Tag: munafik

Sikap Munafik

HARI ini Yesus mengajak kita untuk introspeksi diri, agar tidak bersikap munafik seperti kaum Farisi. Mereka bermuka dua; apa yang dikatakan dan diperbuat, berlawanan dengan isi hati mereka. Mereka super taat kepada pelaksanaan hukum Taurat, namun sama sekali tidak ada kasih di dalam hati mereka. Semua dilakukan hanya demi mencari kemuliaan bagi diri mereka sendiri.

Jangan sampai kita meniru tindakan mereka, pandai menyuarakan hal-hal rohani namun nihil dalam prakteknya. Jangan juga menjadikan peraturan sebagai alasan untuk melanggar perintahNya. Sadari bahwa dengan bersikap munafik, kita menjadi penghalang bagi orang-orang yang ingin mengenal pribadi Yesus.

Mari bertobat dan bersikap jujur karena semua yang tersembunyi akan terungkap di hadapanNya. Mohon bimbinganNya agar kita mampu menjadi pribadi yang memiliki integritas tinggi dalam melaksanakan hukum kasihNya.

Sumber: Sesawi.net

5 pencarian oleh pembaca:

  1. Sikap munafik Renungan Rohani katolik
Tags : ,

Sikap Munafik

HARI ini Yesus mengajak kita untuk introspeksi diri, agar tidak bersikap munafik seperti kaum Farisi. Mereka bermuka dua; apa yang dikatakan dan diperbuat, berlawanan dengan isi hati mereka. Mereka super taat kepada pelaksanaan hukum Taurat, namun sama sekali tidak ada kasih di dalam hati mereka. Semua dilakukan hanya demi mencari kemuliaan bagi diri mereka sendiri.

Jangan sampai kita meniru tindakan mereka, pandai menyuarakan hal-hal rohani namun nihil dalam prakteknya. Jangan juga menjadikan peraturan sebagai alasan untuk melanggar perintahNya. Sadari bahwa dengan bersikap munafik, kita menjadi penghalang bagi orang-orang yang ingin mengenal pribadi Yesus.

Mari bertobat dan bersikap jujur karena semua yang tersembunyi akan terungkap di hadapanNya. Mohon bimbinganNya agar kita mampu menjadi pribadi yang memiliki integritas tinggi dalam melaksanakan hukum kasihNya.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

avatar Insinyur elektro alumnus ITB dan umat Paroki St. Yakobus, Kelapa Gading, Jakarta Utara; bergiat ‘merangkai’ kata-kata renungan yang menjadi ‘kata hati’ untuk satu hari (thoughts of the day); Wakil Koordinator Komunitas Meditasi Katolik Ancilla Domini St. Yakobus.

Sumber Artikel Renungan Harian Katholik

Tags : ,

Berdoa yang Baik dan Benar (2)

 (sambungan)

Begitu pentingnya masalah doa ini hingga Yesus pun memberikan pengajaran secara khusus dan disertai contoh akan hal tersebut. Itu bisa kita lihat dalam Matius 6:5-15, dimana Yesus mengajarkan doa Bapa Kami. Dalam perikop ini Yesus mengajarkan:

1. Jangan tiru sikap  orang yang munafik ketika berdoa.
Orang munafik akan selalu berupaya agar mereka terlihat begitu suci dan hebat dalam berdoa, seperti yang dipertontonkan oleh para ahli Taurat dan Farisi pada masa itu. Mereka bukan mencari Tuhan, tetapi mencari popularitas agar terlihat hebat dihadapan orang banyak.
“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” (ay 5).
2. Ambil waktu khusus dan tempat yang tenang untuk berdoa.
Ketika orang mengira bahwa berdoa itu harus didengar orang lain, atau demonstratif, Yesus mengajarkan justru sebaliknya.
“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (ay 6)
3. Jangan bertele-tele
Seperti yang sudah kita lihat kemarin, doa yang baik justru bukan doa yang berpanjang lebar tanpa juntrungan. Tidak dilarang memang untuk berdoa lama, tapi hanya jika itu memang berdasarkan kerinduan hati kita dan bukan melakukan perulangan-perulangan yang dimaksudkan agar Tuhan tidak lupa atau mengira bahwa durasi lama itu akan membuat doa kita didengar Tuhan. Ini bentuk-bentuk pemahaman yang keliru dan justru akan membuat doa kita tidak punya kekuatan sama sekali.
“Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya.” (ay 7-8).
4. Bereskan dahulu sekiranya ada sesuatu yang masih mengganjal antara kita dengan orang lain
Masih menyimpan dendam terhadap seseorang akan menjadi penghalang doa kita untuk sampai kepada Tuhan. Hal ini seringkali tidak disadari oleh banyak orang. Mereka mengira bahwa mereka tetap akan didengar Tuhan meski masih mendendam atau benci kepada orang lain. Firman Tuhan berkata: “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” (Markus 11:25).
Untuk diperhatikan, Yesus pun kemudian memberikan sebuah contoh lewat doa yang dikenal sebagai Doa Bapa Kami (Matius 6:9-13). Bacalah selengkapnya di dalam Alkitab untuk bisa melihat bagaimana sebenarnya berdoa yang baik itu langsung lewat Yesus sendiri.

Jadi apa yang seharusnya kita lakukan dalam berdoa, pastikan tidak ada dendam terhadap siapapun, carilah tempat tenang dimana kita tidak terganggu dengan hiruk pikuk di sekitar kita, datanglah kepada Bapa dengan segala kerendahan hati dalam kondisi hati yang bersih, jujur dan tulus , berdoa dengan iman, berikan ucapan syukur sebagai persembahan terbaik bagi Dia, dan lakukan dalam nama Yesus. Just be simple, just be yourself. Tidak perlu berpikir terlalu rumit, tidak perlu bertele-tele, karena apa yang Tuhan pentingkan adalah hati kita. Pengkotbah juga mengingatkan kita: “Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi; oleh sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit” (Pengkotbah 5:1). Doa bukanlah kompetisi merangkai kata, menyusun kata puitis dan dramatis, dan bukan pula sebuah hafalan. Doa pun bukanlah sebuah formalitas atau sekedar ritual, seremonial, sementara hati seseorang sebenarnya tidak tertuju padaNya. yang Tuhan sungguh mengenal setiap ciptaanNya. Dia tahu apa yang kita alami dan rasakan, Dia tahu hati kita. Karena itu, berdoalah dengan cara seperti adanya diri kita sendiri, tidak perlu meniru gaya orang lain, apalagi pura-pura. Doa adalah sebuah anugrah yang luar biasa, anugrah berupa kesempatan dimana kita bisa menghampiri tahta kasih karunia, menghampiri Bapa dan berkomunikasi atau berhubungan secara timbal balik denganNya. Jadilah diri anda sendiri, berdoalah dengan sederhana dan jujur, dan sembahlah Dia dalam roh dan kebenaran. “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” (Yoh 4:24)

Just be simple and be yourself honestly in every prayers you make

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tags : , ,

20 Juni

“Jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka”

(2Raj 2:1.6-14; Mat 6:1-6.16-18)

"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." "Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. "Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6:1-6.16-18), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Tindakan atau perilaku munafik hemat saya masih cukup banyak terjadi, entah secara pribadi atau organisatoris, yaitu berbuat baik ketika dilihat orang, sedangkan ketika tak dilihat orang hidup dan bertindak seenaknya, misalnya di kamar sendirian bermalas-malasan saja. Yang juga cukup memprihatinkan bagi kami adalah yang terjadi secara organisatoris entah yang dilakukan oleh orang-orang swasta maupun pemerintah, misalnya ketika memberi sumbangan atau derma dengan mengundang wartawan media massa dan minta untuk diberitakan ke mana-mana, padahal sumbangan tersebut berasal atau bersumber dari organisasi bukan pribadi. Marilah kita berantas sikap mental munafik atau ‘cari muka’, dan tentu saja dari diri kita sendiri diharapkan tidak munafik dan mencari muka. Hendaknya jika ada kesempatan untuk berbuat baik segera kita wujudkan atau manfaatkan, tanpa pikir dilihat orang atau tidak. Demikian juga dalam hal berdoa, hendaknya mau berdoa jika dilihat orang saja, melainkan tidak dilihat pun, misalnya di kamar sendirian kita tetap berdoa. Bahkan ketika tak mungkin berdoa secara vokal, karena mengganggu lingkungan, baiklah kita dapat berdoa secara batin. Doa yang benar adalah relasi hati kita dengan Allah, yang senantiasa memperhatikan dan mengasihi kita, bukan panjangnya atau kerasnya kata-kata. Hati yang terarah kepada dan dikuasai oleh Yang Ilahi itulah doa sejati.

·    "Baiklah tinggal di sini, sebab TUHAN menyuruh aku ke sungai Yordan” (2Raj 2:6), demikian kata nabi Elia. Taat dan setia kepada kehendak dan perintah Tuhan, itulah yang dihendaki oleh nabi Elia. Sungai Yordan dikenal sebagai sungai yang suci, artinya airnya suci, dimana Yohanes Pembaptis juga membapis orang-orang, termasuk membaptis Yesus. Maka pergi ke sungai Yordan bagi kita semua yang telah dibaptis berarti diajak dan dipanggil untuk mengenangkan janji baptis yang pernah kita ikrarkan dengan bangga dan meriah. Bukankah ketika dibaptis kita telah berjanji hanya mau mengabdi Tuhan saja serta menolak semua godaan setan? Maka hendaknya dalam cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa setia menghayati janji baptis tersebut. Kesetiaan pada agama dapat kita wujudkan dengan melaksanakan perintah dan kehendak Tuhan dimana pun dan kapan pun, serta menolak aneka godaan dan rayuan setan. Godaan dan rayuan setan pada masa kini menggejala dalam aneka bentuk kenikmatan duniawi yang menggiurkan, dan kelihatan mempesona, nikmat dan memikat. Orang yang bersikap mental materialistis pasti akan takluk kepada godaan atau rayuan setan, maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk menjauhkan diri dari  sikap mental materialistis. Kami berharap para orangtua mendidik dan membiasakan anak-anaknya untuk tidak bersikap mental materialistis, antara lain dengan teladan konkret para orangtua. Demikian juga kami berharap kepada para orangtua dan guru/pendidik untuk lebih mengutamakan dan mendahulukan agar anak-anak atau peserta didik menjadi orang baik bukan pandai saja.

“Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kausimpan bagi orang yang takut akan Engkau, yang telah Kaulakukan bagi orang yang berlindung pada-Mu, di hadapan manusia! Engkau menyembunyikan mereka dalam naungan wajah-Mu terhadap persekongkolan orang-orang; Engkau melindungi mereka dalam pondok terhadap perbantahan lidah. Kasihilah TUHAN, hai semua orang yang dikasihi-Nya! TUHAN menjaga orang-orang yang setiawan, tetapi orang-orang yang berbuat congkak diganjar-Nya dengan tidak tanggung-tanggung.” (Mzm 31:20-21.24)

Ign 20 Juni 2012

  

Tags : , , , , ,

Sungguhkah Istrinya Paling Cantik bagi Seorang Suami?

SEORANG penginjil pernah bercerita kepada saya seperti ini: “Jujur saya mengakui bahwa bukan istri saya sekarang yang paling cantik bagi saya di seluruh dunia”.

Dia menyebut bahwa kalau ada orang mengatakan bahwa istrinyalah yang paling cantik, dan karena alasan itulah dia mempersunting istrinya menjadi pasangan hidup, maka itu adalah bahasa bualan semata. “Kalau ada orang mengatakan demikian, orang itu adalah orang munafik”, demikian menurut penginjil itu.

Mengapa demikian? Penginjil tersebut berpendapat, kalau kita memandang dari segi fisik, secantik apa pun istrinya pasti masih ada lagi orang yang lebih cantik darinya. Menjadikan seseorang sebagai istri bukan pertama-tama soal kecantikan, tapi hatinya, kepribadiannya, bebet-bobot-bibit, dan yang wataknya sungguh terpuji. Itu baru nama kecantikan yang sangat diidamkan: inner beauty (kecantikan dari dalam).

Lalu saya tanggapi: “Tapi kan Pak, sangat wajar untuk memandang seseorang lalu memilih kemudian, pertama-tama harus melihat kecantikan fisik lebih dahulu”. “Iya, memang betul”, katanya. “Tapi kita memilih seseorang sebagai istri atas dasar cinta, cinta yang bersumber dari Tuhan, bukan soal cantik semata”, lanjutnya.

Inner beauty

 “Sebab kalau bukan bersumber dari Tuhan, suatu ketika cinta kita akan luntur dan bisa beralih kepada yang lain. Karena itu, tolok ukur utama untuk memilih pasangan hidup adalah cinta yang tulus dan ikhlas kepada seseorang, sehingga kita berani untuk menjadikannya sebagai istri, bukan karena kecantikan fisik. Sebab itu saya seringkali dongkol mendengar pernyataan suami-suami bahwa istrinyalah yang paling cantik baginya dari semua wanita yang pernah dikenal atau dipacarinya” sambungnya.

 “Kan memang  begitu”, kata saya menyela. “Bukan begitu Pak, harus kita bedakan dua hal: kecantikan luar (kecantikan fisik) dan kecantikan dari dalam (inner beauty).

Dengan itu jelas bagi kita, manakah yang lebih penting, sebab kalau suatu ketika si istri itu sakit dan kecantikannya yang dahulu itu luntur dan membuat kita tidak tertarik lagi, lalu apakah kita meninggalkan dan menceraikan dia. Saya kira tak boleh, itu melanggar janji pernikahan kita ketika kita diberkati dahulu. Karena itu, marilah kita jujur memberikan ungkapan-ungkapan, agar hidup kita tidak diliputi kemunafikan”. Demikian si penginjil tadi mengakhiri pembicaraan kami.

Sabda Tuhan

 Dalam Injil Yohanes 15:9-17 diuraikan: “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.”

Dalam teks lain dalam Injil dikatakan juga bahwa:

“Apa yang telah dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan manusia, kecuali karena kematian”. Itu berarti bahwa persatuan suami istri yang telah disahkan dalam sakramen ilahi (Sakramen Perkawinan) yang disaksikan oleh pejabat resmi Gereja (imam atau diakon) telah dimeteraikan hingga maut memisahkan mereka. Pengenalan mereka satu sama lain ketika pacaran membuat keduanya yakin bahwa cinta mereka tulus dan ikhlas. Kekurangan dan kelebihan masing-masing jelas ada. Tapi yang paling penting adalah mereka sebagai pasangan suami istri mampu menerima kekurangan yang dimiliki oleh masing-masing. Menerima apa adanya pasangan adalah sesuatu yang mutlak perlu diresapkan selama menjalani hidup perkawinan. Bacaan sabda Tuhan di atas merupakan nats yang seringkali dikutip dan disitir oleh imam ketika akan meresmikan dan memberkati pasangan suami-istri. Yesus menandaskan: “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya”.

Kasih dan bukan yang lainnya

Yesus lebih menekankan kasih, bukan yang lain. Sebab kasih bisa melampaui semua hal-hal lain. Segala kekurangan dan keburukan bisa dihilangkan dan dilupakan, kalau andalannya adalah kasih. Tetapi kalau kita mengutamakan harta dan pangkat, ikatan perkawinan bisa bubar.

Artinya, kalau salah satu dari pasangan suami-istri memperoleh warisan harta dari orangtuanya, tidak boleh hal itu menekan apalagi mengecilkan harga diri pasangannya. Ataupun kalau salah satu dari pasangan suami-istri memperoleh jabatan atau pangkat di instansi pekerjaannya, sebaiknya dijadikan sebagai pendukung untuk memperkokoh ikatan perkawinan.

Dan bukan sebaliknya, untuk merendahkan apalagi menyepelekan pasangan. Prinsip yang harus dipegang adalah datangnya harta atau jabatan tersebut adalah rejeki bersama pasangan dan berkat dari Tuhan karena Tuhan sayang kepada keduanya (suami-istri). Kalau pemikiran dan pemahaman yang demikian yang merasuk dalam diri kita, maka pasangan kita menjadi “utusan dan kiriman istimewa” dari Tuhan sendiri untuk membahagiakan kita.

Namun kenyataan kehidupan ini kita tidak mengafirmasi pemahaman yang demikian, bahkan ketika seseorang memperolah jabatan atau pangkat yang lebih baik, pada saat yang sama, seorang suami mengalihkan perhatiannya kepada wanita lain. Atau kalau memperolah rejeki yang cukup lumayan, seseorang berani mengatakan bahwa tambahnya harta tersebut bukan karena pasangannya tapi karena usahanya sendiri. Kalau demikian yang terjadi, maka ikatan perkawinannya dengan pasangan bisa bubar sebelum maut memisahkan mereka berdua.

Kasus-kasus perselingkuhan yang marak terjadi akhir-akhir ini disebabkan oleh retaknya komitmen suami-istri dalam membangun dan mempertahankan ikatan perkawinan mereka. Karena itu, salah strategi yang tepat untuk melestarikan kehidupan perkawinan adalah dengan tetap memegang komitmen perkawinan, supaya segala godaan dan tantangan yang kita hadapi bisa berlalu begitu saja sesuai dengan berlalunya waktu tanpa membekas dalam kehidupan kita.

Oleh sebab itu, konsep yang hendak kita bangun adalah rasa cinta yang tulus dan ikhlas kepada pasangan kita, bukan terutama ditentukan oleh kecantikan fisiknya, atau harta dan jabatannya. Tetapi komitmen yang teguh senantiasa dipegang oleh kedua individu yang telah dipersatukan menjadi satu kesatuan relasi yang tidak terpisahkan. Sebab berharganya seorang suami ditentukan oleh kehadiran istrinya, demikian juga sebaliknya harga diri seorang istri terbangun berkat penghargaan dan penghormatan yang tulus dari suaminya. Dan hal yang mengikat keduanya adalah rasa cinta yang mendalam di antara suami istri, yang diperlihatkan dengan inner beauty masing-masing.

5 pencarian oleh pembaca:

  1. bukan karena harta dan kecantikan fisik
Tags : , , , , ,

Mewaspadai Ragi Farisi

 Ayat bacaan: Matius 23:13-14
=========================
“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk…Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.”

ragi orang FarisiGereja seharusnya menjadi tempat dimana orang bisa bertumbuh bersama dalam iman, mengalami jamahan Tuhan, pemulihan, dan merasakan hadiratNya. Gereja seharusnya menjadi tempat anak-anak Tuhan untuk saling berbagi, saling menguatkan, saling bantu dan bekerja sama dalam menjalani hari-hari yang berat, juga untuk membawa terang keluar dari dinding-dinding pembatas lalu menjangkau lingkungan sekitarnya, kota, bangsa maupun dunia. Tetapi betapa memprihatinkannya ketika sebagian dari hamba-hamba Tuhan di dalamnya yang seharusnya menjadi panutan justru sebaliknya berubah menjadi batu sandungan bagi jemaatnya sendiri. Saya melihat sendiri beberapa orang yang menjadi apatis karena kecewa melihat oknum-oknum hamba Tuhan yang perkataan dan kehidupannya tidak sinkron. Bayangkan, ada gereja yang terang-terangan mendahulukan donatur untuk duduk di depan, sementara jemaat biasa harus dibelakang walaupun di depan masih kosong. Ada juga orang yang setiap hari Minggu terlihat suci tetapi di dalam pekerjaan mereka melakukan banyak kecurangan. Ada yang sepertinya sangat kudus dengan gaya yang selalu menasihati orang lain seolah dirinya tanpa cela, tetapi mereka terus hidup dalam pesta pora, minum-minum dan menghamburkan uang tidak pada tempatnya. Saya pun terkejut ketika mendengar adanya “makelar-makelar rohani” yang menjanjikan pengkotbah menjadi populer dalam waktu singkat. Mereka merampas hak Tuhan untuk popularitas diri sendiri. Dan sayangnya ada banyak pula pengkotbah atau pendeta yang setuju untuk memakai jasa makelar ini. Orang-orang ini menciptakan peraturan sendiri mengenai mana yang boleh dan tidak sesuai dengan kesukaan mereka, bahkan tidak jarang mereka menciptakan sosok Tuhan menurut versi mereka sendiri. Saya membayangkan betapa sakitnya hati Tuhan, betapa kecewanya Dia melihat orang-orang menyimpang seperti ini. Bukan saja mereka menjadi batu sandungan bagi banyak orang, tetapi juga menjadi penghalang yang bisa menggagalkan pekerjaan Tuhan di dunia ini.

Sifat ini bukanlah hal baru karena sudah ada setidaknya di jaman Yesus turun ke bumi. Yesus sudah pernah menyinggung mengenai perihal kemunafikan dari orang-orang yang seharusnya menjadi teladan bagi jemaat. Kemunafikan ini disebutkan Tuhan sebagai ragi orang Farisi. “Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.” (Lukas 12:1). Orang-orang Farisi dikenal sebagai pemuka-pemuka agama yang tampil sangat alim dimanapun mereka ada. Mereka mengenal dengan mendalam hukum-hukum Taurat dan hafal luar kepala, selalu berkata tentang kebenaran, tetapi perilaku mereka jauh dari semua yang mereka ajarkan. Mereka selalu merasa diri paling benar, paling suci dan paling bersih, sehingga mereka merasa berhak untuk menghakimi orang lain menurut penilaian mereka pribadi. Inilah ragi Farisi yang sangat dikecam Tuhan. Dan lihatlah kepada siapa pesan ini ditujukan Yesus seperti yang saya tulis tebal di atas,yaitu kepada murid-murid Yesus, termasuk kita di dalamnya terutama yang melayani. Perhatikan apa kata Yesus. “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. (Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.)” (Matius 23:13-14). Hukuman yang lebih berat, itu akan menjadi ganjaran akan orang-orang dengan perilaku seperti ini, dan itu tidaklah mengherankan. Mereka sudah mengetahui kebenaran tetapi masih juga melanggarnya. Mereka menyelewengkan kebenaran dan memanfaatkannya hanya sebagai topeng agar mereka terlihat hebat di mata manusia. Dan bukan itu saja, mereka pun menjadi batu sandungan bagi banyak orang, sesuatu yang berbanding terbalik dengan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang percaya, yaitu sebagai terang dan garam bagi orang lain. (Matius 5:13-16).

Hukuman yang lebih berat menanti orang-orang yang munafik. Orang yang seharusnya menjadi guru dengan keteladanan tetapi malah sebaliknya merintangi orang lain untuk selamat lewat cara hidupnya yang sama sekali tidak menunjukkan pribadi Kristus yang sebenarnya dikatakan akan menerima konsekuensinya, dan itu akan jauh lebih berat dari orang-orang biasa. Yakobus pun mengingatkan seperti itu ketika menyinggung masalah dosa lidah. “Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.” (Yakobus 3:1). Sangatlah disayangkan jika anak-anak Tuhan yang seharusnya menjadi cermin Kristus di dunia ternyata malah menjadi batu sandungan bagi sesamanya. Alangkah ironis ketika kita seharusnya menjadi terang dan garam, tetapi malah menjadi awan gelap dan empedu pahit bagi orang lain. Seharusnya kita menjadi sumber kasih seperti halnya Tuhan sendiri mengasihi kita, tapi kita malah menunjukkan sikap memusuhi, menghakimi, menjelek-jelekkan orang lain, atau malah menunjukkan perilaku yang tidak terpuji. Kenyataannya ada banyak orang percaya yang berpikir bahwa hidup lurus cukup dilakukan hanya pada hari Minggu saja, itupun hanya ketika berada di dalam ruang gereja. Begitu pulang, kehidupan duniawi dengan segala kesesatan pun kembali mewarnai hidup. Kemunafikan seperti ini bisa membawa konsekuensi fatal bagi kita, oleh karena itu kita harus ingat betul bahwa tidak hanya di gereja, tetapi dalam kehidupan sehari-hari pun Firman Tuhan tidak boleh sedikitpun dikesampingkan. Dalam hal menjadi hamba Tuhan, perhatikan pula kepada siapa kemuliaan itu ditujukan, apakah kepada Tuhan sepenuhnya atau malah dipelintir untuk popularitas pribadi. Jika Yesus meminta kita untuk menggembalakan domba-dombaNya seperti dalam Yohanes 21:15-19, tidakkah keterlaluan apabila kita malah mengusir domba-dombaNya untuk pergi menjauh lewat sikap ragi Farisi ini? Tidakkah ironis jika anak-anak Tuhan yang seharusnya berperan dalam mengenalkan kebenaran justru membuat orang semakin jauh dari kebenaran?

Ragi orang Farisi akan dengan sangat mudah hinggap pada diri kita ketika kita merasa diri kita paling benar. Mengetahui firman Tuhan memang bagus, tapi jika tidak disertai perbuatan, maka iman kita itu hanyalah sebentuk iman yang mati, dan disitulah kita bisa terjebak pada berbagai dosa kesombongan dan kemunafikan. Kecenderungan seperti ini memang cenderung hadir dalam diri manusia. Oleh karenanya Paulus mengingatkan “Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!” (Roma 14:13). Betapa pesan ini baik untuk selalu kita ingat. Jika kita sudah dibebaskan dengan menerima Kristus sebagai Juru Selamat kita, langkah selanjutnya adalah komitmen kita untuk terus menjaga diri kita, agar kebebasan itu jangan sampai menjadi batu sandungan bagi yang lemah. (1 Korintus 8:9).Sebagai wakil-wakilNya di dunia, seharusnya kita selalu melakukan apa yang bisa mendatangkan damai sejahtera dan bisa membangun bahkan menyelamatkan orang lain. “Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun” (Roma 14:19), bukan sebaliknya mendatangkan kepahitan dan menghancurkan masa depan orang. Merusak pekerjaan Allah adalah fatal akibatnya. Setiap renungan yang saya tulis pun bagaikan pedang bermata dua yang bukan saja saya tujukan untuk membagi berkat kepada teman-teman, tapi juga berlaku sebagai peringatan bagi saya sendiri. Hukuman yang lebih berat akan hadir kepada orang-orang yang bersikap seperti orang Farisi dan ahli Taurat pada masa itu. Karenanya, mari perhatikan benar bagaimana cara kita hidup agar kita tidak termasuk orang-orang yang terkontaminasi oleh ragi Farisi ini.

Hindari ragi Farisi dalam kehidupan kita sebagai orang percaya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

5 pencarian oleh pembaca:

  1. Renungan tentang mengejek orang lain yang malas beribadah atau malas melakukan pekerjaan bersama di gereja
Tags : , , , , ,

Hindari Sikap Munafik

Ayat bacaan: Markus 12:38
====================
“Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar”

hindari sikap munafikMemakai atribut keagamaan tetapi mempertontonkan perilaku yang jauh dari terpuji menjadi tontonan yang mudah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Berlaku kasar, menunjukkan sikap penuh kebencian dan kekerasan tanpa segan bahkan tidak jarang pula sambil menyebut-nyebut nama Tuhan. Mutlaknya keputusan mereka bahkan melebihi wewenang Tuhan sendiri, seolah mereka ini maha tahu dan maha berhak untuk memutuskan apapun. Sikap seperti ini sudah biasa kita lihat lewat berbagai media atau bahkan secara langsung di jalanan. Tapi adalah salah apabila kita mengira bahwa itu cuma terjadi di luar sana. Orang-orang percaya pun banyak yang menunjukkan sikap bertolak belakang dalam berbagai rupa. Hari Minggu pagi berlaku seolah sangat rohani dan suci, pintar mengutip firman Tuhan, bibir penuh berkat ketika bersalaman dengan orang lain, tetapi begitu ibadah selesai, sikap itu pun kemudian berakhir. Majikan kembali memperlakukan pembantu tanpa kasih, di kantor pimpinan berlaku semena-mena terhadap bawahan, atau kembali menjalankan bisnis penuh dengan cara-cara kotor dan sebagainya. Seorang teman menjadi malas beribadah karena melihat langsung perilaku-perilaku tidak terpuji ini di kantornya setiap hari. “Mereka selalu berdoa pagi di kantor, tapi setelah itu kembali melakukan bisnis yang tidak jujur.” katanya sambil tersenyum sinis. Yang mengejutkan, ia berkata bahwa sebagian dari para pimpinan di kantornya ini adalah hamba-hamba Tuhan yang setiap minggu melayani di gerejanya. “Kalau sudah seperti itu, buat apa saya ke gereja? Toh orang-orang munafik ini yang ada di sana.” katanya lagi. Orang-orang yang bersikap munafik bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain dan menghambat orang untuk melihat pribadi Kristus secara benar. Istilah orang munafik ini pun dipakai Kristus untuk mengacu kepada orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang menunjukkan perilaku sama.

Orang Farisi dan ahli Taurat pada masa itu dikenal sebagai pemuka agama yang terpandang dan dianggap sangat bersih dan rohani. Saking bersihnya, mereka pun dipercaya banyak orang berhak mengambil keputusan-keputusan mana yang halal dan haram, mana yang boleh dan tidak, mana yang baik dan buruk, atau kapan harus menghakimi hingga mengambil nyawa orang lain. Mereka hafal mati hukum Taurat dan seringkali tampil lengkap dengan atribut lengkap agar tampil beda dari manusia-manusia “berdosa” di luar kelompok mereka. Apa yang mereka lakukan sesungguhnya hanyalah sebatas fisik saja tanpa disertai motivasi yang benar. Mereka terlihat seolah mengerti agama tetapi sebenarnya perilaku mereka sama sekali tidak mencerminkan apa yang mereka ketahui bahkan hafalkan. Ini adalah sikap yang munafik yang mendapat kecaman langsung dari Yesus. Yesus pun mengecam mereka panjang lebar seperti yang bisa kita baca dalam Matius 23:1-36. “Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.” (ay 5-7). Perhatikanlah bahwa semua itu hanyalah mengacu pada penampilan agar dilihat orang, agar mendapat penghormatan semata. Yesus mengecam keras orang-orang ini dan menyebut mereka munafik. “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.” (ay 27-28).

Setiap pengikut Kristus tidak boleh terjerumus pada sikap munafik seperti yang ditunjukkan para ahli Taurat dan orang Farisi itu. Lihatlah ajaran Kristus mengenai cara berdoa berikut ini. “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” (Matius 6:5). Lebih lanjut lagi, perhatikan pula apa yang dikatakan Yesus seperti yang tertulis dalam Injil Markus. “Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.” (Markus 12:38-40). Lagi-lagi disini kita melihat gambaran dari orang munafik itu langsung lewat kata-kata Yesus sendiri. Yesus mengatakan agar kiat berhati-hati. Mengapa harus hati-hati? Karena jika kita tidak mengenal firman Tuhan, kita bisa tertipu dan mengira bahwa sikap seperti itulah yang akan mengarahkan kita kepada keselamatan. Kita akan mengikuti tindak tanduk mereka, ikut berani menghakimi dan hanya sibuk mementingkan penampakan luar ketimbang membenahi diri dari dalam. Jika anda membaca lengkap Matius 23:1-36, maka anda akan memperoleh gambaran luar biasa lengkap atau detail mengenai kemunafikan yang menyesatkan ini. Karena semua itu sudah disebutkan dengan rinci, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengetahui dan terjebak pada pemahaman yang salah melalui tokoh-tokoh agama yang munafik seperti ini. Bagi yang sudah tahu tapi masih melanggar, atau bagi para pemimpin yang seharusnya menjadi cerminan Tuhan di dunia tapi menunjukkan perilaku yang bertolak belakang hukumannya tidak main-main. Yesus mengatakan langsung bahwa mereka ini “pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.” (Markus 12:40). Pertama mereka tahu tapi tidak melakukan, kemudian mereka pun menyesatkan orang. Jelas hukuman pun akan dijatuhkan lebih berat.

Banyak orang yang sudah tertipu dan menganggap bahwa apa yang penting hanyalah penampilan luar saja. Mereka seolah mendapatkan wewenang untuk bertindak sesuka hati jika memakai atribut-atribut keagamaan, bagaikan seorang superhero yang berganti jubah. Mereka pun mengira dengan menjadi wakil Tuhan itu artinya mereka memperoleh keistimewaan-keistimewaan tersendiri seperti kebal hukum, mendapat tempat paling depan, bebas antrian atau kemudahan lainnya. Apa yang dikatakan Yesus sesungguhnya sangatlah bertolak belakang dengan pengertian dunia ini, bahwa “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Matius 16:24). Perhatikan pula kata-kata Yesus berikut ini: Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.” (Yohanes 12:26). Yesus tidak pernah mempertontonkan sikap munafik yang busuk seperti itu. Apa yang ditunjukkan Yesus secara langsung adalah hati yang lembut, sikap rendah hati, mau melayani dan diatas segalanya hati yang penuh kasih. Tidaklah heran apabila sikap munafik yang dilakukan oleh orang-orang yang seharusnya menjadi wakil Tuhan di muka bumi ini mendapat kecaman keras dari Kristus, bahkan dikatakan “celakalah hai kamu orang-orang munafik!” Mari kita periksa diri kita hari ini. Jika kita masih mendapati sikap-sikap munafik meski sedikit saja, bertobatlah dengan sungguh-sungguh. Kemunafikan hanyalah akan membawa kehancuran, menutup pintu berkat dan pintu menuju keselamatan.

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya.” (Markus 8:36)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

5 pencarian oleh pembaca:

  1. khotbah tentang kemunafikan
  2. ilustrasi tentang kemunafikan
  3. khotbah lucu tentang teman yang munafik
  4. renungan markus 12:38-40
  5. munafik dlm injil
Tags : , , , ,

6 Maret

“Barangsiapa terbesar di antara kamu  hendaklah ia menjadi pelayanmu”

(Yes 1:10.16-20; Mat 23:1-12)

“Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Mat 23:1-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Para pemimpin pada umumnya sering suka memberi perintah, petunjuk, arahan atau peraturan dan kebijakan, tetapi mereka sendiri tidak melaksanakan atau menghayati apa yang telah mereka katakan. Dengan kata lain mereka sungguh munafik, seperti orang-orang Farisi: melakukan perbuatan baik agar dilihat dan dipuji orang, sedangkan ketika tak dilihat orang bertindak atau berperilaku seenaknya sendiri. Sering mereka juga memberi pengarahan atau petunjuk kepada bawahannya untuk hidup dan bertindak saling melayani, namun mereka sendiri tidak melayani melainkan minta dilayani. Sabda hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua bahwa siapapun merasa diri sebagai yang terbesar atau terkemuka, hendaknya menjadi pelayan bagi yang lain. Melayuni berarti dengan rendah hati senantiasa berusaha untuk membahagiakan mereka yang harus dilayani. Pertama-tama kami berharap kepada para orangtua atau bapak-ibu untuk senantiasa berusaha membahagiakan anak-anaknya. Hal ini tidak berarti memanjakannya, melainkan membina dan mendidik anak-anak sedini mungkin dalam hal saling melayani, maka pertama-tama mereka harus mengalami dilayani. Kebahagiaan sejati orangtua hemat terletak pada kenyataan bahwa anak-anak tumbuh berkembang sebagai pribadi yang cerdas beriman, hidup dan bertindak dalam dan dengan semangat melayani. Para orangtua hendaknya dapat menjadi teladan hidup saling melayani bagi anak-anaknya, demikian juga para pemimpin atau atasan hendaknya menjadi teladan bagi anak buah atau bawahannya dalam hidup saling melayani. Marilah kita hidup dan bertindak saling melayani, saling membahagiakan, saling menyelamatkan.

·   Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!” (Yes 1:16-17). Seruan Tuhan melalui nabi Yesaya ini selayaknya kita renungkan dan hayati. Kita semua diajak untuk membersihkan diri, entah secara spiritual maupun phisik dan tentu saja terutama atau lebih-lebih secara spiritual, karena jika orang memiliki hati dan jiwa yang bersih maka yang bersangkutan pasti akan hidup dan bertindak baik kepada siapapun dan dimana pun. Orang yang bersih hati dan jiwanya senantiasa akan hidup dengan jujur dan tidak pernah menipu atau berbohong. Jika kita semua belum bersih hati dan jiwa kita, maka marilah kita tanggapi seruan Yesaya “Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik: usahakan keadilan, kendalikan orang kejam, belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda”. Anak-anak yatim maupun para janda sering diperlakukan dengan kejam, mungkin tidak secara phisik melainkan secara psikologis dan social atau spiritual. Lebih-lebih para janda muda dan cantik sering menjadi bahan omongan atau ngrumpi atau ngrasani, entah yang dilakukan oleh kaum lelaki maupun perempuan. Ngrumpi atau ngrasani berarti melecehkan harkat martabat manusia, karena pada umumnya memperbincangkan kekurangan atau kelemahan orang lain dan jarang ntmembicarakaan kelebihan atau kebaikan orang lain. Maka orang yang suka ngrumpi atau ngrasani berarti berdosa, dan kami harapkan untuk bertobat. Ngrasani atau ngrumpi juga berarti sombong, kebalikan dari rendah hati. Rendah hati merupakan cirikhas utama siapapun yang hidup dan bertindak melayani.

“Bukan karena korban sembelihanmu Aku menghukum engkau; bukankah korban bakaranmu tetap ada di hadapan-Ku? Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu” (Mzm 50:8-9)

Ign 6 Maret 2012

Tags : , , , , ,

21 Okt

“Mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?
(Rm 7:18-25a; Luk 12:54-59)
Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Apabila kamu melihat awan naik di sebelah barat, segera kamu berkata: Akan datang hujan, dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kamu melihat angin selatan bertiup, kamu berkata: Hari akan panas terik, dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini? Dan mengapakah engkau juga tidak memutuskan sendiri apa yang benar? Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan, supaya jangan engkau diseretnya kepada hakim dan hakim menyerahkan engkau kepada pembantunya dan pembantu itu melemparkan engkau ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.” (Luk 12:54-59), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Di dalam kehidupan sehari-hari cukup banyak tanda-tanda, entah yang dibuat untuk kepentingan tertentu atau terjadi secara alamiah di lingkungan hidup kita maupun di dalam tubuh kita sendiri. Di dalam tubuh kita sendiri ada tanda-tanda  akan terjadinya perubahan phisik atau kesehatan dan bagi rekan-rekan perempuan dewasa kiranya ada tanda-tanda khusus ketika akan mengalami menstruasi atau bagi yang sudah menikah tanda-tanda akan hamil. Hemat saya ketika kita peka akan tanda-tanda dalam tubuh kita serta mampu menilainya, maka kita juga akan peka terhadap tanda-tanda zaman. Maka kami harap pertama-tama kita masing-masing peka terhadap tanda-tanda yang ada di dalam tubuh kita masing-masing. “Hai orang-orang munafik, rupa bumi dan langit kamu tahu menilainya, mengapakah kamu tidak dapat menilai zaman ini?”, demikian sabda atau kritikan Yesus terhadap orang-orang munafik. Marilah kita lihat, cermati dan imani tanda-tanda kehadiran Tuhan dalam hidup kita sehari-hari, dalam lingkungan hidup dan kerja kita, terutama dalam diri manusia, saudara-saudari kita, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Tuhan. KehadiranNya dalam diri manusia antara lain menjadi nyata dalam kehendak baik, maka marilah kita lihat dan imani kehendak baik saudara-saudari kita, dan kami percaya masing-masing dari kita pasti memiliki kehendak baik. Kita sinerjikan kehendak baik kita untuk mengusahakan, membangun dan memperdalam perdamaian atau persaudaraan sejati di antara umat manusia di bumi ini.
·   Di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku” (Rm 7:22-23), demikian kesaksian iman Paulus, yang kiranya baik menjadi refleksi atau permenungan kita sebagai umat beragama atau beriman. Kecenderungan anggota-anggota tubuh kita memang lebih terarah untuk melakukan perbuatan dosa, hanya mengikuti selera pribadi atau kemauan sendiri, demi kenikmatan tubuh. Sebaliknya sebagaimana dikatakan oleh Paulus “di dalam batinku aku suka hukum Allah”, maka baiklah apa yang ada di dalam batin dengan kerja keras dan bantuan rahmat Tuhan kita wujudkan di dalam perbuatan atau tindakan. Dengan bantuan rahmat Tuhan alias bersama dan bersatu dengan Tuhan kita pasti akan mampu mewujudkan kehendak atau hukum Allah yang ada di dalam batin kita. Memang sendirian saja kita akan lebih sulit mewujudkannya, maka marilah kita bekerjasama mewujudkannya, saling membantu dan menolong sesuai dengan kemampuan, kemungkinan dan kesempatan kita masing-masing. Dengan bekerjasama atau bergotong-royong kita akan lebih berdaya dan bergairah dalam mewujudkan apa yang ada di dalam batin kita. Hendaknya kita juga dengan rela dan jiwa besar mensharingkan apa yang ada di dalam batin kita kepada saudara-saudari kita, sehingga kita juga saling diperkaya. Kepada mereka yang masih merasa “menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuh”, untuk segera membebaskan diri, dan jika perlu minta bantuan orang lain. Sebagai tawanan dosa kami harapkan tidak takut atau tidak malu minta bantuan kepada orang lain. Percayalah, imanilah bahwa banyak orang siap untuk membantu anda, karena orang baik yang berkehendak baik sangat banyak.
“Ajarkanlah kepadaku kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik, sebab aku percaya kepada perintah-perintah-Mu. Engkau baik dan berbuat baik; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku. Biarlah kiranya kasih setia-Mu menjadi penghiburanku, sesuai dengan janji yang Kauucapkan kepada hamba-Mu. Biarlah rahmat-Mu sampai kepadaku, supaya aku hidup, sebab Taurat-Mu adalah kegemaranku” (Mzm 119:66.68.76-77)
Ign 21 Oktober 2011

Tags : , , , , ,

9spt

“Keluarkanlah dahulu balok dari matamu”

(1Tim 1:1-2.12-14; Luk 6:39-42)

“Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka: "Dapatkah
orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam
lobang? Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi
barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya.
Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan
balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah
engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku
mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di
dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah
dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk
mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” (Luk 6:39-42),
demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:

·   Pada umumnya orang lebih mudah dan senang melihat kelemahan dan
kekurangan orang lain, sementara itu untuk melihat dan mengakui
kelemahan dan kekurangannya sendiri sungguh sulit dan berat atau
bahkan tak mau mengakui kelemahan dan kekurangannya. Sabda hari ini
mengajak dan memanggil kita orang beriman untuk pertama-tama melihat
kelemahan dan kekurangannya serta kemudian memperbaikinya baru
kemudian minta orang lain untuk memperbaiki kelemahan dan
kekurangannya. Yang sering mudah melihat kekurangan dan kelemahan
orang lain pada umumnya usianya juga lebih tua maupun berkedudukan
lebih tinggi, padahal hemat saya semakin tua dan tambah usia berarti
akan semakin tambah dosanya juga alias kelemahan dan kekurangannya.
Maka kami mengajak siapapun yang lebih tua, berkedudukan,
berpengalaman serta berpengaruh di dalam kehidupan bersama untuk
menjadi teladan pengakuan dan penghayatan diri sebagai yang lemah dan
rapuh serta tidak mudah melihat kelemahan dan kekurangan orang lain.
Hendaknya kita semua tidak munafik, dan kepada siapapun yang munafik
kami ajak untuk bertobat alias memperbaharui diri. Munafik berarti
“berpura-pura percaya atau setia dsb. kepada agama dsb..tetapi
sebenarnya di hatinya tidak; suka (selalu mengatakan sesautu yang
tidak sesuai dengan perbuatannya; berpura-pura” (Kamus Besar Bahasa
Indonenesia,Departemen Pendidikan Indonesia 1988, hal 599). Marilah
jujur, berkata apa adanya sesuai dengan apa yang ada di dalam hati
kita. Tidak jujur berarti akan celaka dan sengsara selamanya.

·   “Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus
Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan
pelayanan ini kepadaku — aku yang tadinya seorang penghujat dan
seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya,
karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar
iman”(1Tim 1:12-13), demikian kesaksian iman Paulus kepada Timoteus.
Mungkin kita semua tidak jauh dari apa yang dialami dan dihayati oleh
Paulus, lebih-lebih bahwa masing-masing dari kita pernah berbuat jahat
atau berdosa dan telah menerima kasih pengampunan Tuhan, sehingga ada
kemungkinan bagi kita untuk setia pada panggilan dan tugas pengutusan
kita. Maka baiklah jika memang saat ini setia pada panggilan dan tugas
pengutusan, marilah hal itu kita hayati sebagai ‘penguatan dari
Tuhan/rahmat Tuhan’, bukan semata-mata hasil usaha atau jerih payah
kita. Maka hendaknya hidup dan bertindak dengan rendah hati untuk
meneguhkan dan memperkuat kesetiaan kita, percaya bahwa Tuhan
senantiasa menguatkan  dan mendampingi kita melalui aneka macam bentuk
kebaikan dari saudara-saudari kita. Karena kita telah menerima
kebaikan dari saudara-saudari kita, maka selayaknya kita berterima
kasih kepada mereka dengan melayani mereka. Marilah segala kekuatan
dan keterampilan yang pernah kita fungsikan untuk berbuat dosa atau
munafik selanjutnya kita fungsikan untuk melayani saudara-saudari
kita.  Secara khusus marilah kita ingatkan mereka yang masih munafik
untuk bertobat. Kami berharap anak-anak di dalam keluarga sedini
mungkin dibina dan dididik untuk tidak munafik dengan teladan konkret
dari para orangtua atau bapak-ibu; tentu saja kepada bapak-ibu atau
orangtua kami berharap jika bersalah terhadap anak-anak hendaknya
dengan jiwa besar dan hati rela berkorban mengakui dan minta maaf
kepada anak-anak, demikian juga para pemimpin terhadap anggotanya,
para atasan terhadap bawahannya. Saling mengakui kesalahan dan minta
maaf serta saling memaafkan hemat saya merupakan salah satu bentuk
penghayatan kesetiaan kita pada iman dan pelayanan kita.

“Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu
malam hati nuraniku mengajari aku. Aku senantiasa memandang kepada
TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.” (Mzm
16:7-8)

Ign 9 September 2011

Tags : , , , , ,