Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

29 Jan – Ibr 10:1-2, 8-19; Mrk 4:35-41

"Mengapa kamu begitu takut?”

(Ibr 10:1-2, 8-19; Mrk 4:35-41)

 

“Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang." Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?" Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?" Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Mrk 4:35-410, demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas  bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Maju kena mundur kena”, begitulah kiranya kata-kata yang ada dalam hati banyak orang masa kini dalam menghadapi aneka pertumbuhan dan perkembangan yang begitu pesat maupun aneka masalah dan tantangan. Memang ada orang takut untuk tumbuh dan berkembang, karena untuk itu harus berani berjuang dan berkorban. Sabda Yesus hari ini mengajak dan mengingatkan kita semua agar tidak takut menghadapi aneka tantangan, masalah maupun hambatan kehidupan. Penakut pada umumnya ada ancaman kecil atau sedikit saja langsung berteriak-teriak. Penakut berarti kinerja syarat dan metabolisme darah atau otak bawah sadar atau otak yang berada dalam seluruh anggota tubuh kita tidak berfungsi secara normal atau prima. Sebaliknya jika kita tidak pernah takut berarti otak bawah sadar kita berfungsi secara prima, sehingga mampu mengatasi atau menghadapi aneka macam tantangan, masalah dan hambatan. Penakut berarti juga kurang/tidak beriman. Pemberani berarti memiliki harapan dan dengan penuh harapan menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan, yang berarti harapan menjadi nyata dalam kasih atau tindakan konkret. Marilah kita bersikap ksatria, meneladan Werkudoro yang tanpa takut dan gentar menerobos hutan belantara yang penuh ancaman dan bahaya guna mengusahakan kehidupan sejati. “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung”, demikian motto orang yang tidak takut alias pemberani. Hendaknya jika kita berkehendak baik tidak takut sedikitpun untuk mewujudkan kehendak tersebut dalam tindakan, meskipun ada kemungkinan yang kita lakukan salah. “Trial and error” (mencoba dan bersalah) hendaknya juga menjadi pedoman cara hidup dan cara bertindak kita. Takut mencoba tak akan tumbuh dan berkembang.

·   "Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.”(Ibr 10:9). Kutipan ini hendaknya menjadi pedoman atau acuan kita setiap kali kita melangkah atau datang ke suatu tempat, misalnya tempat belajar atau bekerja. Datang ke tempat belajar berarti untuk belajar, maka ketika sedang belajar kami harapkan belajar dengan sungguh-sungguh sehingga terampil belajar, demikian juga datang ke tempat kerja, sehingga terampil bekerja. Keterampilan inilah hendaknya yang kita usahakan dengan perjuangan dan pengorbanan, bukan selembar kertas berupa pengakuan formal alias ijasah atau sertifikat. Kita boleh belajar dari Bapak Andrie Wongso, promotor yang terkenal di Indonesia, yang dengan sungguh-sungguh bekerja keras sendiri (auto-didak), Ia memiliki cita-cita: ‘Success in my life”. Salah satu motto dalam mengusahakan sukses antara lain “Besi batangan pun kalau digosok terus menerus pasti menjadi sebatang jarum yang tajam”. Dalam hidup sehari-hari ada dukungan dalam melakukan kehendak Tuhan antara lain berupa aturan atau tata tertib, maka hendaknya senantiasa mentaati atau melaksanakan aneka aturan dan tata tertib yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Aneka aturan dan tata tertib dibuat dan diberlakukan atau diundangkan untuk dihayati atau dilaksanakan, bukan hanya untuk hiasan saja. Dengan kata lain jika kita mengikuti aturan atau tata tertib yang berlaku hendaknya tidak takut melangkah atau bertindak. Hendaknya juga tidak takut mengingatkan dan menegor saudara-saudari kita yang tidak taat pada aturan dan tata tertib. Kami berharap para penegak dan pejuang kebenaran dan keadilan tanpa takut dan gentar terus berjuang, meskipun untuk itu harus menghadapi aneka ancaman dan terror.

 

“Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, — seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus — untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut,  dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita

(Luk 1:69-75)     .

Jakarta, 29 Januari 2011

9 Jan – Pesta Pembaptisan Tuhan: Yes 42:1-4.6-7; Kis 10:34-38; Mat 3:13-17

Pesta Pembaptisan Tuhan: Yes 42:1-4.6-7; Kis 10:34-38; Mat 3:13-17

"Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."

Pesta Pembaptisan Tuhan: Yes 42:1-4.6-7; Kis 10:34-38; Mat 3:13-17


Melalui pembaptisan orang-orang dimasukkan ke dalam misteri Paska Kristus: mereka mati, dikuburkan dan dibangkitkan bersama Dia; mereka menerima roh pengangkatan menjadi putera, dan dalam roh itu kita berseru ‘Abba, Bapa'; demikianlah mereka menjadi penyembah sejati, yang dicari oleh Bapa” (Konsili Vatikan II: SC no 6). Dari kutipan ini dapat kita temukan beberapa unsur yang terkait dengan pembaptisan, yaitu : inisiasi, persaudaraan sejati dan penyembah sejati. Maka baiklah dalam rangka mengenangkan pesta pembaptisan Tuhan hari ini kita kenangkan juga rahmat pembaptisan yang telah kita terima.

 

Orang dimasukkan ke dalam misteri Paska Kristus”

 

Dibaptis berarti disisihkan atau dipersembahkan seutuhnya kepada Tuhan, dengan kata lain orang yang telah dibaptis boleh dikatakan suci alias senantiasa hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan. Symbol dalam upacara pembaptisan sarat dengan makna kesucian tersebut, antara lain air yang berfungsi membersihkan, kain putih lambang kesucian dan lilin bernyala yang melambangkan terang artinya orang yang dibaptis senantiasa membawa terang dimanapun berada atau kemanapun pergi.  

 

Baptis merupakan rahmat atau anugerah Allah dan dengan anugerah Allah ini yang dibaptis diharapkan menghayati misteri Paska Kristus, yaitu wafat dan kebangkitanNya, maka ketika dibaptis orang berjanji ‘hanya mau mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak semua godaan setan’. Untuk menghayati janji ini kita tak mungkin hanya mengandalkan diri sendiri tanpa anugerah atau rahmat Allah. Godaan setan pada masa kini sungguh berat, antara lain menggejala dalam tawaran harta benda/uang, pangkat/kedudukan dan kehormatan dunia. Orang yang tak mampu mengalahkan godaan setan ini akan menjadi ‘gila akan harta benda/uang, kedudukan/pangkat dan kehormatan dunia’, sehingga ketika tiada harta benda/uang, pangkat/kedudukan dan kehormatan duniawi orang sungguh ‘gila atau sinthing’

 

Dibaptis juga berarti menempuh hidup baru, hidup yang dijiwai oleh Roh Kudus atau sabda-sabda Tuhan, sehingga cara hidup dan cara bertindaknya dijiwai atau menghasilkan keutamaan-keutamaan seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Orang yang telah dibaptis sungguh menjadi ‘anak kekasih Tuhan, cara hidup dan cara bertindaknya berkenan di hati Tuhan’. Dengan kata lain kita semua yang telah dibaptis sama-sama menjadi ‘anak Tuhan’, maka kita semua adalah saudara atau sahabat.        

 

“Menerima roh pengangkatan menjadi putera, dan dalam roh itu kita berseru ‘Abba,Bapa’

 

"Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.” (Kis 10:34-35), demikian kata Petrus. “Bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya”, inilah yang sebaiknya kita renungkan dan hayati. Takut akan Tuhan dan mengamalkan kebenaran bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan namun tak dapat dipisahkan.

 

Apa yang disebut benar senantiasa berlaku universal, dimana saja dan kapan saja, tidak terikat oleh ruang dan waktu. Orang yang berusaha mengamalkan kebenaran senantiasa berkehendak baik, dan kami percaya kita semua berkehendak baik, namun sering wujud atau realisasinya dapat berbeda-beda, maka baiklah kita sinerjikan kehendak baik kita, antara lain dengan saling mensharingkan kehendak baik dengan rendah hati dan keterbukaan. “Allah tidak membedakan orang”, inilah pegangan atau acuan kita dalam usaha mensinerjikan kehendak baik kita. Maka hendaknya aneka perbedaan yang ada di antara kita dijadikan daya tarik atau daya pikat untuk saling mengenal, mendekat dan bersahabat. Memang pertama-tama dan terutama kita harus dapat menghayati apa yang sama di antara kita agar dapat menghayati apa yang berbeda sebagai daya tarik atau daya pikat. Yang sama di antara kita antara lain: sama-sama manusia, ciptaan Allah, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Allah, sama-sama mendambakan hidup bahagia dan damai-sejahtera, dst..

 

Karena kita sama-sama ‘anak’, maka kita adalah saudara, dan dengan demikian dipanggil untuk hidup dan bertindak dalam persaudaraan sejati. Persaudaraan sejati sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan dalam kehidupan bersama masa kini. Kami berharap anak-anak di dalam keluarga sedini mungkin dididik dan dibiasakan hidup bersaudara atau bersahabat dengan siapapun, tanpa membedakan SARA, usia dll.. Jika kita berhasil menghayati hidup penuh persaudaraan di dalam keluarga, maka kita memiliki modal atau kekuatan untuk membangun dan mengusahakan persaudaraan sejati dalam lingkungan hidup yang lebih luas. Persaudaraan sejati antar kita merupakan wujud persaudaraan atau persahabatan kita dengan Tuhan. Bersaudara atau bersahabat dengan Tuhan mau tak mau kita harus bersembah sujud atau berbakti kepadaNya. Maka marilah kita mawas diri sebagai yang telah dibaptis perihal panggilan untuk ‘menjadi penyembah sejati’     

“Mereka menjadi penyembah sejati”    

 

Jika orang sungguh menjadi penyembah sejati, maka ia akan mendengarkan suara Tuhan, sebagaimana disabdakan kepada Yesaya ini :”Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara.” (Yes 42:6-7). Menjadi penyembah sejati memang tak melupakan hidup doa, sehingga mau tak mau akan dipanggil ‘menjadi terang untuk bangsa-bangsa, dst..’.

 

Menjadi terang untuk bangsa-bangsa berarti cara hidup dan cara bertindaknya menjadi jalan atau petunjuk untuk hidup baik dan benar atau berbudi pekerti luhur. Dibaptis memang memiliki dimensi panggilan missioner atau diutus, diutus untuk menjadi jalan atau petunjuk bagi orang lain menuju Tuhan, untuk bersembah-sujud kepada Tuhan. Maka dengan ini kami mengingatkan kita semua yang telah dibaptis untuk mawas diri: apakah cara hidup dan cara bertindak kita sungguh memikat dan menarik bagi orang lain, sehingga mereka meniru cara hidup dan cara bertindak kita,  tentu saja cara hidup atau cara bertindak yang baik atau berbudi pekerti luhur. Maka ketika ada saudara-saudari kita yang telah dibaptis, entah imam, bruder atau suster atau awam, yang hidup dan bertindak tidak baik, hendaknya diperingatkan dan ditanyai “Apakah anda telah dibaptis? Ingat akan janji baptis anda!”

 

Kepada TUHAN, hai penghuni sorgawi, kepada TUHAN sajalah kemuliaan dan kekuatan! Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan! Suara TUHAN di atas air, Allah yang mulia mengguntur, TUHAN di atas air yang besar. Suara TUHAN penuh kekuatan, suara TUHAN penuh semarak.” (Mzm 29:1-4)

Jakarta,9 Januari 2011

14 Des – Zef 3:1-2.9-13; Mat 21:28-32

“Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?"

(Zef 3:1-2.9-13; Mat 21:28-32)

 

"Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya." (Mat 21:28-32), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Yohanes dari Salib, imam dan pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Jujur, apa adanya atau transparan itulah suatu keutamaan yang sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan masa kini, mengingat dan memperhatikan kebohongan dan sandiwara kehidupan atau korupsi masih marak di sana-sini Dalam kisah warta gembira hari ini antara lain diceriterakan perihal dua anak: pertama  mengatakan ya tetapi tidak melaksanakan sedangkan anak kedua dengan jujur mengatakan tidak bisa. Anak kedua inilah yang menerima pujian dan pembenaran dari Yesus. “Jujur pasti hancur”, demikian rumor yang sering beredar. Memang benar hidup dan bertindak jujur akan hancur untuk sementara tetapi akan mujur selama-lamanya. Hidup dan bertindak jujur berarti menghayati iman pada Yang Tersalib, siap sedia dan rela menderita sementara demi kebahagiaan atau keselamatan selama-lamanya. Maka dengan ini kami mengajak anda semua untuk mawas diri: sejauh mana buah perjalanan iman sampai kini berbuahkan kejujuran? “Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur – Balai Pustaka , Jakarta 1997, hal 17). Kami berharap kepada para penegak hukum seperti hakim, jaksa, polisi serta pakar hukum dst.. sungguh dengan jujur melaksanakan tugas pengutusan atau kewajibannya sehari-hari. Secara khusus juga kami ingatkan kepada para orangtua atau bapak-ibu untuk sedini mungkin mendidik anak-anaknya hidup dan jujur bertindak jujur kapanpun dan dimanapun.

·   Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka akan mencari perlindungan pada nama TUHAN” (Zef 3:12). Semoga kita termasuk orang “yang rendah hati dan lemah, …mencari perlindungan pada nama Tuhan” dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimanapun dan kapanpun. Ingatlah dan hayati bahwa kita berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah setelah meninggal dunia atau dipanggil Tuhan, bahwa kita dapat hidup seperti saat ini hanya karena kemurahan dan kasih Tuhan yang telah kita terima melalui orang-orang yang telah berbuat baik kepada kita. Entah berapa orang yang telah berbuat baik kepada kita, kiranya tak satu orangpun di antara kita mampu menghitung atau mengingat kembali semua kebaikan yang telah kita terima. Maka selayaknya kita hidup dan bertindak dengan rendah hati, tidak sombong dan tidak angkuh. Dia yang kita tunggu-tunggu kedatanganNya sungguh rendah hati, dan hanya dalam kerendahan hati kita akan mampu melihat, menikmati dan mengimani kedatanganNya. “Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya” (Prof  Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur – Balai Pustaka, Jakarta 1997, hal 24). Kami harapkan semakin berpengalaman, semakin tua/tambah umur, semakin kaya akan harta benda atau uang, semakin pandai/cerdas, semakin tinggi fungsi atau jabatan dalam hidup bersama dst.. hendaknya semakin rendah hati. Jika tidak rendah hati berarti tidak beriman, tidak percaya pada Tuhan, pada penyelenggaraanNya. Tuhan berkarya dimana saja dan kapan saja, tidak terikat oleh ruang dan waktu, maka baiklah sebagai umat beriman kita senantiasa mengusahakan perlindungan pada nama Tuhan.

 

“Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu. Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.”

 (Mzm 34:2-3.6-7)

  Jakarta, 14 Desember 2010         

     

4 Des – Yes 30:19-2123-26 ; Mat9:35-10:16-8

Pergilah dan beritakanlah bahwa Kerajaan Sorga sudah dekat
Yes30:19-2123-26 ; Mat9:35-10:16-8

“Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.…..pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-Cuma” (Mat9:35-10:16-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

“Madecer” = Masa depan cerah, itulah motto yang berlaku bagi mereka yang terpanggil untuk menjadi imam, bruder atau suster, artinya tidak akan kekurangan pekerjaan atau tugas alias tak akan menganggur. Namun sayang bahwa jumlah imam, bruder atau suster mengalami kemerosotan, demikian juga kemerosotan kwalitas. Kemerosotan tersebut antara disebabkan oleh sikap mental materialistis yang begitu menjiwai banyak orang masa kini atau oleh gerakan keluarga berencana dimana dua atau satu anak cukup. Maka dengan ini kami berharap agar anak-anak sedini mungkin dibina perihal kepekaan sosial, perhatian terhadap yang lain, terutama mereka yang miskin dan berkekurangan. Dengan pembinaan sosial kami berharap anak-anak tumbuh berkembang menjadi ‘man or woman with/for others’. Tentu saja kami juga berharap kepada para orangtua jika anak-anaknya atau salah satu anaknya tergerak untuk menjadi imam, bruder atau suster tidak dilarang, mengingat dan memperhatikan bahwa pada masa kini yang sering merasa berat ketika anak ingin menjadi imam, bruder atau suster adalah orangtua. Anak-anak adalah anugerah Tuhan, maka baiklah ketika Tuhan memanggilnya untuk menjadi imam, bruder atau suster dengan jiwa besar dan hati rela berkorban didukung dengan sepenuh hati. Kami juga berharap kepada seluruh umat untuk mendukung hidup dan panggilan para imam, bruder atau suster, entah dengan mendoakannya atau memberi bantuan sesuai dengan kebutuhan karya pelayanannya. Ketika melihat atau mendengar ada imam, bruder atau suster nampak kurang setia pada panggilannya hendaknya sedini mungkin diingatkan.

“Walaupun Tuhan memberi kamu roti dan air serba sedikit, namun Pengajarmu tidak akan menyembunyikan diri lagi, tetapi matamu akan terus melihat Dia, dan telingamu akan mendengar perkataan ini dari belakangmu: "Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya," entah kamu menganan atau mengiri” (Yes30:20-21). Kutipan dari kitab Yesaya di atas ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk membuat mata dan telinga kita peka terhadap sapaan atau sentuhan Tuhan melalui saudara-saudari kita maupun aneka macam peristiwa di lingkungan hidup kita. Sapaan atau sentuhan Tuhan tersebut dapat berupa ajakan untuk berbuat baik kepada orang lain, antara lain membantu mereka yang miskin dan berkekurangan atau menderita karena menjadi korban bencana alam atau musibah. Bukalah mata dan telinga anda terhadap apa yang terjadi di lingkungan hidup anda!. Ketika ada ajakan untuk berbuat baik dan berkorban bagi orang lain hendaknya segera diikuti dan dihayati, dan jangan ditolak atau dihindari. Ingatlah perbuatan dan pengorbanan yang kita berikan kepada orang lain tidak akan berkurang melainkan semakin bertambah, artinya kita semakin senang berbuat baik dan berkorban dimanapun dan kapanpun. “Berjalanlah mengikutinya, entah kamu menganan atau mengiri”, demikian peringatan Yesaya. Karyu Roh memang dapat kita dengar dan lihat, namun kita tidak tahu ke arah mana Roh menghendaki kita berjalan, kita tidak tahu. Yang dibutuhkan dari kita adalah kesiap-siagaan untuk melakukan sesuatu yang baik atau kehendak Roh Kudus. Masa adven juga masa untuk mawas diri perihal kesiap-siagaan kita sebagai umat beriman dalam menanggapi panggilan Tuhan.

“Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu.TUHAN membangun Yerusalem, Ia mengumpulkan orang-orang Israel yang tercerai-berai; Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka;Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama-nama semuanya. Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, kebijaksanaan-Nya tak terhingga.TUHAN menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi merendahkan orang-orang fasik sampai ke bumi.” (Mzm147:1-6)

Jakarta, 4 Desember 2010

24 Nov – Why 15:1-4; Luk 21:12-19

“Kalau kamu tetap bertahan kamu akan memperoleh hidupmu”

(Why 15:1-4; Luk 21:12-19)

 

“Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Dan kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.” (Luk 21:12-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Andreas Dung Lac, imam dan kawan-kawannya, para martir Vietnam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hidup dan bertindak benar, jujur serta disiplin maupun berani memperjuangkan kebenaran, kejujuran dan kedisplinan masa kini sering harus menghadapi penguasa yang korup dan tidak jujur, bahkan ada kemungkinan untuk disingkirkan atau dibunuh. Namun dalam rangka mengenangkan para martir Vietnam maupun menghayati dimensi kemartiran iman atau agama kita, marilah kita hayati sabda Yesus “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu”. Kita dipanggil untuk setia dan bertahan pada jati diri kita masing-masing, panggilan maupun tugas pengutusan kita. Mungkin baik sebagai orang yang telah dibaptis dan pernah berjanji untuk hanya mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak semua godaan setan, kami mengajak anda untuk mawas diri sejauh mana kita setia pada janji baptis tersebut. Mengabdi Tuhan Allah saja dalam hidup sehari-hari berarti senantiasa melakukan apa yang baik dan benar, hidup jujur, setia dan disiplin. Godaan atau rayuan untuk melanggar janji baptis pada masa kini memang cukup banyak, mengingat dan memperhatikan kemerosotan moral hampir di semua bidang kehidupan masih marak di sana-sini. Salah satu bentuk kemartiran adalah bertahan untuk setia dan taat pada janji, meskipun untuk itu harus menghadapi tantangan dan hambatan, atau ada kemungkinan disingkirkan. Pengalaman menunjukkan bahwa mereka yang bertahan dalam iman dan janji, meskipun untuk itu harus menderita secara phisik akhirnya sekarang hidup mulia dan damai sejahtera, meskipun tidak kaya akan harta benda atau uang. Yang penting atau utama adalah keselamatan jiwa.


·   "Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa! Adil dan benar segala jalan-Mu, ya Raja segala bangsa! Siapakah yang tidak takut, ya Tuhan, dan yang tidak memuliakan nama-Mu? Sebab Engkau saja yang kudus; karena semua bangsa akan datang dan sujud menyembah Engkau, sebab telah nyata kebenaran segala penghakiman-Mu.” (Why 15:3-4), demikian nyanyian Musa yang menjadi kesukaan orang beriman untuk dinyanyikan.  Marilah nyanyian ini kita nyanyikan dengan sepenuh hati agar menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita. Kita diingatkan untuk senantiasa menelusuri ‘jalan Tuhan’ dalam hidup sehari-hari, dalam aneka pelayanan dan pekerjaan kita, atau senantiasa bersembah-sujud kepadaNya melalui ciptaan-ciptaanNya terutama manusia yang diciptakan sebagai gambar atau citra Tuhan. Menelusuri ‘jalan Tuhan’ antara juga berarti menemukan dan mentaati serta melaksanakan kehendak Tuhan yang hidup dan berkarya dalam diri sesama manusia, dengan kata lain melihat kehendak baik yang ada dalam diri sesama dan kemudian disijernikan dengan kehendak baik kita. Pekerjaan Tuhan sungguh besar dan ajaib, antara lain menganugerahi pertumbuhan dan perkembangan ciptaan-ciptaanNya serta mengihiasi atau mendandani sedemikian rupa sehingga menarik, mempesona serta memikat, misalnya sesama manusia yang tampan atau cantik, aneka jenis bunga yang warna-warni, aneka jenis binatang yang lucu, dst… Marilah kita hayati dan imani bahwa apa yang menarik, mempesona dan memikat dalam ciptaan-ciptaanNya adalah karya agung Tuhan, maka hendaknya jangan dirusak atau dihancurkan. Ketika melihat apa yang menarik, mempesona atau memikat, hendaknya kemudian bersembah-sujud kepada Tuhan alias semakin beriman. Marilah kita saling bersembah-sujud, melayani dan membahagiakan, memuji dan bersyukur serta berterima kasih.

 

“Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa.” (Mzm 98:1-2)

Jakarta, 24 November 2010       .   

19 Nov – Why 10:8-11; Luk 19:45-48

“Seluruh rakyat terpikat kepadaNya dan ingin mendengarkan Dia”

(Why 10:8-11; Luk 19:45-48)

 

“Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun." Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia” (Luk 19:45-48), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kehadiran dan karya Yesus, Penyelamat dunia, antara lain menyingkapkan apa yang tersembunyi dalam kedalamam lubuk hati manusia: mereka yang percaya kepadaNya semakin terpikat dan senang mendengarkan ajaran-ajaranNya, sedangkan mereka yang tak percaya kepadaNya semakin tergerak untuk memusnahkanNya. Memang itulah yang juga masih terjadi pada masa kini: orang-orang baik, benar dan jujur yang berani membongkar aneka kejahatan dalam hidup dan kerja bersama, terutama yang dilakukan oleh para pejabat dan penguasa, maka mereka dengan segala upaya disingkirkan oleh para penguasa atau pejabat, yang merasa terganggu dengan sepak terjang maupun suara orang-orang benar tersebut. Namun karena mereka takut terhadap rakyat, maka cara menyingkirkan nampak begitu halus dan konstitusional. Sebagai contoh yang terjadi di Indonesia antara lain kaus ‘Bank Century’. Meskipun harus menghadapi aneka ancaman atau terror dari mereka yang berkuasa, kami berharap kepada para pejuang kebenaran dan  kejujuran jalan terus dan tetaplah tegar serta jangan takut, dan percayalah bahwa ‘rakyat terpikat pada cara hidup dan cara kerja serta perjuangan anda’. Dengan ini kami juga berharap kepada para penguasa dan pejabat untuk dengan rendah hati mendengarkan suara dan dambaan rakyat serta menanggapinya dengan sungguh-sungguh: bekerjalah sedemikian rupa sehingga rakyat terpikat pada anda serta senang mendengarkan arahan atau omongan anda. Kasus penyelamatan 33 orang pegawai tambang di Chile yang terjebak selama 69 hari dalam kedalaman lebih dari 600 m bulan lalu sungguh menjadi inspirasi luar biasa bagi para penguasa maupun pejabat. Semoga apa yang dilakukan oleh presiden Chile menjadi teladan dan dicontoh oleh para pemimpin Negara di dunia ini.

·   "Engkau harus bernubuat lagi kepada banyak bangsa dan kaum dan bahasa dan raja." (Why 10:11), demikian kata malaikat kepada seseorang yang telah ‘makan gulungan kitab kehidupan’. Saya merasa apa yang dilakukan oleh presiden Chile sesuai dengan apa yang dikatakan oleh malaikat tersebut: ia telah makan gulungan kitab kehidupan, sehingga berani mengorbankan milyardan rupiah demi 33 warganya yang harus diselamatkan, dan apa yang dilakukan sungguh menjadi nubuat bagi seluruh bangsa dan pemimpin dunia, sehingga para pemimpin dunia berterima kasih dan bersyukur kepada presiden Chile maupun rakyatnya. Banyak bangsa dan pemimpin yang baik dan berbudi pekerti luhur terkesima menyaksikan peristiwa penyelamatan tersebut dan tergerak untuk melakukan apa yang sama di negaranya. Pada hari-hari terakhir tahun Liturgy ini kita memang diingatkan pentingnya memperhatikan keselamatan jiwa manusia, maka hendaknya keselamatan jiwa manusia senantiasa menjadi barometer atau ukuran keberhasilan usaha dan pelayanan, bukan harta benda atau uang. Ada motto ‘vox populi, vox Dei’ = suara rakyat/bangsa, suara Tuhan. Motto ini kiranya mengingatkan dan mengajak para pemimpin dunia atau Negara dimanapun untuk senantiasa mendengarkan dambaan rakyat serta melayaninya demi kesejahteraan dan keselamatan mereka. Tanda keberhasilan utama dan pertama-tama pelayanan seorang pemimpin adalah rakyatnya atau yang ia pimpin hidup dalam damai sejahtera baik lahir maupun batin, phisik maupun spiritual. Kami berharap kepada para bupati/walikota, gubernur, presiden beserta para menteri atau pembantunya di negeri Indonesia tercinta ini sungguh berpihak para rakyat, melayani, membahagiakan dan mensejahterakan rakyat, bukan untuk memperkaya diri, keluarga maupun kerabat-kerabatnya. Semoga pemberitaan di berbagai mass media, entah cetak maupun elektorik tentang penyelamatan 33 pegawai tambang di Chile menjadi contoh yang inspiratif dan selanjutnya juga diusahakan di seluruh dunia.

 

“Atas petunjuk peringatan-peringatan-Mu aku bergembira, seperti atas segala harta Ya, peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku, menjadi penasihat-penasihatku Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku, lebih dari pada ribuan keping emas dan perak. Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku.” (Mzm 119:14.24.72.103)

  

Jakarta, 19 November 2010

    

11 Nov – Flm 7-20; Luk 17:20-25

“Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini.”

(Flm 7-20; Luk 17:20-25)


“Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu." Dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya. Dan orang akan berkata kepadamu: Lihat, ia ada di sana; lihat, ia ada di sini! Jangan kamu pergi ke situ, jangan kamu ikut. Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya. Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini.” (Luk 17:20-25), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Martinus dari Tours, Uskup, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


·   Kerajaan Allah berarti Allah yang meraja atau berkuasa. Dalam melaksanakan kuasanya Ia terus menerus berkarya di dalam seluruh ciptaanNya, terutama dalam diri manusis, maka Yesus bersabda “Sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu”. Mereka yang sungguh dirajai atau dikuasai oleh Allah di dunia pada masa kini pada umumnya tak akan terlepas dari aneka macam bentuk penderitaan, mengingat dan mempertimbangkan bahwa kemerosotan moral yang terjadi hampir di semua bidang kehidupan masih marak di sana-sini. Orang yang hidup baik dan berbudi pekerti luhur memang harus menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah, yang menguji, memurnikan dan memperteguh kebaikannya. Allah yang meraja atau berkuasa nampak dalam perilaku atau cara hidup orang yang baik dan berbudi pekerti luhur, dan hanya orang yang memiliki hati yang peka akan nilai-nilai spiritual atau keutamaan-keutamaan hidup mampu melihat, menangkap dan mengimaninya. Memang mereka yang bersikap mental Farisi alias yang bersikap mental gila akan kuasa dan kehormatan duniawi tak akan mampu melihat, menangkap dan mengimaninya, karena mereka sendiri merasa menjadi raja atas dirinya sendiri serta orang lain di sekitarnya. Marilah kita hayati dan imani karya Allah dalam diri kita masing-masing, yang menganugerahi pertumbuhan dan perkembangan serta hati untuk mencinta, bersyukur dan berterima kasih. Kita hayati dan imani bahwa segala sesuatu yang baik, indah, mulia, luhur dalam diri kita adalah angerah atau karya Allah.


·   Dari kasihmu sudah kuperoleh kegembiraan besar dan kekuatan, sebab hati orang-orang kudus telah kauhiburkan, saudaraku.” (Flm 7),  demikian kesaksian iman Paulus kepada Filemon. Orang-orang kudus adalah orang-orang suci, yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah dalam dan melalui hidup sehari-hari. Dalam iman kita hayati bahwa para uskup adalah kudus, yang terpilih dan suci. Merupakan kegembiraan besar bagi para uskup ketika kita sebagai umat Allah hidup saling mengasihi dan melayani, karena hal itu juga menjadi tugas utama para uskup, hidup mengasihi dan melayani. Maka kalau hari ini kita mengenangkan St.Martinus, uskup, kami mengajak anda sekalian, sebagai umat Allah; marilah kita dukung karya uskup kita masing-masing dengan hidup saling mengasihi dan melayani. Ingatlah dan hayati bahwa masing-masing dari kita adalah yang terkasih, buah kasih, maka perjumpaan antar kita dimanapun dan kapanpun hendaknya secara otomatis saling mengasihi, karena bertemu dengan orang lain berarti yang terkasih bertemu dengan yang terkasih. Paulus mengatakan bahwa dari kasih diperoleh kegembiraan dan kekuatan. Rasanya apa yang dikatakan oleh Paulus ini bukan omongan kosong belaka, melainkan sungguh nyata. Coba refleksikan pengalaman anda sendiri: bukankah ketika anda merasa dikasihi pasti akan gembira dan kuat, tidak takut dan tidak gentar menghadapi aneka macam masalah, tantangan dan hambatan kehidupan? Binatang buas pun ketika didekati dalam dan oleh kasih akan terkalahkan alias dapat menjadi sahabat, apalagi manusia. Marilah kita sikapi segala sesuatu yang mendatangi kita sebagai kasih, sehingga kita senantiasa hidup dalam kasih dan syukur. Jika kita sungguh hidup dalam kasih dan syukur, imanilah kita pasti kuat menghadapi aneka macam masalah, tantangan dan hambatan kehidupan.

 

“TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung, TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar. TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya. TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-temurun! Haleluya” (Mzm 146:7-10)

 

Jakarta, 11 November 2010

10 Nov – Tit 3:1-7; Luk 17:11-19

“Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?"

(Tit 3:1-7; Luk 17:11-19)


“Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau." (Luk 17:11-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Leo Agung, Paus dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


·   Hidup bersyukur dan berterima kasih rasanya pada masa kini tidak mudah, mengingat dan mempertimbangkan kecenderungan banyak orang untuk lebih menyombongkan diri serta hidup serakah, sebagai dampak kebebasan dalam era reformasi ini. Hal itu kiranya juga didukung tidak adanya atau kurang adanya penghayatan hidup syukur dan terima kasih di antara anggota keluarga atau teman dekat. Dengan kata lain orang kurang menghargai hasil karya atau pelayanan anggota keluarga atau teman dekat dan lebih menghargai hasil karya atau pelayanan orang lain. Maka benarlah dan menarik untuk direnungkan sabda Yesus “Tidak adalah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”. Yesus dan sembilan orang lain yang disembuhkan termasuk orang Yahudi dan yang berterima kasih serta memuliakan Allah tersebut adalah orang Samaria: orang Yahudi dan orang Samaria kurang akrab alias bermusuhan. Apa yang terjadi ini sering kita alami juga, yaitu kita lebih menghargai orang asing daripada bangsa/teman sendiri. Marilah kita tanggapi sabda Yesus di atas dengan mawas diri: sejauh mana kita, sebagai sesama anggota keluarga atau teman dekat, saling bersyukur dan berterima kasih? Agar kita dapat bersyukur dan berterima kasih, mungkin baik begitu bangun pagi mendoakan ini “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Rat 3:22-23). Kita sadari dan hayati bahwa rahmat Tuhan senantiasa dianugerahkan kepada kita melalui orang-orang yang dekat dengan kita setiap hari.


·   “Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik. Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang.” (Tit 3:1-2), demikian peringatan atau ajakan Paulus kepada Titus, kepada kita semua umat beriman. Kiranya yang baik kita renungkan bersama adalah ‘jangan memfitnah dan bertengkar, melainkan hendaklah selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang’.Ajakan atau peringatan ini kiranya menarik dan up to date untuk kita hayati atau laksanakan mengingat dan mempertimbangkan masih maraknya pertengkaran dan fitnah di sana-sini dalam hidup sehari-hari. Kalau hari kita kita mengenangkan St Leo Agung, Paus dan Pujangga Gereja, baiklah kita dukung tugas Paus antara lain sebagai pemersatu umat Allah, dengan kata lain marilah kita senantiasa mengusahakan persaudaraan dan persahabatan sejati di antara kita. Ajakan untuk ramah dan lemah lembut berarti panggilan bagi kita semua untuk saling menghormati dan melayani sebagai sesama manusia, yang diciptakan oleh Allah sebagai gambar atau citraNya: Allah hidup dan berkarya dalam diri kita masing-masing, manusia, gambar dan citra Allah. Kami berharap para tokoh hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, yang memiliki pengaruh hidup bersama, dapat menjadi teladan dalam memberantas aneka bentuk firnah dan pertengkaran serta menggalang dan menyebarluaskan persaudaraan atau persahabatan sejati, dengan saling ramah dan lemah lembut. Secara khusus kami berharap kepada para orangtua atau bapak-ibu dapat menjadi telahan keramahan dan kelemah-lembutan dalam saling mengasihi bagi anak-anak yang dianugerahkan Allah kepada mereka.


“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah

(Mzm 23:1-5).

Jakarta, 10 November 2010

6 Nov – Flp 4:10-19; Luk 16:9-15

“Barangsiapa setia dalam perkara kecil ia setia juga dalam perkara besar”

(Flp 4:10-19; Luk 16:9-15)

 

“Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi." "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.” (Luk 16:9-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.


Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   “Sing kathon wae ora biso nggarap, ojo maneh sing ora kathon” = “Yang kelihatan saja tidak dapat mengerjakan, apalagi yang tidak kelihatan”, demikian salah satu kalimat atau nasihat dari bapak saya almarhum ketika saya masih kecil dan belum bersekolah, kepada kami anak-anaknya. Kata-kata tersebut sangat mengesan bagi saya pribadi sampai kini. Salah satu yang kelihatan dan disukai banyak orang pada masa kini antara lain ‘uang’, yang memang dapat menjadi ‘jalan ke neraka’ atau ‘jalan ke sorga’, jalan ke neraka jika orang tidak jujur dalam pengelolaan atau pengurusan uang dan jalan ke sorga jika orang jujur dalam pengelolaan atau pengurusan uang. Maka dengan ini kami berharap kepada kita semua untuk jujur dalam pengelolaan atau pengurusan uang dalam jumlah nominal berapapun. Selain itu kami berharap juga untuk menghayati atau memfungsikan harta benda atau uang sebagai sarana bukan tujuan, sarana untuk semakin beriman dan mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Secara khusus kami berseru kepada para pengurus atau pengelola karya-karya pastoral Gerejani seperti karya sosial, pendidikan dan kesehatan, yang juga tak terlepas dari urusan atau pengelolaan harta benda atau uang. Marilah kita sadari dan hayati bahwa aneka macam harta benda atau uang dalam karya-karya sebagai anugerah Tuhan yang kita terima dari mereka yang memperhatikan karya kita atau kita layani, maka hendaknya harta benda atau uang tersebut ‘dikembalikan’ arti difungsikan bagi mereka agar semakin beriman atau mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Uang dari rakyat/umat hendaknya kembalikan ke rakyat/umat melalui aneka pelayanan bagi rakyat/umat


·   “Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp 4:12-13), demikian kesaksian iman Paulus. “Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku” inilah yang kiranya baik kita renungkan dan hayati dalam hidup sehari-hari. Tentu saja hal ini pertama-tama dan terutama kita hayati dalam keluarga atau komunitas kita masing-masing: hendaknya tidak ada rahasia di antara anggota keluarga atau komunitas. Mungkin pertama dan terutama hendaknya tidak ada rahasia dalam hal keuangan atau harta benda. Kami percaya jika dalam hal harta benda atau uang tidak ada rahasia alias jujur dan transparan, maka akan memperoleh kemudahan untuk saling tukat pengalaman dalam hal iman atau pengalaman hidup sehari-hari alias ‘bercurhat’ satu sama lain. Dalam hal ini saya pribadi sungguh terkesan dengan apa yang dihayati oleh Bapak Yustinus Kardinal Darmojuwono Pr alm dalam pengelolaan atau pengurusan uang selama  Yang Mulia bertugas sebagai pastor paroki Banyumanik – Semarang Selatan, setelah berhenti sebagai uskup. Segala pengeluaran dan pemasukan uang berapa pun jumlahnya dicatat dalam buku jurnal setiap hari, kurang lebih selama sembilan tahun lamanya (hal itu terlihat dalam buku jurnal yang saya temukan ketika saya harus mengurus peninggalan alm yang berada di kamarnya). Ia yang besar ternyata setia juga terhadap yang kecil-kecil, itulah pelajaran yang saya peroleh. Tiada rahasia dalam hal keuangan yang diterima dari umat Allah.. Semoga antar suami-isteri di dalam keluarga tidak ada rahasia dalam hal uang atau harta benda dan bersama-sama mendidik dan mendampingi anak-anak untuk jujur dalam pemanfaatan, pengurusan atau pengelolaan aneka jenis harta benda atau uang.

 

“Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati.” (Mzm  112:1-2)

 

Jakarta, 6 November 2010         

1 Nov -HR SEMUA ORANG KUDUS: Why 7:2-4.9-14; 1Yoh 3:1-3; Mat 5:1-12a

“Bersukacita dan bergembiralah”

HR SEMUA ORANG KUDUS: Why 7:2-4.9-14; 1Yoh 3:1-3; Mat 5:1-12a

 

Dalam rangka mengenangkan semua orang kudus, para santo dan santa atau saudara-saudari kita yang telah hidup mulia kembali di sorga bersama Allah untuk selama-lamanya, baiklah secara sederhana saya mencoba merefleksikan sabda-sabda bahagia sebagaimana ditulis oleh penginjil Matius di bawah ini:

 

"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mat 5:3)

 

Miskin di hadapan Allah”  antara lain berarti rindu akan Allah, haus dan lapar akan sabda dan kehendak Allah serta berkehendak kuat untuk melaksanakannya di dalam hidup sehari-hari. Kehendak Allah antara lain tercermin dalam kehendak baik diri kita sendiri maupun saudara-saudari kita serta dalam aneka tata tertib hidup dan kerja bersama. Marilah dengan rendah hati kita dengarkan dan terima kehendak baik saudara-saudari kita serta kita tanggapi secara positif, artinya kita wujudkan dalam tindakan atau perilaku. Yang tidak kalah penting untuk masa kini adalah setia dan taat pada aneka tata tertib yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing, maka marilah kita menjadi pelaksana-pelaksana tata tertib yang unggul dan handal. Orang yang miskin di hadapan Allah senantiasa siap sedia untuk berubah, tanda bahwa yang bersangkutan sungguh hidup serta memberi harapan yang menggairahkan.  

 

“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.”(Mat 5:4)

 

Yang dimaksudkan dengan ‘berdukacita’ antara lain bekerja keras serta meninggalkan keinginan, kehendak dan kemauan pribadi dalam menghayati panggilan atau melaksanakan tugas pengutusan. Dengan kata lain orang tidak hidup dan bertindak mengikuti selera pribadi, melainkan mengikuti dan melaksanakan aneka tata tertib yang terkait dengan hidup dan panggilannya. “Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif dan tidak suka berpangku tangan serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10). Kerja keras perlu disertai dengan perjuangan dan pengorbanan, sebagaimana pepatah berkata “Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”.     

 

“Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” (Mat 5:5)

 

Lemah lembut erat kaitannya dengan rendah hati. Orang yang lemah lembut pada umumnya berbudi bahasa halus dan suaranya enak didengarkan, yang bersangkutan juga hidup ‘membumi’, artinya tahu dan memahami dengan baik seluk beluk atau hal-ikhwal duniawi, yang menjadi kebutuhan hidup manusia sehari-hari. Orang yang lemah lembut dapat bergaul dengan siapapun tanpa pandang bulu; ia dapat bergaul dengan mereka yang miskin dan tersingkir serta menderita maupun dengan para tokoh hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Maka orang yang lemah lembut ‘memiliki bumi’, mengurus atau mengelola bumi seisinya sesuai dengan kehendak Allah, sebagaimana diperintahkan oleh Allah kepada manusia pertama “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kej 1:28). Orang yang lemah lembut akhirnya sungguh dapat menjadi ‘citra atau gambar Allah’ di bumi ini, karena ia senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah.  

“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” (Mat 5:6)

 

Orang yang lapar dan haus akan kebenaran adalah “orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci” (1Yoh 3:3). Dengan bergariah, penuh semangat dan energik ia berusaha untuk mengenal kehendak Allah serta melaksanakannya di dalam hidup sehari-hari. Yang bersangkutan rajin membaca, merenungkan dan merefleksikan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci, serta membaca, mempelajari dan merefleksikan buku-buku atau karangan-karangan baru yang sesuai dengan panggilan dan tugas pengutusannya. Orang yang lapar dan haus akan kebenaran berarti orang yang memiliki sikap mental ‘belajar terus menerus sampai mati': menghayati hidup, tugas pekerjaan atau kewajiban sebagai ‘pembelajaran’.

 

Berbahagialah orang yang murah hatinya,karena mereka akan beroleh kemurahan.”(Mat 5:7)

 

Murah hati”  berarti hatinya dijual murah, sehingga siapapun mampu membelinya, artinya memberi perhatian kepada siapapun tanpa pandang bulu atau SARA, tentu saja  terutama terhadap mereka yang hidup dan bekerja bersama dengannya.  Jika kita jujur mawas diri kiranya kita akan menyadari dan menghayati bahwa masing-masing dari kita telah menerima kemurahan hati melimpah ruah dari Allah melalui orang-orang yang mengasihi dan berbuat baik kepada kita sejak kita dilahirkan di dunia ini. Tanpa kemurahan hati, kasih dan kebaikan orang lain kita tak mungkin dapat hidup, tumbuh dan berkembang sebagaimana adanya saat ini. Maka marilah kita saling bermurah hati, saling memperhatikan satu sama lain dimanapun dan kapanpun. 

 

Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”(Mat  5:8)

 

Suci”  berarti disisihkan atau dipersembahkan seutuhnya kepada Tuhan, maka orang yang suci hatinya adalah orang yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, sehingga seluruh pribadi, anggota tubuhnya suci, tak berkerut atau bernoda sedikitpun dalam hal spiritual atau rohani. Orang yang suci hatinya pada umumnya jarang atau sama sekali tak pernah menyakiti hati orang lain, sebaliknya yang bersangkutan mungkin berkali-kali atau senantiasa disakiti hatinya oleh orang lain namun tidak pernah marah, mengeluh atau menggerutu. Orang yang suci hatinya juga menerima segala sapaan, sentuhan, perlakuan orang lain terhadap dirinya sebagai perwujudan kasih, entah itu yang enak atau tidak enak, nikmat atau tidak nikmat, dst.., semuanya dihayati sebagai kasih. Mak orang yang suci hatinya senantiasa hidup dengan penuh syukur dan terima kasih, sehingga kehadirannya dimanapun dan kapanpun tak akan menjadi beban bagi orang lain, tetapi menjadi rahmat atau anugerah bagi orang lain. Marilah kita saling membantu mempertahankan, mengembangkan dan mengusahakan kesucian hati kita masing-masing!   Orang yang suci hatinya “adalah orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba” (Why 7:14).

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”(Mat 5:9)

 

There is no peace without justice, there is no justice without forgiveness” =” Tiada perdamaian tanpa keadilan, tiada keadilan tanpa kasih pengampuan”, demikian pesan paus Yohanes Paulus II di hari Peerdamian Sedunia 2000, memasuki Millennium Ketiga. Perdamaian sering dibicarakan, didiskusikan dan disuarakan dimana melalui berbagai cara dan kesempatan, namun tawuran dan permusuhan yang membawa korban manusia rasanya juga semakin gencar terjadi dimana-mana. Atas nama dan demi agama tertentu merusak dan melakukan perbuatan yang tak terpuji, yang menimbulkan kebencian dan kedeningkian serta balas dendam. Balas dendam itulah kiranya yang masih bercokol di dalam hati mereka yang melakukan tawuran atau bermusuhan, maka kasih pengampunan sungguh mendesak untuk dihayati dan disebar-luaskan. Marilah kita saling mengasihi dan mengampuni agar damai dan sejahtera sejati menjadi nyata dalam kehidupan kita bersama dimanapun dan kapanpun.      

 

“Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Mat 5:10)

 

Para pejuang dan pembela kebenaran senantiasa siap sedia menghadapi dan mengalami aneka macam bentuk aniaya dalam usaha memberantas aneka macam bentuk kebohongan dan kepalsuan serta manipulasi yang masih marak di sana-sini. Apa yang disebut benar senantiasa berlaku secara universal, berlaku dimana saja dan kapan saja. Di Indonesia ini masih sering terjadi bahwa para penegak kebenaran melakukan kebohongan, kepalsuan dan manipulasi demi keuntungan atau kenikmatan diri sendiri atau kelompoknya. Kami berharap kepada para pejuang dan pembela kebenaran pantang mundur, terus bergairah dan gembira dalam memperjuangkan dan membela kebenaran di berbagai kesempatan. Jadikan dan hayati aneka bentuk penganiayaan sebagai jalan atau wahana untuk semakin mencari, memperjuangkan dan membela kebenaran. Ingat untuk mengusahakan emas murni perlu pembakaran dan pengolahan yang menyakitkan.

 

“Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat” (Mat 5:11)

 

Sabda bahagia di atas ini mengingatkan kita semua untuk menghayati cirikhas kenabian hidup beriman dan keagamaan kita masing-masing. Nasib seorang nabi memang sering menerima fitnah-fitnah, celaan-celaan yang menyakitkan, sebagaimana dialami oleh para nabi, termasuk Yesus yang diejek, dihina, difitnah di puncak penderitaanNya di kayu salib. Penghayatan dimensi atau cirikhas kenabian hidup beriman dan beragama pada masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk dihayati dan disebarluaskan. Seorang nabi kiranya menghayati apa yang tertulis di dalam Kitab Wahyu ini, yaitu ” “Aku melihat seorang malaikat lain muncul dari tempat matahari terbit. Ia membawa meterai Allah yang hidup; dan ia berseru dengan suara nyaring kepada keempat malaikat yang ditugaskan untuk merusakkan bumi dan laut, katanya: "Janganlah merusakkan bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka” (Why 7:2-3). Perusakan bumi atau laut atau pohon-pohon terus berlangsung sampai kini, sehingga menimbulkan ‘pemanasan global’, yang membuat manusia semakin menderita. Maka marilah kita hentikan aneka macam bentuk perusakan bumi, laut dan pohon-pohon guna menciptakan lingkungan hidup yang enak, nyaman dan menyelamatkan.

 

“TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai. "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?" "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.” (Mzm 24:1-5)

 Jakarta, 1 November 2010