Tag: masa kini

Minggu Biasa XVIII

Mg Biasa XVIII: Kel 16:2-4.12-15: Ef 4:17.20-24; Yoh 6:24-35

“Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal”

Sikap mental budaya instant kiranya begitu menjiwai cara hidup dan cara bertindak banyak orang masa kini, sebagai dampak maraknya atau membanjirnya aneka jenis makanan dan minuman instant di pasaran begitu bebas. Ada orang yang ingin cepat-cepat kaya dan untuk itu dengan seenaknya melakukan korupsi dalam tugas pekerjaan atau jabatannya, ada muda-muda atau generasi muda tergesa-gesa ingin menikmati hubungan seksual, padahal belum menjadi suami-isteri, dan yang cukup memprihatikan serta mendasari semuanya itu adalah para pelajar atau siswa ingin cepat naik kelas atau lulus ujian tetapi tidak pernah belajar, belajar ketika menjelang ulangan atau ujian. Budaya instant  sangat dekat dengan budaya materialistis, dimana kesuksesan atau keberhasilan hidup, penghayatan panggilan atau pelaksanaan tugas kewajiban berpedoman pada buah harta benda atau uang yang dapat diperoleh dan dikumpulkan. Orang bangga dengan memiliki harta benda atau uang banyak sekali, bangga memiliki gedung/rumah megah dan sarana-prasarana modern dan canggih, sehingga banyak orang mengaguminya, tetapi menjadi pertanyaan apakah mereka juga mengasihinya. Kami mengajak anda sekalian untuk hidup dan bekerja tidak terbatas pada kesuksesan materi, yang dapat musnah dalam sesaat, melainkan mengusahakan sesuatu yang bertahan sampai kekal, selamanya, yaitu nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup, sebagaimana disabdakan oleh Yesus hari ini.

Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh 6:27)

Nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup sebenarnya ada di dalam atau melekat dalam hidup dan kerja kita sehari-hari, jika kita sungguh hidup baik dan bekerja sesuai dengan tata tertib atau aturan yang berlaku. Dengan kata lain ‘bekerja untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup kekal’ , yaitu mengusahakan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup, hemat kami berupa memperjelas dan menyingkapkan nilai atau keutamaan yang telah kita hayati dalam hidup maupun kerja. “Values clarification” = pencerahan atau penyingkapan nilai-nilai, itulah yang harus kita usahakan bersama-sama dalam hidup dan kerja kita.

Para pendidik dan pemerhati pendidikan yang sungguh beriman dan bermoral mengusulkan pendidikan nilai atau keutamaan dalam proses pembelajaran atau pendidikan di masa awal Reformasi, yang dikoordinir oleh Prof Dr Edi Sedyawati dan menerbitkan buku kecil berjudul “Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur” (Balai Pustaka – Jakarta 1997). Dalam buku kecil ini diuraikan secara singkat apa yang dimaksudkan dengan budi pekerti luhur, yang antara lain berisi nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan seperti “bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggungjawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tatap janji, terbuka, ulet”. Nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan di atas ini kiranya secara inklusif ada dalam cara hidup dan cara bertindak kita maupun saudara-saudari kita, maka marilah kita singkapkan, dan kemudian kita perdalam.

Saya tak jemu-jemunya mengingatkan dan mengajak para orangtua agar dalam mendidik dan membina anak-anaknya senantiasa lebih mengutamakan agar anak-anak tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Maka hendaknya anak-anak sedini mungkin dididik dan dibiasakan untuk menghayati nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan tersebut di atas, dan para orangtua kiranya dapat memilih nilai atau keutamaan mana yang sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan anak-anak maupun lingkungan hidupnya. Selanjutnya kami berharap kepada para pengurus, pengelola atau pelaksana karya pendidikan atau sekolah, lebih mengutamakan agar para peserta didik lebih unggul dan handal dalam penghayatan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan di atas, bukan dalam hal kepandaian atau kepintaran. Akhirnya kami berharap kepada para orangtua dan pendidik/guru dapat menjadi teladan dalam penghayatan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan di atas.

Kamu telah belajar mengenal Kristus.Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Ef 4:20-24).

Kutipan di atas ini kiranya baik untuk direnungkan dan dihayati oleh kita semua yang percaya kepada Yesus Kristus, entah secara formal maupun informal atau siapapun yang berkehendak baik. Kita dipanggil untuk “menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya diperbaharui di dalam roh dan pikiran kita, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya”. Menjadi manusia baru berarti hidup suci atau kudus serta menghayati dan menyebarluaskan aneka kebenaran.

Suci atau kudus berarti membaktikan diri seutuhnya kepada kehendak dan perintah Tuhan dalam cara hidup dan cara bertindak sehari-hari dimana pun dan kapan pun, sehingga senantiasa memiliki cara melihat, cara merasa, cara berpikir, cara bersikap dan cara bertindak sesuai dengan cara Tuhan, tidak mengikuti caranya sendiri atau seenaknya sendiri. Maka kepada siapapun yang masih hidup dan bertindak hanya mengikuti keinginan atau selera pribadi kami harapkan untuk bertobat atau memperbaharui diri, hendaknya setia menghayati atau melaksanakan janji-janji yang telah dikrarkan ketika mulai menempuh dan mengarungi hidup baru, entah sebagai suami-isteri, imam, bruder atau suster, hidup berkeluarga maupun hidup membujang.

 "Aku telah mendengar sungut-sungut orang Israel; katakanlah kepada mereka: Pada waktu senja kamu akan makan daging dan pada waktu pagi kamu akan kenyang makan roti; maka kamu akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, Allahmu." (Kel 16:12), demikian firman Tuhan kepada Musa, yang sedang memimpin bangsa terpilih menuju ‘tanah terjanji’ . Firman ini kiranya baik untuk kita renungkan ketika di dalam perjalanan penghayatan hidup atau panggilan maupun pelaksanaan tugas pengutusan kita menghadapi kesulitan, tantangan atau masalah berat, yang dengan mudah membuat kita mengeluh atau menggerutu. Baiklah jika kita mengeluh atau menggerutu, hendaknya diarahkan kepada Tuhan, dengan kata lain berdoa untuk mohon rahmat dan pencerahan serta kekuatan dari Tuhan. Percayalah jika kita setia pada panggilan dan tugas pengutusan, maka Tuhan juga akan menganugerahkan aneka kebutuhan dan sarana-prasarana yang kita butuhkan, sehingga kita dengan bantuan rahmat Tuhan mampu menuntaskan panggilan maupun tugas pengutusan kita.

“Ia memerintahkan awan-awan dari atas, membuka pintu-pintu langit, menurunkan kepada mereka hujan manna untuk dimakan, dan memberikan kepada mereka gandum dari langit; setiap orang telah makan roti malaikat, Ia mengirimkan perbekalan kepada mereka berlimpah-limpah.” (Mzm 78:23-25)

Ign 5 Agustus 2012

Tags : , , , ,

25 Juli

“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu hendaklah ia menjadi pelayanmu”

(2Kor 4:7-15; Mat 20: 20-28)

Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya." Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat 20:20-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Yakobus, rasul, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   St Yakobus, termasuk dalam 12 (dua belas) rasul yang dipilih oleh Yesus, dan jabatan atau fungsi rasul masa kini diteruskan atau diemban oleh para uskup. Uskup kita imani sebagai pribadi yang terbesar dan tertinggi alias termasuk dalam jajaran primat Gereja Katolik. Salah satu cirikhas fungsi uskup adalah sebagai pelayan dan senantaiasa berusaha menghayati panggilan dan fungsinya dengan melayani, menghayati kepemimpinan partisipatif dengan mendengarkan dan menanggapi suka duka umat Allah yang harus dilayani, maka tugas atau fungsinya sungguh berat dan mulia. Maka dengan ini kami mengharapkan segenap umat Allah untuk mendukung dan mendoakan uskup atau gembala masing-masing agar dapat melayani umat dengan baik sebagaimana didambakan atau dikehendaki Tuhan yang telah memanggil dan mengutusnya. Karena tugasnya begitu berat dan mulia, maka yang dapat dipilih menjadi uskup, sebagaimana digariskan dalam KHK kanon 378, diharapkan memiliki cirikhas kepribadian: “unggul dalam iman yang tangguh, moral yang baik, kesalehan, perhatian pada jiwa-jiwa, kebijaksanaan, kearifan dan keutamaan-keutamaan manusiawi, serta memiliki sifat-sifat lain yang cocok untuk melaksanakan jabatan, mempunyai nama baik, dst..”. Cirikhas kepridian macam ini hendaknya juga diusahakan untuk dimiliki oleh para pembantu-pembantunya, yaitu para pastor atau  imam. Maka kami berharap mereka yang terpanggil untuk menjadi imam alias para seminaris hendaknya dibina dan dididik dalam hal keutamaan-keutamaan atau cirikhas tersebut di atas. Tentu saja para formator di seminari-seminari juga memiliki cirikhas kepribadian tersebut di atas. Karena imam atau uskup berasal dari keluarga-keluarga, maka kami berharap para orangtua sungguh berusaha bersama-sama mendidik dan membina anak-anak agar memiliki cirikhas kepribadian di atas, yang dapat dipadatkan dalam keutamaan melayani dengan rendah hati.

·   Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” (2Kor 4:7-10), demikian kesaksian iman Paulus, rasul agung. Sebagai umat beriman kita semua memiliki hidup yang berdimensi rasuli, maka baiklah kami mengajak dan mengingatkan anda sekalian, umat untuk berusaha menghayati panggilan rasuli tersebut dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari dimana pun dan kapan pun. Sebagai umat beriman hendaknya mengandalkan kekuatan rahmat Tuhan bukan menyombongkan atau mengandalkan kekuatan diri pribadi yang lemah dan rapuh ini. Ingatlah, sadari dan hayati bahwa kita semua berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah ketika dipanggil Tuhan atau mati. Maka marilah kita hidup dan bertindak dengan penuh syukur dan terima kasih, karena kita dianugerahi hidup, kekuatan, ketampanan/kecantikan, kecerdasan dst.. dan hendaknya semuanya difungsikan untuk melayani saudara-saudari kita, sehingga kita bersama-sama senantiasa hidup dan berindak saling melayani dimana pun dan kapan pun. Jika kita hidup dan bertindak dengan sombong, mengandalkan kekuatan pribadi berarti kita tidak beriman.

Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!" TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.” (Mzm 126:1-3)

Ign 25 Juli 2012

Tags : , , , , ,

11 Juli

Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit.

(Hos 8:4-7.11-13; Mat 9:32-38)

Sedang kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. Dan setelah setan itu diusir, dapatlah orang bisu itu berkata-kata. Maka heranlah orang banyak, katanya: "Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel." Tetapi orang Farisi berkata: "Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan." Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.(Mat 9:32-38), demikian kutipan Warta Gembira hari ini Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

Jumlah umat terus bertambah namun jumlah imam atau pastor semakin berkurang, entah karena yang telah menjadi imam atau pastor mengundurkan diri maupun pendaftar yang masuk ke seminari juga semakin berkurang. Sekiranya pendaftar yang masuk seminari banyakpun karena pencerahan selama pendampingan di seminari akhirnya cukup banyak yang menemukan panggilan sejatinya dan akhirnya mengundurkan diri dari seminari. Yang cukup memprihatinkan juga pada masa kini yang masuk ke seminari kecerdasan intelektualnya pas-pasan, sedangkan mereka yang cerdas secara intelektual tidak tergerak untuk ke seminari. Memang yang terpanggil adalah mereka yang mungkin sederhana dan miskin, secara intelektual dan finansial, tetapi unggul dalam hal kepribadian dan kecerdasan spiritual. Maka sesuai dengan sabda Yesus hari ini marilah kita berdoa agar Tuhan menyentuh dan memanggil anak-anak dan generasi muda untuk menanggapi panggilan menjadi imam, bruder dan suster. Dan tentu saja kami berharap kepada para orangtua untuk menjadikan hidup berkeluarga sebagai tempat penyemaian benih-benih panggilan, antara lain di dalam keluarga dibiasakan berdoa bersama, saling mendoakan dan anak-anak dididik atau dibina dalam hal kepekaan sosial. Jika ada anaknya yang terbaik terpanggil untuk menjadi imam, bruder atau suster hendaknya orangtua dengan suka hati dan penuh syukur mengijinkan dan mendukungnya. Kami juga mengharapkan partisipasi seluruh umat Allah untuk berdoa pagi suburnya panggilan imam, bruder dan suster serta membantu pembeayaan pendidikan di seminari dengan menyumbangkan sebagian harta atau uangnya bagi seminari. Sedangkan rekan-rekan imam, bruder dan suster kami harapkan dapat menjadi saksi penghayatan panggilan, sehingga cara hidup dan cara bertindaknya memikat dan menarik anak-anak dan generasi muda untuk mengikutinya.

Mereka mencintai korban sembelihan; mereka mempersembahkan daging dan memakannya; tetapi TUHAN tidak berkenan kepada mereka. Sekarang Ia akan mengingat kesalahan mereka dan akan menghukum dosa mereka; mereka harus kembali ke Mesir! (Hos 8:13). Apa yang tertulis ini rasanya pada masa kini juga masih marak terjadi, yaitu orang dengan seenaknya berpesta pora dan melupakan hidup doa maupun hidup beriman. Maka tidak mengherankan bahwa hidup bersama sungguh telah rusak dan banyak orang bersikap mental materialistis serta egois. Hal yang demikian tentu saja membuat orang-orang baik dan sosial semakin berkurang, dan benarlah apa yang disabdakan Yesus bahwa pekerja hanya sedikit.Kepada mereka yang bersikap mental materialistis serta egois kami ajak untuk bertobat dan memperbaharui diri, tak ada kata terlambat untuk bertobat serta memperbaharui diri. Kegagalan anda dalam hidup, pekerjaan maupun tugas pengutusan terjadi karena sikap mental materialistis maupun egois. Marilah kita hidup dan bekerja sesuai dengan kehendak Tuhan, yaitu dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tenaga. Dengan kata lain kita harus mengorbankan diri kita, bukan orang lain, binatang atau harta benda. Kita nikmati hidup dan pekerjaan dengan gembira dan ceria, karena dengan kegembiraan dan keceriaan kita pasti akan lebih berhasil atau sukses. Yang penting adalah hidup dan bekerja dengan sebaik mungkin, sedangkan perihal hasil atau imbal jasa biarlah kita serahkan kepada Penyelenggaraan Ilahi melalui mereka yang baik hati. Hidup sebaik mungkin agar terampil hidup, belajar atau bekerja sebaik mungkin agar terampil belajar atau bekerja itulah yang hendaknya kita usahakan atau upayakan bersama-sama.

Allah kita di sorga; Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya! Berhala-berhala mereka adalah perak dan emas, buatan tangan manusia, mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, mempunyai hidung, tetapi tidak dapat mencium, mempunyai tangan, tetapi tidak dapat meraba-raba, mempunyai kaki, tetapi tidak dapat berjalan, dan tidak dapat memberi suara dengan kerongkongannya. Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya, dan semua orang yang percaya kepadanya.  (Mzm 115:3-8)

Ign 10 Juli

2012

Tags : , , , , ,

10 Juli

“Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit.”

(Hos 8:4-7.11-13; Mat 9:32-38)

“Sedang kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. Dan setelah setan itu diusir, dapatlah orang bisu itu berkata-kata. Maka heranlah orang banyak, katanya: "Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel." Tetapi orang Farisi berkata: "Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan." Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” (Mat 9:32-38), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Jumlah umat terus bertambah namun jumlah imam atau pastor semakin berkurang, entah karena yang telah menjadi imam atau pastor mengundurkan diri maupun pendaftar yang masuk ke seminari juga semakin berkurang. Sekiranya pendaftar yang masuk seminari banyakpun karena pencerahan selama pendampingan di seminari akhirnya cukup banyak yang menemukan panggilan sejatinya dan akhirnya mengundurkan diri dari seminari. Yang cukup memprihatinkan juga pada masa kini yang masuk ke seminari kecerdasan intelektualnya pas-pasan, sedangkan mereka yang cerdas secara intelektual tidak tergerak untuk ke seminari. Memang yang terpanggil adalah mereka yang mungkin sederhana dan miskin, secara intelektual dan finansial, tetapi unggul dalam hal kepribadian dan kecerdasan spiritual. Maka sesuai dengan sabda Yesus hari ini marilah kita berdoa agar Tuhan menyentuh dan memanggil anak-anak dan generasi muda untuk menanggapi panggilan menjadi imam, bruder dan suster. Dan tentu saja kami berharap kepada para orangtua untuk menjadikan hidup berkeluarga sebagai tempat penyemaian benih-benih panggilan, antara lain di dalam keluarga dibiasakan berdoa bersama, saling mendoakan dan anak-anak dididik atau dibina dalam hal kepekaan sosial. Jika ada anaknya yang terbaik terpanggil untuk menjadi imam, bruder atau suster hendaknya orangtua dengan suka hati dan penuh syukur mengijinkan dan mendukungnya. Kami juga mengharapkan partisipasi seluruh umat Allah untuk berdoa pagi suburnya panggilan imam, bruder dan suster serta membantu pembeayaan pendidikan di seminari dengan menyumbangkan sebagian harta atau uangnya bagi seminari. Sedangkan rekan-rekan imam, bruder dan suster kami harapkan dapat menjadi saksi penghayatan panggilan, sehingga cara hidup dan cara bertindaknya memikat dan menarik anak-anak dan generasi muda untuk mengikutinya.

·   Mereka mencintai korban sembelihan; mereka mempersembahkan daging dan memakannya; tetapi TUHAN tidak berkenan kepada mereka. Sekarang Ia akan mengingat kesalahan mereka dan akan menghukum dosa mereka; mereka harus kembali ke Mesir!” (Hos 8:13). Apa yang tertulis ini rasanya pada masa kini juga masih marak terjadi, yaitu orang dengan seenaknya berpesta pora dan melupakan hidup doa maupun hidup beriman. Maka tidak mengherankan bahwa hidup bersama sungguh telah rusak dan banyak orang bersikap mental materialistis serta egois. Hal yang demikian tentu saja membuat orang-orang baik dan sosial semakin berkurang, dan benarlah apa yang disabdakan Yesus bahwa ‘pekerja’ hanya sedikit. Kepada mereka yang bersikap mental materialistis serta egois kami ajak untuk bertobat dan memperbaharui diri, tak ada kata terlambat untuk bertobat serta memperbaharui diri. Kegagalan anda dalam hidup, pekerjaan maupun tugas pengutusan terjadi karena sikap mental materialistis maupun egois. Marilah kita hidup dan bekerja sesuai dengan kehendak Tuhan, yaitu dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tenaga. Dengan kata lain kita harus mengorbankan diri kita, bukan orang lain, binatang atau harta benda. Kita nikmati hidup dan pekerjaan dengan gembira dan ceria, karena dengan kegembiraan dan keceriaan kita pasti akan lebih berhasil atau sukses. Yang penting adalah hidup dan bekerja dengan sebaik mungkin, sedangkan perihal hasil atau imbal jasa biarlah kita serahkan kepada Penyelenggaraan Ilahi melalui mereka yang baik hati. Hidup sebaik mungkin agar terampil hidup, belajar atau bekerja sebaik mungkin agar terampil belajar atau bekerja itulah yang hendaknya kita usahakan atau upayakan bersama-sama.

Allah kita di sorga; Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya! Berhala-berhala mereka adalah perak dan emas, buatan tangan manusia, mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, mempunyai hidung, tetapi tidak dapat mencium, mempunyai tangan, tetapi tidak dapat meraba-raba, mempunyai kaki, tetapi tidak dapat berjalan, dan tidak dapat memberi suara dengan kerongkongannya. Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya, dan semua orang yang percaya kepadanya.” (Mzm 115:3-8)

Ign 10 Juli 2012

5 pencarian oleh pembaca:

  1. khotbah Yeremia 8:4-7
Tags : , ,

7 Juli

“Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua”

(Am 9:11-15; Mat 9:14-17)

“Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.” (Mat 9:14-17), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Tujuan utama berpuasa atau matiraga adalah untuk mengendalikan diri sedemikian rupa sehingga memiliki cara hidup dan cara bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan alias hidup baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Matiraga pada masa kini memang kurang memperoleh perhatian dan orang lebih mengutamakan aneka macam bentuk kenikmatan fisik yang sebenarnya merusak tubuhnya maupun cara hidupnya. Jika kita dalam hal makan dan minum hanya mengikuti pedoman nikmat dan tidak nikmatm, yang berarti menyantap yang nikmat saja, maka kami percaya kita tidak sehat secara fisik dan dengan demikian juga tidak sehat secara moral, sosial maupun spiritual. Maka dalam hal makan dan minum kami harapkan kita semua berpedoman pada sehat dan tidak sehat: hendaknya kita senantiasa mengkomsumsi jenis makanan dan minuman yang sehat meskipun tidak nikmat. Perhatikan, teliti dan cermati bahwa yang membuat makanan dan minuman menjadi enak dan nikmat tidak lain adalah bumbu-bumbu penyedap yang sarat dengan racun atau zat-zat yang merusak anggota tubuh kita. Marilah kita senantiasa berusaha mengkonsumsi makanan dan minuman yang organic bukan un-organic. Percayalah jika kita dalam hal makan dan minum berpedoman pada sehat dan tidak sehat serta dengan demikian senantiasa memilih dan mengkonsumi makanan dan minuman yang sehat, maka kita juga akan sehat pula dalam pergaulan maupun hidup beragama dan beriman. Jauhkan aneka macam jenis makanan instant yang tidak sehat di dalam keluarga atau tempat tinggal anda. Kita semua kiranya  sungguh masih perlu bermatiraga.

·   Jikalau engkau bijak, kebijakanmu itu bagimu sendiri, jikalau engkau mencemooh, engkau sendirilah orang yang akan menanggungnya. Perempuan bebal cerewet, sangat tidak berpengalaman ia, dan tidak tahu malu. Ia duduk di depan pintu rumahnya di atas kursi di tempat-tempat yang tinggi di kota, dan orang-orang yang berlalu di jalan, yang lurus jalannya diundangnya dengan kata-kata” (Am 9:12-15). Kutipan ini kiranya sangat bagus untuk kita refleksikan atau renungkan serta kemudian menjadi acuan dan peringatan cara hidup dan cara bertindak kita. Maaf jika dalam kutipan di atas lebih melihat perempuan daripada laki-laki karena mungkin secara umum perempuan memang lebih cerewet daripada laki-laki. Orang-orang cerewet pada umumnya merasa dirinya tidak aman dan terancam terus-menerus. Orang bijak pada umumnya berjalan lurus, berhati mulus, baik dan bermoral. Semua masalah atau persoalan hidup sehari-hari dihadapi dengan tenang, disikapi dengan bijak, dan dengan demikian yang bersangkutan senantiasa juga selamat, damai sejahtera. Orang bijak pada umumnya juga sedikit bicara dan banyak bertindak atau bekerja. Marilah kita bersama-sama dan saling membantu untuk tumbuh berkembang menjadi pribadi yang bijak. Jika kita senantiasa bertindak bijak maka akan tumbuh berkembang menjadi orang bijaksana. “Bijaksana adalah sikap dan perilaku yang dalam segala tindakannya selalu menggunakan akal budi, penuh pertimbangan dan tanggungjawab. Ini diwujudkan dalam perilaku yang cakap bertindak dan kehati-hatian dalam menghadapi berbagai keadaan yang sulit. Keputusan yang diambil berdasarkan pemikiran dan renungan yang mendalam sehingga tidak merugikan siapa pun dan dapat diterima oleh semua pihak” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 14-15). Kami berharap para pemimpin di tingkat dan bidang kehidupan bersama apapun senantiasa hidup dan bertindak dengan bijaksana.

Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit.Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan.” (Mzm 85:11-14)

Ign 7 Juli 2012

Tags : , , , , ,

21 Mei

“Dalam dunia kamu menderita penganiayaan”

(Kis 19:1-8; Yoh 16:29-33)

” Kata murid-murid-Nya: "Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan. Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah."Jawab Yesus kepada mereka: "Percayakah kamu sekarang? Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yoh 16:29-33), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hidup mendunia atau berpartisipasi dalam seluk beluk dunia secara disiplin dan jujur pada masa kini memang akan menghadapi aneka tantangan, hambatan atau masalah atau penderitaan, mengingat dan memperhatikan tindakan korupsi masih merebak disana-sini, entah di pemerintahan maupun di dalam aneka usaha swasta. Namun demikian kami berharap kepada segenap umat beriman atau agama atau anda sekalian untuk tetap disiplin dan jujur dalam cara hidup dan cara bertindak dimana pun dan kapan pun, karena Allah senantiasa menyertai dan mendampingi kita. Bersama dan bersatu dengan Allah kita pasti mampu mengatasi aneka masalah, hambatan dan penderitaan. Ingatlah, sadari dan hayati bahwa penderitaan yang lahir dari kesetiaan dan ketaatan pada iman, panggilan dan tugas pengutusan adalah wahana atau jalan menuju ke kebahagiaan atau kesejahteraan sejati. Hidup dan bertindak disiplin serta jujur memang akan hancur untuk sementara tetapi akan bahagia dan mulia selamanya. “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkan hatimu, Aku telah mengalahkan dunia”, demikian sabda Yesus, yang kiranya dapat menjadi pegangan cara hidup dan cara bertindak kita dalam mendunia. Dengan menderita dan wafat di kayu salib Yesus telah mengalahkan dunia, maka ketika anda harus menderita hendaknya menatap atau mengenangkan Yang tersalib, karena dengan demikian akan memperoleh rahmat kekuatan dalam menghadapi penderitaan serta mampu mengatasi penderitaan. Sekali lagi saya angkat bahwa rekan-rekan perempuan yang pernah mengandung dan melahirkan anak kiranya memiliki pengalaman ini, yaitu ketika sedang dan akan melahirkan anaknya.

·   Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan mengajar dengan berani. Oleh pemberitaannya ia berusaha meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah” (Kis 19:8),demikian berita yang menggembirakan perihal Paulus. Keberanian Paulus ini kiranya dapat menjadi teladan atau inspirasi bagi kita semua dalam rangka hidup disiplin dan jujur di dalam hidup dan pekerjaan kita setiap hari. Dalam hal keberanian ini kiranya kita juga dapat meneladan para pahlawan bangsa kita, yang dengan berani memikul resiko dalam rangka melaksanakan panggilan atau tugas pengutusan. “Berani memikul resiko adalah sikap dan perilaku yang sampai batas-batas tertentu tidak takut menghadapi akibat apa pun untuk mempertahankan ketetapan yang telah dipilihnya. Ini diwujudkan dalam perilaku yang mau menanggung akibat apapun. Perilaku ini diwujudkan dalam hubungannya dengan diri sendiri” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka- Jakarta 1997, hal 10). Kami percaya bahwa anda semua telah atau sedang harus melakukan aneka ketetapan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan anda masing-masing, maka kami harapkan tidak mundur meskipun harus menghadapi aneka tantangan dan penderitaan, hadapi dengan berani dan bergairah, penuh semangat. Dalam kegairahan dan semangat kinerja syaraf dan metabolisme darah kita akan berfungsi secara prima sehingga kita memiliki kekuatan prima dalam menghadapi aneka tantangan dan penderitaan. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk mewartakan Kerajaan Allah atau Allah yang meraja dimana pun dan kapan pun, artinya mengajak dan mendorong siapapun untuk dengan rendah hati dirajai atau dikuasai oleh Allah sehingga cara hidup dan cara bertindak sesuai dengan kehendak dan perintah Allah alias baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Marilah dengan berani kita tegor dan ingatkan saudara-saudari kita yang melakukan korupsi atau berselingkuh agar bertobat.

Allah bangkit, maka terseraklah musuh-musuh-Nya, orang-orang yang membenci Dia melarikan diri dari hadapan-Nya. Seperti asap hilang tertiup, seperti lilin meleleh di depan api, demikianlah orang-orang fasik binasa di hadapan Allah. Tetapi orang-orang benar bersukacita, mereka beria-ria di hadapan Allah, bergembira dan bersukacita.Bernyanyilah bagi Allah, mazmurkanlah nama-Nya, buatlah jalan bagi Dia yang berkendaraan melintasi awan-awan! ” (Mzm 68:2-5a)

Ign 21 Mei 2012

Tags : , ,

19 Mei

“Kamu telah mengasihi Aku dan percaya bahwa Aku datang dari Allah”

(Kis 18:23-28; Yoh 16:23b-28)

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu. Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu. Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Dan tidak Aku katakan kepadamu, bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa." (Yoh 16:23b-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Allah telah mengasihi kita dengan total melalui Yesus Kristus yang telah mempersembahkan DiriNya sampai wafat di kayu salib dan kemudian dibangkitkan dari mati. Maka selayaknya jika kita harus mengasihi Yesus serta percaya bahwa Ia datang dari Allah ke dunia untuk menyelamatkan seluruh dunia seisinya. Sebagai bukti bahwa kita mengasihi Yesus adalah kita dipanggil untuk meneruskan karya penyelamatan dunia dengan berpartisipasi dalam seluk beluk dunia alias dengan sepenuh hati ‘mendunia’. Memang hidup ‘mendunia’ pada masa kini kita harus menghadapi aneka macam tantangan, masalah dan hambatan, maka baiklah dengan penuh percaya kita mohon kepada Allah agar Ia senantiasa menyertai dan mendampingi kita dimana pun kita berada atau kemana pun kita pergi. “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikanNya kepadamu dalam namaKu”, demikian sabda Yesus. Memohon sesuatu kepada Allah atas nama Yesus kiranya berarti mohon karunia Roh Kudus, sebagaimana sedang kita hayati pada hari-hari ini dalam rangka Novena Roh Kudus. Mohon karunia Roh Kudus berarti mohon agar dianugerahi keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan, seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23), sehingga cara hidup dan cara bertindak kita dijiwai oleh keutamaan-keutamaan tersebut. Pada masa kini yang perlu kita hayati dan sebarkan antara lain adalah ‘kesetiaan’, mengingat dan memperhatikan cukup banyak orang tidak atau kurang setia pada iman, panggilan dan tugas pengutusannya, yang nampak dalam aneka bentuk pelanggaran tata tertib dan aturan setiap hari.

·   Dengan tak jemu-jemunya ia membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias.” (Kis 18:28), demikian berita perihal Apolos yang berpartisipasi dalam pewartaan Kabar Baik, bahwa Yesus adalah Mesias, Penyelamat Dunia yang dinantikan semua orang. Kitab Suci memang merupakan refleksi atas iman kepada Yesus Kristus, Mesias, Penyelamat Dunia. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita dipanggil untuk menyebarluaskan iman kita dimana pun dan kapan pun, dan untuk itu ada kemungkinan kita harus menghadapi aneka bantahan atau sanggahan perihal iman kita. Ketika berusaha menanggapi bantahan atau sanggahan hendaknya berpedoman pada apa yang tertulis di dalam Kitab Suci, maka untuk itu kami berharap kepada kita semua untuk dengan tekun dan rajin membaca apa yang tertulis di dalam Kitab Suci serta merenungkannya. Bacalah Kitab Suci setiap hari agar memperoleh kekuatan dan inspirasi untuk penghayatan iman maupun memperjuangkan aneka kebenaran. Ingatlah dan sadari bahwa para santo-santa atau tokoh-tokoh di dalam Gereja Katolik sungguh hidup dan bertindak berdasarkan sabda Allah sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci, sehingga mereka sungguh setia dalam penghayatan iman maupun panggilan dan tugas pengutusan. Baiklah dalam rangka Novena Roh Kudus dimana juga dibacakan Kitab Suci kita dengarkan dan renungkan dengan baik, sehingga kita dapat memahami apa yang tertulis di dalam Kitab Suci serta kemudian menjadikannya pedoman atau inspirasi dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun, sehingga kita senantiasa siap sedia menghadapi aneka bantahan atau sanggahan iman kita.

“Allah adalah Raja seluruh bumi, bermazmurlah dengan nyanyian pengajaran! Allah memerintah sebagai raja atas bangsa-bangsa, Allah bersemayam di atas takhta-Nya yang kudus. Para pemuka bangsa-bangsa berkumpul sebagai umat Allah Abraham. Sebab Allah yang empunya perisai-perisai bumi; Ia sangat dimuliakan” (Mzm 47:8-10)

Ign 19 Mei 2012

Tags : , , , , ,

Minggu Paskah VI

Mg Paskah VI :

Kis 10:25-26.34-35.44-48; 1Yoh 4:7-10; Yoh 15:9-17

” Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu”

Hidup dalam persaudaraan atau persahabatan sejati pada masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan, mengingat dan memperhatikan aneka kerusuhan, kebencian dan permusuhan masih marak di sana-sini. Antar anggota keluarga pun dapat saling membenci dan bermusuhan, karena rebutan warisan, demikian juga antar umat seagama juga dapat bermusuhan dan saling membenci karena merasa kurang dihargai atau diejek. Antar suku juga sering terjadi permusuhan, dst.. Semuanya itu kiranya disebabkan oleh sikap mental egois, dimana orang hanya mencari keenakan atau kepentingan pribadi tanpa memperhatikan kepentingan orang lain atau kepentingan umum/bersama. Sikap mental egois pada umumnya juga masih marak dalam diri orang-orang kota besar/metropolitan, seperti Jakarta, dimana dalam kenyataan memang merasa dirinya terancam atau kurang aman dan kemudian mengamankan diri dengan melindungi diri atau menyendiri, menutup diri. Maka baiklah saya mengajak anda sekalian untuk merenungkan dan menghayati sabda Yesus hari ini.

Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu” (Yoh 15:12-14)

Ajaran untuk hidup dan bertindak saling mengasihi hemat saya disampaikan oleh semua agama, tidak ada agama yang mengajarkan kebencian atau mengobarkan permusuhan. Jika ada permusuhan atau kebencian antar umat beragama hemat saya hal itu terjadi karena keterbatasan pemahaman orang yang bersangkutan dalam memahami ajaran agamanya. Bahkan ada aliran agama atau sekolompok orang yang ekstrim serta mengaku beragama yang mengobarkan permusuhan atau pengrusakan. Mereka yang bertindak demikian ini kiranya tidak mampu menyadari dan menghayati diri sebagai ‘yang terkasih’, orang yang diciptakan, dilahirkan dan dibesarkan dalam dan oleh kasih; mereka tidak menyadari dan menghayati diri sebagai orang yang telah menerima kasih melimpah ruah dari Tuhan melalui sesamanya, terutama melalui orangtuanya.

Hidup dan bertindak saling mengasihi hemat saya mudah dilakukan atau dihayati jika kita menyadari dan menghayati diri sebagai ‘yang terkasih’. Marilah kita sadari dan hayati bahwa masing-masing dari kita adalah ‘buah kasih’, buah atau hasil tindakan cintakasih bapak-ibu kita masing-masing, dan selama kurang lebih selama sembilan bulan kita dengan penuh kasih dan kerahiman hidup dan tumbuh-berkembang dalam rahim ibu kita masing-masing. Ketika kita baru saja dilahirkan dan masih bayi sangat dikasihi orang orangtua kita masing-masing, terutama ibu kita, sehingga ada lagu “Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”.

Panggilan saling mengasihi pada masa kini hemat saya yang lebih sulit adalah dikasihi. Ingat dan sadari bahwa orangtua atau guru-guru kita dalam mengasihi kita antara lain memberi ajaran, tuntunan, tegoran, kritikan, nasihat, petuah dst.., yang mungkin bagi kita terasa sakit atau tidak enak. Kita juga sering dimarahi oleh orangtua atau guru-guru kita, bukan berarti mereka membenci kita tetapi karena mengasihi kita. Siap dikasihi berarti senantiasa menyikapi dan menerima aneka sapaan, sentuhan, nasihat, kritikan, ejekan dst.. dari orang lain sebagai kasih. Sadari dan hayati bahwa orang tidak akan menegor, mengritik atau memarahi kita jika mereka tidak mengasihi kita, namun karena mengasihi kita ketika kita tidak baik dalam cara hidup dan cara bertindak, maka mereka menegor atau memarahi kita.

Hidup dan bertindak dalam kasih juga berarti senantiasa mentaati dan melaksanakan aneka tata tertib yang berlalu di dalam hidup dan kerja kita masing-masing setiap hari. Ada tata tertib atau aturan yang tertulis, tetapi juga ada yang tak tertulis, tetapi tersirat. Yang tersirat misalnya: tempat tidur adalah untuk tidur, maka makan-makan atau rekreasi ditempat tidur berarti melanggar kasih, tempat ibadat adalah untuk berdoa, maka ramai-ramai atau bermain atau bersendau-gurau di tempat ibadat berarti melanggar kasih, dst.. Bacalah dan laksanakan juga aneka aturan yang tertulis dalam aneka kemasan makanan, minuman atau obat maupun buku petunjuk pemakaian kendaraan.

Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1Yoh 4:7-10)

Kasih itu berasal dari Allah”, inilah yang kiranya baik untuk kita renungkan, refleksikan dan hayati bersama-sama melalui cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Kata-kata ini kiranya juga sering dihayati oleh mereka yang saling mengasihi, terutama yang akan dan sedang saling berjanji untuk saling mengasihi sampai mati sebagai suami-isteri, dimana masing-masing menyadari dan menghayati pasangan hidupnya sebagai anugerah atau kado dari Allah. Dengan kata lain Allah-lah yang telah mempertemukan dan menyatukan mereka sebagai suami-isteri. Kami berharap para suami dan isteri menghayati pasangan hidupnya sebagai anugerah Allah, sehingga memperlakukan pasangan hidupnya sesuai dengan kehendak dan perintah Allah.

Jika kita hidup dan bertindak saling mengasihi hemat saya hal ini merupakan wujud syukur dan terima kasih kita kepada Allah yang telah lebih dahulu mengasihi kita secara melimpah ruah. Dengan kata lain kasih kita merupakan syukur dan terima kasih. Orang yang sedang bersyukur dan berterima kasih pada umumnya damai, bahagia, tenang, bangga dan bersahabat. Hidup dan bertindak dalam kasih berarti senantiasa berusaha mendamaikan mereka yang bermusuhan serta membangun dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan.

"Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya“(Kis 10:34-35), demikian kata Petrus kepada para pendengarnya atau pengikutnya. Apa yang dikatakan oleh Petrus ini hemat saya merupakan kebenaran yang hakiki, yang selayaknya “Allah tidak membedakan orang”, inilah yang kiranya baik kita renungkan atau hayati dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun. Penghayatan dari sabda ini tidak lain adalah agar kita bersaudara dan bersahabat dengan siapapun tanpa pandang bulu, kita dipanggil untuk membangun dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan sejati. Maka baiklah untuk itu kita hayati secara mendalam apa yang sama di antara kita, antara lain sama-sama ciptaan Allah, sama-sama manusia, sama-sama beriman, sama-sama warganegara dst.. Jika apa yang sama di antara kita dihayati secara mendalam, maka apa yang berbeda antar kita akan fungsional memperdalam dan memperteguh persaudaraan atau persahabatan.

Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa.Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!” (Mzm 98:1-4)

Ign 13 Mei 2012

 

Tags : , , , , ,

Minggu Prapaska III

Minggu Prapaska III : Kel 20:1-17; 1Kor 1:22-25; Yoh 2:13-25

"Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.”

Sikap mental materilistis begitu menjiwai cara hidup dan cara bertindak mayoritas orang masa kini, termasuk orang-orang Indonesia. Yang cukup atau sangat memprihatinkan adalah bidang pendidikan dan keagamaan, dimana seharusnya mereka yang berkarya di dalam dua bidang pelayanan ini sungguh memperhatikan jiwa manusia, namun ternyata lebih memperhatikan aneka harta benda atau uang. Bahkan jika dicermati dengan teliti korupsi yang terjadi di Indonesia ini mayoritas terjadi di dua bidang pelayanan tersebut: pendidikan dan agama. Dalam bidang pendidikan misalnya masalah BOS (Bantuan Operasional Sekolah): kiranya kurang lebih kebocoran anggaran dalam BOS alias yang dikorupsi kurang lebih 30% jumlahnya, yang dilakukan oleh pegawai atau pejabat dijajaran pelayanan pendidikan dari tingkat menteri sampai kepala sekolah atau bahkan para guru. Dalam bidang pelayanan pendidikan juga terjadi korupsi dalam bentuk ‘mark-up’ anggaran, yang dilakukan di sekolah-sekolah maupun kantor-kantor pelayanan pendidikan. Di bidang pelayanan agama, misalnya dalam pengurusan naik haji, yang setiap tahun melibatkan ribuan orang: saya memperoleh info bahwa korupsi dilakukan sejak pendaftaran naik haji sampai dengan pelaksanaan. Padahal jika dicermati cukup banyak umat Islam yang naik haji dengan tekun menabung sedikit demi sedikit dari beaya yang harus dikumpulkan atau mungkin harus menjual tanah warisan leluhur. Warta Gembira hari ini mengingatkan dan mengajak kita untuk memberantas aneka bentuk komersialisasi atau korupsi di pelayanan keagamaan.

"Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” (Yoh 2:16).

Tempat ibadat seperti gereja, masjid, kuil dst.. adalah tempat suci, dimana orang datang untuk berdoa atau beribadat kepada Tuhan dengan harapan agar dirinya semakin suci, semakin membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan. Dalam kisah Warta Gembira hari ini dikisahkan tentang adanya orang-orang yang menjadikan tempat ibadat sebagai pasar alias tempat untuk mencari keuntungan pribadi. Hal ini berarti terjadi pelecehan tempat ibadat, merendahkan jati diri tempat ibadat, maka dengan keras Yesus memarahi mereka yang melecehkan tempat ibadat tersebut, menjadikan tempat ibadat sebagai pasar, tempat berjualan, tempat untuk mengeruk dan mengumpulkan keuntungan pribadi sebesar-besarnya.

Tema APP tahun ini adalah “Katolik Sejati harus Berbagi dan Peduli”, suatu ajakan bagi kita semua untuk mawas diri perihal keimanan kita sebagai orang Katolik. Katolik sering diartikan sebagai ‘umum”, maka menjadi Katolik sejati antara lain harus memperhatikan kepentingan umum, terutama memperhatikan mereka yang miskin dan berkekurangan di dalam lingkungan hidup maupun lingkungan kerja kita masing-masing. Kita diharapkan memiliki dan menghayati kepekaan social, dan tidak egois. Marilah kita ingat atau kenangkan bahwa ketika berada di tempat ibadat dan sedang beribadat bersama pada umumnya kebersamaan kita sungguh menarik, mempesona dan memikat, karena semuanya kelihatan ceria serta tidak kelihatan materialistis, tidak ada pameran kekayaan dst..

Apa yang terjadi di tempat ibadat atau tempat suci hendaknya juga terjadi di dalam cara hidup dan cara bertindak dimana pun dan kapan pun, atau dengan kata lain ada kesatuan antara doa dan karya, spiritual dan phisik. “Dalam tempat suci hanya dapat diizinkan hal-hal yang berguna bagi pelaksanaan atau peningkatan ibadat, kesalehan dan keagamaan, serta dilarang segala sesuatu yang tidak cocok dengan kesucian tempat itu. Namun Ordinaris sesekali dapat memberi izin untuk penggunaan lain, asalkan tidak bertentangan dengan kesucian tempat itu” (KHK kan 1210). Senada tempat suci adalah aneka fungsi atau jabatan gerejani/keagamaan, misalnya seksi-seksi atau komisi-komisi dalam keagamaan. Maklum ada beberapa oknum yang berfungsi sebagai seksi social di paroki mengkomersielkan diri melalui pelayanan kematian atau pemakaman, ada juga seksi social paroki yang mencari keuntungan pribadi dalam aneka pelayanan social dengan mengambil sebagian sumbangan dari umat yang diterima, dengan kata lain mereka memanfaatkan orang miskin maupun orang sedang susah untuk mencari keuntungan pribadi. Kami berharap kepada para pastor paroki untuk mencermati apa yang terjadi dalam seksi-seksi paroki, dan ketika terjadi komersialisasi fungsi hendaknya segera dibereskan.

Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia(1Kor 1:22-25).

Orang-orang Yahudi begitu mengandalkan diri pada rumus-rumus hukum atau peraturan, sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci, sedangkan orang-orang Yunani begitu mengandalkan otak atau kecerdasan berpikir, sehingga mereka tak mampu memahami bahwa Penyelamat Dunia, Yesus, Mesias harus mati disalibkan dalam rangka memenuhi tugas pengutusanNya. Maka Paulus berkata bahwa ‘pemberitaan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi bagi mereka yang dipanggil merupakan kekuatan dan hikmat Allah’. Sebagai orang beriman, khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus kami ajak dan ingatkan agar mengimani pemberitaan Kristus yang disalibkan.

Mengimani Dia yang wafat di kayu salib berarti siap sedia dengan jiwa besar dan hati rela berkorban dalam cara hidup dan cara bertindak demi keselamatan jiwa manusia. Dengan kata lain siap sedia untuk menderita demi sesuatu yang baik, luhur, mulia dan suci. “Jer basuki mowo beyo” = Untuk hidup mulia dan damai sejahtera orang harus rela berjuang atau berkorban, demikian kata dan makna sebuah peribahasa Jawa. Ajaran dan hukum yang utama dan pertama-tama adalah cintakasih, panggilan untuk saling mengasihi satu sama lain dalam hidup sehari-hari. Cintakasih sejati pasti disertai dengan pengorbanan dan perjuangan, sebagaimana disabdakan oleh Yesus:”Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu” (Yoh 16:21-22). Bukankah kelahiran seorang anak merupakan buah saling mengasihi?

Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.Jangan membunuh. Jangan berzinah. Jangan mencuri. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu.” (Kel 20:12-17). Kutipan dari Kitab Keluaran ini hemat saya merupakan perintah moral yang sangat jelas dan kiranya dapat dilaksanakan dalam “kekuatan Allah dan hikmat Allah”, artinya dalam kesatuan dan kebersamaan dengan Tuhan. Maka marilah kita mawas diri: apakah sebagai orang beriman kita sungguh mengandalkan diri pada kekuatan dan hikmat Allah, hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak dan perintah Allah. Kehendak dan perintah Allah antara lain dapat kita temukan dalam spiritualitas atau visi-misi hidup dan kerja bersama, sebagaimana tertulis di dalam Anggaran Dasar, Konstitusi atau Pedoman Hidup. “Apakah karena dorongan Roh Kudus kita hidup dan bertindak?”

Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah

(Mzm 19:8-11)

Ign 11 Maret 2012

 

Tags : , , , , ,

Rabu abu

Rabu Abu:  Yl 2:12-18; 2Kor 5:20-6:2; Mat 6:1-6.16-18

“Apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi”

Setiap agama atau keyakinan iman hemat saya senantiasa mengajarkan pentingnya berpuasa atau bermatiraga. Orang-orang yang dikenal sakti dan bijak pada umumnya telah menjalani matiraga atau puasa yang cukup lama, dimana mereka harus menyepi atau menyendiri, misalnya di gua-gua, di hutan belantara, di gunung-gunung, di pantai yang sepi, di padang pasir dst.. Di dalam kesepian dan kesendirian tersebut mereka berdoa, merenung dan berrefleksi dalam rangka menemukan kehendak Ilahi, yang kemudian dijadikan pedoman atau pegangan dalam hidup sehari-hari. Sayang dan sungguh memprihatinkan matiraga pada masa kini jika dicermati sungguh mengalami erosi atau kurang memperoleh perhatian di tengah-tengah sikap mental kebanyakan orang yang materialistis, konsumptif dan hedonis. Mulai hari ini kita umat Katolik diajak untuk memasuki masa Puasa, masa bertobat atau masa berahmat selama kurang lebih empat puluh hari, dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengenangkan puncak iman Kristiani, yaitu wafat dan kebangkitan Tuhan Yesus. Maka marilah kita masuki dan jalani masa Puasa ini dengan tekun dan rendah hati, antara lain kita perdalam dan tingkatkan hidup doa, matiraga, sosial dan persaudaraan sejati.

"Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." (Mat 6: 16-18).

Tujuan puasa, matiraga atau lakutapa lahir, sebagaimana diajarkan oleh St.Ignatius Loyola ‘mempunyai tiga maksud utama: 1. Menyilih dosa-dosa lampau, 2. Mengalahkan diri dan 3. Untuk mencari dan mendapatkan suatu rahmat atau anugerah’ (lih LR St.Ignatius Loyola no 87):

1. Agar dapat menyilih dosa-dosa kiranya perlu mengenal atau mengetahui dosa-dosanya dengan benar dan tepat. Kita tak mungkin mengenal dan mengetahui dosa-dosa kita dengan tepat dan benar di dalam keramaian atau kebisingan, melainkan di dalam keheningan dan kesepian kita akan lebih mudah mengenal dan mengetahuinya. Untuk itu kita perlu menyendiri atau tinggal di tempat  yang tersembunyi, sehingga kita dapat mawas diri dengan baik, awas terhadap diri sendiri, kenal dengan baik akan diri sendiri, sebagai orang berdosa yang dipanggil Tuhan.

2. Ketika kita kenal diri sendiri, maka kita juga akan mampu mengalahkan diri sendiri, maksudnya mengarahkan diri kepada kehendak Tuhan. Dengan kata lain yang dimaksudkan mengalahkan diri sendiri adalah ‘nafsu taat kepada budi, dan semua kemampuan-kemampuan yang lebih rendah makin tunduk kepada yang lebih luhur’ (ibid.). Kita diharapkan mampu mengendalikan atau mengarahkan derap langkah atau gerak raga atau anggota tubuh kita sesuai dengan kehendak Tuhan dan tidak lagi mengikuti keinginan, kehendak atau nafsu sendiri.

3.Rahmat yang kita dambakan antara lain adalah tobat, semangat atau sikap mental untuk memperbaharui diri terus-menerus, sehingga kita dapat menjadi orang Katolik atau orang beriman yang peduli dan berbagi, antara lain senantiasa melakukan pekerjaan baik meski kecil dan sesederhana sekalipun, sebagai menjadi tema APP tahun ini. Dengan kata lain kita diharapkan berubah menjadi atau memperdalam diri sebagai orang baik dan peduli terhadap kebutuhan orang lain, terutama mereka yang miskin dan berkekurangan. Perbuatan baik atau kepedulian kita tidak perlu digembar-gemborkan atau diumumkan dimana-mana, melainkan lakukanlah saja dengan diam-diam. Meskipun tidak akan diketahui atau dipuji orang lain hendaknya tetap berbuat baik dan peduli kepada orang lain.

Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” (2Kor 5:20-21)

Berilah dirimya didamaikan dengan Allah”, inilah yang hendaknya kita refleksikan atau renungkan dan kemudian kita hayati atau laksanakan. Apakah kita tidak berdamai dengan Allah?  Jika kita jujur dan benar mawas diri kiranya kita akan mengakui dan menghayati bahwa kita tidak senantiasa hidup dalam perdamaian dengan Allah, karena dosa-dosa kita, entah besar atau kecil. Semakin tambah usia dan pengalaman pada umumnya juga semakin bertambah dosa-dosanya, itulah yang pada umumnya terjadi. Hidup berdamai dengan Allah berarti hidup baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur dan dengan demikian senantiasa hidup saling mengasihi tanpa batas dan dengan bebas.

Kita semua diciptakan, dikandung, dilahirkan dan dibesarkan di dalam dan oleh kasih, namun demikian sering kita tidak tahu dan tidak mau berterima kasih, padahal kita semua telah menerima kasih secara melimpah ruah dari Allah melalui orang-orang yang telah mengasihi, memperhatikan dan mendampingi hidup dan perjalanan panggilan kita. Tanpa kasih kita tak mungkin dapat ada, tumbuh dan berkembang sebagaimana adanya pada saat ini. Aneka macam bentuk penyelewengan, ketidak-setiaan atau perselingkuhan hemat saya merupakan bentuk pelanggaran kasih dari mereka yang tak tahu dan tahu mau berterima kasih. Bukankah kita sering menyeleweng, tidak setia dan hanya hidup mengikuti selera atau keinginan pribadi alias sering berdosa? Marilah dengan rendah hati kita berusaha untuk berdamai dengan Allah alias bertobat.  

"Tetapi sekarang juga," demikianlah firman TUHAN, "berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh." Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya. Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi TUHAN, Allahmu” (Yl 2:12-14).  Marilah kita dengan rendah hati mengakui dosa-dosa kita serta mohon kasih pengampunan Tuhan, “sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia”.  Hendaknya kita juga tidak takut dan malu untuk saling mengakui dosa dan minta maaf atau kasih pengampunan, dan marilah kita tunjukkan diri kita sebagai orang yang sungguh mengasihi dan menyayangi, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.

Sabar adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri dan tetap bertahan seperti keadaan semula dalam menghadapi berbagai rangsangan atau masalah” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Berbagai rangsangan dan masalah ada di sekitar hidup dan kerja kita dimanapun dan kapanpun, yang merayu kita untuk tidak sabar serta berselingkuh alias tidak setia pada panggilan dan tugas pengutusan kita. Tuhan telah begitu sabar terhadap kita, yang lemah, rapuh dan berdosa ini, maka marilah kita salurkan kesabaran tersebut kepada saudara-saudari kita.

Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat” (Mzm 51:3-6a)

Ign 22 Februari 2012

 

Tags : , ,