Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Kasih Menjadi Nyata Kalau Dibagi (2)

SEORANG calon pendeta mendapat kesempatan untuk berkotbah di rumah jompo di sebuah kota kecil. Pada pagi Sabtu itu, rasa takut mulai memenuhi benaknya. Saat itu ia baru berumur 21 tahun. Apa yang dapat saya sampaikan pada orang-orang lanjut usia ini? Sebagai langkah awal ia berkenalan terlebih dulu dengan mereka. Hampir setiap orang menceritakan permasalahan yang [...]

Uskup Tanjungkarang Mgr. A. Henrisoesanto SCJ Pensiun, Mgr. Aloysius Soedarso SCJ Rangkap Tugas

SAMA seperti sebelumnya ketika Uskup Ketapang Mgr. Blasius Pujarahardja Pr yang sudah lanjut usia, ingin pensiun dan kemudian permohonannya mundur dari jabatan Uskup Ketapang disetujui Vatikan, kini Tahta Suci juga telah berkenan menyetujui permohonan pengunduran diri Uskup Tanjungkarang Mgr. A. Henrisoesanto SCJ. Hukum Kanonik Gereja memang mengizinkan setiap Uskup boleh mengajukan pengunduran diri karena alasan [...]

Yohanes, Tuhan Merahimi

Dalam Injil Minggu Biasa XII tahun B dirayakan kelahiran Yohanes (Luk 1:57-66 dan 80). Yohanes Pembaptis dikenal sebagai tokoh yang mengakhiri zaman Perjanjian Lama dan mengantar zaman Perjanjian Baru. Injil Lukas menceritakan bagaimana kelahiran tokoh ini diberitakan oleh Malaikat Gabriel kepada Zakharia, ayahnya, ketika ia sedang bertugas mempersembahkan korban di Bait Allah (Luk 1:5-17). Dan [...]

Kesetiaan Tuhan

Ayat bacaan: Ibrani 11:11
======================
“Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.”

kesetiaan TuhanBeberapa hari terakhir ini ternyata Tuhan menggerakkan saya untuk terus berbicara mengenai sukacita. Sukacita bisa kita rasakan baik lewat pengalaman-pengalaman pribadi kita bersama Tuhan, lewat kesadaran kita akan kebaikan dan penyertaan Tuhan, dan kemarin kita melihat pula bahwa kita tidak boleh berhenti hanya kepada sukacita atas diri sendiri tetapi juga harus menuju kepada sukacita selanjutnya, yaitu ketika ada jiwa-jiwa yang bertobat. Kacamata iman akan sangat menentukan bagaimana kita menyikapi kehidupan lengkap dengan liku-likunya. Sebuah sukacita yang sejati bukanlah tergantung dari berat ringannya kondisi yang kita hadapi di dunia melainkan berasal dari seberapa jauh kedekatan dan kepercayaan kita kepada Tuhan. Kacamata seperti inilah yang seharusnya kita miliki, sebuah kacamata yang memampukan kita untuk memperoleh atau melihat bukti dari sesuatu yang tidak/belum kita lihat. Dua hari yang lalu kita sudah melihat bentuk kacamata iman ini lewat apa yang dimiliki Abraham dan Sara. Hari ini mari kita kembali melihat bagaimana mereka bisa memiliki sebentuk kacamata iman seperti itu.

Abraham dan Sara menerima janji Tuhan bukan pada usia produktif mereka. Mungkin lebih mudah bagi kita untuk menerima janji akan keturunan sebanyak bintang di langit dan pasir di laut ketika kita masih dalam usia produktif. Tetapi bagaimana jika janji itu datang justru ketika kita sudah sangat lanjut usia, setelah menjadi kakek dan nenek? Abraham dikatakan sudah “mati pucuk”, sedang Sara sudah melewati puluhan tahun setelah memasuki masa menopause. Secara ilmiah tidak ada satupun jalan yang memungkinkan mereka untuk bisa memperoleh keturunan lagi. Satu saja sudah tidak mungkin, apalagi sebanyak bintang atau pasir. Tapi ternyata mereka mampu memegang janji itu, percaya kepada sesuatu yang tidak bisa diterima logika dan menerimanya sebagai sebuah kebenaran. Apa yang membuat mereka bisa seperti itu? Jawabannya adalah iman. Dalam Ibrani 11 kita bisa melihat uraian panjang lebar mengenai bentuk iman yang dimiliki oleh Abraham dan Sara ini. Sebuah janji yang bahkan masih harus menunggu sekian tahun lagi untuk digenapi. Ayat bacaan hari ini menyebutkan bagaimana Sara bisa memiliki iman sebesar itu. Mari kita baca ayatnya: Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia. (Ibrani 11:11). Karena iman, Sara bisa memiliki kemampuan untuk memperoleh anak di usia tuanya. Dan ayat ini menyatakan dengan jelas: “Karena ia (Sara) menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.” Sara tahu bahwa Tuhan itu setia. She knows that God who had given her the promise is reliable, trustworthy and true to His own words. Perhatikanlah. Betapa sering janji Tuhan terhambat untuk menghampiri kita karena ketidakpercayaan atau ketidakyakinan kita. Maka lihatlah apa kata Yesus berikut. “Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.” (Matius 21:22). Percaya, itu kuncinya. Kepercayaan penuh kepada Tuhan menumbuhkan kekuatan bagi mereka untuk terus menanti janji Tuhan dengan sabar dan tekun. Meski bertahun-tahun menunggu hingga janji itu digenapi, kepercayaan mereka tidak goyah sedikitpun. Apakah mereka tahu kapan tepatnya Tuhan akan menepati janjiNya akan keturunan itu setelah dijanjikan? Tidak. Tetapi iman mereka membuat mereka bisa percaya kepada Tuhan tanpa ragu, dan kepercayaan mereka akan kesetiaan Tuhan itu terus menumbuhkan iman mereka. Pada akhirnya kita melihat bagaimana janji itu digenapi Tuhan dengan ajaib.

Dalam Mazmur kita bisa menemukan ayat yang berseru: “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Dan ayat ini disebukan berulang-ulang, seperti dalam Mazmur 106:1, 107:1, 118:1, 118:29, 136:1 dan banyak lagi. Ini sebuah seruan yang penting agar kita menyadari bahwa kasih setia Tuhan itu berlaku untuk selama-lamaNya. Bukan hanya pada saat tertentu, bukan hanya kepada orang tertentu, tetapi itu berlaku bagi semua orang sepanjang masa, termasuk kepada anda dan saya hari ini. Lebih lanjut Pemazmur mengatakan “Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.” (Mazmur 100:5). Tidak saja kesetiaan itu berlaku selama-lamanya dan turun temurun, tetapi dikatakan pula bahwa kasih setia Tuhan itu besar. Itulah yang disadari dan diserukan Yesaya. “Aku hendak menyebut-nyebut perbuatan kasih setia TUHAN, perbuatan TUHAN yang masyhur, sesuai dengan segala yang dilakukan TUHAN kepada kita, dan kebajikan yang besar kepada kaum Israel yang dilakukan-Nya kepada mereka sesuai dengan kasih sayang-Nya dan sesuai dengan kasih setia-Nya yang besar. (Yesaya 63:7).

Betapa indahnya ketika Tuhan meneguhkan pula bahwa Dia tidak pernah berubah. “Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah..” (Maleakhi 3:6) dan Yesus juga demikian.“Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” (Ibrani 13:8). Dahulu Tuhan menunjukkan kasih setiaNya yang turun temurun dan besar, hari ini pun sama. Jika dahulu Tuhan bisa, hari ini pun sama, besok lusa dan sampai kapanpun Dia bisa! Jika dahulu Tuhan menunjukkan kasih setiaNya yang besar, hari ini pun itu berlaku bagi setiap anak-anakNya. Menyadari hal ini, mengapa kita masih sulit untuk bersukacita? Mengapa kita harus cemas menatap hari depan, mengapa kita harus mengeluh ketika tengah berhadapan dengan beban-beban yang berat? Ingatlah selalu dan percayalah sepenuhnya bahwa Tuhan ada bersama kita lengkap dengan kasih setiaNya yang besar selama-lamanya. Kepercayaan seperti itu terbukti mampu membawa janji Tuhan digenapi bagi Abraham dan Sara. Kepercayaan yang terbentuk dari iman dan akan terus memperkuat iman seiring waktu. So let’s keep rejoicing!

Kasih setia Tuhan besar dan berlaku selama-lamanya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

Sibuk

Ayat bacaan: Hagai 1:9b
===================
“Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri.”

terlalu sibukManusia semakin lama semakin melupakan keramahan, toleransi dan kepedulian. Seorang kakek lanjut usia pernah bercerita kepada saya bagaimana ia menyaksikan sendiri degradasi moral semakin parah dari masa ke masa. Dahulu orang saling sapa ketika berpapasan meski tidak saling kenal, sekarang orang menjadi egois dan tidak peduli lagi terhadap orang lain. Jalan raya mungkin bisa menjadi saksi bisu dari hal ini, dimana orang berkendara tanpa peduli sekelilingnya. Mereka terus menyalip, memotong seenaknya, saling serobot tanpa mempedulikan sesama pengguna jalan. Biar saja, terserah saya, yang penting saya cepat sampai di tujuan. Itulah yang terjadi hari ini. Semakin sulitnya dunia membuat manusia bertambah sibuk pula. Kerja, kerja dan kerja. Berkejar-kejaran dengan waktu hingga lupa kepada hal-hal lainnya. Keluarga diabaikan, teman-teman tidak lagi penting, dan yang paling mengenaskan, waktu-waktu bersama Tuhan pun dilupakan, atau setidaknya dinomor duakan. Tuhan hanya dijumpai jika ada waktu, kalau lagi sibuk nanti saja kapan-kapan. Tuhan bukan lagi yang utama melainkan melorot ke posisi kesekian dalam daftar prioritas manusia. Beribadah ke gereja? Itu dianggap membuang-buang waktu yang seharusnya bisa dipergunakan untuk mengejar pekerjaan. Ironisnya, ketika masalah melanda, Tuhan pula yang kemudian dipersalahkan. Kita terus berusaha meningkatkan taraf hidup kita tanpa melibatkan Tuhan lagi.

Dahulu pada zaman Hagai kisah serupa pun pernah terjadi. Pada masa itu dikatakan bahwa bangsa Israel terlalu sibuk mengurusi urusannya masing-masing sehingga membiarkan rumah Tuhan terbengkalai tidak terurus. Mereka terlalu sibuk untuk mempercantik rumah sendiri, hingga rumah Tuhan yang sudah menjadi reruntuhan pun tidak lagi mereka pedulikan. Tuhan pun menegur mereka lewat Hagai. “Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?” (Hagai 1:4). Tuhan menegur bangsa Israel dengan mencela secara langsung sikap mereka ini. “Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri.” (ay 9b). Tuhan tersinggung dan kecewa dengan sikap seperti ini, sehingga tidak heran jika bangsa Israel pada waktu itu tidak diberkati lewat pekerjaan mereka bahkan terus mengalami kerugian. “Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang! Kamu mengharapkan banyak, tetapi hasilnya sedikit, dan ketika kamu membawanya ke rumah, Aku menghembuskannya.” (ay 6, 9a). Adalah wajar jika Tuhan kecewa dan menegur mereka. Bukankah kebaikan dan kesabaran Tuhan telah menyertai mereka sejak dahulu? Tuhan bukanlah gila perhatian, tetapi Tuhan mau mereka mengerti betul mengenai kasih Tuhan, kebaikan dan kesabaranNya, kesetiaanNya. Tuhan mau mereka bisa menghargai sepenuhnya segala berkat-berkat yang telah Dia alirkan ke tengah-tengah mereka.

Kita begitu sibuk bekerja, berjuang hidup, sehingga kita sering melewatkan waktu-waktu kita untuk mendatangi dan berdiam di hadiratNya. Ada yang bahkan sering terlalu sibuk melayani, tetapi melupakan saat dimana kita duduk berdiam di kakiNya dan merasakan betapa Tuhan begitu dekat dan begitu mengasihi kita. Dalam Perjanjian Baru kita menemukan pula sebuah kisah ketika Yesus berkunjung ke rumah Marta dan Maria. Kunjungan seistimewa ini membuat kedua wanita ini mengambil sikap yang berbeda. Marta sibuk melayani, sedang Maria memilih untuk terus duduk diam di dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya. Marta kemudian mengeluh karena ia melayani sendirian dan meminta Yesus mengingatkan Maria untuk membantunya. Tapi Yesus menjawab: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Lukas 10:41-42). Terlalu sibuk bekerja, bahkan terlalu sibuk melayani bisa membuat kita lupa untuk memilih yang terbaik, yaitu duduk diam di kaki Tuhan, merasakan hadiratNya dan mendengar suaraNya. Lewat Hagai Tuhan menegur agar kita tidak hidup untuk diri sendiri saja, mementingkan diri kita saja, tetapi harus pula memperhatikan rumah Tuhan juga sebagai tanda kasih dan hormat kita kepadaNya. Dalam kisah Yesus bersama Marta dan Maria kita pun bisa melihat bahwa terlalu sibuk bekerja dan melayani meski tujuannya baik pun tidaklah benar jika itu membuat kita jauh dari Tuhan, melupakan dan menomorduakan Dia dalam kehidupan kita sehari-hari.

Jika demikian, adalah penting bagi kita untuk menarik rem sejenak dari kesibukan kita, pekerjaan bahkan pelayanan. Ada saat-saat dimana kita harus berhati-hati agar jangan sampai kesibukan kita membuat hal-hal penting lainnya dalam keseharian kita. Mengurus keluarga, membagi waktu buat istri/suami dan anak-anak serta keluarga lainnya, bersosialisasi dengan tetangga dan teman-teman, kesehatan kita terutama hubungan kita dengan Tuhan. Tidaklah salah jika kita bekerja dengan keras dan serius karena itu memang merupakan keinginan Tuhan atas diri kita, tetapi perhatikan baik-baik agar jangan semua itu merebut hubungan kita dengan sesama terutama dengan Tuhan. Jika anda termasuk orang yang super sibuk seperti saya, ini saatnya bagi kita untuk bersama-sama menelaah kembali sejauh mana kita sudah mengendalikan kesibukan tanpa harus mengorbankan hal-hal penting lainnya. Lihatlah ke sekitar anda, ada keluarga yang tetap butuh perhatian dan kasih sayang, dan ada Tuhan yang tengah menanti anda untuk datang kepadaNya untuk menyatakan kasih kepadaNya.

Kendalikan kesibukan, jangan sampai semua itu mengorbankan keluarga dan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Seperti Apa Kita Dikenang

Ayat bacaan: Amsal 10:7
===================
“Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat, tetapi nama orang fasik menjadi busuk.”

kenanganAnda kenal Ismail Marzuki? Beliau adalah seorang komposer legendaris Indonesia yang sudah menelurkan banyak karya emas. Lagu Sabda Alam dan Payung Fantasi misalnya sudah begitu kita kenal, padahal lagu itu diciptakan lebih dari setengah abad yang silam. Ismail Marzuki meninggal dunia di usia yang masih relatif muda, 44 tahun pada tahun 1958. Saya tidak pernah bertemu dengannya, tapi lewat beberapa sesepuh musik yang masih hidup saya bisa mendapatkan gambaran seperti apa sosok Ismail Marzuki di masa hidupnya. Dalam sebuah bincang-bincang dengan salah seorang mantan penyanyi yang sudah lanjut usia saya bisa mendapatkan gambaran dari sosok legendaris ini. “Dia orangnya baik dan sangat ramah. Orangnya bertubuh kecil dan waktu bertemu dengan saya dia sudah mulai sakit-sakitan.” Itu kutipan dari apa yang ada dalam kenangan sang penyanyi tentang Ismail Marzuki. Hidup kita memanglah singkat, namun kenangan yang kita wariskan akan hidup selamanya. Seperti apa kita dikenang orang akan terbentuk dari sikap dan cara hidup kita, keputusan-keputusan yang kita ambil, karya-karya yang kita hasilkan dan seberapa besar kita memberi dampak kepada hidup orang lain.

Ada orang yang dikenang sebagai pribadi yang ramah, murah hati, setia kawan, sangat bersahabat, humoris, pintar, rajin dan sebagainya. Sebaliknya tidak sedikit pula orang yang terlupakan oleh waktu, atau bahkan dikenang sebagai sesuatu yang negatif, seperti koruptor, pemarah, ringan tangan, suka mengutuki orang lain, penipu, orang tidak tahu sopan, oportunis tulen dan sebagainya. Coba anda ingat-ingat sebentar, tentu kategori-kategori seperti ini ada dalam memori anda akan seseorang bukan? Ambil sebuah contoh Bunda Teresa. Saya percaya tidak ada satupun diantara kita yang menilai negatif akan sosok ini. Pengorbanannya, besar kasihnya dan kontribusinya terhadap orang-orang miskin di Kalkuta tetap dikenang orang hingga hari ini. Bagaimana dengan tokoh-tokoh alkitab, seperti Rut, Yusuf, Kaleb, Paulus dan sebagainya? Meski mereka hidup ribuan tahun yang lalu tapi kita masih mengenal sosok mereka lewat apa yang tertulis dalam alkitab yang abadi.

Disisi lain ada pula orang yang dikenal karena kejahatan dan perbuatan-perbuatan tercela lainnya. Kita ambil satu contoh, raja Yoram. Ia memiliki sikap hidup yang buruk. Apabila kita membaca kisah mengenai dirinya dalam 2 Tawarikh 21:2-20 dan 2 Raja Raja 8:16-24 kita akan tahu bahwa ia sama sekali tidak mencerminkan sifat ayahnya, Yosafat. Ia memilih untuk hidup tidak benar seperti mertuanya Ahab. Yoram dikatakan hidup seperti raja-raja Israel yang sesat. “Ia hidup menurut kelakuan raja-raja Israel seperti yang dilakukan keluarga Ahab, sebab yang menjadi isterinya adalah anak Ahab. Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN.” (2 Tawarikh 21:6). apa yang ia lakukan sangatlah jahat. Sepucuk surat dari Elia menyatakan dengan jelas kelakuannya. “..engkau tidak hidup mengikuti jejak Yosafat, ayahmu, dan Asa, raja Yehuda, melainkan hidup menurut kelakuan raja-raja Israel dan membujuk Yehuda dan penduduk-penduduk Yerusalem untuk berzinah, sama seperti yang dilakukan keluarga Ahab, dan juga karena engkau telah membunuh saudara-saudaramu, seluruh keluarga ayahmu yang lebih baik dari padamu.” (ay 12-13). Ini sebuah perilaku yang sangat jahat. Dan apa yang terjadi ketika ia mangkat? Alkitab mencatat tragisnya akhir hidupnya. “Ia meninggal dengan tidak dicintai orang. Ia dikuburkan di kota Daud, tetapi tidak di dalam pekuburan raja-raja.” (ay 20b). Dalam bahasa Inggris versi NKJV dikatakan: “..to no one’s sorrow, departed.”

Seperti apa kita dikenang akan sangat tergantung dari perilaku, keputusan, karya dan perbuatan kita di masa hidup. Kenangan akan kita bisa terus memberkati orang lain, tapi sebaliknya bisa pula “membusuk” di ingatan orang lain. Amsal Salomo berkata “Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat, tetapi nama orang fasik menjadi busuk.” (Amsal 10:7). Kemilau kenikmatan dunia sepintas memang menggiurkan, tetapi itu tidaklah lebih berharga ketimbang nama baik kita yang akan selalu dikenang orang. Salomo juga berkata “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.” (Amsal 22:1). Dan tentu saja, semua harta kekayaan duniawi yang tidak kekal tidak akan pernah sebanding dengan apa yang akan kita peroleh dalam sesuatu yang kekal kelak. Kita bisa meninggalkan warisan berupa hasil karya kita yang bahkan bisa terus memberkati orang lain setelah kita tidak ada lagi di muka bumi ini, tapi sebaliknya bisa membusuk dalam kenangan orang jika kita melakukan hal-hal yang buruk semasa hidup.

Sebagai pengikut Kristus kita diajak untuk menaruh diri kita untuk sepikir dan seperasaan dengan Kristus. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” (Filipi 2:5). Ingatlah bahwa kita diciptakan untuk menjadi terang dan garam bagi dunia (Matius 5:13-16) dan jangan lupa pula bahwa kita adalah wakil-wakil atau duta-duta Kristus, the ambassadors of Christ, di muka bumi ini seperti apa yang disadari sepenuhnya oleh para rasul. (2 Korintus 5:20). Kita dituntut untuk menunjukkan keteladanan hidup benar, hidup takut akan Tuhan dan mencerminkan pribadi dari Tuhan yang kita sembah. Jika itu kita lakukan, maka kita akan memberkati orang banyak dalam waktu yang lama, bahkan setelah kita sudah meninggalkan dunia ini kelak. Dan kenangan seperti itu akan kekal dalam ingatan orang, bahkan bisa terus menelurkan berkat bagi generasi-generasi sesudah kita. Seperti apa kita dikenal saat ini, dan seperti apa kita akan dikenang kelak, semua itu tergantung dari diri kita sendiri. Menjalani hidup sesuai dengan peran yang digariskan Tuhan pada kita akan membuat kita hidup sepenuhnya, “having the life at its fullest”, tetapi sebaliknya jika kita memilih untuk tidak melakukan seperti itu, maka kita bisa mengalami hidup yang miskin, bukan miskin secara materi tetapi dari segi bagaimana kita memaknai hidup kita. Hidup yang berpusat pada kepentingan diri sendiri, menghalalkan segala cara untuk memperoleh keinginan kita, melakukan hal-hal yang jahat di mata Tuhan dan menjalani hidup meleset jauh dari rencana Tuhan, tidak menjadi terang dan garam, semua itu akan membuat kita menjalani sebentuk hidup yang miskin. Karena itu marilah kita menyenangkan Tuhan dengan menjadi berkat bagi sesama. seperti apa anda ingin dikenang?

Miliki kehidupan yang bisa memberkati untuk waktu yang lama bahkan setelah kita tiada

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

24 Juni – Yes 48:1-6; Kis 13:22-26; Luk 1:57-66.80

"Menjadi apakah anak ini nanti?”


HR KELAHIRAN ST YOHANES PEMBAPTIS: Yes 48:1-6; Kis 13:22-26; Luk 1:57-66.80

 

Kelahiran anak pertama bagi para orangtua, lebih-lebih bagi sang ibu kiranya merupakan kebahagiaan luar biasa. Ketika anak masih berada di dalam rahim atau kandungan pada umumnya calon orangtua/ suam-isteri telah merencanakan nama anak yang akan dilahirkan. Di balik nama yang akan diberikan kepada anak tersirat dambaan atau harapan pada anak yang bersangkutan, agar anak kelak menjadi pribadi yang baik dan berbudi pekerti luhur. Elisabeth, yang lanjut usia, melahirkan seorang anak laki-laki dan menurut tradisi anak yang dilahirkan tersebut ditandai atau diberi nama seperti ayahnya, Zakharia. Namun Zakharia menerima wahyu dari Allah agar anaknya diberi nama ‘Yohanes’, dan dengan demikian menyimpang dari tradisi. Maka sahabat dan kenalannya pun  heran atas pemberian nama Yohanes tersebut, namun, karena mereka percaya kepada Allah, mereka tidak melehkannya melainkan bertanya-tanya “Menjadi apakah anak ini nanti?”.  Pertanyaan yang demikian mungkin sering muncul dalam diri kita masing-masing ketika melihat seorang anak yang istimewa, atau para orangtua terhadap anaknya. Maka baiklah dalam rangka mengenangkan Kelahiran St.Yohanes Pemabaptis hari ini saya mengajak kita semua untuk mawas diri perihal nama-nama yang kita pakai atau dikenakan pada diri kita masing-masing, entah yang kita terima dari orangtua atau lembaga dimana kita berada di dalamnya.

 

"Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia.” (Luk 1:66)

    

Hidup kita adalah milik Tuhan, yang dinugerahkan kepada kita, maka selayaknya kita senantiasa disertai oleh Tuhan atau berada dalam Tuhan jika mendambakan hidup bahagia dan damai sejati. Orangtua yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkan kita dengan cintakasih yang sarat dengan pengorbanan kiranya mendambakan agar kita tumbuh berkembang sebagai pribadi yang cerdas beriman, maka baiklah melalui cara.hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun berusaha untuk menjadi pribadi cerdas beriman. Hendaknya cara hidup dan cara bertindak kita tidak memalukan keluarga atau orangtua, dan marilah kita hayati motto/perihabasa Jawa ini, yaitu “mikul dhuwur, mendhem jero wong tuo” = ‘mengangkat tinggi-tinggi dan mengubur dalam-dalam orangtua’, yang berarti memuliakan orangtua.

 

“Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya” (Luk 1:80), demikian apa yang terjadi dalam perkembangan Yohanes Pembaptis. .  Kita semua, sebagai anak,  kiranya bertambah besar tubuh kita, tambah umur, tambah pengalaman, namun apakah juga ‘makin kuat roh kita’.  Makin kuat roh berarti semangat hidup, belajar atau bekerja semakin kuat, karena kita hidup dalam dan oleh Roh Kudus, dan cara hidup atau bertindak kita menghasilkan buah-buah Roh, seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23)

 

Kami berharap agar anak-anak sedini mungkin di dalam keluarga dibina perihal keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh tersebut di atas dan kemudian diperkembangkan di sekolah-sekolah maupun masyarakat. Hendaknya di dalam usaha pendidikan, entah di dalam keluarga maupun sekolah, pertama-tama dan terutama diusahakan agar anak-anak tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik dan berbudi pekerti luhur daripada pandai, alias lebih diutamakan agar anak-anak memiliki kecerdasan spiritual daripada kecerdasan intelektual. Memang mendidik dan membina anak agar menjadi baik atau cerdas spiritual lebih sulit daripada menjadi pandai atau cerdas intelektual. Kecerdasan spiritual merupakan dasar dan modal untuk mengusahakan kecerdasan-kecerdasan lainnya, seperti kecerdasan intelektual, kecerdasan sosial, kecerdasan emosional dan kecerdasan  phisik.

 

“Menjelang kedatangan-Nya Yohanes telah menyerukan kepada seluruh bangsa Israel supaya mereka bertobat dan memberi diri dibaptis.Dan ketika Yohanes hampir selesai menunaikan tugasnya, ia berkata: Aku bukanlah Dia yang kamu sangka, tetapi Ia akan datang kemudian dari padaku. Membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak.” (Kis 13:24-25)

Yohanes Pembaptis adalah ‘bentara Yesus Kristus’, orang yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Yesus Kristus. Rasanya kita semua orang beriman juga dipanggil untuk menjadi ‘bentara kedatangan Allah’, artinya cara hidup dan cara bertindak kita mengundang dan memotivasi siapapun untuk semakin beriman atau bersembah-sujud kepada Allah sepenuhnya di dalam hidup sehari-hari. Maka baiklah kita meneladan sikap Yohanes Pembaptis yang menyatakan diri bahwa ‘membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak’, yang berarti senantiasa bersikap rendah hati.

 

“Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 24). Kami berharap kepada para orangtua, pejabat, pemimpin atau atasan dalam bidang kehidupan atau pelayanan dimanapun dapat menjadi teladan dalam hal rendah hati bagi anak-anak atau yang dipimpin dan dilayani.  Kami juga berharap kepada siapapun: hendaknya semakin kaya, semakin pandai/cerdas, semakin tambah usia/tua, semakin tinggi jabatan atau kedudukan dst.. juga semakin rendah hati, sebagaimana pepatah mengatakan “bulir/butir padi semakin berisi semakin menunduk” . Ingatlah dan hayati bahwa kekayaan, kepandaian/kecerdasan, kedudukan/ jabatan, usia panjang dst…adalah anugerah Tuhan yang kita terima melalui siapapun yang telah berbuat baik kepada kita; maka jika semakin kaya, pandai/cerdas, berkedudukan, tua, dst.. tidak rendah hati berarti tidak beriman.

 

"Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi." (Yes 49:6), demikian kesaksian nabi Yesaya. Sebagai orang beriman kita juga memiliki dimensi kenabian, dan dengan demikian kita juga dipanggil untuk ‘menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang datang dari padaKu sampai ke ujung bumi’.  Cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapan pun hendaknya menjadi terang bagi sesama atau saudara-saudari kita. Hendaknya kita dapat menjadi fasilitator bagi siapapun untuk semakin beriman, bersembah-sujud seutuhnya kepada Tuhan. Kehadiran dan sepak terjang kita dimanapun dan kapan pun hendaknya memperjelas jati diri sesama, dan dengan demikian mereka dapat menikmati panggilan mereka masing-masing. Marilah meneladan St.Fransiskus Assisi, yang antara lain semangat hidupnya tercermin dalam doa ‘Jadikanlah aku pembawa damai’, yang antara lain berisi “dimana ada kegelapan kubawa terang”. Hendaknya kehadiran dan sepak terjang kita membuat yang amburadul menjadi teratur, yang ngawur menjadi tepat sasaran, dst..

 

“TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi” (Mzm 139:1-3)

     

Jakarta, 24 Juni 2010

Incoming search terms:

22 Jan – 1Sam 24:3-21; Mrk 3:13-19

“Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutusNya memberitakan Injil”

(1Sam 24:3-21; Mrk 3:13-19)

 

“Kemudian naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia.” (Mrk 3:13-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Fungsi duabelas rasul yang dipilih oleh Yesus untuk masa kini diemban oleh para uskup, yang jumlahnya melebihi dua belas. Para uskup dipilih oleh Paus, penerus karya Yesus, pengganti Santo Petrus, dan proses pemilihannya memang cukup lama, antara lain dengan minta masukan atau informasi dari pribadi-pribadi yang dinilai mengenal dengan baik ‘calon uskup’ yang bersangkutan. Jabatan Uskup pada dasarnya tidak terbatas, artinya sampai mati, namun karena alasan keterbatasan diri, entah karena sakit atau lanjut usia, ada kemungkinan untuk mengundurkan diri. “Untuk dinilai cakap sebagai calon Uskup, seseorang harus: 1) unggul dalam iman, hidup baik, kesalehan, semangat merasul, kebijaksanaan, kearifan dan dalam keutamaan-keutamaan manusiawi….2) mempunyai nama baik, 3) sekurang-kurangnya berusia tiga puluh lima tahun, 4) sekurang-kurangnya sudah lima tahun ditahbiskan imam, 5) mempunyai gelar doktor atau sekurang-kurangnya lisensiat dalam Kitab Suci, teologi atau hukum kanonik yang diperolehnya pada lembaga pendidikan lanjut yang disahkan Takhta Apostolik, atau sekurang-kurangnya mahir sungguh-sungguh dalam matakuliah-matakuliah itu” (KHK kan 378). Syarat-syarat tersebut diandaikan agar yang bersangkutan dapat ‘memberitakan Injil’ dengan baik dalam berbagai kesempatan dan kemungkinan, termasuk menggembalakan atau melayani umat Allah. Mengingat tugas berrat dan mulia tersebut, maka kita sebagai umat Allah dipanggil untuk senantiasa mendoakannya, antara lain dalam setiap Perayaan Ekaristi. Dukungan konkret terhadap para uskup kiranya juga dapat kita wujudkan dalam cara hidup dan cara bertindak kita yang ditandai atau dijiwai oleh iman, hidup baik, kesalehan, semangat merasul, kebijaksanaan, kearifan dan dalam keutamaan-keutamaan manusiawi.

·   "Engkau lebih benar dari pada aku, sebab engkau telah melakukan yang baik kepadaku, padahal aku melakukan yang jahat kepadamu. Telah kautunjukkan pada hari ini, betapa engkau telah melakukan yang baik kepadaku: walaupun TUHAN telah menyerahkan aku ke dalam tanganmu, engkau tidak membunuh aku” (1Sam 24:18-19), demikian kata Saul kepada Daud, pengakuan jujur Saul terhadap Daud. Entah Daud atau Saul kiranya dapat menjadi teladan kita. Meneladan Saul berarti mereka yang berfungsi sebagai pembesar atau petinggi hendaknya jujur terhadap diri sendiri, jika salah hendaknya mengakui kelasahannya dengan rela dan besar hati, meskipun hal itu dilakukan kepada anggota, bawahan atau anak buah. Sebaliknya kita semua hemat saya dipanggil untuk meneladan Daud, yang tidak mencelakakan atau melukai orang lain sedikitpun, meskipun secara rational maupun faktual dapat dilakukan, dengan kata lain hendaknya kita senanitiasa berbuat baik kepada siapapun dan dimanapun. Ingat dan hayati bahwa sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Pewarta Kabar Baik, kita dipanggil untuk senantiasa menjadi pewarta-pewarta kabar baik.  Hendaknya apa yang tersiarkan atau terkabarkan dari diri kita masing-masing adalah apa yang baik, membahagiakan dan menyelamatkan, maka masing-masing dari kita hendaknya senantiasa hidup baik. Untuk hidup baik pada masa kini hemat saya kita tak dapat berusaha sendirian, melainkan harus bekerjasama dengan orang lain, sebagaimana para rasul maupun penerusnya, para uskup, senantiasa juga hidup dan berkarya dalam kolegialitas. Maka hendaknya sering diselenggarakan pertemuan, curhat atau diskusi, entah secara formal atau informal, antar kita. Kami percaya pertemuan antara orang-orang atau pribadi-pribadi yang berkehendak baik pasti akan menghasilkan buah yang tak terduga, yang lebih baik.

 

“Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran itu. Aku berseru kepada Allah, Yang Mahatinggi, kepada Allah yang menyelesaikannya bagiku. Kiranya Ia mengirim utusan dari sorga dan menyelamatkan aku, mencela orang-orang yang menginjak-injak aku. S el a Kiranya Allah mengirim kasih setia dan kebenaran-Nya.”

(Mzm 57:2-4)

       

Jakarta, 22 Januari 2010

Mengajarkan Firman Tuhan Pada Anak

Ayat bacaan: Ulangan 6:6-7
======================
“Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”

mengajarkan firman pada anak-anak, menjadi teladan bagi anakAda seorang teman online saya orang Amerika yang sudah lanjut usia. Baru-baru ini ia menggali kembali foto-foto lama keluarganya, dan mengenalkan ayahnya yang sudah lama meninggal dunia. Dia mengatakan betapa bersyukurnya dirinya memiliki sosok ayah seperti beliau, yang selalu memberi kasih sayang, perhatian dan mengajarkan budi pekerti selama ia bertumbuh. “Apa yang ia wariskan pada saya bukan uang atau harta kekayaan, namun segala bentuk perhatian dan kasih sayangnya mengasuh saya hingga dewasa,hal itu sungguh warisan yang sangat berharga. Saya tidak akan bisa seperti sekarang tanpa sosok seperti ayah.” itu katanya. Apa yang kita tinggalkan bagi orang lain disebut sebagai warisan. Biasanya orang akan mengacu pada harta kekayaan, baik uang maupun benda, ada pula yang mewariskan kekuasaan, perusahaan, dan hal-hal lain yang dianggap bernilai tinggi. Sebaliknya, warisan juga bisa mengacu pada hal-hal negatif, seperti warisan hutang, reputasi/nama buruk dan sebagainya.

Warisan apa yang baik untuk kita berikan pada keturunan kita? Sudah pasti tidak akan ada yang mau meninggalkan warisan dalam bentuk hutang dan reputasi buruk. Banyak orang tua akan selalu berusaha untuk meninggalkan warisan harta sebanyak-banyaknya. Tapi Alkitab mencatat ada sebuah warisan yang jauh lebih berharga dibandingkan harta benda dan bentuk-bentuk kekayaan lainnya, yaitu warisan iman akan Kristus. Mari kita baca dalam kitab Ulangan 6. “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” (Ulangan 6:6-7). Kita diwajibkan untuk memahami firman Tuhan, mengenal pribadi Allah lewat Kristus, dan harus pula mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anak kita. Ketika kekayaan berupa harta benda dan uang pada suatu saat akan habis lenyap, tidak demikian halnya dengan iman akan Kristus. Ini adalah bekal yang sungguh bermanfaat sepanjang kehidupan di dunia, dan menjadi bekal untuk kehidupan kekal kelak.

Firman Tuhan mengajarkan bahwa kita harus mengenalkan firman Tuhan sejak dini pada anak-anak kita. Ketika kita duduk di rumah, dalam perjalanan, ketika berbaring dan ketika kita bangun. Ini menunjukkan bahwa kita haruslah mengenalkan dan mengajarkan firman Tuhan secara berulang-ulang dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Tidak cukup berhenti hanya sampai tidak menghalang-halangi seperti renungan yang kita baca kemarin, namun kita juga dituntut untuk mengajarkan secara berulang-ulang pada setiap kesempatan, pada setiap aspek kehidupan mereka, sepanjang perjalanan hidup mereka sejak awal hingga dewasa, kapan saja kita masih punya kesempatan untuk berada bersama-sama mereka. Lebih jauh lagi, kita juga harus mampu menjadi teladan bagi mereka, bagaimana kita menerapkan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari kita, dan bagaimana aplikasinya secara nyata.

Daud menyadari hal ini. “Marilah anak-anak, dengarkanlah aku, takut akan TUHAN akan kuajarkan kepadamu!” (Mazmur 34:13). Apa yang hendak diajarkan Daud mengenai takut akan Tuhan pada mereka? Kita lihat ayat selanjutnya. “Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik? Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu; jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya! Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong; wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi. Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.” (ay 13-18). Dan seterusnya hingga perikop ini selesai.

Sudahkah anda dengan tekun mengajarkan anak-anak anda untuk mengenal Kristus, dan demikian mengenal pribadi Allah? Dan yang lebih penting lagi, sudahkah anda menjadi contoh teladan yang baik bagi mereka? Semua ini akan menjadi bekal yang sungguh berharga bagi perjalanan kehidupan mereka di masa mendatang. Firman Tuhan berkata: “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”(Amsal 22:6). Ini investasi yang sangat penting, sekaligus akan menjadi warisan yang paling berharga bagi mereka.

Mewariskan iman tidak hanya berguna di dunia, tapi juga di Surga