Tag: mendidik anak

Mengapa Berlomba Mengejar Harta Duniawi?

PERNAHKAH Anda bertanya mengapa orang berlomba-lomba untuk menjadi kaya harta benda? Mungkin karena kita terbiasa tak menganggap kaya di hadapan Tuhan itu perlu, penting, berguna untuk hidup ini. Yang perlu, penting dan berguna, serta bergengsi justru kaya harta.

Anggapan tersebut didukung oleh kenyataan bahwa orang miskin di mana-mana tak berharga. Selama tata nilai, budaya di masyarakat menempatkan harta sebagai yang tertinggi, tentu dengan sendirinya orang miskin tak berharta. Maka pertanyaannya, mungkinkah kita membangun tatanilai, budaya baru? Budaya yang membuat orang berlomba-lomba menjadi kaya di hadapan Tuhan. Kalau Tuhan itu kasih, maka kaya di hadapan Tuhar berarti kaya cinta. Untuk ini sebetulnya tak diperlukan modal lain, kecuali hati.

Di rumah
Sebetulnya bukan kaya atau miskin yang menentukan tata nilai dalam keluarga. Tetapi bagaimana sikap, tindak dan kebiasan yang hidup di  keluarga itu. Jika di keluarga tak ada kesediaan untuk berbagi dengan orang lain, tentu anak tak belajar berbagi. Jika orientasi hidup orangtua hanya harta, anak pun mengira itulah satu-satunya yang berharga di dunia.

Jika orangtua tak malu hidup sederhana, mobil asal tak pernah mogok, jika orangtua bangga dengan punya banyak saudara dari kalangan orang biasa, jika orangtua tak mengejar kemewahan, sementara orang-orang sekitarnya hidup susah, maka anak akan mengenal apa itu kaya di hadapan Tuhan. Tetapi jika anak tahu, orangtuanya punya harta namun tak pernah mau peduli kebutuhan orang lain, jika orangtua hanya mau bergaul dengan mereka yang punya harta, jika orangtua ambisi kaya, maka sulit bagi anaknya untuk mengenal artinya kaya di hadapan Tuhan. Manakah yang lebih menghidupi kita dalam mendidik anak, harta atau hati?

Di sekolah
Bagaimana murid akan belajar hidup kaya di hadapan Tuhan, jika sistem pendidikan senyatanya seperti sekarang ini, yang kaya, meski bodoh dapat membeli ijazah bahkan guru atau sekolah pun dibeli. Bagaimana murid tak berorientasi kaya harta, kalau di sekolah murid melihat anak orang kaya fasilitas apa pun punya, kendaraan antar jemput, sarana belajar berlebih, dan guru/pendidik lebih akrab dengan yang kaya, meski geblek sekalipun.

Tata budaya macam apa yang akan dibangun oleh anak didik yang cenderung merendahkan bahkan memojokkan teman sekolah hanya ia miskin harta. Program-program non kurikuler pun tak ada yang menunjang penghargaan atas orang miskin harta namun kaya di hadapan Tuhan. Kaya di hadapan Tuhan, hanyalah cerita dongeng dari negeri entah berantah, namun yang dialaminya adalah hidup susah.

Di kantor
Pimpinan atau bawahan yang punya hati, punya kepedulian biasanya diketawain, kalau tidak disingkiri. Yang lebih banyak terjadi adalah mengejar kesempatan yang dianggap dapat memperkaya diri dengan harta kekayaan. Untuk itu tak segan-segan meninggalkan, atau menyingkirkan rekan yang jujur, tanggungjawab.

Yang dekat dengan bos, biasanya adalah orang yang mau menjual harga diri, menukar nasib orang kecil, karyawan rendahan dengan tawaran harta. Sebaiknya, ketika bos di kantor kita amat peduli pada orang kecil, sedia berbagi rejeki dalam berbagai bentuk perhatian konkret, tentu kita akan hormat dan segan padanya. Tetapi hanya sedikit orang yang meyakini bahwa semakin banyak  hartanya ia harus semakin berbagi dengan lebih banyak orang. Dan kita?

Dalam agama
Ajaran dan kotbah biasanya jelas kaya  di hadapan Tuhan lebih bernilai daripada kaya di mata dunia. Tetapi apakah praktiknya, sikap dan tindakan serta kebiasaan sesuai dengan kotbah dan ajaran agamanya?

Lihatlah di sekitar kita, para pemuka agama kita. Mereka mungkin tak memperkaya diri, tetapi putusan dan tindakannya tak bisa dibilang bersemangat kaya di hadapan Tuhan. Misalnya, mereka yang tak murah hati membantu kaum lemah. Secara tidak sadar, mengukur kesuksesan karyanya dengan banyaknya uang yang dikumpulkan di bawah kepemimpinannya. Ia tak memiliki, ia hanya diserahi harta umat, namun pelit berbagi. Tak punya kepedulian dengan mereka yang membutuhkan uluran bantuan, bukan dari hartanya, cukup dari keputusannya yang murah hati. Apa hal semacam itu namanya kaya di hadapan Tuahan?

Di masyarakat
Paling jelas dan tegas. Orang kaya harta selalu mendapat prioritas. Sebab dengan hartanya ia dapat memerintah siapa pun juga untuk melakukan apa yang dimauinya. Juga kalau kemauan itu melahirkan derita buat orang miskin. Meskipun ada orang kaya harta yang peduli orang kecil, namun terlalu banyak contoh sebaliknya.

Untuk apa punya mobil seharga 3 M di kota macet seperti Jakarta? Untuk apa membeli membuat rumah mewah di lingkungan orang kecil, kalau toh hanya sekali dua dipakai dalam setahunnya. Untuk apa di mana-mana dibangun mall, sementara pasar orang kecil tak diperhatikan. Dan kenapa korupsi menggurita di mana-mana menjerat orang kecil, kalau tidak dimotivasi untuk mendapatkan kekayaan di mana dunia.

Refleksi
Faktanya, banyak manusia tak bisa membeli kebahagiaan dengan hartanya. Terlalu banyak pula contoh orang yang mati perasaan bahkan fisiknya, hanya karena digerogoti nafsu mengejar kekayaan di mata dunia. Jangan karena harta, hati kita mati digerogoti. Kenapa tak mulai hari ini kita melatih diri untuk murah hati, sedia berbagi rejeki. Dengan itu kita memperkaya diri di hadapan Tuhan.

5 pencarian oleh pembaca:

  1. bokep anak orang kaya
  2. Ceritadewasamama anak
  3. ilusrtasi yg berkaitan dg harta
  4. ilustrasi kristen tentang orang yang mengejar harta
Tags : , , , , ,

Yesus Sang Entrepreneur: Mengubah Mindset (4)

DALAM hidup, kita menggunakan pemikiran dan perasaan. Dalam proses tersebut orang mengalami interaksi eksternal maupun internal. Dari interaksi tersebut akan terbentuk yang namanya persepsi. Jika semuanya itu kemudian memengaruhi atau malah menentukan perilaku seseorang, itulah yang disebut mindset

Mindset bisa jadi  keliru dan karenanya perlu direvisi. 

Contoh mindset : Setiap orangtua pada awalnya mindset-nya adalah ‘Aku (orangtua) yang mendidik anak ‘. Realita kehidupan ternyata kebalikannya : anak yang mendidik orangtua untuk bersabar, mengampuni diri dan orang lain, dll. Kalau mindset orangtua tak diubah, anaklah yang akan jadi kurban. 

Contoh lain : « polisi tidur atau polisi hamil ». Awalnya dibuat untuk memaksakan kehendak/kuasa : di depan rumah/tangsi penguasa orang yang lewat harus hormat, memperlambat kendaraan. Untuk itu dipaksa dengan polisi tidur. Karena hal itu berlangsung bertahun-tahun, maka mindset masyarakat  terbentuk demikian. Dan itu dianggap benar. 

Sekarang banyak orang yang punya mindset demikian. Jalan rusak diperbaiki bahkan di hotmix,  tetapi setelah jadi justru dibuat ‘polisi tidur’ lagi. Sebab mindset-nya : orang lewat harus diatur. Halusnya dipaksa dengan ‘polisi hamil’.  

Mindset kita sudah salah. Di Jerman, tanpa polisi tidur pun orang justru berkendaran dengan lebih baik. 

Bagaimana dengan mindset entrepreneur ? 

Mindset entrepreneur wujudnya adalah keberanian. Berani beda, berani ambil risiko, berani mengubah mindset. Meskipun zaman industri sudah lama lewat, namun banyak orang masih bermindset di zaman industri: Cita-cita hidupnya adalah mendapat gaji. 

Gaji adalah upah buruh. Kalau mindsetnya masih mindset pegawai, alias mindset miskin, maka watak entrepreneur tak akan terbentuk.  Seorang entrepreneur setidaknya harus bermindset kaya.  Untuk itu ia akan berani ambil risiko. Bagi dia, tak ada halangan. Yang ada hanya tantangan. Tak ada kata mundur, hanya karena kata orang. Ia justru beda, karena itu ia akan maju terus. Termasuk kalau risikonya kehilangan harta yang paling berharga. 

Mindset Yesus

Yesus persis melakukan demikian. Ia tampil beda. Ia minta dibabtis oleh Yohanes. Ia juru selamat yang beda; bukan pemenang, malah mati secara hina. Ia mengubah mindset orang tentang keselamatan. Keselamatan itu bukan soal nanti setelah mati. Keselamatan itu nyata, kini dan di sini: yang lapar dikenyangkan, yang buta dimelekkan, yang sakit disembuhkan, yang mati dihidupkan, dll. 

Yesus mengubah mindset orang tentang kekayaan dan kemiskinan: persembahan janda miskin. Ia juga jelas berani ambil risiko: ditolak, dibunuh bahkan secara hina. Ia berani menghadapai tantangan. Ia tak peduli kata, bahkan ancaman orang. Ia rela disebut bodoh, gagal, asal tujuannya tercapai: keselamatan manusia yang dicintaNya. 

Orang yang demikian, tak lain adalah orang yang berjiwa entrepreneur

Demikian jelaslah bahwa orang Kristen Katolik,  mestinya adalah seorang entrepreneur di zamannya. Yesus Sang entrepreneur adalah Yesus yang punya mimpi besar, punya keyakinan kuat, dan memiliki mindset sukses. Untuk itu ia harus cerdas finansial selain cerdas intelektual dan spiritual. 

Itulah tantangan kita. Berani? Yakin?

Yesus, Sang Entrepreneur, tambahkan iman dan perbuatan kami. (Selesai)

Photo credit: Berani Jalani Risiko (Mathias Hariyadi)

Artikel terkait:

 

5 pencarian oleh pembaca:

  1. kotbah tentang mind set
Tags : , , , , ,

Warisan Iman Turun Temurun

Ayat bacaan: 2 Timotius 1:5
=====================
“Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu”

warisan iman turun temurun“Bakat musiknya mengalir dari kedua orang tuanya yang merupakan musisi terkenal pada jamannya, dan lebih jauh lagi dari kakeknya yang juga aktif di dunia musik di tahun 50an.” Demikian bunyi profil seorang artis pada suatu kali. Kesuksesan seseorang seringkali dipandang orang lain sebagai buah dari keberhasilan didikan yang dimulai dari beberapa generasi sebelumnya. Bakat diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Jika kita sukses maka orang tua kita pun akan turut harum namanya, bahkan kakek dan nenek kita juga akan dipuji orang, sebaliknya apabila kita berbuat sesuatu yang tidak baik maka orang tua dan beberapa generasi sebelumnya bahkan nama keluarga pun bisa turut tercemar. Betapa seringnya seorang anak nakal yang berbuat onar akan dinilai dari orang tuanya. “Bandel sekali, anak siapa sih itu?” Komentar seperti ini sering kita dengar, dan itu tidaklah heran. Anak kecil bagaikan buku tulis kosong yang isinya akan tergantung dari apa yang dituliskan oleh ayah dan ibunya atau bahkan kakek dan neneknya di dalamnya. Meski anak-anak akan memiliki sifat-sifat tersendiri, namun bagaimana orang tua mendidik anak akan sangat menentukan seperti apa mereka kelak pada saat menginjak dewasa.

Bukan hanya pengajaran atau didikan, tapi orang tua pun harus sanggup menjadi teladan bagi anak-anaknya. Sadar atau tidak, anak akan mencontoh perilaku orang tuanya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian orang berpikir bahwa mereka bisa memerintahkan anak untuk rajin berdoa, rajin ke gereja hanya sebatas di bibir saja  sementara mereka tidak memberi contoh yang sama. Mereka mengira bahwa mereka bisa memerintah anak saja tanpa harus menunjukkan contoh teladan dari perilaku mereka sendiri secara langsung. Mereka tidak sadar bahwa apabila ini yang terjadi, anak pun berpotensi untuk tidak menganggap serius semua itu, bahkan bisa-bisa berpandangan sinis terhadap apa yang diajarkan orang tuanya. Ketika sebagian orang tua terlihat rajin beribadah, tapi kehidupannya tidak mencerminkan ajaran Tuhan, anak akan menganggap bahwa semua itu hanyalah seremonial rutin yang tidak membawa manfaat apapun. Tidak jarang hal demikian membawa dampak negatif dalam perkembangan si anak. Bayangkan jika orang tua hanya getol menguliahi anaknya tentang iman, tetapi mereka selalu terlihat ketakutan dalam hidup mereka, hanya berpikir untung dan rugi secara finansial menjadikan materi sebagai segala-galanya, tidakkah itu akan berpengaruh buruk bagi perkembangan jiwa sang anak juga? Anak pelayan Tuhan sekalipun tidak menjamin mereka untuk tumbuh menjadi anak yang takut akan Tuhan, jika orang tuanya tidak memberi teladan yang benar dari kehidupan mereka sehari-hari untuk dicontoh dan dijadikan teladan.

Ayat bacaan kita hari ini memberi gambaran menarik akan hal itu. Timotius dikenal sebagai anak rohani Paulus, seperti yang tertulis dalam 1 Timotius 1:2. Di usia mudanya, Timotius sudah sanggup tampil di depan, menjadi teman sekerja Paulus dalam melayani. Jika kita mencari tahu latar latar belakang dari Timotius, kita akan mendapati awal perjumpaan Paulus dengan Timotius tertulis di Kisah Rasul 16:1-3. Paulus bertemu dengan Timotius pada saat ia tiba di Listra (sekarang dikenal sebagai Turki). Ibu Timotius adalah seorang Yahudi yang telah menerima Yesus, sedang ayahnya orang Yunani. Alkitab mencatat bahwa Timotius terkenal sebagai orang baik di kalangan orang-orang percaya. (Kisah Para Rasul 16:2). Dari mana ia tumbuh seperti itu dan bisa bersinar sejak usia mudanya? Mari kita baca ayat bacaan hari ini. “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu” (2 Timotius 1:5). Ayat tersebutmenjelaskan bahwa ternyata ibu dan nenek Timotius mempunyai peran sangat penting dalam mendidiknya. Nenek dan ibunya memberi teladan hidup yang baik bagi Timotius. Selanjutnya kita bisa baca di dalam 2 Timotius 3:15 bahwa sejak kecil, Timotius telah dikenalkan dengan Alkitab, sehingga dirinya diberi hikmat dan dituntun pada keselamatan oleh iman kepada Kristus. Semua ini berasal dari iman neneknya, Lois, kemudian turun pada ibunya, Eunike, hingga lalu sampai kepada Timotius.

Jika peran seorang ibu sangat penting dalam perkembangan jiwa dan kepribadian anak, peran ayah pun tidak kalah pentingnya. Lihatlah ayat berikut ini: “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu”. (Amsal 1:8). Bahkan dari contoh mengenai Timotius di atas kita bisa melihat bahwa peran nenek pun punya andil dalam kehidupan kita. Keteladanan yang baik akan diwariskan secara turun temurun, demikian pula contoh buruk, akan diwariskan secara turun temurun. Firman Tuhan berkata: “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” (Ulangan 6:6-9). Disini kita bisa melihat bahwa sebuah keteladanan pun tidak kalah pentingnya dengan menyampaikan pengajaran Tuhan secara berulang-ulang kepada anak-anak kita. Mendidik mereka akan budi perkerti, ilmu pengetahuan dan pelajaran-pelajaran lainnya akan sangat baik buat masa depan mereka. Tetapi jangan lupa bahwa mengajarkan mereka tentang firman Tuhan dan menumbuhkan iman mereka sejak dini pun merupakan faktor yang teramat sangat penting yang tidak boleh diabaikan atau ditunda-tunda. Berilah contoh yang baik kepada anak-anak, bukan hanya lewat teori dan perintah, namun yang lebih penting justru dengan keteladanan secara langsung lewat cara, sikap dan gaya hidup kita. Anak-anak selalu memperhatikan hidup kita tanpa kita sadari, dan contoh perilaku yang baik, hidup yang kudus, penuh kasih, akan membuat mereka menjadi anak-anak terang yang mengenal pribadi Tuhan sejak usia mudanya. Sudahkah anda memberi keteladanan yang baik pada mereka? Seperti apa mereka kelak dikemudian hari akan sangat tergantung dari seberapa baik kita mendidik mereka dan memberi keteladanan langsung lewat segala aspek dalam kehidupan kita.

Wariskan yang baik buat anak-anak kita lewat keteladanan nyata

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

5 pencarian oleh pembaca:

  1. khotbah kristen anakku dengarlah
  2. louis kakek timoteus
  3. renungan pagi kristen tema pendidikan
  4. renungan tentang warisan iman
  5. ilustrasi kristen tentang pendidikan kristen
Tags : , , , , ,

Mendidik Anak yang Berakhlak Baik

Ayat bacaan: Mazmur 119:9
===================
“Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.”

mendidik anakAnak yang berbakti kepada orang tua, jauh dari kejahatan, tahu sopan santun, hidup jujur sejak kecil, serius dalam bekerja dan takut akan Tuhan. Siapa yang tidak ingin mempunyai anak dengan karakter seperti ini? Semua orang tua, siapapun mereka tentu mendambakan anak yang bisa menjadi teladan bagi orang lain. Itulah sebabnya meski orang tuanya mungkin hanya lulusan sekolah tingkat rendah, mereka akan berusaha sedaya upaya mereka untuk menyekolahkan anak setinggi mungkin. Kalau perlu harta benda, sawah atau hewan ternak pun dijual demi masa depan anaknya. Ironisnya ada banyak orang tua yang berpikir bahwa sekolah setinggi mungkin adalah satu-satunya jawaban agar anaknya bisa menjadi orang sukses. Kekayaan secara materi seringkali dijadikan satu-satunya tujuan yang dianggap bisa membawa kebahagiaan. Dan yang juga tidak kalah ironis, ada banyak orang tua yang berpikir bahwa mereka tetap bisa berlaku seenaknya dan dalam waktu yang sama berharap anaknya bisa menjadi anak yang baik. Apa sebenarnya yang bisa membuat seorang anak tumbuh menjadi teladan dalam tingkah lakunya yang bersih?

Firman Tuhan hari ini memberi sebuah jawaban yang sangat sederhana dan singkat. “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.” (Mazmur 119:9). Sekolah setinggi mungkin tentu saja tidak salah, bahkan bagus. Tetapi apalah gunanya segala ilmu tanpa dibarengi dengan sebuah sikap takut akan Tuhan, menjauhi kejahatan dan taat kepada perintah Tuhan? Orang yang pintar tetapi tidak memiliki rasa takut atau hormat akan Tuhan malah bisa berbahaya. Kekayaan pun sudah terbukti tidak menjadi jaminan bahwa seseorang akan berbahagia. Meski ada banyak hal penting yang bisa membuka jalan kesuksesan bagi anak-anak kita, perhatikanlah bahwa Alkitab sudah berkata ada hal yang jauh lebih penting, dan itu adalah dengan menjaga anak untuk bertumbuh sesuai dengan, atau senantiasa dalam Firman Tuhan.

Alkitab memberikan sebuah contoh yang bisa menjadi pelajaran bagi kita, yaitu Timotius. Timotius adalah seorang anak muda yang diberi kepercayaan besar oleh Paulus sejak masa mudanya. Paulus tentu melihat kualitas dalam diri anak muda bernama Timotius ini. Dan itu bukanlah sembarangan. Bagaimana Timotius bisa bertumbuh menjadi seorang pemuda berakhlak baik seperti itu? Alkitab mencatat bahwa semua itu merupakan hasil didikan turun temurun dari neneknya. “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.” (2 Timotius 1:5). Neneknya merupakan orang beriman yang membesarkan ibunya dengan sangat baik, lalu iman yang teguh itu pun turun kepada Timotius. Bayangkan apabila sang nenek tidak menjadi teladan dan tidak mengajarkan hidup benar kepada sang ibu, Timotius pun tentu bukan seperti sosok yang dikenal orang percaya hingga hari ini. Tongkat estafet iman turun temurun dalam bentuk pengajaran untuk hidup benar hingga sampai kepada Timotius yang sudah bersinar sejak masa mudanya. Ini bisa menjadi sebuah contoh bahwa orang muda yang dibimbing sejak semula dengan Firman Tuhan akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang bersih hidupnya, yang tentu saja akan berbeda dari kebanyakan pemuda seusianya, dan itu tepat seperti apa yang dikatakan dalam ayat bacaan hari ini yang diambil dalam kitab Mazmur.

Paulus berpesan kepada Timotius: “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1 Timotius 4:12). Ini sebuah pesan penting yang sesungguhnya baik untuk diindahkan oleh anak-anak muda seperti kita. Ternyata sejak muda pun kita sudah diminta untuk bisa menjadi teladan, baik dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan dan kesucian. Firman Tuhan, kata ayat Mazmur di atas, adalah jawaban agar kita bisa menjadi sosok seperti yang diinginkan Tuhan itu. Menjadi teladan merupakan keharusan bagi orang-orang percaya sejak masih muda hingga memasuki masa tua. Orang tua tetap harus menjadi teladan, agar ia bisa mewariskan iman yang takut akan Tuhan kepada anak-anak mereka. Dari Lois ke Eunike kemudian ke Timotius, itu sudah terbukti, kepada kita pun sama. Perhatikanlah ayat berikut: “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” (Ulangan 6:6-9). Rangkaian ayat tersebut dengan jelas menyatakan bahwa orang tua harus mampu mengajarkan anak-anak mereka secara kontinu, terus menerus, berkesinambungan, tetapi itu belumlah cukup tanpa menjadi teladan pula terhadap apa yang diajarkan. Artinya, selain cakap mengajar, orang tua pun harus mampu menjadi contoh teladan bagi anak-anaknya. Dalam surat Efesus, Paulus pun menyerukan hal yang sama. “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” (Efesus 6:4).

Memiliki anak yang berakhlak baik, hidup bersih, takut akan Tuhan adalah dambaan setiap orang tua. Masalahnya, apakah kita sebagai orang tua sudah memiliki wawasan yang benar dalam mendidik mereka? Apakah kita sudah memberi perhatian yang cukup kepada mereka ketika mereka dalam pertumbuhan? Bukan hanya kebutuhan fisik dan kepintaran yang penting, tetapi terlebih kebutuhan mereka akan Firman Tuhan. Itulah yang akan membuat mereka tetap terjaga dari segala hal negatif di dunia ini, dan itu akan sangat bermanfaat dalam jangka panjang. Jika kita sebagai orang tua melakukan apa yang diingatkan oleh Firman Tuhan hari ini, kelak di kemudian hari kita juga yang akan senang melihat anak-anak kita tumbuh menjadi teladan dalam hal hidup bersih, baik dan benar bagi orang lain, dan alangkah bahagianya jika kita melihat hal tersebut kemudian diwariskan kepada cucu kita. Mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari itu penting. Memberi kesempatan mereka untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya itu penting. Tetapi jangan lupakan untuk membesarkan mereka dalam Firman Tuhan, karena itulah yang terutama akan menjaga mereka dari hal-hal buruk yang tidak kita inginkan. Itu akan menjadi sebuah warisan yang sangat berharga bagi mereka.

Lebih dari segalanya, didiklah anak-anak sejak dini dalam Firman Tuhan 

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

5 pencarian oleh pembaca:

  1. bokep anak ada
  2. bokep anak kecil dan orang tua
Tags : , , , , ,

Uang Bukan Segalanya

Ayat bacaan: 1 Timotius 6:17
========================
“Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.”

uang bukan segalanyaAda pepatah yang mengatakan “money can’t buy happiness”. Apakah anda termasuk yang setuju dengan kalimat ini atau tidak? Seorang teman saya tidak sependapat. Ia berkata orang yang mengatakan bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan hanyalah orang miskin yang berdalih. Mungkin untuk saat-saat tertentu singkat uang memang bisa menjanjikan kebahagiaan, tapi itu hanya berlaku dalam waktu singkat. Pada akhirnya sekaya apapun kita akan sampai pada kesimpulan bahwa uang bukanlah segalanya. Kalau tidak hati-hati malah kekayaan bisa menimbulkan banyak masalah dalam hidup kita. Terjerumus masuk ke dalam berbagai dosa adalah salah satu dampak negatif dari ketidak hati-hatian kita terhadap hal-hal yang bisa diperoleh lewat uang. Bukannya semakin dekat, tapi kita malah bisa semakin jauh dari Tuhan justru ketika kita diberkati dengan melimpah. Ada banyak orang kaya yang saya kenal malah gelisah karena takut hartanya lenyap. Orang tua yang terlalu memanjakan anaknya dalam kemewahan pun seringkali menyesal pada akhirnya ketika anaknya tumbuh dengan kepribadian yang kurang baik. Ada banyak contoh dimana anak-anak yang terjerumus obat-obatan terlarang biasanya berasal dari keluarga mampu yang tidak mendapat kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Orang tua sering berpikir bahwa jika mereka bisa melimpahi anaknya dengan uang itu sudah cukup. Mereka tidak lagi menganggap penting untuk meluangkan waktu mendidik anak-anaknya. Dan hal seperti itu kerap kali menjadi awal dari sebuah kehancuran.

Mari kita lihat sosok Salomo, orang yang dikatakan terkaya yang pernah hidup di muka bumi ini. Begitu kayanya, bahkan dikatakan bahwa kekayaannya belum pernah dinikmati raja-raja sebelumnya, dan tidak akan pernah pula sanggup ditandingi oleh siapapun sampai kapanpun. (2 Tawarikh 1:12). Dengan kekayaan berlimpah seperti ini, jika benar uang mampu membeli segalanya, maka Salomo seharusnya menjadi orang paling bahagia yang pernah hidup di muka bumi ini. Tapi faktanya sama sekali tidak. Salomo justru banyak mengingatkan kita bahwa uang bukanlah hal terpenting dalam hidup kita. Dalam banyak ayat yang mencatat tulisan-tulisan hikmat Salomo kita bisa mendapatkan begitu banyak ayat yang menyinggung hal ini. Atau lihatlah kitab Pengkotbah yang menunjukkan begitu banyak kesia-siaan terhadap segala sesuatu, termasuk harta kekayaan. Tidakkah ironis ketika kitab ini justru datang dari orang terkaya yang pernah hidup di muka bumi ini?

Dalam Amsal, Pengkotbah dan beberapa ayat lainnya diluar kedua kitab itu kita bisa mendapatkan beberapa contoh yang menunjukkan bahwa ada hal-hal yang tidak dapat dibeli dengan uang, antara lain:
Hikmat: “Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat perak.” (Amsal 16:16)
Ketenangan: “Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan.” (Amsal 15:16), “Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin.” (Pengkotbah 4:6)
Ketentraman: “Lebih baik sekerat roti yang kering disertai dengan ketenteraman, dari pada makanan daging serumah disertai dengan perbantahan.” (Amsal 17:1)
Tidur nyenyak: “Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak; tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur.” (Pengkotbah 5:11)
Damai sejahtera: “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia.” (Pengkotbah 5:10)
Hidup benar: “Lebih baik penghasilan sedikit disertai kebenaran, dari pada penghasilan banyak tanpa keadilan.” (Amsal 16:8), “Lebih baik orang miskin yang bersih kelakuannya dari pada orang yang berliku-liku jalannya, sekalipun ia kaya.” (28:6)
Kesehatan: sebuah kisah perempuan yang menderita pendarahan selama 12 tahun menggambarkan hal itu. “Di antaranya ada pula seorang wanita yang sudah dua belas tahun sakit pendarahan yang berhubungan dengan haidnya. Ia telah menghabiskan segala miliknya untuk berobat pada dokter, tetapi tidak ada yang dapat menyembuhkannya.” (Lukas 8:43 BIS)
Karunia Allah: “Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang.”  (ay 20).
Keselamatan: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 4:12)

Kita tentu sudah sering melihat bukti nyata dari poin-poin di atas baik dari pengalaman orang lain bahkan mungkin sudah kita alami sendiri. Ada banyak hal yang memang bisa kita beli dengan uang, tetapi ada banyak pula hal yang tidak akan mampu kita beli tidak peduli berapa banyak uang yang kita miliki sekalipun. Jelaslah uang bukan segalanya. Jika contoh-contoh di atas tidak bisa kita peroleh lewat harta, bagaimana mungkin kita bisa bahagia? Maka pepatah yang mengatakan “money can’t buy happiness” pun benar adanya.

Daud bermazmur: “Ia hanyalah bayangan yang berlalu! Ia hanya mempeributkan yang sia-sia dan menimbun, tetapi tidak tahu, siapa yang meraupnya nanti.” (Mazmur 39:7). Alangkah sayangnya apabila kita terus mengejar untuk menimbun harta sebanyak mungkin tetapi pada akhirnya semua itu sia-sia. Uang memang penting bagi kehidupan kita, saya setuju itu, tetapi bukanlah yang terpenting. Uang seharusnya menjadi hamba bagi kita, bukan sebaliknya kita menjadi hamba uang. Kita perlu bekerja mencari uang untuk mencukupi kebutuhan kita dan keluarga, juga untuk memberkati orang lain, tetapi bukan untuk ditimbun dan mengira bahwa uang mampu menjadi jawaban atas segalanya. Dalam pesannya kepada Timotius, Paulus tidak meminta Timotius untuk menyuruh orang-orang kaya agar meninggalkan harta mereka, tetapi ia meminta Timotius untuk mengingatkan mereka agar membangun sikap yang benar terhadap kekayaan yang mereka miliki. “Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.” (1 Timotius 6:17). Selanjutnya ia berpesan “Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.” (1 Timotius 6:18-19). Ketika kita diberkati dengan harta, pakailah itu untuk memuliakan Tuhan lewat menyatakan kasih kita kepada orang lain. Itulah yang seharusnya kita lakukan, dan bukan berharap kita bisa memperoleh kebahagiaan sepenuhnya lewat timbunan harta yang kita miliki. Hari ini marilah kita miliki pandangan yang benar tentang uang sesuai apa yang dikatakan firman Tuhan. Dan janganlah melupakan Tuhan apabila kita sudah diberkati secara materi hari ini. Semua itu berasal dari Tuhan, oleh karena itu pakailah untuk memuliakanNya.

Money can’t buy happiness, money is not everything

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

5 pencarian oleh pembaca:

  1. uang bukan segalanya untuk orang tua
Tags : , ,

Kesesuaian antara Perkataan dan Perbuatan

Ayat bacaan: Efesus 6:4
=====================
“Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”

kesesuaian antara perkataan dan perbuatanAdalah lebih mudah untuk menjadi pengajar namun tidak gampang untuk menjadi pendidik. Maksud saya begini. Ketika kita menjalani profesi sebagai pengajar, yang diperlukan adalah kemampuan kita untuk mentransfer ilmu kepada anak didik kita. Jika proses itu berhasil menambah ilmu mereka, maka proses mengajar itu pun dikatakan sukses. Namun sebagai pendidik ada banyak lagi proses yang harus kita cermati. Kita harus tahu betul karakter dan sifat masing-masing anak, mengetahui kelemahan-kelemahan mereka dan berusaha menambalnya. Selama pengalaman saya menjadi dosen saya melihat bahwa seringkali proses mendidik ini lebih ditekankan kepada faktor diluar kurikulum pelajaran. Ada banyak anak yang sebenarnya tidak bermasalah dengan kemampuan menyerap ilmu, tetapi mereka bermasalah dari segi mental dan keberanian. Tidak jarang yang harus dibenahi justru di sektor ini karena kemampuan mereka sering terhambat oleh faktor non teknis. Satu lagi yang sangat penting untuk diperhatikan sebagai pendidik adalah bagaimana agar apa yang kita katakan dan ajarkan itu selalu selaras atau sejalan dengan sikap, perilaku atau perbuatan kita sendiri. Bagaimana mungkin orang mau mendengarkan nasihat kita jika kita sendiri tidak melakukannya? Kesesuaian antara perkataan dan perbuatan adalah sangat penting untuk dimiliki oleh seorang pendidik. Menjadi teladan itu wajib bagi pendidik.

Kemarin saya sudah menyinggung bagaimana untuk mendisiplinkan anak yang sesuai dengan firman Tuhan. Tuhan ingin kita mendidik anak-anak kita dengan caraNya. Ketika Tuhan menghajar kita demi kebaikan kita dan bukan karena ingin menyiksa, ketika Tuhan menghajar kita karena Dia mengasihi kita, seperti itu pula kita seharusnya mendidik anak-anak kita. Jika hukuman terpaksa diberikan maka berikanlah, tetapi ingat bahwa dasarnya harus karena kasih, demi kebaikan mereka dan bukan karena kita hanya ingin menjadikan mereka sebagai pelampiasan amarah kita. Satu hal penting lainnya yang seringkali dilupakan oleh para orang tua adalah sinkronisasi atau kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Ada begitu banyak orang tua yang hanya tahu memerintah tetapi hidup mereka sendiri tidaklah mencerminkan apa yang mereka ajarkan kepada si anak. Sebuah contoh kecil, jika seorang ayah mengajarkan anaknya agar jangan menyakiti teman-temannya, tetapi di sisi lain ia terus saja berlaku kasar kepada istri dan anak-anaknya, bagaimana mungkin si anak bisa memahami apa yang diajarkan? Kebingungan akan melanda mereka, dan mungkin juga marah karenanya. Dan biasanya, orang-orang yang kerap berlaku kasar terhadap orang lain adalah orang-orang yang kehidupan masa kecilnya dalam rumah tangga penuh dengan kekerasan pula. Berbagai dalih dengan mudah dikeluarkan oleh orang tua dengan menyepelekan anaknya. “Ah, tahu apa kamu.. kamu masih kecil!” Atau perkataan yang membenarkan perbuatan salah dan memaksakan anak untuk menerima semuanya mentah-mentah. “Saya kan orang tuamu, terserah saya dong! Kamu harus nurut!” Sesungguhnya sikap seperti ini bukanlah gambaran yang dikehendaki Allah untuk dilakukan oleh para orang tua.

Firman Tuhan berkata “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” (Efesus 6:4). Ini adalah dasar penting bagi para orang tua, karena seringkali sadar atau tidak kita sebagai orang tua melupakan faktor kesesuaian antara perkataan dan perbuatan kita. Ini bisa mendatangkan kebingungan bagi anak-anak kita, dan mereka pun bisa marah karena hal tersebut. Kebencian, dendam, kepahitan, semua ini bisa tumbuh dalam diri mereka sejak kecil jika kita tidak menjaga sikap, tingkahlaku dan perbuatan kita ditengah mereka. Apa yang kita ajarkan haruslah sesuai dengan perilaku kita. Menjadi contoh nyata merupakan keharusan bagi setiap orang tua. Bukan hanya berhenti sampai mengajarkan moral, budi pekerti dan kerohanian, tetapi kita harus pula siap untuk menjadi teladan dari itu semua. Hanya dengan demikianlah anak akan mampu menyerap semuanya dan hidup dengan keteladanan orang tuanya hingga masa tua mereka nanti.

Sebenarnya bukan hanya dalam hal mendidik anak saja, tetapi dalam segala hal kita haruslah menyamakan perkataan dan perbuatan kita, termasuk dalam hal rohani. Kita bisa berkoar-koar memiliki iman, tetapi jika gaya atau cara hidup kita tidak mencerminkan apa yang kita katakan, bagaimana mungkin orang bisa percaya? Dilihat orang rajin berdoa panjang-panjang, tetapi kita hidup dalam kecemasan, kecurigaan atau kesinisan. Rajin beribadah namun isi perkataan kita hanyalah iri hati dan hujatan. Seharusnya tidak seperti itu, karena firman Tuhan berkata iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong (Yakobus 2:20) bahkan mati. (ay 26). Sebelum kita mulai mendidik anak-anak kita atau menjadi terang dan garam bagi sekeliling kita, kita harus terlebih dahulu mencermati apakah diri kita sudah menggambarkan apa yang ingin kita sampaikan mengenai kebenaran.

Alkitab berulang kali menyinggung soal pentingnya mempraktekkan atau melakukan kebenaran-kebenaran firman Tuhan yang telah kita baca atau dengar dalam kehidupan sehari-hari. Membaca itu baik, mendengarkan itu baik, merenungkan itu lebih baik lagi, tetapi yang lebih penting adalah melanjutkan apa yang telah kita baca, dengar dan renungkan itu dengan aplikasi nyata dalam kehidupan kita. Dalam surat Yakobus kita bisa membaca demikian: “Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.” (Yakobus 1:25). Sebagai orang tua, marilah kita membenahi diri untuk hidup sesuai dengan firman Tuhan dan menjadi teladan bagi anak-anak kita. Berhentilah mencari pembenaran-pembenaran di hadapan mereka ketika berbuat salah, dan mari didik mereka dengan kasih, seperti halnya Tuhan mendidik kita dengan kasihNya yang sempurna. Masa depan mereka sangat tergantung dari bagaimana sikap hidup kita. Siapkah anda menjadi orang tua teladan di mata mereka?

Sesuaikan perkataan dan perbuatan kita agar selalu selaras dan jangan sampai membingungkan anak-anak kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tags : , , , , ,

Menghukum Anak

Ayat bacaan: Amsal 13:24
======================
“Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.”

menghukum anakSetiap orang memiliki sifat atau karakter masing-masing yang dibawa sejak lahir, tidak terkecuali anak-anak. Ada yang memang terlahir kalem, ada pula yang sangat aktif dan bandel. Seorang teman memiliki dua anak yang sudah tumbuh remaja, dan puji Tuhan keduanya tumbuh menjadi anak-anak baik yang takut akan Tuhan. Apakah keduanya punya sifat yang sama? Tidak juga. Tapi sepertinya cara teman saya mendidik merekalah yang mampu membentuk keduanya memiliki sikap baik seperti itu. Ia bercerita bahwa ketika anak-anaknya masih kecil ia sudah mulai membimbing mereka dengan tegas. Tegas dalam artian, ketika harus dihukum ya dihukum. Tergantung dari tingkat kesalahan. Jika masih bisa cukup dengan diingatkan tentu tidak harus dihukum. Tapi ketika kesalahan yang dilakukan si anak cukup berat, maka mau tidak mau hukuman harus diberikan. Yang harus diingat adalah bahwa tujuan memberikan hukuman adalah agar si anak menyadari kesalahannya, untuk tujuan mendidik, dan bukan untuk menyiksa mereka. Karena ada banyak orang yang menjadikan anaknya sebagai sasaran luapan kekesalan atau kemarahan mereka. Ini bukanlah bentuk hukuman yang membangun, karena yang terjadi mungkin sebaliknya. Anak akan semakin bandel dan punya karakter kasar setelah mereka besar nanti.

Apa kata Alkitab mengenai mendidik anak? Amsal Salomo berbicara banyak mengenai hal ini. “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.” (Amsal 13:24). Lihatlah bahwa ketika kita memanjakan anak secara berlebihan dan tidak memberi hukuman ketika mereka berbuat salah, itu bukan berarti kita menyayangi anak, malah dikatakan sebaliknya, bahwa itu berarti kita membenci mereka. Saya sering menggambarkan anak kecil bagaikan kertas kosong. Seperti apa isinya nanti sangatlah tergantung dari seperti apa kita menulisnya. Jika kita ingin mereka menjadi orang-orang yang takut akan Tuhan dan hidup mencerminkan Kristus kelak, maka kita harus mulai mendidik mereka dengan benar sejak dini. Dan itu termasuk memberi hukuman yang bukan didasari oleh pelampiasan, tetapi oleh kasih. Alkitab tidak mengajarkan kita untuk memberi hukuman yang hanya didasari kekerasan sebagai pelampiasan kemarahan. Lihatlah ayat berikut ini: “Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya.” (Amsal 19:18). Emosi yang ditumpahkan seperti itu hanya akan menimbulkan luka dan kemarahan dalam hidup mereka. Lebih lanjut firman Tuhan pun mengingatkan “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” (Efesus 6:4). Itulah sebabnya kita harus mendasari didikan, hajaran atau hukuman dengan kasih.

Dengan kasih. Seperti itu pula Tuhan mendidik kita. Ada kalanya kita pun harus melalui hukuman Tuhan yang mungkin menyakitkan, tetapi itu semua Dia lakukan bukan untuk menyiksa kita, tetapi justru karena besar kasihNya pada kita. “..Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” (Ibrani 12:6). Sekali lagi, itu karena Dia menganggap kita sebagai anak yang sangat Dia kasihi. Oleh karena itulah kita harus memperhatikan baik-baik ajaranNya, dan jangan berkecil hati jika kita diperingatkan Tuhan. (ay 5). “Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.” (ay 8). Justru kita harus bersyukur ketika ditegur atau dihukum Tuhan, karena itu artinya kita adalah anak-anak yang dikasihiNya. Tuhan selalu rindu agar kita menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari. Dan untuk membentuk karakter seperti itu, memang ada kalanya kita harus mendapat ganjaran atas kesalahan kita. Tidak enak memang, tapi bayangkan jika Tuhan membiarkan saja kita terus menuju jurang kebinasaan yang kekal. Tidakkah jauh lebih baik dihukum sekarang daripada dibiarkan binasa?

Seperti cara Tuhan mendidik kita, demikian pula seharusnya kita mendidik anak-anak kita. Tuhan menghajar orang bukan karena membenci, tetapi justru karena mengasihi. Itu pula yang harus menjadi dasar dalam mendidik anak-anak. Jangan lupa pula untuk memperlakukan masing-masing dengan mempertimbangkan sifat-sifat dasar mereka. Seringkali yang terbaik untuk dilakukan bukan menyamaratakan semuanya, tetapi berlaku adil dilakukan dengan memikirkan apa yang terbaik bagi masing-masing anak, karena firman Tuhan berbunyi “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Amsal 22:6). Apa yang kita ajarkan sekarang akan sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter mereka di masa depan.

Didiklah anak-anak kita sejak masa kecilnya, dan berikan hukuman jika memang harus. Tapi dasarilah itu semua dengan kasih dan bukan kemarahan. Kenalkanlah Kristus dengan segala kebaikanNya sejak dini. Jangan lupa pula bahwa sebagai orang tua, kita pun harus selalu mampu memberi contoh teladan lewat sikap hidup dan perbuatan kita sendiri. Lihatlah dalam kitab Ulangan. Setelah mengajarkan para orang tua untuk “mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun” (Ulangan 6:7), ayat selanjutnya menuntut para orang tua untuk menjadi contoh secara langsung seperti apa yang diajarkan kepada mereka. “Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” (ay 8-9). Berikan mereka contoh peran yang baik. Seperti apa kita mendidik mereka saat ini akan menghasilkan seperti apa mereka kelak di kemudian hari. Pada saatnya kelak kita akan bersukacita melihat anak-anak kita bertumbuh dalam kekudusan dan tidak mudah terpengaruh arus sesat dunia. Anda rindu untuk menikmati itu? Mulailah mendidik mereka dengan benar sesuai firman Tuhan hari ini juga.

“Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.” (Mazmur 127:4)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tags : , , , , ,

Orang Tua Bijak

Ayat bacaan: Amsal 29:17
=====================
“Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.”

orang tua bijak, investasi masa depanAda begitu banyak musisi besar yang terbentuk sejak kecil. Sebagian mewarisi DNA orang tuanya yang juga pemusik, sebagian lagi menemukan bakatnya ketika orang tua mereka membelikan mereka alat musik. Pada suatu kali seorang anak mendapati piano dipindahkan ke dalam kamarnya. Disana sang ibu sering bermain piano dan mengajarkannya bermain. Berawal dari sana, si anak ternyata menemukan bakatnya. Disamping piano, ia pun sering bermain-main dengan gitar ayahnya. Berbagai pengalaman terus membentuknya seiring sang anak menjadi dewasa. Ia pun kemudian menjelma menjadi salah satu musisi yang sangat terkenal hari ini. Dia adalah David Benoit.

Selain tanggung jawab untuk menyekolahkan dan memberi makan anak-anak kita, pentingnya mendidik dan mendewasakan mereka, menyiapkan mental mereka sejak kecil pun menjadi hal yang tidak kalah pentingnya. Ada banyak orang tua melupakan aspek ini karena mereka terlalu sibuk untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya secara materil saja. Banyak orang tua terutama ayah yang jarang di rumah karena terlalu sibuk bekerja, dan ketika mereka di rumah mereka tidak lagi punya waktu untuk bermain atau mendidik anak-anaknya karena sudah terlalu lelah bekerja. Kelelahan pun seringkali membuat mereka gampang emosi. Sedikit saja ada yang tidak beres, amarah pun meledak sehingga anak-anak menjadi takut melihat mereka. Ketika anak mereka terjerumus ke dalam berbagai perilaku buruk, mereka pun menjadi heran. “Bukankah aku sudah mati-matian mencukupi semua kebutuhanmu? Lalu apalagi yang kurang?” Ini keluhan banyak orang tua ketika mereka mendapati anaknya terjatuh dalam kehidupan yang salah. Mereka lupa bahwa mempersiapkan anak sejak kecil agar bertumbuh di tanah yang baik merupakan investasi yang sangat menguntungkan ke depannya. Karena itulah penulis Amsal berkata: “Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.” (Amsal 29:17).

Bagaimana Timotius bisa menjadi seorang pemimpin gereja pada usia mudanya? Dalam usia yang masih sangat muda, Timotius sudah dikenal sebagai anak rohani Paulus yang kemudian menjadi teman sekerja Paulus dalam melayani. Alkitab mencatat semua itu berawal dari nenek Timotius yaitu Lois. Iman sang nenek, Lois kemudian turun kepada ibunya, Eunike, dan kemudian diwariskan pula kepada Timotius sang anak. Alkitab mencatat demikian “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu” (2 Timotius 1:5). Kita bisa melihat bahwa peran nenek dan ibu Timotius sungguh besar dalam memberi keteladanan kepadanya, membekali dirinya dengan firman Tuhan sehingga ia pun bertumbuh benar sejak kecil dan kemudian dipakai Tuhan dengan luar biasa sejak masa mudanya. Timotius menjadi orang benar bukan karena kotbah penginjil, tapi justru lewat peran nenek dan ibunya yang membimbing Timotius, mengenalkannya dengan firman Tuhan semenjak kecil. Paulus mengingatkan kepada Timotius bahwa tugasnya sesungguhnya tidaklah mudah. “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya, sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan.” (3:12-13) Agar bisa tetap kuat dan teguh dalam pelayanan, Paulus pun menasehati Timotius untuk terus berpegang kepada kebenaran seperti yang telah diajarkan oleh ibu dan neneknya sejak kecil. “Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.” (ay 14-15). Lihatlah bagaimana besarnya keuntungan dari investasi iman yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anak mereka.

Peran orang tua sangatlah penting dalam perkembangan jiwa dan kepribadian anak-anak mereka menuju kedewasaan. Mungkin banyak orang tua yang mengajar anak-anaknya sejak kecil lewat firman Tuhan, namun apa yang mereka contohkan dalam perilaku sehari-hari justru menggambarkan sebaliknya. Hal itu tidak akan memberi keteladanan yang baik kepada si anak. Ada banyak pula orang tua yang bersikap otoriter, memaksakan kehendak mereka dan tidak jarang menimbulkan kepahitan dalam jiwa anak-anaknya. Paulus pun mengingatkan akan hal ini: “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.” (Kolose 3:21) dan dalam kesempatan lain ia berkata: “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” (Efesus 6:4). Jika kita ada di posisi anak, jangan pula kita menolak ajaran yang diberikan orang tua kita. “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu”. (Amsal 1:8). Ingatlah bahwa membekali anak dengan firman Tuhan akan sangat menentukan bagi masa depan anak-anak kita. Mungkin tidak gampang untuk bisa menunjukkan keteladanan di tengah pergolakan hidup yang begitu sulit. Saya menyadari sulitnya mengemban begitu banyak tugas dan tanggungjawab sebagai orang tua, namun jika hal itu bisa memberikan investasi yang sangat menguntungkan bagi masa depan anak-anak kita, mengapa tidak? Jika kita mendidik anak kita dengan benar sejak dini sesuai dengan jalan Tuhan, dan memberikan mereka keteladanan bagaimana cara hidup yang berkenan di hadapan Tuhan, pada satu saat nanti kita sebagai orang tua akan mendapatkan ketentraman dan sukacita melihat pola hidup mereka. Ingatlah bahwa anak-anak kita akan selalu memperhatikan cara hidup kita tanpa disadari, dan memberi contoh hidup yang baik, kudus dan benar akan membuat mereka menjadi anak-anak yang mengenal Tuhan sejak usia mudanya. Jadilah orang tua bijak.

Pengenalan akan firman Tuhan yang ditanamkan sejak kecil merupakan investasi yang menguntungkan bagi masa depan anak

Tags : , , , , ,

Takut Akan Tuhan

Ayat bacaan: Pengkotbah 12:13-14
==========================

Ada banyak orang yang takut akan banyak hal didunia ini. Misalnya takut akan ketinggian, takut akan ruang sempit, takut keramaian, takut akan serangga, atau takut akan kegelapan. Sebagian orang butuh terapi menahun untuk dapat melepaskan diri dari rasa takutnya. Ada pula yang begitu takut kepada ayahnya, sehingga melihat ayahnya pun mereka sudah berkeringat dingin, gemetaran. Saya pernah mendengar, ada ibu yang begitu tegas dan kaku dalam mendidik anak, sehingga setiap kali anaknya mengerjakan tugas dari sekolah, ia gemetaran, bahkan akhirnya berteriak histeris ketika ibunya duduk didepannya. Kita tentu ingat, Salomo menasihatkan agar kita semua takut akan Tuhan. Seperti itu kah takut akan Tuhan?

Ada banyak orang Kristen bereaksi negatif terhadap kata takut akan Tuhan ini.Menurut mereka, Tuhan itu penuh kasih, baik dan lembut. Dan itu tentu benar. Ada juga yang mengatakan, sebagai murid Yesus, dosa yang mengikat mereka telah dipatahkan. Itu sangat benar. Kalau begitu, apakah nasihat Salomo ini tidak berlaku buat orang2 percaya,dan hanya untuk mereka yang belum diselamatkan? atau lebih lagi, apakah Salomo hanya menasihati untuk orang2 di Perjanjian Lama?

Takut akan Tuhan, selain pada nasihat Salomo, juga terdapat berulang kali di Perjanjian Baru. Artinya kalimat ini berlaku buat kita semua. Takut akan Tuhan bukanlah seperti bentuk ketakutan duniawi. Takut akan Tuhan menjadi jelas maksudnya ketika kita mengerti siapa Tuhan itu. Takut akan Tuhan menjelaskan tentang kekuatan, kebesaran, otoritas dan kekudusan Tuhan. Takut akan Tuhan adalah bentuk rasa takut yang sehat. Artinya kita patuh pada perintahNya, menghormati Dia, berpegang padaNya, mengenal Dia sebagai Tuhan yang absolut, dan memuliakanNya. Rasa takut akan Tuhan membawa kita lebih dekat padaNya, bukan menjauhkan. Takut akan Tuhan menunjukkan kita tahu siapa Tuhan sebenarnya, dan menggambarkan hubungan serasi antara Sang Pencipta dan yang diciptakanNya. Kita menanggapi dengan sungguh2, dan punya hasrat untuk menyenangkanNya dengan apapun yang kita punyai, lakukan atau katakan, mendasarkan segalanya pada Tuhan kapanpun dan dimanapun.

Tidak seperti ketakutan duniawi, takut akan Tuhan membuat kita lebih dekat dan lebih mengenal Sosok yang selama ini setia mengasihi kita.

Tags : , , , , ,