Tag: Libatkan Tuhan dalam Hidup

‘Xaverian Woow’ Ajak Anak Muda Selalu Libatkan Tuhan dalam Hidup

Akhir-akhir ini banyak orang secara perlahan telah meninggalkan Tuhan. Semua sibuk dengan diri sendiri dan mengejar materi tanpa melibatkan Tuhan.  

“Hari ini kita semua berkumpul untuk saling meneguhkan dan menguatkan satu sama lain, sehingga bisa mengajak sesama untuk mendekatkan diri pada Tuhan,” ujar ngkap Romo Matheo Rebecchi SX dalam sambutannya pada acara ‘Xaverian Woow” yang berlangsung di Wisma Xaverian, Cempaka Barat, Jakarta Pusat, Minggu, 25/11/2012.

Saat ini, menurut Romo Matheo, kehidupan kita telah menjauh dari Tuhan. Itulah yang membuat kita makin rapuh dan tidak tahan banting ketika kita dicerca dengan beribu tantangan dan gigitan cobaan yang datangnya silih berganti.

“Saya secara pribadi mengajak kalian untuk bersama-sama mendekatkan diri kepada Tuhan. Andalkan semuanya pada Tuhan.” Ungkap Romo Matheo.

Serikat Misionaris Xaverian adalah sebuah kongregasi yang mengkhususkan diri bagi karya misi. Karena itu,  menurut Romo Matheo, tugas seorang missionaris adalah melayani dan memberikan diri untuk Tuhan. ” Dengan demikian karya misi Xaverian di dunia khususnya di Indonesia dapat terlaksana berkat campur tangan Tuhan dan juga dukungan kalian semua. Kalian semua adalah “benih-benih” Xaverian yang sementara bertumbuh dan berkembang, sehingga seorang pekerja wajib memperhatikan “anakan” di lahan garapannya.” ujar Romo Matheo.

Acara Xaverian Woow yang dimulai pukul 10.00 WIB diikuti 50-an siswa/siswi  SMAN 80 Jakarta, mahasiswa/mahasiswi BINUS Jakarta, mahasiswi Aksek Tarakanita Jakarta dan sejumlah kaum muda lain.

Selain diisi dengan tari dan nyanyi dengan pengarah gerak Frater Celtus Jabun SX, sesi perkenalan Tarekat Xaverian dibawakan oleh Frater Yudhi SX.  Frater Yudhi secara garis besar menyampaikan semua karya yang diemban Xaverian di seluruh dunia.

Acara makin lengkap dengan adanya perkenalan dan nonton bersama film “Chiara Luce Badano, Suatu rencana Illahi yang indah”. Film berdurasi sekitar 45 menit itu mengisahkan kehidupan seorang gadis remaja yang bernama Chiara. Ketika menginjak usia 17 tahun, Chiara menderita penyakit berbahaya, kanker tulang di bagian punggung.

Pengalaman ini mengantar Chiara untuk mengandalkan Tuhan dalam penyembuhannya. Chiara pun menyadari bahwa sakit adalah bentuk pemberian diri yang total untuk mengakui kebesaran Allah sekaligus mengajak dirinya “bercermin” lebih dalam tentang siapa dirinya yang rapuh di hadapan Allah. Ia pasrahkan seluruh sakit penyakit yang diderita, dengan bertekun dalam doa dan mempercayakan sepenuhnya kepada Tuhan untuk menjamahnya.

Meski sakit, Chiara tetap tampil sebagai pribadi yang cerdas, periang, cantik, dan mudah bergaul di antara sesamanya. Chiara pun sangat dikagumi teman-temannya karena ketabahan dan kerendahan hati yang dimilikinya.

Meski sempat protes pada Tuhan dengan bertanya, “Tuhan, kenapa harus aku yang mengalami sakit ini?” ia tetap teguh dan tabah dan mengajak kawan-kawan untuk mengandalkan Tuhan.  Dia bahkan tetap peduli pada sesamanya. Ia rela memberikan sumbangan uang kepada masyarakat Italia yang saat itu kondisinya sangat memprihatinkan. Chiara bersyukur karena sakit itu telah mengajarkannya makna kasih kepada mereka yang berpeluh dalam menggendong segenggam asa hingga akhirnya penyakit yang dideritanya di jamah oleh Tuhan.

Usai menonton film, para peserta mengikuti perayaan ekaristi kudus yang dipersembahkan oleh Romo Matheo Rebecci, S.X dan Romo Joseph Bagnara, S.X.  Dalam kotbahnya Romo Matheo mengungkapkan bahwa gereja itu ibarat kebun yang banyak bunga dengan beraneka ragam warna. Gereja pun dikenal sebagai sebuah taman yang penuh aneka bunga warna warni dengan bau yang harum semerbak mewangi menyebar ke mana-mana.

“Dengan itu, wartakanlah injil. Perkenalkanlah Tuhan kepada orang yang belum mengenal Tuhan. Ketika dihadapkan dengan suatu masalah seperti yang dialami  Chiara yakinlah Yesus akan menjadi “pelampung” bagi yang percaya kepadaNya” ujar Romo Matheo mengakhiri khotbahnya. Kebersamaan berlanjut dalam ruang makan diakhiri dengan sesi foto bersama.

Felixianus Ali dan Maria Elfrida. S. U. Sinaga

Tags : ,