Tag: katolik

OMK Wajah Segar Gereja Katolik Indonesia

ketua-komisi-kepemudaan-kwiOMK Wajah Segar Gereja Katolik Indonesia 0By admin onOctober 28, 2016KWISurat Sapaan Mgr. Pius Riana Prapdi

Ketua Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia

Kepada Orang Muda Katolik se-Indonesia

dalam rangka peringatan Sumpah Pemuda 2016

OMK Wajah Segar Gereja Katolik Indonesia

Salam sukacita bagi semua!

Sahabat-sahabatku, Orang Muda Katolik (OMK) se-Indonesia,

Tanggal 28 Oktober adalah peringatan peristiwa ikhrar pemuda-pemudi dari berbagai kepulauan Nusantara sebelum kemerdekaan. Ikhrar menyatakan kehendak bersama untuk merdeka menjadi satu bangsa Indonesia. Pada peristiwa “Sumpah Pemuda”, pemuda-pemudi seia sekata meninggalkan kepentingan kedaerahan dan menghargai kemajemukan. Dengan tekad bulat pemuda-pemudi memasuki masa depan yang akan dibangun bersama, dan bahu-membahu menjadikan Indonesia merdeka sebagai rumah bersama. Peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah fakta sejarah yang menentukan arah berbangsa dan bernegara.

Gelora kemudaan inspiratif yang menggugat dan menggugah dalam generasi Sumpah Pemuda perlu diteruskan dan dikembangkan. Kita sadar bahwa tantangan baru zaman ini dapat menggiring kaum muda meninggalkan “keterlibatan sosial”dan memasuki ruang-ruang “kesenangan diri” lewat narkoba, pergaulan bebas, gaya hidup konsumtif, dan kesempitan cara pandang beragama. Persoalan hidup bersama seperti intoleransi, kemiskinan, dan kerusakan alam lingkungan mungkin tidak masuk radar perhatian orang muda. Kesempatan peringatan Sumpah Pemuda tahun merupakan saat yang berharga untuk merefleksikan makna kehadiran kita sebagai orang muda di tengah masyarakat.

Orang Muda Katolik adalah bagian dari pemuda-pemudi Indonesia yang dipanggil untuk menghadirkan jejak keterlibatan nyata di tengah suka dan duka masyarakat. Saya percaya bahwa di mana pun Anda sekarang telah dan sedang mengambil peran sebagai murid Yesus di bumi Indonesia. Semua yang Anda lakukan dengan segala talenta, potensi, dan kreativitas menghembuskan kesegaran baru bagi Gereja Katolik Indonesia sekaligus turut membangun wajah Gereja Katolik Indonesia yang tinggal bersama saudara-saudarinya di gugusan kepulauan Nusantara ini.

Sahabat-sahabatku,

Rasa syukur kita sebagai OMK atas kesempatan untuk terus berpartisipasi mengaktualisasikan semangat Sumpah Pemuda menjadi semakin besar karena Gereja Katolik Indonesia sedang mempersiapkan diri menjadi tuan rumah 7th Asian Youth Day (AYD7) atau Pertemuan OMK se-Asia ke-7 pada tahun 2017. Acara AYD7 berlangsung dari 30 Juli hingga 6 Agustus 2017, terbagi menjadi dua acara, yaitu: (1) live in di 11 keuskupan pada 30 Juli – 2 Agustus 2017 dan (2) acara puncak di Yogyakarta pada 3 – 6 Agustus 2017.

Semua OMK berkesempatan untuk menggemakan dan menyemarakkan AYD7 melalui kegiatan-kegiatan menjelang (Pre-Event) AYD7. Bukan suatu kebetulan bahwa saat-saat ini merupakan kesempatan berahmat pula bagi OMK untuk bergerak menindaklanjuti pesan dan niat yang diperoleh dalam Indonesian Youth Day (IYD) di Manado pada awal Oktober 2016 yang lalu dan World Youth Day (WYD) di Polandia pada Juli 2016. Saya mengundang OMK untuk bergabung dalam berbagai kegiatan menjelang AYD7 tersebut, baik sebagai delegasi maupun bukan delegasi, dengan menghubungi para pengurus OMK Keuskupan.

AYD7 bertema“Joyful Asian Youth! Living the Gospel in Multicultural Asia” (“Sukacita Orang Muda! Menghidupi Injil dalam Konteks Asia yang Multikultur”). Sebagai bahan bagi OMK untuk berefleksi dan menegaskan keterlibatan diri, perkenankanlah saya menyampaikan tiga pokok gagasan dari tema tersebut yang, dalam pandangan saya, menyambung dengan nilai-nilai dalam Sumpah Pemuda.

Pertama, Gereja Katolik Asia memandang OMK sebagai penerima sekaligus pembawa kabar gembira Injil. OMK dalam aktivitasnya setiap hari tiada henti menciptakan kisah-kisah orisinal bagaimana Injil dihayati dengan penuh sukacita. Melalui kisah-kisah itu aneka kebaruan dilahirkan dan hidup bersama menjadi lebih berpengharapan, seperti kisah generasi 1928 yang memecah kebekuan bangsa yang sedang dijajah dan menawarkan alternatif pergerakan nasional.

Di antara OMK saya menyaksikan ada sosok yang karena cintanya kepada anak-anak pedalaman Papua memilih untuk meninggalkan segala kenyamanan di Jawa dan menjadi guru bagi anak-anak itu. Ketika pertanian cenderung ditinggalkan orang muda, ada OMK memutuskan menjadi petani, mengolah tanah, dan membangun cinta lingkungan. Lain lagi dengan OMK yang mempunyai keahlian ber-media. Ia bekerja keras menciptakan jaringan media sosial serta berbagi pesan damai dan persaudaraan lintas batas.

Kedua, tema AYD7 mengingatkan kita mengenai cara bertindak murid-murid Yesus yang mengalami peristiwa Pentakosta, saat turunnya Roh Kudus, juga saat lahirnya Gereja (bdk. Kis 2). Petrus dan kawan-kawannya sebagai Gereja Perdana membangun hidup bersama yang terdiri dari aneka macam orang dengan situasi masing-masing hingga hidup bersama menjamin kesejahteraan bagi semua tanpa terkecuali (bdk. Kis 4:32-35). Cara bertindak murid-murid itu mengungkapkan tiga karakter dasar, yaitu: (1) berbela rasa (being compassionate), (2) berkesanggupan (being committed), dan (3) terampil menjalin persahabatan (being connected).

OMK adalah murid-murid Yesus zaman ini yang terpaut dalam bela rasa dengan sesama, lalu berkesanggupan memilih jalan hidup yang dikehendakinya secara bebas seturut semangat Injil, dan terbuka menjalin persahabatan dengan siapa saja yang berkehendak baik untuk membangun hidup bersama yang lebih manusiawi. Peristiwa Sumpah Pemuda membangkitkan rasa “senasib seperjuangan” dengan rakyat. Maka para pemuda berkomitmen menciptakan haluan pergerakan baru berasaskan persatuan untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa.

Ketiga, tema AYD7 menunjukkan arah pembangunan “Gereja yang hidup” dengan OMK sebagai rasul-rasul terdepan yang tidak pernah kehabisan akal di tengah situasi dunia yang terus berubah. Yang dimaksud dengan “Gereja yang hidup” adalah paguyuban umat beriman yang kesaksian-kesaksian hidupnya secara internal bermakna dan secara eksternal relevan dengan kondisi masyarakat luas. Berbagai inisiatif OMK seturut dengan kreativitasnya masing-masing,baik dalam lingkup komunitas beriman di wilayahnya maupun lingkup semua orang di tengah masyarakat, memberikan nyawa dan darah segar bagi kehadiran Gereja Katolik di Indonesia.

Dengan aneka kreativitasnya yang berdaya ubah saat: (1) melihat (seeing) situasi aktual, (2) mengatakan (speaking) opini terhadap situasi itu, dan (3) memulai (starting) tindakan yang dibutuhkan untuk menjawab situasi yang dihadapi, OMK sesungguhnya sedang menjalankan formasi dirinya sendiri sekaligus membarui dunia sekitarnya. Demikian pula, ketidakterkungkungan generasi 1928 terhadap kondisi penjajahan mampu melahirkan sikap saling respek di antara pemuda-pemudi berbeda suku dan rasa nasionalisme di kalangan yang lebih luas.

Sahabat-sahabatku,

Baik generasi Sumpah Pemuda 1928 maupun Anda semua adalah pencipta kisah-kisah keterlibatan yang “membuat hidup lebih hidup”. Melalui surat ini secara khusus saya berharap bahwa Anda tidak ragu untuk berbagi kisah-kisah kehadiran unik Anda sebagai pembawa kabar gembira Injil di mana pun Anda berada. Bila kisah-kisah Anda semua berjumpa satu dengan yang lainnya di sepanjang Pre-Event AYD7, di antara OMK se-Indonesia terjadi peristiwa berahmat untuk saling belajar dan saling meneguhkan. Dari perjumpaan aneka pengalaman iman, harapan, dan kasih (1 Kor 13:13) tersebut, saya percaya, sedang dilahirkan rasa “sehati dan sejiwa” (Kis 4:32) dari Gereja Katolik Indonesia yang sedang berziarah bersama kalangan masyarakat lainnya.

Panitia AYD7 menyediakan sarana untuk menjalin komunikasi di antara kita, dan juga OMK se-Asia, yaitu alamat email hello@asianyouthday.org dan website http://asianyouthday.org/ yang dilengkapi dengan akun Facebook, Instagram, Twitter, dan Youtube. Selain untuk memperoleh informasi-informasi mengenai AYD7, silakan menggunakan aneka media tersebut untuk berbagi kisah-kisah Anda, baik dalam bentuk tulisan, foto bercerita, atau video pendek. Biarlah pelita Anda yang dinyalakan Allah dengan cinta berada di atas kaki dian sehingga memberi terang cinta bagi siapa saja (bdk. Mat 5:15).

Kita pun berharap bahwa selagi berbagi kisah-kisah hidup itu sedang terjadi Pentekosta Baru, kelahiran Gereja Katolik Masa Kini dengan OMK sebagai tulang punggung – OMK yang compassionate, committed, dan connected; yang kreatif dan tahan banting mengikuti Yesus dalam perjalanan “yang tidak mudah, namun menggembirakan”. Dengan demikian, dalam doa dan karya kita sebagai OMK yang tersambung dengan spirit generasi Sumpah Pemuda 1928 yang membebaskan, Gereja Katolik Indonesia semakin menemukan panggilan sejatinya sebagai bagian dari bangsa Indonesia. OMK menjadi generasi yang terlibat berjuang mengatasi berbagai persoalan yang mengancam kemanusiaan, kebersamaan bermasyarakat, kualitas hidup, keutuhan ciptaan, dan semacamnya.

Salah satu dari generasi 1928, Bung Karno, pernah berujar, “Orang tidak bisa mengabdi kepada Tuhan dengan tidak mengabdi kepada sesama manusia. Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin.” Sambil mengingat pesan ini, marilah kita hadirkan jejak di perjalanan hidup kita untuk mencintai Allah dan sesama, dengan lebih berani melihat aneka keadaan faktual di sekitar kita, mengungkapkan opini yang cerdas, dan memulai tindakan yang konkrit, khususnya pada bulan-bulan ini ketika kita semua ingin bergiat menyambut AYD7 2017.

Selamat merefleksikan dan berbagi kisah kehadiran kita sebagai OMK di tengah masyarakat. Bersama semua pihak yang berkehendak baik, kita percaya bahwa Allah yang memulai pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (Flp 1:6).

Jakarta, 28 Oktober 2016

Pada Peringatan 88 Tahun Sumpah Pemuda

 

Mgr. Pius Riana Prapdi

Ketua Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia

Kredit Foto: Mgr. Pius Riana Prapdi, Ketua Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia

Palembang: Orang Muda Karismatik Katolik Sebarkan Api Belas Kasih

Para peserta Konvenas OMKK di Palembang. (Ist)

ORANG Muda Karismatik Katolik (OMKK) menyebarkan api di Kota Palembang, Kamis hingga Minggu (20-23/10) lalu. Api itu sangat diharapkan membakar jiwa-jiwa. Hadir dalam kegiatan ini 250 OMKK dari 15 keuskupan di Indonesia.

Kegiatan bernama Konvensi Nasional Orang Muda Karismatik Katolik ini berlangsung di Hotel Daira Palembang, Sumatera Selatan. Bagi Palembang, kegiatan ini pertama kali dilaksanakan, bahkan di luar Pulau Jawa dan Bali.

Spreading the fire

Tema yang diangkat dalam konvenas kali ini adalah “Spreading the Fire” atau Menyebarkan Api (belas kasih). Tema ini bersumber dari Injil Lukas 4:18-19, yaitu Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.

palembang-rm-avienRomo Arvien

Dalam kotbahnya pada saat Perayaan Ekaristi pembukaan, Kamis (20/10), Romo Vincensius Setiawan Triatmaja Pr mengatakan bahwa Gereja diutus untuk menampakkan wajah belas kasih Allah, karena Gereja adalah Sakramen Allah. Dunia sudah begitu berdosa sudah selayaknya dihukum, tetapi hukum belas kasih sebaliknya. Wajah belas kasih Kristus berupa api yang bernyala yang begitu mempesona.

“Indah dan mempesona ketika kita mengambil bagian di dalamnya. Ketika kita bisa berguna bagi Allah dan sesama dalam pelayanan kita. Namun kita menjumpai paradoks dalam pelayanan kita, yaitu kita lebih banyak mengkritik, melihat daripada melayani,” kata imam yang biasa disapa Romo Avien ini.

Romo Avien mengatakan, Yesus datang melemparkan api ke bumi dan mendambakan api itu menyala. Api banyak gunanya dalam kehidupan manusia. Api menjadikan asli dan murni dan terlihat jelas. Api yang dibawa Yesus adalah iman yang membersihkan perilaku hidup manusia. Kita diminta selalu memurnikan diri kita dengan membakar apa yang negatif dalam hidup kita. Tentu tidak mudah. Namun kalau kita tekun menjaga nyala api kita hidup, kita akan berkualitas seperti api murni. Kita mohon Tuhan Yesus mengutus Roh Kudus untuk mempersatukan kita, agar kita bertekun dalam pelayanan sebagai anak-anak Allah.

Empat tujuan

Menurut pihak panitia, ada empat tujuan yang ingin dicapai dalam konvenas kali ini. Pertama, menumbuhkan semangat untuk mengenal Allah lebih lagi melalui persekutuan dan pengenalan akan firman Allah. Kedua, memotivasi dan mendorong anak-anak muda untuk menjadi kader pemimpin untuk mengembangkan pertumbuhan rohani. Ketiga, menyatukan visi misi nasional bersama dengan seluruh pelayan Allah dari berbagai daerah. Keempat, menjalin komunikasi antarpersonal maupun daerah dan saling berbagi dalam keberagaman.

Empat tujuan ini diharapkan dicapai melalui sesi-sesi kegiatan berupa lokakarya tentang praise and worship, manajemen Persekutuan Doa, Doa Syafaat, dan Karunia. Kemudian ada Kebangunan Rohani Katolik, Penerimaan Sakramen Pengakuan Dosa, Adorasi dan memuncak dalam Perayaan Ekaristi yang menjadi sumber hidup orang beriman kristiani.

Pemukulan gong oleh RD Simon Margono menandai dimulainya Konvenas OMKK di Palembang.

Dalam sambutan tertulisnya, Mgr Aloysius Sudarso SCJ, Uskup Agung Palembang, menegaskan bahwa dalam diri orang muda ada potensi yang begitu besar. Potensi yang begitu besar mesti disyukuri oleh orang muda.

“Yesus dan teladan iman para kudus dapat membentuk hati orang muda menjadi sedemikian penuh dengan Roh Kudus. Hendaknya orang muda menyadari bahwa Tuhan telah menanamkan potensi dan talenta untuk menghantar sesama orang muda kepada Kristus. Karena itu, alamilah Tuhan yang tinggal dalam dirimu sejak dibaptis,” kata Mgr Sudarso.

Bapak Uskup mengajak Orang Muda Karismatik Katolik menjadikan Kristus sebagai pahlawan dalam hidup mereka. “Cintailah dan pedomanilah sabdaNya, agar menuntun kalian menjadi rasul-rasul muda di zaman yang berubah sangat cepat ini,” ajak Mgr Sudarso SCJ.

Opening ceremony

Tiga orang gadis berpakaian khas Sumatera Selatan memasuki panggung. Mereka menari dengan sangat anggun mengikuti alunan lagu. Tari Tanggai yang merupakan traian tradisional Sumatera Selatan menjadi pembuka dalam Opening Ceremony Konvensi Nasional (Konvenas) Orang Muda Karismatik Katolik VI 2016.

Junki

Selanjutnya, perwakilan dari lima belas keuskupan di Indonesia yang hadir dalam Konvenas tersebut berjalan membawa bendera BPK PKK dari keuskupan asal mereka. Beberapa dari mereka bahkan menggunakan pakaian adat dari daerah pelayanan keuskupan mereka. Hal ini menarik perhatian para peserta lain yang melihatnya, sehingga membuat suasana menjadi riuh.

Junki menuturkan, Konvenas bukan sekadar hura-hura. Ia yakin, Tuhan telah menetapkan suatu rencana yang luar biasa pada diri setiap orang muda yang hadir. Melalui yel-yel Konvenas OMKK VI 2016, Junki menjelaskan makna tersirat di balik yel-yel sederhana yang menggunakan gerakan seperti menembak musuh.

“Kalian sudah diajari menodong. Ditodong untuk apa? Sepulang dari Palembang, Anda ditodong untuk membagikan api Roh Kudus yang Anda terima kepada generasi muda yang ada di sekeliling Anda. Ada banyak orang muda di sekeliling Anda yang membutuhkan bantuan,” katanya.

palembang-kusuma-wijaya-lais-ketua-bpk-keuskupan-agung-palembangKusuma Wijaya Lais

Kusuma Wijaya Lais, Ketua BPK Keuskupan Agung Palembang menambahkan, ketika pulang ke daerah masing-masing, para peserta akan membagikan hal-hal baru yang telah dipersiapkan oleh Tuhan dalam konvenas yang berlangsung selama 3 hari ini.

“Selamat melayani. Selamat menikmati dan selamat bertumbuh dalam konvenas ini. Karena di tempat inilah kita menyatukan visi dan misi yang telah diberikan Tuhan bagi kita,” tuturnya.

Bagi Johan Wijaya, Konvenas bisa menjadi sarana bagi orang muda untuk melakukan pergerakan baik dari Tuhan Yesus.

palembang-johan-wijaya-ketua-seksi-kepemudaan-bpn-karismatikJohan Wijaya

“Tuhan membutuhkan kita semua untuk melakukan hal baik bagi orang muda di sekitar kita. Dan panggilan itu ada atas kita, sebab roh Tuhan ada atas kita untuk memberitakan tahun pembebasan rahmat Tuhan. Sehingga, orang lain bisa mengalami tahun belas kasih atas hidup mereka,” ucapnya.

Selaku ketua panitia Konvenas Orang Muda Karismatik Katolik VI 2016, Elisabeth Elisa mengungkapkan bahwa para peserta Konvenas dengan tema ‘Spreading The Fire’ ini adalah orang-orang yang spesial. Mengapa spesial?

“Tidak semua orang menerima panggilan untuk menjadi pelaku spreading the fire. Teman-teman harus bersukacita, karena kita adalah orang-orang spesial yang menjadi mitra Tuhan untuk menyampaikan kabar baik bagi orang muda di seluruh Indonesia,” jelasnya.

palembang-elisabeth-elisaElisabeth Lisa

Untuk membuka Konvenas OMKK VI 2016 secara resmi, Rm Simon Margono Pr membukanya dengan memukul gong.

Setelah makan malam bersama, para peserta Konvenas menyaksikan pemutaran film mengenai sejarah karismatik. Kemudian, acara dilanjutkan dengan penampilan dari Kontingen Keuskupan Surabaya, Ambon dan Papua.

Maria Sylvista Wartawan Tabloid “Komunio” dan Majalah “Fiat” di Palembang.

Sumber: Sesawi.net

5 pencarian oleh pembaca:

  1. renungan hari ini dalam doa karismatik katolik
Tags : , , , , , ,

Pesta Harijadi SMA Katolik Villanova Manokwari, Papua Barat

Pesta harijadi SMA Villanova Manokwari. (Agustinus Lebang)

HARI Senin 10 oktober 2016 adalah hari yang sangat penting bagi SMU Katolik Villanova di Susweni, Manokwari (Papua Barat).  Dengan mengusung tema “ Kekeluargaan Mempersatukan Kita di dalam Kasih Tuhan”,  seluruh partisipan yang hadir merasakan kehangatan dan serunya pesta memperingati hari berdirinya SMA Katolik Villanova.

Demikianlah suasana yang terjadi dari pagi hingga siang di Kompleks SMA tersebut. Bertempat di halaman upacara sekolah, tiga imam Ordo OSA (P. Aloisius Tenuwut Sedit OSA, P. Paulus W. Ulipi OSA dan P. Marthinus CM Werang OSA)  memimpin misa syukur yang dihadiri ratusan siswa dan orangtua serta undangan lainnya.

Pastor Aloisius Tenuwut Sedit OSA berperan sebagai selebran utama dalam misa tersebut.  sebagai Ketua Yayasan Ordo santo Augustinus,   dalam khotbahnya ia berharap agar siswa-siswi harus menjaga kebersihan sekolah, rajin belajar. Pastor juga menegaskan agar siswa taat pada aturan sekolah (disiplin) dan tidak menyombongkan diri atas tindakan yang tidak menyenangkan. Murid harus bangga pada apa yang dimiliki dan terus mengembangkan talenta (berprestasi) dan lebih penting adalah patut rendah hati.

Pastor Alo juga bersyukur dapat merayakan syukuran sekolah bersama-sama siswa, orangtua dan tenaga pendidik (guru) berjumlah 29 orang). Dalam kesempatan yang sama ia juga menyampaikan pujian atas prestasi siswa dalam berbagai kegiatan lomba studi, seni dan olahraga yang boleh ditampilkan dalam memperingati HUT SMU Katolik Villanova yang ke-6 pada tahun ini.

Pastor Alo adalah sekaligus oastor Paroki Immanuel Sanggeng-Manokwari (Papua Barat).

lebang-sma-villanova2

Kegiatan dilanjutkan dengan kegembiraan bersama lewat pentas seni  di antaranya bernyanyi, pantun dan puisi, beatbox, dancer dan rapper dari berbagai tingkatan pendidikan. Sambutan sorak sorai dan dukungan dari rekan-rekan serta guru dari atrasi yang ditampilkan siswa menambah semaraknya pesta syukur ini. Pemberian hadiah bagi pemenang pelbagai lomba dalam rangka hut disambut sorak-sorai dari siswa-siswi. Beberapa lomba yang diselenggarakan di antaranya lomba taman dan kebersihan, maket, basket, futsal.

Namun ada rasa ketidakpuasan dari siswa setelah menerima Laporan Hasil Ulangan Mid semester ganjil Tahun Ajaran 2016/2017. Beberapa siswa ada yang mengungkapkan penurunan nilai. Beberapa orangtua juga melihat hal sama, penyebabnya di antaranya demam game dari teknologi masa kini. Namun demikian motivasi dan nasihat dari guru-guru agar siswanya terus belajar.

Pastor Paulus W. Ulipi OSA selaku kepala sekolah dalam sambutannya menyampaikan kedisplinan menjadi tantangan dalam dunia pendidikan. Namun ada rasa bangga bagi pendidik di sekolah ini, bahwa bakat-bakat dari siswa dapat dikembangkan seiring dengan adanya sarana dan prasarana yang disediakan.

Harapan Pastor adalah agar bersama-sama saling mendukung dalam proses pembangunan dalam bentuk fisik sarana yang masih kurang. Namun dengan seiring ketersediaan kebutuhan dasar tersebut, ia juga mendorong agar siswa-siswi  yang kini berjumlah 340 orang dapat bersaingan secara sehat dalam mengembangkan berprestasi (bermutu).

Hal sama disampaikan oleh salah satu mantan kepala sekolah SMU ini bahwa dalam usia yang sangat muda, siswa-siswi dari sekolah ini mampu bersaing dengan sekolah setingkat di Manokwari dan kini menjadi sekolah yang diperhitungkan dalam berbagai lomba yang diselenggarakan oleh berbagai pihak.

Marthinus CM Werang OSA adalah salah satu imam yang ditahbiskan pada akhir bulan Agustus 2016 oleh Uskup Keuskupan Manokwari Sorong. Kini ia dipercayakan sebagai bendahara SMU Katolik Villanova – Manokwari.

St. Thomas dr Villanova adalah seorang Augustinain, mahaguru, Uskup Valencia, penyayang orang miskin, pelindung studi.

Fotografer dan videografer, penggiat Komsos di Paroki St. Agustinus Manokwari, Keuskupan Manokwari-Sorong (KMS), Papua Barat.

Sumber: Sesawi.net

Tags : , , , , , ,

Gereja Katolik Menyambut Tujuh Orang Kudus Baru

kanonisasi-santo-santa-baruGereja Katolik Menyambut Tujuh Orang Kudus Baru 0By admin onOctober 18, 2016Orbi

VATIKAN, MIRRIFICA.NEWS –  Diperkirakan 80.000 umat menghadiri misa kanonisasi di lapangan Basilika St. Petrus, Vatikan.

Fratel Salomone LeclercqFratel Salomone Leclercq

“Kanonisasi Tujuh orang kudus baru dalam gereja bukan karena usaha mereka sendiri tetapi karena kehendak Allah yang dinyatakan kepada mereka,” kata Paus Fransiskus sebagaimana diberitakan Catholic News Service.

Setiap orang “berjuang hingga titik akhir dengan seluruh kekuatan mereka,” yang mereka terima melalui ketekunan dan doa,” Paus menegaskan itu pada Misa Kanonisasi yang digelar pada 16 Oktober di Lapangan Santo Petrus.

José Sánchez del RíoJosé Sánchez del Río

“Mereka tetap teguh dalam iman, dengan murah hati dan tabah. Melalui teladan hidup dan doa syafaat mereka, semoga Tuhan juga memampukan kita sebagai pria dan wanita menjadi pendoa,” terang Paus dihadapan sekitar  80.000 umat yang  hadir dalam  misa kanonisasi.

Poster besar berisikan gambar  orang-orang kudus menghiasi pelataran Basilika Santo

Manuel González GarcíaManuel González García

Petrus, beberapa mewakili aspek-aspek tertentu dari kehidupan mereka untuk dijadikan teladan hidup.

Lodovico PavoniLodovico Pavoni

“Imam gaucho,” asal Argentina, St. Jose Gabriel del Rosario Brochero digambarkan duduk di atas keledai, sebagai lambang dari tindakannya yang sederhana dalam menggunakan transportasi untuk bepergian ribuan mil demi melayani orang miskin dan orang sakit.

St. Jose Sanchez del Rio, seorang anak Meksiko berusia 14 tahun menjadi martir karena ia menolak untuk meninggalkan imannya selama perang Cristero pada tahun 1920-an, digambarkan sedang memegang cabang sawit dan rosario sementara jejak darah dan satu peluru terlihat berada di kakinya.

Alfonso Maria FuscoAlfonso Maria Fusco

St. Salomone Leclerq, yang tewas setelah menolak untuk meninggalkan imannya pada puncak Revolusi Prancis, ditunjukkan dengan mata menatap ke langit seperti seorang malaikat yang merentangkan tangannya, melambangkan kemartiran dalam iman.

Giuseppe Gabriele del Rosario-BrocheroGiuseppe Gabriele del Rosario-Brochero

Penulis kontemplatif dari ordo Karmel asal Perancis, St. Elizabeth dari Tritunggal Kudus, digambarkan sedang  duduk dan berdoa, sedangkan St. Manuel Gonzalez Garcia, seorang uskup asal Spanyol digambarkan sedang menjalankan adorasi sakramen mahakudus dengan wajah berseri-seri.

Elisabetta Della Santissima Trinità CatezElisabetta Della Santissima Trinità Catez

Poster besar berwarna cerah juga menampilkan gambar dua orang kudus asal Italia: St. Ludovico Pavoni, pendiri “Putera-putera Maria Immaculata”, yang mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan spiritual dan kejuruan bagi orang miskin dan tuna rungu, dan St. Alfonso Maria Fusco, pendiri Kongregasi Para Suster Baptistin dari Nazaret dan Little House of Providence, rumah untuk anak-anak terlantar.

 

 

Sumber: http://www.ucanews.com

Kredit Foto: L’oservatore Romano

Tiga Aplikasi Katolik yang Perlu Anda Miliki

tiga-aplikasi-katolik-yang-perlu-anda-milikiTiga Aplikasi Katolik yang Perlu Anda Miliki 0By John L. Wujon onOctober 13, 2016Urbi

Di waktu berbeda, ketika anda sedang ke gereja, kapela atau ke gua Maria, anda melihat sepintas pada layar smartphone anda, dan betapa terkejutnya anda. Ada wajah seorang Ibu Cantik (Maria) tampak di layar smartphone anda. Pada saat yang sama, ketika anda sedang bermain dengan snapchat filter, saat itu juga anda dapat berdoa rosario dan membaca Kitab Suci.

Jonathan Texeonathan Texeira telah menerbitkan daftar lima aplikasi Katolik yang dapat didownload gratis, sehingga benar-benar dapat membantu anda memperdalam dan membagikan iman Anda. Dari lima aplikasi yang ada, tiga aplikasi yang kini sudah jadi favorit  (dan  digunakan hampir setiap hari).

1. iBreviary: Kedengarannya memang sederhana, tapi aplikasi ini adalah brevir elektronik, dan itu adalah salah satu aplikasi Katolik pertama yang tersedia di web yang dapat anda gunakan untuk berdoa seturut kalender Liturgi. iBreviary punya keuntungan karena dapat meringankan anda. Anda tak perlu membawa buku brevir (literal) yang berat di dalam tas Anda, dan juga akan memberikan Anda, bacaan-bacaan harian, Di dalam aplikasi ini anda juga bisa melihat Rituale Romanum dan berbagai pilihan doa dan devosi yang mengesankan.

2. The “PopeApp”: Anda mungkin sudah mengikuti setiap aktivitas Paus di Twitter (jika Anda tidak memiliki account utama resmi @pontifex), tetapi anda mungkin tidak tahu Paus juga memiliki aplikasi sendiri. PopeApp adalah layanan yang menyajikan semua berita yang terkait dengan Paus, diambil dari www.news.va (yang dikelola oleh Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial) langsung ke ponsel Anda.

3. Mea Culpa: Ini adalah sebuah aplikasi yang dapat membantu anda membuat pengakuan secara baik, membimbing anda untuk pemeriksaan batin, menunjukkan tahapan-tahapan, dan memungkinkan anda membuat pengelompokkan dosa-dosa anda seperti dosa ringan atau berat. Plus (dan ini  rahmat sesungguhnya) aplikasi ini memungkinkan anda mengalami pembebasan batin setelah anda mengaku dan menerima absolusi, sambil menetapkan tanggal pengakuan berikutnya (sehingga anda dapat kembali ke bilik pengakuan setelah enam bulan). Anda juga dapat mengatur alarm untuk pemeriksaan batin setiap harinya (yang sangat berguna!). Sejauh ini, aplikasi ini hanya tersedia pada sistem operasi iOS dan masih menggunakan bahasa Inggris.***

 

Diolah dari berbagai sumber

Temu Mahasiswa Katolik KAJ: Muda dan Merdeka Semangat Kita!

pmkajTemu Mahasiswa Katolik KAJ: Muda dan Merdeka Semangat Kita! 0By RD. Kamilus Pantus onOctober 6, 2016Urbi

Keuskupan Agung Jakarta memberikan perhatian khusus kepada para mahasiswa katolik, yang datang dari penjuru Indonesia dan kini sedang mengenyam pendidikan di kota Metropolitan. Bentuk nyata perhatian Bapak Uskup Ignatius Suharyo selaku Uskup Agung Jakarta, dengan dibentuknya Pastoral Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta atau biasa disingkat PMKAJ. Pada tanggal 16 – 18 September 2016 para anggotanya mendapat kesempatan untuk menerima pembekalan dari para imam pendamping dan alumnus PMKAJ. Temu Mahasiswa ini diawali dengan misa yang dipimpin oleh Romo Sigit dan Romo Robert di Bukit Talita Mountain Resort – Gabriel Hall. Acara dilanjutkan dengan presentasi per unit, dimana setiap unit menjelaskan tentang seluruh kegiatan KMK yang berada di unit mereka masing-masing dan mengetahui pentingnya PMKAJ bagi mahasiswa Katolik Jakarta.

Seluruh peserta dalam salah satu kegiatan (outbond) dalam TEMA 2016.Seluruh peserta dalam salah satu kegiatan (outbond) dalam TEMA 2016.

PMKAJ terdiri dari berbagai unit, yaitu Unit Tengah, Unit Barat, Timur, Selatan dan Pastoran Unika Atmajaya Jakarta.

Temu Mahasiswa diisi dengan pemaparan materi dari narasumber, sharing dari para alumni. Pada sesi pertama,dengan focus pada Arah Dasar KAJ, Romo I.Swasono SJ selaku narasumber menekankan bahwa Allah yang Maharahim itu membawa kita pada pengampunan. Mengutip pendapat Bapa Suci Paus Fransiskus, Swasono menegaskan “kasih itu diwujudkan dalam kehidupan konkret, yaitu kasih Allah sendiri. Bapa Suci juga mengajak agar kita gembira apapun masalahnya”.

Pastor Swasono mengharapkan agar setiap PMKAJ membuat renstra masing-masing, mengadakan monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan pada akhir tahun sebelum merencanakan program tahun berikutnya.

Peter Kasenda, salah satu aktivis PMKAJ membawakan materi sesi kedua dengan tema “Muda dan Merdeka”, refleksi PMKAJ dulu dan sekarang. Kasenda menggunakan moment ini untuk membagikan pengalaman dalam karyanya dari awal terbentuknya PMKRI yang lebih mengarah ke politik dan PMKAJ sekarang yang lebih mengarah ke spiritual.

Sesi saat berbagi pengalaman bersama kakak-kakak alumni PMKAJSesi saat berbagi pengalaman bersama kakak-kakak alumni PMKAJ

Pembicara lain adalah RD. Antonius Didit Soepartono, menjelaskan inti dari “Muda dan Merdeka”. Menurut Pastor Antonius, “Adapun tantangannya dewasa ini adalah bagaimana menjadi seorang Mahasiswa Katolik, yaitu dengan memanfaatkan media sosial dengan baik dan benar serta tahu arah Gereja, yaitu sebagai gerakan umat Allah yang membawa Kerajaan Allah yang Maha Rahim dan saling melayani”, demikian harapannya.

Lebih lanjut Pastor Soepartono memberikan kiat menyuarakan “Muda dan Merdeka” ini kepada teman-teman di KMK di setiap kampus. “Kita harus menjadi gembala yang baik, jangan putus asa dan terus ajak mereka agar tetap aktif”.

Dalam temu mahasiswa ini disediakan juga sesi khusus untuk sharing. Beberapa alumni didaulat untuk membagikan pengalaman mereka  DR.MF.Christiningrum,Ak,Ca, salah satu alumni PMKAJ mengharapkan agar anak muda harus berani bermimpi. Menurut Christin “mimpi itu gratis! Jangan memperdulikan mimpi orang lain”. Dia juga mengajak segenap anggota PMKAJ agar memiliki kemampuan  membuat prioritas, mengembangkan potensi diri dan mampu menghasilkan focus.

Alumni lain yang diberi kesempatan untuk membagi pengalaman adalah Veronica Rintar Hutagalung, SIK. Seperti pembicara sebelumnya, Oni juga menitipkan beberapa harapan.  “Milikilah cita-cita sesuai hobi, jangan takut lelah, sakit, lapar, berpikirlah yang positif, banyak membantu orang susah, dan banyak berdoa serta berpegang pada Tuhan saja. Adapun pentingnya berjejaring, yaitu membawa manfaat penting bagi kehidupan terutama untuk masa depan kaum muda dalam dunia bisnis. Hal terpenting adalah persahabatan yang harus dibina terus menerus” demian pesannya.

Peran serta orang muda Katolik khususnya para mahasiswa Katolik di Jakarta dalam kehidupan bermasyarakat, menjadi suatu perhatian yang penting bagi Gereja saat ini. Kaum muda diajak untuk semakin berbakti, bukan hanya kepada sesama, tapi juga kepada masyarakat luas dan bangsa dengan mengamalkan Pancasila dan menikmati kemerdekaan bersama Allah dengan semangat muda.

Penulis berita:

Anastasia Meiske (Keke) Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi dan Sekretari Tarakanita, Program Studi D3-Sekretari, angkatan 2014. Theresia Lourencia (Tere). Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi dan Sekretari Tarakanita, Program Studi D3-Sekretari, angkatan 2015.

Editor: RD. Kamilus Pantus

Kredit Foto: Temu Mahasiswa Katolik KAJ

IYD 2106 di Manado: Live in Tiga Hari di Keluarga-keluarga Katolik dan non Kristiani di sejumlah Paroki

Masyarakat lokal dan ribuan umat katolik Gereja St. Antonius Padua Paroki Tataaran, Tondano menyambut gembira kedatangqan kontingen Keuskupan Tanjungkarang Lampung berjumlah 58 orang. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

BEGITU tiba di Manado, para rombongan IYD dari Keuskupan-keuskupan se-Indonesia dijemput oleh panita paroki dan dibawa ke paroki untuk live in di rumah-rumah umat. Rombongan itu ada yang disertai oleh para suster, romo bahkan uskupnya. Saya melihat di Facebook resmi IYD Manado, Mgr. Pius Riana Prabdi berfoto bersama umat yang menyambutnya. Foto-foto dari rombongan yang datang dengan mudah bisa dilihat di FB resmi IYD itu.

Mereka secara resmi live in di tengah umat selama tiga hari yaitu tanggal 1-3 Oktober. Namun kalau peserta sudah datang tanggal 29 atau 30 September, berarti mereka live in selama  4-5 hari. Ada seorang peserta yang live in di Paroki Tomohon dan memasang status di FB: “Bersama bapak angkat…mengunjungi pasar ekstrim di Tomohon.”

Dan ditunjukkan foto pasar yang menjual  ular, tikus, anjing, kelelawar dll.  Jadi dia so punya bapak angkat dang, deng mama angkat lei ada sto.  Yang menarik adalah mengetahui mereka buat apa saja selama live in itu.  Tentu maksud dari live in ini ialah untuk mengenal hidup keseharian dari umat dan mengenal lebih dekat orang-orang Manado, budayanya, makanannya, kegiatannya, lingkungan alam dan sosialnya; serta kegiatan-kegiatan rohani di wilayah Rohai, stasi dan paroki.

Besok hari Minggu, tanggal 2 Oktober pastilah semua peserta IYD masuk gereja di tempatnya live in. Kalau ada pastor atau romo dalam rombongan itu, mungkin merekalah yang diminta memimpin misa dan peserta IYD ambil bagian dalam liturgi, mungkin menyanyi koor atau ikut menyanyi atau membaca Kitab Suci.

Efek dari perjumpaan peserta IYD yang datang dari pelbagai wilayah di seluruh Indonesia dengan umat paroki tempat mereka live in ini pastilah sangat besar dan memberikan kesan yang berguna bagi masing-masing pihak. Pastilah sangat menarik bila kita bisa mendapatkan satu dua contoh dari pengalaman mereka. Tidak mungkinlah mengangkat dan melaporkan apa yang tejadi karena begitu banyaknya peristiwa yang harus diliput.

Namun yang perlu disadari adalah kemungkinan untuk membuat acara dan kegiatan yang bisa membuyarkan maksud live in ini. Saking ramahnya tuan rumah, maka bisa jadi mereka yang mau live in malah diajak jalan-jalan di tempat-tempat wisata yang sudah terkenal seperti Pulau Bonaken; Patung Yesus Memberkati, Bukit Kasih; Danau Tondano,  Danau Linau, Kelong atau Pulau Lembeh. Alih-alih mau live in dan mengenal kehidupan harian umat, malah mereka diajak jalan-jalan.

Bukan salahnya peserta IYD tapi salahnya tuan rumah yang terlalu ramah menyambut tamu. Semoga hal itu tidak terjadi, tetapi kalau terjadi tentu panitia tidak bisa buat apa-apa karena sudah terjadi. Apalagi kalau mereka berfikir, kapan lagi bisa sampai ke Bonaken dan Bukit Kasih kalau bukan sekarang mumpung IYD. Semoga semua pihak bisa menahan diri.

Sejauh saya pantau dari FB, rupanya diselenggarakan juga penyambutan resmi di pusat paroki dengan acara yang disiapkan panggung, ada baliho selamat datang peserta IYD dari keuskupan tertentu, dan pastilah kalau ada acara seperti itu, maka ada makan-makan ala Manado. Mungkin panitia lokal di setiap paroki mempunyai kreativitasnya masing-masing tergatung dari keputusan rapat koordinasi, termasuk mungkin mengundang bapak atau ibu pendeta, bapak ustad atau Bapak haji dan pejabat pemerintahaan. Mungkin kreativitas yang sama dengan ketika Perarayakan Salib IYD terulang lagi dalam peristiwa live in IYD ini.

Sementara mereka masih live in tenang-tenang di paroki, maka tuan rumah yang akan menjadi tempat berkumpul dari tanggal 4 sampai tanggal 6 Oktober sedang siap berbenah. Saya tinggal di kompleks Seminari Tinggi Hati Kudus Pineleng yang katanya akan menampung 700 peserta dari 10 Keuskupan.

Kamar-kamar para  frater akan dipakai untuk tidur peserta puteri; satu kamar tiga orang; dan peserta putera akan tidur di ruang-ruang kuliah yang sudah dilapisi karpet merah. Disiapkan juga tempat mandi umum yang hanya dipakai untuk kesempatan itu saja. Demikian pula Biara MSC dan rumah Pra-Novisiat MSC disiapkan untuk menerima peserta IYD sesuai dengan yang sudah diatur oleh panitia. Ada pula yang akan ditempatkan di kompleks sekolah Paroki Pineleng, Biara Suster DSY dan Sentrum Agraris Lotta.

Tidak kalah sibuknya yang menyiapkan tiga tempat pertemuan besar yaitu Gedung Olah Raga KONI; Lapangan Sepak Bola Stadion Klabat tempat misa pembukaan dan Amphiteater di Lotta. Mereka juga sedang menyiapkan dan merapikan semua yang diperlukan supaya acara yang sudah disiapkan oleh Panita dapat berjalan dengan lancar.

Kemarin dan hari ini cuaca sudah baik. Kemarin agak mendung tetapi tidak hujan, tadi malam langit Manado berbintang; pagi tadi cerah dan sampai siang ini langit tetap biru. Ada awan tipis-tipis di sana-sini, semoga awan itu pergi menjauh dibawa angin. Kita semua perlu banyak berdoa dengan rendah hati, semoga biarpun kita semua orang berdosa, namun doa-doa kita dikabulkan oleh Tuhan untuk memohkan cuaca yang baik sepanjang pelaksanaan IYD ini.

Doa yang dipanjangkan pasti sangat banyak dan berasal dari mana-mana. Para orangtua, paroki dan keuskupan tempat asal peserta IYD pastilah selalu mendoakan anak-anak mereka. Demikian pula tuan rumah di Keuskupan Manado pastilah berdoa untuk mohon cuaca yang baik. Apalagi sekarang sudah mulai bulan Oktober, Bulan Rosario.

Doa rosario sudah mulai bergulir dari rumah ke rumah di setiap wilayah rohani dan malam ini sudah mulai dengan keluarga yang mendapat giliran pertama. Pastilah peserta live in itu juga ambil bagian dalam doa-doa rosario itu.

Masyarakat lokal dan ribuan umat katolik Gereja St. Antonius Padua Paroki Tataaran, Tondano menyambut gembira kedatangqan kontingen Keuskupan Tanjungkarang Lampung berjumlah 58 orang. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)Masyarakat lokal dan ribuan umat katolik Gereja St. Antonius Padua Paroki Tataaran, Tondano menyambut gembira kedatangqan kontingen Keuskupan Tanjungkarang Lampung berjumlah 58 orang. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Dengan senang hati,  saya menuliskan cerita di atas ini semoga bisa menjadi informasi bagi anda semua yang jauh dari Manado. Kita doakan dengan perantaraan Bunda Maria, semoga Allah Bapa – Putera – dan Roh Kudus memberkati Pertemuan IYD 2016 di Manado ini dengan cuaca yang baik, semua berjalan aman, tertib, lancar dan mendatangkan banyak berkat yang melimpah. Amin.

Romo Albertus Sujoko MSC berasal dari Paroki Purwosari. Tamat dari Seminari Pineleng (1983-1990), ia memperoleh gelar doktor teologi di Universitas Alfonsiana, Roma. Pernah menjabat Ketua STF Seminari Pineleng (2003-2011) dan sekarang Ketua Program Imamat untuk para frater MSC Seminari Hati Kudus Pineleng.

Sumber: Sesawi.net

5 pencarian oleh pembaca:

  1. Tempat Live in kontingen keuskupan ambon
Tags : , , , , ,

Euforia Perjumpaan Orang Muda Katolik Indonesia di IYD Manado 2016

img_20161001_080228_191Euforia Perjumpaan Orang Muda Katolik Indonesia di IYD Manado 2016 0By admin onOctober 1, 2016KWIEuforia Indonesian Youth Day (IYD) atau pertemuan orang muda katolik Indonesia seolah bergema ke pelosok nusantara. Sukacita perjumpaan seolah menular ke semua OMK, sesuai teman yang diangkat : Orang Muda Katolik Sukacita di tengah masyarakat yang majemuk.

Di media sosial telah berseliweran foto dan video yang menggambarkan sambutan meriah panitia IYD kepada kontingen OMK yang tiba di Manado.

Kontingen IYD dari 37 keuskupan satu persatu mendarat dan mendapat sambutan meriah dan hangat dari panitia maupun umat paroki tempat OMK live in.

Salah satu kontingen IYD Manado 2016, OMK Keuskupan Weetebula, Sumba tiba di Bandara Udara Sam Ratulangi, Rabu malam (28/9/2016).

“Sangat ramah dan akrab. Panitia dan umat paroki menyambut kami dengan hangat,” ujar Romo Pendamping OMK Keuskupan Weetebula Benyamin Leti Galli,Pr yang datang bersama 40 OMK dan 4 romo pendamping.

Pertemuan Orang Muda Katolik Indonesia (IYD) sendiri menjadi sarana bagi orang muda katolik untuk bertemu dan berbagi kisah dengan mengedepankan nilai-nilai positif di tengah masyarakat yang semakin modern dan majemuk.

Tahun ini, adalah penyelenggaraan kedua, setelah 4 tahun sebelumnya diselenggarakan di Sangau- Kalimantan Barat.

Tahun ini Manado menjadi tuan rumah pesta akbar berkumpulnya orang muda katolik Indonesia. Kurang lebih 3000 OMK akan turut dalam rangkaian kegiatan yang  berlangsung selama satu pekan, 1-6 Oktober mulai dari  live in, misa pembukaan, parade, seminar dan beberapa acara lainya seperti taize, dan pentas seni lalu ditutup dengan misa penutup.

GO…GO IYD, GO…GO IYD….

Orang Muda Katolik se-Indonesia Banjiri Kota Manado

img-20161001-wa0029Orang Muda Katolik se-Indonesia Banjiri Kota Manado 0By admin onOctober 1, 2016KWI

Kota Manado, Sulawesi Utara sejak Kamis (29/9/2016) mulai dibanjiri Orang Muda Katolik (OMK) yang berasal dari 37 Keuskupan seluruh Indonesia. Kehadiran mereka untuk Indonesian Youth Day 2016 yang berpusat di Keuskupan Agung Manado.

Salah satu kontingen yang hari ini, Sabtu (1/6/2016) tiba di Kota Nyiur Melambai adalah Keuskupan Palangkaraya. Sambutan meriah dan hangat diberikan sejak mulai di bandara hingga di Paroki Raja Damai Manado.

“Kami gembira dan terharu atas sambutan ini. Kami tidak menyangka akan disambut semeriah ini,”ungkap Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Palangkaraya, RD. Bernardinus Penta.

Romo Penta membawa pasukan sebanyak 52 Orang Muda Katolik dan 5 romo pendamping. Mereka akan disebar ke 1 pusat paroki, 2 stasi dan 17 wilayah rohani di Paroki Raja Damai Manado.

Tari DadasPesta penyambutan diikuti oleh ratusan OMK dan umat paroki Raja Damai Manado. Gerak tari dan lagu mengisi acara pesta sambut.

OMK Paroki Raja Damai Manado mempersembahkan lagu-lagu dengan diiringi alat musik khas Manado, Kolintang. Sementara OMK Palangkaraya meski baru tiba, mereka dengan sigap turut menghibur umat dengan 4 tarian sekaligus. Salah satu tari yang dibawakan adalah Tari Dadas. Tari Dadas merupakan tarian khas Dayak, yakni sebuah tarian untuk memohon rahmat dan kesembuhan dari Sang Pencipta.

Romo Penta berharap melalui IYD ini, OMK yang dikomandoinya dapat membaur dengan masyarakat Manado. Dan sekembalinya dari Manado mereka dapat menjadi motor penggerak bagi OMK di paroki masing-masing.

“Iya, saya sangat berharap mereka dapat membaur dengan masyarakat Manado. Dan setelah selesai mereka dapat menjadi motor penggerak untuk kegiatan-kegiatan ketekis dan pelayanan di paroki masing-masing,”harap RD. Penta

Selain itu, lanjut romo Penta “OMK Palangkaraya yang berasal dari 23 paroki dapat terbuka wawasannya tentang daerah lain sehingga menambah ilmu dan pengetahuan mereka.”

“Melalui sarana pertemuan ini, OMK Palangkaraya tidak akan terkungkung pada pikiran mereka sendiri tapi terbuka akan hal-hal baru,”pungkas RD.Bernardinus Penta.

Keterangan Foto : Tari Dadas dibawakan kelompok OMK Keuskupan Palangkaraya dalam acara penyambutan di Paroki Raja Damai Damai / Foto : Retno Wulandari – Komsos KWI

Orang Muda Menghidupi Iman Katolik (Catatan Menjelang Indonesian Youth Day 2016)

Perjalanan OMK Kei Kecil dan Kota Tual menuju Manado/ Foto: Natalis K. LeisubunPerjalanan OMK Kei Kecil dan Kota Tual menuju Manado/ Foto: Natalis K. LeisubunOrang Muda Menghidupi Iman Katolik (Catatan Menjelang Indonesian Youth Day 2016) 0By John L. Wujon onSeptember 27, 2016Editorial

TIDAK lama lagi, tepatnya tanggal 1 – 6 Oktober nanti, Indonesian Youth Day atau Hari Orang Muda Katolik Indonesia akan segera dilaksanakan. Manado, kota yang jadi pusat penyelenggaraan IYD 2016 bakal didatangi oleh sekitar 3000 Orang Muda Katolik dari 37 keuskupan di Indoensia. Kehadiran OMK Indonesia dalam peristiwa akbar 5 tahunan ini, tentu sudah ditunggu-tunggu terutama karena berbagai persiapan telah dilakukan jauh-jauh hari.

Menarik bahwa tema yang dipilih untuk IYD 2016 disesuaikan dengan konteks Indonesia kekinian, yakni keragaman dalam berbagai aspek kehidupan entah itu suku, agama, dan bahasa. “Sukacita Injil di Tengah Masyarakat Indonesia yang Majemuk”.

Tentu bukan tanpa alasan tema seperti itu dipilih dan digelorakan oleh OMK Indonesia. Nampaknya, Gereja Katolik Indonesia menyadari ada sebuah kebutuhan besar yang harus segera ditanggapi berkenaan dengan permasalahan heterogenitas Indonesia. Penolakan terhadap perbedaan sosiologis terutama agama dan kepercayaan menjadi tantangan serius yang dihadapi oleh Gereja, terutama OMK Indonesia. Persoalannya adalah bagaimana Sukacita Injil itu dapat digelorakan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Dalam buku Seri Dokumen Gerejawi No. 86 (2008) yang berbicara tentang Pluralisme, khususnya pluralisme kultural dan religius disebutkan bahwa kini kita berhadapan dengan pluralisme kultural dan religius, yang sampai sekarang belum dialami sedemikian dalam. Di satu pihak, terdapat langkah yang lebih besar terjadi keterbukaan di dalam dunia yang didukung sarana teknologi dan media massa. Akibatnya, nilai-nilai kultural dan religius yang secara tradisional saling berbeda dan asing, kini saling berjumpa dan bahkan saling terkait. Di lain pihak, timbul kebutuhan akan identitas lokal untuk melihat dalam kekhususan kultural setiap orang sebagai sarana realisasi diri.

Berhadapan dengan realitas seperti itu, OMK Indonesia diajak untuk bisa mengembangkan diri, menumbuhkan solidaritas, peka terhadap tantangan-tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini. Kompleksitas permasalahan kebangsaan seperti kemiskinan, kerusakan lingkungan, penyalahgunaan narkoba, ketimpangan ekonomi, konflik sosial juga menuntut kesadaran sosial OMK Indonesia agar cepat tanggap.

IYD 2016 kiranya dapat menjadi sarana bagi Gereja Katolik untuk menyatakan pesan Kristus kepada orang-orang muda, memberikan kesempatan bagi OMK untuk saling mengenal dan mencintai keragaman adat istiadat, suku, agama dan bahasa, menumbuhkan semangat kesatuan dengan tetap menghargai kemajemukan baik di dalam Gereja Katolik dan Bangsa Indonesia.

Lebih dari itu, dengan semangat IYD 2016 OMK Indonesia diharapkan dapat menjadi seperti Kedua Belas Rasul Yesus pada pagi Pentekosta, yang sanggup melihat di hadapannya sejumlah besar orang yang membutuhkan Injil dan punya hak untuk menerima Sukacita Injil. Kepada OMK Indonesia, selamat dan sukses merayakan IYD 2016!