Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Ulasan Injil: Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus (Mrk 14:12-16)

PERISTIWA yang dikisahkan dalam Mrk 14:12-16 (bacaan Injil hari raya Tubuh dan Darah Kristus) dikaitkan oleh Markus dengan Perjamuan Paskah Yahudi (Mrk 14:12-16). Begitu pula dalam Injil Matius dan Lukas (Mat 26:2. 17-19; Luk 22:7-14) yang memang ditulis atas dasar bahan Markus. Yohanes lain. Baginya, peristiwa itu bukan Perjamuan Paskah, melainkan perjamuan perpisahan Yesus dengan [...]

Ulasan Injil: Minggu Paskah VI/B (Yoh 15:9-17)

BACAAN Injil Yohanes bagi Minggu Paskah VI tahun B ini (Yoh 15:9-17) sarat dengan kosakata yang berhubungan dengan gagasan “kasih”: saling mengasihi”, “tinggal dalam kasih” “memberikan nyawa demi sahabat-sahabatnya”. Baik diingat, petikan ini diangkat dari bagian Injil Yohanes yang menyampaikan pengajaran Yesus kepada para murid selama perjamuan malam terakhir (Yoh 13:31-17:26). Para murid perlu belajar hidup [...]

11 Mei – Kis 8:1b-8; Yoh 6:35-40

“Sungguhpun kamu telah melihat Aku kamu tidak percaya”

(Kis 8:1b-8; Yoh 6:35-40)

 

“Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya. Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman." (Yoh 6:35-40), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kata ‘melihat’ dan ‘percaya’ dalam Injil Yohanes merupakan kata kunci yang menjiwai seluruh Injilnya. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk mawas diri: apakah dengan melihat kita langsung percaya. Apa yang kita lihat dengan mata kepala sendiri memang sesuatu yang bersifat phisik atau materi, sedangkan yang dimaksudkan oleh Yohanes dengan ‘melihat’ disini kiranya lebih mendalam, tidak hanya secara phisik atau material  saja melainkan secara  spiritual atau rohani. Memang untuk sampai ke spiritual atau rohani kita diharapkan dapat melihat secara phisik dengan benar, cermat, akurat dan teliti. Dalam kisah perihal penggandaan roti dapat dilihat berarti terjadi mujizat, yang dilakukan oleh Yesus, yang berarti Yesus lebih daripada manusia biasa atau Ia benar-benar Allah yang telah menjadi manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa. Di balik peristiwa phisik yang bersifat sementara tersirat sesuatu yang abadi atau kekal, itulah yang harus kita lihat dan imani. “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi”, demikian sabda Yesus. Marilah kita dengan rendah hati datang dan percaya kepada Yesus yang telah wafat dan bangkit dari mati. Percaya kepadaNya berarti mati bagi dosa dan hidup sesuai dengan kehendak Allah, maka marilah kita senantiasa melihat segala sesuai  dalam atau bersama dengan Allah, agar kita semakin percaya kepada Allah, semakin beriman atau semakin suci. Allah senantiasa melihat semua ciptaanNya baik adanya, maka marilah kita lihat apa-apa yang baik, indah, mulia dan luhur dalam ciptaan-ciptaanNya terutama dalam diri manusia yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Allah.

·   Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu. Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh dan orang timpang yang disembuhkan.Maka sangatlah besar sukacita dalam kota itu” (Kis 8:6-8), demikian berita gembira sekitar pemberitaan Warta Gembira yang disampaikan Filipus. Kita kiranya dapat meneladan Filipus atau para pendengar yang percaya setelah mendengarkan pemberitaan Filipus. Meneladan Filipus berarti kita tidak takut atau gentar sedikitpun untuk dengan setia dengan sepenuhnya pada iman kita masing-masing, sehingga hidup dan bertindak dijiwai oleh iman kita. Mereka yang melihat cara hidup dan cara bertindak kita akan semakin beriman, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Sebaliknya jika kita meneladan para pendengar Warta Gembira, marilah dengan rendah hati dan terbuka kita dengarkan aneka macam saran, kotbah, nasihat, ajaran, wejangan dst.. dari saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun. Iman kita akan semakin kuat dan handal dengan pendengaran yang baik, karena iman memang muncul dan berkembang melalui pendengaran. Ingat bahwa masing-masing dari kita tumbuh berkembang menjadi pribadi yang ada sekarang ini pertamaa-tama dan terutama karena apa yang kita dengarkan ketika kita masih berada dalam rahim ibu kita masing-masing serta masa balita kita. Marilah kita belajar dari saudara-saudari kita, umat Muslim yang sungguh menghayati ‘mendengarkan’sebagai keutamaan beriman, antara lain dengan mendengarkan suara adzan dari masjid, langgar atau surau merupakan rahmat.  Marilah kita saling memberitakan apa yang baik dan mendengarkan dengan rendah hati.

 

“Bersorak-sorailah bagi Allah, hai seluruh bumi, mazmurkanlah kemuliaan nama-Nya, muliakanlah Dia dengan puji-pujian! Katakanlah kepada Allah: "Betapa dahsyatnya segala pekerjaan-Mu; oleh sebab kekuatan-Mu yang besar musuh-Mu tunduk menjilat kepada-Mu. Seluruh bumi sujud menyembah kepada-Mu, … Pergilah dan lihatlah pekerjaan-pekerjaan Allah; Ia dahsyat dalam perbuatan-Nya terhadap manusia:”(Mzm 66:1-4a.5)

 

Jakarta, 11 Mei 2011

 

3 Juli – Ef 2:19-22; Yoh 20:24-29

“Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya”

(Ef 2:19-22; Yoh 20:24-29)

 

“Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”(Yoh 20:24-29), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Tomas, rasul, pada hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kata ‘melihat’ dan ‘percaya’ merupakan salah satu cirikhas dari Injil Yohanes. Maka baiklah dalam rangka mengenangkan pesta St.Tomas hari ini saya mengajak anda sekalian berrefleksi perihal dua kata tersebut di dalam hidup kita sehari-hari. Sebagai orang beriman kita memiliki tugas rasuli (sebagai yang diutus), tugas untuk menjadi pewarta-pewarta kabar baik atau gembira. Menjadi pewarta kabar baik atau gembira berarti cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun senantiasa menggembirakan serta memotivasi mereka yang melihat untuk semakin percaya atau beriman kepada Tuhan, semakin suci, semakin berbakti kepada Tuhan melalui sesamanya. Orang melihat kita mungkin akan berseru “Kami telah melihat Tuhan”, Tuhan yang hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Pengalaman Tomas kiranya juga mengingatkan kita semua pentingnya ‘perjumpaan umat beriman’ secara periodik, untuk ber-curhat perihal pengalaman hidup beriman sehari-hari, sebagaimana terjadi di beberapa daerah: ada pertemuan mingguan antar umat satu lingkungan untuk berdoa dan bertukar pengalaman bersama, ada pertemuan setiap sore di dalam keluarga antara anggota keluarga untuk makan bersama dan berdoa serta curhat bersama, dst… Kami berharap di dalam keluarga-keluarga setiap hari dapat terjadi perjumpaan bersama antar anggota keluarga, dan jika tidak mungkin setiap hari kiranya dapat setiap minggu (week-end) dalam waktu yang lebih panjang atau longgar. Kebersamaan antar seluruh anggota keluarga dalam kasih merupakan salah satu bentuk kerasulan tersendiri pada masa kini.

·   Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru” (Ef 2:19-20), demikian peringatan Paulus kepada umat di Efesus, kepada kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus. Kita sama-sama anggota keluarga Allah, paguyuban umat yang beriman kepada Allah, tiada lagi orang asing atau pendatang, tetapi semuanya anggota. Karena kita dibangun di atas para rasul dan nabi, maka mau tak mau cara hidup dan cara bertindak kita memiliki sifat rasuli dan kenabian. Perihal rasuli sudah saya coba paparkan secara sederhana di atas, maka perkenankan di sini saya sampaikan perihal kenabian. Seorang nabi adalah yang diutus Allah untuk membawa kebenaran-kebenaran atau meneruskan kehendak Allah, maka menghayati panggilan kenabian kita diharapkan kita senantiasa membawa kebenaran-kebenaran dimanapun dan kapanpun. Apa yang disebut benar senantiasa berlaku secara universal atau umum, dimana saja dan kapan saja, tiada terikat oleh ruang dan waktu. Apa yang benar dan baik antara lain adalah keselamatan jiwa, maka menghayati panggilan kenabian berarti senantiasa mengusahakan keselamatan jiwa dalam cara hidup dan cara bertindak. Demi keselamatan jiwa ada kemungkinan orang harus menderita secara phisik, dibenci orang lain, khususnya oleh mereka yang kurang beriman. Panggilan kenabian pada masa kini sungguh mendesak untuk kita hayati bersama-sama, mengingat dan memperhatikan masih maraknya kebohongan-kebohongan di sana-sini dalam hidup sehari-hari. Sekali lagi kami berharap hendaknya anak-anak di dalam keluarga senantiasa dilatih dan dibiasakan untuk melakukan apa yang benar dan baik, jauhkan aneka bentuk kebohongan-kebohongan.

 

“Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa! Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!” (Mzm 117)

 

Jakarta, 3 Juli 2010     .     

Incoming search terms:

4 Apr – Hari Raya Paska 2010

“Masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya”

 HR PASKAH KEBANGKITAN TUHAN: Kis 10:34a.37-43; Kol 3:1-4; Yoh 20:1-9


Ketika saya tinggal di Wisma Uskup, Keuskupan Agung Semarang, dan bertugas sebagai Ekonom Keuskupan Agung Semarang, saya sering harus bepergian ke luar kota dan pulang larut malam. Biasanya saya membawa kendaraan sendiri atau ‘nyopir sendiri’. Ada yang sungguh menarik dan mengesan bagi saya, yaitu: ketika saya pulang tengah malam dan kendaraan sudah mendekati pintu gerbang, yang pertama kali terbangun serta menyambut kedatangan saya adalah  anjing piaraan kami, bukan penjaga malam (yang mungkin tertidur). Nampaknya anjing tersebut sudah hafal dan peka akan suara mesin mobil yang saya pakai, maka begitu mendengar suara mesin mobil ybs.. ia langsung berlari cepat ke pintu gerbang, menggonggong untuk menyambut kedatangan kami. Memang kami begitu mengasihi anjing tersebut, yang memang sungguh berfungsi di malam hari sebagai penjaga malam, maka sebagai yang dikasihi ia cepat tanggap dan berlari cepat menyambut kami. Itulah yang sering terjadi dalam kehidupan bersama kita, siapapun yang merasa dikasihi pada umumnya tanggap dan cepat berreaksi ketika yang mengasihi menghadapi masalah atau di dalam kesulitan. Yohanes, adalah murid terkasih Yesus, ketika ia dan Petrus diberi tahu oleh para perempuan bahwa Yesus yang telah dimakamkan tidak ada lagi alias ‘hilang’, mereka berdua berlari menuju makam, tetapi Yohanes ‘yang lebih dahulu sampai ke kubur itu dan ia melihatnya dan percaya’.

 

“Masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya (Yoh 20:28)

 

Yang terkasih datang lebih cepat, melihatnya dan menjadi percaya, itulah yang terjadi. Kata ‘melihat’ dan ‘percaya’ di dalam Injil Yohanes sering dipakai dan dengan demikian kata-kata tersebut sungguh bermakna atau berarti. Yang dapat melihat dan kemudian menjadi percaya, hemat saya tidak hanya melihat dengan mata insani/phisik melulu tetapi juga dengan mata hati dan jiwa. Apa yang dilihatnya menyingkapkan aneka pengalaman atau mengingatkan apa yang telah terjadi dan dialami. Pengalaman murid yang terkasih ini kiranya dapat menjadi bahan permenungan atau refleksi bagi kita semua.

 

Siapa yang terkasih di antara kita, atau dari siapa saya merasa paling dikasihi? Jawaban yang mudah atas pertanyaan ini tentu akan datang dari para suami dan isteri, kemudian dari anak-anak. Yang terkasih dan yang paling mengasihi  bagi suami adalah sang isteri dan sebaliknya, sedangkan yang paling mengasihi anak-anak tentu saja orangtuanya, itulah kebenaran sejati. Maka dengan ini juga kami berharap kepada para suami, isteri, orangtua/ayah ibu dan anak-anak untuk saling melihat dan percaya; hendaknya tidak saling mencurigai ketika untuk sementara harus berpisah, entah satu hari, satu minggu atau beberapa hari. Maklum pada masa kini karena adanya HP (Hand Phone) dengan mudah orang untuk saling berkomunikasi, tetapi dengan mudah juga curiga terhadap yang terkasih dan dengan demikian setiap saat mencoba menghubungi dengan HP-nya. Sadar atau tidak kehadiran HP mau tidak mau telah menggerogoti kepercayaan satu sama lain atau juga menggerogoti sopan santun, etika atau tata-krama.

 

Jika kita tidak mampu mempercayai mereka yang dekat dengan kita setiap hari, entah di dalam keluarga, tempat kerja maupun masyarakat, maka rasanya akan menjadi sulit untuk percaya kepada orang lain yang belum begitu dikenal, apalagi percaya kepada Tuhan, Yang Ilahi. Maka dengan ini kami mengingatkan kita semua: marilah kita perdalam, teguhkan dan perkuat saling percaya kita kepada yang terkasih, yang setiap hari hidup atau bekerja bersama kita. Untuk membantu hal ini baiklah kita lebih mengutamakan untuk melihat apa yang baik, indah, benar, luhur dan mulia dalam diri saudara-saudari kita, yang kiranya lebih banyak daripada apa yang amburadul, jorok, salah, dst…  Beriman kepada Yesus yang telah dibangkitkan dari mati berarti percaya kepada RohNya yang terus menerus bekerja, dan dengan demikian juga dipanggil untuk melihat buah-buah Roh dalam diri saudara-saudari kita maupun dalam seluruh ciptaan Allah di bumi ini. Buah-buah Roh itu antara lain “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,  kelemahlembutan, penguasaan diri.”(Gal 5:22-23) , marilah kita lihat buah-buah ini dalam diri saudara-saudari kita agar kita semakin saling percaya satu sama lain. Marilah kita renungkan juga sapaan Paulus kepada umat di Kolose di bawah ini.

 

“Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.”(Kol 3:1-2)    

 

Kita diingatkan oleh Paulus untuk ‘mencari dan memikirkan perkara yang di atas’, yang berarti senantiasa mengusahakan diri berbudi pekerti luhur dalam hidup sehari-hari. Maka baiklah saya kutipkan sekali lagi nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan sebagai perwujudan berbudi pekerti luhur, yaitu : “bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tetap janji, terbuka dan ulet “(Prof.Dr. Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penananam Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka, Jakarta 1997)

 

Keutamaan atau nilai mana yang menurut anda mendesak dan up to date untuk dihayati dan disebar-luaskan dalam hidup sehari-hari dalam lingkungan hidup anda, silahkan dicermati dan dipilih sendiri.  Hemat saya ketika kita unggul dalam penghayatan keutamaan atau nilai tertentu, secara implisit keutamaan atau nilai lain terhayati juga. Baiklah di sini saya mengangkat keutamaan ‘disiplin’ yang menurut pengamatan saya perlu dihayati dan disebarluaskan. “Berdisiplin adalah kesadaran akan sikap dan perilaku yang sudah tertanam dalam diri sesuai dengan tata tertib yang berlaku dalam suatu keteraturan secara berkesinambungan yang diarahkan pada suatu tujuan atau sasaran yang telah ditentukan” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10). Kami berharap berdisiplin ini sedini mungkin ditanamkan atau dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dan sekolah-sekolah, dan tentu saja dengan teladan dari para orangtua dan para guru. Kami berharap juga kepada kita semua untuk berdisiplin di jalanan, taatilah aneka macam rambu-rambu dan petunjuk jalan yang terpampang dengan jelas. Apa yang terjadi di jalanan hemat saya dapat menjadi cermin kwalitas hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

 

“Tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan!" Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN. Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita.”

(Mzm 118:16-17.22-23)

‘SELAMAT PASKAH, ALLELUIA”    

Jakarta, 4 April 2010

2 Apr – Yes 52:13-53:12; Ibr 4:14-16; 5:7-9; Yoh 18:1-19:42

"Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam."

JUMAT AGUNG : Yes 52:13-53:12; Ibr 4:14-16; 5:7-9; Yoh 18:1-19:42


Ibadat hari Jumat Agung ini meliputi tiga bagian: (1) Liturgi Sabda dengan ‘Kisah Sengsara Tuhan’, (2) Penghormatan Salib, (3) Komuni, yang diselenggarakan pk 15.00; dan pada umumnya di pagi hari diselenggarakan Ibadat Jalan Salib. Puncak perhatian kita pada hari ini adalah “Yang Tersalib”, maka baiklah saya mengajak anda sekalian untuk merenungkan tiga sabda Yesus di puncak kayu salib sebagaimana akan kita dengarkan dalam Ibadat Sabda ‘Kisah Sengsara Tuhan’ menurut Injil Yohanes. Marilah memandang Dia yang tergantung di kayu salib sambil mendengarkan dan merenungkan sabda-sabdaNya ini.    

 

"Inilah ibumu!” (Yoh 19:27)

 

Bunda Maria yang telah mengandung dan melahirkan Yesus,  akhirnya juga menemani Yesus yang tergantung di kayu salib. Tanggapan Maria atas sapaan malaikat : “Terjadilah padaku menurut perkataanmu itu”  menjadi nyata juga dalam partisipasi pada penyerahan Diri Yesus dengan wafat di kayu salib. Bunda Maria adalah teladan umat beriman, bunda kita, maka kita dipanggil untuk meneladan Bunda Maria yang menghayati “fiat voluntas tua ->  via dolorosa”, maka marilah kita mawas diri perihal panggilan kita masing-masing, sejak kita berjanji setia untuk menelusuri jalan hidup yang telah kita pilih sampai saat ini, misalnya sejak menjadi suami-isteri, sejak kaul akhir hidup membiara, sejak ditahbiskan menjadi imam, dst..

 

Dalam rangka menelusuri jalan hidup atau menghayati panggilan kiranya kita harus menghadapi aneka tantangan, hambatan, masalah, godaan, dst.. , sebagai konsekwensi ketaatan dan kesetiaan kita terhadap panggilan. Mungkin saat ini juga kita sedang menghadapi masalah, tantangan, hambatan atau godaan berat; jika memang demikian marilah kita memandang Dia yang tergantung di kayu salib, yang tidak mengeluh, menggerutu atau balas dendam terhadap mereka yang membuatNya menderita. Ingatlah dan sadari serta  hayati bahwa penderitaan yang kita alami karena masalah, tantangan, hambatan dan godaan tersebut rasanya tidak sebanding dengan penderitaan Yesus. Kami percaya jika kita sungguh memandang Yang Tersalib dengan sepenuh hati, jiwa, akal budi dan tubuh, kita pasti akan dikuatkan dalam menderita dan kemudian mampu menghadapi aneka tantangan, hambatan, masalah atau godaan tersebut dengan sukses. 

 

 "Aku haus!"(Yoh 19:28)

 

Orang yang mengeluh ‘haus’ berarti minta diberi minuman; dengan memberi minuman berarti mengurangi penderitaan yang bersangkutan. Kita dipanggil untuk ‘memberi minum kepada Yesus yang kehausan di kayu salib’, artinya meringankan beban penderitaanNya dengan berpartisipasi dalam penderitaanNya. Berpartisipasi dalam penderitaanNya antara dapat kita hayati dengan mempersembah-kan diri seutuhnya kepada saudara-saudari kita, lebih-lebih yang setiap hari bersama dengan kita, serta tugas pekerjaan kita masing-masing.

 

Pertama-tama saya mengingatkan dan mengajak para suami-isteri, yang kiranya telah memiliki pengalaman untuk saling mempersembahkan atau memberikan diri seutuhnya, antara lain dalam hubungan seksual, yang ada kemungkinan berbuahkan seorang anak, sebagai buah kasih, yang menggembirakan. Bukankah ketika sedang saling mempersembahkan diri tersebut juga mengalami kebahagiaan dan kenikmatan yang luar biasa? Saling mempersembahkan diri dengan penuh kegembiraan dan kegairahan itulah yang terjadi, saling memuaskan, dst.. Maka kami  berharap pengalaman tersebut hendaknya menjiwai cara hidup dan cara bertindak sehari-hari, entah di dalam keluarga, tempat kerja maupun masyarakat, yaitu dengan mempersembahkan diri pada anak-anak, tugas pekerjaan, kewajiban dst.. dengan gembira dan bergairah. Keteladanan anda akan mempengaruhi lingkungan hidup anda. Kita semua dipanggil untuk saling melegakan dan menghibur dalam hidup kita sehari-hari dimanapun dan kapanpun, maka baiklah secara khusus kita perhatikan mereka yang sungguh membutuhkan kelegaan dan penghiburan, entah yang sedang sakit, menderita, kesepian, dst..

 

Minuman yang paling baik dan segar adalah ‘air putih’, yang sungguh menyegarkan. Disebut air putih kiranya air juga berfungsi untuk memutihkan alias membersihkan. ‘Memberi minum kepada Yesus yang kehausan’ berarti kita saling menyegarkan dan membersihkan. Kehadiran atau sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun diharapkan menyegarkan dan membersihkan lingkungan hidup, sehingga enak, nyaman, nikmat untuk didiami atau ditinggali.        

 

"Sudah selesai.” (Yoh 19:30)

 

Sudah selesai”  merupakan sabda Yesus yang terakhir, dan setelah bersabda demikian Ia menundukkan kepala dan menyerahkan nyawaNya, wafat. Kematian menyelesaikan segala-galanya itulah yang terjadi. Kita semua juga akan mati, entah kapan kita tidak tahu, karena kematian merupakan anugerah Tuhan, tergantung dari Tuhan. Maka baiklah saya mengajak anda sekalian untuk bertanya pada diri sendiri: “Siap-sediakah saya sewaktu-waktu dipanggil Tuhan alias meninggal dunia?”. Mati adalah dipanggil Tuhan, maka bagi siapapun yang setiap hari senantiasa bergaul dan bersama dengan Tuhan alias hidup baik dan berbudi pekerti luhur, pasti tidak takut sewaktu-waktu dipanggil Tuhan, bahkan pada detik-detik terakhir hidupnya ia sungguh ‘menundukkan kepada dan menyerahkan nyawanya’ alias tidak memberontak atau melawan ketika akan dipanggil Tuhan. Sebaliknya mereka yang jarang atau tidak pernah bergaul dan bersama dengan Tuhan dalam hidup sehari-hari, maka ketika akan dipanggil Tuhan pasti memberontak, sangat gelisah (dalam bahasa Jawa disebut ‘mecati’).

 

Orang yang baik dan berbudi pekerti luhur alias suci, setelah dipanggil Tuhan atau meninggal dunia kiranya akan dikenangkan oleh banyak orang, sebagaimana penulis surat Ibrani mengenangkan Yesus:  Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya,” (Ibr 5:7-9). Kita juga telah berpartisipasi dalam rangka mengenangkan orang baik dan suci, yaitu dengan mengenakan nama baptis pada nama kita masing-masing, maka baiklah kita meneladan santo-santa yang menjadi pelindung kita agar kita senantiasa siap-sedia dipanggil Tuhan sewaktu-waktu dan ketika dipanggil Tuhan tidak takut melainkan bergairah serta terenyum gembira. Biarlah kelak kemudian hari setelah kita meninggal dunia dapat menjadi pokok harapan, keselamatan bagi mereka yang mengenal kita atau pernah hidup bersama dengan kita.

 

“Di hadapan semua lawanku aku tercela, menakutkan bagi tetangga-tetanggaku, dan menjadi kekejutan bagi kenalan-kenalanku; mereka yang melihat aku di jalan lari dari padaku. Aku telah hilang dari ingatan seperti orang mati, telah menjadi seperti barang yang pecah. Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: "Engkaulah Allahku!" Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku! Buatlah wajah-Mu bercahaya atas hamba-Mu, selamatkanlah aku oleh kasih setia-Mu!”

(Mzm 31:12-13.15-17)

Jakarta, 2 April 2010 

   

 

 

21 Mar – Yes 43:16-21; Flp 3:8-14; Yoh 8:1-11

"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Mg Prapaskah V : Yes 43:16-21; Flp 3:8-14; Yoh 8:1-11


Pagi-pagi benar, dimana kebanyakan orang pada umumnya masih tidur nyenyak, dikumandangkan adzan, suatu panggilan atau ajakan bagi umat Islam untuk berdoa. Mendengar suara adzan tersebut ada beberapa atau sementara orang merasa terganggu dan marah, serta mungkin sambil mengeluh “mengganggu orang tidur”. Yang lain berdoa dan ada yang marah-marah juga, itulah yang terjadi. Bagi saya yang menarik adalah bahwa pagi-pagi terbangun langsung marah-marah, dan rasanya hal ini mirip dengan apa yang terjadi dalam kisah, kutipan Injil Yohanes hari ini : “Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?” (Yoh 8:2-5)  Pagi-pagi  benar di depan bait Allah/tempat beribadat Yesus harus menghadapi serangan fajar dari musuh-musuhNya, suatu pertanyaan yang memang sulit dijawab. Jika Yesus menyetujui usul mereka berarti Yesus sama dengan mereka, sebaliknya jika Yesus melawan usul mereka berarti Ia tidak taat pada hukum Taurat, maka Yesus menjawab :”Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Yoh 8:7). Mendengarkan jawaban Yesus ini “pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua” (8:9b). Maka baiklah kita renungkan sabda atau jawaban Yesus tersebut.

 

"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Yoh 8:7)

 

Cukup menarik reaksi orang-orang Farisi setelah mendengarkan sabda ini, yaitu mereka meninggalkan Yesus mulai dari yang tertua, dengan kata lain semakin tua, tambah usia, tambah pengalaman dst.. berarti juga bertambah dosa-dosanya. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua bahwa kita adalah orang-orang berdosa, terutama yang lebih tua hendaknya semakin menyadari dosa-dosanya. Tentu saja kita tidak berhenti pada kesadaran saja, tetapi kemudian bertobat dan memperbaharui diri. Semakin tua, tambah usia, pandai, cerdas, kaya dst. hendaknya juga semakin rendah hati, sebagaimana dikatakan oleh pepatah “tua-tua keladi/padi, makin tua dan berisi semakin menunduk’.

 

“Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka –Jakarta 1997, hal 24). Kami berharap kita tidak saling ‘melemparkan batu’, artinya saling melecehkan dan merendahkan. Hendaknya juga disadari dan dihayati bahwa yang lebih muda berarti pada umumnya juga lebih suci, lebih-lebih anak-anak balita. Maka kami berharap kepada anak-anak kita beri penghormatan selayaknya dengan semangat pelayanan. Tanda bahwa kita, orangtua, sungguh melayani anak-anak antara lain anak-anak kelak tumbuh berkembang menjadi lebih baik atau bermutu daripada orangtuanya, demikian juga generasi tua terhadap generasi muda. Dengan ini kami angkat rumor tahun tujuh-puluhan dari para mahasiswa, yaitu “Kera Kentot” (=Kenakalan remaja terjadi karena kenakalan orangtua). Sebagai anggota Gereja, kami berharap kepada kita semua untuk mendukung dan meneladan para gembala kita, yang senantiasa berusaha dan menyatakan diri sebagai hamba yang hina dina.

 

“Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Flp 3:13-14)

 

Apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Filipi di atas ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita. Marilah kita bersama-sama mengarahkan diri kita ke masa depan untuk semakin menghayati panggilan Allah, dengan kata lain marilah berlomba dalam kesetiaan pada panggilan dan tugas pengutusan atau pekerjaan kita masing-masing. “Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat” (Prof Dr Edi Sedyawati/ edit.: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997 hal 24). Sekali lagi kami berharap kepada para orangtua, guru, pemimpin, atasan dan pejabat dapat menjadi teladan dalam kegairahan menghayati kesetiaan pada panggilan dan tugas pengutusan.

 

Selain mengarahkan diri ke depan, kita juga diajak untuk ‘melupakan apa yang telah di belakangku’. Hal ini tidak berarti apa yang telah kita alami atau kita lalui musnah, lenyap, melainkan tetap ada serta menjadi bahan mawas diri agar kita dapat mengarahkan diri ke masa depan dengan tepat atau lebih memadai. Pengalaman akan menjadi pelajaran yang bermanfaat jika sungguh direfleksikan. Maka dengan ini kami mengingatkan kita semua pentingnya kebiasaan berrefleksi di dalam hidup sehari-hari. Baiklah secara konkret kami mengajak anda sekalian untuk selama kurang lebih 15 menit setiap hari mawas diri, misalnya tiap menjelang istirahat malam. Tinggalkan aneka sarana-parasarana alat alat-alat media dan berdiamlah selama kurang lebih lima belas menit sambil memutar film kehidupan sejak pagi hari sampai saat ini menjelang istirahat malam. Lihat dan cermati cara hidup dan cara bertindak macam apa saja yang baik atau buruk, kecenderungan hati yang baik dan buruk, dst.., kemudian mohon kasih pengampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan serta membuat niat bahwa besok pagi akan memperbaiki apa yang salah dan buruk serta meningkatkan dan memperdalam apa yang benar dan baik.

 

"Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.Binatang hutan akan memuliakan Aku, serigala dan burung unta, sebab Aku telah membuat air memancar di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara, untuk memberi minum umat pilihan-Ku; umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku” (Yes 43:18-21). Seruan Tuhan melalui nabi Yesaya ini hendaknya menjadi pedoman atau pegangan jalan hidup kita dalam rangka memperbaiki apa yang salah dan buruh serta meningkatkan dan memperdalam apa yang baik dan benar, sehingga sebagai umat Allah kita “akan memberitakan kemasyhuran Tuhan”, mewartakan kebaikan-kebaikan kepada saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun. Marilah kita saling memuliakan dan berbuat baik, saling menghormati dan melayani, bukan saling melecehkan dan merendahkan.

 

“Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!"TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb!Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya

 (Mzm 126:2-6) .

 

Jakarta, 21 Maret 2010  

Anak Kecil Pemilik Roti dan Ikan

Ayat bacaan: Yohanes 6:9
====================
“Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?”

anak kecil pemilik roti dan ikan, belajar dari anak kecilKepolosan dan keluguan anak kecil memang luar biasa. Ketika mereka berkata mereka punya cita-cita tinggi, menjadi dokter, pilot dan sebagainya, mereka tidak pernah dipengaruhi oleh logika-logika yang biasanya dimiliki orang dewasa mengenai mungkin dan tidaknya hal itu terjadi. Wajar ketika seorang teman pada suatu ketika tertawa melihat reaksi anak kecil seperti ini dan berkata bahwa mereka belum tahu bagaimana pahitnya hidup sehingga bisa semudah itu bercita-cita. Tapi justru keluguan anak-anak ini yang diminta Yesus sendiri untuk kita teladani. Kita bisa belajar dari mereka yang belum terkontaminasi berbagai logika dan pikiran manusiawi yang seringkali justru menghambat kita dalam mencapai keberhasilan.

Kemarin kita sudah melihat bagaimana Yesus menggandakan lima roti dan dua ikan untuk memberi makan lima ribu pria belum termasuk wanita dan anak-anak bahkan menyisakan dua belas bakul penuh roti dan ikan. Kita melihat bagaimana Tuhan bisa memakai sesuatu yang mungkin tidak berarti besar bagi kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar. Dari mana roti dan ikan itu berasal? Dalam Injil Markus memang tidak disebutkan dari mana asalnya. Namun Injil Yohanes menuliskan dari mana ikan itu berasal, yaitu dari seorang anak kecil. “Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan.” (Yohanes 6:9). Mari kita lihat kronologi peristiwa itu yang tercatat dari versi pengamatan Yohanes. Pada saat itu menurut Injil Yohanes, dikatakan bahwa Yesus menanyakan kepada Filipus bagaimana untuk memberi makanan untuk seluruh orang yang berkumpul mendengar pengajaran Yesus. “Jawab Filipus kepada-Nya: “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” (ay 7). Filipus satu dari murid Yesus yang hadir disana melihat kemustahilan untuk bisa memberi makan demikian banyak orang dengan uang yang mereka miliki sesuai dengan logika manusianya. Lalu diantara murid-murid itu, seorang murid lain bernama Andreas, saudara simon Petrus ternyata bergerak melihat sekelilingnya, dan ia mendapatkan seorang anak yang memiliki bekal lima roti dan dua ikan. Maka ia pun berkata “Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?”. (ay 9). Andreas mencari dan melihat bahwa ada lima roti dan dua ikan yang dimiliki oleh seorang anak kecil. Tapi mana mungkin itu cukup? Andreas pesimis dengan apa yang ia dapatkan. Bagaimana reaksi anak kecil itu sendiri? Dari apa yang kita baca selanjutnya, kita tidak mendapati penolakan dari si anak. Tampaknya anak kecil itu dengan sukarela memberikan apa yang ia miliki. Lalu Yesus pun mengucap syukur atas roti dan ikan, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang. Luar biasa, jumlah bekal yang kecil itu cukup untuk mengenyangkan semua orang disana bahkan berlebih. Anak kecil itu tidak pernah kita ketahui namanya. Kita tidak tahu siapa dia. Tapi meski demikian, ia tercatat dalam Alkitab yang masih bisa kita baca sampai hari ini. Semua berawal dari iman dan kerelaannya untuk memberi.

Kita bisa belajar dari reaksi si anak. Jelas bahwa apa yang ia miliki secara kemampuan daya pikir kita tidak akan cukup untuk memberi makan 5000 orang lebih. Tapi ia tidak menolak sama sekali. Meski ketika Andreas menyatakan keraguannya akan jumlah yang sedikit itu. Si anak kecil tidak menjadi pesimis waktu apa yang ia miliki disepelekan Andreas. Ia bisa saja berkata “ya sudah, kalau memang tidak cukup, saya makan sendiri saja.. biar bagaimana ini kan punya saya..” Anak kecil itu bisa menolak, apalagi ketika apa yang ia miliki tidak dihargai sepenuhnya oleh Andreas. Tapi tidak, ia tidak melakukan hal itu. Si anak juga bisa saja berkata, “Yesus, jika Engkau memang benar Tuhan, kenapa tidak turunkan saja makanan dari langit? Kenapa harus mengambil bekalku?” Tapi itu pun tidak ia lakukan. Apa yang ia lakukan adalah dengan sukarela, tanpa banyak tanya, tanpa protes sedikitpun, memberikan seluruh bekalnya kepada Yesus. Inilah bentuk iman yang luar biasa, lebih daripada apa yang dimiliki para murid Yesus sendiri. Apa yang ia miliki, meski hanya sedikit, ditambah kerelaannya untuk menyerahkan itu semua kepada Tuhan akhirnya bisa memberkati banyak orang secara luar biasa.

Yesus selalu meminta kita untuk belajar dari anak kecil. Jangan pernah sepelekan mereka, tapi belajarlah dari iman mereka yang polos dan tulus, tanpa pretensi apa-apa, tanpa mengharapkan imbalan dan lainnya. Demikian firman Tuhan: “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 18:10). Sikap iman seperti anak-anak kecil inilah yang berkenan di hadapan Tuhan. Tuhan Yesus juga berkata “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” (Markus 10:15). Ini berbicara mengenai kepolosan dan ketulusan seorang anak kecil yang tidak dipengaruhi oleh keraguan, kecurigaan, ketidakpercayaan atau bentuk-bentuk pikiran lainnya. Disamping itu, kita pun melihat bahwa anak kecil itu tidak meminta penghargaan apapun atas pemberiannya. Ia bisa saja sombong bahwa semua mukjizat itu sebenarnya berawal dari miliknya, tapi ia pun tidak melakukan itu. Dia tidak berpikir untuk bermegah dan mencuri kemuliaan yang menjadi milik Tuhan. Maka mengenai sikap seperti ini kelak Yesus mengatakan “Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.” (Matius 18:4). Seperti itu pula hendaknya kita seharusnya dalam menyambut Kerajaan Allah. Kita harus menyelidiki dan memeriksa apa talenta kita yang telah dianugerahkan Tuhan, mengucap syukurlah atas itu dan serahkan ke dalam tangan Tuhan dengan kepercayaan penuh. Maka Tuhan pun mampu memakai itu semua untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar.

Tidak perlu malu untuk belajar dari anak kecil. Ketika kita orang dewasa sudah terkontaminasi oleh berbagai hal yang bisa melemahkan iman kita, mari berkaca kepada kepolosan anak-anak kecil yang belum terpengaruh oleh itu semua. Iman yang polos dan murni, iman yang tidak terguncang oleh apapun, iman yang percaya sepenuhnya tanpa keraguan dan pertanyaan, itulah yang diinginkan Tuhan untuk dimiliki anak-anakNya. Jangan sedikitpun meragukan kemampuan Tuhan, jangan sedikitpun merasa bahwa kita tidak cukup banyak dibekali Tuhan untuk sukses. Jangan belum apa-apa sudah merasa rendah diri bahwa apa yang kita miliki tidak berharga, tidak akan bermanfaat dan tidak akan cukup untuk bisa berbuat sesuatu. Ingatlah bahwa Tuhan bisa memakai apapun yang ada pada kita, meski bagi kita terlihat kecil sekalipun, untuk melakukan karyaNya yang besar jika kita menyerahkan itu semua ke dalam tanganNya. Bagaimana iman kita, bagaimana kerelaan kita, bagaimana sikap kita dalam mempersembahkan milik kita, itulah yang menyenangkan hati Tuhan dan akan dipakaiNya secara luar biasa.

Belajarlah dari kepolosan dan keluguan anak kecil

Kenaikan

Ayat bacaan: Yohanes 16:7
======================
“Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.”

kenaikan Yesus, Roh KudusMenggenapi kehendak Bapa. Melakukan berbagai pekerjaan seperti yang diperintahkan Bapa. Mukjizat kesembuhan, membangkitkan orang mati dan banyak mukjizat lainnya. Menebus dosa manusia secara lunas lewat kematianNya di atas kayu salib. Bangkit di hari ketiga mengalahkan maut. Berulang-ulang menampakkan diri di hadapan murid-muridNya dan berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah selama 40 hari seperti yang tertulis pada Kisah Para Rasul 1:3. Lalu setelah memberikan Amanat Agung, Yesus pun terangkat naik ke surga, dan secara perlahan menghilang dari pandangan para murid menembus awan. (ay 9). Demikian ringkasan singkat dari perjalanan kehidupan Yesus selama berada di dunia dalam tubuh manusia. Hari ini kita merayakan kenaikan Yesus ke surga, dan ayat bacaan di atas adalah ayat bacaan yang saya peroleh hari ini.

Kenaikan Yesus menembus langit terjadi di depan banyak murid-muridNya, yang memandang Yesus hingga hilang sepenuhnya dari pandangan mereka. Mengapa Yesus harus kembali ke surga? Atau mungkin kita bisa balik pertanyaan ini menjadi, bagaimana jika Yesus tidak kembali ke surga? Sebelum peristiwa penangkapan, penyaliban, kebangkitan dan kenaikan, Yesus sudah menjelaskan tujuanNya, seperti yang kita baca dalam injil Yohanes. “Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.” (Yohanes 16:7). Ini adalah salah satu alasan kenapa Yesus harus naik kembali ke tahta surgawi. Roh Kudus datang menggantikan Kristus untuk mendampingi kita. Menghibur, menasehati, menegur, membimbing kita, sehingga kita tidak akan pernah sendirian lagi menjalani hidup yang berat ini di dunia. Jika sebelum kedatangan Kristus Roh Penolong, atau Roh Allah yang juga kita kenal dengan Roh Kudus ini hanya hadir pada orang-orang tertentu, pada para nabi yang ditugaskan Allah sepanjang Perjanjian Lama, kini Roh Kudus diutus Kristus sendiri untuk hadir kepada siapapun yang percaya kepadaNya dan mengakuiNya sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Bukankah ini indah? Kita tidak perlu sendirian menghadapi segalanya, in fact, we are and will be never alone! Kepada kita semua yang percaya pada Kristus dan hidup benar, ada Roh Kudus yang akan selalu bersama-sama dengan kita.

Mari kita mundur 2 pasal. Yesus berkata demikian: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” (Yohanes 14:1-4). Yesus kembali ke tempat dimana Dia seharusnya berada, to the place where He belong, dan Dia telah menyediakan tempat bagi kita semua. Dan pada saatnya nanti, Yesus sendiri akan datang kembali ke dunia untuk membawa kita semua ke suatu tempat yang indah bersama-sama dengan Dia. Bagaimana kita bisa tahu jalan yang dituju? Perhatikan ayat ini: “Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. (Yohanes 10:4). Ya, kita akan tahu kemana Yesus akan membawa kita, ke sebuah tempat tinggal kekal di rumah Bapa, karena kita mengenal suaraNya. Apa yang terjadi pada orang yang tidak mengenal Sang Gembala? “Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.” (ay 5).

Saya menganjurkan teman-teman juga untuk membaca Kisah Para Rasul 1:1-11. Ayat-ayat di sini menjelaskan ulang semua yang saya tuliskan di atas. Yesus datang ke dunia untuk menggenapi kehendak Bapa, yang begitu mengasihi kita, untuk menganugerahkan karya keselamatan bagi semua manusia. Dalam kehidupanNya di bumi, Kristus memberi teladan luar biasa dalam menyatakan kasih Allah. Lewat penderitaanNya, mati dan bangkit mengalahkan maut, Yesus menuntaskan kehendak Bapa secara sempurna. Kenaikan Kristus ke surga menyatakan kemuliaanNya, menyediakan tempat bagi kita di rumah Bapa, sementara Roh Kudus turun atas kita. Hari ini kita bisa datang memasuki hadiratNya dan memiliki Roh Kudus, Pembimbing, Penolong dan Penghibur yang seharusnya membuat kita bisa lebih teguh dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan di dunia yang berat ini. Thanks to Jesus. What a wonderful God we have.

Suatu hari nanti Yesus akan kembali membawa kita ke tempat yang telah Dia sediakan, persiapkan diri anda sebagai salah seorang yang akan turut dibawa