Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

4 Agt

“Yesus memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.” (Yeh 3:16-21; Mat 9:35-10:1) “Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga sert…

Kesegaran Bagi Jiwa

Ayat bacaan: Mazmur 19:8
==================
“Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.”

kesegaran bagi jiwaSetelah lelah bekerja sepanjang hari dan panas-panasan di tengah kemacetan luar biasa di jalan raya dalam perjalanan pulang, tidakkah anda merindukan sesuatu yang menyegarkan untuk dinikmati begitu anda tiba di rumah? Bentuk dari kata “segar” ini bisa berbeda-beda bagi setiap orang. Ada yang langsung membayangkan segelas teh dingin, sirup, sejuknya air mengenai muka atau seluruh tubuh dengan mandi, berbaring di ruangan ber-AC atau sekedar duduk di sofa yang empuk. Ada yang menganggap bermain dengan anak-anak sepulang kerja merupakan sesuatu yang terasa sangat menyegarkan dan bisa memulihkan keletihan dengan cepat, menonton televisi dan sebagainya. Atau bahkan memilih beberapa dari yang saya sebutkan itu sekaligus atau dalam urutan tertentu. Yang pasti, di saat kita lelah sesuatu yang menyegarkan itu akan terasa sangat indah. Bahkan ketika itu masih kita pikirkan saja kita bisa tersenyum sendiri membayangkannya. We need a refreshment, we need to be restored. Semua orang butuh itu.

Tidak hanya tubuh, tapi kondisi spiritual pun sama. Setiap hari ketahanan spiritual atau rohani kita terus berhadapan dengan berbagai kondisi yang melelahkan. Berperang baik melawan berbagai keinginan daging dari diri sendiri maupun berbagai godaan iblis yang terus berusaha untuk menjatuhkan kita, menghadapi tawaran-tawaran yang sekilas terlihat menjanjikan namun di balik itu tersimpan banyak penyesatan dan sebagainya. Kondisi ini kita hadapi setiap hari, dan jika tidak dijaga, keadaan rohani kita pun bisa kehabisan energi, mengering, drained out. Betapa berbahayanya jika kita membiarkan jiwa kita mengalami kekeringan. Tidak lagi punya daya tahan kuat untuk menghadapi berbagai tantangan yang bisa melemahkan bahkan menghancurkan kondisi spiritual kita. Seperti halnya tubuh kita yang lelah butuh sesuatu yang menyegarkan, secara rohani kita pun butuh hal yang sama agar tidak keburu kering dan terkapar lemas. Just like our body, our spirit needs to be restored and refreshed as well.

Kesegaran secara jasmani bisa kita peroleh dari berbagai hal yang saya sebutkan dalam paragraf pembuka renungan hari ini. Tidakkah semua itu rasanya menyegarkan? Tetapi kesegaran rohani tidak bisa kita peroleh lewat semua itu. Kesegaran rohani kita akan sangat tergantung dari asupan Firman Tuhan. Firman Tuhan akan selalu menguatkan, meneguhkan, memberi kelegaan dan menyegarkan. Dan jiwa kita, seperti halnya tubuh kita butuh penyegaran setiap saat. Dan itu tertulis jelas dalam kitab Mazmur.Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.” (Mazmur 19:8). Firman Tuhan mampu menjawab kebutuhan akan kesegaran jiwa. Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan “The law of the Lord is perfect, restoring the whole person.”

Restoring. Memulihkan. Bayangkan jika anda penggemar game dan tokoh yang anda mainkan tengah berada dalam keadaan sekarat akibat terus digempur musuh. Tidakkah anda akan senang sekali jika bertemu dengan item-item yang bisa kembali merestorasi atau mengembalikan “health-bar” dari tokoh anda itu kepada kondisi sempurna? Seperti itu pula Firman Tuhan mampu merestorasi atau mengembalikan kesegaran dari jiwa dan roh kita yang sudah lelah akibat terus digempur berbagai hal negatif setiap harinya. Hidup di dunia yang sulit ini akan membuat stamina rohani kita dengan cepat terkuras. Karenanya kita sangat membutuhkan “a splash of fresh cold water”, percikan air yang akan mengembalikan kesegaran jiwa kita. Dalam Yesaya kita bisa melihat janji Tuhan yang begitu indah buat kita: “Sebab Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu, dan berkat-Ku ke atas anak cucumu. Mereka akan tumbuh seperti rumput di tengah-tengah air, seperti pohon-pohon gandarusa di tepi sungai.” (Yesaya 44:3-4). Pengenalan yang kontinu, terus menerus akan Tuhan pun akan memberikan kita kesegaran seperti ini seperti yang tertulis dalam Hosea. “Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi.” (Hosea 6:3) Betapa menyegarkannya hujan yang turun di saat kemarau, dan itulah janji Tuhan untuk kita yang mau bersungguh-sungguh mau mengenalNya.

Sungguh sangat penting bagi kita untuk terus membekali dan menjaga kesegaran jiwa kita dengan firman Tuhan. Daud tahu bagaimana bahagianya jika ia tetap berada dekat dengan firman Tuhan yang penuh dengan kuasa. Bacalah Mazmur 119 dimana Daud mendeskripsikan dengan panjang lebar dan lengkap mengenai bahagianya orang yang hidup menurut Taurat Tuhan. Semua itu tentu terasa sangat menyegarkan bagi jiwa. Berkali-kali pula Daud memberikan testimoni dari pengalamannya hidup dekat dengan firman Tuhan. Salah satunya berbunyi seperti ini: “Aku mendapatkan kebahagiaan dalam mentaati perintah-perintah-Mu.” (Mazmur 119:55). Dalam bahasa Inggris (amplified)nya kita bisa menemukan kalimat yang lebih detail: “This I have had [as the gift of Your grace and as my reward]: that I have kept Your precepts [hearing, receiving, loving, and obeying them].” Jangan biarkan jiwa kita mengalami kekeringan. Tetaplah dekat dengan firman Tuhan agar jiwa kita tetap segar dengan daya tahan yang kuat sehingga kita bisa menghadapi segala tantangan dan kesulitan setiap hari dengan teguh.

Segarkan jiwa dengan Firman Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Seperti Majalah

Ayat bacaan: 1 Tesalonika 4:1
=========================
“Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.”

seperti majalahMembalik-balik sebuah majalah hari ini membuat saya berpikir betapa hidup kita pun seperti sebuah majalah. Ada begitu banyak “kolom” atau “rubrik” dalam perjalanan hidup kita, dimana kepingan-kepingan itu disatukan menjadi utuh seperti halnya satu jilidan majalah. Sebuah pertanyaan hadir di benak saya, dimanakah letak “kolom” hubungan kita dengan Tuhan? Apakah terletak di halaman utama, tajuk editorial, mengisi setiap lembar-lembarnya atau hanya berada pada satu halaman kecil saja, mungkin malah terletak di paling belakang?

Ada banyak diantara kita orang percaya yang meletakkan Tuhan hanya pada halaman belakang saja. Kita hanya berdoa pada saat kita punya waktu luang saja. Kita mendahulukan kesibukan-kesibukan pekerjaan, jadwal yang padat, deadline yang menumpuk dan aktivitas-aktivitas lainnya terlebih dahulu lalu mempergunakan waktu luang yang tersisa untuk Tuhan. Itupun jika kita tidak terlalu lelah dan memilih untuk tidur langsung. Kehidupan kerohanian bagi sebagian orang hanya berlaku hari Minggu saja, selama kurang lebih dua jam. Setelahnya maka mereka kembali masuk ke dalam dunia masing-masing, dimana Tuhan tidak lagi ada dalam daftar mereka. Sekarang coba bayangkan, seandainya Tuhan berlaku seperti itu pada kita. Apa jadinya jika Tuhan hanya peduli kepada kita dua jam saja dalam seminggu? Tidakkah itu sangat mengerikan? Tidak satupun orang yang mau seperti itu. Kita ingin Tuhan selalu hadir dengan penyertaanNya setiap saat, tetapi mengapa kita membalasnya dengan memberikan hanya sedikit waktu yang tersisa saja untuk Tuhan? Betapa tidak adilnya jika kita tidak mau diperlakukan Tuhan seperti itu tetapi sanggup berbuat demikian kepada Tuhan.

Paulus mengingatkan jemaat Tesalonika akan pentingnya sebuah kesungguhan untuk memiliki hidup yang berkenan kepada Tuhan. “Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.” (1 Tesalonika 4:1). Adalah baik jika kita sudah mulai berpikir untuk hidup berkenan kepada Allah, tetapi hendaklah kita tidak berhenti mengusahakannya dan terus berupaya untuk lebih bersungguh-sungguh lagi. Adalah baik jika kita sudah secara rutin beribadah di hari Minggu, juga bagus jika kita sudah meluangkan waktu untuk berdoa, apalagi disiplin dalam bersaat teduh, tetapi marilah kita terus meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Tuhan, sehingga kita bisa sampai kepada sebuah tahap yang tidak lagi dibatasi oleh waktu.

Alkitab menceritakan banyak kisah mengenai kedekatan para tokoh dengan Tuhan. Kita bisa melihat sebutan “bergaul karib dengan Tuhan” yang diberikan kepada Henokh (Kejadian 5:24), Nuh (Kejadian 6:9) dan Ayub (Ayub 29:4). Kita bisa melihat pula hubungan yang sungguh sangat dekat lewat pribadi Musa, Abraham, Yusuf, Daud, Daniel dan banyak lagi. Dan kita menyaksikan sendiri bagaimana perbedaan mereka dibandingkan orang-orang lain yang hidup sejaman dengan mereka. Sebuah kualitas hubungan dengan Tuhan akan sangat menentukan siapa diri kita sebenarnya.

Kembali kepada surat Tesalonika di atas, kita bisa melihat apa yang menjadi panggilan Allah kepada kita. “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.” (1 Tesalonika 4:7). Pada ayat sebelumnya pun dikatakan “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu.. (ay 3). Panggilan ini bukanlah merupakan panggilan yang hanya terbatas berlakunya, seperti hanya dua jam dalam satu minggu, atau hanya beberapa menit dalam sehari saja. Ini adalah panggilan yang harus berlaku setiap saat kepada kita semua tanpa terkecuali. Kehidupan yang berkenan di hadapan Allah adalah kehidupan dalam kekudusan. Dan hal ini akan sulit kita wujudkan apabila kita masih cenderung mementingkan kehidupan di dunia ini ketimbang membangun sebuah hubungan yang karib dengan Tuhan.

Petrus mengingatkan kita pula akan hal ini. “..hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:15-16). Tuhan selalu menantikan kita untuk mau mulai membangun hubungan yang erat denganNya. Dan lihatlah apa yang dikatakan Tuhan: “TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.” (Mazmur 25:14). Tuhan siap membuka mata hati kita untuk mengerti rahasia-rahasia dan rencana-rencanaNya, tetapi itu tidak akan bisa kita peroleh tanpa membangun sebuah hubungan yang kokoh terlebih dahulu.

Jika hidup ini diibaratkan sebuah majalah, maka penting bagi kita untuk memperhatikan dimana dan bagaimana posisi hubungan kita dengan Tuhan di dalamnya. Sudahkah Tuhan mengisi lembar demi lembar hidup anda, atau posisi Tuhan masih sangat terbatas bahkan berada di posisi belakang? Memasuki hari Natal tahun ini dimana kita memperingati kelahiran Kristus, hendaklah kualitas hubungan kita dengan Tuhan menjadi sesuatu yang mendapat perhatian khusus. Hiduplah dalam kekudusan, bangunlah hubungan yang akrab, sehingga kita tidak gampang goyah dalam menghadapi hari-hari sulit ke depan sekaligus mampu mencapai garis akhir sebagai pemenang. Tuhan sudah menganugerahkan AnakNya sendiri demi keselamatan kita, Dia rindu untuk benar-benar dekat dengan kita, sekarang giliran kita untuk menjawab kerinduan Tuhan. Teruslah berusaha sungguh-sungguh untuk hidup berkenan kepada Allah dan tingkatkan terus usaha anda.

Biarkan Tuhan mengisi setiap lembar dalam kehidupan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Secangkir Teh buat Tuhan

Ayat bacaan: Hosea 6:6
===================
“Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.”

menyenangkan hati TuhanSeorang teman bercerita bahwa salah satu yang paling membuatnya bahagia adalah ketika anaknya berlari menyambutnya sepulang kerja. Seorang ayah tentu akan merasa sangat bahagia ketika anak-anak mereka menyambut kepulangan mereka dengan tersenyum, memeluk, atau malah membuatkan secangkir teh hangat dan memijati pundak sang ayah sambil bercerita tentang hari-harinya di sekolah. Tentu hal itu sangat menyenangkan bukan? Saya yakin tidak ada satupun ayah yang tidak merasa bahagia ketika anak-anak menunjukkan kasih sayang mereka dengan penuh sukacita. Apa yang dialami oleh teman saya itu pernah saya alami juga, tapi dalam posisi yang berbeda, di posisi sebagai seorang anak ketika saya masih kecil. Mungkin sebagian dari kita pun pernah bereaksi seperti si anak ketika kita kecil. Saya ingat pada saat saya kecil, saya sering disebut anak papa, karena kedekatan saya dengan ayah saya. Selalu ada raut bahagia di wajahnya meski ia sedang lelah ketika saya menyambutnya. Ia akan segera menggendong saya dan langsung bermain. “Anak itu benar-benar obat lelah..” kata teman saya sambil tertawa. Ya, begitu mereka dengan riangnya menyambut kita, seketika itu pula rasa lelah dan beban masalah di pekerjaan menguap. Anak bahagia, ayah bahagia. Betapa indahnya.

Jika menyenangkan hati ayah biologis kita saja sudah begitu rasanya, apalagi hati Tuhan yang begitu mengasihi kita. Tentu kita pun sebagai anak-anak Tuhan ingin bisa menyenangkan hatiNya. Masalahnya banyak orang yang tidak tahu bagaimana caranya. Bagaimana membuatkan secangkir teh hangat buat Tuhan? Atau memijat pundakNya? memelukNya? Bukankah itu tidak bisa kita lakukan karena Tuhan tidak berada secara fisik di dekat kita seperti halnya ayah kita di dunia? Lalu bagaimana caranya? Alkitab menyebutkan apa yang bisa menyenangkan hati Tuhan.

Dalam Hosea dikatakan bahwa “..Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.” (Hosea 6:6). Kasih setia kita yang tidak lekang dimakan jaman, tidak gampang pudar karena godaan duniawi, dan kerinduan kita tanpa henti untuk semakin mengenal pribadi Bapa, itulah yang menyenangkan Tuhan, lebih dari segala perbuatan baik kita atau amal kita. Hal yang sejalan pula disampaikan oleh Pemazmur. Dalam Mazmur dikatakan TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya. (Mazmur 147:11). Menyenangkan hati Tuhan bisa kita lakukan dengan hidup takut akan Tuhan dan terus percaya penuh kepadaNya tanpa putus harapan. Hal-hal seperti inilah yang bisa kita lakukan untuk menyenangkan hatiNya. Lewat pengenalan akan Tuhan, mengasihiNya dengan setia, menyadari dan percaya sepenuhnya kasih setia Tuhan dalam kondisi apapun yang kita alami, dan terus menjalani hidup dengan rasa takut akan Tuhan, itulah yang bisa kita perbuat untuk mengetuk pintu hati Tuhan dan menyenangkanNya.

Memberikan puji-pujian, bermazmur bagiNya, itu pun menyenangkan Tuhan jika kita lakukan dengan hati yang tulus. Sebelum Pemazmur menuliskan hal yang membuat Tuhan senang di atas, kita dapati ayat yang berbunyi “Bernyanyilah bagi TUHAN dengan nyanyian syukur, bermazmurlah bagi Allah kita dengan kecapi!” (ay 7). Tuhan tentu akan senang apabila kita memiliki gaya hidup yang senantiasa memuji dan menyembahNya, bermazmur bagiNya baik dalam keadaan suka maupun duka, baik dalam keadaan senang maupun susah, dan melakukan itu semua dengan hati yang tulus sepenuhnya karena mengasihi Tuhan lebih dari segalanya.

Waspadalah dalam hidup ini, karena ada begitu banyak keinginan daging yang akan selalu berusaha untuk menjauhkan kita dari Tuhan. Seringkali kita terjebak dan memberi toleransi kepada keinginan-keinginan kedagingan, dan mengira bahwa itu tidaklah apa-apa. Padahal Tuhan sama sekali tidak berkenan kepada orang-orang yang memilih untuk hidup dalam daging dan menomor duakan keinginan Roh! “Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.” (Roma 8:8). Kemudian, apakah kita sudah berkenan meluangkan waktu untuk berdoa bagi orang lain, untuk pemerintah, bangsa dan negara kita? Sudahkah kita menaikkan permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur buat orang lain, buat pemimpin-pemimpin kita? Hal ini pun penting untuk kita cermati, karena firman Tuhan berkata “Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita” (1 Timotius 2:3).

Kita tidak perlu membuat secangkir teh hangat buat Tuhan, kita tidak perlu memijiti Tuhan. Lebih dari korban bakaran, Tuhan lebih menyukai kasih setia kita dan usaha kita untuk semakin jauh mengenal pribadiNya. Tuhan rindu untuk dapat bergaul karib dengan kita. Kepada kita yang menyenangkan hatiNya, yang berkenan di hadapanNya, Tuhan tidak akan menahan-nahan berkatNya untuk tercurah. “Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela.” (Mazmur 84:11). Ini janji Tuhan kepada setiap anakNya yang selalu berusaha menyenangkan hatiNya semata-mata karena mengasihi Tuhan lebih dari segala sesuatu. Tuhan akan sangat senang jika kita menjadikan diriNya prioritas utama dalam hidup kita. Dia akan sangat bangga jika kita mempersembahkan ibadah sejati kita dengan mempersembahkan tubuh kita sendiri sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepadaNya. (Roma 12:1). Tetap percaya dan berpegang kepadaNya dalam kondisi dan situasi apapun, selalu melakukan kehendakNya dengan sepenuh hati, tetap bersukacita dan bersyukur meski dalam kesesakan sekalipun, dan tentunya tidak sekali-kali menomorduakan apalagi meninggalkan Tuhan demi kepentingan sesaat. Hari ini mari kita sambut Dia dengan penuh sukacita, mari kita sama-sama belajar untuk menyenangkan hati Bapa lebih lagi.

Sekarang saatnya bagi kita untuk menyenangkan Bapa

Incoming search terms:

Relaxing in Christ

Ayat Bacaan: Mat 11:28
===================


“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”


Tidak ada manusia yang tidak pernah dilanda kesusahan. Tidak ada manusia yang hidup selamanya tanpa masalah. Mungkin anda juga tengah merasakan hal2 yang memberatkan. Mungkin saat ini anda merasa takut dan kecewa, khawatir dengan pekerjaan anda, hubungan anda dengan keluarga sedang mencapai titik terendah, dan sebagainya. Anda mungkin juga tengah berpikir, mengapa anda menjadi orang yang paling malang di dunia ini. Batin terasa lelah, dan anda tidak punya teman yang siap membantu anda, setidaknya berbagi kegelisahan. Anda tidak sendirian, saya yakin ada banyak orang diberbagai belahan dunia ini yang sedang mengalami masa2 yang sama.

Anda mungkin tengah merasa sangat letih, pekerjaan menumpuk tanpa henti, tugas2 silih berganti menyerang anda, belum lagi yang satu selesai, dua tugas lagi telah datang. Anda kelabakan membagi waktu, dan rasanya ingin berteriak dan berharap datangnya “time out” agar anda bisa jeda sejenak dan kembali mengatur napas anda. Anda juga tidak sendiri. Pasti, ada banyak orang yang mengalami saat2 yang sama seperti anda.

Saya pernah mengalami kelelahan mental yang luar biasa. Ketika ibu saya sedang koma di rumah sakit, dan biaya2 pengobatannya sudah jauh melebihi kemampuan keluarga, pada suatu malam, beban itu sudah tidak mampu lagi saya tanggung. Saya ingat benar, saat itu pukul setengah empat pagi, dan saya sendirian di atas kasur, tidak bisa tidur meskipun mental sudah sangat lelah. Bahkan saat itu, untuk menangis pun saya sudah tidak bisa lagi. Saya yang waktu itu belum lahir baru, menutup mata, kehabisan akal, dan harapan, dan hati saya cuma berseru “Yesus….” berulang kali. Ya, saya saat itu tidak mampu lagi memanjatkan doa apapun karena semuanya terlalu berkecamuk didalam saya. Tiba2, ditengah mata terpejam itu,saya merasakan cahaya yang begitu terang, menyilaukan bahkan dalam keadaan mata tertutup sekalipun, dan cahaya itu terasa mengelilingi saya. Air mata mulai mengalir, dan saya menumpahkan segalanya, dalam lingkup cahaya itu selama kurang lebih setengah jam. Setelahnya? Seakan2 semua kelelahan itu ada yg ambil. itu pertama kali setelah 3 bulan mengalami keletihan mental dan fisik luar biasa, saya bisa tidur dengan nyenyak dan damai. Ini salah satu kesaksian yang saya alami sendiri, dan merupakan salah satu dari perkenalan pertama saya dengan Kristus.

Tuhan kita tahu persis bahwa anak2Nya pada satu saat pasti mengalami masa2 sulit. Ada banyak situasi di dalam hidup kita dimana kita akan merasakan kelelahan luar biasa dari berbagai sisi. Dan Ia menyediakan diriNya, untuk membebaskan semua beban itu. Satu hal yang Dia minta hanyalah agar kita datang padaNya. Setia dan berserah, percaya kepadaNya. Kita tidak perlu membuat list panjang mengenai masalah kita, kita tidak perlu merangkai kata atau puisi2 super indah untuk menyatakan permasalahan kita. Kita hanya perlu datang kepadaNya, dan Yesus Kristus, akan memberikan damai sejahtera sebenarnya, bukan seperti apa yang diberikan dunia. Dia memberikan kelegaan dan perlindungan bahkan di hari2 tersulit sekalipun.

Saya sendiri saat ini lagi sibuk2nya. Tapi saya memilih untuk terus menulis renungan ini setiap harinya. Kenapa? karena ketika saya menulis, saya sedang berada sangat dekat dengan Dia, dan saya merasa rileks karenanya. Saya sangat menikmati masa2 seperti ini. Jika anda selama ini relaksasi dengan lagu2 santai, atau dengan mencari suasana yang mendukung, kenapa tidak mencoba rileks dalam Kristus? Mari, teman2 yang sedang mengalami kelelahan, tutup mata anda dan datanglah padaNya. Nikmati saat2 teduh anda dengan Nya dan anda akan jauh lebih ringan setelahnya.


Anda tidak perlu memikul beban sendirian. Biarkan Yesus membebaskan anda dari beban berat.