Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Kasih Karunia (2)

(sambungan)

Kasih karunia sesungguhnya memberikan begitu banyak hal dalam pertumbuhan kehidupan kita. Selain memberikan kuasa besar untuk melakukan banyak hal besar (Kisah Para Rasul 4:33), kekuatan (2 Timotius 2:1) dan keselamatan oleh iman (Efesus 2:8), kita jangan lupa pula bahwa dalam kasih karunia ada pemulihan kepercayaan. Simaklah apa yang dikatakan Penulis Ibrani: “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” (Ibrani 4:16). Kita seharusnya bisa menggantikan ketakutan atau kecemasan kita dengan sebentuk keberanian yang penuh untuk menghampiri tahta kasih karunia. Keberanian untuk menghampiri tahta kasih karunia akan mampu menjawab begitu banyak persoalan kita dan memberi solusi menurut Kerajaan Allah akan segala sesuatu. Apakah kita perlu pertolongan? pemulihan? pengampunan? jamahan? kebebasan? kesembuhan? kelepasan? kemenangan? berkat? hikmat? Semua itu bisa kita peroleh seperti kata alkitab dalam “tahta kasih karunia”, yang dalam bahasa Inggrisnya disebut the throne of grace, the throne of God’s unmerited favor to us sinners.
Pemulihan kepercayaan dan peneguhan iman, itu tersedia di tahta kasih karunia. Sebagai anak-anak Tuhan kita berhak untuk datang ke dalam tahta kasih karunia ini dan menikmatinya. Apabila kita terus merasa tidak layak atau tidak pantas, maka dengan sendirinya kitapun kehilangan kesempatan untuk memperoleh anugerah Tuhan yang luar biasa ini untuk turun atas kita. Hanya orang yang memiliki keberanian saja yang bisa mendapatkan lebih banyak kasih karunia. Semakin kita berani mendekat maka semakin banyak pula anugerah Allah yang mengalir ke dalam diri kita. Hanya saja kita harus ingat, bahwa tahta Allah yang kudus tidak bisa didekati apabila kita masih memupuk dosa dan melakukan banyak kejahatan dalam hidup kita. Ketidak-kudusan itu bisa menghambat turunnya kasih karunia bagi kita dan membuat kita menjauh dan gagal meraih itu. “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:1-2). Artinya, kita harus terlebih dahulu melakukan pertobatan menyeluruh dan tidak mengulanginya lagi, lalu selanjutnya kita tidak perlu takut mendekati tahta kasih karunia.

Lebih lanjut lagi, Penulis Ibrani juga mencatat mengenai apa yang akan terjadi jika kita menolak kasih karunia. “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.” (Ibrani 12:15) Menjauhkan diri atau menolak kasih karunia Tuhan bisa menimbulkan akar pahit. Gampang emosi, gampang sakit hati, menyendiri dan sebagainya bisa timbul akibat perasaan tidak layak yang memenuhi diri kita. Akibatnya bukan hanya kepada diri kita saja, tetapi bisa pula menimbulkan ekses negatif dimana-mana dan menjadi batu sandungan bahkan racun bagi banyak orang. Menjaga diri agar senantiasa berada dekat dengan kasih karunia akan memampukan kita terhindar dari tuduhan-tuduhan yang terus dilancarkan iblis. Kasih karunia akan membuat kita tahu betapa besar kasih Allah kepada kita.

Sebuah kasih karunia bukanlah kasih karunia apabila diberikan sebagai balas jasa. Kasih karunia disebut kasih karunia karena diberikan kepada kita yang sebenarnya tidak layak untuk menerimanya. Keselamatan diberikan atas dasar kasih karunia Allah yang begitu besar kepada kita. Begitu besar hingga Allah bahkan meningkatkan intensitasnya di mana dosa justru bertambah banyak. (Roma 5:20). Menjelang perayaan Natal tahun ini, marilah kita sama-sama renungkan, apakah kita sudah menyadari betul bahwa kasih karunia Allah sudah dicurahkan atas diri kita? Apakah kita sudah cukup memiliki “jendela” iman untuk menerima kucuran kasih karunia Allah bagaikan sinar matahari untuk menerangi hidup kita? Apakah kita masih merasa tertuduh dan tidak yakin akan jaminan keselamatan yang telah dianugerahkan lewat Kristus? Sadarilah bahwa tanpa kasih karunia hidup ini akan sangat pahit dan penuh ketidakpastian. Ada pemulihan di dalam kasih karunia, dan itu berlaku bagi semua orang, termasuk anda dan saya. Jangan biarkan iblis terus menuduh anda. Miliki dan rasakanlah kemerdekaan sejati sekarang juga.

Hidup tidak akan tenang tanpa kasih karunia

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Taste and See (2)

(sambungan)

Fakta menarik mengenai kebaikan Tuhan dengan kasih tanpa batas bisa pula kita lihat dari apa yang dikatakan Yesus sendiri. Tuhan adalah Allah “…yang menerbitkan  matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Matius 5:45). Orang yang jahat dan tidak benar pun masih Dia perhatikan. Bukankah itu bukti nyata bagaimana baiknya Allah? Dia tetap memelihara dan merindukan orang-orang seperti ini untuk bertobat. Tuhan tetap menempatkan orang-orang jahat dan tidak benar itu dalam perhatianNya dan terus memberi kesempatan untuk bertobat. Dia bisa saja langsung menghanguskan orang jahat dalam seketika dan segera dilemparkan ke api tanpa ampun lagi, kita tahu pasti bahwa Tuhan lebih dari sanggup dan tentu saja berhak untuk itu. Tetapi kebaikan dan kasih Tuhan membuatNya untuk terus memberi kesempatan bagi orang-orang jahat untuk segera bertobat dan kembali ke dalam pangkuanNya. Jika kita masih hidup dan punya kesempatan untuk bertobat hari ini, bukankah itu pun merupakan bukti betapa baiknya Tuhan?

Dalam menghadapi pergumulan-pergumulan hidup seringkali kita melupakan kebaikan Tuhan dan malah terjerumus ke dalam berbagai keputusan-keputusan yang salah atau memilih alternatif-alternatif yang keliru. Kita malah menyalahkan Tuhan dan mengira Tuhan bertindak kejam menyakiti kita. Dalam Kisah Para Rasul 14 kita melihat bagaimana kecewanya Paulus dan Barnabas ketika mereka ketika melihat rakyat Likaonia malah menyembah dewa saat mukjizat Tuhan dinyatakan atas orang yang sakit. “Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya.” (ay 15) Demikian mereka berseru menegur orang-orang sesat di sana. Lalu mereka melanjutkan: “Dalam zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing, namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai kebajikan, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan.” (ay 16-17). Mereka tidak menyadari dan melupakan bagaimana kebaikan Tuhan yang sudah hadir selama ini dari generasi ke generasi dan pergi menyembah dewa-dewa. Mungkin kita tidak menyembah dewa, tetapi apakah kita ingat akan semua kebaikan Tuhan baik dalam suka maupun duka, baik dalam keadaan baik maupun buruk? Sudahkah kita benar-benar menaruh pengharapan dalam kesetiaan kita akan Tuhan sepenuhnya, walau apapun yang terjadi atau kita akan pergi kepada alternatif-alternatif sesat yang seolah-olah mampu memberi solusi atas persoalan kita? Apakah kita masih terus mengandalkan harta, orang lain atau terjebak tawaran-tawaran yang menyesatkan ketimbang menyerahkan segala sesuatu ke dalam tangan Tuhan? Kita akan sulit untuk bisa setia dengan iman kuat kepada Tuhan dan tetap hidup dalam pengharapan apabila kita tidak menyadari betapa baiknya Tuhan selama ini kepada kita.

Kebaikan Tuhan itu bukan hanya pepesan kosong, tetapi sungguh terbukti. Pemazmur mengatakan “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.” (Mazmur 46:2). Bagaimana kita bisa melihat buktinya? Dari berbagai pengalaman atau kesaksian hidup begitu banyak tokoh dalam Alkitab kita bisa mengetahuinya. Bahkan hingga hari ini kita menyaksikan sendiri bagaimana kebaikan Tuhan itu nyata. Jika kita mau merenungkan sejenak tentang perjalanan kehidupan kita, maka kita pun tentu sudah pernah merasakan sendiri segala kebaikan Tuhan dalam banyak hal. Ada kalanya kita lupa akan hal itu ketika deraan masalah menerpa kita, ada kalanya karena kesalahan kita sendiri maka kita luput untuk merasakan kebaikan Tuhan tersebut. Tetapi sesungguhnya Tuhan tetap memelihara dan menantikan kita untuk benar-benar kembali kepada jalanNya, berbalik dari jalan-jalan yang salah, bertobat dari dosa-dosa. Kembali kepada ayat dalam Nahum, kita bisa menemukan Firman berbunyi “TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah. Ia berjalan dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya.” (Nahum 1:3). Tuhan tidak akan membebaskan hukuman dari orang yang bersalah, kita harus mempertanggungjawabkan perbuatan kita kelak, tetapi lihatlah bahwa Tuhan sesungguhnya panjang sabar. Dia sungguh baik memberikan kita waktu dan kesempatan untuk terus berusaha menjadi lebih baik lagi. Dia selalu siap mengampuni kita dan dengan sabar menanti kita untuk berbalik kembali kepadaNya. Jika hari ini kita masih bisa hidup dan masih punya kesempatan untuk terus berubah menjadi lebih baik lagi, itu semua hanya dimungkinkan oleh kesabaran Tuhan yang besar. Pemazmur mengatakan bahwa kebaikan Tuhan itu terbukti, dan kita bisa merasakannya. Bukan hanya lewat kata Pemazmur saja tetapi mengalaminya langsung dalam hidup kita sendiri.

“Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!” (Mazmur 34:9). Ini seruan Daud yang mengajak kita semua untuk bisa mengalami kebaikan Tuhan. Bukan hanya melihat atau mendengar dari orang lain, tetapi juga mengalami dan merasakannya sendiri dalam hidup kita. Dalam ayat selanjutnya kita bisa menemukan cara untuk bisa merasakan kebaikan Tuhan itu secara nyata: Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia!” (ay 10). Takutlah, atau dengan kata lain, hormatilah Tuhan. Dengar perintahNya, taatlah kepadaNya dan jauhilah larangan-laranganNya. Itulah yang akan membawa kita untuk merasakan segala kebaikan Tuhan yang tidak ada habisnya. Tuhan sudah membuka kesempatan dan mengundang kita semua untuk merasakan kebaikanNya secara langsung. Tuhan mengajak kita untuk mengalami sendiri semua itu. Semua tinggal tergantung dari kita, apakah kita mau atau tidak. Anda ingin merasakan dan melihat sendiri itu terjadi pada diri anda? Takutlah kepadaNya mulai dari sekarang juga.

Kecaplah dan lihatlah, rasakan dan alamilah sendiri betapa baiknya Tuhan itu

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

12 juni – HR PENTAKOSTA: Kis 2:1-11; 1Kor 12:3b-7,12-13; Yoh 20:19-23

"Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."

HR PENTAKOSTA: Kis 2:1-11; 1Kor 12:3b-7,12-13; Yoh 20:19-23

Hari  ini kita memahkotai sembilan hari Novena Roh Kudus dengan perayaan Pentakosta, hari penganugerahan Roh Kudus kepada kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus. Roh Kudus yang dianugerahkan kepada kita memberi kuasa untuk ‘mengampuni dosa orang atau menyatakan dosa orang tetap ada’, dan kiranya yang selayaknya kita hayati dan sebarluaskan adalah mengampuni dosa orang, sebagaimana sering kita doakan dalam doa Bapa Kami ‘ampunilah kami seperti kamipun mengampuni mereka yang bersalah kepada kami’. Hari Raya Pentakosta sering disebut juga sebagai hari pendirian atau pemakluman Gereja Kristus, yang ditandai dengan peristiwa sebagaimana diwartakan dalam Kisah Para Rasul hari ini, maka pertama-tama saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri dengan cermin peristiwa Pentakosta, penganugerahan Roh Kudus kepada segenap umat Allah.

“Kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” (Kis 2:11)

Dalam peristiwa Pentakosta ini diberitakan bahwa di Yerusalem berkumpul aneka suku dan bangsa yang ada pada waktu itu. Para rasul, orang-orang Galilea, berbicara dengan bahasa mereka sendiri dan orang-orang lain dapat mendengarkan pembicaraan para rasul dalam bahasa mereka sendiri, padahal tidak ada penterjemah, sebagaimana sering dilakukan dalam masa kini dalam aneka pertemuan aneka bangsa di dunia ini. Sungguh merupakan muzijat besar pada peristiwa Pentakosta ini, dimana aneka suku dan bangsa yang berlainan satu sama lain dapat saling memahami dan mengerti dengan baik melalui bahasa. Bahasa memang menjadi sarana komunikasi, dan hemat saya bahasa komunikasi yang paling canggih dan mudah dimengerti adalah ‘bahasa tubuh’, maka marilah kita mawas diri perihal ‘bahasa tubuh’ yang mempersatukan kita semua.

 Bahasa tubuh memang sungguh mempersatkan dan membahagiakan; untuk itu kiranya para suami-isteri atau bapak ibu dapat sharing pengalamannya perihal bahasa tubuh ini, yaitu (maaf kalau sedikit porno) pengalaman ketika sedang memadu kasih alias berhubungan seksual, dimana terjadi kesatuan tubuh dan mungkin tak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulut, melainkan perasaan hati dan jiwa bahagia yang sulit dibahasakan dalam kata-kata. Bahasa tubuh tidak lain adalah gerakan anggota tubuh sebagaimana juga dilakukan oleh saudara-saudari kita yang bisu tuli, misalnya dengan geleng kepala, mengangguk, kerlingan/lirikan mata, sentuhan dst.. Dalam berbahasa tubuh kiranya orang sungguh berkomunikasi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh. Dalam bahasa tubuh ini hemat saya rekan-rekan perempuan, khususnya para ibu juga memiliki pengalaman mendalam dalam berkomunikasi dengan anak kandungnya yang masih bayi.

Bahasa tubuh hemat saya sungguh merupakan komunikasi kasih, dengan kata lain berkomunikasi dijiwai oleh cintakasih. Cintakasih sebagai anugerah Allah itulah kiranya yang juga menjiwai mereka yang berkumpul pada hari raya Pentakosta di Yerusalem pada waktu itu, sehingga mereka saling memahami dan mengerti dan sungguh menjadi saudara-saudari sejati. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus untuk membangun dan memperdalam hidup persaudaraan atau persahabatan sejati, meskipun kita berbeda satu sama lain, beda usia, beda pengalaman, beda SARA, dst.. Marilah kita hayati apa yang sama di antara kita secara mendalam dan handal sehingga apa yang berbeda antar kita berfungsional memperteguh dan memperkuat persaudaraan atau persahabatan kita. Apa yang sama di antara kita antara lain sama-sama manusia ciptaan Allah, gambar atau  citra Allah, sama-sama beriman, sama-sama mendambakan hidup damai sejahtera, selamat dan berbahagia lahir maupun batin, jasmani maupun rohani, phisik maupun spiritual. Hidup dalam persaudaraan atau persahabatan sejati pada masa kini hemat saya sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan, mengingat ancaman untuk perpecahan dan permusuhan marak disana-sini. Selanjutnya marilah kita renungkan sabda Yesus di bawah ini.

"Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." (Yoh 20:21)

Dengan anugerah Roh Kudus yang telah kita terima, kita diutus untuk mewartakan damai sejahtera dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun. Untuk itu dari diri kita sendiri hendaknya senantiasa dalam keadaan damai sejahtera dalam situasi atau kondisi apapun, karena Roh Kudus hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. “There is no peace without justice, there is no justice without forgiveness” = “Tiada perdamaian tanpa keadilan, tiada keadilan tanpa kasih pengampunan”, demikian pesan perdamaian Paus Yohanes Paulus II memasuki Millenium Ketiga ini. Kasih pengampunan merupakan modal atau kekuatan untuk berbuat adil, yang pada gilirannya membuahkan perdamaian. Masing-masing dari kita telah menerima kasih pengampunan Allah secara  melimpah ruah, maka marilah anugerah ini kita hayati dan sebarluaskan, agar terjadilah perdamaian sejati antar kita dalam kehidupan maupun kerja bersama.

Perihal hidup dalam perdamaian atau persaudaraan Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus mengingatkan kita semua, yaitu “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan diberi minum dari satu Roh” (1Kor 12:12-13).  Kebersamaan kita sebagai paguyuban orang beriman kepada Yesus Kristus ini sering disebut sebagai ‘Tubuh Kristus’; Gereja adalah Tubuh Kristus. Dengan sederhana dan indah sekali Paulus mengingatkan kita semua dengan contoh tubuh kita yang memiliki banyak anggota tetapi satu tubuh untuk mengajak kita semua agar kita hidup dalam kesatuan dan persaudaraan sejati.  

Ada sekian banyak anggota tubuh, dan mungkin anggota tubuh yang kelihatan dengan mudah dapat dihitung, namun yang tidak kelihatan kiranya sulit untuk menghitung bagi kita semua yang awam dalam hal biologis atau ilmu kedokteran. Masing-masing anggota tubuh telah ditempatkan oleh Allah sedemikian rupa sehingga tubuh sungguh menawan, memikat dan menarik; masing-masing tubuh bangga dalam posisi masing-masing dan tiada irihati sedikitpun antar anggota tubuh; masing-masing berfungsi secara optimal sesuai dengan fungsinya sehingga tubuh segar-bugar dan sehat-wal’afiat. Dalam suratnya kepada umat di Korintus  Paulus juga mengingatkan bahwa anggota tubuh yang nampak kurang terhormat dan lemah diberi penghormatan khusus. Menurut saya anggota tubuh yang sering kurang terhormat dan lemah tetapi diberi penghormatan khusus atau istimewa tidak lain adalah alat kelamin dan bagi rekan perempuan berarti vagina. Ingat ketika seorang perempuan atau gadis diperkosa oleh seorang lelaki sering dikatakan ‘direnggut kehormatannya’, yang berarti alat kelamin sungguh terhormat.  Maka marilah kita beri penghormatan saudara-saudari kita yang kurang terhormat dan lemah.

Anggota tubuh yang kelihatan dan tak pernah menyakiti hemat saya adalah  leher, dan leher berfungsi sebagai jalan makanan, minuman maupun udara segar dari mulut ke perut. Yang menarik adalah leher tidak pernah mengkorupsi apa yang lewat, apa yang diterima langsung atau segera diteruskan kepada yang berhak; ia sungguh jujur, disiplin, rendah hati dan tidak pernah mengeluh maupun menyakiti. Maka marilah kita juga meneladan leher sebagai umat Allah, sehingga kebersamaan hidup kita sungguh dalam damai sejahtera dan aman sentosa.

“Apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu. Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi.  Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!” (Mzm 104:29b-31)

Ign 12 Juni 2011      

Tabita (1)

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 9:36
========================
“Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita–dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah.”

tabita, dorkasSeringkali orang berpikir terlalu jauh untuk berbuat baik. Ada banyak orang yang tahu panggilan Tuhan untuk membantu sesama yang membutuhkan, ada banyak orang yang ingin bisa berbuat baik kepada orang lain, merasa kasihan melihat penderitaan orang lain, namun tetap merasa belum mampu untuk berbuat apapun. Sebagai manusia kita kerap merasa kekurangan, sangat susah merasa cukup, sementara kebutuhan-kebutuhan terus saja bertambah seiring banyaknya hal-hal yang ditawarkan dunia yang rasanya harus kita miliki. Apalagi setelah melihat teman, saudara atau tetangga memiliki gadget-gadget jenis baru, kita pun rasanya harus memiliki sebelum dicap ketinggalan jaman. Hal-hal seperti itu terus menghambat kita untuk berbuat sesuatu, dan kita tidak tertarik untuk melakukan sesuatu yang kecil sekalipun karena merasa bahwa itu tidaklah berarti apa-apa. Padahal pandangan Tuhan sama sekali tidak seperti itu. Sekecil apapun yang kita perbuat karena belas kasih dan tanpa pamrih, itu akan dihargai sangat besar oleh Tuhan. Janda miskin yang memberi hanya dua peser seperti sebagaimana tertulis dalam Markus 12:41-44 bisa menunjukkan bagaimana besarnya penghargaan Tuhan terhadap sesuatu yang sangat kecil bahkan mungkin tidak berharga di mata manusia. Tetapi hari ini mari kita lihat satu contoh lain mengenai seorang janda bernama Tabita atau Dorkas.

Kitab Kisah Para Rasul pasal 9 menceritakan sebuah kisah nyata singkat mengenai kehidupan dan mukjizat yang dialami seorang janda yang hidup di kota kecil di tepi laut. Namanya Tabita, atau dalam bahasa Yunani disebut Dorkas. Lihatlah bagaimana namanya diperkenalkan dalam kitab tersebut. “Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita–dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah.” (Kisah Para Rasul 9:36). Yope bukanlah kota besar yang terkenal pada masa itu. Disana hidup seorang janda yang tidak melayani Tuhan dengan berkotbah di mimbar. Dia mungkin tidak sanggup untuk itu, dan mungkin juga itu bukan panggilannya. Tetapi lihatlah bagaimana ia “berkotbah” dan memberi kesaksian lewat perbuatan baiknya. Dalam ayat 40 kita bisa melihat bagaimana caranya memberi sedekah, yaitu dengan membuatkan baju dan pakaian untuk para janda miskin di kota Yope. Di sebuah kota kecil yang tidak terkenal, ada seorang wanita janda bernama Tabita atau Dorkas, yang bersinar lewat perbuatan-perbuatan baik dan sedekahnya. Alkitab mencatat itu dengan jelas, itu artinya Tuhan mengetahui dan berkenan dengan apa yang ia perbuat.

Tabita atau Dorkas bukanlah siapa-siapa. Dia bukan orang yang berada di depan untuk mewartakan Injil dari satu tempat ke tempat yang lain lengkap dengan segala resikonya. Dia bukan orang seperti Paulus, Barnabas dan sebagainya yang terus bergerak untuk berkotbah dalam mewartakan kabar gembira ke berbagai pelosok dunia. Tidak, ia hanyalah seorang janda bersahaja yang hidup di kota kecil yang mungkin hanya tahu menjahit. Tapi jelas Tuhan memandangnya dan menghargai betul bagaimana Tabita mempergunakan talenta yang ia miliki untuk memberkati orang lain. Kecil atau besar, itu relatif. Tabita pun mungkin tidak berpikir sampai sebegitu jauh. Ia hanya menjalankan panggilannya untuk membantu orang lain yang susah yang kebetulan ada disekitarnya. Ia tidak berpikir muluk-muluk, ia hanya melakukan apa yang bisa ia lakukan. Tapi perhatikanlah bahwa Tabita tidak berhenti hanya sebatas pada wacana atau rasa kasihan saja, tetapi bergerak untuk melakukan tindakan nyata dalam menolong orang lain. Alkitab memang tidak mencatat apakah Tabita termasuk orang kaya atau tidak, tapi itu bukanlah hal yang penting. Apa yang penting adalah bagaimana ia terjun langsung secara nyata untuk mengalirkan kasih Tuhan kepada orang lain, memberkati orang lain dengan apa yang ia miliki dan apa yang mampu ia perbuat, dan dengan itu ia sudah memberi kesaksian tersendiri sebagai orang percaya, sebagai murid Kristus. Di sebuah kota kecil, out of nowhere, ada seorang murid Kristus yang berhati mulia, dan Alkitab mencatatnya dengan tinta emas.

Tidaklah kebetulan bahwa kita ditempatkan di sebuah lokasi dimana kita berada saat ini. Tidak semua dari kita tinggal di kota besar, diantara teman-teman mungkin ada yang tinggal di kota kecil, di desa, pedalaman atau mungkin hutan, baik karena pekerjaan, sejak lahir atau sedang melayani di sana. Dari Tabita kita bisa belajar bahwa di kota sekecil apapun, meski tidak terkenal sekalipun dengan segala keterbatasan tempat itu dan keterbatasan kemampuan kita, ingatlah bahwa segala sesuatu yang kita perbuat, biar sesederhana apapun, itu akan tetap berharga sangat tinggi bagi Tuhan ketika kita melakukan itu semua dengan ketulusan tanpa mengharap imbalan dan dengan tujuan untuk memuliakan Tuhan dengan memberkati orang lain. Yesus sendiri mengatakan: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40) Lihatlah bahwa Yesus tidak mengatakan segala hal besar, pertolongan besar, sumbangan besar, bantuan besar, mewah dan mahal, tetapi Yesus mengatakan “segala sesuatu”. Itu termasuk perbuatan-perbuatan kecil yang mungkin dipandang sebelah mata oleh dunia, tetapi jika kita melakukan itu bagi Tuhan, maka itu akan sangat berharga di mataNya. Tabita menyadari panggilannya dan mau terjun langsung untuk menyatakan kasih dengan perbuatan nyata. Dia tidak mengeluh terhadap apa yang tidak ia miliki, ia memilih untuk mempergunakan talenta yang ia punya untuk melakukan itu, dan Tuhan sangatlah berkenan kepadanya. Untuk melayani Tuhan dan melakukan pekerjaanNya kita tidak selalu harus berkotbah, tetapi setiap tindakan nyata kita yang kecil sekalipun bisa sangat berharga dimataNya. Firman Tuhan berkata: “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” (2 Korintus 9:7). Marilah kita pandang sekitar kita, adakah orang yang ditempatkan Tuhan untuk bertemu dengan kita hari ini? Dimanapun anda berada, apapun yang anda punyai saat ini, besar atau kecil, semua itu bisa dipakai untuk memberi kemuliaan bagi Tuhan.

Berkatilah orang lain dimanapun kita berada

Follow us on twitter:http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

Tertidur di Gereja

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 20:9
=========================
“Seorang muda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah mati.”

tertidur di gerejaPemandangan orang mengantuk bahkan yang tertunduk-tunduk tertidur di gereja bukan lagi sesuatu yang asing bagi kita. Bahkan mungkin saja kita pun pernah mengalaminya sendiri. Seorang teman pernah menyibukkan diri dengan ber-sms, katanya agar tidak mengantuk. Lalu untuk apa beribadah di gereja kalau begitu? Alasan bisa jadi banyak. Mungkin karena sudah kebiasaan, disuruh orang tua, sebuah kewajiban dari sekolah, atau tidak jarang pula yang beranggapan bahwa mereka bisa mendapat berkat hanya dengan hadir di gereja, walaupun hati dan pikiran mereka sebenarnya tengah mengembara kemana-mana. Jika mengantuk? Pendeta malah disalahkan. Kotbahnya terlalu seriuslah, membosankanlah, atau ayatnya sudah sering dengarlah, dan sebagainya. Padahal mereka tidak sadar bahwa mereka sebenarnya sudah membuang kesempatan besar untuk diberkati lewat firman Tuhan, dan untuk bersekutu bersama saudara seiman, bersatu hati memuji dan menyembah Tuhan, merasakan hadirnya Kristus ditengah-tengah jemaat.

Masalah mengantuk nampaknya bukan masalah baru. Setidaknya di jaman pelayanan Paulus kejadian ini sudah terjadi. Kita bisa melihat sebuah kisah mengenai seorang pemuda bernama Eutikhus yang tertidur ketika mendengarkan kotbah Paulus. “Seorang muda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah mati.” (Kisah Para Rasul 20:9). Lihatlah kecerobohannya terlelap saat di gereja bukan saja membuatnya kehilangan kesempatan untuk mendapat berkat dari firman Tuhan, tetapi bahkan membawa maut dengan terjatuh tiga tingkat ke bawah. Kita tidak tahu apa yang membuatnya mengantuk. Apakah Paulus terlalu lama berbicara dan membosankan, apakah kotbahnya berulang-ulang, atau Eutikhus terlalu lelah bekerja, kurang tidur dan sebagainya. Tetapi yang jelas ia tertidur, dan efeknya sungguh tragis bagi dirinya. Untunglah Paulus kemudian membangkitkannya kembali, sehingga ia pun mendapatkan sebuah pelajaran berharga dengan terhindar dari maut.

Mungkin bukan dalam bentuk terjatuh dari lantai tiga seperti Eutikhus, tetapi kita harus sadar bahwa membuang kesempatan untuk mendengarkan dan merenungkan firman Tuhan memang bisa membawa kita jatuh ke dalam maut. Perhatikanlah semakin kita menjauh dari Tuhan, maka kita pun akan semakin bertoleransi pula dengan dosa. Hati kita bisa menjadi begitu tawar sehingga sulit membedakan mana yang baik dan buruk. Ya, kita memang bisa belajar, membaca dan merenungkan firman Tuhan di rumah, atau di kelompok-kelompok sel atau persekutuan, tetapi mendengarkan firman Tuhan di gereja lewat pendeta jangan pula kita abaikan. Tuhan sanggup berbicara lewat hambaNya untuk mengingatkan kita. Bagi kita yang mungkin sulit untuk memahami makna  yang terkandung di dalam firman Tuhan, maka kotbah pendeta akan sangat membantu karena disampaikan dengan penjelasan bahkan contoh-contoh yang akan sangat aplikatif untuk kehidupan kita. Selain itu ingat pula bahwa kita tidak boleh menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat” (Ibrani 10:25). Dalam beribadah bersama-sama saudara/i seiman kita akan bisa lebih bersemangat, disana kita bisa pula membangun hubungan yang kokoh, saling menguatkan, menghibur, mengingatkan dan bertolong-tolongan dalam berbagai hal. Dan jangan lupa pula Yesus berkata “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:20).

Persiapkanlah diri dengan baik, kalau perlu sejak sehari sebelumnya agar kita bisa segar ketika datang beribadah ke gereja. Alangkah sayangnya apabila kita membuang kesempatan untuk diberkati lewat firman Tuhan dan bersekutu dengan jemaat lainnya dalam suasana penuh sukacita. Beribadah yang disertai sikap hati yang sungguh-sungguh akan membuat kita terus dipenuhi firman Tuhan yang berkuasa untuk memberi segala kebaikan bagi kita. Apa yang kita hadapi di dunia ini tidaklah ringan, dan untuk itu kita memerlukan kekuatan yang datang dari Tuhan agar mampu berjalan dengan selamat. Firman Tuhan memiliki kuasa untuk itu. Mari persiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk beribadah dan jangan tiru kesalahan yang dilakukan oleh Eutikhus.

Mempersiapkan diri sehari sebelumnya akan membantu kita untuk maksimal dalam beribadah

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

JadilahTeladan

Ayat bacaan: Titus 2:7
================
“Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik.”

jadilah teladanManusia seringkali menunjukkan perbedaan nyata antara teori dan praktek. Mari kita ambil sebuah contoh. Secara teori kita tahu bahwa kita tidak boleh melanggar peraturan lalu lintas. Tetapi berapa banyak di antara kita yang akan tetap berhenti di lampu merah ketika jalanan sangat sepi di malam hari? Pimpinan akan mudah menjatuhkan peringatan bahkan hukuman terhadap bawahannya yang terlambat, tetapi mereka sendiri kerap mempertontonkan ketidakdisplinan mereka dalam hal kehadiran. Begitu pula orang tua. Banyak yang mengajarkan dan melarang anaknya untuk berbuat ini dan itu sementara mereka dengan santai melanggarnya di depan anak-anak mereka. Dalam kehidupan manusia ada perbedaan yang sangat nyata antara apa yang diajarkan dengan apa yang dilakukan. Dan hal seperti itu tidak akan bisa membawa hasil yang signifikan.

Kepada setiap kita pun telah disematkan tugas mulia untuk mewartakan Injil ke seluruh dunia, menjadikan seluruh bangsa sebagai muridNya. (Matius 28:19-20), menjadi saksi Kristus dimanapun kita berada, bahkan sampai ke ujung bumi. (Kisah Para Rasul 1:8). Tetapi bagaimana mungkin kita bisa menjalankan tugas ini hanya dengan menyampaikan teori saja? Meski kita terus menyampaikan firman Tuhan sampai berbusa sekalipun jika tidak dibarengi dengan keteladanan nyata dari sikap hidup kita, semua itu tidak akan membawa hasil apa-apa. Yesus mengajak kita semua untuk menjadi terang dan garam dunia. (Matius 5:13-16). Garam tidak akan berfungsi apa-apa jika tidak dipakai secara langsung. Cobalah letakkan garam dalam botol, adakah fungsi garam disana? Tidak ada sama sekali. Begitu pula dengan terang. Lampu tidak akan bisa menerangi ruangan jika tidak dinyalakan, atau cobalah taruh lampu di bawah sebuah tempurung, maka lampu itu pun tidak akan bermanfaat sama sekali. Keteladanan lewat sikap dan perbuatan kita merupakan hal yang mutlak untuk kita perhatikan apabila kita ingin menjadi agen-agen Tuhan yang baik di dunia ini.

Setting up an example, itu adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan kita di muka bumi ini. Dalam Titus 2 kita melihat serangkaian nasihat yang menggambarkan kewajiban kita, orang tua, pemuda dan hamba dalam kehidupan. Pertama, kita diminta untuk memberitakan apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat. (Titus 2:1). Pria dewasa diminta untuk “hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan.” (ay 2). Sementara wanita dewasa “hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang.” (ay 3-5). Anak-anak muda diminta agar mampu “menguasai diri dalam segala hal”. (ay 6). Semua pesan ini menunjukkan perintah untuk memberikan keteladanan secara nyata. Itulah yang akan mampu membuat ajaran yang sehat bisa diterima oleh orang lain secara baik dan membuahkan perubahan. “dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik.” (ay 7).

Keteladanan juga disinggung jauh sebelumnya dalam kitab Ulangan untuk dilakukan oleh para orang tua. Ketika pesan “haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun” (Ulangan 6:7) diberikan, setelahnya ditambahkan pula keharusan untuk mengaplikasikan itu ke dalam kehidupan sehari-hari yang mampu memberikan teladan. “Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” (ay 8-9). Ini adalah hal yang harus mengikuti setiap kehidupan anak-anak Tuhan. Kita tidak akan pernah cukup menyampaikan saja, tetapi terlebih pula harus mampu menunjukkan secara langsung melalui keteladanan lewat kehidupan kita.

Banyak yang mengira bahwa mewartakan kabar keselamatan haruslah berupa kotbah panjang lebar. Tetapi sebenarnya ketika kita bisa menunjukkan perbuatan-perbuatan baik yang sesuai dengan firman Tuhan setiap hari saja, itu sudah lebih dari cukup untuk bisa memperkenalkan pribadi Kristus kepada orang lain yang akan mampu membawa sebuah perubahan besar dalam lingkungan di mana kita berada. Ada banyak orang yang mengaku anak Tuhan tetapi sama sekali tidak menunjukkan itu dalam perilaku dan perbuatan sehari-hari. Bukannya kesaksian yang datang, malah mereka menjadi batu sandungan. Tuhan ingin kita menjadi teladan dalam perbuatan baik. Kita harus menunjukkan bahwa kita mampu. Ingatlah bahwa tindakan yang kita lakukan akan membawa dampak, apakah itu baik atau buruk, dan itu tergantung dari tindakan seperti apa yang kita lakukan. Mari hari ini kita menjadi anak-anak Allah yang mampu menjadi teladan, khususnya dalam menyatakan kasih dan perbuatan baik bagi orang-orang di sekitar kita.

Menjadi teladan dalam berbuat baik adalah keharusan bagi anak-anak Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Ada Masanya

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 13:36
==============================
Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya, lalu ia mangkat dan dibaringkan di samping nenek moyangnya, dan ia memang diserahkan kepada kebinasaan.”

ada masanya, pada waktunyaHampir 4 dekade berada di dunia, dan hampir 4 dekade pula saya mengikuti perkembangan musik. Di usia balita saya sudah mendengarkan lagu-lagu karya Matt Monro, Andy Williams, Elvis Presley, di saat anak-anak lain mungkin masih mendengarkan lagu-lagu anak. Saya menyaksikan bahwa artis-artis datang dan pergi. Dari tidak terkenal, mencapai sukses di masa keemasan mereka, lalu surut, digantikan oleh artis-artis yang lebih muda dan lebih baru. Salah seorang penyanyi jazz legendaris yang dulu sangat populer pernah bercerita kepada saya bahwa ia harus tahu diri. “Masa keemasan saya sudah lewat, biar bagaimanapun kerasnya berusaha, saya tidak akan bisa naik seperti saat itu lagi. Biarlah yang muda-muda yang menggantikan, tapi saya tidak akan pernah berhenti berkarya selama masih hidup.” begitu kira-kira katanya. Ia pun menyempatkan menyampaikan pesan kepada musisi-musisi muda, “berusahalah berbuat sebaik-baiknya di saat kesempatan masih ada. Pergunakan waktu yang ada dengan semaksimal mungkin, karena pada suatu hari nanti, di saat mereka sudah melewati masa keemasan mereka, akan jauh lebih sulit bagi mereka untuk mencapai sesuatu.” katanya. Pesan ini tetap saya ingat hingga hari ini. Sekarang saya masih produktif, masih bisa bekerja, masih bisa melayani, masih bisa menyampaikan firman Tuhan, tapi itu tidak akan berlaku selamanya. Pada suatu saat nanti, saya tidak akan bisa lagi melakukannya, walaupun mungkin saya masih sangat ingin berbuat sesuatu. Karena itulah selagi saya masih bisa, komitmen saya adalah berbuat segala sesuatu yang terbaik dengan sekuat tenaga, berusaha sungguh-sungguh dan serius untuk melakukan segala sesuatu, seperti saya sedang melakukannya untuk Tuhan. Menulis renungan, melayani di gereja, bertetangga, atau bekerja, apapun itu, saya bertekad untuk melakukan yang terbaik, karena saya tahu waktu untuk itu tidak akan berlaku selamanya.

Pujangga besar Indonesia Chairil Anwar pernah menulis “aku ingin hidup 1000 tahun lagi.” Mungkin banyak di antara kita yang ingin seperti itu. Tapi itu tidaklah mungkin. Ada batas waktu bagi kita untuk menjalani fase kehidupan di dunia ini. Dalam doanya Musa berkata “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.” (Mazmur 90:10). Tujuh puluh tahun, dan kalau kuat delapan puluh tahun. Ada orang yang mendapat “bonus” lebih melewati jangka waktu itu, tapi itupun akan berakhir pada suatu ketika. Alkitab mencatat beberapa orang yang berusia nyaris 1000 tahun. Adam mencapai 930 tahun (Kejadian 5:5), Set mencapai 912 tahun (ay 8), Enos mencapai 905 tahun (ay 11), Kenan mencapai 910 tahun (ay 14), Yared mencapai 962 tahun (ay 17) Nuh mencapai 950 tahun (9:29), dan yang terpanjang Metusalah, mencapai 969 tahun. (5:27). Begitu panjang umur mereka. Tapi untuk semua ayat di atas, lihatlah kalimatnya selalu diakhiri dengan kata-kata yang sama: “lalu ia mati.” Sepanjang apapun umur manusia, pada suatu ketika tetap akan berakhir. Tidak ada manusia yang hidup selamanya. Perjalanan hidup kita punya ujung, punya batas. Pada suatu ketika kita akan dipanggil Tuhan, dan dengan demikian berakhirlah perjalanan hidup di dunia ini.

Oleh karena itulah selama kita masih memiliki kesempatan, seharusnya kita tidak membuang-buang waktu dan kesempatan untuk melakukan segala sesuatu yang sesuai dengan kehendak Allah dalam hidup kita. Ada orang yang malas bekerja dan selalu menunda dari satu besok ke besok yang lain, ada orang yang selalu menolak untuk melayani Tuhan karena menganggap mereka belum siap. Tapi kapan mereka akan siap? Itupun mereka tidak tahu. Mengingat umur kita yang punya batas, yang kita sendiri tidak tahu kapan kita mencapai akhir itu, bagaimana jika kita belum melakukan apapun sudah keburu dipanggil untuk mempertanggungjawabkan hidup kita di depan Tuhan? Atau, bagaimana jika ketika kita sadar dan mau melakukan kehendak Tuhan, tapi tenaga kita sudah tidak lagi memungkinkan? Lihatlah catatan manis tentang Daud yang saya ambil sebagai ayat bacaan hari ini. “Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya, lalu ia mangkat dan dibaringkan di samping nenek moyangnya, dan ia memang diserahkan kepada kebinasaan.” (Kisah Para Rasul 13:36). Sehebat apapun Daud, dagingnya memang habis pada suatu waktu. Namun Daud telah tercatat melakukan kehendak Allah pada jamannya, pada masa dimana ia masih memiliki kesempatan untuk itu.

Pengkotbah pasal 3 pun menggambarkan dengan panjang lebar bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya. “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” (Pengkotbah 3:1). Dan rangkaian ayat selanjutnya menggambarkan beberapa contoh waktu-waktu untuk sesuatu. Seharusnya kita sadar akan hal ini dan berhenti membuang-buang waktu, berhenti bermalas-malasan, berhenti mencari alasan untuk tidak melakukan apapun, berhenti merasa tidak mampu dan sebagainya. Mulailah melakukan sesuatu hari ini. Kita semua ada di dunia ini, di tempat kita masing-masing bukanlah sebuah kebetulan. Kita ini semuanya ada karena Tuhan punya rencana yang jelas buat kita. Karena itu kita harus menemukan apa panggilan kita, apa tugas yang digariskan Tuhan kepada kita, apa yang harus kita lakukan selama kesempatan itu masih ada. Berhentilah menolak panggilan Tuhan, karena tidak selamanya kita bisa melayani Tuhan, tidak selamanya kita bisa berbuat yang terbaik.

Perhatikanlah firman Tuhan berikut: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.” (Yohanes 15:16). Bukan kita yang memilih, tapi Tuhanlah yang memilih kita. Karena itu jika Tuhan memilih kita saat ini, di waktu atau jaman kita berada, itu adalah suatu kehormatan, dan bukan keterpaksaan atau sesuatu yang boleh kita lakukan setengah hati. Dan jika itu kehormatan, maka tidaklah tepat jika kita terus menunda-nundanya. Kita dipilih Tuhan, dan ditempatkan pada suatu masa tertentu, pada suatu tempat tertentu, hendaklah kita menuruti panggilannya dan menghasilkan buah-buah yang manis, selagi kesempatan itu masih ada. Daud tercatat dengan manis telah melakukan kehendak Allah di jamannya, apakah kita sudah tercatat sama seperti itu? Jangan buang-buang waktu, jangan tunda lagi, karena kesempatan itu tidak akan tersedia selamanya. Pandanglah sekeliling anda, ada banyak hal yang bisa anda lakukan untuk memuliakan Tuhan. Tuhan Yesus berkata “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” (Yohanes 9:4). Secara lebih spesifik, temui apa yang menjadi rencana Tuhan bagi anda, seperti apa anda bisa dipakai Tuhan, dan jalanilah itu. Apa yang Tuhan minta dari kita bukanlah kehebatan atau kepintaran atau kekayaan kita, tapi kemauan kita. Mau atau tidak, itu yang menjadi masalah, bukan bisa atau tidak. Karena itu adalah sebuah kehormatan untuk bisa melakukan kehendak Allah. Adalah suatu kehormatan jika kita dipilih Tuhan. Lakukanlah sebaik-baiknya selama waktu masih ada.

“Berkatalah aku dalam hati: “Allah akan mengadili baik orang yang benar maupun yang tidak adil, karena untuk segala hal dan segala pekerjaan ada waktunya.” (Pengkotbah 3:17)

Incoming search terms:

Di Bawah Kaki

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 2:34-35
=============================
“Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu.”

di bawah kakiMelihat poster-poster film yang ada di bioskop terkadang membuat saya miris sendiri. Berbagai bentuk hantu seperti kuntilanak, pocong, suster ngesot dan sebagainya menjadi primadona atau superstar yang digemari banyak orang. Banyaknya film bertemakan hantu ini menunjukkan minat besar dari penonton film terhadap genre horror di Indonesia. Padahal apa yang disajikan hanya itu-itu saja. Dan banyaklah orang yang hingga kini masih takut ke kamar mandi sendirian, takut berjalan dalam kegelapan, takut sendirian di rumah dan sebagainya. Takut apa? Takut setan. Mengapa harus takut? Bukankah Yesus sudah menghancurkan kewibawaan setan dan mengalahkan dengan gemilang lewat kebangkitanNya 2000 lebih tahun yang lalu? Itu kita tahu, itu kita percaya, untuk itu kita bersukacita. Tapi nyatanya, kenapa masih takut? “Ya takutlah… lihat saja film-film itu..sebagian besar pembuatan film-film tersebut malah menyisakan kisah-kisah menyeramkan yang katanya nyata terjadi..” kata seorang teman. Didatangi mahluk halus, kesurupan di lokasi syuting dan sebagainya. “Kalau memang Tuhan sudah mengalahkan, kenapa kok masih ada?” kata teman saya lagi.

Sesungguhnya Tuhan Yesus memang telah mengalahkan iblis. Iblis kehilangan semua kewibawaannya di bumi pada hari Yesus bangkit dari antara orang mati. Apa yang diperbuat iblis saat ini adalah memakai strategi tipu muslihat. Iblis tidak ingin kita percaya bahwa ia tidak lagi punya taji, karenanya segala tipu muslihat pun dibuatnya untuk mengelabui kita, agar kita mengira bahwa iblis masih punya kuasa besar di dunia ini. Dalam Efesus dikatakan “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis(Efesus 6:11). Tipu muslihat iblis, itulah yang kita lawan menggunakan perlengkapan senjata Allah. Takut terhadap setan dan hantu yang sering muncul di film-film? Itu sebenarnya baru salah satu bentuk tipuan iblis. Kita takut melihat yang seram-seram, tapi seringkali tidak menyadari bentuk penipuan iblis dalam bentuk lain. Iblis bisa berkedok dalam hal yang justru terlihat menyenangkan, bikin bahagia, senang, enak dan glamor. Bisa jadi iblis bersembunyi di balik sesuatu yang awalnya terlihat menyenangkan, dan pada suatu ketika kita pun terikat, termakan tipu muslihatnya.

“Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu. (Kisah Para Rasul 2:34-35). Kita harus tahu betul, dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus menjadi Tuhan dan Kristus, Mesiah, Sang Raja Penyelamat. (ay 36). Kuasa iblis tidak lagi ada, semua telah menjadi tumpuan kaki Yesus. Diinjak di bawah kakiNya. Sekali lagi, ini fakta yang membuat kita bersukacita. Tapi seringkali kita tidak sadar bahwa ada peran kita di dalam perihal injak-menginjak ini. Kita lupa bahwa kini kaki kitalah yang dipakai untuk menginjak-injak pekerjaan dan tipu muslihat iblis.

Dalam struktur tubuh Gereja, Yesus sendirilah yang merupakan Kepala. Kita adalah anggota-anggota tubuh yang tersusun rapi, diikat menjadi satu dan saling terhubung satu sama lain, terus bertumbuh ke dalam segala hal mengarah kepada Kristus sang Kepala. (Efesus 4:15-16). Yesus kepala, kita kaki dan tanganNya. Artinya kitalah yang meneruskan pekerjaan di dunia hari ini untuk menghentakkan kaki atas dosa, penyakit dan segala karya tipu-tipu iblis lainnya di dunia ini. Kitalah yang dipakai Tuhan untuk menjadikan musuh-musuh ini sebagai tumpuan kakiNya. Hal ini pun dikatakan Yesus. Mari kita lihat beberapa ayat berikut ini: “Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” (Matius 28:18). dan, “Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk…Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” (Markus 16:15,17-18). Apa yang dikatakan Yesus kurang lebih demikian: “Pergilah dan jadilah kaki-tanganKu.” atau demikian: “KepadaKu telah diberikan segala kuasa baik di surga maupun di bumi. Karena itu ambillah dan pergunakanlah untuk menaruh iblis di bawah kakimu.” Tapi kita tidak mendengarNya. Kita terus menanti dan bertanya-tanya kapan Tuhan bertindak mengatasi segala kekacauan di muka bumi ini. Dan kita pun terbiasa untuk terus menanti tanpa melakukan apapun.

Alkitab jelas berkata bahwa seorang dapat mengejar seribu orang, sedangkan dua orang dapat membuat lari bukan dua ribu, melainkan sepuluh ribu orang. (Ulangan 32:30). Inilah bentuk pelipatgandaan kuasa yang diberikan Tuhan dalam persekutuan anak-anakNya. Dan semua itu bukanlah karena kehebatan kita, melainkan berkat hadirnya Tuhan di tengah-tengah persekutuan kita. (Yosua 23:10). Dalam setiap perkumpulan kita, ada penambahan kekuatan yang luar biasa. Jika kita mau menyadari ini, kita akan tahu bagaimana kuatnya jika kita berkumpul dalam pemahaman siapa kita sebenarnya dan apa yang Tuhan canangkan bagi kita, bahwa kitalah kaki tangan Kristus yang akan meletakkan iblis di bawah kakiNya, menginjak-injak iblis dan menghancurkan tipuan-tipuannya.

Letak iblis ada di bawah kaki kita. (Roma 16:20). Dan dengan Kristus sebagai kepala, dengan sendirinya iblis pun berada di bawah kakiNya. Itulah sejatinya posisi kita saat ini. Oleh sebab itu alangkah ironisnya jika hari ini kita mengira bahwa iblis masih punya kuasa, yang mampu membuat kita gemetar dan takut kepadanya. Itu artinya kita belumlah mengerti apa yang telah dihasilkan Yesus lewat kebangkitanNya, dan apa yang telah Dia berikan kepada kita untuk menjadi anggota tubuhNya, menjadi kaki-tanganNya hari ini. Tuhan menantikan kita untuk membuang pikiran-pikiran kita yang salah dan mau mulai menapak unuk melakukan hal-hal yang ditugaskan Allah kepada kita. Sudah siapkah kita melakukannya?

Iblis letaknya ada di bawah kaki kita

Berbuat Baik dan Bersedekah

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 9:36
===========================
“Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita–dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah.”

berbuat baik, memberi sedekahSeorang teman bercerita bahwa ada seorang sahabatnya yang selalu rajin memberi uang kepada pengamen. Tadinya ia sering merasa terganggu oleh kehadiran pengamen baik di lampu merah maupun di warung-warung pinggir jalan. Pada suatu ketika ia ikut mengamen untuk mengumpulkan dana dalam sebuah kegiatan sosial, lalu ia tahu bagaimana rasanya berhadapan dengan muka-muka cemberut dan berada dalam keadaan tertolak. Sejak saat itu ia pun berubah. Ia selalu menyediakan uang receh di kantong dan dengan senyum memberikan sejumlah uang kepada setiap pengamen yang ia jumpai. Mungkin kita sering juga merasa terganggu dengan kehadiran mereka. Dan mungkin, kita akan memiliki pandangan berbeda ketika kita sudah berada di posisi mereka. Apakah untuk berubah kita terlebih dahulu harus menjadi pengamen? Rasanya tidak. Tanpa harus menjadi pengamen, perihal berbuat baik dan memberi sedekah sudah berulang kali dianjurkan lewat firman-firman Tuhan. Itu memang kewajiban kita sebagai anak-anak yang dikasihi Tuhan. Tapi lebih dari itu, pemberian dan perbuatan baik atas dasar kasih itu bisa membawa kita menikmati kebaikan Tuhan. Tuhan selalu siap mengganjar perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan dengan mukjizat luar biasa.

Alkisah ada seorang wanita bernama Tabita, atau dalam bahasa Yunani disebut Dorkas. Ia adalah salah seorang murid wanita yang sudah banyak berbuat baik dan memberi sedekah. (Kisah Para Rasul 9:36). Sepertinya Tabita rajin menjahit untuk para janda. (ay 39). Pada suatu ketika ia sakit dan meninggal. Begitu berkesannya perbuatan baik Tabita kepada banyak orang, sehingga ketika mendengar Petrus tengah melayani di sebuah kota yang tidak jauh dari tempat Tabita, dua orang segera diutus untuk menjumpai Petrus. Petrus pun datang ke rumah dimana Tabita disemayamkan. Begitu banyak janda di sana menangis dan menunjukkan baju-baju yang dijahit Tabita alias Dorkas semasa hidup. Dan mukjizat pun terjadi. “Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: “Tabita, bangkitlah!” Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka, bahwa perempuan itu hidup.” (ay 40-41). Tabita dibangkitkan. Bayangkan jika ia bukan orang yang rajin berbuat baik dan memberi sedekah. Mungkin tidak ada orang yang peduli untuk jauh-jauh pergi meminta Petrus untuk datang. Tidak akan ada mukjizat kebangkitan disana. Tapi perbuatan baik yang ia lakukan dengan tulus membuat kisah yang berbeda. Tuhan tidak menutup mata atas kebaikan hati Tabita dan segala yang ia lakukan untuk menolong sesamanya. Tabita pun akhirnya hidup lagi dan menjadi kesaksian yang membuat banyak orang menjadi percaya pada Yesus. (ay 42).

Kasih Tuhan yang hidup dalam hati kita seharusnya membuat kita rindu untuk memberkati dan menolong orang lain juga. Yesus mengingatkan bahwa “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40). Yesus mengasihi kita, juga mengasihi orang-orang yang tidak mampu dan berbeban berat. Ketika kita sedang tidak berada dalam keadaan sulit, alangkah indahnya jika kita menjadi wakil-wakil Kristus di dunia untuk menjadi terang dan garam yang akan sangat berarti dalam kegelapan dan kepahitan. Tuhan akan selalu memperhitungkan segala hal yang kita perbuat. Ingatlah apa yang kita tabur, itu pula yang akan kita tuai. (Galatia 6:7). Jadi kita pun diingatkan untuk jangan pernah bosan untuk berbuat baik. “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” (Galatia 6:9). Pesan agar tidak jemu untuk berbuat baik ini kembali diulang dalam 2 Tesalonika 3:13. Selanjutnya demikian kata Paulus: “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” (Galatia 6:10).

Tuhan sudah melengkapi kita untuk melakukan setiap perbuatan baik. (2 Timotius 3:17). Artinya kita tinggal memiliki sebentuk hati yang penuh kasih, yang rindu untuk menolong orang lain, siapapun mereka. Selebihnya sudah disediakan langsung oleh Tuhan. Terutama kepada saudara-saudara seiman, tapi itu tidak berarti kita harus menutup mata dari saudara-saudara kita yang lain. Yesus mengingatkan hal ini. “Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” (Lukas 6:32-35). We have to raise it, hingga kita mampu berbuat baik bahkan kepada orang yang jahat sekalipun. Maka, hendaklah kita murah hati sama seperti Bapa juga murah hati. (ay 36). Dalam surat Paulus pada jemaat Roma, Paulus mengingatkan bahwa Tuhan mengganjar hidup kekal kepada orang yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan. (Roma 2:7). Sebaliknya murka dan geram kepada mereka yang hanya mementingkan diri sendiri, mereka yang tidak taat pada kebenaran. (ay 8). Sekali lagi, meskipun berbuat baik sudah merupakan kewajiban kita, namun Tuhan begitu baik dengan menyediakan mukjizat dan berkat-berkatNya kepada setiap kita yang selalu punya kerinduan untuk membantu orang lain yang sedang kesusahan. Mungkin hanya sedikit yang kita lakukan, mungkin kita punya keterbatasan dan hanya sanggup membantu satu atau dua orang, tapi ingatlah bahwa hal itu sungguh berharga di mataNya. Seperti halnya Tabita alias Dorkas yang mengalami mukjizat kebangkitan dari mati, saya percaya bagi kita pun telah disediakan mukjizat-mukjizatNya yang luar biasa. Jangan pernah jemu berbuat baik, jangan pernah pelit untuk memberi sedekah, karena Tuhan tidak menutup mata terhadap segala yang kita lakukan.

Upah besar selalu disediakan Tuhan bagi orang yang tidak pernah jemu untuk berbuat baik