatan jiwa manusia senantiasa kita jadikan acuan atau barometer keberhasilan cara hidup dan cara bertindak kita, bukan harta benda, uang atau aneka hal-hal duniawi. Sekiranya kita kaya akan harta benda atau uang hendaknya memfungsikannya untuk mengusahakan kesucian hidup atau keselamatan jiwa kita sendiri maupun mereka yang kena dampak hidup dan tindakan kita. Dalam dunia pendidikan hendaknya ledih diutamakan agar para peserta didik lebih tumbuh berkembang sebagai pribadi yang baik dan cerdas spiritual daripada kecerdasan intelektual atau kepandaian.

·   “Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu, sehingga nama Yesus, Tuhan kita, dimuliakan di dalam kamu dan kamu di dalam Dia, menurut kasih karunia Allah kita dan Tuhan Yesus Kristus.” (2Tes 1:11b-12). Kita semua dipanggil untuk menyempurnakan kehendak untuk berbuat baik dan segala pekerjaan iman kita, maka marilah kita saling membantu dan mengingatkan dalam melaksanakan tugas panggilan ini. Dengan kata lain kita semua diharapkan semakin baik, yang antara lain ditandai senang berbuat baik kepada siapapun dan dimanapun. Apa yang disebut baik senantiasa berlaku secara universal, dimana saja dan kapan saja, tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Sekali lagi saya katakan bahwa perbuatan baik adalah yang menyelamatkan jiwa manusia  Masing-masing dari kita kiranya telah menerima kebaikan Allah secara melimpah ruah melaui mereka yang telah berbuat baik kepada kita atau mengasihi kita, sehingga kita dapat tumbuh berkembang dan hidup sebagai mana adanya pada saat ini. Maka untuk meningkatkan perbuatan baik berarti dengan suka rela berani menyalurkan atau meneruskan kebaikan-kebaikan yang ada pada diri kita masing-masing. Kami percaya bahwa dalam diri kita masing-masing apa yang baik lebih banyak daripada apa yang buruk, maka berikanlah apa yang baik kepada orang lain, lebih-lebih nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup. Nilai atau keutamaan hidup semakin dibagikan atau diberikan kepada orang lain tidak akan berkurang sedikitpun, bahkan semakin bertambah, semakin handal, kuat dan mendalam. “Ilmu iku kelakone kanthi laku” = nilai atau keutamaan kehidupan itu terjadi karena dihayati atau dilaksanakan, bukan dikatakan atau dijadikan bahan diskusi.

 

“Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa. Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah. Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah hampa, tetapi TUHANlah yang menjadikan langit.” (Mzm 96:1-5)

 

Jakarta, 23 Agustus 2010

 

16 Juni – 2Raj.2:1.6-14; Mat 6:1-6.16-18

“Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

(2Raj.2:1.6-14; Mat 6:1-6.16-18)


"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." "Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6:1-6), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang-orang yang bersikap mental ‘munafik’ memang senang sekali memamerkan atau mengumumkan perbuatan baik atau sosialnya, agar apa yang dilakukan diketahui oleh banyak orang. Sementara itu jika tidak ada yang mengetahui atau hanya sedikit orang yang tahu, misalnya anggota keluarganya, mereka hidup dan bertindak seenaknya. Warta Gembira hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua bahwa ketika berbuat baik atau sosial pertama-tama dan terutama terlaksana dengan baik dan bukan untuk dipamerkan atau dipertontonkan. Kita semua diharapkan hidup dan bertindak dengan rendah hati, tidak berlomba untuk menonjolkan diri. “Jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka”, demikian sabda dan nasihat Yesus. Kewajiban agama antara berdoa dan bermatiraga serta berbudi pekerti luhur di dalam hidup sehari-hari. Marilah kewajiban-kewajiban ini pertama-tama dan terutama kita hayati demi keselamatan jiwa kita sendiri, bukan untuk dilihat orang. Sikap mental yang demikian ini kami harapkan sedini mungkin dibiasakan pada anak-anak, entah di dalam keluarga maupun sekolah, antara lain dengan teladan konkret dari orangtua dan pendidik/guru. Kami juga mengingatkan kita semua: hendaknya  ketika memberikan sumbangan dalam bentuk apapun kepada para korban bencana alam juga tidak usah ‘pasang bendera organisasi’, yang penting dan utama adalah bantuan sampai kepada para korban, yang sungguh membutuhkan. Kami berharap tidak mengkomersielkan penderitaan orang lain demi keuntungan pribadi maupun organisasi, seperti kampanye dll.

·   "Yang kauminta itu adalah sukar. Tetapi jika engkau dapat melihat aku terangkat dari padamu, akan terjadilah kepadamu seperti yang demikian, dan jika tidak, tidak akan terjadi." (2Raj 2:10), demikian kata Elia kepada Elisa. Elisa akhirnya memang dapat melihat Elia terangkat, sehingga Elisa menerima permohonannya, yaitu mewarisi roh atau semangat Elia. Apa yang terjadi di sini hemat saya merupakan pengalaman rohani atau spiritual, relasi antara Elia dan Elisa dalam roh. Maka baiklah kami mengingatkan kita semua: marilah kita lebih mengutamakan kesatuan hati dan budi daripada phisik, bersatu dalam roh/sikap mental daripada tindakan atau perilaku. Dengan kata lain marilah kita tingkatkan dan perdalam pemahaman maupun pengahayatan spiritualitas, kharisma atau visi kita, entah secara pribadi maupun organisatoris. Kepada kita semua yang menjadi anggota Lembaga Hidup Bakti kami harapkan meningkatkan dan memperdalam spiritualitas pendiri masing-masing. Kepada kita semua yang hidup berkeluarga sebagai suami-isteri kami harapkan meningkatkan dan memperdalam hidup saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati. Dan kepada kita semua marilah kita tingkatkan dan perdalam hidup saling mengasihi satu sama lain. Kasih itu bebas alias tak terbatas, sedangkan kebebasan dibatasi oleh kasih. Kasih dan kebebasan bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan tetapi tak dapat dipisahkan. Maka baiklah meskipun secara phisik kita berjauhan satu sama lain, hendaknya tetap dihayati kesatuan dan kebersamaan dalam kasih, antara lain ketika secara phisik berjauhan maka dekatkan secara spiritual, misalnya saling mendoakan satu sama lain. Ingatlah dan hayatilah bahwa saling mendoakan merupakan salah satu cirikhas hidup beragama atau beriman.

 

“Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kausimpan bagi orang yang takut akan Engkau, yang telah Kaulakukan bagi orang yang berlindung pada-Mu, di hadapan manusia! Engkau menyembunyikan mereka dalam naungan wajah-Mu terhadap persekongkolan orang-orang; Engkau melindungi mereka dalam pondok terhadap perbantahan lidah” (Mzm 31:20-21).

Jakarta, 16 Juni 2010

Incoming search terms:

Berdoalah dengan Hati yang Tulus

Ayat bacaan: Matius 6:5
====================
“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.”

berdoa dengan hati yang tulus“Bagaimana sih aku harus berdoa? Aku bukan orang yang pintar merangkai kata.” Itu kata seorang teman ketika saya menyarankan dirinya untuk mulai mengisi hari-hari dengan doa. Mungkin ada yang tertawa mendengar pertanyaan itu, tapi sebenarnya ada banyak orang yang mengira bahwa doa itu sama seperti puisi atau lirik lagu, yang harus dibuat bersajak, memakai kata-kata yang terangkai indah atau malah sepanjang mungkin. Tidaklah mengherankan jika banyak orang yang tidak berani memimpin doa bahkan dikalangan teman-temannya sendiri. Bagus tidaknya sebuah doa bukan lagi didasarkan kepada kesungguhan hati, ketulusan dan kejujuran, melainkan kehebatan bermain kata. Doa bukan lagi merupakan sarana hubungan antara kita dengan Tuhan, namun sudah bergeser maknanya menjadi ajang untuk memamerkan kemampuan merangkai kata atau mencari popularitas diri sendiri.

Bukan itu yang dicari Tuhan dari kita. Bukankah Tuhan sendiri sudah berfirman bahwa “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Samuel 16:7) ? Tuhan tidak melihat hebat tidaknya rangkaian kata-kata puitis, tapi Dia melihat hati kita. Apakah doa yang kita panjatkan berasal dari hati yang tulus, atau semua itu hanyalah dilakukan untuk memamerkan diri kita sendiri didepan orang lain. Ketika makna doa bergeser menjadi untuk kepentingan duniawi, agar dipuji orang, agar terlihat suci, sebagai ajang pameran rohani, maka sesungguhnya Tuhan pun tidak lagi berkenan atas doa-doa yang kita panjatkan, meski dalam rangkaian kata yang begitu indah. Doa yang didengarkan Tuhan adalah doa yang didsarkan kepada kejujuran atau ketulusan bukan kepura-puraan.

Kita bisa melihat reaksi Yesus terhadap orang-orang Farisi. Ketika itu orang Farisi terkenal dengan kegemarannya berdoa di sudut-sudut jalan yang ramai, ditengah pasar atau kerumunan orang. Pokoknya dimana ada keramaian, maka mereka pun segera pasang aksi. Mereka mengira Tuhan akan terkesan dengan perilaku mereka, namun sebenarnya justru sebaliknya. Tuhan tidak suka dengan gaya seperti ini. Yesus pun segera mengingatkan murid-muridNya untuk tidak meniru cara tersebut. “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” (Matius 6:5). Yesus pun melanjutkan bahwa berdoa itu justru sebaiknya dilakukan dengan mencari tempat yang sepi dan tenang, seperti di dalam kamar, agar kita bisa memusatkan seluruh diri kita untuk mencari Bapa dan mendengarkan suaraNya. “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (ay 6). Tidak cukup sampai disitu, Yesus pun melanjutkan peringatan agar kita jangan bertele-tele dalam berdoa. Berpanjang lebar, berulang-ulang seolah-olah Tuhan itu pelupa atau sulit mengerti isi hati kita. “Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.” (ay 7). Mengapa demikian? “karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” (ay 8). Lalu Yesus pun memberikan contoh doa yang baik yang kita kenal dengan Doa Bapa Kami. (ay 9-15).

Apa yang diajarkan Yesus sesungguhnya jelas. Dia mengingatkan kita bahwa doa itu dipanjatkan hanya untuk Tuhan saja, dan bukan untuk didengarkan manusia. Ini berarti bahwa Tuhan mementingkan isi hati kita yang tulus, datang dan mengatakan apa adanya di hadapan Tuhan, mencurahkan isi hati kita tanpa ada agenda-agenda terselubung, tanpa ada maksud lain selain menjalin hubungan secara langsung dengan Tuhan. Ketika berdoa dilakukan agar mendapat pujian, supaya dinilai hebat rohani oleh orang lain, agar terlihat pintar bermain kata-kata puitis, punya banyak perbendaharaan kata dan lain-lain, ketika itu pula kita menjadi orang yang munafik. Dalam kemunafikan tidak ada lagi ketulusan. Motivasi berdoa yang benar itu sungguh penting. Berdoa nonstop 24 jam pun akan percuma apabila dilakukan dengan motivasi yang hanya mencari perhatian dari orang lain.

Tuhan sangat tidak menyukai orang-orang munafik yang mempergunakan doa untuk tujuan atau motivasi yang hanya mencari pujian. Lihat apa kata Tuhan mengenai hal ini. “Dan Tuhan telah berfirman: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi.” (Yesaya 29:13-14). Keajaiban yang menakjubkan bukanlah keajaiban dalam arti positif, tapi mengacu kepada pukulan yang bertubi-tubi. Jurang kebinasaan pun menganga di depan mata.

Firman Tuhan berkata “Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi; oleh sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit.” (Pengkotbah 5:2). Ini mengingatkan kita untuk tidak mementingkan rangkaian kata-kata panjang. Apa yang berkenan bagi Tuhan adalah doa yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam, yang berasal dari hati yang tulus. Ketulusan sungguh memegang peranan penting dalam menjalin hubungan yang dekat dengan Tuhan. Dengan menerima Kristus sebagai Juru Selamat dan mendapatkan anugerah Roh Kudus dalam diri kita, sudah seharusnya kita datang kepada Bapa dengan hati yang tulus ikhlas dan iman yang teguh. “Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.” (Ibrani 10:2). Janganlah sama dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, yang mengira bahwa doa yang dijawab adalah doa yang dirangkai dengan kata-kata mutiara, berpanjang lebar atau berulang-ulang, atau bahkan berupa hafalan. Berdoa dengan kata-kata indah itu bagus, tapi semua itu tidaklah ada gunanya jika bukan berasal dari hati yang tulus. Jika seperti itu, jangan harap Tuhan mau menjawab doa kita. Hati Tuhan akan tersentuh jika kita berdoa dengan hati yang tulus, karena apa yang ada di hati kita,itulah yang dilihat Tuhan. Tidak perlu bingung seperti teman saya ketika hendak berdoa. Datang apa adanya, membawa diri kita sendiri dengan jujur di hadapan Allah akan jauh lebih bernilai daripada doa yang mementingkan gaya dan motivasi-motivasi salah lainnya. Bukan cara kita berdoa yang paling penting, tetapi sikap hati kita ketika melakukannya, itulah yang dilihat Tuhan.

Tuhan mengasihi kita apa adanya

Incoming search terms:

9 Feb – 1Raj 8:22-23.27-30; Mrk 7:1-13

"Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri”.

(1Raj 8:22-23.27-30; Mrk 7:1-13)

 

“Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya: "Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?" Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia." Yesus berkata pula kepada mereka: "Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban — yaitu persembahan kepada Allah –, maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan." (Mrk 7:5-13), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Apa yang disebut adat istiadat memang begitu mengikat erat suku atau bangsa tertentu, sehingga sangat menentukan cara hidup dan cara bertindaknya. Demi atau alasan adat istiadat orang dapat mencelakakan orang lain atau membuat orang lain menderita. Cukup banyak orang lebih mengikuti adat istiadat daripada perintah Allah dalam menentukan hari maupun jam pernikahan anak-anaknya. Maka sabda Yesus yang cukup keras terhadap orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri“, kiranya juga terarah kepada kita semua. Dengan kata lain sikap mental Farisi masih hidup dalam diri kita masing-masing, yang nampak dalam cara hidup dan cara bertindak lebih mengikuti adat istiadat daripada perintah Allah. Marilah kita bertobat atau memperbaharui diri: lebih mengutamakan perintah Allah daripada adat istiadat, dengan kata lain jika ada adat istiadat yang sesuai dengan perintah atau kehendak Allah hendaknya kita teguhkan dan perdalam, sedangkan yang bertentangan dengan perintah atau kehendak Allah kita singkirkan atau kesampingkan. Kehendak atau perintah Allah yang utama dan pertama adalah saling mengasihi, maka segala bentuk adat istiadat yang melanggar cintakasih hendaknya disingkirkan, yaitu cara hidup atau cara bertindak yang melecehkan harkat martabat manusia atau melanggar hak asasi manusia. Adat istiadat memang terbatas, hanya berlaku di tempat atau daerah tertentu saja, sedangkan perintah Allah, saling mengasihi berlaku secara universal, dimana saja dan kapan saja.

·   Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini. Maka berpalinglah kepada doa dan permohonan hamba-Mu ini, ya TUHAN Allahku, dengarkanlah seruan dan doa yang hamba-Mu panjatkan di hadapan-Mu pada hari ini“(1Raj 8:27-28), demikian kata atau doa Salomo. Tuhan hadir dan berkarya dimana saja dan kapan saja, tak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu; Ia tidak hanya hadir dan berkarya di tempat yang disebut suci seperti gereja, kapel, masjid, pura, dst.. atau tempat-tempat peziarahan. Sebagaimana karya Tuhan tak berbatas, demikian juga perintah utamanya ‘cintakasih’. Untuk mengimani dan menghayati Tuhan yang hidup dan berkarya dimana saja dan kapan saja ini, antara lain hidup dan bertindak dijiwai oleh cintakasih alias saling mengasihi satu sama lain tanpa membedakan SARA, usia, pangkat, kedudukan atau jabatan dan fungsi. Secara sederhana marilah kita imani dan hayati karya Tuhan di tempat tidur kita, di kamar mandi kita, di dapur kita, di tempat kerja/tugas kita, dst..  Kita lihat dan imani apa yang baik, indah, luhur dan mulia di dunia ini sebagai karya Tuhan, entah itu manusia, tanaman, binatang, panorama, dst.. Kami berharap dan mendambakan pada umat beragama, entah agamanya apa, untuk menggalang dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan sejati, dengan saling memperdalam penghayatan apa yang sama di antara kita, sama-sama manusia, sama-sama ciptaan Tuhan, sama-sama beriman, dst.. serta ‘mengesampingkan’ perbedaan-perbedaan yang ada. Ketika apa yang sama di antara kita dihayati secara mendalam dan penuh, maka apa yang berbeda akan semakin memperteguh dan memperdalam persaudaraaan sejati.

 

“Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku! Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau.”

(Mzm 84:3-5)

 

Jakarta, 9 Februari 2010

26 Okt – Rm 8:12-17; Luk 13:10-17

“Bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman?”

(Rm 8:12-17; Luk 13:10-17)


“Pada suatu kali Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari Sabat.  Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak.  Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: “Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.” Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah.  Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak: “Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.”  Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: “Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman?  Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?”  Dan waktu Ia berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya“(Luk 13:10-17), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Di akhir sebuah lokakarya karya pendidikan, para wakil (dari keuskupan-keuskupan) menyampaikan rekomendasi berupa rencana kegiatan kerja di wilayah masing-masing. Cukup menarik ada beberapa wakil dalam menyampaikan rencana kegiatannya dengan catatan kaki, yaitu: pelaksanaan rencana kerja ini perlu rekomendasi Uskup. Dalam hati saya  bertanya-tanya: apakah untuk berbuat baik perlu rekomendasi uskup, yang dimaksudkan kiranya perlu dana/beaya dari uskup. Hemat saya semua pimpinan di tingkat manapun tidak akan melarang anak buahnya berbuat baik. Perbuatan baik berada di ranah norma moral, yang mengatasi norma hukum. Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat dan apa yang dilakukan membuat gusar kepala rumah ibadat karena menurut aturan Sabat pada hari Sabat tidak boleh bekerja. Tetapi setelah Yesus menjelaskan arti Sabat dan perbuatanNya, mereka pun bersukacita. Belajar dan bercermin pada apa yang telah dilakukan oleh Yesus, marilah kita tidak takut atau ragu-ragu untuk berbuat baik dimanapun dan kapanpun, lebih-lebih menolong mereka yang sakit atau menderita. Kita jauhkan dan berantas aneka bentuk kemunafikan. Aneka macam aturan dan tatanan hidup bertujuan untuk kebaikan umum, maka semua perbuatan baik tidak melawan aturan atau tatanan hidup, melainkan memantapkan aturan dan tatanan tersebut, meskipun sekilas nampak melanggar aturan. Usaha dan kegiatan penyelamatan jiwa manusia dapat dilaksanakan kapan saja dan dimana saja.   

·   “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah“(Rm 8:14-15). Anak Allah berarti orang yang sungguh dikasihi oleh Allah, dan kita semua kiranya mendambakan sebagai yang dikasihi oleh Allah. Kasih Allah kepada kita masing-masing telah kita terima secara melimpah ruah melalui mereka yang telah berbuat baik kepada kita, tanpa kenal aturan atau tatanan. Maka hendaknya tidak mengingkari diri sebagai yang telah dikasihi, dan tentu saja kita menanggapinya dengan berterima kasih, dan terima kasih itu kita wujudkan dengan mengasihi orang lain, sehingga kita hidup dan bertindak saling mengasihi. Jika kita hidup dan bertindak saling mengasihi maka tiada ketakutan sedikitpun dalam diri kita masing-masing, dan dengan demikian kita juga handal dan tabah terhadap aneka ancaman jenis penyakit. Maka jika dalam diri kita masing-masing masih ada ketakutan berarti kebersamaan hidup kita kurang atau tidak saling mengasihi atau ada yang bermental budak, dimana bertindak menunggu perintah.  Baiklah jika ada saudara-saudari kita yang masih dalam ketakutan, marilah kita tolong dengan rendah hati agar tidak takut, antara lain dengan memperlihatkan kasih Allah yang melimpah ruah dalam diri mereka. Mereka yang takut pada umumnya karena merasa kurang dikasihi, padahal yang benar kasih kepadanya sungguh melimpah ruah. Kita ingatkan mereka bahwa kita sampai kini masih hidup seperti saat ini tidak lain karena kasih Allah yang kita terima melalui banyak orang yang telah mengaasihi kita.

 

Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia menanggung bagi kita; Allah adalah keselamatan kita. Allah bagi kita adalah Allah yang menyelamatkan, ALLAH, Tuhanku, memberi keluputan dari maut

(Mzm 68:20-21).

      

Jakarta, 26 Oktober 2009