Tag: lelah

IYD 2016 Manado: Lelah pun Lenyap Sekejap, Begitu Sampai Paroki St. Antonius Padua Tataaran, Tondano

Masyarakat lokal dan ribuan umat katolik Gereja St. Antonius Padua Paroki Tataaran, Tondano menyambut gembira kedatangqan kontingen Keuskupan Tanjungkarang Lampung berjumlah 58 orang. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

SUSTER Valencia FSGM sungguh tak bisa menyembunyikan guratan wajahnya yang memancarkan kelelahan super maksimal. Tidak hanya biarawati fransiskanes Pringsewu ini saja yang mengalami kelelahan dan kepenatan fisik, usai menempuh perjalanan panjang dan lama dari Lampung menuju Manado dan kemudian ‘naik’ ke Utara menuju kawasan perbukitan di Tomohon hingga akhirnya ‘mendarat’ dengan sempurna di Tataaran, Tondano.

Perjalanan amat panjang dan super lama Kontingen Keuskupan Tanjungkarang menuju perhelatan iman Indonesian Youth Day ke-2 di Keuskupan Manado mulai 1-6 Oktober ini sudah berlangsung sejak hari Jumat dinihari waktu Lampung. Beberapa OMK Keuskupan Lampung yang tinggal di kawasan udik dan jauh dari Tanjungkarang sudah harus rela datang ke ‘pusat kota’ sehari sebelumnya. Namun, sejumlah OMK Tanjungkarang yang tinggal di kawasan pinggiran kota mau tidak mau juga sudah harus rela meninggalkan rumah mereka usai tengah malam menuju titik keberangkatan di Tanjungkarang dan kemudian bersama-sama terbang menuju Jakarta.

romo-christ-santi-tondano-1 Pastor Kepala Paroki St. Antonius Padua RP Christ Santie MSC datang menyambut ramah penuh kehangatan atas rombongan peserta IYD 2016 dari Keuskupan Tanjungkarang, Lampung. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Penerbangan jarak jauh dari Lampung menuju Sulawesi Utara melewati rute Tanjungkarang, Jakarta, Samarinda di Kaltim dan baru kemudian mendarat mulus di Bandara Internasional Sam Ratulangi di Manado, Ibukota Provinsi Sulut. “Total jenderal kami terbang kurang lebih 7 jam dari Tanjungkarang menuju Manado plus tambahan beberapa menit transit.

Waktu yang sedemikian lama itu belum termasuk alokasi beberapa jam lagi untuk menempuh perjalanan dari rumah menuju titik temu pemberangkatan. Banyak anggota kontingen Keuskupan Tanjungkarang harus datang lebih awal sehari sebelumnya untuk bisa bertemu tepat waktu dan baru kemudian bisa berangkat bersama-sama,” tutur suster biarawati Pujakesuma (Puteri Jawa Kelahiran Sumatera di Lampung) ini.

Namun, semua kelelahan dan kepenatan fisik yang luar biasa disertai lapar dan kantuk yang mungkin sudah memuncak di ubun-ubun itu akhirnya terbayarkan, begitu kaki mereka menginjak Kota Nyiur Melambai –sebutan populer untuk Manado. Alunan musik kolintang suguhan para OMK Manado plus wajah-wajah ramah para penyambut tamu di terminal kedatangan domestik di Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado membuat rombongan kontingen Lampung ini merasa diri diterima secara hangat penuh semangat persaudaraan.

Pastor Paroki St. Antonius Padua RP Christ Santi MSC bersama pastor rekan dan ribuan umat katolik serta masyarakat sekitar datang menyambut hangat Kontingen Keuskupan Tanjungkarang Lampung peserta Indonesian Youth Day 2016 di Manado. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net) Pastor Paroki St. Antonius Padua RP Christ Santie MSC bersama pastor rekan dan ribuan umat katolik serta masyarakat sekitar datang menyambut hangat Kontingen Keuskupan Tanjungkarang Lampung peserta Indonesian Youth Day 2016 di Manado. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Kegembiraan mereka semakin lengkap dengan sambutan yang super meriah yang terjadi di seluruh akses jalan menuju Gereja Katolik St. Antonius Padua Paroki Tataaran di Tondano, sekitar 50 km dari pusat kota Manado.

***

Waktu di Pineleng sudah menunjukkan pukul 16.30 WITA ketika Santa Monika Ngantung akhirnya datang menjemput rombongan Tim Dokpen KWI terdiri dari Kadokpen Pastor FX Adisusanto SJ dan Harini di Pastoran Paroki St. Fransiskus Xaverius Pineleng, lokasi media center Panitia Indonesian Youth Day ke-2 Manado. Ikut dalam rombongan Monika ini adalah editor senior Radio Vatikan Robin Gomes yang datang langsung dari Roma, editor senior AsiaNews –sebuah portal berita katolik yang juga berbasis di Roma, dan PemredSesawi.Net.

iyd-manado-sambutan-masyarakat-tondano-ok Sambutan luar biasa meriah menunjukkan keramahan dan kehangatan masyarakat lokal Minahasa di Tondano, 50km sebelah utara Manado, Jumat malam tanggal 30 September 2016. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Tim Dokpen KWI dan Sesawi.Net mengenal Monika Ngantung sejak setahun lalu. Perkenalan itu terjadi di forum Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI ke-4) di Cipanas, Jabar, Oktober 2015. Waktu itu, Monika Ngantung mengikuti SAGKI ke-4 sebagai anggota rombongan kontingen Keuskupan Manado di perhelatan perjumpaan nasional umat katolik dari 37 Keuskupan di seluruh Indonesia yang diampu oleh Komisi Keluarga KWI.

Namanya memang Santa Monika Ngantung. Sesuai namanya yang diawali dengan kata ‘Santa’, perempuan muda nan enerjik ini memang luar biasa tangguhnya. OMK asli Minahasa dari kawasan Tondano ini datang menyetir sendiri bersama rombongan tim penjemputan di Bandara guna memfasilitasi transportasi bagi ke-58 anggota rombongan Kontingen Keuskupan Tanjungkarang. Ketika rombongan kontingen akhirnya melewati Pineleng, barulah Monika datang menjemput kami untuk bersama-sama menuju Tataaran, lokasi dimana ke-58 anggota rombongan Kontingen Keuskupan Tanjungkarang ini akan memulai program live in mereka di antara umat katolik dan non katolik di Tataaran, Tondano.

Trengginasnya Monika Ngantung itu dibuktikan dengan terampilnya dia menyetir menyusuri jalanan meliuk-liuk nan sempit sepanjang Tomohon menuju Tataaran di Tondano. Arus lalu lintas pada hari Jumat malam itu sungguh tak nyaman. Di beberapa titik jalan sudah terjadi kemacetan, karena badan jalan sungguh sempit dan terjal plus volume arus kendaraan meningkat pesat selama beberapa hari jelang IYD 2016 di Manado.

iyd-tondano-sambutan-2-ok Jumat malam tanggal 30 September 2016 yang sejuk oleh semilir angin pegunungan di kawasan Tondano menjadi ‘hangat’ oleh keramahan masyarakat lokal Paroki St. Antonius Padua Tataaran dalam menyambut Kontingen Keuskupan Tanjungkarang Lampung yang akan live in di Tondano. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Akhirnya, rombongan tim Dokpen KWI, AsiaNews, Radio Vatikan, dan Sesawi.Net benar-benar mengalami kebuntuan di ujung jalan. Kendaraan Monika terhenti menuju titik terakhir. Arus lalu lintas benar-benar telah macet oleh padatnya ribuan manusia yang datang menjemput dan kemudian ‘mengerumuni’ kedatangan Kontingen Keuskupan Tanjungkarang.

***

Inilah Manado dan tipikal masyarakat Minahasa di Tondano. Keramahan mereka sungguh tidak bisa dibendung. Mereka menujukkan kehangatan tersebut kepada rombongan Kontingen Keuskupan Tanjungkarang yang berjumlah 58 orang terdiri dari OMK, dua pastor, dan empat suster biarawati plus 3 panitia lokal dari Manado. Di sepanjang jalan menuju titik temu di depan Gereja St. Antonius Padua Tataaran di Tondano itu, ribuan orang datang menyemut hingga memenuhi sudut-sudut jalan raya.

Suasana pada Jumat malam itu sungguh sejuk untuk ukuran orang Jakarta. Namun di malam itu, kesejukan alam Tondano yang indah di tengah semilirnya angin pegunungan serasa langsung mengubah suasana menjadi ‘hangat’ dan mungkin juga ‘panas’. Luapan kegembiraan yang membuncah bungah di sepanjang jalan utama menuju Gereja Katolik St. Antonius Padua Tataaran menjadi suasana umum pada malam itu.

** Artikel lengkap dari berita ini bisa diakses di website Dokpen KWI.

Co-founder dan chief editor Sesawi.Net; Konsultan Media & Communication di lembaga internasional mhariyadi@sesawi.net, mathias.hariyadi@gmail.com

Sumber: Sesawi.net

Tags : , , , , , , , , , ,

Kala Lelah Menghampiriku

BILA saat ini ragamu sedang mengalami kelelahan,
Berhentilah sejenak,
luangkan waktu 5 menit bersama Tuhan,
bacalah Mazmur 42 ini.

Mungkin inilah yang sedang kamu butuhkan saat ini.

Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair,
demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.

Jiwaku haus kepada Allah,
kepada Allah yang hidup.
Bilakah aku boleh datang melihat Allah?

Air mataku menjadi makananku
siang dan malam,
karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: “Di mana Allahmu?”

Inilah yang hendak kuingat,
sementara jiwaku gundah-gulana; bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia,
mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur,
dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan.

Mengapa engkau tertekan,
hai jiwaku,
dan gelisah di dalam diriku?
Berharaplah kepada Allah!
Sebab aku akan bersyukur lagi kepadaNya, penolongku dan Allahku!

Jiwaku tertekan dalam diriku,
sebab itu aku teringat kepadaMu
dari tanah sungai Yordan
dan pegunungan Hermon,
dari gunung Mizar.

Samudera raya berpanggil-panggilan dengan deru air terjunMu;
segala gelora dan gelombangMu
bergulung melingkupi aku.

TUHAN memerintahkan kasih setiaNya pada siang hari,
dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian,
suatu doa kepada Allah kehidupanku.

Aku berkata kepada Allah, gunung batuku: “Mengapa Engkau melupakan aku? Mengapa aku harus hidup berkabung
di bawah impitan musuh?”

Seperti tikaman maut ke dalam tulangku lawanku mencela aku,
sambil berkata kepadaku sepanjang hari: “Di mana Allahmu?”

Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah!
Sebab aku bersyukur lagi kepadaNya, penolongku dan Allahku!

Berilah keadilan kepadaku, ya Allah,
dan perjuangkanlah perkaraku terhadap kaum yang tidak saleh!
Luputkanlah aku dari orang penipu
dan orang curang!

Sebab Engkaulah Allah tempat pengungsianku.
Mengapa Engkau membuang aku?
Mengapa aku harus hidup berkabung
di bawah impitan musuh?

Suruhlah terangMu dan kesetiaanMu datang,
supaya aku dituntun
dan dibawa ke gunungMu yang kudus
dan ke tempat kediamanMu!

Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku, dan bersyukur kepadaMu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku!

Selamat pagi, Rahmat Tuhan mewarnai harimu

Sumber: Sesawi.net

Tags : ,

8 Agt

“Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya."
(1Kor 2:1-10a; Luk 9:57-62)
“Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: "Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Lalu Ia berkata kepada seorang lain: "Ikutlah Aku!" Tetapi orang itu berkata: "Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana." Dan seorang lain lagi berkata: "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku." Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Luk 9:57-62), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Dominikus, imam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   St Dominikus dikenal sebagai pengkotbah ulung dan mendirikan Ordo Pengkotbah. Sebagai imam pengkotbah ia tak kenal lelah keliling ke mana-mana guna mewartakan Kabar Baik, Injil, dan ia menjadi pembaharu dalam kotbah, mengingat dan memperhatikan para imam pada masanya pada umumnya berkotbah seenaknya, tidak bersumber pada Kitab Suci atau Injil. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak siapa saja yang berkotbah untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin, antara lain membaca dan merenungkan bacaan-bacaan dari Kitab Suci yang akan dibacakan serta dijadikan bahan utama dalam kotbah. Dalam berkotbah atau mewartakan Kabar Baik kita dapat meneladan atau bercermin pada Yesus sendiri, yang senantiasa menyampaikan ajaran-ajaran atau kotbah-kotbahNya dengan sederhana, antara lain dengan mengangkat pengalaman hidup sehari-hari sebagai bahana penyampaian ajaran atau kotbah-kotbahNya. Ada pepatah bahwa “orang pandai sejati dapat menyederhanakan apa yang sulir berbelit-belit sehingga dapat diketahui dan dfahami oleh semua orang, sebaliknya orang bodoh membuat apa yang sederhana dan mudah menjadi sulit berbelit-belit”. Sebagai contoh: panas terjadi karena gesekan benda-benda atau zat-zat tertentu, maka ketika anggota badan kita saling bergesekan menjadi hangat (ingat orang berpelukan!). Memang dalam berkotba atau mewartakan Kabar Baik kita harus dengan jiwa besar dan hati rela berkorban untuk meninggalkan cara-caranya sendiri atau cara-cara masa lalu, sebagai warisan yang harus diperbaharui. Dengan kata lain marilah kita hidup dan bertindak sesuai dengan charisma atau spiritualitas yang telah kita peluk dan geluti.
·   Ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh“(1Kor 2:1-4). Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita dipanggil untuk terus-menerus memahami dan mengenal Yesus Kristus, dan usaha untuk ini tidak lain adalah dengan membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci atau Injil. Memang agar kita dapat memahami dan mengimani dengan baik apa yang tertulis di dalam Kitab Suci atau Injil kita harus berusaha hidup dan bertindak dalam dan oleh Roh, karena apa yang ada di dalam Kitab Suci ditulis dalam dan oleh ilham Roh, Allah. Dan apa yang ditulis dalam ilham Roh atau Allah “memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2Tim 3:16). Hidup dan bertindak dalam dan oleh Roh hemat saya berarti senantiasa hidup dan bertindak dengan rendah hati dan terbuka terhadap aneka kemungkinan, kesempatan atau perubahan. Orang senantiasa siap sedia untuk berubah, dan tentu saja berubah semakin baik, semakin suci, semakin menyerupai cara hidup dan cara bertindak Yesus Kristus. Hendaknya kita juga senantiasa siap sedia untuk diajar, menerima ajaran-ajaran baru, siap sedia diperbaiki kelakuan dan dididik dalam kebenaran.
Marilah kita bersorak-sorai untuk TUHAN, bersorak-sorak bagi gunung batu keselamatan kita.Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur, bersorak-sorak bagi-Nya dengan nyanyian mazmur. Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah.”
 (Mzm 95:1-3)
Ign 8 Agustus 2012

Tags : , , , ,

4 Agt

“Yesus memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.”

(Yeh 3:16-21; Mat 9:35-10:1)

Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.” (Mat 9:35-10:1), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Yohanes Maria Vianney, imam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Terpanggil untuk menjadi imam berarti harus berpartisipasi dalam karya penyelamatan Yesus, antara lain “mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan”. St.Yohanes Maria Vianney, yang terkenal dengan pembaktian dirinya untuk menerimakan Sakramen Pengakuan di kamar pengakuan sampai berjam-jam setiap hari, kiranya lebih menghayati perutusan untuk ‘melenyapkan segala penyakit dan kelemahan’. Ia juga menjadi pelindung bagi para imam, dengan harapan para imam dapat meneladan cara hidup dan cara bertindaknya dalam menghayati panggilan maupun melaksanakan tugas pengutusan. Maka pertama-tama kami mengajak dan mengingatkan rekan-rekan imam untuk meneladan St.Yohanes Maria Vianney dalam pelayanan pastoralnya dalam karya macam apapun. Secara konkret memang para imam hendaknya senantiasa siap sedia kapan saja untuk menerimakan Sakramen Pengampunan bagi mereka yang memintanya, dan dalam cara hidup serta cara bertindaknya senantiasa mengampuni mereka yang bersalah, entah bersalah terhadap imam sendiri maupun orang lain. Kasih pengampunan hemat saya merupakan anugerah Tuhan yang telah kita terima secara melimpah ruah, maka selayaknya kita meneruskannya kepada orang lain dimana pun dan kapan pun. Yang terpanggil untuk hidup saling mengampuni kiranya tidak hanya para imam saja, melainkan kita semua umat beriman atau beragama. Marilah kita dimanapun dan kapanpun senantiasa hidup dan bertindak saling mengampuni satu sama lain, saling berusaha menyembuhkan aneka penyakit dan kelemahan.

·   Jikalau engkau memperingatkan orang jahat itu dan ia tidak berbalik dari kejahatannya dan dari hidupnya yang jahat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu. Jikalau seorang yang benar berbalik dari kebenarannya dan ia berbuat curang, dan Aku meletakkan batu sandungan di hadapannya, ia akan mati. Oleh karena engkau tidak memperingatkan dia, ia akan mati dalam dosanya dan perbuatan-perbuatan kebenaran yang dikerjakannya tidak akan diingat-ingat, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu.Tetapi jikalau engkau memperingatkan orang yang benar itu supaya ia jangan berbuat dosa dan memang tidak berbuat dosa, ia akan tetap hidup, sebab ia mau menerima peringatan, dan engkau telah menyelamatkan nyawamu." (Yeh 3:19-21). Apa yang difirmankan oleh Tuhan melalui nabi Yeheskiel ini kiranya baik menjadi bahan permenungan atau refleksi kita semua, umat beriman atau beragama. Kita semua dipanggil untuk segera mengingatkan dan menegor orang-orang berdosa atau yang melakukan kesalahan untuk bertobat atau memperbaharui diri. Jika kita tahu ada orang berdosa atau bersalah dan kita tidak mengingatkan atau membiarkan saja, maka kita bersalah, dan dari pihak kita dituntut tanggungjawab oleh Tuhan. Sebaliknya kami juga berharap kepada kita semua: ketika kita bersalah dan diingatkan atau ditegor oleh saudara-saudari kita hendaknya tidak melawan atau mempertahankan diri, melainkan dengan rendah hati ditanggapi dengan kata-kata singkat “terima kasih”. Sadari dan hayati bahwa semua sapaan, sentuhan, tegoran atau peringatan sekeras apapun dan menyakitkan hati kita, hemat saya hal itu merupakan wujud kasih mereka terhadap kita, maka hendaknya disikapi dengan ‘terima kasih’. Orang tak mungkin menegor, mengingatkan dan memarahi kita jika mereka tak mengasihi kita. Kita semua juga diingatkan agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain untuk berbuat jahat atau berdosa dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun.

Ya TUHAN, Allah yang menyelamatkan aku, siang hari aku berseru-seru, pada waktu malam aku menghadap Engkau. Biarlah doaku datang ke hadapan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepada teriakku; sebab jiwaku kenyang dengan malapetaka, dan hidupku sudah dekat dunia orang mati.Aku telah dianggap termasuk orang-orang yang turun ke liang kubur; aku seperti orang yang tidak berkekuatan” (Mzm 88:2-5)

Ign 4 Agustus 2012

Tags : , , , ,

Kesegaran Bagi Jiwa

Ayat bacaan: Mazmur 19:8
==================
“Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.”

kesegaran bagi jiwaSetelah lelah bekerja sepanjang hari dan panas-panasan di tengah kemacetan luar biasa di jalan raya dalam perjalanan pulang, tidakkah anda merindukan sesuatu yang menyegarkan untuk dinikmati begitu anda tiba di rumah? Bentuk dari kata “segar” ini bisa berbeda-beda bagi setiap orang. Ada yang langsung membayangkan segelas teh dingin, sirup, sejuknya air mengenai muka atau seluruh tubuh dengan mandi, berbaring di ruangan ber-AC atau sekedar duduk di sofa yang empuk. Ada yang menganggap bermain dengan anak-anak sepulang kerja merupakan sesuatu yang terasa sangat menyegarkan dan bisa memulihkan keletihan dengan cepat, menonton televisi dan sebagainya. Atau bahkan memilih beberapa dari yang saya sebutkan itu sekaligus atau dalam urutan tertentu. Yang pasti, di saat kita lelah sesuatu yang menyegarkan itu akan terasa sangat indah. Bahkan ketika itu masih kita pikirkan saja kita bisa tersenyum sendiri membayangkannya. We need a refreshment, we need to be restored. Semua orang butuh itu.

Tidak hanya tubuh, tapi kondisi spiritual pun sama. Setiap hari ketahanan spiritual atau rohani kita terus berhadapan dengan berbagai kondisi yang melelahkan. Berperang baik melawan berbagai keinginan daging dari diri sendiri maupun berbagai godaan iblis yang terus berusaha untuk menjatuhkan kita, menghadapi tawaran-tawaran yang sekilas terlihat menjanjikan namun di balik itu tersimpan banyak penyesatan dan sebagainya. Kondisi ini kita hadapi setiap hari, dan jika tidak dijaga, keadaan rohani kita pun bisa kehabisan energi, mengering, drained out. Betapa berbahayanya jika kita membiarkan jiwa kita mengalami kekeringan. Tidak lagi punya daya tahan kuat untuk menghadapi berbagai tantangan yang bisa melemahkan bahkan menghancurkan kondisi spiritual kita. Seperti halnya tubuh kita yang lelah butuh sesuatu yang menyegarkan, secara rohani kita pun butuh hal yang sama agar tidak keburu kering dan terkapar lemas. Just like our body, our spirit needs to be restored and refreshed as well.

Kesegaran secara jasmani bisa kita peroleh dari berbagai hal yang saya sebutkan dalam paragraf pembuka renungan hari ini. Tidakkah semua itu rasanya menyegarkan? Tetapi kesegaran rohani tidak bisa kita peroleh lewat semua itu. Kesegaran rohani kita akan sangat tergantung dari asupan Firman Tuhan. Firman Tuhan akan selalu menguatkan, meneguhkan, memberi kelegaan dan menyegarkan. Dan jiwa kita, seperti halnya tubuh kita butuh penyegaran setiap saat. Dan itu tertulis jelas dalam kitab Mazmur.Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.” (Mazmur 19:8). Firman Tuhan mampu menjawab kebutuhan akan kesegaran jiwa. Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan “The law of the Lord is perfect, restoring the whole person.”

Restoring. Memulihkan. Bayangkan jika anda penggemar game dan tokoh yang anda mainkan tengah berada dalam keadaan sekarat akibat terus digempur musuh. Tidakkah anda akan senang sekali jika bertemu dengan item-item yang bisa kembali merestorasi atau mengembalikan “health-bar” dari tokoh anda itu kepada kondisi sempurna? Seperti itu pula Firman Tuhan mampu merestorasi atau mengembalikan kesegaran dari jiwa dan roh kita yang sudah lelah akibat terus digempur berbagai hal negatif setiap harinya. Hidup di dunia yang sulit ini akan membuat stamina rohani kita dengan cepat terkuras. Karenanya kita sangat membutuhkan “a splash of fresh cold water”, percikan air yang akan mengembalikan kesegaran jiwa kita. Dalam Yesaya kita bisa melihat janji Tuhan yang begitu indah buat kita: “Sebab Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu, dan berkat-Ku ke atas anak cucumu. Mereka akan tumbuh seperti rumput di tengah-tengah air, seperti pohon-pohon gandarusa di tepi sungai.” (Yesaya 44:3-4). Pengenalan yang kontinu, terus menerus akan Tuhan pun akan memberikan kita kesegaran seperti ini seperti yang tertulis dalam Hosea. “Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi.” (Hosea 6:3) Betapa menyegarkannya hujan yang turun di saat kemarau, dan itulah janji Tuhan untuk kita yang mau bersungguh-sungguh mau mengenalNya.

Sungguh sangat penting bagi kita untuk terus membekali dan menjaga kesegaran jiwa kita dengan firman Tuhan. Daud tahu bagaimana bahagianya jika ia tetap berada dekat dengan firman Tuhan yang penuh dengan kuasa. Bacalah Mazmur 119 dimana Daud mendeskripsikan dengan panjang lebar dan lengkap mengenai bahagianya orang yang hidup menurut Taurat Tuhan. Semua itu tentu terasa sangat menyegarkan bagi jiwa. Berkali-kali pula Daud memberikan testimoni dari pengalamannya hidup dekat dengan firman Tuhan. Salah satunya berbunyi seperti ini: “Aku mendapatkan kebahagiaan dalam mentaati perintah-perintah-Mu.” (Mazmur 119:55). Dalam bahasa Inggris (amplified)nya kita bisa menemukan kalimat yang lebih detail: “This I have had [as the gift of Your grace and as my reward]: that I have kept Your precepts [hearing, receiving, loving, and obeying them].” Jangan biarkan jiwa kita mengalami kekeringan. Tetaplah dekat dengan firman Tuhan agar jiwa kita tetap segar dengan daya tahan yang kuat sehingga kita bisa menghadapi segala tantangan dan kesulitan setiap hari dengan teguh.

Segarkan jiwa dengan Firman Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tags : , , , , ,

Seperti Majalah

Ayat bacaan: 1 Tesalonika 4:1
=========================
“Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.”

seperti majalahMembalik-balik sebuah majalah hari ini membuat saya berpikir betapa hidup kita pun seperti sebuah majalah. Ada begitu banyak “kolom” atau “rubrik” dalam perjalanan hidup kita, dimana kepingan-kepingan itu disatukan menjadi utuh seperti halnya satu jilidan majalah. Sebuah pertanyaan hadir di benak saya, dimanakah letak “kolom” hubungan kita dengan Tuhan? Apakah terletak di halaman utama, tajuk editorial, mengisi setiap lembar-lembarnya atau hanya berada pada satu halaman kecil saja, mungkin malah terletak di paling belakang?

Ada banyak diantara kita orang percaya yang meletakkan Tuhan hanya pada halaman belakang saja. Kita hanya berdoa pada saat kita punya waktu luang saja. Kita mendahulukan kesibukan-kesibukan pekerjaan, jadwal yang padat, deadline yang menumpuk dan aktivitas-aktivitas lainnya terlebih dahulu lalu mempergunakan waktu luang yang tersisa untuk Tuhan. Itupun jika kita tidak terlalu lelah dan memilih untuk tidur langsung. Kehidupan kerohanian bagi sebagian orang hanya berlaku hari Minggu saja, selama kurang lebih dua jam. Setelahnya maka mereka kembali masuk ke dalam dunia masing-masing, dimana Tuhan tidak lagi ada dalam daftar mereka. Sekarang coba bayangkan, seandainya Tuhan berlaku seperti itu pada kita. Apa jadinya jika Tuhan hanya peduli kepada kita dua jam saja dalam seminggu? Tidakkah itu sangat mengerikan? Tidak satupun orang yang mau seperti itu. Kita ingin Tuhan selalu hadir dengan penyertaanNya setiap saat, tetapi mengapa kita membalasnya dengan memberikan hanya sedikit waktu yang tersisa saja untuk Tuhan? Betapa tidak adilnya jika kita tidak mau diperlakukan Tuhan seperti itu tetapi sanggup berbuat demikian kepada Tuhan.

Paulus mengingatkan jemaat Tesalonika akan pentingnya sebuah kesungguhan untuk memiliki hidup yang berkenan kepada Tuhan. “Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.” (1 Tesalonika 4:1). Adalah baik jika kita sudah mulai berpikir untuk hidup berkenan kepada Allah, tetapi hendaklah kita tidak berhenti mengusahakannya dan terus berupaya untuk lebih bersungguh-sungguh lagi. Adalah baik jika kita sudah secara rutin beribadah di hari Minggu, juga bagus jika kita sudah meluangkan waktu untuk berdoa, apalagi disiplin dalam bersaat teduh, tetapi marilah kita terus meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Tuhan, sehingga kita bisa sampai kepada sebuah tahap yang tidak lagi dibatasi oleh waktu.

Alkitab menceritakan banyak kisah mengenai kedekatan para tokoh dengan Tuhan. Kita bisa melihat sebutan “bergaul karib dengan Tuhan” yang diberikan kepada Henokh (Kejadian 5:24), Nuh (Kejadian 6:9) dan Ayub (Ayub 29:4). Kita bisa melihat pula hubungan yang sungguh sangat dekat lewat pribadi Musa, Abraham, Yusuf, Daud, Daniel dan banyak lagi. Dan kita menyaksikan sendiri bagaimana perbedaan mereka dibandingkan orang-orang lain yang hidup sejaman dengan mereka. Sebuah kualitas hubungan dengan Tuhan akan sangat menentukan siapa diri kita sebenarnya.

Kembali kepada surat Tesalonika di atas, kita bisa melihat apa yang menjadi panggilan Allah kepada kita. “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.” (1 Tesalonika 4:7). Pada ayat sebelumnya pun dikatakan “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu.. (ay 3). Panggilan ini bukanlah merupakan panggilan yang hanya terbatas berlakunya, seperti hanya dua jam dalam satu minggu, atau hanya beberapa menit dalam sehari saja. Ini adalah panggilan yang harus berlaku setiap saat kepada kita semua tanpa terkecuali. Kehidupan yang berkenan di hadapan Allah adalah kehidupan dalam kekudusan. Dan hal ini akan sulit kita wujudkan apabila kita masih cenderung mementingkan kehidupan di dunia ini ketimbang membangun sebuah hubungan yang karib dengan Tuhan.

Petrus mengingatkan kita pula akan hal ini. “..hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:15-16). Tuhan selalu menantikan kita untuk mau mulai membangun hubungan yang erat denganNya. Dan lihatlah apa yang dikatakan Tuhan: “TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.” (Mazmur 25:14). Tuhan siap membuka mata hati kita untuk mengerti rahasia-rahasia dan rencana-rencanaNya, tetapi itu tidak akan bisa kita peroleh tanpa membangun sebuah hubungan yang kokoh terlebih dahulu.

Jika hidup ini diibaratkan sebuah majalah, maka penting bagi kita untuk memperhatikan dimana dan bagaimana posisi hubungan kita dengan Tuhan di dalamnya. Sudahkah Tuhan mengisi lembar demi lembar hidup anda, atau posisi Tuhan masih sangat terbatas bahkan berada di posisi belakang? Memasuki hari Natal tahun ini dimana kita memperingati kelahiran Kristus, hendaklah kualitas hubungan kita dengan Tuhan menjadi sesuatu yang mendapat perhatian khusus. Hiduplah dalam kekudusan, bangunlah hubungan yang akrab, sehingga kita tidak gampang goyah dalam menghadapi hari-hari sulit ke depan sekaligus mampu mencapai garis akhir sebagai pemenang. Tuhan sudah menganugerahkan AnakNya sendiri demi keselamatan kita, Dia rindu untuk benar-benar dekat dengan kita, sekarang giliran kita untuk menjawab kerinduan Tuhan. Teruslah berusaha sungguh-sungguh untuk hidup berkenan kepada Allah dan tingkatkan terus usaha anda.

Biarkan Tuhan mengisi setiap lembar dalam kehidupan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tags : , , , , ,

Secangkir Teh buat Tuhan

Ayat bacaan: Hosea 6:6
===================
“Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.”

menyenangkan hati TuhanSeorang teman bercerita bahwa salah satu yang paling membuatnya bahagia adalah ketika anaknya berlari menyambutnya sepulang kerja. Seorang ayah tentu akan merasa sangat bahagia ketika anak-anak mereka menyambut kepulangan mereka dengan tersenyum, memeluk, atau malah membuatkan secangkir teh hangat dan memijati pundak sang ayah sambil bercerita tentang hari-harinya di sekolah. Tentu hal itu sangat menyenangkan bukan? Saya yakin tidak ada satupun ayah yang tidak merasa bahagia ketika anak-anak menunjukkan kasih sayang mereka dengan penuh sukacita. Apa yang dialami oleh teman saya itu pernah saya alami juga, tapi dalam posisi yang berbeda, di posisi sebagai seorang anak ketika saya masih kecil. Mungkin sebagian dari kita pun pernah bereaksi seperti si anak ketika kita kecil. Saya ingat pada saat saya kecil, saya sering disebut anak papa, karena kedekatan saya dengan ayah saya. Selalu ada raut bahagia di wajahnya meski ia sedang lelah ketika saya menyambutnya. Ia akan segera menggendong saya dan langsung bermain. “Anak itu benar-benar obat lelah..” kata teman saya sambil tertawa. Ya, begitu mereka dengan riangnya menyambut kita, seketika itu pula rasa lelah dan beban masalah di pekerjaan menguap. Anak bahagia, ayah bahagia. Betapa indahnya.

Jika menyenangkan hati ayah biologis kita saja sudah begitu rasanya, apalagi hati Tuhan yang begitu mengasihi kita. Tentu kita pun sebagai anak-anak Tuhan ingin bisa menyenangkan hatiNya. Masalahnya banyak orang yang tidak tahu bagaimana caranya. Bagaimana membuatkan secangkir teh hangat buat Tuhan? Atau memijat pundakNya? memelukNya? Bukankah itu tidak bisa kita lakukan karena Tuhan tidak berada secara fisik di dekat kita seperti halnya ayah kita di dunia? Lalu bagaimana caranya? Alkitab menyebutkan apa yang bisa menyenangkan hati Tuhan.

Dalam Hosea dikatakan bahwa “..Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.” (Hosea 6:6). Kasih setia kita yang tidak lekang dimakan jaman, tidak gampang pudar karena godaan duniawi, dan kerinduan kita tanpa henti untuk semakin mengenal pribadi Bapa, itulah yang menyenangkan Tuhan, lebih dari segala perbuatan baik kita atau amal kita. Hal yang sejalan pula disampaikan oleh Pemazmur. Dalam Mazmur dikatakan TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya. (Mazmur 147:11). Menyenangkan hati Tuhan bisa kita lakukan dengan hidup takut akan Tuhan dan terus percaya penuh kepadaNya tanpa putus harapan. Hal-hal seperti inilah yang bisa kita lakukan untuk menyenangkan hatiNya. Lewat pengenalan akan Tuhan, mengasihiNya dengan setia, menyadari dan percaya sepenuhnya kasih setia Tuhan dalam kondisi apapun yang kita alami, dan terus menjalani hidup dengan rasa takut akan Tuhan, itulah yang bisa kita perbuat untuk mengetuk pintu hati Tuhan dan menyenangkanNya.

Memberikan puji-pujian, bermazmur bagiNya, itu pun menyenangkan Tuhan jika kita lakukan dengan hati yang tulus. Sebelum Pemazmur menuliskan hal yang membuat Tuhan senang di atas, kita dapati ayat yang berbunyi “Bernyanyilah bagi TUHAN dengan nyanyian syukur, bermazmurlah bagi Allah kita dengan kecapi!” (ay 7). Tuhan tentu akan senang apabila kita memiliki gaya hidup yang senantiasa memuji dan menyembahNya, bermazmur bagiNya baik dalam keadaan suka maupun duka, baik dalam keadaan senang maupun susah, dan melakukan itu semua dengan hati yang tulus sepenuhnya karena mengasihi Tuhan lebih dari segalanya.

Waspadalah dalam hidup ini, karena ada begitu banyak keinginan daging yang akan selalu berusaha untuk menjauhkan kita dari Tuhan. Seringkali kita terjebak dan memberi toleransi kepada keinginan-keinginan kedagingan, dan mengira bahwa itu tidaklah apa-apa. Padahal Tuhan sama sekali tidak berkenan kepada orang-orang yang memilih untuk hidup dalam daging dan menomor duakan keinginan Roh! “Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.” (Roma 8:8). Kemudian, apakah kita sudah berkenan meluangkan waktu untuk berdoa bagi orang lain, untuk pemerintah, bangsa dan negara kita? Sudahkah kita menaikkan permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur buat orang lain, buat pemimpin-pemimpin kita? Hal ini pun penting untuk kita cermati, karena firman Tuhan berkata “Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita” (1 Timotius 2:3).

Kita tidak perlu membuat secangkir teh hangat buat Tuhan, kita tidak perlu memijiti Tuhan. Lebih dari korban bakaran, Tuhan lebih menyukai kasih setia kita dan usaha kita untuk semakin jauh mengenal pribadiNya. Tuhan rindu untuk dapat bergaul karib dengan kita. Kepada kita yang menyenangkan hatiNya, yang berkenan di hadapanNya, Tuhan tidak akan menahan-nahan berkatNya untuk tercurah. “Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela.” (Mazmur 84:11). Ini janji Tuhan kepada setiap anakNya yang selalu berusaha menyenangkan hatiNya semata-mata karena mengasihi Tuhan lebih dari segala sesuatu. Tuhan akan sangat senang jika kita menjadikan diriNya prioritas utama dalam hidup kita. Dia akan sangat bangga jika kita mempersembahkan ibadah sejati kita dengan mempersembahkan tubuh kita sendiri sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepadaNya. (Roma 12:1). Tetap percaya dan berpegang kepadaNya dalam kondisi dan situasi apapun, selalu melakukan kehendakNya dengan sepenuh hati, tetap bersukacita dan bersyukur meski dalam kesesakan sekalipun, dan tentunya tidak sekali-kali menomorduakan apalagi meninggalkan Tuhan demi kepentingan sesaat. Hari ini mari kita sambut Dia dengan penuh sukacita, mari kita sama-sama belajar untuk menyenangkan hati Bapa lebih lagi.

Sekarang saatnya bagi kita untuk menyenangkan Bapa

5 pencarian oleh pembaca:

  1. burung peor
  2. gambar burung peor
Tags : , ,

Relaxing in Christ

Ayat Bacaan: Mat 11:28
===================


“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”


Tidak ada manusia yang tidak pernah dilanda kesusahan. Tidak ada manusia yang hidup selamanya tanpa masalah. Mungkin anda juga tengah merasakan hal2 yang memberatkan. Mungkin saat ini anda merasa takut dan kecewa, khawatir dengan pekerjaan anda, hubungan anda dengan keluarga sedang mencapai titik terendah, dan sebagainya. Anda mungkin juga tengah berpikir, mengapa anda menjadi orang yang paling malang di dunia ini. Batin terasa lelah, dan anda tidak punya teman yang siap membantu anda, setidaknya berbagi kegelisahan. Anda tidak sendirian, saya yakin ada banyak orang diberbagai belahan dunia ini yang sedang mengalami masa2 yang sama.

Anda mungkin tengah merasa sangat letih, pekerjaan menumpuk tanpa henti, tugas2 silih berganti menyerang anda, belum lagi yang satu selesai, dua tugas lagi telah datang. Anda kelabakan membagi waktu, dan rasanya ingin berteriak dan berharap datangnya “time out” agar anda bisa jeda sejenak dan kembali mengatur napas anda. Anda juga tidak sendiri. Pasti, ada banyak orang yang mengalami saat2 yang sama seperti anda.

Saya pernah mengalami kelelahan mental yang luar biasa. Ketika ibu saya sedang koma di rumah sakit, dan biaya2 pengobatannya sudah jauh melebihi kemampuan keluarga, pada suatu malam, beban itu sudah tidak mampu lagi saya tanggung. Saya ingat benar, saat itu pukul setengah empat pagi, dan saya sendirian di atas kasur, tidak bisa tidur meskipun mental sudah sangat lelah. Bahkan saat itu, untuk menangis pun saya sudah tidak bisa lagi. Saya yang waktu itu belum lahir baru, menutup mata, kehabisan akal, dan harapan, dan hati saya cuma berseru “Yesus….” berulang kali. Ya, saya saat itu tidak mampu lagi memanjatkan doa apapun karena semuanya terlalu berkecamuk didalam saya. Tiba2, ditengah mata terpejam itu,saya merasakan cahaya yang begitu terang, menyilaukan bahkan dalam keadaan mata tertutup sekalipun, dan cahaya itu terasa mengelilingi saya. Air mata mulai mengalir, dan saya menumpahkan segalanya, dalam lingkup cahaya itu selama kurang lebih setengah jam. Setelahnya? Seakan2 semua kelelahan itu ada yg ambil. itu pertama kali setelah 3 bulan mengalami keletihan mental dan fisik luar biasa, saya bisa tidur dengan nyenyak dan damai. Ini salah satu kesaksian yang saya alami sendiri, dan merupakan salah satu dari perkenalan pertama saya dengan Kristus.

Tuhan kita tahu persis bahwa anak2Nya pada satu saat pasti mengalami masa2 sulit. Ada banyak situasi di dalam hidup kita dimana kita akan merasakan kelelahan luar biasa dari berbagai sisi. Dan Ia menyediakan diriNya, untuk membebaskan semua beban itu. Satu hal yang Dia minta hanyalah agar kita datang padaNya. Setia dan berserah, percaya kepadaNya. Kita tidak perlu membuat list panjang mengenai masalah kita, kita tidak perlu merangkai kata atau puisi2 super indah untuk menyatakan permasalahan kita. Kita hanya perlu datang kepadaNya, dan Yesus Kristus, akan memberikan damai sejahtera sebenarnya, bukan seperti apa yang diberikan dunia. Dia memberikan kelegaan dan perlindungan bahkan di hari2 tersulit sekalipun.

Saya sendiri saat ini lagi sibuk2nya. Tapi saya memilih untuk terus menulis renungan ini setiap harinya. Kenapa? karena ketika saya menulis, saya sedang berada sangat dekat dengan Dia, dan saya merasa rileks karenanya. Saya sangat menikmati masa2 seperti ini. Jika anda selama ini relaksasi dengan lagu2 santai, atau dengan mencari suasana yang mendukung, kenapa tidak mencoba rileks dalam Kristus? Mari, teman2 yang sedang mengalami kelelahan, tutup mata anda dan datanglah padaNya. Nikmati saat2 teduh anda dengan Nya dan anda akan jauh lebih ringan setelahnya.


Anda tidak perlu memikul beban sendirian. Biarkan Yesus membebaskan anda dari beban berat.

Tags : , , , , ,