Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Terhalang Jarak, Jangan Kawatir karena lewat Kissenger Anda Tetap Bisa Ciuman

JARAK tak menghalangi orang bisa berciuman. Meski secara fisik saling berjauhan, ternyata kemajuan teknologi telah berhasil menciptakan alat dimana kedua insan manusia beda lokasi tetap bisa berciuman. Alat terkini yang memungkinkan kontak lips-to-lips itu diberi nama Kissenger. Kissenger merupakan kependekan dari Kiss-Messenger dan baru saja dipamerkan keberadaannya dalam sebuah pameran [...]

Baju Baru

Ayat bacaan: Kolose 3:8-10
========================
“Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini…karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.”

Saya teringat ketika saya mengalami ospek (dulu disebut plonco) sebagai seorang mahasiswa baru yang biasanya dimanfaatkan para senior untuk dipermainkan. Masa ospek saya waktu itu berlangsung selama 3 hari, dan sejak di hari pertama saya sudah terkejut sejak awal. Mahasiswa baru laki-laki semua disuruh membuka baju dan kemudian masuk berendam di parit tepat di depan kampus yang begitu kotor. Kami tidak punya pilihan, lalu menceburkan diri ke dalamnya. Dari atas seorang senior mengibas-ngibaskan sapu lidi agar kami kecipratan lumpur kotor dari parit itu. Yang parah, selama 3 hari kami tidak diperbolehkan mandi, dan harus tetap mengenakan baju yang sama hingga ospek selesai. Begitu selesai hari ke 3, saya pun sesegera mungkin mandi berkali-kali, sebersih-bersihnya dan berganti baju. Mengapa saya membukanya dengan pengalaman ospek saya? Karena rasanya, tidak akan ada orang yang mengganti baju tetapi tetap membiarkan dirinya masih kotor berlumur lumpur kotor parit. Lebih tidak mungkin lagi jika orang langsung melapis baju baru di atas baju kotor tanpa membukanya terlebih dahulu. Aplikasinya? Keberadaan kita sebagai manusia baru tidak akan bisa sempurna kita kenakan tanpa terlebih dahulu melepaskan manusia lama kita.

Dengan menerima Kristus kita pun diubahkan menjadi ciptaan baru. Dengan sangat indah firman Tuhan berkata: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17). Ini sebuah berita besar bagi kita akan keselamatan. Kita yang tadinya berlumur lumpur dosa kini diberikan sebuah kondisi baru yang bersih lewat pengorbanan Kristus di atas kayu salib. Tapi bisakah kita menghidupi keberadaan kita sebagai ciptaan baru, sebagai manusia baru dengan sempurna jika kita masih enggan melepas sisa-sisa kekotoran manusia lama kita? Bisakah kita memakai baju baru dan berkata bahwa kita bersih apabila kita tidak terlebih dahulu membuka baju kotor kita dan mandi terlebih dahulu?

Paulus menggarisbawahi pentingnya melepaskan semua kelakuan atau kebiasaan buruk yang mungkin pernah kita lakukan sebelum bertobat. “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka).” (Kolose 3:5-6). Dulu mungkin kita menuruti berbagai keinginan daging seperti itu, bahkan mungkin juga kita sempat dikuasai oleh semua itu. Namun sekarang hendaknya kita membuang semuanya itu secara tuntas. “Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.” (ay 8-10). Jangan biarkan diri masih kotor ketika mengenakan “baju bersih”, dan jangan kenakan lagi “baju kotor” jika kita sudah memakai yang bersih. Karena biar bagaimanapun kita tidak akan pernah bisa benar-benar bersih apabila kekotoran masih ada tersimpan dalam diri kita. Yang lama harus kita tanggalkan lebih dahulu agar kita bisa mengenakan yang baru.

Keberadaan kita sebagai manusia baru memungkinkan kita untuk berbuah secara rohani. Kita diubahkan untuk menjadi anak-anak Tuhan, menjadi “orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya”, dan di dalam bentuk manusia baru itu seharusnya terdapat hal-hal seperti “belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran” (ay 12), penuh pengampunan (ay 13), dan di atas semuanya itu mengenakan “kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” (ay 14), serta dipenuhi damai sejahtera Kristus. (ay 15) Inilah yang seharusnya terdapat di dalam manusia baru yang telah diubahkan dan bukan sebaliknya, seperti kesombongan, kikir, sulit memaafkan, dendam, dan sejenisnya. Lewat Kristus sesungguhnya apa yang ditawarkan Tuhan itu begitu baik. Kita dianugerahkan kesempatan untuk menjadi lahir kembali menjadi manusia yang baru, tetapi kita harus terlebih dahulu membuang segala lumpur dosa lama yang mengotori kita. Setelah mengenakannya pun kita hendaknya jangan kembali mengotori dengan berbagai kebiasaan jelek atau hal-hal buruk yang dahulu kerap kita lakukan. Dari rangkaian hal-hal yang ada di dalam manusia baru di atas (ay 12-15), adakah yang masih tidak bertumbuh dalam diri anda? Jika ada, periksalah kembali, siapa tahu masih ada lumpur kotor yang tertinggal dalam diri anda atau masih sulit dan enggan untuk anda lepaskan.

Sebelum mengenakan hidup baru, buanglah terlebih dahulu hidup yang lama yang masih mengotori diri kita

Incoming search terms:

Apa Kata Orang

Ayat bacaan: 2 Korintus 5:16
=======================
“Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian.”

apa kata orang, menilai orang lain, menghakimiBeberapa waktu yang lalu saya akhirnya bertemu dengan seseorang yang sebelumnya hanya saya kenal lewat cerita teman saya. Dari apa yang saya dengar dari teman saya, orang ini adalah orang yang arogan. Tapi setelah bertemu langsung, ternyata orang itu jauh dari kesan arogan. Dia ternyata ramah, baik, malah sedikit pemalu. Benar-benar sebuah gambaran yang sangat berbeda dari apa yang digambarkan teman saya. Sadar atau tidak, betapa seringnya kita menilai seseorang bukan berdasarkan penilaian objektif, tapi hanyalah didasarkan pada penilaian atau cerita orang lain. Betapa mudahnya kita menilai orang lain negatif hanya berdasarkan apa kata orang. Padahal pada kenyataannya belum tentu demikian. Penilaian buruk serta merta kita jatuhkan kepada seseorang tanpa terlebih dahulu melihat kenyataan melainkan hanya dari cerita yang kita dengar.

Paulus mengingatkan mengenai hal ini dalam suratnya untuk jemaat Korintus. Ukuran manusia dalam menilai sungguh beragam. Ada faktor kepentingan pribadi, sentimen pribadi, perbedaan sifat, perbedaan pandangan, suasana hati pada saat-saat tertentu dan sebagainya yang dapat mempengaruhi sebuah kesimpulan. Paulus berkata: “Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian.” (2 Korintus 5:16). Mengapa Paulus mengatakan bahwa mereka tidak lagi menilai seseorang menurut ukuran manusia? Ayat sebelumnya menjelaskan alasannya. “Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” (ay 15). Ya, siapapun orangnya, baik atau buruk sifatnya, seperti apapun ia, Kristus telah mati baginya. Siapapun orangnya, mereka bernilai penting di mata Allah sehingga Kristus rela mati di atas kayu salib untuk dia, seperti halnya untuk kita sendiri. Tidakkah keterlaluan jika kita menilai atau menghakimi seseorang atas kekurangannya padahal Kristus sendiri menganggap mereka begitu berharga sehingga rela menanggung penderitaan untuk sebuah keselamatan? Terlebih jika kita menilai bukan berdasarkan kenyataan, tapi hanya didasarkan kepada apa kata orang. Yesus mengatakan hal ini juga. “Kamu menghakimi menurut ukuran manusia, Aku tidak menghakimi seorangpun” (Yohanes 8:15). Yesus menambahkan “dan jikalau Aku menghakimi, maka penghakiman-Ku itu benar, sebab Aku tidak seorang diri, tetapi Aku bersama dengan Dia yang mengutus Aku.” (ay 16). Yesus menilai berdasarkan ukuran Bapa yang begitu mengasihi manusia, bukan berdasarkan ukuran manusia yang seringkali bias, tidak cukup objektif karena banyaknya faktor yang terlibat didalamnya. Alangkah ironisnya ketika Allah menganggap manusia itu berharga, kita malah sibuk membangun tembok-tembok pemisah dan menyebarkan aroma permusuhan kepada orang lain lewat sikap kita hanya berdasarkan apa yang kita dengar dari orang, atau hanya berdasarkan pendapat pribadi, dari pandangan atau imajinasi berlebihan kita sendiri yang sangat subjektif sifatnya.

Jangan mudah menelan apa kata orang sebelum mengetahui kebenarannya. Adalah sangat penting bagi kita untuk belajar menilai segala sesuatu secara objektif, dengan bukti atau fakta yang kita saksikan secara nyata. Itupun bukan dimaksudkan untuk membenci orang seandainya memang benar ada hal yang kurang baik dari mereka. Nobody’s perfect. Tidak hanya orang lain, tapi kita sendiripun punya kekurangan-kekurangan juga. Terlalu cepat mengambil kesimpulan atas orang lain bisa mengarahkan kita untuk terpeleset dalam menghakimi orang lain, sesuatu yang tidak seharusnya kita lakukan. “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Matius 7:1-2). Tidak ada seorangpun dari kita yang mau dinilai negatif. Jika kita tidak mau dinilai negatif, janganlah kita melakukannya kepada orang lain. “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (ay 12). Biar bagaimanapun, Yesus Kristus telah mati bagi mereka, anda dan saya. Jangan terlalu cepat menyimpulkan sesuatu, tapi selidikilah terlebih dahulu dengan benar. Kalaupun benar ada kekurangan, jadilah teladan dan doakan mereka agar mereka menjadi lebih baik. Setiap manusia punya kekurangan. Jauhlah dari menilai/menghakimi orang lain hanya karena kita menganggap diri kita lebih baik dari mereka, apalagi jika sampai membenci mereka hanya karena apa kata orang atau bentuk-bentuk pemikiran yang subjektif semata menurut diri kita. Karena biar bagaimanapun, Kristus rela mati bagi mereka, seperti halnya bagi kita.

Kita tidak lebih baik dari orang lain, karenanya jangan menilai orang lain apalagi hanya menurut apa kata orang

Kreatiflah

Ayat bacaan: Kejadian 2:19
======================
“Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.”

kreativitas, kreatifNada cuma ada 7, tapi lagu tidak pernah mati. Dalam menekuni dunia jurnalisme di bidang musik selama beberapa waktu, saya selalu melihat kenyataan ini sebagai sesuatu yang luar biasa. Bayangkan cuma 7 nada, tapi ada berapa trilyun atau jutaan trilyun jumlah lagu yang pernah ada hingga kini? Ada begitu banyak corak dan ragam dari ratusan genre yang berbeda dari masa ke masa. Ketika kita mendengarkan karya musik klasik Johann Sebastian Bach, rock and roll ala Elvis Presley, lagu-lagu The Beatles yang merubah corak musik dunia modern, hingga saat ini ketika anda mendengarkan lagu Michael Buble misalnya, semua itu dibentuk dari tatanan komposisi yang terdiri dari 7 not. Tapi dengarlah hasil yang begitu jauh berbeda dari nama-nama yang saya sebutkan di atas. Dalam dunia musik dituntut adanya sebuah kreativitas dalam menciptakan sebuah lagu, atau lama-lama band yang tidak kreatif akan tersingkir di tengah persaingan ketat sesama musisi. Ini baru bicara soal lagu. Sebenarnya di semua lini kehidupan kita tetap dituntut untuk bisa berpikir kreatif, baik dalam menciptakan sesuatu yang baru, yang innovatif, ataupun dalam menyelesaikan persoalan-persoalan. Allah adalah sosok yang sangat kreatif, dan manusia diciptakan menurut gambar dan rupaNya. Maka kreatifitas sejatinya merupakan bagian dari manusia.

Allah adalah sosok yang maha kreatif. Dari proses penciptaan alam semesta beserta isinya kita bisa melihat buktinya. Jutaan jenis binatang dari berbagai spesies, jenis-jenis tanaman yang berbeda-beda di berbagai belahan bumi, atau lihatlah manusia yang mukanya tidak pernah sama persis. Komponen pengisi muka boleh sama, namun tidak akan ada yang pernah sama persis hasilnya. Lalu lihatlah bagaimana kreatifnya Tuhan memberikan jawaban bagi berbagai permasalahan hidup manusia. Sebagai contoh, kita bisa melihat kreativitas Tuhan dalam membantu umat Israel dari Mesir menuju tanah terjanji, Kanaan. Tiang awan, tiang api, manna, daging dari burung puyuh, membelah Laut Teberau dan seterusnya memperlihatkan kreativitas tinggi Tuhan. Yesus dalam pelayananNya di dunia pun banyak menggunakan metode kreatif. Menggunakan perumpamaan, berdiskusi, tanya jawab, menyembuhkan bahkan membangkitkan, memberi contoh keteladanan, dan seterusnya. Yesus tidak pernah monoton dalam pelayananNya. Sehubungan dengan diciptakannya manusia sebagai sosok yang istimewa, yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sendiri, sudah selayaknya kita pun mewarisi kreativitas ini. Alangkah ironisnya jika kita terlalu malas untuk mempergunakan sisi-sisi kreativitas yang telah Dia sediakan bagi kita.

Sebelum proses pembentukan Hawa, Tuhan terlebih dahulu membentuk segala binatang hutan dan burung-burung. Dan semua ini dibawa kepada Adam untuk ia beri nama. “Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.” (Kejadian 2:19). Tuhan ingin melihat bagaimana kreativitas manusia untuk menamainya. Jika kita mundur beberapa ayat sebelumnya, Tuhan juga menempatkan Adam di taman Eden bukan untuk berleha-leha dan bersantai, tapi untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” (ay 15). Perhatikan kata mengusahakan dan memelihara. Manusia bukan saja ditugaskan untuk memelihara kelestarian lingkungan, tapi juga mengembangkan apa yang sudah ada untuk menjadi lebih baik lagi. Ini membutuhkan proses kreatif. Memaksimalkan, mengembangkan dan menciptakan inovasi atau kreasi baru menuju suatu kehidupan yang lebih baik melalui segala sesuatu yang telah disediakan Tuhan. Itu yang harus dilakukan manusia, bukan sebaliknya merusak alam dengan segala isinya.

Kreativitas ada di dalam diri setiap orang. Tapi tidak semua orang mau mempergunakannya. Sebagian orang terlalu malas untuk mengolah kreativitas yang ada di dalam mereka. Kemalasan tidak akan pernah bisa membawa orang mengalami peningkatan dalam hidupnya. Yang ada malah keruntuhan, seperti apa yang dikatakan Pengkotbah. “Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah.” (Pengkotbah 10:18). Semua yang disediakan Tuhan di dunia ini bagi kita hendaklah dikelola dengan baik, dipelihara, dijaga dan dikembangkan untuk kebaikan kita semua. Agar kita tetap bisa bertumbuh dan mengalami peningkatan, tetaplah rajin bekerja, dan kreatiflah dalam setiap yang anda usahakan. Tuhan akan selalu melihat bagaimana usaha kita, apakah kita selalu berusaha melakukan yang terbaik atau tidak, sebelum Tuhan mempercayakan perkara-perkara yang lebih besar lagi. Kreatiflah. Tuhan memberkati.

Tuhan mengharapkan manusia agar selalu berpikir kreatif dalam bekerja