Tag: manusia

Setelah Fidel: Bagaimana Masa Depan Hak Asasi Manusia di Kuba?

fidel-castroSetelah Fidel: Bagaimana Masa Depan Hak Asasi Manusia di Kuba? 0By John L. Wujon onNovember 30, 2016Urbi

JAKARTA,MIRIFICA.NEWS – Jangan berharap terjadi perubahan radikal di Kuba, demikian kata para pengamat.

Perbaikan dalam soal penegakan Hak Asasi Manusia (HAM)  akan terus dilakukan pasca kematian Fidel , tetapi hal itu akan memakan waktu cukup lama, kata para pengamat sesaat setelah Castro menghembuskan nafas terakhirnya di usia 90.

Sebagaimana sejarah memperlihatkan, kematian para pemimpin revolusioner telah menimbulkan berbagai dampak berbeda dalam perjalanan waktu di kemudian hari.

“Jika kematiannya  terjadi 15 tahun yang lalu itu akan menjadi cerita yang berbeda, tapi Castro melakukan segala sesuatu yang  perlu ia lakukan untuk memastikan bahwa tiraninya akan terus setelah dia pergi,” kata Alberto de la Cruz, seorang editor yang dikenal anti Castro.

Melalui media online babalublog.com, Cruz mengatakan, “Itu sebabnya orang perlu tahu bahwa transisi kekuasaan dari Castro ke adiknya [Raul Castro] merupakan sebuah transisi yang sudah merasuk jauh ke anak-anak dan cucu-cucu dan kerabat. Jika [Fidel] meninggal 20 tahun yang lalu, ketika ia tidak akan membiarkan ada orang lain memiliki kekuatan, akan ada kekosongan besar.”

Pendapat serupa disampaikan pula oleh mantan pejabat Departemen Luar Negeri Edward G. Stafford yang memperkirakan tidak akan ada perubahan radikal pasca kematian Castro. “Saudaranya akan melanjutkan kebijakan,” kata Stafford. “Apakah akan ada pelonggaran bertahap kontrol negara dari setiap aspek kehidupan masyarakat?” Jangan mengharapkan perubaha dalam semalam. Problem Raul adalah ia memiliki kekuasaan besar (politbiro) dan negara dikuasai oleh orang-orang yang telah lama merasa nyaman serta tidak tertarik pada agenda perubahan ekonomi yang dikehendaki oleh mayoritas warga.

========

Sumber: aleteia.org

Kredit Foto: Sven Creutzmann/Mambo/aleteia.org

Thomas More: ‘Manusia Segala Waktu, Terutama Sekarang’

thomas-moreThomas More: ‘Manusia Segala Waktu, Terutama Sekarang’ 0By John L. Wujon onOctober 20, 2016Urbi

“Hikmah dari kegiatan pameran tentang Thomas More saat ini di AS, tepatnya di Gedung Santo Yohanes Paulus II Washington D.C, jelas bahwa ia lebih bermakna untuk waktu sekarang dari pada waktu lainnya,” demikian Michael J. Rubin dalam tulisannya tentang More di aleteia.org

MEMILIKI lebih dari 60 pennggalan bersejarah tentang kehidupan Thomas More serta beberapa tentang St. Johnn Fisher, sebuah pameran kini dibuka setiap harinya di Gedung Santo Yohanes Paulus II di Washington D.C sampai Maret 2017. Pameran mengambil tema: Hamba Allah Pertama: Kehidupan dan Karya Thomas More – mengacu pada kata-kata terakhir sebelum More dipenggal kepalanya: “Aku mati sebagai hamba raja yang baik, tetapi pertama-tama sebagai hamba Allah”.

Ketika pameran memberi perhatian lebih pada masa kehidupan awal More, hal ini mengingatkan kita pada peristiwa eksekusinya oleh Raja Henry VIII, ditandai dengan penolakan Paus Klemens VII untuk membatalkan pernikahan awal Henry dengan Katarina dari Aragon. Raja Henry lalu menanggapinya dengan menyatakan dirinya sebagai Pemimpin Tertinggi Gereja di Inggris sehingga dia bisa melakukan pembatalan terhadap pernikahan sebelumnya dan menikah lagi dengan kekasih barunya, Anne Boleyn. More tahu bahwa publik menentang raja, karena hal itu membahayakan keluarganya. More  mengundurkan diri secara diam-diam. Tapi karena reputasi More dalam pengetahuan dan kebajikan, Herny bertekad untuk menikah lagi dan memaksa rakyat Inggris untuk mengakui kepemimpinannya dalam Gereja Inggris. Ketika More menolak untuk melakukan hal itu, ia dipenjara, dihukum karena berkhianat, dan dipenggal kepalanya.

Jadi, More dipenggal kepalanya pada masa Gereja mencapai puncak kekuasaannya – tapi juga karena ia ingin melakukan apa yang para Martir lakukan:  memberikan diri demi kebenaran. Raja Henry ingin meyakinkan bahwa ia bisa membatalkan pernikahannya sesuai kemauannya sendiri dan ia ingin orang-orang dengan reputasi seperti More berbalik mendukungnya. Tapi More menolak, diam-diam ia memberikan kesaksian tentang kebenaran dari otoritas kepausan ketakterceraikannya perkawinan Katolik.

Tema pameran jelas diambil dari kutipan Santo Yohanes Paulus II: “Kehidupan dan kematian Santo Thomas More…. berbicara kepada setiap orang terutama ketika kesadaran akan martabat mereka diinjak-injak”.  Makna sesungguhnya dari tema ini, bagaimanapun, nampak jelas dari bagian pameran tentang warisan More. Teladan hidup More membantu promosi keluar tentang kebebasan beragama di Amerika dan di dunia. Pameran juga memperlihatkan sejarah anti-Katolik di AS, dan akhirnya sebuah kutipan G.K. Chesterton juga ditempatkan di sana: “Thomas More lebih penting untuk masa kini daripada masa sebelumnya sejak kematiannya”.

Impilkasinya jelas: More selalu relevan dengan setiap zaman karena ia adalah seorang martir bagi kebebasan Gereja yang saat ini sedang terancam oleh upaya keras pemerintah Amerika untuk memaksa orang Katolik agar bertindak melawan kesadaran mereka pada isu-isu seperti kontrasepsi dan pernikahan sesama jenis. Pameran ini tidak berdiri sendiri terutama ketika  dihubungkan dengan peristiwa kematian More dan situasi orang-orang Katolik saat ini. Sebelum di bawa ke pameran, relif More dan Fisher dihormati oleh masyarakat Amerika Serikat.

Tidak diragukan lagi, pameran tersebut punya relevansi lebih untuk zaman kita. Bukan hanya untuk orang Katolik AS. Sebab saat ini Gereja sedang menghadapi serangan dari  otoritas pemerintah tertentu terutama karena padangannya tentang keluarga. Sama seperti Raja Henry yang mengingkari ketidakterceraikannya perkawinannya, hari ini pemerintah di berbagai negara menyangkal bahwa pernikahan itu tidak semata-mata hanya antara pria dan wanita saja, dan bahwa kontrasepsi bertentangan langsung dengan sifat-sifatnya. Sama seperti Raja Henry, pemerintah di negara-negara tertentu juga sedang memaksa orang Katolik untuk mengakui apa yang sama sekali diketahui tidak benar. Dan seperti More, kita harus menanggapinya melalui kesaksian akan kebenaran, bahkan apabila kesaksian itu berarti menderita karena dianiaya.

More bukan hanya “seorang manusia untuk segala waktu” seperti Robert Whittingtin menyebutnya, tapi terlbih seorang manusia untuk waktu sekarang. Ketika kita mempelajari kemartiran More, kita tidak hanya belajar tentang masa lampau, tapi juga merenungkan masa depan kita. Thomas More adalah seorang martir dalam artian sebenarnya. Kehidupannya seharusnya menjadi teladan bagi para awam Katolik yang berkiprah di dunia sosial-politik.

Sumber: Aleteia,org

Kredit Foto: wikipedia

“Ben-Hur”, Nafsu Manusia untuk Berkuasa

BERBEDA dengan film sejenis dengan judul sama produksi tahun 1959 yang telah menjadi kolosal, kali ini Ben-Hur besutan tahun 2016 lebih bicara tentang beberapa pokok. Yakni, nafsu manusia untuk berkuasa, gerakan cinta kasih untuk melawan kedengkian, dan pengampunan. Ketiga pokok penting dalam Ben-Hur besutan tahun 2016 muncul pada diri ketiga tokoh penting dalam film ini: Ben-Hur orang Yehuda, Messala, dan Yesus.

Yesus hanya muncul sekelebat saja. Namun, gerakan cintakasih yang Dia proklamirkan rupanya menjadi babak penting sebagai happy-ending story dimana Judah Ben-Hur (Jack Huston) akhirnya bersedia memaafkan Messala (Toby Kebbell), saudara non kandung yang sudah hidup bersama keluarganya sejak kecil namun akhirnya membuat seluruh anggota keluarnya menderita di bawah tekanan penguasa Romawi.

Nafsu untuk berkuasa

Karena ingin berkuasa dan menjadi tokoh di panggung politik Romawi, Messala pergi meninggalkan rumah ningrat di Yerusalem untuk kemudian menjadi serdadu Romawi dan akhirnya ‘orang penting’ di Imperium Romanum di wilayah Yudea, kini Israel. Karena nafsu berkuasa itulah, Messala rela melakukan segalanya untuk tetap menjadi ‘orang penting’ di Imperium Romanum. Termasuk ketika dia harus mengusir Judah Ben-Hur keluar Israel hingga akhirnya mengembara ke Afrika dan jatuh ke tangan penguasa budak bernama Sheik Ilderim (Morgan Freeman).

Berkat kemenangannya di panggung arena balapan kereta kuda di amphitheatrum dan mendepak Messala sebagai pecundang, hak-hak sipil Judah Ben-Hur akhirnya dipulihkan. Di ujung cerita, hubungan relasionalnya dengan Messala ikut dipulihkan karena dia bersedia memaafkan kejahatan Messala yang telah menelantarkan dia dan keluarganya.

Sebagai film, Ben-Hur besutan tahun 2016 ini sungguh kalah ‘menggigit’ dibandingkan dengan film-film sejenis dengan judul kurang lebih sama.

Co-founder dan chief editor Sesawi.Net; Konsultan Media & Communication di lembaga internasional mhariyadi@sesawi.net, mathias.hariyadi@gmail.com

Sumber: Sesawi.net

Tags : , , , ,

Manfaat Tanaman Kelor untuk Manusia

kup9Manfaat Tanaman Kelor untuk Manusia 0By Kevin Sanly Putera onSeptember 27, 2016KOMSOS KWI

POHON kelor masuk dalam jenis sayur-sayuran. Masyarakat NTT, khususnya Kupang, biasa menyebut daun kelor sebagai “Daun Marungga”. Tanaman ini tumbuh subur di daerah NTT karena iklim yang kondusif. Meski daunnya kecil dan lonjong, pohonnya tinggi dan kayunya bertekstur kasar serta berwarna putih pucat.

Bagian daun dan kulit pohon kelor punya manfaat positif untuk kesehatan manusia. Daunnya dapat membantu melancarkan proses pencernaan dan merangsang pigmen melamin pada kulit. Untuk mengonsumsinya, daun kelor bisa dimasak bening atau dicampur dengan sayuran lain. Sayurnya bisa dimakan dengan nasi, begitu pula air rebusannya yang langsung diminum.

Sedangkan kulit pohon kelor dapat membantu memperlancar proses persalinan bila dicampur dengan beberapa ramuan tradisional.

kup10

Karya: Silvia Y.W. Lake (Mahasiswi Semester III STIPAS Keuskupan Agung Kupang)

“Workshop yang menyenangkan! Saya merasa bangga dapat mengikuti pelatihan ini. Pelatihan ini merupakan jalan bagi saya untuk lebih giat lagi dalam menulis. Dengan program Indonesia Menulis ini, saya menjadi tergugah untuk terus menulis. Terima kasih kepada Pak Budi, Bu Maria, dan tim yang telah meluangkan waktu untuk memberikan pelatihan menulis dengan berbagai cara dan metodenya yang terbilang sempurna.” – Silvia Y. W. Lake

gambar: anekatop10.com

Sikap Manusia Dalam Menanggapi Firman Allah

ALLAH sungguh mengasihi manusia. Ia tidak ingin manusia tersesat dalam menapaki jalan kehidupan, sehingga Ia menganugerahkan firmanNya sebagai pedoman yang mengarahkan dan membimbing langkah manusia untuk menuju keselamatan.

Setiap pribadi mempunyai sikap yang berbeda dalam menanggapi firmanNya:

Ada yang tidak percaya sehingga memutuskan untuk mengabaikan bahkan menolak firmanNya sehingga mereka hidup di bawah belenggu kekuasaan si jahatAda yang percaya dan menyambutnya dengan sukacita, namun tidak ada kemauan dalam diri mereka untuk menggali firman lebih dalam sehingga saat penderitaan dan kesulitan menimpa hidup mereka, matilah firman tersebut terhimpit ketakutan dan kekawatiranAda juga yang percaya, tapi karena mereka lebih mengutamakan kenikmatan duniawi maka firman tidak bertumbuh di dalam kehidupan mereka

Agar firman dapat bertumbuh subur, kita harus mengembangkan sikap yang benar. Mari buka hati dan mohon bimbingan Roh Kudus agar kita mampu menjadi pendengar dan pelaku firman. Dengan demikian hidup kita akan menghasilkan buah yang baik bagi kemuliaan Tuhan dan juga bagi sesama.

Sumber: Sesawi.net

Tags : , , , , ,

Tidak Mencari Pujian Manusia

Kamis, 10 Maret 2016
Pekan Prapaskah IV
Kel 32:7-14, Mzm 106:19-20.21-22.23; Yoh 5:31-47

Yesus bersabda, “Aku tidak memerlukan hormat dari manusia. Tetapi tentang kamu, memang Aku tahu bahwa di dalam hatimu kamu tidak mempunyai kasih akan Allah. Aku datang dalam nama Bapa-Ku, dan kamu tidak menerima Aku. Jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia.”

DALAM Injil hari ini, Yesus bersabda, “Aku tidak memerlukan hormat dari manusia.” Ya Yesus tidak membutuhkan itu. Yesus tak butuh pujian manusia. Mengapa?

Yesus Kristus adalah Putra Allah, dan Ia memberi teladan istimewa bahwa kita harus memuliakan Allah dan bukan diri sendiri. Bila kita mencari pujian dari manusia dan ngotot agar diterima manusia maka sesungguhnya kita mengabaikan Allah yang nenyediakan kemuliaan bagi kita. Kita harus memurnikan niat kita dan memuliakan Allah semata melalui seluruh tindakan dan pikiran kita.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita menyembah Yesus Kristus yang memberi kita contoh sempurna memuliakan Allah semata hingga hidup abadi dianugerahkan kepada kita dan banyak jiwa-jiwa. Adorasi Abadi juga membantu kita melakukan segala sesuatu demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar.

Tuhan Yesus Kristus, kami datang untuk menghabiskan waktu kami bersama-Mu karena kami ingin menyembah dan memuliakan Allah bersama-Mu. Bantulah kami tidak mencari pujian manusia, tetapi selalu memusatkan perhatian kami untuk kepentingan sesama kini dan selamanya. Amin.

Sumber: Sesawi.net

Kesabaran Tuhan Terhadap Manusia

TUHAN menciptakan dunia baik adanya agar dapat didiami manusia secara aman dan damai. Namun ketamakan manusia yang dengan semena-mena memanfaatkan dunia dan isinya, membuat dunia menjadi ‘sakit’, sehingga terjadi pencemaran air, polusi udara dan lainnya. Bahkan manusia sendiri tercemar oleh dosa, tercermin dari maraknya tindakan kejahatan dan kekerasan di sekitar kita.

Tuhan sangat sabar melihat perlakuan manusia yang tidak bertanggung jawab, yang kerap menolak bahkan menyakiti hatiNya. Ia maha Pengasih, bahkan PutraNya, Yesus Kristus, diutus datang ke dunia untuk mengurbankan diri agar manusia terbebas dari belenggu dosa.

Mari murnikan kembali martabat kita sebagai anak Allah dengan hidup dalam pertobatan. Arahkan hati kita kepadaNya dan mohon bimbinganNya agar kita mampu mengalahkan kecenderungan untuk berbuat dosa sehingga kelak kita layak hidup bersamaNya di dalam keabadian.

Sumber: Sesawi.net

Kasih Allah Kepada Manusia

KISAH perumpamaan anak yang hilang, mengajarkan kepada kita, betapa sempurnanya kasih Allah, kasih yang tidak bersyarat dan tidak berubah sepanjang masa.

Berbeda dengan kasih manusia, yang pada umumnya menuntut timbal balik, bersifat membelenggu dan dilandasi motivasi tersembunyi. Kasih manusia begitu rapuh, sehingga saat yang diinginkan atau diharapkan berbeda dengan kenyataan, pupuslah tali kasih yang sudah terbina.

Kerahiman Allah melampaui dosa manusia. Walau berulang kali manusia jatuh dan jatuh kembali ke dalam lumpur dosa, dengan sabar dan setia Ia menunggu pertobatan manusia.  Tak dihiraukanNya masa lalu yang kelam, pintu pengampunan selalu terbuka seluas-luasnya. Dan dengan penuh sukacita, Ia menyambut setiap pribadi yang bertobat, dan merengkuhnya ke dalam pelukan kasihNya.

Terima kasih Bapa atas kasihMu yang sungguh besar. Mari perbaharui hidup kita dengan memperkenankan kehendakNya memimpin langkah kita menapaki jalan keselamatan.

Semoga kasihNya menginspirasi kita untuk bersedia mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kita, dengan tulus.

Sumber: Sesawi.net

“The Finest Hours”, Menguji Kualitas Hidup Manusia


DALAM hidup ini, manusia ini kadang berbuat aneh atau berperilaku “di luar kebiasaan”. Saat semua berjalan lancar dan keseharian hidup berlangsung aman, tenang, dan nyaman, maka pola relasional manusia juga begitu-begitu saja. Namun, dalam kondisi hidup yang nyaris berpapasan dengan bahaya maut –apalagi di ujung kematian—maka pola relasional manusia tiba-tiba bisa saja berubah.


Hubungan suami istri bisa renggang di kala hari-hari ‘biasa’. Namun, ketika sakratul maut mau menjemput salah satu dari mereka, hubungan ‘datar’ bisa menjadi intensif. Permohonan maaf diungkapkan dan kualitas hidup keduanya menjadi lebih ‘berwarna’ karena di situ ada pengampunan.


Itu sekedar contoh saja. Namun, dalam alam kehidupan yang nyata, pola relasional manusia seperti itu agaknya lazim terjadi dimana pun. Tak terkecuali di belahan dunia Barat –tepatnya di Massachussetts, Amerika—sebagaimana tergambar apik dalam film anyar bertitel The Finest Hours ini.


Lebih intensif
Sebagaimana tergambar dalam judulnya yakni The Finest Hours, pola hubungan relasional antara Bernard ‘Bernie’ Webber (Chris Pine) dengan kekasihnya Miriam Pentinen (Holliday Grainger) sebenarnya ‘dingin’ seadem hawa Massachussetts yang di tahun 1952 baru dihantam badai salju. Ketika Miriam meminta Bernie segera meminangnya, Chris dilanda keraguan hingga kemudian Miriam ‘melarikan diri’.


Di ujung cerita, Chris Pine berusaha minta izin atasannya Komandan Daniel Cluff (Eric Bana) untuk merestui rencana perkawinannya. Namun, untung tak tak dapat diraih dan malang tak dapat ditolak. Persis ketika dia ingin mengutarakan rencana perkawinannya, Cluff malah menugasinya melakukan operasi evakuasi penyelamatan bagi awak kapal tanker SS Pendleton yang terseok karam di perairan Chatham.

the finest hours by youtubeMenunggu hari baik agar sekali waktu ada kapal penyelamat yang berhasil membawa mereka selamat menuju daratan. (Ist)

Miriam dilanda kekecewaan berat. Ia merasa ditinggalkan Bernie, sekaligus marah besar karena Cluff  ‘telah’ mencelakakan Bernie masuk ke pusaran lautan ganas. Kegalauan hati membuat Miriam buta mata hingga mobilnya terperosok parit di tengah badai salju.


Di lautan yang ganas dan bersama awaknya yang masih ingusan seperti Andrew Fitzgerald, Ervin Maske, dan Richard P. Livesey, Bernie berjuang bertaruh nyawa mengalahkan amukan badai lautan yang ganas. Karena sudah hafal kawasan itu, dia berhasil ‘menemukan’ bangkai kapal SS Pendleton dan kemudian mengevakuasi seluruh 32 awak kapalnya. Konon, ini kisah penyelamatan kapal kecil yang paling berhasil dalam sejarah perkapalan di dunia.


Pertarungan nilai


The Finest Hours adalah pertarungan hidup-mati antara ketakutan dan keberanian “menyabung’ nyawa. Di SS Pendleton, awak kapal bernama Ray Sybert juga bertarung opini melawan pendapat umum mengenai perlu-tidaknya menyelamatkan diri melalui sekoci. Sementara, di atas geladak kecil kapal penyelamat CG 36500, Bernie bertarung melawan kekerdilan hatinya untuk kemudian memompa rasa percaya diri dengan meyakinkan kawan-kawannya bahwa evakuasi ‘bunuh diri’ itu akan berhasil.


Rupanya memang mereka berhasil menemukan para pelaut SS Pendleton yang tengah menyabung nyawa dan akhirnya membawa mereka pulang selamat. Di ujung cerita menjadi jelas, bahwa akhirnya kualitas hidup orang  itu bisa ‘meningkat’ setelah mengalami gelombang kehidupan yang begitu ganas. Sama seperti kapal penyelamat CG 36500 yang  harus mampu bertahan melawan ganasnya badai dan ombak. Atau, Miriam yang harus berani mengatasi kegalauan hatinya dan tetap mempercayai Bernie sebagai orang baik dan punya moralitas tinggi untuk berkoban dan menyelamatkan orang lain.


Kisah nyata kehidupan


The Finest Hours adalah film yang diangkat dari kisah nyata. Karenanya, film ini sarat dengan nilai moral yang mendewasakan kita. Tidak melulu bicara tentang romantisme anak-anak muda Massacchussetts, melainkan soal ‘pertarungan batin’ antara kelemahan jiwa dan semangat hidup yang meletup-letup hingga kemudian melahirkan komitmen kehidupan.


Pada hemat saya, The Finest Hours adalah film bagus. Sound-effect-nya luar biasa hingga bisa menggambarkan dahsyatnya gelombang dan badai lautan. Musiknya juga hebat, karena mampu menggelembungkan rasa takut manusia ketika besi beradu besi hingga kemudian mengalami keretakan.


Yang lebih mengesankan tentu saja, bagaimana film tentang kisah cinta remaja ini mampu bicara tentang kisah kehidupan para penjaga pantai (US Coast Guard). Yakni, kisah mereka yang berjuang menyelamatkan orang lain dengan risiko hidup mereka sendiri bisa berada  di ujung kematian.


Konon, kisah yang terangkat dalam The Finest Hours ini merupakan kisah paling heroik dalam sejarah hidup para US Coast Guard sepanjang sejarah. Terutama kisah para awak penjaga panti  dalam upayanya menyelamatkan orang yang terhempas di lautan karena ganasnya badai dan ombak.


Dalam alam kehidupan yang nyata, usai berhasil membawa awak kapal SS Pendleton pulang selamat, Bernie akhirnya resmi mengawini Miriam. Mereka hidup bahagia sebagai suami-istri hingga usai perkawinan mereka menginjak angka 58 tahun. Bersama kawan-kawanya yang mengayuh kematian di geladak kapal penyelamat CG 36500, Bernie dianugerahi bintang Gold Lifesaving Medal.

“The Finest Hours”, Menguji Kualitas Hidup Manusia

DALAM hidup ini, manusia ini kadang berbuat aneh atau berperilaku “di luar kebiasaan”. Saat semua berjalan lancar dan keseharian hidup berlangsung aman, tenang, dan nyaman, maka pola relasional manusia juga begitu-begitu saja. Namun, dalam kondisi hidup yang nyaris berpapasan dengan bahaya maut –apalagi di ujung kematian—maka pola relasional manusia tiba-tiba bisa saja berubah.

Hubungan suami istri bisa renggang di kala hari-hari ‘biasa’. Namun, ketika sakratul maut mau menjemput salah satu dari mereka, hubungan ‘datar’ bisa menjadi intensif. Permohonan maaf diungkapkan dan kualitas hidup keduanya menjadi lebih ‘berwarna’ karena di situ ada pengampunan.

Itu sekedar contoh saja. Namun, dalam alam kehidupan yang nyata, pola relasional manusia seperti itu agaknya lazim terjadi dimana pun. Tak terkecuali di belahan dunia Barat –tepatnya di Massachussetts, Amerika—sebagaimana tergambar apik dalam film anyar bertitel The Finest Hours ini.

Lebih intensif
Sebagaimana tergambar dalam judulnya yakni The Finest Hours, pola hubungan relasional antara Bernard ‘Bernie’ Webber (Chris Pine) dengan kekasihnya Miriam Pentinen (Holliday Grainger) sebenarnya ‘dingin’ seadem hawa Massachussetts yang di tahun 1952 baru dihantam badai salju. Ketika Miriam meminta Bernie segera meminangnya, Chris dilanda keraguan hingga kemudian Miriam ‘melarikan diri’.

Di ujung cerita, Chris Pine berusaha minta izin atasannya Komandan Daniel Cluff (Eric Bana) untuk merestui rencana perkawinannya. Namun, untung tak tak dapat diraih dan malang tak dapat ditolak. Persis ketika dia ingin mengutarakan rencana perkawinannya, Cluff malah menugasinya melakukan operasi evakuasi penyelamatan bagi awak kapal tanker SS Pendleton yang terseok karam di perairan Chatham.

the finest hours by youtubeMenunggu hari baik agar sekali waktu ada kapal penyelamat yang berhasil membawa mereka selamat menuju daratan. (Ist)

Miriam dilanda kekecewaan berat. Ia merasa ditinggalkan Bernie, sekaligus marah besar karena Cluff  ‘telah’ mencelakakan Bernie masuk ke pusaran lautan ganas. Kegalauan hati membuat Miriam buta mata hingga mobilnya terperosok parit di tengah badai salju.

Di lautan yang ganas dan bersama awaknya yang masih ingusan seperti Andrew Fitzgerald, Ervin Maske, dan Richard P. Livesey, Bernie berjuang bertaruh nyawa mengalahkan amukan badai lautan yang ganas. Karena sudah hafal kawasan itu, dia berhasil ‘menemukan’ bangkai kapal SS Pendleton dan kemudian mengevakuasi seluruh 32 awak kapalnya. Konon, ini kisah penyelamatan kapal kecil yang paling berhasil dalam sejarah perkapalan di dunia.

Pertarungan nilai

The Finest Hours adalah pertarungan hidup-mati antara ketakutan dan keberanian “menyabung’ nyawa. Di SS Pendleton, awak kapal bernama Ray Sybert juga bertarung opini melawan pendapat umum mengenai perlu-tidaknya menyelamatkan diri melalui sekoci. Sementara, di atas geladak kecil kapal penyelamat CG 36500, Bernie bertarung melawan kekerdilan hatinya untuk kemudian memompa rasa percaya diri dengan meyakinkan kawan-kawannya bahwa evakuasi ‘bunuh diri’ itu akan berhasil.

Rupanya memang mereka berhasil menemukan para pelaut SS Pendleton yang tengah menyabung nyawa dan akhirnya membawa mereka pulang selamat. Di ujung cerita menjadi jelas, bahwa akhirnya kualitas hidup orang  itu bisa ‘meningkat’ setelah mengalami gelombang kehidupan yang begitu ganas. Sama seperti kapal penyelamat CG 36500 yang  harus mampu bertahan melawan ganasnya badai dan ombak. Atau, Miriam yang harus berani mengatasi kegalauan hatinya dan tetap mempercayai Bernie sebagai orang baik dan punya moralitas tinggi untuk berkoban dan menyelamatkan orang lain.

Kisah nyata kehidupan

The Finest Hours adalah film yang diangkat dari kisah nyata. Karenanya, film ini sarat dengan nilai moral yang mendewasakan kita. Tidak melulu bicara tentang romantisme anak-anak muda Massacchussetts, melainkan soal ‘pertarungan batin’ antara kelemahan jiwa dan semangat hidup yang meletup-letup hingga kemudian melahirkan komitmen kehidupan.

Pada hemat saya, The Finest Hours adalah film bagus. Sound-effect-nya luar biasa hingga bisa menggambarkan dahsyatnya gelombang dan badai lautan. Musiknya juga hebat, karena mampu menggelembungkan rasa takut manusia ketika besi beradu besi hingga kemudian mengalami keretakan.

Yang lebih mengesankan tentu saja, bagaimana film tentang kisah cinta remaja ini mampu bicara tentang kisah kehidupan para penjaga pantai (US Coast Guard). Yakni, kisah mereka yang berjuang menyelamatkan orang lain dengan risiko hidup mereka sendiri bisa berada  di ujung kematian.

Konon, kisah yang terangkat dalam The Finest Hours ini merupakan kisah paling heroik dalam sejarah hidup para US Coast Guard sepanjang sejarah. Terutama kisah para awak penjaga panti  dalam upayanya menyelamatkan orang yang terhempas di lautan karena ganasnya badai dan ombak.

Dalam alam kehidupan yang nyata, usai berhasil membawa awak kapal SS Pendleton pulang selamat, Bernie akhirnya resmi mengawini Miriam. Mereka hidup bahagia sebagai suami-istri hingga usai perkawinan mereka menginjak angka 58 tahun. Bersama kawan-kawanya yang mengayuh kematian di geladak kapal penyelamat CG 36500, Bernie dianugerahi bintang Gold Lifesaving Medal.

avatar Co-founder dan chief editor Sesawi.Net; Media & Communication Manager di United Cities and Local Governments Asia-Pacific. mhariyadi@sesawi.net, mhariyadi@yahoo.com

Sumber: Berita Seputar Jesuit