Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Daya Jangkau Kasih

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 11:18
===========================
“Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.”

kisah para rasul“Hari gini masih ada blank spot..” omel seorang teman pada suatu kali ketika telepon genggamnya tidak menerima sinyal ketika berada di sebuah lokasi yang agak terpencil. Meski para provider seluler terus berusaha menambah BTS agar daya jangkau mereka bisa lebih luas lagi menjangkau pelosok-pelosok terpencil, tetap saja masih ada beberapa bagian Indonesia ini yang belum terjamah. Kemampuan daya jangkau sinyal sangatlah menentukan bagi kita yang memakai gadget-gadget modern. Jangkauan wi-fi misalnya, itupun penting untuk diperhatikan, agar kenyamanan dalam menggunakan laptop atau netbook bisa maksimal. Saya sendiri mempergunakan wi-fi di rumah agar saya bisa bekerja menulis artikel dan renungan dari setiap sudut rumah. Hidup saya yang penuh dengan aktivitas menulis membuat kebutuhan akan wi-fi ini menjadi sangat penting bagi saya. Hal ini menimbulkan pemikiran bagi saya, sudah sejauh mana luasnya daya jangkau kasih kita untuk menyentuh orang lain? Apakah masih berkutat dalam area sempit, hanya diantara keluarga, sanak saudara atau kerabat dekat, atau sudah lebih luas lagi menyentuh orang-orang di lingkaran yang lebih jauh? Atau jangan-jangan kerabat dekat atau keluarga sekalipun belum memperoleh “sinyal” kasih kita sama sekali.

Di zaman dulu ketika jemaat mula-mula mulai tumbuh, mereka pun awalnya hidup dengan jangkauan kasih yang sempit. Sebagai orang Yahudi, mereka merasa keselamatan hanyalah milik mereka dan akibatnya mereka merasa superior dan memandang rendah orang-orang yang berada diluar lingkar mereka. Masuk ke rumah orang non Yahudi saja sudah dianggap haram, apalagi makan dan membaptis mereka. Jelas itu merupakan dosa besar di mata mereka. Kita bisa membaca gambaran ini dengan jelas dalam Kisah Para Rasul 11:1-18. Disana kita bisa melihat bagaimana mereka menghujat Petrus yang pergi ke rumah orang-orang bukan Yahudi dan membaptis mereka. Begitu besar masalah itu bagi mereka sampai-sampai Petrus harus menjelaskan panjang lebar mengapa dia melakukan itu. Apa yang dijelaskan Petrus? Ia menjelaskan bahwa masalah halal dan haram itu adalah urusan Tuhan, sehingga kita tidak boleh mengubahnya sesuai pemikiran kita. Suara Tuhan turun kepada Petrus berbunyi: “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram!” (Kisah Para Rasul 11:9). Tidak hanya sekali, hal yang dialami Petrus itu ternyata diulang sampai tiga kali. (ay 10). Pesan yang diulang-ulang menunjukkan bahwa apa yang diingatkan Tuhan ini sangatlah penting mengingat kecenderungan manusia yang begitu mudah menghakimi dan menganggap diri paling benar. Ketika Petrus menjumpai orang-orang non Yahudi dan masuk ke rumah mereka, kita kemudian melihat bahwa lawatan Roh Kudus turun atas mereka, sama seperti kepada orang-orang Yahudi. “Dan ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita.” (ay 15). Lihatlah bahwa lawatan Roh Kudus Tuhan curahkan secara sama. Petrus menyaksikan hal ini secara nyata, dan jelas hal ini merubah paradigma yang selama ini ia pikir sebagai sesuatu yang benar. Petrus pun berkata “Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?” (ay 17). Dan ketika hal ini ia jelaskan kepada orang-orang Yahudi yang menghujatnya, mereka pun akhirnya bisa mengerti akan hal itu. “Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.” (ay 18). Allah tidak tertarik untuk bersikap eksklusif. Yesus turun ke dunia membawa keselamatan bukan hanya untuk segelintir orang saja, tetapi untuk semua orang tanpa terkecuali. Dia bahkan terus mengetuk pintu hati setiap manusia agar mau mendengarkan panggilan keselamatan. “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” (Wahyu 3:20).

Paulus juga mengingatkan hal yang sama, agar kiranya sebagai orang-orang percaya kita jangan sampai meletakkan diri secara eksklusif dan menganggap orang-orang lain sebagai musuh yang sudah sepantasnya binasa. Dia menegaskan bahwa apabila bagi kita keselamatan itu sudah dianugerahkan, hal yang sama pun berlaku bagi mereka yang lain pula.  “Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.” (Roma 10:12). Ia lebih lanjut mengatakan, “Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.” (ay 13). Kata siapapun artinya berlaku bagi semua orang tanpa terkecuali. Tetapi ingatlah, “..bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?” (ay 14). Sesungguhnya ini penting untuk kita renungkan. Apakah dengan bersikap ekslusif kita mampu menyampaikan Injil keselamatan kepada orang lain? Apakah ada orang yang bisa mengenal Kristus jika tidak ada yang memberitakannya? Apakah kita tidak berperan akan hal ini? Perhatikan, ini seharusnya menjadi tugas kita, orang-orang yang mengemban Amanat Agung sesuai yang digariskan Kristus sendiri. Dengan menganggap diri sendiri paling layak sedang yang lain tidak itu artinya kita memasang batas lingkaran kasih dengan sinyal yang begitu sempit daya jangkaunya. Dan apabila ini kita lakukan, maka kita tidak akan pernah menjalankan tugas kita seperti yang diperintahkanNya.

Lihatlah Yesus berkata bahwa bukan saja orang yang baik yang mendapat anugerah Tuhan, tetapi orang jahat pun tidak luput dari perhatian dan kepedulianNya. “..kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Matius 5:45). Perhatikan pula kata Yesus berikutnya.  “Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?” (ay 46-47). Semua ini jelas menjadi peringatan bagi kita agar tidak bersikap eksklusif dan mementingkan diri sendiri. Jelas, lingkaran atau daya jangkau kasih kita harus diperluas, tidak hanya mampu menjangkau keluarga atau teman-teman saja, tetapi orang asing yang tidak kita kenal sekalipun seharusnya mampu merasakan jamahan Tuhan lewat diri kita. Sebab kalau bukan kita, siapa lagi? Mengalirkan kasih kepada orang lain sesungguhnya sangat penting, karena “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:8).

Siapkah kita memperluas daya jangkau kasih kita? Maukah kita memiliki sinyal kasih yang mampu menerobos tembok-tembok pembatas atau penghalang yang selama ini membuat kita enggan untuk menjangkau orang-orang asing? Mampukah kita keluar dari zona nyaman kita dan mulai belajar untuk berinteraksi dengan orang dalam jarak jangkau yang lebih luas? Maukah kita membangun persahabatan dengan orang-orang yang berbeda suku, agama, ras, budaya, status sosial dan sebagainya? Ini penting untuk kita tanamkan, sebab keselamatan bukan hanya milik kita semata, tetapi kesempatan yang sama juga Tuhan berikan kepada orang-orang lain. Jika kita bisa selamat, mereka pun bisa. Dan di pundak kita tugas itu disematkan. Sekarang saatnya bagi kita untuk memperluas pergaulan kita agar bisa menjangkau mereka yang masih berada jauh diluar keselamatan. Seberapa banyak kita bisa menjadi berkat bagi sesama akan sangat ditentukan dari seberapa luas jangkauan kasih yang kita miliki.

Luasnya jangkauan tergantung dari sejauh mana sinyal kasih yang kita miliki

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

19 Agustus

“Hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?"
(Rut 1:1.3-6.14b-16.22; Mat 22:34-40)

“Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: "Guru, hokum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22:34-40), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:

•       Dalam kehidupan bersama bidang apapun telah diberlakukan atau diundangkan aneka tata tertib atau aturan yang diharapkan dilaksanakan atau dihayati oleh mereka yang berada dalam kebersamaan tersebut.
Namun jika dicermati nampaknya banyak tata tertib tinggal dalam tulisan yang rapi, kurang diperhatikan dan dihayati. Semua tata tertib atau aturan hemat saya dibuat dan diberlakukan dalam dan oleh kasih serta diharapkan mereka yang melaksanakan hidup dan bertindak saling mengasihi, maka marilah kita sikapi dan hayati aneka tata tertib atau aturan dalam dan oleh kasih; kita hayati dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tubuh. “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu seperti dirimu sendiri”, demikian sabda Yesus. Sabda ini kiranya dapat menjadi pedoman atau acuan kita dalam saling mengasihi dalam rangka melaksanakan aneka tata tertib atau aturan hidup bersama. Kami percaya bahwa setiap dari kita pasti mengasihi diri sendiri dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga, maka baiklah cara mengasihi diri ini kita teruskan dalam mengasihi sesama kita dimanapun dan kapanpun. Sekali lagi saya mengajak para suami-isteri atau bapak ibu yang memiliki saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh untuk dapat menjadi teladan dalam saling mengasihi bagi anak-anaknya. Kepada para pemimpin atau tokoh agama kami harapkan juga menjadi teladan dalam saling mengasihi bagi umatnya, dan marilah kita bangun dan perdalam kehidupan saling mengasihi antar umat beragama. Marilah kita meneladan para pendiri bangsa kita yang terdiri dari aneka perbedaan SARA bersatu padu melangkah dan maju bersama.
•       "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam:
bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku” (Rut 1:16), demikian kata Rut kepada Naomi. Apa yang dikatakan oleh Rut ini kiranya dapat menjadi acuan atau pedoman hidup kita; suatu kesaksian iman perihal hidup persaudaraan atau persahabatan sejati. Persaudaraan atau persahabatan sejati kiranya masih mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebar-luaskan pada masa kini,  mengingat dan memperhatikan masih maraknya aneka permusuhan dan tawuran yang membawa korban di sana-sini. Salah satu cara yang utama dan terutama dalam membangun dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan adalah menghayati apa yang sama di antara kita, sehingga apa yang berbeda antar kita akan fungsional menghayati persaudaraan atau persahabatan. Maka marilah kita cari dan hayati apa yang sama di antara kita dengan kerjasama dan gotong-royong. Pertama-tama marilah kita hayati sebagai manusia, ciptaan terluhur dan termulia di dunia ini, yang diciptakan sebagai gambar atau citra Tuhan. Marilah kita saling berkomunikasi, bercakap-cakap dan bercurhat. Ada aneka macam bahasa dimana ada kemungkinan kita tidak saling tahu satu sama lain, tetapi ingatlah dan sadari bahwa ada bahasa yang sama di antara kita yang berlainan, yaitu bahasa tubuh, sebagai anugerah Tuhan. Maka baiklah kita tidak melupakan bahasa tubuh ini dalam berkomunikasi serta membangun dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan sejati. Sekali lagi kami ajak untuk mengenangkan hari Kemerdekaan Negara kita NKRI dengan merenungkan dan menghayati sila ketiga dari Pancasila “Persatuan Indonesia”, dan semoga kita bangsa Indonesia, yang terdiri dari aneka suku dan bahasa bersatu padu membangun bangsa tercinta.

“Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya: Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya, yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung, TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar.” (Mzm 146:5-8)

Ign 19 Agustus 2011

HR TRITUNGGAL MAHAKUDUS: Kel 34:4b-6.8-9; 2Kor 12:11-13; Yoh 3:16-18

“Setiap orang yang percaya kepadaNya tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup kekal”

HR TRITUNGGAL MAHAKUDUS: Kel 34:4b-6.8-9; 2Kor 12:11-13; Yoh 3:16-18

Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu”, itulah peribahasa untuk menggambarkan bagaimana panjang, lebar, dalam dan luasnya hati orang yang sedang saling mengasihi satu sama lain. Orang yang sungguh saling mengasihi berarti sehati dan sebudi, dan kiranya kata-kata tak akan mampu menjelaskan pengalaman indah, mesra dan nikmat dalam saling mengasihi, karena kasih memang bebas alias tak terbatas, tak mungkin terfahami oleh otak atau pikiran kita yang terbatas ini. Kasih sejati adalah Allah dan Allah adalah kasih; sebagai ciptaan Allah kita semua tak akan mampu memahami secara akal sehat siapa itu Allah, namun dalam pengalaman iman, harapan dan kasih kita dapat menikmatiNya, menghayati dan menikmati kasih Allah yang melimpah ruah. Hari ini adalah Hari Raya Tritunggal MahaKudus, hari untuk mengenangkan iman kita akan  Allah Tritunggal: Bapa, Putera dan Roh Kudus. Penjelasan perihal Tritunggal kita terima dari Yesus, dan apa yang disabdakan atau disampaikan mungkin sulit atau tak mungkin kita fahami dengan akal sehat, dan hanya dapat difahami dalam iman, harapan dan kasih; maka marilah dalam iman, harapan dan kasih kita renungkan sabdaNya pada hari ini, sebagaimana dikatakan oleh penginjil Yohanes.

Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia menganugerahkan AnakNya yang tunggal, supaya orang yang percaya kepadaNya tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup kekal” (Yoh 3:6)

Sebut saja namanya ‘Anton’, yang tergerak atau berminat untuk menjadi imam alias setelah menyelesaikan SMP ia ingin masuk ke Seminari Menengah. Namun karena ia adalah anak tunggal, maka dengan keras kedua orangtuanya melarang; ia adalah satu-satunya anak yang terkasih, maka kalau menjadi imam dengan demikian putuslah keturunan orangtuanya. Mempersembahkan anak tunggal kepada Allah untuk menjadi imam, yang diharapkan membaktikan diri seutuhnya demi keselamatan jiwa sesamanya, sungguh berat, dan memang butuh pengorbanan.  Kiranya jika Anton sungguh menjadi imam pasti cukup banyak orang yang kenal dia maupun orangtuanya akan merasa tak mampu memahami lubuk hati terdalam Anton.

Allah Tritunggal Mahakudus yang adalah ‘Kasih’ kiranya juga sulit difahami oleh banyak orang dengan akal sehat saja, namun bagi mereka yang percaya kepadaNya pasti akan faham dan menikmatinya. Allah adalah maha segalanya, maka hanya iman kepercayaan sepenuhnya kepadaNya akan memahami. Memang orang yang tidak percaya tak akan mampu memahami, bahkan sering mengejek atau mencemoohkan orang-orang Kristen dan Katolik, antara lain dengan kata-kata “Katanya percaya kepada Tuhan Allah yang Maha Esa, sebagaimana dinyatakan di dalam Pancasila, tetapi gimana itu ada Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus? Berarti Allah orang-orang Kristen dan Katolik ada tiga”. Mendengar kata-kata macam itu jawab saja:”Allah adalah maha segalanya, maka Ia mau apa saja terserah, dan kita tak akan mampu memahami”. Saya sendiri ketika masih belajar di Sekolah Rakyat(SR), yang sekarang disebut Sekolah Dasar (SD), sering dalam perjalanan ke sekolah juga mendapat ejekan dari murid-murid sekolah Muhamadiyah/Islam, yang secara kebetulan sering berpapasan karena sekolah kami berdekatan. Ejekan yang pernah saya terima, maaf dalam Bahasa Jawa, adalah “Konjuk is asmo Dalem Hyang Romo, Hyang Putra, Hyang Suci, yang-yangan, yangmu dhewe”. Karena saya sendirian saja, maka ya diam saja, seraya berdoa dalam hati dengan harapan mereka tidak menyakiti secara phisik. Diejek dengan kata-kata tak ada yang berkurang sedikitpun pada diriku, justru ejekan tersebut merupakan penggemblengan imanku.

Maka dengan ini kami mengajak rekan-rekan umat Kristen dan Katolik atau yang percaya kepada Allah Tritunggal Mahakudus untuk menjadi saksi iman dengan hidup dalam persaudaraan atau persahabatan sejati, saling mengasihi, sebagai tanda atau bukti bahwa kita beriman kepada Allah Tritunggal Mahakudus. Hari Minggu yang lalu kita baru saja mengenangkan anugerah Roh Kudus dalam Hari Raya Pentekosta, maka baiklah tidak kita sia-siakan anugerah tersebut, artinya marilah kita hidup dan bertindak sesuai dengan dorongan atau bisikan Roh Kudus, yang tidak lain adalah Roh Allah  Bapa dan Putra/Anak. Dengan kata lain beriman kepada Allah Tritunggal Mahakudus berarti hidup dan bertindak dijiwai oleh Roh Kudus, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita berbuahkan keutamaan-keutamaan seperti “ kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,  kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Maka ketika kita menghadapi ejekan atau cemoohan perihal iman kita kepada Allah Tritunggal Mahakudus, marilah kita sikapi atau tanggapi dengan keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh Kudus di atas. Dengan menghayati anugerah-anugerah Roh Kudus tersebut, percayalah bahwa dengan demikian kita akan menikmati hidup kekal selamanya di sorga setelah meninggal dunia nanti.

Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera, maka Allah, sumber damai dan sejahtera, akan menyertai kamu. Berilah salam seorang kepada yang lain dengan cium yang kudus” (2Kor 13:11-12)

“Sehati sepikir dalam saling ciuman yang kudus” itulah ajakan bagi kita semua dari Paulus. Kiranya para suami-istreri atau bapak-ibu memiliki pengalaman mendalam dalam hal ini, sebagai pasangan hidup yang saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tubuh. Maka kami berharap para bapak-ibu dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam menahayati ‘sehati sepikir dalam saling ciuman yang kudus’ ini. Ciuman yang kudus merupakan tanda atau bukti saling mengasihi, saling mempersembahkan diri seutuhnya demi kebahagiaan dan kesejahteraan bersama. Saling mencium juga berarti merupakan tanda hidup dalam damai sejahtera. Hidup dalam damai sejahtera berarti hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah, sumber damai dan sejahtera.

Setiap kali bertemu dengan orang lain kita juga saling memberi salam, misalnya “selamat datang, selamat pagi, selamat berjumpa, berkat Tuhan (berkah Dalem), asalamualikum, dst..”. Memang ada kemungkinan pemberian salam tersebut hanya sopan santun atau formalitas belaka atau sungguh keluar dari lubuk hati yang terdalam sebagai tanda saling mengasihi. Tentu saja kami berharap saling memberi salam tersebut merupakan luapan hati yang saling mengasihi, sehingga sungguh saling meneruskan damai sejahtera yang dianugerahkan Allah kepada kita yang lemah dan rapuh ini. Dalam saling memberi salam sering  juga disertai dengan ciuman atau pelukan yang mesra dan nikmat, sehingga masing-masing merasa digairahkan hidupnya.

Hidup dalam damai sejahtera sejati, saling bersaudara dan mengasihi pada masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan, mengingat dan mempertimbangkan bahwa ada gejala saling menyandra dan menjatuhkan antar kelompok atau organisasi maupun pribadi di negeri tercinta ini.  Kami berharap kepada para tokoh hidup bersama di negeri kita tercinta ini sungguh dapat menjadi teladan dalam hidup damai sejahtera sejati, saling bersaudara dan saling mengasihi, sebagai bukti pengahayatan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila, dasar negara Republik Indonesia tercinta.

“Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah nenek moyang kami, yang patut dihormati dan ditinggikan selama-lamanya, terpujilah namaMu yang mulia dan kudus, yang patur dihormati dan ditinggikan selama-lamanya. Terpujilah Engkau dalam BaitMu yang mulia dan kudus, Engkau patut dinyanyikan dan dimuliakan selama-lamanya” (Dan 3:52-53)

 Ign  19 Juni 2011        

Bahasa Kasih Tuhan

Ayat bacaan: 1 Yohanes 4:21
=======================
“Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.”

bahasa kasihBeberapa waktu lalu saya membelikan istri saya seikat bunga mawar segar. Say it with flowers, begitu kata orang, dan saya pikir bunga mawar yang indah bisa menjadi perantara yang tepat untuk mengungkapkan cinta. Ia terlihat senang menerimanya dan segera memasukkannya ke vas bunga. Tetapi ternyata hanya sampai disitu saja, karena kemudian ia tidak lagi memperhatikan bunga itu sampai layu. Dari situ saya pun sadar bahwa bahasa kasih orang ternyata berbeda. Saya pikir bunga merupakan bahasa yang universal untuk menyatakan cinta, tetapi ternyata tidak. Istri saya memiliki bahasa kasih bukan dalam bentuk pemberian, tetapi ia lebih mementingkan perhatian, kepedulian dan keberadaan saya di dekatnya. Mau mendengarkannya, ada bersamanya ketika ia butuhkan, itulah yang akan membuatnya merasa dicintai. She’s far more interested in my time and attention more than anything else. Itulah bahasa kasihnya. Jika saya meluangkan waktu untuknya tanpa gangguan, jika saya berada didekatnya, ngobrol, jalan-jalan atau nonton bersama, itulah saat ia merasa benar-benar dikasihi.

Bahasa kasih orang berbeda-beda. Ada yang merasa dikasihi lewat pemberian/hadiah, ada yang butuh pujian/pengakuan, ada yang bahasa kasihnya berbentuk pelukan atau belaian, ada pula yang seperti istri saya lewat perhatian dan kepedulian. Bayangkan jika dua orang berbeda bahasa dipaksa berbicara satu dengan yang lain, komunikasi pastilah akan sulit berjalan. Seperti itu pula bahasa kasih. Agar kita bisa menyampaikan atau mengekspresikan rasa cinta kita secara maksimal, kita harus mengetahui bahasa kasih mana yang dipakai oleh pasangan kita.

Pernahkah anda berpikir bahasa kasih Tuhan seperti apa? Pernahkah anda berpikir apa yang Tuhan mau kita lakukan untuk menunjukkan kasih kita kepadaNya? Kita bisa melihatnya dalam 1 Yohanes 4:7-21. Perikop ini bertajuk Allah adalah kasih.” Disini Yohanes menguraikan panjang lebar mengenai bagaimana hubungan yang seharusnya antara Tuhan dan manusia atas nama kasih. Yohanes membuka bagian ini dengan sebuah ajakan penting: “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (ay 7-8).  Kasih bukan hanya karakter Allah, tetapi Allah adalah kasih itu sendiri. Yohanes lalu mengingatkan, “Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.” (ay 11). Pada dua ayat berakhir kita baca: Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (Ay 20) lalu “Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.” (ay 21). Firman ini jelas. Kita tidak bisa mengatakan mengasihi Allah sambil menyimpan kebencian dari sesama kita. That shows that we’re a liar, kata Firman Tuhan. Mengaku mengasihi Tuhan tetapi membenci orang lain tidaklah bisa berjalan bersamaan. Ternyata Tuhan akan merasa dikasihi lewat seberapa besar kita mengasihi saudara-saudara kita. He will feel our true love to Him by our willingness to love the others.Itulah bahasa kasih Tuhan.

Ada banyak orang yang mengaku mengasihi Tuhan. Mereka menyampaikannya lewat begitu banyak cara, gaya dan pola. Ada yang menunjukkannya lewat doa yang panjang-panjang, lewat kerajinan beribadah dan lain-lain. Tetapi perhatikanlah bahwa semua itu tidak akan ada gunanya apabila kita tidak mengasihi saudara-saudara kita dan masih menyimpan kebencian, bahkan terlalu mudah untuk menghakimi. Merasa tata caranya paling benar lalu menghina atau menghujat sesama saudara dalam Kristus yang berbeda gereja, itu menunjukkan bahwa kita belumlah mengasihi Tuhan, meski mungkin kita begitu rajin beribadah dan berdoa setiap saat. If you do that, the Bible said, “you’re a liar” (1 Yohanes 4:20). Pointless, useless. Meskipun rajin beribadah dan memuji Tuhan itu sangat baik, tapi tanpa mengasihi sesama maka kita tidak akan pernah berhak mengaku bahwa kita mengasihi Tuhan. Dua perintah Yesus yang terutama pun mengaitkan antara mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. (Bacalah Matius 12:28-34). Kata kuncinya adalah kasih. Itu merupakan esensi yang paling mendasar. Mengapa? Sebab Allah adalah kasih itu sendiri. God, is love. Itu jauh lebih berharga di mata Tuhan ketimbang segala tata cara peribadatan, segala yang hanya mementingkan penampilan luar dan sebagainya. Hati yang mengasihi orang lain, itulah yang bisa membuat Tuhan bisa merasa kita kasihi dengan sungguh-sungguh. That’s His language of love. Belajarlah mulai sekarang untuk memperbesar aliran kasih untuk menjangkau saudara-saudara kita. Hindari bentuk-bentuk ejekan, hinaan, sindirian atau kebencian terhadap saudara sendiri, karena Tuhan Yesus pun tidak pernah mengajarkan hal seperti itu. Dia justru ingin semua anggota tubuhNya bersatu, tidak tercerai berai. We’re a liar if we say we love Him but still hating each other at the same time. Do you love God? If so, love your brothers.

Tuhan mengetahui kita mengasihiNya dengan sungguh-sungguh ketika kita mengasihi saudara kita dengan sungguh-sungguh pula

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Menyatakan Kepedulian

Ayat bacaan: Filipi 2:2-3
===================
“karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri

kepedulianTeknologi seharusnya semakin mempermudah kita dalam berhubungan dengan orang lain, tetapi yang terjadi seringkali sebaliknya. Kita tidak lagi menganggap penting untuk bertemu karena toh bisa digantikan dengan telepon atau bahkan sms dalam karakter yang diusahakan sesingkat-singkatnya agar lebih hemat. Jika dulu kita memilih untuk bertemu dan memberi ucapan secara langsung pada momen-momen khusus tertentu, sekarang email, jejaring sosial maupun telepon genggam bisa menggantikan semua itu, bahkan kepada orang yang tinggalnya tidak jauh dari kita. Manusia menjadi semakin individualis dan egois. Akibatnya dunia menjadi semakin dingin dan jauh dari kesan hangat. Tanpa sadar kita orang percaya malah ikut-ikutan terkontaminasi dengan kecenderungan dunia. Membangun kubu-kubu, mempertegas garis batas perbedaan dan tidak lagi peka terhadap kepentingan orang lain. Kepada saudara-saudara seiman atau satu gereja saja sudah begitu, apalagi kepada orang lain di luar. Ketika kasih kita seharusnya bisa menjangkau orang asing atau bahkan musuh sekalipun, saat ini yang terjadi justru jauh dari itu. Bahkan untuk peduli kepada orang-orang terdekat sekalipun sudah merupakan sesuatu yang sulit bagi kebanyakan orang.

Dunia memang cenderung untuk terus membentuk manusia untuk bertambah egois dengan lebih mementingkan diri sendiri di atas segalanya. Orang terus merasa kekurangan dan merasa perlu terus menimbun. Mereka mengira bahwa kebahagiaan dan keamanan tergantung dari berapa besar harta yang dimiliki. Maka tidak heran ketika kita mendengar banyak orang yang berkata dengan mudahnya: “jangankan mengurusi orang lain dulu, untuk diri sendiri saja belum cukup.” Dunia boleh saja semakin cenderung kepada gaya hidup individualis dan egois, tetapi lihatlah apa kata firman Tuhan yang berbicara sebaliknya. “karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.” (Filipi 2:2-3). Sehati, sepikir, satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan, itu menggambarkan panggilan untuk bersatu dan bertindak bersama-sama seperti yang telah saya sampaikan dalam renungan kemarin. Selanjutnya lihatlah bahwa kita pun diminta untuk bersikap rendah hati dengan mengedepankan atau mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri. Sesungguhnya ini merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh orang-orang percaya, karena kasih yang kita miliki seharusnya mampu membuat kita untuk peduli kepada orang lain dan tidak berpusat kepada kepentingan diri sendiri. Ayat selanjutnya kemudian berkata “dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (ay 4). Kemarin kita sudah melihat penggalan doa Yesus yang mengangkat kerinduanNya akan persatuan di antara orang percaya sebagai hal yang menurut Yesus akan sangat menentukan seberapa besar dunia bisa percaya kepada Kristus: “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yohanes 17:21). Tidak kalah penting juga semangat dan cara pandang kita dalam menyikapi kepentingan orang lain dibanding kepentingan diri sendiri. Jika kita masih terus bersikap egois dan tidak peduli kepada orang lain, bagaimana mungkin orang bisa mengenal pribadi Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kita dengan benar?

 Peduli kepada orang lain seringkali tidak cukup hanya sebatas kata-kata, tetapi sebuah perbuatan pun diperlukan untuk membantu mereka secara nyata. Kerinduan untuk memberi bukanlah tergantung dari seberapa besar harta milik kita, tetapi seberapa besar kepedulian kita terhadap penderitaan orang lain. Dan seringkali tidak perlu jauh-jauh untuk itu, karena disekitar kita pun ada banyak yang orang yang membutuhkan uluran tangan kita. Dan Firman Tuhan pun mengajarkan kita untuk mau memberi dengan sukacita. “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:38). Dengan demikian, jelas tidak pada tempatnya jika kita berharap Tuhan mencurahkan berkatNya kepada kita tetapi kita tidak peka sama sekali dengan penderitaan orang lain. Kasih yang dicurahkan dari Surga harusnya mampu membawa kita untuk memiliki belas kasih kepada orang lain, bukan saja yang kita kenal tetapi juga pada yang asing bagi kita. Begitu pentingnya hingga dikatakan “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.” (Amsal 19:17). Memiutangi Tuhan, itu menggambarkan betapa pentingnya bagi kita untuk membantu dan memberi kepada yang kekurangan, sekaligus menunjukkan betapa besarnya Tuhan menghargai setiap anakNya yang memiliki rasa belas kasih dan mau menjalankannya secara nyata.

Firman Tuhan mengatakan bahwa Tuhan akan membalas setiap orang sesuai perbuatannya. “yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman.” (Roma 2:7-8). Hidup kekal kepada yang tekun berbuat baik dan hidup dalam kebenaran, tetapi murka dan geram kepada orang-orang yang sibuk mementingkan diri sendiri dan tidak peduli kepada penderitaan orang lain. Kerajaan Tuhan tidak akan bisa dinyatakan di dunia tanpa adanya kepedulian dari kita terhadap orang lain. Ketika dunia mengarah kepada bentuk-bentuk individualis dan egoisme, janganlah kita malah terseret ikut di dalam arusnya. Kita harus bisa menunjukkan perbedaan sebagai anak-anak Tuhan dan sahabat-sahabat Kristus, sehingga orang bisa melihat siapa Yesus itu secara benar. Menyambung apa yang sudah saya sampaikan kemarin, marilah kita bersatu dan bersama-sama memberi karya nyata di dunia, keluar dari batas-batas tembok gereja dan menjadi terang dan garam bagi sesama. Hanya dengan demikianlah kita bisa menyatakan besarnya kasih Tuhan kepada seluruh manusia.

Nyatakan kasih Kristus kepada dunia melalui perbuatan nyata untuk menolong orang lain

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

Minggu Biasa XXVIII – 2Raj 5:14-17; 2Tim 2:8-13; Luk 17:11-19


"Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? “

Mg Biasa XXVIII: 2Raj 5:14-17; 2Tim 2:8-13; Luk 17:11-19

 

“Trima kasih seribu, kepada Tuhan Allahku, kar’na dicinta, terima kasih…”, demikian kutipan dari sebuah lagu yang sering disenandungkan dalam berbagai kesempatan. Kata-kata itu begitu indah dan mulia, namun apakah hanya manis di mulut tetapi tidak menjadi nyata dalam penghayatan? Memperhatikan dan mencermati berbagai peristiwa, rasanya kata-kata tersebut hanya manis di mulut, tetapi tidak menjadi kenyataan dalam tindakan atau perilaku. Memang benar apa yang dikisahkan dalam Warta Gembira hari ini bahwa yang tahu berterima kasih pada umumnya mereka yang jauh atau orang asing, sedangkan mereka yang dekat sebagai saudara rasanya jarang melakukan terima kasih, entah dalam kata maupun tindakan. Maka juga benarlah kata sebuah pepatah “Dekat ditendangi, ketika jauh dicari”. Warta Gembira hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk senantiasa hidup dalam terima kasih dan syukur baik dalam kata-kata maupun tindakan, maka marilah kita renungkan sabda Yesus hari ini dengan saksama.

 

"Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?”(Luk 17:17)  

 

Hidup dan segala sesuatu yang menyertai kita, kita miliki dan kuasai sampai saat ini, termasuk jika kita sungguh beriman, sehat wal’afiat, segar bugar dst…adalah anugerah Tuhan yang kita terima melalui mereka yang telah berbuat baik atau mengasihi kita, antara lain orangtua dan mereka yang setiap hari hidup dan bekerja bersama dengan kita. "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.", demikian sabda Yesus kepada orang yang telah disembuhkan dari penyakit kustanya, dan sedangkan tersungkur di hadapan Yesus untuk menghaturkan terima kasih. Kita dapat berdiri tegak dan bepergian kemana saja setiap hari dengan selamat dan bahagia, bukankah hal itu terjadi karena kasih karunia atau anugerah Tuhan yang kita terima melalui siapapun yang telah berbuat baik kepada kita atau mengasihi kita, maka marilah kita senantiasa hidup dalam terima kasih dan syukur.

 

Entah telah berapa ribu kali kita mengucapkan ‘terima kasih’ ketika sedang menerima pemberian yang baik, enak dan nikmat. Namun apakah kita juga berani berterima kasih ketika ditegor, dimarahi, dikritik, diejek, dilecehkan atau direndahkan? Bukankah apa-apa yang tidak enak dan nikmat di hati dan perasaan tersebut juga merupakan perwujudan kasih mereka kepada kita, dan dengan demikian menggembleng atau membina iman kita? Tidak mungkin orang mengejek, menghina, mengritik dst…kita jika mereka tidak mengasihi kita, maka sikapilah semuanya itu sebagai kasih dan tanggapan kita melalui kata-kata singkat dan padat saja, yaitu ‘terima kasih’. Kita semua sedikit banyak memiliki penyakit atau sedang menderita sakit, yang berakar pada kesombongan, dengan kata lain kita bagaikan sedang menderita penyakit kusta. Sikapi segala perlakuan yang tidak enak di hati dan perasaan tersebut sebagai obat untuk menyembuhkan kesombongan kita, agar kita dengan rendah hati berani tersungkur atau bersembah-sujud kepada Tuhan melalui saudara-saudari atau sesama  kita.

 

Imanmu telah menyelamatkan engkau”, demikian sabda Yesus. Kita semua mengaku diri sebagai orang beriman, entah apapun agama atau keyakinannya. Yang lebih utama dan pokok adalah iman bukan agama, maka jika kita mendambakan selamat, damai sejahtera dan bahagia marilah kita hayati iman kita dalam hidup sehari-hari. Beriman berarti bersembah-sujud sepenuh kepada Tuhan, dengan rendah hati tersungkur di kaki Tuhan, dan kita percaya bahwa Tuhan hidup dan berkarya dalam diri kita masing-masing. Maka marilah sebagai orang beriman kita saling bersembah-sujud dan tersungkur, berterima kasih dan bersyukur, demi kebahagiaan dan keselamatan kita semua.

 

“Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu. Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal” (2Tim 2:9-10)

 

Percaya kepada Injil atau firman Allah memang harus bersedia dengan rendah hati untuk menderita dengan penuh kesabaran, apalagi pada masa kini yang sedikit banyak ditandai ketergesaan-ketergesaan yang berakibat dengan malapetaka dan korban manusia. “Sabar adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri dan tetap bertahan seperti keadaan semula dalam menghadapi berbagai rangsangan atau masalah” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Taat dan setia pada firman Allah pasti akan menghadapi aneka rangsangan yang merongrong ketaatan dan kesetiaan maupun masalah-masalah setiap saat.

 

Firman Allah antara lain dicoba diterjemahkan kedalam aneka tata tertib yang harus dilakukan atau dihayati demi kebahagiaan dan keselamatan hidup bersama. Rangsangan yang sering muncul di hadapan kita antara lain ajakan atau bisikan untuk merelativir atau melanggar tata tertib tersebut. Rangsangan yang cukup banyak kita hadapi adalah nafsu untuk marah ketika kita diperlakukan tidak baik atau tidak sesuai dengan selera pribadi. Jika menghadapi rangsangan tersebut hendaknya disikapi sebagai kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri. Memang mengendalikan dan mendisplinkan diri lebih sulit daripada mengendalikan atau mendisplinkan orang lain, namun ketika kita dapat mengendalikan atau mendisiplinkan diri dengan baik, maka dengan mudah kita mengajak orang lain untuk mengendalikan atau mendisiplinkan diri.

 

Masalah atau perkara yang sering kita hadapi adalah kekayaan/harta benda, nyawa musuh dan umur panjang. Semakin memiliki banyak kekayaan atau harta benda pasti akan menghadapi banyak masalah. Nyawa musuh alias aneka perbedaan atau pardigma dari orang lain  juga merupakan masalah, demikian juga bertambah umur atau usia juga akan semakin menghadapi banyak masalah mengingat dan memperhatikan aneka perkembangan dan pertumbuhan dalam berbagai hal yang begitu cepat pada masa kini. Untuk menghadapi masalah-masalah tersebut dibutuhkan hati yang jernih dan bersih agar dapat mempertimbangkan dan memutuskan masalah dengan baik sesuai dengan kehendak Allah. Maka marilah kita senantiasa mohon hati yang baik dan bijaksana kepada Allah, diiringi atau disertai dengan perilaku-perilaku atau tindakan-tindakan yang baik dan bijak. Secara khusus kami berharap kepada para pemimpin atau atasan dalam hidup dan kerja bersama dimanapun untuk sabar dan bijak menghadapi aneka masalah atau perkara. Hendaknya masalah-masalah atau perkara-perkara tersebut dihadapi dengan sabar dan rendah hati, dan jangan dihindari atau disingkirkan. Ingat dan hayati bahwa berbagai masalah atau perkara tersebut merupakan wahana untuk memperdalam dan memperteguh iman kita kepada Allah. “Jer basuki mowo beyo” = untuk hidup mulia, damai sejahtera orang harus berani berjuang dan berkoban, demikian kata sebuah pepatah Jawa.

 

“Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa. Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!”

(Mzm 98:1-4)

Jakarta, 10 Oktober 2010

 

30 Mei – Hari Raya TRITUNGGAL MAHAKUDUS

“Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku."

Hari Raya TRITUNGGAL MAHAKUDUS : Ams 8: 22-31; Rm 5:1-5; Yoh 16:12-15


Ketika saya masih belajar di tingkat dasar, Sekolah Rakyat/Dasar, setiap pagi saya pergi ke sekolah dengan berjalan kaki sendirian, kurang lebih berjarak 2,5 km. Saya belajar di sekolah katolik, Kanisius, dan di perjalanan ke sekolah saya sering berpapasan dengan anak-anak dari sekolah Islam, mereka tahu bahwa saya belajar di sekolah katolik. Ketika berpapasan saya sering menerima ejekan dalam bahasa Jawa demikian “Konjuk ing asmo Dalem Hyang Romo, Hyang Putro, Hyang Suci, yang-yangan, yangmu dhewe” (= Dalam nama Bapa, Putera, Roh Kudus, berpacaran, pacarmu sendiri). Mendengarkan ejekan tersebut tentu saja saya diam saja, antara takut dan juga tak mungkin menanggapi atau menjawab. Memang sebagai orang Kristen atau Katolik kita sering menerima ejekan atau sindiran perihal Tri Tunggal Mahakudus, dan sering menerima tuduhan juga bahwa kita tidak monotheis. Kita juga sering menerima serangan perihal ke Allah-an Yesus. Tritunggal Mahakudus secara implisit diajarkan oleh Yesus dan menjadi dogma Gereja, maka baiklah pada hari raya/pesta Tritunggal Mahakudus hari ini saya sampaikan refleksi sederhana perihal ajaran atau dogma tersebut.

 

“Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku.“(Yoh 16:14-15)

 

“Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1Yoh 4:8). Allah adalah kasih, demikian kata Yohanes dalam suratnya, maka hanya dalam dan oleh kasih kita dapat memahami dan mengimani Tritunggal Mahakudus. Dari kutipan sabda Yesus di atas ini dapat kita fahami bahwa kesatuan Bapa, Putera dan Roh Kudus atau Tritunggal Mahakudus berada dalam kasih. Kasih itu tak terbatas, dengan kata lain kita tak mungkin memahami dan menjelaskan kasih sedemikian rupa sehingga dapat difahami oleh akal sehat. Kasih melampaui segala usaha, pikiran dan daya tangkap kita, sehingga Paulus kepada umat di Efesus berani berkata: Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,” (Ef 3:18).

 

Inti pokok iman akan Allah Tritunggal ialah keyakinan bahwa Allah (Bapa) menyelamatkan manusia dalam Kristus (Putra) oleh Roh Kudus. Ajaran mengenal Allah Tritunggal pertama-tama berbicara bukan mengenai hidup Allah dalam diriNya sendiri, melainkan mengenai misteri Allah yang memberikan diri kepada manusia” (KWI: IMAN KATOLIK, Buku Informasi dan Referensi, Jakarta 1996, hal 311-312). Pemahaman dan iman pada Tritunggal Mahakudus erat kaitannya dengan kasih Kristus, yang rasanya sulit difahami dan diimani  bagi sebagian orang. Kasih Kristus antara lain menjadi nyata dalam persembahan DiriNya di kayu salib demi keselamatan seluruh dunia. AjaranNya perihal kasih dengan mengasihi musuh dan mendoakan mereka yang membenci rasanya juga sulit difahami dan diimani oleh sebagian orang. Kami percaya jika kita juga mengimani dan menghayati persembahan Diri Yesus di kayu salib serta ajaranNya perihal kasih, maka kita juga dapat mengimani dan menghayati Tritunggal Mahakudus, yang menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak saling mengasihi satu sama lain. Misteri atau dogma tentang Tritunggal Mahakudus kiranya juga tidak terlalu jauh dengan hidup saling mengasihi antar suami-isteri sampai mati maupun hidup terpanggil sebagai imam, bruder atau suster, yang sering juga sulit dimengerti oleh sebagian orang.       

 

Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimaNya dari padaKu”,  demikian sabda Yesus. Yang dimaksudkan dengan “Ia” di sini adalah Roh Kudus, yang terus menerus berkarya tiada henti, kapan saja dan dimana saja untuk memberitakan kasih Kristus, segala sesuatu yang dimiliki oleh Yesus Kristus, yang telah diterima dari Bapa. Dengan kata lain hanya yang hidup dari dan oleh Roh Kudus dapat memahami dan mengimani Tritunggal Mahakudus, dan siapapun hidup dari dan oleh Roh Kudus akan menghayati keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23).

“Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:3-5)

 

Kesengsaraan yang lahir dari kesetiaan pada iman, panggilan dan tugas pengutusan adalah jalan keselamatan sejati, sebagaimana telah dialami oleh Yesus yang setia kepada Bapa yang mengutusNya. Maka baiklah kita renungkan peringatan atau pesan Paulus kepada umat di Roma di atas, bahwa “kesengsaraan menimbulkan ketekunan, ketekunan menimbulkan tahan uji, tahan uji menimbulkan pengharapan akah kasih Allah yang dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus”:

1)                  Yang dimaksudkan dengan sengsara tentu saja secara phisik, sosial dan psikologis, tetapi tidak secara spiritual, sebagaimana dua pribadi, laki-laki dan perempuan, yang sedang saling mengasihi (entah dalam berpacaran, tunangan atau sebagai suami-isteri), pada umumnya tidak akan terlepas dari kesengsaraan, namun kesengsaraan tersebut dihayati dengan gembira dan tekun, sehingga membuahkan ketekunan dalam saling mengasihi.

2)                    “Tekun adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kesungguhan yang penuh daya tahan dan terus menerus serta tetap semangat dalam melakukan sesuatu”(Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 27). Tekun dalam saling mengasihi berarti dalam kondisi dan situasi apapun dan dimanapun senantiasa saling mengasihi dengan penuh semangat dan gairah. Ia menghayati kasih Allah dalam kondisi dan situasi apapun dengan hidup dan bertindak saling mengasihi.

3)                   Tahan uji berarti ada harapan lulus dalam ujian atau berhasil dalam usaha dan upaya. Meskipun harus menderita dan sengsara orang tetap ceria dan gembira, itulah pengharapan. Apa yang diharapkan belum kelihatan atau terwujud, namun menggairahkan dan memberdayakan, karena yang menjadi pengharapan adalah kasih karunia Allah. Iman terhadap Tritunggal Mahakudus hendaknya juga ditandai dengan pengharapan, artinya dengan gembira, ceria, bergairah orang menghayati iman tersebut meskipun harus menghadapi aneka tantangan, kesulitan dan masalah.       

 

“Aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan, setiap hari aku menjadi kesenangan-Nya, dan senantiasa bermain-main di hadapan-Nya; aku bermain-main di atas muka bumi-Nya dan anak-anak manusia menjadi kesenanganku” (Ams 8:30-31) . Kutipan dari kitab Amsal ini kiranya memperkuat dan memperteguh kita yang  beriman pada Tritunggal Mahakudus yang sedang menghadapi tantangan atau masalah atau menderita. Marilah kita menjadi anak kesayangan Tuhan, sehingga setiap hari menjadi kesenanganNya karena kita senantiasa bermain di dalam Dia alias hidup dan bertindak di dalam Tuhan.  Beriman kepada Tritunggal Mahakudus berarti hidup dan bertindak dalam Tuhan atau bermain-main di hadapanNya, menjadi kesenangan Tuhan alias hidup baik dan berbudi pekerti luhur.

 

“Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan:apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya: kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang; burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan”.

(Mzm 8:4-9)

 

Jakarta, 30 Mei 2010 

Manipulasi Citra

Ayat bacaan: Efesus 4:14-15
=====================
“sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.”

manipulasi citra, tipuan duniaSalah satu mata pelajaran yang saya ajarkan adalah desain grafis, salah satunya dengan mempergunakan software pengolah gambar Photoshop. Photoshop mampu melakukan pengeditan gambar dengan luar biasa, sehingga bisa membuat orang percaya pada apa yang mereka lihat, walaupun gambar itu merupakan sebuah rekayasa. Itulah sebabnya salah satu kehandalan software ini terletak pada kemampuannya dalam hal manipulasi citra, baik lewat penggabungan dua gambar atau lebih, pengeditan, dan sebagainya sehingga bisa menipu pandangan orang ketika melihatnya. Semakin anda menguasai Photoshop, hasil manipulasi pun akan semakin rapi. Membuat orang gemuk menjadi kurus, make-up digital, menghilangkan jerawat, kerut-kerut wajah, menghilangkan berbagai bagian-bagian yang tidak diinginkan dan sebagainya bukan lagi hal yang mustahil. Alat bantu seperti ini akhirnya bisa membuat foto-foto yang kita lihat di majalah seolah terlihat begitu sempurna, walaupun kalau dibandingkan dengan foto aslinya bisa jadi jauh berbeda. Bagi orang awam tentu sulit membedakan mana yang asli dan tidak, namun bagi yang sudah menguasai Photoshop tentu punya kemampuan lebih peka dalam mengetahui keaslian sebuah foto ketika mereka melihatnya.

Begitu pula dengan dunia ini. Kita hidup di sebuah dunia yang penuh dengan rupa-rupa tipuan, dan kita sering termakan oleh tipuan-tipuan ini. Iklan-iklan selalu berbicara tentang memiliki kulit yang putih, yang secara tidak langsung mengajarkan bahwa punya kulit gelap itu berarti buruk rupa. Iklan-iklan menunjukkan bahwa cantik adalah orang yang langsing dan tinggi, maka tidak heran jika ada banyak remaja yang depresi dan menjadi minder karena mereka tidak kurus dan kurang tinggi. Padahal jelas bahwa ada begitu banyak hal lain yang jauh lebih penting dibandingkan sebuah penampilan fisik semata, yang ironisnya justru tidak bisa dijadikan faktor mutlak. Gambaran sebuah fisik yang sempurna berbeda dari masa ke masa, dan berbeda pula dari satu bangsa dengan bangsa yang lain. Tapi gencarnya tipuan iklan bisa membuat orang meletakkan dirinya pada hal-hal fisik sesuai dengan apa yang diinginkan si pembuat iklan atau pemilik produk. Cepat atau lambat, manusia akan kehilangan jati dirinya, kehilangan makna hidup dan tidak lagi menyadari bahwa siapapun mereka, siapapun kita, anda dan saya, kita adalah ciptaan Tuhan yang luar biasa, dimana Tuhan punya rencana luar biasa bagi kita masing-masing.

Dunia yang kita diami penuh tipuan dan jebakan. Di setiap sisi kehidupan, iblis terus mencari kelemahan kita dan mencoba memangsa kita. Begitu gencarnya sehingga terkadang kita sulit untuk membedakan mana jalan yang benar, dan mana yang menuju kebinasaan. Hal ini bukan lagi hal baru, karena dalam Amsal jauh-jauh hari sudah tertulis demikian: “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (Amsal 16:25). Untuk mampu membedakan, kita harus tahu betul apa yang menjadi kehendak Tuhan, dan tidak ada jalan lain selain terus memperlengkapi diri kita dengan firman Tuhan, hidup bertumbuh dan berbuah dalam iman akan Kristus dan terus ada dalam bimbingan Roh Kudus. Dalam surat untuk jemaat Efesus, Paulus menulis bahwa untuk melawan tipu muslihat iblis kita harus terus memperlengkapi diri kita dengan perlengkapan senjata Allah. (Efesus 6:10-20).

Tanpa membekali diri kita dengan firman Tuhan, iman dalam Kristus dan senantiasa berada dalam persekutuan dengan Roh Kudus, kita akan mudah diombang-ambingkan dengan segala tipuan dunia, lengkap dengan segala bentuk penyesatannya. Kita akan sulit mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, mana yang lurus dan mana yang menuju maut. Begitu banyak ajaran-ajaran yang seolah terlihat baik, namun ternyata sesat. Dan Paulus berkata: “Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang.” (2 Korintus 11:14). Jika kita memahami firman Tuhan, kita akan tahu mana pengajaran yang sesuai dengan firman Tuhan dan mana yang tidak. Iman dalam Kristus, yang adalah kepala, disertai dengan penyertaan Roh Kudus yang terus membimbing hidup kita akan membuat kita memiliki kepekaan kuat akan sesuatu yang benar dan sesat. Satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya adalah jangan sampai kita sekali-kali membiarkan diri kita terbuka akan kebohongan, karena salah satu pintu masuk kesesatan adalah karena kita membiarkan diri kita untuk bersedia mendengar kebohongan. (Yehezkiel 13:19). Hendaklah kita selalu membangun hidup dengan kebenaran firman Tuhan sehingga kita tetap terjaga dari tipu muslihat dunia.

Jadikan kebenaran firman Tuhan menjadi nilai hidup utama, bukan apa yang kita lihat dan dengar di dunia ini

Iman Yang Radikal

Ayat bacaan: Daniel 3:17-18
====================
“Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

iman yang radikal, sadrakh, mesakh, abednegoSeberapa jauh kita sanggup berjalan dengan iman? Seberapa besar kasih kita pada Tuhan? Ini sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar klise, dan jawabannya pun mungkin klise, namun jika kita benar-benar renungkan, ini sebuah pertanyaan yan sebenarnya sulit untuk dijawab, apalagi untuk dijalankan secara nyata dalam kehidupan kita. Mungkin mudah bagi kita untuk percaya pada Tuhan ketika doa-doa kita dijawab, ketika mukjizat terjadi, ketika berkat Tuhan turun atas kita, ketika kita dilepaskan dari pergumulan dan kesesakan. Namun, mampukah kita memiliki iman yang sama ketika kita tengah berada dalam jurang masalah, ketika kita belum melihat satupun “tangga” yang dapat membawa kita keluar dari jurang tersebut? Tadi malam sebelum tidur, saya diingatkan akan kisah tiga orang berani yang punya iman luar biasa akan Tuhan: Sadrakh, Mesakh dan Abednego.

Alkisah, ada tiga pemuda yang berani melawan titah raja Nebukadnezar. Pada saat itu, sang raja baru membuat patung emas dengan tinggi enam puluh hasta dan lebar enam hasta (kurang lebih 27 x 3 m), dan ia memerintahkan seluruh bangsa, suku dan bahasa untuk menyembah patung tersebut. Mendengar perintah tersebut, bangsa-bangsa itu pun sujud menyembah patung tersebut, agar raja tidak menimpakan murka dan menghukum mati mereka yang membantah. Hukuman yang ditetapkan bagi pembangkang tidak main-main. “dan bahwa siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala.” (Daniel 3:11). Namun lihatlah, diantara mereka yang tunduk, ternyata ada 3 orang yang berani membantah. Mereka adalah Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Seketika mereka pun ditangkap dan dibawa menghadap raja. Raja pun berkata: “…jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?” (ay 15). Apa jawab mereka? “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (ay 17-18). Mendengar itu, Nebukadnezar pun murka. Dia memerintahkan prajuritnya untuk menyiapkan perapian tujuh kali lebih panas dari biasanya untuk membakar ketiga pemuda itu hidup-hidup. Saking panasnya, api itu sampai membakar orang-orang yang mengangkat Sadrakh, Mesakh dan Abednego ke perapian. Apa yang terjadi selanjutnya? Nebukadnezar kaget melihat bahwa ketiga orang itu tidak terbakar sama sekali. Bahkan ia melihat ada “orang keempat” berjalan bebas ditengah-tengah api, dan seluruhnya tidak terbakar. (ay 25). Lalu takutlah Nebukadnezar dan segera bergegas membebaskan ketiga pemuda tadi. Mereka tidak terbakar sama sekali, bahkan bau hangus pun tidak ada pada mereka. (ay 27). Sang raja pun kemudian berkata “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka.” (ay 28).

Teman, inilah bentuk iman yang radikal. Radikal bukan berarti bahwa kita harus memusuhi saudara-saudara kita yang tidak seiman, apalagi sampai melakukan kekerasan atau membunuh. Radikal bukanlah berarti melakukan sebuah gerakan penuh kebencian. Namun radikal yang saya maksudkan adalah mengacu pada pengertian sebenarnya, yakni sampai ke akar suatu masalah, mengerti secara mendalam hingga ke akar-akarnya, bahkan melewati batas-batas logika atau fisik yang ada. Apa yang dimiliki Sadrakh, Mesakh dan Abednego adalah bentuk iman yang radikal, yang tidak pamrih dan hanya terfokus pada berkat dan pertolongan Tuhan semata. Lihatlah sekali lagi jawaban mereka: “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami…tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku.” Ada pertolongan atau tidak, iman mereka tidak goyah sedikitpun. Inilah iman sesungguhnya yang berakar secara radikal dalam hidup mereka.

Ketika kita dihadapkan pada sebuah persimpangan dimana iman kita harus diuji, mampukah kita memiliki keyakinan seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego? Mampu kita mendahulukan iman kita lebih dari segalanya? Mampukah kita berkorban demi iman kita akan Kristus? Hari ini, marilah kita memiliki iman radikal kepada Kristus, percaya sepenuhnya dan tidak pernah putus pengharapan. Ketika pertolongan Tuhan belum tiba pada anda, janganlah tergesa-gesa meragukan kemampuan Tuhan, apalagi sampai meragukan keberadaanNya. Apa yang direncanakan Tuhan bagi setiap kita adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan untuk memberikan hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29: 11). Dan ingatlah bahwa segala yang diturunkan Bapa pada kita adalah pemberian yang baik dan anugrah yang sempurna. (Yakobus 1:17). Jika anda merasa belum mendapat jawaban, jangan putus asa, dan tetaplah pegang janji Tuhan dengan iman penuh. Ketika anda merasakan berkat Tuhan luar biasa mengalir dalam hidup anda, jangan lupa bersyukur. Dan yang paling penting, ada berkat, pertolongan, mukjizat atau tidak, iman terhadap Tuhan tidak boleh goyah sedikitpun. Marilah miliki iman yang radikal terhadap Tuhan. Trust him fully with all our heart, mind and soul.

Iman radikal adalah mematuhi Tuhan dengan serius bukan karena apa yang dapat Dia lakukan, namun semata-mata karena mengasihiNya sepenuh hati