Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Integritas (2): Setia

Ayat bacaan: Wahyu 2:10
==================
“..Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”

setia, integritasKata setia semakin lama semakin saja kehilangan makna. Saat ini sulit sekali mencari orang yang bisa benar-benar setia untuk waktu yang panjang. Apakah itu dalam sebuah hubungan cinta, pekerjaan dan sebagainya, hampir setiap hari kita menyaksikan orang-orang yang tidak menganggap kesetiaan sebagai sesuatu hal yang penting lagi untuk dipertahankan dan dilakukan.  Berita pasangan bercerai, kedapatan selingkuh hampir setiap hari kita saksikan di televisi atau bahkan di sekitar kita. Orang yang berpindah-pindah pekerjaan karena mendapat tawaran yang lebih baik atau sedikit saja tersinggung, itu pun kita dapati dimana-mana. Tidak jarang mereka bahkan tega menghianati tempat mereka bekerja untuk satu dan lain hal. Kesetiaan merupakan sebuah unsur di dalam integritas. Jika kesetiaan saja sudah semakin langka, tidak heran jika integritas pun demikian.

Kesetiaan jelas merupakan aspek yang sangat penting dalam Kerajaan Allah. Pertama, Allah, Raja di dalam Kerajaan itu merupakan Sosok yang Setia. Alkitab menyebutkan dalam banyak kesempatan mengenai sifat Allah yang setia, misalnya dalam Mazmur 31:5, 48:9, 59:10, 1 Raja Raja 8:23, 2 Korintus 1:18, 1 Petrus 4:19, Ibrani 10:23 dan banyak lagi. Lihat pula bagaimana Yesus dengan setia dan taat melakukan semua kehendak Allah dengan tuntas. Dengan keteladanan secara langsung seperti itu seharusnya kita yang merupakan warga Kerajaan pun hidup dengan kesetiaan. Tapi seringkali kita lebih tertarik untuk mengadopsi gaya hidup dunia ketimbang menjalani hidup kesetiaan seperti yang dikehendaki Tuhan.

Kalau dirunut ke belakang maka kita akan mendapati bahwa kesetiaan bukan saja menjadi isu di jaman modern ini. Ribuan tahun yang lalu pun manusia sudah menunjukkan betapa sulitnya untuk setia. Kita bisa melihat bagaimana bangsa Israel yang berulangkali menyaksikan atau mengalami secara nyata penyertaan Tuhan secara langsung namun masih saja tega untuk menyakiti hatiNya berulang-ulang dengan perilaku mereka. Tidak heran jika Salomo berkata “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?” (Amsal 20:6) Lihatlah pada masa itu pun kesetiaan sudah menjadi sesuatu yang langka untuk ditemukan. Hingga ke dalam Perjanjian Baru pun masalah kesetiaan tetap menjadi pesan penting untuk dimiliki oleh kita. Kesetiaan adalah sebuah kualitas utama yang seharusnya ada di dalam diri orang-orang percaya. “…kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan.” (1 Timotius 6:11). Berulang-ulang Tuhan mengingatkan kita untuk setia dalam segala hal, tetapi dari generasi ke generasi manusia masih saja terus menganggap kesetiaan sebagai sesuatu yang tidak penting, yang bisa dikorbankan demi kepentingan lain.

Kesetiaan di dalam Kerajaan Allah memiliki peranan yang sangat penting. Kesetiaan penting untuk kita hidupi karena itu akan sangat menentukan bagi keselamatan kita kelak. Firman Tuhan berkata “…Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” (Wahyu 2:10). Ada mahkota kehidupan yang akan dikaruniakan kepada kita kelak apabila kita bisa mempertahankan kesetiaan sampai selesai. Dan bukan itu saja, karena Allah tetap menjanjikan berkat-berkatNya kepada siapapun yang tetap hidup dengan berpegang pada kesetiaan. “Pada hari ini TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau melakukan ketetapan dan peraturan ini; lakukanlah semuanya itu dengan setia, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu. Engkau telah menerima janji dari pada TUHAN pada hari ini, bahwa Ia akan menjadi Allahmu, dan engkaupun akan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada ketetapan, perintah serta peraturan-Nya, dan mendengarkan suara-Nya. Dan TUHAN telah menerima janji dari padamu pada hari ini, bahwa engkau akan menjadi umat kesayangan-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu, dan bahwa engkau akan berpegang pada segala perintah-Nya, dan Iapun akan mengangkat engkau di atas segala bangsa yang telah dijadikan-Nya, untuk menjadi terpuji, ternama dan terhormat. Maka engkau akan menjadi umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu, seperti yang dijanjikan-Nya.” (Ulangan 26:16-19). Ada banyak hal yang akan kita peroleh dari hidup dalam kesetiaan, sebaliknya kita akan mengorbankan banyak hal penting jika kita memilih untuk mencari kenikmatan sesaat dengan mengabaikan kesetiaan. Kehidupan di dunia selalu mengajak kita untuk melupakan kesetiaan, tetapi hari ini marilah kita belajar untuk mengadopsi dengan benar prinsip-prinsip Kerajaan mengenai kesetiaan, sebab tanpa kesetiaan tidak akan pernah ada integritas yang akan mampu membawa perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik.

Tanpa kesetiaan tidak akan ada integritas

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Ketaatan Maria

Ayat bacaan: Lukas 1:38
==================
“Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.”

ketaatan MariaSemakin hari kata loyalitas semakin menjadi barang langka. Ketika saya melamar kerja, salah satu pertanyaan yang diberikan menyangkut soal loyalitas ini. Agaknya banyak perusahaan yang bermasalah dengan kesetiaan karyawannya, sehingga pertanyaan ini mau tidak mau harus menjadi penting. Kenyataannya memang demikian. Motivasi orang dalam bekerja memang bermacam-macam. Ada yang ingin mencari pengalaman, ada yang ingin mencari gaji tinggi, penghidupan layak atau lebih dari layak, dan lain-lain. Soal loyalitas? Itu urusan belakangan, karena toh bukan itu yang jadi alasan atau motivasi dalam mencari pekerjaan. Begitu terbiasanya kita dengan ketidakloyalan, sehingga jika tidak hati-hati sikap demikian bisa pula berdampak dalam hubungan kita dengan Tuhan.

Jika kita sudah terbiasa berada di dunia pekerjaan dimana loyalitas sudah menjadi barang yang semakin langka, ada baiknya kita kembali melihat berbagai tokoh Alkitab yang membuktikan sendiri bagaimana ketaatan mereka berbuah manis. Ada banyak tokoh yang sudah melintasi sisi kehidupan sulit dalam ketaatan dan akhirnya menuai akhir yang sangat indah. Kita tahu bagaimana mengerikannya pengalaman Ayub, namun ujian kesetiaan ia lalui dengan kelulusan yang luar biasa. Abraham pun mengalami hal yang berat pula. Ia disuruh meninggalkan kenyamanannya untuk pergi ke sebuah negeri asing, dan belakangan imannya kembali diuji dengan berat, ketika ia harus siap merelakan anak kandung satu-satunya yang sudah ia nantikan berpuluh tahun hingga usia lanjut. Tetapi kembali kita melihat bagaimana ketaatan seseorang yang dijalani sepenuhnya berbuah hasil yang manis.

Kemarin kita sudah melihat bagaimana ketaatan sosok yang sepertinya “terlupakan” dalam setiap perayaan Natal, yaitu Yusuf, suami Maria, ayah Yesus di dunia. Hari ini mari kita lihat sosok Maria sendiri yang juga tak kalah dalam soal ketaatan. Injil Lukas mencatat kedatangan malaikat untuk mengabarkan bahwa Maria dipilih untuk mengandung Sang Juru Selamat, berdasarkan kasih karunia Allah. (Lukas 1:28-33). Mudahkah bagi Maria ketika mendengar hal ini? Tentu tidak. Saya yakin di pikirannya, sama seperti anda juga, teman-teman wanita, tentu sudah terbayang beratnya harus mengandung, apalagi dalam keadaan yang belum menikah seperti itu. Menghadapi gunjingan orang, cercaan, bahkan kemungkinan besar mendapat penolakan dan diputuskan oleh tunangannya, semua itu harus dihadapi sendiri. Tapi lihatlah bagaimana Maria menghadapinya. Maria berkata:  Ia sama sekali tidak menolak, tawar menawar dengan Tuhan, mengajukan argumentasi dan sebagainya. Maria dengan sepenuhnya taat, dan ia katakan itu dengan tegas. “Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (ay 38). Ini menunjukkan loyalitas yang sepenuhnya, dan seharusnya menjadi inspirasi bagi kita semua, termasuk kaum wanita seperti Maria.

Tidaklah heran mengapa kasih karunia untuk mengandung Anak Tuhan dianugerahkan kepada Maria. Saya tidak yakin ada sosok lain pada saat itu yang akan dengan tegas menyatakan ketaatannya seperti halnya Maria. Bahkan sampai hari ini pun saya rasa akan sangat sulit mencari wanita dengan ketaatan seperti dia. Yesus sendiri sangat menghargai Maria. Meski Yesus bukan anak hasil pernikahan Maria dan Yusuf, tetapi lihatlah bagaimana Yesus menghormati Maria. Pada saat Yesus disalib, Dia masih sempat berkata kepada Maria seperti ini: “Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” (Yohanes 19:26). Yesus tetap menghormati Maria sebagai ibunya, yang telah melahirkan, mengasuh, mendidik dan membesarkanNya di dunia.

Ketaatan seperti Maria dan Yusuf, yang sama-sama manusia seperti kita hendaklah bisa menginspirasi kita, terlebih ketika kita tengah menghadapi situasi yang sulit. Tidak mudah memang, namun jika para tokoh-tokoh Alkitab sanggup melakukannya dan telah membuktikan sendiri bagaimana indahnya buah yang mereka terima, kepada kita pun berlaku sama. Semua yang telah dituliskan di dalam Alkitab sesungguhnya berguna bagi kita sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan yang berkemenangan, seperti kata Paulus: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”(2 Timotius 3:16). Hal ini tentu termasuk meneladani berbagai tokoh-tokoh yang tercantum disana yang telah membuktikan sendiri manisnya buah dari ketaatan mereka. Mari kita sama-sama memperbaharui sikap ketaatan kita menjelang Natal tahun ini. Miliki loyalitas sepenuhnya kepada Tuhan, yang tidak akan gampang digoyang angin bahkan badai sekalipun. Hati yang taat akan menjadi hadiah yang indah bagi Kristus dalam menyambut hari kelahiranNya.

Seperti Yusuf, Maria menunjukkan ketaatan luar biasa terhadap kehendak Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Kesetiaan Musa dan Ketidaksetiaan Israel

Ayat bacaan: Ibrani 3:12
====================
” Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup.”

Kita harus extra hati-hati ketika mengendarai mobil di malam hari. Ada banyak orang yang seenaknya melanggar peraturan di jalan raya pada malam hari, karena jalan dianggap tidak lagi padat, dan terutama karena polisi biasanya tidak lagi ada di jalan. Pengendara motor yang tidak pakai helm masih termasuk biasa. Karena yang lebih parah bisa kita jumpai di jalan. Melanggar lampu merah, melawan arah, menyelonong tanpa lihat kiri kanan, semua itu seperti menjadi kebiasaan ketika hari sudah gelap. Seolah-olah peraturan bagi mereka hanya berlaku hingga sore hari. Matahari terbenam, terbenam pula peraturan bagi mereka. Ironis, karena peraturan ditaati bukan untuk keselamatan mereka di jalan raya, tapi semata-mata hanya karena takut ditangkap polisi. Dan seperti itulah kebanyakan orang berpikir. Orang lebih takut terhadap manusia ketika melanggar peraturan ketimbang kepada Tuhan, yang pasti melihat semuanya. Tidak ada yang tersembunyi bagi Tuhan. Jika kita bangga bisa melanggar peraturan tanpa ketahuan orang, kita lupa bahwa Tuhan mengetahui dan melihat segalanya.

Kesetiaan tidak lagi menjadi hal penting di mata orang hari ini. Kepada pasangannya saja tidak setia, dalam pekerjaan saja tidak setia, apalagi dalam mentaati peraturan di jalan. Padahal faktor kesetiaan menjadi perhatian penting dalam kehidupan kita di mata Tuhan. Tuhan telah berulang kali mengingatkan kita mengenai faktor ini dalam firman-firmanNya, baik secara langsung maupun lewat contoh-contoh tokoh yang akhirnya binasa akibat ketidaksetiaan mereka. Lihat saja salah satu contohnya, Saul. Ketidaksetiaan Saul muncul ketika ia tidak sabar menanti janji Tuhan. Ia ketakutan menghadapi ancaman orang Filistin dan kehilangan kepercayaan rakyatnya yang sudah mulai kocar kacir karena panik. Kita bisa melihat kisah tentang Saul ini dalam 1 Samuel 1:22. Karena takut, Saul pun menduakan Tuhan. (ay 9). Sebuah pilihan yang fatal. Akibat ketidaksetiaannya, Saul tidak saja kehilangan mahkota, kehilangan urapan, tapi juga berkat dan penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Hidup Saul pun berakhir tragis.

Contoh lain yang terkenal adalah bangsa Israel yang tegar tengkuk. Kita bisa melihat bagaimana orang-orang Israel berulangkali menyakiti hati Tuhan dengan keluh kesah, protes dan ketidaksabaran dan ketidaksetiaan mereka, meski mereka telah berulangkali pula mengalami sendiri bagaimana penyertaan Tuhan turun atas mereka sepanjang perjalanan menuju tanah terjanji. Di sisi lain, kita bisa melihat bagaimana kesetiaan Musa memenuhi perintah Tuhan. Dengan penuh kesabaran ia terus patuh memimpin bangsa besar yang keras kepala ini selama 40 tahun. Ini suatu pekerjaan yang tidak mudah, menghabiskan sebagian besar dari hidup untuk berada dalam kesulitan besar. Tapi Musa menunjukkan kesetiaan yang luar biasa meski tugas itu amat sulit. Apa yang kita lihat dari Musa dan rakyat yang dipimpinnya menggambarkan perbedaan nyata mengenai setia dan tidak. Dan hal ini kembali diingatkan sebagai contoh dalam kitab Ibrani. Bacalah Ibrani 3:7-19 yang mengulas kembali mengenai kebodohan bangsa Israel yang memurkakan Tuhan. “..nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya. Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku.” (Ibrani 3:9-10). Akibat ketidaksetiaan mereka, akhirnya merekapun mendapatkan konsekuensinya dengan gagal memperoleh tempat yang dijanjikan Tuhan.

Apa yang dilakukan bangsa Israel pada masa itu tidak berbeda dengan apa yang sering kita lakukan hari-hari ini. Kita seringkali tidak sabar menanti janji Tuhan, kita seringkali terus mengeluh, bersungut-sungut, kita seringkali melanggar janji, peraturan dan kesetiaan. Berhasil menipu tanpa diketahui, bukannya malu tapi malah bangga. Kita lupa bahwa Tuhan menyaksikan semuanya. Oleh karena itulah nasihat Penulis Ibrani masih sangat relevan untuk kita ingat hari ini. ” Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup.” (Ibrani 3:12). Penekanan pun diberikan sang Penulis. “siapakah mereka yang membangkitkan amarah Allah, sekalipun mereka mendengar suara-Nya? Bukankah mereka semua yang keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa? Dan siapakah yang Ia murkai empat puluh tahun lamanya? Bukankah mereka yang berbuat dosa dan yang mayatnya bergelimpangan di padang gurun? Dan siapakah yang telah Ia sumpahi, bahwa mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Nya? Bukankah mereka yang tidak taat?” (ay 16-18). Kesetiaan sungguh menjadi pesan yang sangat penting bagi kita hari ini, khususnya ketika kita hidup di masa yang menganggap ketidaksetiaan merupakan hal yang wajar dan lumrah. Di mata Tuhan, kesetiaan akan selalu bermakna penting, dan pelanggaran akan hal itu akan berakibat fatal seperti yang kita lihat dari contoh bangsa Israel dan Saul. Dalam Roma kita bisa melihat bahwa ketidaksetiaan merupakan salah satu dari berbagai kefasikan dan kelaliman manusia yang sangat dimurka Tuhan. (Roma 1:18-32). Dan ketidaksetiaan ada di ayat 31. Tidak main-main, karena ganjaran untuk rupa-rupa kefasikan disini sangatlah berat, yaitu kematian. (ay 32).

Apa yang terjadi pada bangsa Israel dan Saul di atas hendaklah menjadi peringatan bagi kita untuk senantiasa menjunjung tinggi kesetiaan. Amsal berkata “Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya; lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong.” (Amsal 19:22). Kesetiaan juga termasuk salah satu dari buah Roh. (Galatia 5:22).Ini semua menunjukkan pentingnya untuk tetap menjaga kesetiaan dalam hidup kita. Mulailah belajar setia dalam perkara kecil agar kita bisa mendapat kepercayaan dari Tuhan untuk sesuatu yang lebih besar lagi. (Matius 25:21). Sebab “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10). Jangan berusaha setia hanya karena takut kepada orang atau ingin mendapat pujian dari sesama manusia, tapi lakukanlah karena takut akan Tuhan, karena kita mengasihiNya dan tidak ingin mengecewakan Tuhan yang begitu mengasihi kita. Jika terhadap manusia saja kita sudah sulit untuk setia, bagaimana kita bisa menjadi orang-orang yang setia bagi Tuhan? Sekecil apapun itu, lakukanlah dengan kesetiaan. Patuhlah kepada perintah-perintah Tuhan meski tidak ada orang yang melihat. Mulai dari hal-hal kecil, dan tingkatkan kepada hal-hal yang lebih besar lagi. Jadilah pribadi yang menjunjung tinggi kesetiaan.

Belajarlah untuk setia karena hal itu sangat penting di mata Tuhan

10 Mar – Ul 4:1,5-9; Mat 5:17-19

“Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya”

(Ul 4:1,5-9; Mat 5:17-19)

 

"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga” (Mat 5:17-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Veni, vedi, vici” (= “Aku datang, aku melihat, aku menang”), demikian motto Jendral Cicero, zaman Romawi Kuno, dalam menghayati jabatan dan melaksanakan tugas pengutusannya sebagai komandan tempur/perang. Motto ini kiranya baik kita jadikan motto kita selaras dengan sabda Yesus “Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”. Di dalam hidup dan kerja bersama senantiasa ada aturan atau tatanan yang harus kita taati dan laksanakan, maka marilah kita laksanakan aturan atau tatanan tersebut dengan sepenuh hati dan kesetiaan. Kami harapkan dalam rangka menyikapi aturan dan tatanan tidak hanya demi keuntungan diri sendiri, melainkan demi kesejahteraan atau kebahagiaan bersama (‘bonum commune’). Para pemimpin, atasan, petinggi atau pejabat di tingkat atau ranah kehidupan dan kerja dimanapun kami harapkan dapat menjadi teladan dalam penghayatan ajaran-ajaran, pelaksanaan aturan dan tatanan; dalam hidup bersama yang paling dasar, yaitu keluarga, berarti orangtua diharapkan menjadi teladan bagi anak-anaknya. Keunggulan hidup beriman atau beragama adalah dalam ‘penggenapan’ atau pelaksanaan atau penghayatan, bukan omongan atau wacana. Untuk mendukung hal ini kiranya kita juga perlu menghayati salah motto Bapak Andrie Wongso ini “Selama kita memiliki kemauan, keuletan, dan keteguhan hati, besi batangan pun bila digosok terus-menerus , pasti akan menjadi sebatang jarum..Miliki keteguhan hati”  Kita perlu memiliki keteguhan hati dalam rangka melaksanakan aneka tatanan dan aturan atau  tugas pekerjaan dan kewajiban. Kita juga diingatkan oleh Yesus bahwa jika kita tidak mentaati dan melaksanakan aturan dan tatanan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita berarti kita adalah manusia yang murahan, tak berkwalitas. 

·   “Ingatlah, aku telah mengajarkan ketetapan dan peraturan kepadamu, seperti yang diperintahkan kepadaku oleh TUHAN, Allahku, supaya kamu melakukan yang demikian di dalam negeri, yang akan kamu masuki untuk mendudukinya.Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi” (Ul 4:5-6). Kita, bangsa Indonesia, kiranya termasuk bangsa besar, namun apakah seluruh bangsa bijaksana dan berakal budi rasanya perlu dipertanyakan. Jika memperhatikan dan mencermati masih maraknya pertentangan, tawuran, korupsi, dst.. nampaknya secara keseluruhan boleh dikatakan bahwa kita masih harus mengupayakan dan memperdalam dalam hal ‘bijaksana dan berakal budi’. Kepada mereka yang sungguh bijaksana dan berakal budi, kami harapkan untuk tetap teguh dan tegar sebagai ‘umat yang bijaksana dan berakal budi’, dan kemudian bersama-sama menyebarluaskan kepada saudara-saudarinya, lebih-lebih yang setiap hari hidup atau bekerja bersama.  Memang usaha itu itu tidak lain adalah mengingatkan dan mengajak saudara-saudari kita untuk ‘melakukan ketetapan dan peraturan’ yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusannya. Ada rumor “jika kita tidak dapat mengatur diri sendiri, jangan mengatur orang lain; jika kita tak dapat mengurus kamar pribadi, jangan mengurus kantor yang besar itu, dst…”. Orang bijaksana dan berakal budi pertama-tama memang harus dapat mengatur dan mengurus diri sendiri sebaik mungkin, sehingga tampil atau menghadirkan diri sedemikian rupa dan menarik, memikat serta mempesona bagi banyak orang. Sekali lagi kami ingatkan: para pemimpin, atasan, petinggi atau pejabat, kami harapkan dapat menjadi teladan dalam hal mengatur dan mengurus diri sendiri alias bijaksana dan berakal budi dalam menghadirkan diri dimanapun dan kapanpun.

 

“Megahkanlah TUHAN, hai Yerusalem, pujilah Allahmu, hai Sion! Sebab Ia meneguhkan palang pintu gerbangmu, dan memberkati anak-anakmu di antaramu. Ia menyampaikan perintah-Nya ke bumi; dengan segera firman-Nya berlari. Ia menurunkan salju seperti bulu domba dan menghamburkan embun beku seperti abu” (Mzm 147:12-13.15-16)

  

Jakarta, 10 Maret 2010

 

Ikat Pinggang

Ayat bacaan: Lukas 12:37
=====================
Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka.

ikat pinggang, renungan harianApakah fungsi sebuah ikat pinggang bagi anda? Yang paling umum mungkin adalah sebagai penahan agar celana atau rok tidak melorot. Bagi banyak orang ikat pinggang juga berfungsi sebagai aksesoris pelengkap busana. Ikat pinggang pun bisa berfungsi sebagai penyeimbang dan pemberi aksen dalam berpakaian, bahkan dipakai untuk menurunkan atau menaikkan garis tubuh kita sehingga kita bisa berpenampilan lebih baik. Kalau anda menyangka fungsi ikat pinggang hanyalah hal-hal diatas, tunggu dulu.

Yesus mengajarkan murid-muridNya untuk berjaga-jaga. Mungkin pesan Yesus ini tidak lagi asing bagi kita. Kita diminta untuk tetap siap sedia setiap saat karena kita tidak tahu kapan Yesus datang untuk kedua kalinya. Hal yang mungkin luput dari perhatian kita adalah penggunaan kata ikat pinggang. Ternyata alkitab pun berbicara tentang ikat pinggang, yang berkaitan dengan berjaga-jaga.

Pertama, mari kita lihat apa yang tertulis pada Yesaya 11:5. “Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang.” Ikat pinggang menggambarkan kebenaran dan kesetiaan, dan kita harus tetap mengenakan kedua hal ini setiap saat, baik dalam pekerjaan Tuhan, kehidupan sehari-hari, maupun dalam pekerjaan profesi kita, sehingga ketika Yesus datang untuk kedua kalinya, kita akan didapati tetap berada dalam kebenaran dan kesetiaan. Bukan hanya dua hal ini, alkitab pun lebih lanjut menyinggung perihal ikat pinggang dalam ayat-ayat lain, diantaranya:

  • Yehezkiel 23:15 menyebutkan bahwa ikat pinggang akan membuat kita menyerupai perwira. Perwira, atau prajurit, kita ketahui selalu taat pada komandan mereka, dan selalu siap untuk menghadapi peperangan. Kita juga harus seperti itu, punya komitmen untuk taat pada Tuhan, dan selalu siap untuk menghadapi godaan dan tipu daya iblis yang siap menjerumuskan kita pada dosa.
  • 2 Samuel 20:8, ikat pinggang dipakai sebagai alat untuk menopang pedang. Artinya, kita harus selalu siap berjaga-jaga dengan menopang pedang Roh, yang tidak lain adalah firman Allah. (Ef 6:17)
  • Ikat pinggang pada Yesaya 22:21 berbicara mengenai tanda kekuasaan. Sebagai anak-anak Allah, kita semua sebenarnya telah diberikan kuasa. Bukan hanya dalam hal mengusir setan, kuasa penyembuhan, tapi juga kuasa untuk melawan keinginan daging.

Saya rindu mengajak anda semua untuk introspeksi bersama, sudahkah kita berjaga-jaga dengan mengenakan “ikat pinggang”? Saat ini, dimana berbagai tanda-tanda akhir jaman mulai digenapi, penting bagi kita untuk bersiap sehingga ketika Tuhan Yesus datang, kita akan kedapatan sedang berjaga-jaga dan tidak lengah.

Berbahagialah kita yang kedapatan sedang berjaga-jaga ketika Tuhan datang