Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Sungguhkah Istrinya Paling Cantik bagi Seorang Suami?

SEORANG penginjil pernah bercerita kepada saya seperti ini: “Jujur saya mengakui bahwa bukan istri saya sekarang yang paling cantik bagi saya di seluruh dunia”. Dia menyebut bahwa kalau ada orang mengatakan bahwa istrinyalah yang paling cantik, dan karena alasan itulah dia mempersunting istrinya menjadi pasangan hidup, maka itu adalah bahasa bualan semata. “Kalau ada orang [...]

6 Maret

“Barangsiapa terbesar di antara kamu  hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Yes 1:10.16-20; Mat 23:1-12) “Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kurs…

21 Okt

“Mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?
(Rm 7:18-25a; Luk 12:54-59)
Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” (Luk 12:54-59), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Di dalam kehidupan sehari-hari cukup banyak tanda-tanda, entah yang dibuat untuk kepentingan tertentu atau terjadi secara alamiah di lingkungan hidup kita maupun di dalam tubuh kita sendiri. Di dalam tubuh kita sendiri ada tanda-tanda  akan terjadinya perubahan phisik atau kesehatan dan bagi rekan-rekan perempuan dewasa kiranya ada tanda-tanda khusus ketika akan mengalami menstruasi atau bagi yang sudah menikah tanda-tanda akan hamil. Hemat saya ketika kita peka akan tanda-tanda dalam tubuh kita serta mampu menilainya, maka kita juga akan peka terhadap tanda-tanda zaman. Maka kami harap pertama-tama kita masing-masing peka terhadap tanda-tanda yang ada di dalam tubuh kita masing-masing. “Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?”, demikian sabda atau kritikan Yesus terhadap orang-orang munafik. Marilah kita lihat, cermati dan imani tanda-tanda kehadiran Tuhan dalam hidup kita sehari-hari, dalam lingkungan hidup dan kerja kita, terutama dalam diri manusia, saudara-saudari kita, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Tuhan. KehadiranNya dalam diri manusia antara lain menjadi nyata dalam kehendak baik, maka marilah kita lihat dan imani kehendak baik saudara-saudari kita, dan kami percaya masing-masing dari kita pasti memiliki kehendak baik. Kita sinerjikan kehendak baik kita untuk mengusahakan, membangun dan memperdalam perdamaian atau persaudaraan sejati di antara umat manusia di bumi ini.
·   Di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku” (Rm 7:22-23), demikian kesaksian iman Paulus, yang kiranya baik menjadi refleksi atau permenungan kita sebagai umat beragama atau beriman. Kecenderungan anggota-anggota tubuh kita memang lebih terarah untuk melakukan perbuatan dosa, hanya mengikuti selera pribadi atau kemauan sendiri, demi kenikmatan tubuh. Sebaliknya sebagaimana dikatakan oleh Paulus “di dalam batinku aku suka hukum Allah”, maka baiklah apa yang ada di dalam batin dengan kerja keras dan bantuan rahmat Tuhan kita wujudkan di dalam perbuatan atau tindakan. Dengan bantuan rahmat Tuhan alias bersama dan bersatu dengan Tuhan kita pasti akan mampu mewujudkan kehendak atau hukum Allah yang ada di dalam batin kita. Memang sendirian saja kita akan lebih sulit mewujudkannya, maka marilah kita bekerjasama mewujudkannya, saling membantu dan menolong sesuai dengan kemampuan, kemungkinan dan kesempatan kita masing-masing. Dengan bekerjasama atau bergotong-royong kita akan lebih berdaya dan bergairah dalam mewujudkan apa yang ada di dalam batin kita. Hendaknya kita juga dengan rela dan jiwa besar mensharingkan apa yang ada di dalam batin kita kepada saudara-saudari kita, sehingga kita juga saling diperkaya. Kepada mereka yang masih merasa “menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuh”, untuk segera membebaskan diri, dan jika perlu minta bantuan orang lain. Sebagai tawanan dosa kami harapkan tidak takut atau tidak malu minta bantuan kepada orang lain. Percayalah, imanilah bahwa banyak orang siap untuk membantu anda, karena orang baik yang berkehendak baik sangat banyak.
“Ajarkanlah kepadaku kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik, sebab aku percaya kepada perintah-perintah-Mu. Engkau baik dan berbuat baik; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku. Biarlah kiranya kasih setia-Mu menjadi penghiburanku, sesuai dengan janji yang Kauucapkan kepada hamba-Mu. Biarlah rahmat-Mu sampai kepadaku, supaya aku hidup, sebab Taurat-Mu adalah kegemaranku” (Mzm 119:66.68.76-77)
Ign 21 Oktober 2011

9spt

“Keluarkanlah dahulu balok dari matamu”

(1Tim 1:1-2.12-14; Luk 6:39-42)

“Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: "Dapatkah
orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam
lobang? Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi
barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya.
Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan
balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah
engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku
mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di
dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah
dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk
mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” (Luk 6:39-42),
demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:

·   Pada umumnya orang lebih mudah dan senang melihat kelemahan dan
kekurangan orang lain, sementara itu untuk melihat dan mengakui
kelemahan dan kekurangannya sendiri sungguh sulit dan berat atau
bahkan tak mau mengakui kelemahan dan kekurangannya. Sabda hari ini
mengajak dan memanggil kita orang beriman untuk pertama-tama melihat
kelemahan dan kekurangannya serta kemudian memperbaikinya baru
kemudian minta orang lain untuk memperbaiki kelemahan dan
kekurangannya. Yang sering mudah melihat kekurangan dan kelemahan
orang lain pada umumnya usianya juga lebih tua maupun berkedudukan
lebih tinggi, padahal hemat saya semakin tua dan tambah usia berarti
akan semakin tambah dosanya juga alias kelemahan dan kekurangannya.
Maka kami mengajak siapapun yang lebih tua, berkedudukan,
berpengalaman serta berpengaruh di dalam kehidupan bersama untuk
menjadi teladan pengakuan dan penghayatan diri sebagai yang lemah dan
rapuh serta tidak mudah melihat kelemahan dan kekurangan orang lain.
Hendaknya kita semua tidak munafik, dan kepada siapapun yang munafik
kami ajak untuk bertobat alias memperbaharui diri. Munafik berarti
“berpura-pura percaya atau setia dsb. kepada agama dsb..tetapi
sebenarnya di hatinya tidak; suka (selalu mengatakan sesautu yang
tidak sesuai dengan perbuatannya; berpura-pura” (Kamus Besar Bahasa
Indonenesia,Departemen Pendidikan Indonesia 1988, hal 599). Marilah
jujur, berkata apa adanya sesuai dengan apa yang ada di dalam hati
kita. Tidak jujur berarti akan celaka dan sengsara selamanya.

·   “Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus
Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan
pelayanan ini kepadaku — aku yang tadinya seorang penghujat dan
seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya,
karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar
iman”(1Tim 1:12-13), demikian kesaksian iman Paulus kepada Timoteus.
Mungkin kita semua tidak jauh dari apa yang dialami dan dihayati oleh
Paulus, lebih-lebih bahwa masing-masing dari kita pernah berbuat jahat
atau berdosa dan telah menerima kasih pengampunan Tuhan, sehingga ada
kemungkinan bagi kita untuk setia pada panggilan dan tugas pengutusan
kita. Maka baiklah jika memang saat ini setia pada panggilan dan tugas
pengutusan, marilah hal itu kita hayati sebagai ‘penguatan dari
Tuhan/rahmat Tuhan’, bukan semata-mata hasil usaha atau jerih payah
kita. Maka hendaknya hidup dan bertindak dengan rendah hati untuk
meneguhkan dan memperkuat kesetiaan kita, percaya bahwa Tuhan
senantiasa menguatkan  dan mendampingi kita melalui aneka macam bentuk
kebaikan dari saudara-saudari kita. Karena kita telah menerima
kebaikan dari saudara-saudari kita, maka selayaknya kita berterima
kasih kepada mereka dengan melayani mereka. Marilah segala kekuatan
dan keterampilan yang pernah kita fungsikan untuk berbuat dosa atau
munafik selanjutnya kita fungsikan untuk melayani saudara-saudari
kita.  Secara khusus marilah kita ingatkan mereka yang masih munafik
untuk bertobat. Kami berharap anak-anak di dalam keluarga sedini
mungkin dibina dan dididik untuk tidak munafik dengan teladan konkret
dari para orangtua atau bapak-ibu; tentu saja kepada bapak-ibu atau
orangtua kami berharap jika bersalah terhadap anak-anak hendaknya
dengan jiwa besar dan hati rela berkorban mengakui dan minta maaf
kepada anak-anak, demikian juga para pemimpin terhadap anggotanya,
para atasan terhadap bawahannya. Saling mengakui kesalahan dan minta
maaf serta saling memaafkan hemat saya merupakan salah satu bentuk
penghayatan kesetiaan kita pada iman dan pelayanan kita.

“Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu
malam hati nuraniku mengajari aku. Aku senantiasa memandang kepada
TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.” (Mzm
16:7-8)

Ign 9 September 2011

23 Agt

Bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu maka sebelah luarnya juga akan bersih
(1Tes 2:1-8; Mat 23:23-26)

” Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai
kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis
dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu
abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu
harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu
pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu,
tetapi unta yang di dalamnya kamu telan. Celakalah kamu, hai ahli-ahli
Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab
cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah
dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta,
bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga
akan bersih” (Mat 23:23-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Cukup banyak orang masih bersikap munafik dalam cara hidup dan cara
bertindak, yaitu sebelah luar kelihatan baik, indah, mempesona dan
menarik, yang nampak dalam cara berpakaian dan merias diri, namun
bagian luar yaitu jiwa, hati dan akal budinya jahat atau busuk. Dengan
kata lain banyak orang suka hidup dan bertindak seperti main sandiwara
saja. Sabda Yesus hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk
hidup dan bertindak jujur terhadap diri sendiri. Jujur terhadap diri
sendiri memang sulit, namun ketika kita dapat jujur terhadap diri
sendiri maka dengan mudah kita jujur terhadap orang lain, sebaliknya
kalau kita terbiasa membohongi diri maka dengan mudah kita membohongi
orang lain. Sekali lagi saya angkat apa itu jujur. “Jujur adalah sikap
dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang,
berkata-kata benar apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta
rela berkorban untuk kebenaran” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman
Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 17).
Kami harap kejujuran ini sedini mungkin dibiasakan atau dididikkan
kepada anak-anak di dalam keluarga dengan teladan konkret dari para
orangtua atau bapak-ibu. Hidup dan bertindak sederhana merupakan salah
satu dukungan atau wujud hidup jujur, maka hendaknya kita tidak suka
berfoya-foya, apalagi bertindak sesuai dengan peribahasa “besar pasak
daripada tiang’. Marilah kita usahakan dengan rendah hati dan kerja
keras keindahan, kecantikan, kebersihan hati, jiwa dan akal budi kita.
•       “Kami tidak pernah bermulut manis — hal itu kamu ketahui — dan
tidak pernah mempunyai maksud loba yang tersembunyi — Allah adalah
saksi — juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari
kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat
demikian sebagai rasul-rasul Kristus.” (1Tes 2:5-6), demikian
kesaksian iman Paulus. Kita semua dipanggil untuk meneladan Paulus,
yaitu ‘tidak pernah bermulut manis, tidak pernah mencari pujian dari
manusia’. Orang yang rberusaha bermulut manis serta mencari pujian
dari manusia antara lain mereka yang sedang melangsungkan upacara
pernikahan, entah sang pengantin sendiri maupun keluarganya pada
umumnya berusaha untuk itu, dan tak ketinggalan para tamu. Bukankah
peristiwa itu hanya berlangsung sesaat saja bagaikan sandiwara?
Kiranya tak mungkin orang setiap hari menghadirkan diri seperti itu.
Yang kita butuhkan dalam hidup sehari-hari adalah apa-apa yang
sederhana dan kecil, yang tak pernah menerima pujian manusia. Secara
khusus kami berharap kepada para pekerja maupun pelajar, mengingat dan
memperhatikan mayoritas dari kita memiliki tugas untuk bekerja atau
belajar. Para pekerja hendaknya bekerja agar semakin terampil bekerja,
demikian juga para pelajar belajar agar semakin terampil belajar.
Percayalah jika kita terampil belajar dan terampil bekerja, maka kita
sendiri akan berbahagia dan sejahtera baik lahir maupun batin, phisik
maupun spiritual, dan secara otomatis kita akan dipuji dan dicintai
oleh banyak orang. Pujian tidak kita cari akan datang sendiri
bertubi-tubi tak kenal henti sampai mati. Kita juga diingatkan agar
tidak mempunyai maksud loba yang tersembunyi alias menutup-nutupi
kejahatan kita di balik perbuatan baik yang kelihatan. Hal ini pada
umumnya dilakukan dengan rayuan-rayuan manis yang mempesona dan
menarik, sehingga orang mudah terjebak ke dalam maksud tersembunyinya,
sebagaimana dilakukan oleh para penjahat. Secara khusus juga kami
mengingatkan rekan-rekan yang menggunakan kendaraan umum sedang mudik
pada hari-hari ini: hendaknya waspada terhadap rayuan-rayuan manis
para penjahat yang berkehendak merampas harta kekayaan anda, misalnya
pura-pura memberi minuman dst..
“TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau
aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau
memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku
Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan,
sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.Dari belakang dan
dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke
atasku.Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak
sanggup aku mencapainya.” (Mzm 139:1-6)
Ign 23 Agustus 2011

22 Agt

“Celakalah kamu hai ahli Taurat dan orang Farisi”

(1Tes 1:2b-5.8b-10; Mat 23:13-22)

” Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai
kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan
Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu
merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. [Celakalah kamu, hai
ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik,
sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang
dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima
hukuman yang lebih berat.] Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan
orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu
mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang
saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan
dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri.
Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah
demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait
Suci, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang
buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan
emas itu? Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi
bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat.
Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau
mezbah yang menguduskan persembahan itu? Karena itu barangsiapa
bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala
sesuatu yang terletak di atasnya. Dan barangsiapa bersumpah demi Bait
Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di
situ. Dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta
Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya.” (Mat 23:13-22),
demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Perawan
Maria, Ratu, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

·   Cirikhas orang Farisi dan ahli Taurat antara lain kurang
melaksanakan apa yang mereka ajarkan atau mereka ketahui, dengan kata
lain kurang dalam penghayatan dan unggul dalam omongan maupun teori.
Sedangkan keutamaan Bunda Maria antara lain kebalikannya, yaitu
‘mendengarkan dan merenungkan dalam hati apa yang didengarkan’, dengan
kata lain mendengarkan dan kemudian melaksanakan apa yang didengarkan.
Maka mengikuti cara hidup dan cara bertindak orang Farisi maupun ahli
Taurat pasti akan celaka, sebaliknya mengikuti atau meneladan cara
hidup dan cara bertindak Bunda Maria akan selamat, bahagia dan damai
sejahtera. Kalau pada hari ini kita diajak untuk mengenangkan SP Maria
sebagai Ratu kiranya berarti kita diajak untuk meneladan cara hidup
dan cara bertindaknya. Marilah kita perdalam dan teguhkan keutamaan
‘mendengarkan dan melakukan’ dalam cara hidup dan cara bertindak kita
setiap hari dimanapun dan kapanpun. Menghayati dua keutamaan ini butuh
kerendahan hati dan pengorbanan diri disertai kesiap-sediaan hati,
jiwa, akal budi dan tubuh untuk senantiasa siap diperbaharui atau
dirubah, sebagaimana juga dihayati oleh SP Maria: “Sesungguhnya aku
ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu."(Luk
1:38). Mendengarkan dan melakukan apa yang didengarkan erat sekali
dengan keutamaan ketaatan, sebagaimana dihayati oleh SP Maria dengan
tanggapannya “jadilah padaku menurut perkataanmu itu”. Maka marilah
kita hayati keutamaan ketaatan dalam cara hidup dan cara bertindak
kita setiap hari dimanapun dan kapanpun. Kita taati dan laksanakan
aneka tata tertib yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan
kita masing-masing.

·   “Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan
menyebut kamu dalam doa kami. Sebab kami selalu mengingat pekerjaan
imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita
Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita.Dan kami tahu, hai
saudara-saudara yang dikasihi Allah, bahwa Ia telah memilih kamu.”(1Te
1:2-4), demikian ungkapan iman Paulus kepada umat di Tesalonika. Kami
berharap kita meneladan Paulus dengan saling mengungkapkan iman satu
sama lain, artinya secara konkret saling memperlihatkan keimanan
saudara-saudari kita kepada yang bersangkutan alias melihat
kebaikan-kebaikan saudara-saudari kita. Marilah dengan rendah hati
kita lihat dan angkat ‘pekerjaan iman, usaha kasih dan ketekunan
pengharapan’ yang dihayati oleh saudara-saudari kita serta saling
mendukung agar kita semua juga sungguh tekun dalam ketika keutamaan
utama ‘iman, kasih dan pengharapan’. Dari ketiga keutamaan ini yang
terbesar adalah kasih, maka marilah kita saling mengasihi satu sama
lain tanpa pandang bulu atau SARA. Kasih pertama-tama dan terutama
harus menjadi nyata dalam tindakan atau perilaku bukan dalam omongan
atau wacana. Maka hendaknya perbuatan sekecil apapun dilaksanakan
dalam dan oleh kasih; bukan besarnya tugas yang utama, melainkan kasih
yang menjiwai tugas. Laksanakan perbuatan seperti menyapu, mengepel,
membukakan pintu, dst..dalam dan oleh kasih.

“Haleluya! Nyanyikanlah bagi TUHAN nyanyian baru! Pujilah Dia dalam
jemaah orang-orang saleh. Biarlah Israel bersukacita atas Yang
menjadikannya, biarlah bani Sion bersorak-sorak atas raja mereka!
Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tari-tarian, biarlah mereka
bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab TUHAN berkenan
kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan
keselamatan.” (Mzm 149:1-4)

Ign 22 Agustus 2011