Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

15 Apr – Kis 5:27-33; Yoh 3:31-36

“Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya”.

(Kis 5:27-33; Yoh 3:31-36)

 

“Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya. Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorang pun yang menerima kesaksian-Nya itu. Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.” (Yoh 3:31-36), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kita semua diciptakan oleh Allah, maka boleh dikatakan bahwa kita semua berasal dari Allah atau ‘datang dari sorga’, maka sebagai ciptaan terluhur dan termulia di dunia ini kita dipanggil untuk senantiasa berada ‘diatas ciptaan-ciptaan Allah yang lain di dunia’ ini, misalnya aneka jenis binatang dan tanaman, flora dan fauna, apalagi harta benda atau uang sebagai hasil karya manusia.  Dengan kata lain kita semua hendaknya senantiasa berbakti kepada Allah dalam hidup mendunia saat ini, dan tidak berbakti kepada ciptaan lainnya atau harta benda dan uang alias ‘berbakti kepada berhala modern’. Masa kini rasanya masih cukup banyak orang yang berbakti kepada berhala-berhala modern tersebut, dengan lebih menggantungkan/mengandalkan diri kepada manusia,  binatang, tanaman atau harta benda dan uang daripada Allah. Gejala atau tandanya adalah ketika kehilangan harta benda, uang, tanaman, binatang atau manusia mengalami stress berkepanjangan, bahkan ada yang sampai hendak bunuh diri. Kita dipanggil untuk berada di atas ciptaan lainnya di dunia ini berarti ciptaan-citpaan tersebut kita sikapi dan fungsikan sebagai sarana atau wahana untuk semakin menyucikan diri, semakin berbakti/beriman kepada Allah. Sarana adalah sarana bukan tujuan, maka janganlah menjadikan sarana menjadi tujuan.  Dengan ini juga kami berharap, seiring dengan kecenderungan pemanasan global yang terus berlangsung, kepada kita semua untuk tidak seenaknya membabat hutan, membuang sampah sembarangan, menghemat pemakaian air maupun tenaga listrik dan bahan-bahan baker, dst.. Pengalaman menunjukkan ketika kita serakah memfungsikan ciptaan-ciptaan tersebut muncul tanah longsor, banjir bandang dll, yang menyengsarakan dan mencelakakan banyak orang.

·   "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia” (Kis 5:29), demikian jawaban Petrus dan rasul  lainnya menanggapi tekanan atau larangan dalam mewartakan Kabar Baik. Taat kepada Allah dalam hidup sehari-hari di dunia saat ini antara lain dapat kita hayati dengan mentaati siapapun yang lebih dekat dan mesra bersama dan bersatu dengan Allah alias suci. Mereka yang lebih suci selayaknya kita taati, bukan karena lebih tua, berpangkat, berkedudukan, kaya, pandai dst… Secara kronologis dan sosial kiranya kita harus mengakui bahwa anak-anak lebih suci daripada orangtuanya, para peserta didik lebih suci daripada para gurunya, generasi muda lebih suci daripada generasi tua, dst… Maka dengan ini kami berseru: hendaknya para orangtua lebih taat kepada anak-anaknya artinya melayani dan mengabdi anak-anak demi kebahagiaan dan kesejahteraan mereka masa kini maupun masa depan, demikian para guru terhadap para peserta didik, generasi tua terhadap generasi muda. Tanda bahwa orangtua, guru atau generasi tua melayani anak-anak, peserta didik atau generasi muda dengan baik dan memadai adalah anak-anak, peserta didik, generasi muda ketika menjadi dewasa akan lebih baik, lebih suci, lebih cerdas, lebih dewasa, dst.. daripada orangtua, guru atau generasi tua. Salah satu cara melayani anak-anak, peserta didik dan generasi muda antara lain memberi kesempatan dan kemungkinan bagi mereka untuk belajar dan dididik sebaik dan seluas mungkin. Ketika kita terbiasa melayani mereka yang lebih muda dari kita kiranya kita dalam hidup sehari-hari juga akan lebih taat kepada Allah daripada manusia, lebih mentaati mereka yang bekehendak baik tanpa pandang bulu, SARA, usia dst… Jika kita semua hidup dan bertindak dengan taat keapada Allah berarti kebersamaan hidup kita dijiwai oleh cintakasih dan dengan demikian kita saling mengasihi.

 

“Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita. Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku. Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu” (Mzm 34:2-6)

 

Jakarta, 15 April 2010       .

        

Incoming search terms:

Kreatiflah

Ayat bacaan: Kejadian 2:19
======================
“Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.”

kreativitas, kreatifNada cuma ada 7, tapi lagu tidak pernah mati. Dalam menekuni dunia jurnalisme di bidang musik selama beberapa waktu, saya selalu melihat kenyataan ini sebagai sesuatu yang luar biasa. Bayangkan cuma 7 nada, tapi ada berapa trilyun atau jutaan trilyun jumlah lagu yang pernah ada hingga kini? Ada begitu banyak corak dan ragam dari ratusan genre yang berbeda dari masa ke masa. Ketika kita mendengarkan karya musik klasik Johann Sebastian Bach, rock and roll ala Elvis Presley, lagu-lagu The Beatles yang merubah corak musik dunia modern, hingga saat ini ketika anda mendengarkan lagu Michael Buble misalnya, semua itu dibentuk dari tatanan komposisi yang terdiri dari 7 not. Tapi dengarlah hasil yang begitu jauh berbeda dari nama-nama yang saya sebutkan di atas. Dalam dunia musik dituntut adanya sebuah kreativitas dalam menciptakan sebuah lagu, atau lama-lama band yang tidak kreatif akan tersingkir di tengah persaingan ketat sesama musisi. Ini baru bicara soal lagu. Sebenarnya di semua lini kehidupan kita tetap dituntut untuk bisa berpikir kreatif, baik dalam menciptakan sesuatu yang baru, yang innovatif, ataupun dalam menyelesaikan persoalan-persoalan. Allah adalah sosok yang sangat kreatif, dan manusia diciptakan menurut gambar dan rupaNya. Maka kreatifitas sejatinya merupakan bagian dari manusia.

Allah adalah sosok yang maha kreatif. Dari proses penciptaan alam semesta beserta isinya kita bisa melihat buktinya. Jutaan jenis binatang dari berbagai spesies, jenis-jenis tanaman yang berbeda-beda di berbagai belahan bumi, atau lihatlah manusia yang mukanya tidak pernah sama persis. Komponen pengisi muka boleh sama, namun tidak akan ada yang pernah sama persis hasilnya. Lalu lihatlah bagaimana kreatifnya Tuhan memberikan jawaban bagi berbagai permasalahan hidup manusia. Sebagai contoh, kita bisa melihat kreativitas Tuhan dalam membantu umat Israel dari Mesir menuju tanah terjanji, Kanaan. Tiang awan, tiang api, manna, daging dari burung puyuh, membelah Laut Teberau dan seterusnya memperlihatkan kreativitas tinggi Tuhan. Yesus dalam pelayananNya di dunia pun banyak menggunakan metode kreatif. Menggunakan perumpamaan, berdiskusi, tanya jawab, menyembuhkan bahkan membangkitkan, memberi contoh keteladanan, dan seterusnya. Yesus tidak pernah monoton dalam pelayananNya. Sehubungan dengan diciptakannya manusia sebagai sosok yang istimewa, yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sendiri, sudah selayaknya kita pun mewarisi kreativitas ini. Alangkah ironisnya jika kita terlalu malas untuk mempergunakan sisi-sisi kreativitas yang telah Dia sediakan bagi kita.

Sebelum proses pembentukan Hawa, Tuhan terlebih dahulu membentuk segala binatang hutan dan burung-burung. Dan semua ini dibawa kepada Adam untuk ia beri nama. “Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.” (Kejadian 2:19). Tuhan ingin melihat bagaimana kreativitas manusia untuk menamainya. Jika kita mundur beberapa ayat sebelumnya, Tuhan juga menempatkan Adam di taman Eden bukan untuk berleha-leha dan bersantai, tapi untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” (ay 15). Perhatikan kata mengusahakan dan memelihara. Manusia bukan saja ditugaskan untuk memelihara kelestarian lingkungan, tapi juga mengembangkan apa yang sudah ada untuk menjadi lebih baik lagi. Ini membutuhkan proses kreatif. Memaksimalkan, mengembangkan dan menciptakan inovasi atau kreasi baru menuju suatu kehidupan yang lebih baik melalui segala sesuatu yang telah disediakan Tuhan. Itu yang harus dilakukan manusia, bukan sebaliknya merusak alam dengan segala isinya.

Kreativitas ada di dalam diri setiap orang. Tapi tidak semua orang mau mempergunakannya. Sebagian orang terlalu malas untuk mengolah kreativitas yang ada di dalam mereka. Kemalasan tidak akan pernah bisa membawa orang mengalami peningkatan dalam hidupnya. Yang ada malah keruntuhan, seperti apa yang dikatakan Pengkotbah. “Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah.” (Pengkotbah 10:18). Semua yang disediakan Tuhan di dunia ini bagi kita hendaklah dikelola dengan baik, dipelihara, dijaga dan dikembangkan untuk kebaikan kita semua. Agar kita tetap bisa bertumbuh dan mengalami peningkatan, tetaplah rajin bekerja, dan kreatiflah dalam setiap yang anda usahakan. Tuhan akan selalu melihat bagaimana usaha kita, apakah kita selalu berusaha melakukan yang terbaik atau tidak, sebelum Tuhan mempercayakan perkara-perkara yang lebih besar lagi. Kreatiflah. Tuhan memberkati.

Tuhan mengharapkan manusia agar selalu berpikir kreatif dalam bekerja

Incoming search terms: