Tag: keluarga

Temu Kategorial Komisi Keluarga KWI: Ecclesia Domestica sebagai Komunio yang Berbelas Kasih dan Berbelarasa

Ketua Komisi Keluarga KWI Mgr. Frans Kopong Kung didampingi oleh Romo Hartono, MSF dan Romo Kosman Sianturi, OSC dalam misa pembukaan pertemuan Komkel KWI dengan Kelompok Kategorial Keluarga. (Ist)

PERJUMPAAN dengan Allah membuat segala sesuatu indah pada waktunya. “Di dalam Tuhan dan bersama Tuhan waktu itu  menjadi sangat indah. Waktu begitu indah bagi Tuhan dan bagi murid-murid-Nya. Dia punya waktu berdoa khusus dan setelah itu Dia memiliki  waktu kebersamaan dengan murid-Nya.  Dia memanggil para murid-Nya untuk berhimpun, berdialog bersama-Nya.” demikian Ketua Komisi Keluarga KWI Mgr. Frans Kopong Kung mengawali khotbahnya dalam misa pembukaan pertemuan Komisi Keluarga KWI dengan Komunitas Kategorial Keluarga.

Lebih lanjut dalam pengarahannya, Mgr. Kopong Kung menegaskan bahwa setiap keluarga harus mampu memaknai salib. Ecclesia Domestica tanpa salib bukanlah ecclesia domestica. “Maka, ketika berbicara tentang ecclesia domestica, aspek penting dari sebuah Gereja rumah tangga adalah communion, persekutuan yang berlandaskan pada roh kasih. Hal ini juga perlu diingat bilamana kita berbicara masalah pengembangan sosial ekonomi,” ujarnya.

Menurutnya, keluarga sebagai komunitas juga perlu mengembangkan hidup ekonomi di dalamnya yang dibangun dalam semangat persekutuan.  Karena Ecclesia domestica juga merupakan bagian dari Gereja universal, maka perlu dibahas pula keluarga dalam arti yang lebih luas, serta harus juga berorientasi ke luar, kepada kepentingan keluarga-keluarga lain, Gereja dan masyarakat banyak.

Romo Teguh beraksi dalam pertemuan Komisi Keluarga KWI dengan Komunitas Kategorial Keluarga. (Ist)Romo Teguh beraksi dalam pertemuan Komisi Keluarga KWI dengan Komunitas Kategorial Keluarga. (Ist)

Pertemuan Komisi Keluarga KWI dengan Komunitas Keluarga digelar selama tiga hari (23-25 September) sebagai salah satu tindak lanjut dari gaung SAGKI November 2015 dan dalam kerja sama dengan Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi KWI. Tema yang diusung adalah “Pemberdayan Sosial Ekonomi dan Pangan dalam Keluarga.”

Tema ini diambil untuk karena masalah sosial ekonomi semakin menjadi tantangan dan masalah dalam keluarga pada masa sekarang ini. Temu kategorial yang dilaksanakan di Puri Avia ini diikuti oleh 103 orang yang datang dari berbagai unsur, antara lain utusan Komisi Keluarga Keuskupan, Marriage Encounter, Couple for Christ, PWK St. Monika, STSM dan lain-lain.

Dalam sesi selanjutnya, Rm. FA Teguh Santosa Pr, Sekretaris Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi, menyampaikan  kaitan antara pemberdayaan sosial ekonomi dalam keluarga. Keluarga perlu semakin memberdayakan diri pertama-tama dengan melihat dan mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.

Ekaristi disebut sebagai sumber dan puncak kehidupan karena mengalirkan nilai-nilai belas kasih, kepedulian, solidaritas, pengampunan, kesetiaan,dll kepada keluarga. Nilai-nilai yang dihayati secara sungguh pelu dihidupi agar menghidupkan keluarga. Karya kerasulan ekonomi akan mudah dilakukan bila nilai-nilai ini sudah terinternalisasi dalam kehidupan berkeluarga. Bilamana keluarga berekaristi maka mereka akan semakin mengembangkan nilai-nilai salib dalam hidup berumah tangga.

Pertemuan hari pertama ini dirangkum dan ditutup dengan doa yang didaraskan dalam lagu yang indah oleh Rm. Hibertus Hartono MSF, Sekretaris Komisi Keluarga KWI.

Sumber: Dokpen KWI

Sumber: Sesawi.net

Tags : , , , , , , , , ,

Gerakan HPS 2016-2018: Penguatan Pangan Keluarga demi Kesejahteraan Hidup Bersama

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling hakiki dan hak asasi bagi setiap individu. Oleh karena itu, terpenuhinya kebutuhan pangan merupakan hal yang mutlak harus dipenuhi agar manusia dapat bertahan hidup. “Mencintai dan Merawat Bumi untuk Pangan Sehat Bagi Semua” menjadi tema gerakan Hari Pangan Sedunia (HPS) Gereja Katolik Tahun 2013-2015. Mencintai dan merawat bumi menjadi ungkapan dan perwujudan syukur manusia atas kehidupan yang telah disediakan Allah bagi hidup manusia (bdk. Kej 2, 15-17).

Semua manusia tanpa kecuali, berhak menikmati dan mendapatkan sumber penghidupan dari rahim bumi, terlebih bahan pangan yang menjadi kebutuhan dasar hidup manusia. Untuk menjaga dan memelihara kualitas dan fungsinya, maka pengelolaan dan pengolahan bumi diarahkan untuk mempertahankan keberadaannya dalam keseimbangan yang dinamis melalui usaha perlindungan dan rehabilitasi secara terus menerus. Dengan demikian, bumi dan isinya dapat dimanfaatkan bagi sebesar-besarnya kesejahteraan hidup bersama seluruh umat manusia dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Alasannya, “Allah menghendaki, supaya bumi beserta segala isinya digunakan oleh semua orang dan sekalian bangsa, sehingga harta–benda yang tercipta dengan cara yang wajar harus mencapai semua orang, berpedoman pada keadilan, diiringi dengan cinta kasih” (Gaudium et Spes art. 69).

Gerakan HPS Tahun 2013-2015, “Mencintai dan Merawat Bumi untuk Pangan Sehat Bagi Semua” diarahkan untuk membangun kemandirian dan keberlanjutan ketersediaan pangan bagi seluruh umat manusia. Pengolahan dan pengembangannya diperuntukkan bagi sebesar-besarnya kesejahteraan umat manusia dari generesasi ke generasi. Untuk melanjutkan gerakan tersebut, Gerakan HPS Tahun 2016- 2018 adalah “Penguatan Pangan Keluarga Demi Kesejahteraan Hidup Bersama”.

Dasar perumusan Gerakan HPS
Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama, karena itu pemenuhannya menjadi hak asasi setiap individu. Pernyataan ini ditetapkan dalam dua deklarasi tingkat dunia, yaitu Deklarasi Roma Tahun 1996 pada KTT Pangan Dunia dan Deklarasi Millenium (MDG’s) Tahun 2000 yang juga menargetkan penurunan jumlah penduduk yang kelaparan hingga setengahnya pada tahun 2015. Menindaklanjuti hal tersebut, Food and Agricultural Organization (FAO) selaku organisasi pangan duniamenetapkan International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights (ICOSOC) yang sudah diratifikasi dengan UU No. 11 Tahun 2005, yang menetapkan bahwa: 1) hak setiap orang atas standar kehidupan yang layak dan keluarganya atas pangan,dan 2) setiap orang harus bebas dari kelaparan.

Kemiskinan dan kelaparan adalah dua tema yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. Kemiskinan adalah aspek utama sebagai penyebab terjadinya kelaparan. Kemiskinan menyebabkan daya beli terhadap bahan makanan rendah sehingga status kecukupan gizi masyarakat tidak terpenuhi. Kemudian status ketidakcukupan gizi penduduk ini akan berpengaruh terhadap produktivitas penduduk dalam mengupayakan hidupnya. Selain itu, ketidakcukupan gizi menyebabkan kerentanan terhadap serangan penyakit dan apabila seseorang sakit mengakibatkan seseorang menjadi semakin miskin. Kelaparan atau kekurangan pangan merupakan bentuk terburuk dari kemiskinan yang dihadapi penduduk, dimana kelaparan merupakan suatu proses sebab-akibat dari kemiskinan.

Indonesia memiliki sumber daya yang cukup untuk menjamin ketahanan pangan bagi penduduknya. Akan tetapi masih banyak penduduk Indonesia yang belum mendapatkan kebutuhan pangan yang mencukupi. Sekitar tiga puluh persen rumah tangga mengatakan bahwa konsumsi mereka masih berada di bawah kebutuhan konsumsi yang semestinya. Lebih dari seperempat anak usia di bawah 5 tahun memiliki berat badan di bawah standar, dimana 8 % berada dalam kondisi sangat buruk. Bahkan sebelum krisis, sekitar 42 % anak di bawah umur 5 tahun mengalami gejala terhambatnya pertumbuhan (kerdil); suatu indikator jangka panjang yang cukup baik untuk mengukur kekurangan gizi. Gizi yang buruk dapat menghambat pertumbuhan anak secara normal, membahayakan kesehatan ibu dan mengurangi produktivitas angkatan kerja. Ini juga mengurangi daya tahan tubuh terhadap penyakit pada penduduk yang berada pada kondisi kesehatan yang buruk dan dalam kemiskinan.

Data BPS Maret 2014, jumlah penduduk miskin Indonesia sebesar 28,28 juta orang.Bila dibandingkan dengan September 2013, terjadi penurunan dari 28,60 juta orang, dan prosentasenya juga menurun dari 11,46 menjadi 11,25. Dalam laporan Global Nutrition Report tahun 2014, secara global diperkirakan 45 % kematian balita terkait dengan kurang gizi; sementara defisiensi gizi bertanggung jawab terhadap lebih dari 50 % tahun hidup dalam disabilitas pada anak umur kurang dari 4 tahun. Sebaliknya, rasio manfaat biaya investasi untuk menurunkan ‘stunting’ (anak dengan ketinggian badan pendek) pada anak-anak sangat tinggi. Secara global, prevalensi stunting di Indonesia sangat tinggi, sementara kecepatan penurunannya setiap tahunnya lambat/rendah.

Indonesia merupakan negara terbesarkelima yang berkontribusi terhadap besarnya anak balita stunting di dunia. Indonesia termasuk dalam 47 negara dari 122 negara yang mempunyai masalah Stunting. Indonesia termasuk di dalam 17 negara dari 117 negara di dunia yang secara bersama-sama mempunyai tiga masalah gizi saat ini, yaitu stunting (pendek dan sangat pendek), wasting (kurus dan gizi buruk) dan overweight (gemuk dan obes) pada Balita. Gizi buruk, terutama pertumbuhan yang terhambat,merupakan sebuah masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia.

Dalam Laporan Tahunan UNICEFF Tahun 2012, kemiskinan anak di Indonesia bahkan lebih besar dari kemiskinan orang dewasa, yang dialami oleh 44,4 juta anak atau lebih dari 50 % dari seluruh anak. Seorang anak akan sangat beresiko meninggal apabila mengalami gizi buruk, dan data menunjukkan bahwa tidak banyak peningkatan dalam menangani kondisi ini, terutama di kalangan penduduk miskin.

Akses pada air minum yang aman, sanitasi yang memadai dan kebersihan juga penting untuk kelangsungan hidup anak. Tapi, Indonesia masih perlu menjangkau 56,8 juta orang lain untuk mendapatkan air bersih di tahun 2015. Di sisi lain, ketersediaan dan distribusi pangan yang tidak merata dan adil semakin memperparah kemisikinan yang ada. Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling hakiki dan hak asasi bagi setiap individu semakin dibatasi dengan adanya pasar global.

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) semakin berkuasa dalam mengatur tidak hanya sistem perdagangan, tetapi banyak aspek kehidupan manusia lainnya. Terkait dengan pangan, liberalisasi perdagangan mengubah fungsi pangan yang multi
dimensi menjadi sekadar komoditas perdagangan.

Bahkan WTO mengartikan ketahanan pangan sebagai “ketersediaan pangan di pasar”. Konsep ini dalam praktiknya memaksa rakyat di negara-negara sedang berkembang untuk memenuhi pangan yang akan dipenuhi oleh negara-negara maju melalui mekanisme pasar bebas. Fakta tersebut menunjukkan bahwa pangan telah menjadi bagian dari skema besar liberalisasi perdagangan. Untuk menanggapi situasi ini,perlulah dikembangkan keanekaragaman sumber pangan lokal.

Pangan mencakup dimensi yang luas, tidak hanya beras. Ada banyak pangan lokal di Indonesia yang kualitasnya setara dengan beras. Ada jagung dan sagu, lalu puluhan ribu umbi-umbian tersebar luas di seluruh pelosok tanah air. Dengan adanya sumber pangan lokal tersebut, sebenarnya Indonesia dapat menciptakan kedaulatan pangan yang tangguh. Pembangunan di bidang pangan harus diarahkan pada upaya swasembada yang tidak hanya beras saja tetapi didukung oleh jenis-jenis pangan lokal yang selama ini sudah mulai dikembangkan.

Mengingat pangan merupakan kebutuhan dasar dan hak asasi manusia, maka untuk mewujudkannya diperlukan keterlibatan rakyat dalam penentuan kebijakan terkait dengan proses produksi, distribusi dan konsumsi pangan. Kedaulatan pangan dengan demikian merupakan sesuatu yang patut diperjuangkan melalui gerakan rakyat. Gerakan rakyat untuk kedaulatan pangan dapat terjadi jika ada organisasi yang kuat dari berbagai elemen rakyat baik perempuan maupun laki-laki seperti petani, masyarakat adat, buruh, nelayan dan masyarakat miskin kota.

Berbagai komponen rakyat ini secara sadar dan bahu-membahu membangun solidaritas dan kerjasama memperjuangkan terwujudnya kedaulatan pangan bagi setiap orang, komunitas maupun negara. Ketidakmampuan menyesuaikan diri dalam jangka pendek akan membawa ke kondisi rawan pangan. Penyesuaian rawan pangan yang tidak memperhitungkan aspek penguatan sumber-sumber kehidupan dalam jangka panjang justru tidak akan menjamin keberlanjutan ketahanan pangan individu maupun unit sosial yang lebih tinggi.

Perumusan Gerakan HPS
Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling hakiki dan hak asasi bagi setiap individu. Oleh karena itu, terpenuhinya kebutuhan pangan yang seimbang dan bergizi merupakan hal yang mutlak harus dipenuhi agar manusia dapat bertahan hidup. Gizi yang baik merupakan landasan untuk mencapai kesejahteraan manusia. Sebelum lahir dan selama masa bayi, gizi yang baik memungkinkan otak berfungsi maksimal untuk berkembang tanpa gangguan dan menghasilkan sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat.

Untuk anak-anak, status gizi yang baik dapat mencegah kematian dan penting untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan tubuh secara maksimal. Salah satu usaha yang dapat dikembangkan untuk mendapatkan sumber pangan dengan kandungan gizi yang baik adalah dengan mengoptimalkan lahan pekarangan.

Optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan dapat dilakukan dengan melaksanakan usaha tani secara terpadu, berkelanjutan dan diarahkan untuk menuju tahap kemandirian pangan keluarga. Dikelola secara terpadu dimaksudkan agar pekarangan berperan sebagai penyedia sumber pangan keluarga, baik dari sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineral. Pendekatannya dilakukan dengan mengembangkan pertanian berkelanjutan yaitu dengan mengutamakan pemanfaatan sumber daya lokal disertai dengan penggunaan pengetahuan lokal, agar tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Paradigma pengembangan kegiatan produktif masyarakat melalui pemanfaatan pekarangan juga tidak sebatas dimanfaatkan dari pekarangan ke meja makan (dikonsumsi) tetapi juga diharapkan dapat berkembang dari pekarangan menuju pasar (dijual) dan memberi nilai tambah ekonomi.

Salah satu alternatif bahan pangan lokal yang penuh dengan kandungan gizi yang dapat dikembangkan dalam keanekaragaman pangan adalah Tanaman Kelor. Biji dan daun kelor, dikenal juga dengan Moringa Oleifera adalah salah satu makanan super yang paling lengkap, mengandung banyak antioksidan, vitamin dan mineral. Berbagai bagian dari pohon kelor dapat dimakan. Daun kelor populer digunakan sebagai sayur pada masakan semur, kari, salad dan hidangan yang biasanya akan menggunakan jenis bayam hijau.

Polong dan biji kelor juga bisa dimakan. Biji dan buah kelor hijau muda dapat direbus, dijadikan acar, atau direbus kemudian dimakan. Biji kelor yang dipanggang dapat menjadi camilan kacang yang lezat. Kelor atau Moringa merupakan tanaman yang asli tumbuh banyak di wilayah Indonesia. Bagian tanaman kelor, seperti daun, kulit kayu, bunga, buah, biji dan akar juga dapat digunakan untuk membuat obat tradisional.

Penganekaragaman pangan lokal yang diusahakan dalam lahan pekarangan dapat diarahkan untuk membangun kedaulatan pangan keluarga. Pengembangan kedaulatan pangan di tingkat kelurga (rumah tangga), mempunyai perspektif pembangunan yang sangat mendasar karena:

Akses pangan dan gizi seimbang merupakan hak paling asasi bagi manusia;Proses pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas sangat dipengaruhi oleh keberhasilan memenuhi ketersediaan dan kecukupan pangan; danKetahanan pangan merupakan unsur strategis dalam pembangunan ekonomi dan ketahanan nasional. Kedaulatan pangan keluarga akan memberikan kontribusi secara nyata dalam pembangunan masyarakat secara luas, terlebih dalam masyarakat perdesaan.

Pembangunan masyarakat perdesaan perlu terus ditingkatkan terutama melalui pengembangan kemampuan sumber daya manusia termasuk penciptaan iklim yang mendorong tumbuhnya prakarsa dan swadaya masyarakat perdesaan. Sejalan dengan itu, perlu ditingkatkan kemampuan masyarakat perdesaan untuk berproduksi serta mengolah dan memasarkan hasil produksinya, sekaligus menciptakan lapangan kerja.

Dengan demikian, pedesaan makin mampu mengerahkan dan memanfaatkan sebaik-baiknya segala dana dan daya bagi peningkatan pendapatan dan taraf hidupnya. Hal yang penting juga adalah dukungan terhadap hak petani kecil dan masyarakat adat untuk melanjutkan dan mengembangkan sistem pertanian berkelanjutan mereka, praktek-praktek pengelolaan lingkungan, dan mata pencaharian mereka. Hal itu juga menyangkut praktek penyimpanan, pengembangan dan pertukaran benih tanaman pangan dan obat-obatan.

hps-1Leaflet paparan Gerakan HPS (1) hps-2Leaflet paparan Gerakan HPS (2)

Gerakan HPS tahun 2016-2018
Gerakan Hari Pangan Sedunia (HPS) Gereja Katolik berangkat dari iman yang dirayakan dan diwujudkan. HPS Gereja mau menyuarakan iman dan moral yang berkaitan dengan kecukupan, ketersediaan dan keberlangsungan pangan yang sehat bagi hidup manusia.

Dengan demkian, melalui gerakan HPS, Gereja mampu menumbuhkan dan mengembangkan kesadaraan akan pencitraan kembali kehadiran Allah dalam tata kelola pangan di dunia dengan tujuan untuk membangkitkan dan meningkatkan kesadaran umat dan masyarakat terhadap pelestarian sumber daya pangan, tata olah tani yang mampu menyediakan bahan pangan yang sehat, aman, merata dan berkelanjutan demi kesejahteraan dan keberlangsungan hidup manusia dan keutuhan ciptaan-Nya, memberikan penghargaan dan penghormatan kepada petani dan nelayan, dan membangun kesetiakawanan sosial di bidang pangan.

Gereja perlu menyadari bahwa kehadiran dan keterlibatan penyadaran kemanusiaan dalam hal tata kelola pangan bukanlah pertama-tama persoalan teknis, tetapi bagaimana menyadarkan umat bersama masyarakat menemukan dan menata kembali pemanfaatan alam semesta yang berkeadilan sosial dan berkeutuhan ciptaan dan mencari jalan alternatif untuk pemenuhan kebutuhan dan kecukupan pangan bagi semua.

Membangun sistem komunitas pangan adalah salah satu alternatif yang bisa dibuat oleh Gereja sebagai komunitas murid-murid Kristus. Ekaristi sebagai pusat dan puncak liturgi Gereja, yang dihayati dan dihidupi umat bisa menjadi dasar dan inspirasi untuk mengembangkan Gereja sebagai komunitas berbagi pangan yang terarah pada kesejahteraan hidup bersama.

Gereja sebagai komunitas berbagi pangan bisa diwujudkan dalam keluarga melalui usaha penguatan kemandirian dan keberlanjutan pangan keluarga, sehingga malalui kedaulatan pangan keluarga, keluarga bisa menjadi saksi ‘Suka Cita Injil’. Dalam Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) ke 4 tahun 2015, Gereja merefleksikan keluarga Katolik sebagai “Suka Cita Injil; Panggilan dan perutusan keluarga Katolik dalam Gereja dan masyarakat Indonesia yang majemuk”.

Menumbuhkan kembali dan mengembangkan komunikasi kasih dan kemampuan perutusan cinta kasih dalam keluarga guna menghadirkan kesejahteraan hidup bersama yang penuh dengan kedamaian. Atas dasar peristiwa dan tema pastoral SAGKI ke 4 tahun 2015 yang dibuat lima tahun sekali, fokus Gerakan HPS Tahun 2016-2018 adalah “Penguatan Pangan Keluarga Demi Kesejahteraan Hidup Bersama” akan direfleksikan dan digulirkan melalui tata kelola nilai hidup dalam keluarga, yang secara tematis akan dibuat dalam tema tahunan.

Gerakan HPS Tahun 2016: “Penguatan Pangan Berbasis Keluarga”

Dalam peringatan Hari Pangan Sedunia 2013, Bapa Suci Fransiskus menyampaikan pesan yang sangat penting. Beliau mengatakan bahwa Hari Pangan Sedunia menghadapkan kita pada salah satu tantangan yang sangat serius bagi kemanusiaan, yaitu kondisi tragis adanya jutaan orang lapar dan menderita gizi buruk, di antaranya banyak anak-anak. Beliau menyebut kelaparan dan gizi buruk sebagai skandal yang mestinya menantang kesadaran pribadi dan kesadaran bersama kita untuk ikut menemukan pemecahan masalah itu secara adil dan menyeluruh, demi kebaikan seluruh umat manusia (bdk Flp 2:1-5).

Gerakan HPS Tahun 2017: “Membangun Gizi Keluarga”

Laporan Akhir tahun 2012 Komisi Nasional Perlindungan Anak, dari 23 juta anak balita di Indonesia, 8 juta jiwa atau 35 persennya mengidap gizi buruk kategori berat, yang menyebabkan tinggi badan lebih rendah dari balita normal; sementara 900 ribu bayi atau sekitar 4,5 persen dari total jumlah bayi di seluruh Indonesia mengalami gizi buruk.

Menurut Dirjen FAO Jose Graziano da Silva, Indonesia merupakan satu dari 19 negara yang dinilai berhasil mengurangi jumlah penduduk kekurangan gizi; dari sekitar 20 persen total jumlah penduduk pada tahun 1990-an menjadi 8,6 persen pada tahun 2012. Sejalan dengan hal ini, keluarga mempunyai peran penting dalam mengatasi gizi buruk. Pembaharuan dan perubahan sikap bisa dimulai dalam keluarga dengan tindakan nyata, yaitu dengan menyediakan pangan yang sehat dan gizi yang seimbang dalam keluarga, serta membantu keluarga lain yang kelaparan dan menderita gizi buruk dengan menyisihkan sebagian pangan sehat keluarga kita untuk mereka yang kelaparan dan menderita gizi buruk dalam bentuk dana solidaritas.

Gerakan HPS Tahun 2018: “Keluarga sebagai Komunitas Berbagi Pangan”

Mahatma Gandhi mengatakan, “Bumi menyediakan makanan cukup untuk kebutuhan setiap manusia, tetapi bukan untuk keserakahannya.” Oleh karena itu, harus ada pembaharuan. Pembaharuan dan perubahan dapat dilakukan mulai dalam keluarga. Dalam keluarga, setiap pribadi mendidik diri sendiri dalam sikap belarasa, menemukan kembali nilai dan makna solidaritas dalam hubungan antar manusia. Tujuannya antara lain adalah untuk menghilangkan aneka bentuk kekurangan pangan akibat kemiskinan dengan saling berbagi pangan.

Penutup

Penguatan pangan keluarga demi kesejahteraan bersama menjadi gerakan HPS Gereja Katolik Tahun 2016-2018. Kemandirian pangan keluarga dalam bentuk kecukupan pangan dan ketersediaan pangan yang sehat dan lestari diharapkan menjadi wujud kesejahteraan bersama.

Sumber: Dokpen KWI

Ignatius Bramantyo, staf Departemen Dokumentasi dan Penerangan (Dokpen) KWI.

Sumber: Sesawi.net

5 pencarian oleh pembaca:

  1. ayat alkitab untuk tema ke 2 hari pangan tahun 2016
  2. renungan harian hari pangan 2016
  3. Renungan kesejahteraan
Tags : , , , , , , ,

Asyiknya Live In Bersama Keluarga Baru di IYD 2016

Nano, bersama keluarga angkat/ foto : Retno Wulandari (dok.Komsos KWI)Nano, bersama keluarga angkat/ foto : Retno Wulandari (dok.Komsos KWI)Asyiknya Live In Bersama Keluarga Baru di IYD 2016 0By admin onOctober 1, 2016KWI

Tinggal bersama keluarga dengan latar budaya dan agama berbeda sama sekali tak membuat Apriano Isidorus Aquino atau yang biasa dipanggil Nano (20) canggung.

Ketika pertama tiba di Manado dan ditempatkan di tengah-tengah keluarga protestan, Kamis(29/9/2016), OMK asal Sikka Keuskupan Maumere ini pun langsung akrab dengan seluruh anggota keluarga angkatnya.

Seperti diketahui, masyarakat Maumere yang mayoritas beragama Katolik, tentu sangat jarang bergaul dengan umat Kristen. Namun hal ini tak menjadi penghalang baginya.

“Sama saja. Saya senang disini. Saya merasa seperti bersama keluarga sendiri” ungkap Nano saat Mirifica.net menyambanginya.

Ini tentu karena keluarga Pdt.Emmy Situmorang tidak pernah membedakan, dan menganggap Nano seperti anaknya sendiri. Sejak awal kedatangan Nano ke rumahnya, Pdt Emmy langsung merangkul Nano sebagai putranya sendiri.

Apalagi di rumah keluarga pendeta Gereja Masehi Injili di Minahasa, memiliki 2 keponakan yang seumuran dengan Nano.

“Setiap kali makan bersama, saya yang pimpin doa secara katolik,”ujar pemuda berambut keriting ini.

Nano mengaku senang tinggal bersama keluarga angkatnya. Ia tak sungkan-sungkan untuk membantu pekerjaan rumah seperti mencuci piring, menyapu dan membersihkan rumah.

Seperti diketahui, Indonesian Youth Day ke-2 berlangsung di Manado tanggal 1-6 oktober 2016. Live in menjadi kegiatan awal dari seluruh rangkaian acara pertemuan orang muda katolik Indonesia. IYD menjadi sarana pertemuan orang muda untuk selalu mengedepankan hal-hal positif di tengah masyarakat yang majemuk.

Keterangan Foto : Nano berbaju merah. Foto : Retno Wulandari / Komsos KWI

Hangatnya Keluarga Pendeta Emmy

img-20161001-wa0017Hangatnya Keluarga Pendeta Emmy 0By admin onOctober 1, 2016KWI

Sukacita Inil di tengah masyarakat yang majemuk, terasa pas ketika para peserta Indonesian Youth Day 2016 mulai live in di tengah masyarakat Manado yang memiliki latar budaya dan agama yang beragam.

Nano, bersama keluarga angkat/ foto : Retno Wulandari (dok.Komsos KWI)Nano, bersama keluarga angkat/ foto : Retno Wulandari (dok.Komsos KWI)

Sukacita itu dirasakan oleh Apriano Isidorus Aquino atau yang biasa dipanggil Nano (20). Mahasiswa semester 3 Fakultas Tenik Universitas Nusa Nipah Maumere ini live in di keluarga Pdt Emmy Situmorang Milos, S.Th yang berdomisili di wilayah rohani Santa Clara, Paroki Ratu Rosario, Tuminting, Manado.

Awalnya Nano merasa takut karena harus tinggal bersama keluarga yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Namun ketakutan itu pun seketika hilang ketika ia disambut dengan hangat oleh keluarga yang nota bene berbeda agama dengannya.

“Awalnya sempat takut karena bertemu keluarga baru, tapi kemudian seriring berjalannya waktu merasa senang,”jelas Nano asal Sikka, Maumere, Flores.

Sukacita itu rupanya tak hanya dirasakan Nano. Keluarga Pdt Emmy Situmorang Milos, S.Th turut bahagia dengan kehadiran Nano. Bahkan ibu 2 putra ini menganggap Nano sebagai anak sendiri.

“Engkau adalah anak kami, sehingga kamu harus merasakan sukacita bersama keluarga kami. Anggap kami sebagai ayah dan ibu,”ajak ibu pendeta Gereja Masehi Injili di Minahasa ini.

“Sungguh suatu kegembiraan bagi kami. Ini pertama kali kami menerima kontingen IYD. Kami merasakan sukacita yang luar biasa,”lanjut Pdt. Emmy yang sejak lama memiliki hubungan sangat dekat dengan umat di paroki dan semua pastor di Keuskupan Manado.

Keluarga Menghidupi dan Menghidupkan Tata Nilai: Kamu Harus Memberi Mereka Makan

Pertemuan kelompok kategorial keluarga yang diampu oleh Komisi Keluarga KWI. (Ist)

PAUS  Fransiskus menegaskan bahwa “kesejahteraan keluarga sangat menentukan bagi masa depan dunia dan Gereja…”(AL, no.31)  sehingga perlulah “membangkitkan harapan dan menjadikannya sebagai sumber visi kenabian, tindakan transformatif dan bentuk-bentuk kreatif belas kasih.” (AL no. 57).

Seruan Paus ini pulalah yang kemudian digemakan kembali oleh Rm. FA Teguh Santosa Pr, Sekretaris Komisi PSE KWI,  di hadapan 103 peserta pertemuan Komisi Keluarga KWI dan  Kelompok Kategorial pada Sabtu (24/9/2016) di Puri Avia, Gadog, Jawa Barat.

Baca juga: Temu Kategorial Komisi Keluarga KWI: Ecclesia Domestica Sebagai Komunio yang Berbelas Kasih dan Berbelarasa

Sebelum menyampaikan pemaparannya Rm. Teguh, insinyur pertanian yang menjadi imam diosesan Keuskupan Purwokerto ini, mengajak peserta untuk merefleksikan Injil Markus 6: 33-44. Dalam perikop itu Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk memberi makan orang banyak yang mengikuti-Nya, “Kamu harus memberi mereka makan.”

Menurut Rm. Teguh, perintah memberi makan ini bukan soal fisik, melainkan makanan rohani, yakni bagaimana memberikan kepedulian dan perhatian kepada yang lain.

Dalam konteks ini, Yesus melihat bahwa orang banyak sedang mengalami tantangan (mereka lapar). Maka tergeraklah belas kasih Yesus terhadap situasi para pengikut-Nya itu. Sementara itu, reaksi para murid justru berbeda. Mereka melihat orang banyak tersebut sebagai masalah. Ditambah lagi, sikap mereka yang merasa tidak mempunyai waktu untuk orang lain dengan alasan “hari sudah malam” dan juga merasakan sarana kurang (tidak ada warung dan uang). Namun lebih daripada itu, mereka tidak mau memberikan dari sesuatu yang ada dalam diri mereka meski terbatas.

Yesus mengatakan bahwa para murid sebenarnya bisa melakukan apa yang diperintahkan-Nya, namun itu tidak diwujudkan. Justru seorang anak kecil yang mengikuti perintah Yesus melalui kerelaan memberikan bekalnya (5 roti dan 2 ikan) karena mereka memiliki nilai belas kasih seperti yang dimiliki Yesus.  “Inilah gerakan yang untuk memberi hidup kepada yang lain,” tandas Rm. Teguh.

Selanjutnya, ada kalimat pemberdayaan yang disampaikan Yesus: “cobalah periksa” (ay. 38).Kalimat ini seharusnya menjadi langkah  awal setiap usaha pemberdayaan untuk melihat potensi yang ada pada seseorang atau kelompok,” ujarnya.

Dari pendasaran ini Injil ini, peserta diajak untuk menemukan tata nilai dalam gerakan keluarga yang berdekatan dengan gerakan ekonomi. Tata nilai inilah yang perlu dihidupi dan dihidupkan dalam tata kelola keluarga. “Keluarga-keluarga perlu menghayati nilai-nilai yang selama ini diyakini menjadi dasar dari hidup keluarga, yakni nilai: kasih, kepedulian, pengorbanan, belas kasih dan solidaritas. Kemudian, keluarga mampu menghidupkan nilai-nilai ini dengan membawanya ke luar ke dalam hidup bermasyarakat,” demikian jelas imam yang memiliki hobi traveling ini.

“Bila nilai-nilai ini sungguh terinternalisasi dalam kehidupan keluarga-keluarga, maka akan menjadi gaya hidup atau daya gerak mereka. Selanjutnya, akan ada kehidupan dan keselamatan dan inilah tanggung jawab utama dalam keluarga,” tegasnya.

Setelah pemaparan dari Rm. Teguh, sesi pertemuan dilanjutkan dengan sharing dari para keluarga binaan PSE. Dari sharing mereka diperoleh nilai-nilai bahwa usaha, kerja keras, rasa syukur dan sekaligus keyakinan bahwa Allah selalu memberikan rahmat-Nya bagi mereka menjadi kekuatan bagi mereka untuk bertahan. Di samping itu, tujuan yang dicita-citakan demi terwujudnya kesejahteraan keluarga, dapat dicapai dengan bantuan dan motivasi dari PSE, lingkungan dan orang-orang lain yang terlibat.

Proses pertemuan tiga hari ini ditutup dengan diskusi kelompok dan dilanjutkan dengan pleno untuk menemukan tata nilai yang menurut peserta perlu dikembangkan agar terjadi gerakan menghidupi (ke dalam Keluarga) dan menghidupkan (ke luar dari keluarga) nilai-nilai yang ditemukan serta bagaimana mengkonkretkan nilai-nilai tersebut dalam keluarga mereka masing-masing dan dalam komunitas-komunitas mereka.

Dengan demikian, pertemuan tiga hari akan sungguh membekali peserta untuk dapat memberikan buah-buah konkret bagi pemberdayaan keluarga masing-masing dan juga membagikan berkat-berkat tersebut bagi orang lain, terutama mereka yang membutuhkan.

Banyak masalah dalam keluarga yang berasal dari masalah sosial ekonomi. Untuk mengatasai hal ini  yang perlu dilakukan adalah menggali dan mengembangkan segala potensi yang dimiliki agar bisa menumbuhkan kemandirian dan akhirnya kalau sudah berkembang dan berhasil bisa menjadi berkat bagi keluarga kita.

Untuk mencapai hal itu dibutuhkan usaha, kerja keras, rasa syukur dan sekaligus keyakinan bahwa Allah selalu memberikan rahmat-Nya bagi mereka. Ini juga bisa  menjadi kekuatan mereka untuk bertahan dan terus berusaha mencapai kesejahteraan dengan bantuan dan motivasi dari PSE, lingkungan dan sesama yang lain.

Bravo Komisi Keluarga KWI.

Tautan: Dokpen KWI

Sumber: Sesawi.net

Tags : , , , , , , ,

Gerakan HPS 2016-2018: Penguatan Pangan Keluarga demi Kesejahteraan Hidup Bersama

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling hakiki dan hak asasi bagi setiap individu. Oleh karena itu, terpenuhinya kebutuhan pangan merupakan hal yang mutlak harus dipenuhi agar manusia dapat bertahan hidup. “Mencintai dan Merawat Bumi untuk Pangan Sehat Bagi Semua” menjadi tema gerakan Hari Pangan Sedunia (HPS) Gereja Katolik Tahun 2013-2015. Mencintai dan merawat bumi menjadi ungkapan dan perwujudan syukur manusia atas kehidupan yang telah disediakan Allah bagi hidup manusia (bdk. Kej 2, 15-17).

Semua manusia tanpa kecuali, berhak menikmati dan mendapatkan sumber penghidupan dari rahim bumi, terlebih bahan pangan yang menjadi kebutuhan dasar hidup manusia. Untuk menjaga dan memelihara kualitas dan fungsinya, maka pengelolaan dan pengolahan bumi diarahkan untuk mempertahankan keberadaannya dalam keseimbangan yang dinamis melalui usaha perlindungan dan rehabilitasi secara terus menerus. Dengan demikian, bumi dan isinya dapat dimanfaatkan bagi sebesar-besarnya kesejahteraan hidup bersama seluruh umat manusia dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Alasannya, “Allah menghendaki, supaya bumi beserta segala isinya digunakan oleh semua orang dan sekalian bangsa, sehingga harta–benda yang tercipta dengan cara yang wajar harus mencapai semua orang, berpedoman pada keadilan, diiringi dengan cinta kasih” (Gaudium et Spes art. 69).

Gerakan HPS Tahun 2013-2015, “Mencintai dan Merawat Bumi untuk Pangan Sehat Bagi Semua” diarahkan untuk membangun kemandirian dan keberlanjutan ketersediaan pangan bagi seluruh umat manusia. Pengolahan dan pengembangannya diperuntukkan bagi sebesar-besarnya kesejahteraan umat manusia dari generesasi ke generasi. Untuk melanjutkan gerakan tersebut, Gerakan HPS Tahun 2016- 2018 adalah “Penguatan Pangan Keluarga Demi Kesejahteraan Hidup Bersama”.

Dasar perumusan Gerakan HPS
Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama, karena itu pemenuhannya menjadi hak asasi setiap individu. Pernyataan ini ditetapkan dalam dua deklarasi tingkat dunia, yaitu Deklarasi Roma Tahun 1996 pada KTT Pangan Dunia dan Deklarasi Millenium (MDG’s) Tahun 2000 yang juga menargetkan penurunan jumlah penduduk yang kelaparan hingga setengahnya pada tahun 2015. Menindaklanjuti hal tersebut, Food and Agricultural Organization (FAO) selaku organisasi pangan duniamenetapkan International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights (ICOSOC) yang sudah diratifikasi dengan UU No. 11 Tahun 2005, yang menetapkan bahwa: 1) hak setiap orang atas standar kehidupan yang layak dan keluarganya atas pangan,dan 2) setiap orang harus bebas dari kelaparan.

Kemiskinan dan kelaparan adalah dua tema yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. Kemiskinan adalah aspek utama sebagai penyebab terjadinya kelaparan. Kemiskinan menyebabkan daya beli terhadap bahan makanan rendah sehingga status kecukupan gizi masyarakat tidak terpenuhi. Kemudian status ketidakcukupan gizi penduduk ini akan berpengaruh terhadap produktivitas penduduk dalam mengupayakan hidupnya. Selain itu, ketidakcukupan gizi menyebabkan kerentanan terhadap serangan penyakit dan apabila seseorang sakit mengakibatkan seseorang menjadi semakin miskin. Kelaparan atau kekurangan pangan merupakan bentuk terburuk dari kemiskinan yang dihadapi penduduk, dimana kelaparan merupakan suatu proses sebab-akibat dari kemiskinan.

Indonesia memiliki sumber daya yang cukup untuk menjamin ketahanan pangan bagi penduduknya. Akan tetapi masih banyak penduduk Indonesia yang belum mendapatkan kebutuhan pangan yang mencukupi. Sekitar tiga puluh persen rumah tangga mengatakan bahwa konsumsi mereka masih berada di bawah kebutuhan konsumsi yang semestinya. Lebih dari seperempat anak usia di bawah 5 tahun memiliki berat badan di bawah standar, dimana 8 % berada dalam kondisi sangat buruk. Bahkan sebelum krisis, sekitar 42 % anak di bawah umur 5 tahun mengalami gejala terhambatnya pertumbuhan (kerdil); suatu indikator jangka panjang yang cukup baik untuk mengukur kekurangan gizi. Gizi yang buruk dapat menghambat pertumbuhan anak secara normal, membahayakan kesehatan ibu dan mengurangi produktivitas angkatan kerja. Ini juga mengurangi daya tahan tubuh terhadap penyakit pada penduduk yang berada pada kondisi kesehatan yang buruk dan dalam kemiskinan.

Data BPS Maret 2014, jumlah penduduk miskin Indonesia sebesar 28,28 juta orang.Bila dibandingkan dengan September 2013, terjadi penurunan dari 28,60 juta orang, dan prosentasenya juga menurun dari 11,46 menjadi 11,25. Dalam laporan Global Nutrition Report tahun 2014, secara global diperkirakan 45 % kematian balita terkait dengan kurang gizi; sementara defisiensi gizi bertanggung jawab terhadap lebih dari 50 % tahun hidup dalam disabilitas pada anak umur kurang dari 4 tahun. Sebaliknya, rasio manfaat biaya investasi untuk menurunkan ‘stunting’ (anak dengan ketinggian badan pendek) pada anak-anak sangat tinggi. Secara global, prevalensi stunting di Indonesia sangat tinggi, sementara kecepatan penurunannya setiap tahunnya lambat/rendah.

Indonesia merupakan negara terbesarkelima yang berkontribusi terhadap besarnya anak balita stunting di dunia. Indonesia termasuk dalam 47 negara dari 122 negara yang mempunyai masalah Stunting. Indonesia termasuk di dalam 17 negara dari 117 negara di dunia yang secara bersama-sama mempunyai tiga masalah gizi saat ini, yaitu stunting (pendek dan sangat pendek), wasting (kurus dan gizi buruk) dan overweight (gemuk dan obes) pada Balita. Gizi buruk, terutama pertumbuhan yang terhambat,merupakan sebuah masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia.

Dalam Laporan Tahunan UNICEFF Tahun 2012, kemiskinan anak di Indonesia bahkan lebih besar dari kemiskinan orang dewasa, yang dialami oleh 44,4 juta anak atau lebih dari 50 % dari seluruh anak. Seorang anak akan sangat beresiko meninggal apabila mengalami gizi buruk, dan data menunjukkan bahwa tidak banyak peningkatan dalam menangani kondisi ini, terutama di kalangan penduduk miskin.

Akses pada air minum yang aman, sanitasi yang memadai dan kebersihan juga penting untuk kelangsungan hidup anak. Tapi, Indonesia masih perlu menjangkau 56,8 juta orang lain untuk mendapatkan air bersih di tahun 2015. Di sisi lain, ketersediaan dan distribusi pangan yang tidak merata dan adil semakin memperparah kemisikinan yang ada. Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling hakiki dan hak asasi bagi setiap individu semakin dibatasi dengan adanya pasar global.

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) semakin berkuasa dalam mengatur tidak hanya sistem perdagangan, tetapi banyak aspek kehidupan manusia lainnya. Terkait dengan pangan, liberalisasi perdagangan mengubah fungsi pangan yang multi
dimensi menjadi sekadar komoditas perdagangan.

Bahkan WTO mengartikan ketahanan pangan sebagai “ketersediaan pangan di pasar”. Konsep ini dalam praktiknya memaksa rakyat di negara-negara sedang berkembang untuk memenuhi pangan yang akan dipenuhi oleh negara-negara maju melalui mekanisme pasar bebas. Fakta tersebut menunjukkan bahwa pangan telah menjadi bagian dari skema besar liberalisasi perdagangan. Untuk menanggapi situasi ini,perlulah dikembangkan keanekaragaman sumber pangan lokal.

Pangan mencakup dimensi yang luas, tidak hanya beras. Ada banyak pangan lokal di Indonesia yang kualitasnya setara dengan beras. Ada jagung dan sagu, lalu puluhan ribu umbi-umbian tersebar luas di seluruh pelosok tanah air. Dengan adanya sumber pangan lokal tersebut, sebenarnya Indonesia dapat menciptakan kedaulatan pangan yang tangguh. Pembangunan di bidang pangan harus diarahkan pada upaya swasembada yang tidak hanya beras saja tetapi didukung oleh jenis-jenis pangan lokal yang selama ini sudah mulai dikembangkan.

Mengingat pangan merupakan kebutuhan dasar dan hak asasi manusia, maka untuk mewujudkannya diperlukan keterlibatan rakyat dalam penentuan kebijakan terkait dengan proses produksi, distribusi dan konsumsi pangan. Kedaulatan pangan dengan demikian merupakan sesuatu yang patut diperjuangkan melalui gerakan rakyat. Gerakan rakyat untuk kedaulatan pangan dapat terjadi jika ada organisasi yang kuat dari berbagai elemen rakyat baik perempuan maupun laki-laki seperti petani, masyarakat adat, buruh, nelayan dan masyarakat miskin kota.

Berbagai komponen rakyat ini secara sadar dan bahu-membahu membangun solidaritas dan kerjasama memperjuangkan terwujudnya kedaulatan pangan bagi setiap orang, komunitas maupun negara. Ketidakmampuan menyesuaikan diri dalam jangka pendek akan membawa ke kondisi rawan pangan. Penyesuaian rawan pangan yang tidak memperhitungkan aspek penguatan sumber-sumber kehidupan dalam jangka panjang justru tidak akan menjamin keberlanjutan ketahanan pangan individu maupun unit sosial yang lebih tinggi.

Perumusan Gerakan HPS
Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling hakiki dan hak asasi bagi setiap individu. Oleh karena itu, terpenuhinya kebutuhan pangan yang seimbang dan bergizi merupakan hal yang mutlak harus dipenuhi agar manusia dapat bertahan hidup. Gizi yang baik merupakan landasan untuk mencapai kesejahteraan manusia. Sebelum lahir dan selama masa bayi, gizi yang baik memungkinkan otak berfungsi maksimal untuk berkembang tanpa gangguan dan menghasilkan sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat.

Untuk anak-anak, status gizi yang baik dapat mencegah kematian dan penting untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan tubuh secara maksimal. Salah satu usaha yang dapat dikembangkan untuk mendapatkan sumber pangan dengan kandungan gizi yang baik adalah dengan mengoptimalkan lahan pekarangan.

Optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan dapat dilakukan dengan melaksanakan usaha tani secara terpadu, berkelanjutan dan diarahkan untuk menuju tahap kemandirian pangan keluarga. Dikelola secara terpadu dimaksudkan agar pekarangan berperan sebagai penyedia sumber pangan keluarga, baik dari sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineral. Pendekatannya dilakukan dengan mengembangkan pertanian berkelanjutan yaitu dengan mengutamakan pemanfaatan sumber daya lokal disertai dengan penggunaan pengetahuan lokal, agar tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Paradigma pengembangan kegiatan produktif masyarakat melalui pemanfaatan pekarangan juga tidak sebatas dimanfaatkan dari pekarangan ke meja makan (dikonsumsi) tetapi juga diharapkan dapat berkembang dari pekarangan menuju pasar (dijual) dan memberi nilai tambah ekonomi.

Salah satu alternatif bahan pangan lokal yang penuh dengan kandungan gizi yang dapat dikembangkan dalam keanekaragaman pangan adalah Tanaman Kelor. Biji dan daun kelor, dikenal juga dengan Moringa Oleifera adalah salah satu makanan super yang paling lengkap, mengandung banyak antioksidan, vitamin dan mineral. Berbagai bagian dari pohon kelor dapat dimakan. Daun kelor populer digunakan sebagai sayur pada masakan semur, kari, salad dan hidangan yang biasanya akan menggunakan jenis bayam hijau.

Polong dan biji kelor juga bisa dimakan. Biji dan buah kelor hijau muda dapat direbus, dijadikan acar, atau direbus kemudian dimakan. Biji kelor yang dipanggang dapat menjadi camilan kacang yang lezat. Kelor atau Moringa merupakan tanaman yang asli tumbuh banyak di wilayah Indonesia. Bagian tanaman kelor, seperti daun, kulit kayu, bunga, buah, biji dan akar juga dapat digunakan untuk membuat obat tradisional.

Penganekaragaman pangan lokal yang diusahakan dalam lahan pekarangan dapat diarahkan untuk membangun kedaulatan pangan keluarga. Pengembangan kedaulatan pangan di tingkat kelurga (rumah tangga), mempunyai perspektif pembangunan yang sangat mendasar karena:

Akses pangan dan gizi seimbang merupakan hak paling asasi bagi manusia;Proses pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas sangat dipengaruhi oleh keberhasilan memenuhi ketersediaan dan kecukupan pangan; danKetahanan pangan merupakan unsur strategis dalam pembangunan ekonomi dan ketahanan nasional. Kedaulatan pangan keluarga akan memberikan kontribusi secara nyata dalam pembangunan masyarakat secara luas, terlebih dalam masyarakat perdesaan.

Pembangunan masyarakat perdesaan perlu terus ditingkatkan terutama melalui pengembangan kemampuan sumber daya manusia termasuk penciptaan iklim yang mendorong tumbuhnya prakarsa dan swadaya masyarakat perdesaan. Sejalan dengan itu, perlu ditingkatkan kemampuan masyarakat perdesaan untuk berproduksi serta mengolah dan memasarkan hasil produksinya, sekaligus menciptakan lapangan kerja.

Dengan demikian, pedesaan makin mampu mengerahkan dan memanfaatkan sebaik-baiknya segala dana dan daya bagi peningkatan pendapatan dan taraf hidupnya. Hal yang penting juga adalah dukungan terhadap hak petani kecil dan masyarakat adat untuk melanjutkan dan mengembangkan sistem pertanian berkelanjutan mereka, praktek-praktek pengelolaan lingkungan, dan mata pencaharian mereka. Hal itu juga menyangkut praktek penyimpanan, pengembangan dan pertukaran benih tanaman pangan dan obat-obatan.

hps-1Leaflet paparan Gerakan HPS (1) hps-2Leaflet paparan Gerakan HPS (2)

Gerakan HPS tahun 2016-2018
Gerakan Hari Pangan Sedunia (HPS) Gereja Katolik berangkat dari iman yang dirayakan dan diwujudkan. HPS Gereja mau menyuarakan iman dan moral yang berkaitan dengan kecukupan, ketersediaan dan keberlangsungan pangan yang sehat bagi hidup manusia.

Dengan demkian, melalui gerakan HPS, Gereja mampu menumbuhkan dan mengembangkan kesadaraan akan pencitraan kembali kehadiran Allah dalam tata kelola pangan di dunia dengan tujuan untuk membangkitkan dan meningkatkan kesadaran umat dan masyarakat terhadap pelestarian sumber daya pangan, tata olah tani yang mampu menyediakan bahan pangan yang sehat, aman, merata dan berkelanjutan demi kesejahteraan dan keberlangsungan hidup manusia dan keutuhan ciptaan-Nya, memberikan penghargaan dan penghormatan kepada petani dan nelayan, dan membangun kesetiakawanan sosial di bidang pangan.

Gereja perlu menyadari bahwa kehadiran dan keterlibatan penyadaran kemanusiaan dalam hal tata kelola pangan bukanlah pertama-tama persoalan teknis, tetapi bagaimana menyadarkan umat bersama masyarakat menemukan dan menata kembali pemanfaatan alam semesta yang berkeadilan sosial dan berkeutuhan ciptaan dan mencari jalan alternatif untuk pemenuhan kebutuhan dan kecukupan pangan bagi semua.

Membangun sistem komunitas pangan adalah salah satu alternatif yang bisa dibuat oleh Gereja sebagai komunitas murid-murid Kristus. Ekaristi sebagai pusat dan puncak liturgi Gereja, yang dihayati dan dihidupi umat bisa menjadi dasar dan inspirasi untuk mengembangkan Gereja sebagai komunitas berbagi pangan yang terarah pada kesejahteraan hidup bersama.

Gereja sebagai komunitas berbagi pangan bisa diwujudkan dalam keluarga melalui usaha penguatan kemandirian dan keberlanjutan pangan keluarga, sehingga malalui kedaulatan pangan keluarga, keluarga bisa menjadi saksi ‘Suka Cita Injil’. Dalam Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) ke 4 tahun 2015, Gereja merefleksikan keluarga Katolik sebagai “Suka Cita Injil; Panggilan dan perutusan keluarga Katolik dalam Gereja dan masyarakat Indonesia yang majemuk”.

Menumbuhkan kembali dan mengembangkan komunikasi kasih dan kemampuan perutusan cinta kasih dalam keluarga guna menghadirkan kesejahteraan hidup bersama yang penuh dengan kedamaian. Atas dasar peristiwa dan tema pastoral SAGKI ke 4 tahun 2015 yang dibuat lima tahun sekali, fokus Gerakan HPS Tahun 2016-2018 adalah “Penguatan Pangan Keluarga Demi Kesejahteraan Hidup Bersama” akan direfleksikan dan digulirkan melalui tata kelola nilai hidup dalam keluarga, yang secara tematis akan dibuat dalam tema tahunan.

Gerakan HPS Tahun 2016: “Penguatan Pangan Berbasis Keluarga”

Dalam peringatan Hari Pangan Sedunia 2013, Bapa Suci Fransiskus menyampaikan pesan yang sangat penting. Beliau mengatakan bahwa Hari Pangan Sedunia menghadapkan kita pada salah satu tantangan yang sangat serius bagi kemanusiaan, yaitu kondisi tragis adanya jutaan orang lapar dan menderita gizi buruk, di antaranya banyak anak-anak. Beliau menyebut kelaparan dan gizi buruk sebagai skandal yang mestinya menantang kesadaran pribadi dan kesadaran bersama kita untuk ikut menemukan pemecahan masalah itu secara adil dan menyeluruh, demi kebaikan seluruh umat manusia (bdk Flp 2:1-5).

Gerakan HPS Tahun 2017: “Membangun Gizi Keluarga”

Laporan Akhir tahun 2012 Komisi Nasional Perlindungan Anak, dari 23 juta anak balita di Indonesia, 8 juta jiwa atau 35 persennya mengidap gizi buruk kategori berat, yang menyebabkan tinggi badan lebih rendah dari balita normal; sementara 900 ribu bayi atau sekitar 4,5 persen dari total jumlah bayi di seluruh Indonesia mengalami gizi buruk.

Menurut Dirjen FAO Jose Graziano da Silva, Indonesia merupakan satu dari 19 negara yang dinilai berhasil mengurangi jumlah penduduk kekurangan gizi; dari sekitar 20 persen total jumlah penduduk pada tahun 1990-an menjadi 8,6 persen pada tahun 2012. Sejalan dengan hal ini, keluarga mempunyai peran penting dalam mengatasi gizi buruk. Pembaharuan dan perubahan sikap bisa dimulai dalam keluarga dengan tindakan nyata, yaitu dengan menyediakan pangan yang sehat dan gizi yang seimbang dalam keluarga, serta membantu keluarga lain yang kelaparan dan menderita gizi buruk dengan menyisihkan sebagian pangan sehat keluarga kita untuk mereka yang kelaparan dan menderita gizi buruk dalam bentuk dana solidaritas.

Gerakan HPS Tahun 2018: “Keluarga sebagai Komunitas Berbagi Pangan”

Mahatma Gandhi mengatakan, “Bumi menyediakan makanan cukup untuk kebutuhan setiap manusia, tetapi bukan untuk keserakahannya.” Oleh karena itu, harus ada pembaharuan. Pembaharuan dan perubahan dapat dilakukan mulai dalam keluarga. Dalam keluarga, setiap pribadi mendidik diri sendiri dalam sikap belarasa, menemukan kembali nilai dan makna solidaritas dalam hubungan antar manusia. Tujuannya antara lain adalah untuk menghilangkan aneka bentuk kekurangan pangan akibat kemiskinan dengan saling berbagi pangan.

Penutup

Penguatan pangan keluarga demi kesejahteraan bersama menjadi gerakan HPS Gereja Katolik Tahun 2016-2018. Kemandirian pangan keluarga dalam bentuk kecukupan pangan dan ketersediaan pangan yang sehat dan lestari diharapkan menjadi wujud kesejahteraan bersama.

Sumber: Dokpen KWI

Ignatius Bramantyo, staf Departemen Dokumentasi dan Penerangan (Dokpen) KWI.

Sumber: Sesawi.net

5 pencarian oleh pembaca:

  1. ilustrasi untuk khotbah ttg diakonia
Tags : , , , , , , ,

PDKK Bunga Bakung – Manokwari: Hidup, Jadilah Pelita bagi Keluarga dan Sesama

Doa dan sharing PDKK Bunga Bakung Manokwari, Papua Barat. (Agustinus Lebang)

PADA tanggal 19 September 2016 di Wisma Jati – Manokwari  yang juga menjadi kediaman Bu Selvi Sia, 18 orang hadir dalam ibadah PDKK (SEL). Lagu pujian-pujian mengiringi ibadat yang dipimpin oleh Bu M. Retopyaan.


Sharing dari bacaan Lukas 8:16-18 secara keseluruhan disampaikan oleh umat yang hadir. Berapa hal  menarik dari kesaksian  berkaitan dengan bacaan pada hari ini. Antara lain persoalan keluarga, perbedaan pendapat dalam organisasi, keegoisan secara pribadi, belajar memahami kekurangan orang lain, gerakan Roh untuk hadir bersekutu dengan rekan seiman, belajar mendengarkan, dan kepasrahanan kepada Tuhan atas segala persoalan yang kita alami.


Lewat sharing  cukup lama, kelompok SEL ini mencoba untuk memahami  panggilan hidup secara pribadi, sehingga aksi nyata dalam organisasi PDKK menjadi pelita bagi orang lain lewat segala perbuatan baik kita bagi sesama. Dengan demikian  maka orang lain dapat melihat kasih Tuhan, Sang Sumber Terang.


manokwari-pdkk-1Di akhir ibadah malam ini, kelompok SEL ini lalu berdoa bersama bagi rekan-rekan yang merayakan ulang tahun dalam bulan September ini. Berkat dan doa untuk saling menguatkan  menjadi bagian yang sangat penting dalam persekutuan ini.


Menurut Pak Julius, Koordinator PDKK Bunga Bakung – Manokwari, Papua Barat,  “KomSEL terdiri dari 23 orang. Pertemuan SEL dilaksanakan sebulan sekali. Beberapa kegiatan-kegiatan rutin dalam sebulan sudah diterjadwal dengan baik. ”


Ia ikut hadir dalam ibadat ini, setelah mengikuti misa syukur di Gereja St. Michael – Arfai Manokwari.

Fotografer dan videografer, penggiat Komsos di Paroki St. Agustinus Manokwari, Keuskupan Manokwari-Sorong (KMS), Papua Barat. Sumber: Sesawi.net

Tags : , , , , , , ,

PDF Penguatan Pangan Berbasis Keluarga – HPS 2016

cover hspPDF Penguatan Pangan Berbasis Keluarga – HPS 2016 0By Kevin Sanly Putera onSeptember 7, 2016KWI

klik untuk download PDF

klik untuk download bentuk leaflet

IMG-20160831-WA0010cover buku PDF

pdf kumpulan renungan kristen
  • renungan harian hps 2016
  • 60 Th Hidup Membiara Br. Alex MTB, 25 Th Bruder Charles MTB dari Keluarga Muslim

    KENANGAN – Bruder Allexandro van Beer MTB (ketiga dari kiri) yang merayakan 60 tahun hidup membiara, diajak berfoto bersama oleh tamu undangan. (Severianus Endi)

    KAWASAN itu terasa asri dengan taman yang luas. Beberapa pohon besar menjulang tinggi, memberikan keteduhan. Acara yang tengah digelar pun begitu istimewa: peringatan 60 tahun dan 25 tahun membiara bagi anggota komunitasnya.

    Suasana Provinsialat Kongregasi Bruder-Bruder Maria Tak Bernoda (MTB) Propinsi Indonesia di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (15/8/16) terasa meriah dengan sekitar 500-an orang berhimpun dalam Misa Kudus yang digelar di bawah tenda di halaman kapel.

    Di antara orang-orang yang hadir adalah biarawan-biarawati, sejumlah pastor, para guru beserta keluarga, para siswa, dan pekerja di lingkungan Yayasan Pendidikan Sekolah Bruder. Anggota komunitas yang sedang berpesta, mendapat kesempatan untuk berbicara sekitar tiga menit di hadapan para tamu.

    Kisah 60 tahun lalu

    Dengan suara agak serak, bruder asal Negeri Kincir Angin itu mengungkapkan rasa bahagianya bisa mencapai pesta 60 tahun hidup membiara. Ia adalah Bruder Allexandro van Beer MTB, yang kini telah berusia 79 tahun, sedikit mengilasbalik perjalanan hidupnya di Bumi Kalimantan.

    Bruder Alex–demikian dia akrab disapa–mengenang, untuk pertama kalinya menjejakkan kaki di Indonesia di bulan April 1964. Singkawang di Kalimantan Barat menjadi tempat pertama dia memulai karyanya sebagai pembina asrama para siswa.

    “Enam puluh tahun yang lalu, saya sudah memulai kehidupan dalam nilai-nilai utama dari Bunda Maria serta menjadi pengikut semangat Santo Fransiskus Asisi. Inspirasi yang mendasari panggilan saya adalah perkataan ‘aku ini hamba Tuhan’, dalam penghayatan atas ketaatan, kemiskinan, dan kemurnian, sebagaimana dinyatakan dalam kaul,” kata Bruder Alex.

    Selama 52 tahun lebih berkarya di Indonesia, dia tidak pernah bertugas di tempat lain di luar Kalimantan Barat. Ia telah menjalankan tugas di tempat-tempat Karya Kongregrasi Bruder-Bruder MTB di Singkawang, Sanggau, Kuala Dua, dan Pontianak.

    “Malam ini turut hadir beberapa orang dari generasi pertama yang pernah saya didik di Singkawang dan sekarang telah berdomisili di Jakarta,” kata Bruder Alex, yang bersama Bruder Claudius MTB, merupakan misionaris asal Belanda yang masih tersisa di komunitas itu.

    Dengan nada bercanda, dia mengatakan dirinya merupakan anggota KB, Keluarga Besar. Bruder Alex dan para saudara-saudarinya dalam keluarga berjumlah 13 orang, dan masing-masing dari mereka telah memilih jalan hidup masing-masing.

    “Satu orang menjadi suster, satu orang menjadi bruder yang kini berdiri di hadapanmu ini, dan seorang lagi menjadi imam. Sementara 10 lainnya menjalani hidup sebagai awam,” ucap Bruder Alex yang malam itu mengenakan jubah putih dengan kalung salib Tao dan aksesoris bunga dan daun cemara yang disematkan di dada kiri.

    Satu di antara pengalamannya yang cukup berkesan, ketika terjadinya Peristiwa Gerakan 30 September (G30S/PKI). Saat itu,  banyak pengungsi yang membutuhkan bantuan karena kelaparan dan sakit. Para bruder MTB, termasuk Bruder Alex, membantu memberikan makanan dan obat-obatan, dan berpartisipasi sebagai anggota Palang Merah Indonesia.

    “Bersama seorang pastor bernama Pastor Yakobus, saya ikut ke Camp Tahanan untuk menghibur mereka,” tutur Bruder Alex sambil menyatakan harapannya semoga banyak pemuda-pemudi masa kini terpanggil untuk menjalani hidup membiara.

    PERSAUDARAAN – Bruder Charles Thomas MTB yang merayakan 25 tahun hidup membiara, didampingi kakak kandung dan keponakannya yang Muslim, saat menyampaikan pesan dan kesan. (Severianus Endi)

    Dari keluarga Muslim

    Saudara se-Kongregasi Bruder Alex, yakni Bruder Charles Thomas MTB merayakan 25 tahun hidup membiara pada saat yang sama. Ketika menyampaikan pesan dan kesannya, Bruder Charles mengundang dua anggota keluarganya untuk mendampinginya di podium.

    Keduanya adalah wanita dengan busana Muslimah, berjilbab. Seorang di antaranya merupakan kakak kandung Bruder Charles, dan seorang lagi keponakannya. Mereka tinggal di Karangjati, Ungaran, Kab. Semarang, Jawa Tengah, dan hadir di Kota Pontianak untuk ikut merayakan kebahagiaan saudara mereka yang memperingati 25 tahun hidup membiara.

    “Saya berasal dari enam bersaudara, dan sayalah satu-satunya yang memeluk agama Katolik. Saudara-saudari saya yang lain tetap sebagai Muslim,” kata Bruder Clarles, menambahkan perbedaan keyaninan bukanlah menjadi masalah dalam keluarganya.

    Dalam beberapa acara yang sama di tahun-tahun sebelumnya, kata Bruder Charles, saudara-saudaranya juga selalu hadir. Keberagaman yang terjadi di dalam keluarga tetap terpelihara dalam semangat persaudaraan.

    BERBINCANG - Tiga bruder berbincang dengan sebagian tamu undangan di sela acara ramah tamah yang digelar di kawasan Provinsialat Bruder-Bruder Maria Tak Bernoda (MTB) di Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (15/8/16) malam. (Foto: Severianus Endi) BERBINCANG – Tiga bruder berbincang dengan sebagian tamu undangan di sela acara ramah tamah yang digelar di kawasan Provinsialat Bruder-Bruder Maria Tak Bernoda (MTB) di Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (15/8/16) malam. (Severianus Endi)

    Selalu mohon doa

    Provinsial Kongregrasi Bruder-bruder MTB Indonesia, Gabriel Tukan MTB mengatakan, hidup sebagai bagian dari pilihan, merupakan bentuk kesadaran penuh bagi setiap orang. Namun pilihan hidup harus pula dimaknai sebagai suatu kebahagiaan.

    “Setelah mencapai sekian puluh tahun hidup membiara, apakah saudara-saudara saya ini merasa bahagia? Jika bahagia, jadikanlah itu sebagai alat bukti bahwa kebahagiaan tetap dirasakan dalam kehidupan yang mengikatkan diri pada Kasih Kristus. Saksi atas peristiwa luhur dalam hidup anak manusia,” kata Bruder Gabriel.

    MERIAH – Sebagian tamu dari kalangan imam, biarawan dan biarawati yang hadir memeriahkan pesta syukur hidup membiara dua Bruder MTB. (Severianus Endi)

    Ia meminta agar selalu didoakan, karena menyadari sifat manusia yang tidak pernah luput dari berbagai macam kelemahan. Meskipun tetap mensyukuri Rahmat Allah yang telah “menggunakan” mereka dalam berbagai karya-Nya.

    “Kami-kami ini tetap sebagai manusia yang lemah, suka berubah, suka menyesuaikan diri dengan situasi, memiliki kelalaian, kekeliruan, dan kadang salah langkah. Mohon selalu doakan kami,” kata Bruder Gabriel.

    Selain untuk merayakan pesta hidup membiara, pada kesempatan itu dua bruder lain menjalani pembaharuan kaul, yaitu Bruder Maksi MTB dan Bruder Marianus MTB.

    Sumber: Sesawi.net

    Kita Semua Anggota Keluarga Allah dengan Melakukan Kehendak-Nya

    Selasa, 19 Juli 2016
    Pekan Biasa XVI
    Mi 7:14-15.18-20; Mzm  85:2-4. 5-6.7-8; Mat 12:46-50

    Sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya, Yesus bersabda, “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku, dialah saudari-Ku, dialah ibu-Ku.”

    SYUKUR pada Allah atas firman Tuhan hari ini. Dalam nama Yesus Kristus kita semua disatukan sebagai satu keluarga, keluarga Allah.

    Sesungguhnya, kita adalah anggota keluarga Allah. Kita semua saudara dan saudari-Nya bahkan, ibu-Nya dengan melakukan kehendak Allah (Mrk 3: 35). Ia menyambut kita yang melakukan kehendak-Nya.

    Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, sementara bersembah sujud di hadirat Yesus Kristus, kita belajar setia pada panggilan sebagai anggota keluarga-Nya. Keluarga Yesus Kristus itu abadi kekal. Apakah kita menyadari dengan penuh syukur bahwa kita adalah bagian dari keluarga Allah dalam Kristus? Bagaimanakah kita mencoba melakukan kehendak Allah sebagai anak-anak-Nya?

    Tuhan Yesus Kristus, tanpa Dikau kami tak dapat berbuat apa-apa namun bersama-Mu segalanya dapat kami lakukan. Kami percaya bahwa sungguh hadir dalam Ekaristi dan Adorasi Ekaristi Abadi. Anugerahilah kami rahmat untuk mengenal dan melakukan kehendak-Mu dalam hidup kami sehari-hari selamanya. Amin.

    Sumber: Sesawi.net