Tag: ilustrasi

“Soegija”, dari Empat Jam Menjadi Dua Jam Saja

MEMRODUKSI sebuah film –kata André Bazin—ibarat memilin benang panjang. Mulai dari riset data, studi lapangan dan kemudian menerjemahkan temuan-temuan itu dalam sebuah script dialog dan adegan per adegan. Seterusnya dilakukanlah pengambilan gambar adegan per adegan alias syuting dan kemudian dilakukan proses editing, dubbing suara berikut ilustrasi musik hingga kemudian muncullah sebuah film.

Membuat film tentu saja merupakan sebuah proses produksi berlapis-lapis, melibatkan banyak orang, mengkondisikan sesuatu apakah itu situasi sosial atau “lapangan” untuk kemudian dikasting agar setting peristiwanya berhasil “diciptakan” sesuai script dan arahan sang sutradara.

Jadi, wajar kalau  kemudian muncul pertanyaan kritis seperti ini. Misalnya, seorang romo yang bertanya mengapa film Soegija yang mestinya bisa berdurasi 4 jam sesuai ketersediaan bahan material kasar hasil syutingnya kok lalu tega-teganya “disunat” begitu saja menjadi hanya 2 jam saja?

Pertanyaan itu tentu saja menggelitik, karena tentu saja teramat sayang kalau bahan-bahan hasil syuting itu tidak selengkapnya ditayangkan secara keseluruhan. Mudah dipahami kegelisahan ini, apalagi –demikian argumen romo ini—bahan-bahan bagus itu bisa dipakai sebagai materi pewartaan iman tentang sosok Mgr. Albertus Soegijapranata SJ. Apalagi ketika muncul kritik yang menyatakan film Soegija nyaris mengaburkan sosok penting Mgr. Albertus Soegijapranata SJ lantaran kisah perawat nasionalis Mariyem berbalut latar belakang Perang Asia Timur Raya dan Clash I-II terasa lebih mendominasi cerita.

Cara kerja orang film

Ketika persoalan tentang durasi (masa putar) film Soegija yang mestinya bisa dibuat menjadi 4 jam namun kemudian hanya “selama” 2 jam saja, seorang pekerja film yang enggan menyebut namanya punya cerita. Menurut dia, cara kerja orang film mesti juga dipahami khalayak ramai agar kesan bahwa film itu lalu kena “potong” apalagi “sensor” jangan sampai menjadi tidak proporsional.

Sebuah adegan, kata pekerja film ini, tidak mungkin diambil hanya sesuai “nafas asli” adegan itu saja. Taruhlah misalnya, adegan minum kopi. Maka, sutradara dan kru pengambil gambar tentu tidak hanya akan mengambil adegan orang ambil gelas lalu dan sekejap sruput ambil adegan bibir beradu dengan bibir gelas saja. Melainkan adegan minum hanya akan menjadi berarti kalau pengambilan gambar itu dilakukan sebelum dan sesudah “adegan utama” yakni minum kopi.

Apakah itu orang berjalan menuju kompor, menyalakan kompor, mengaduk gula, menutup gelas dan lalu minum baru berikutnya mencuci dan seterusnya.

Nah, dari sebuah adegan sederhana minum kopi yang tak lebih dari 30 detik –misalnya—gambar yang diambil tentu lebih dari kurun waktu selama 30 detik itu. Begitu pula dengan aneka adegan lain yang jauh lebih kompleks dan rumit: situasi perang, acara pentahbisan, kotbah dan lain sebagainya.

Jadi, kata pekerja film tersebut, kalau mengikuti alur “logika” proses pembuatan film memang menjadi sangat wajar kalau hasil syuting bisa melahirkan berjam-jam masa putar. “Jauh lebih panjang (lama) dibanding hasil akhir yang merupakan produk resmi berupa film jadi itu sendiri,” katanya menjawab pertanyaan Sesawi.Net.

Ketika persoalan ini ditanyakan Sesawi.Net kepada Puskat Pictures, cara kerja orang film seperti itu merupakan hal yang lumrah di bidang proses produksi film atau sinetron. “Potongan-potongan syuting tetap kami simpan sebagai dokumentasi,” terang salah satu staf Puskat Pictures kepada Sesawi.Net.

Nah, menjadi wajar sekali kalau sebuah film yang hasil syutingnya bisa mencapai durasi 4 jam di kemudian hari muncul di pasaran dengan masa putar menjadi lebih sedikit. “Tidak perlu dipermasalahkan kenapa Soegija yang mestinya bisa tayang selama  4 jam lalu hanya menjadi 115 menit saja,” kata Puskat Pictures.

5 pencarian oleh pembaca:

  1. ilustrasi tentang roh kudus
  2. ilustrasi khotbah tentang roh kudus
  3. ilustrasi hidup kudus
  4. ilustrasi roh kudus
  5. Illustrasi ttg kedagingan
Tags : , , , , ,

Penginapan Bagi si Jahat

Ayat bacaan: Efesus 4:27
=================
“Leave no (such) room or foothold for the devil” (English AMP)

ruang bagi si jahatAgar nyaman berlibur ke sebuah tempat biasanya kita akan memastikan dulu bisa mendapatkan penginapan yang paling nyaman sesuai dengan budget kita. Kita akan memesan jauh hari untuk menghindari kemungkinan hotel yang kita inginkan sudah terlanjur penuh. Hampir di semua kota kita bisa mendapatkan tempat menginap dengan kelas beragam, mulai dari penginapan murah (budget hotel), homestay, motel, sampai hotel bintang 1 hingga 5. Cara pemesanan sekarang sudah jauh lebih mudah. Selain bisa lewat travel agency, kita pun bisa memesan lewat gerai-gerai online yang memberi harga diskon lumayan besar. Dalam bepergian kita memang harus menyiapkan tempat menginap terlebih dahulu agar kita bisa berlibur atau berkunjung dengan tenang. Selama kita belum menemukannya, tentu seperti pengalaman saya di atas kita akan terus mencari sebuah tempat, kalau bisa senyaman mungkin dengan budget yang terjangkau oleh kita.

Ilustrasi di atas saya berikan sebagai contoh untuk menggambarkan hal yang digemari iblis. Apa yang dilakukan iblis kurang lebih sama. Iblis suka “travelling” dari hati seorang ke hati yang lain. Dia akan selalu berusaha mencari tempat yang paling nyaman dalam hati kita untuk kemudian “bertamu”, menginap bahkan menetap di dalamnya. Petrus mengatakan hal tersebut seperti ini: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5;8). Ini menggambarkan hobi iblis dalam melakukan travelling. Sebelum ia memperoleh tempat menginap itu, iblis akan terus berkeliling mencari celah agar bisa menempati sebuah ruang di dalam hati kita. Begitu ketemu celah, ia akan masuk dan berdiam disana, dan ketika kita membiarkan itu terjadi, maka tinggal masalah waktu saja bagi kita untuk terjebak dalam berbagai bentuk dosa dan kesesatan, dan disana kehancuran menanti kita. Dengan mentolerir bentuk-bentuk penyimpangan atau dosa, dengan membiarkan kebiasaan-kebiasaan buruk kita dan menganggapnya hal yang biasa, jangan-jangan kita sudah memberikan sebuah tempat tumpangan yang sangat nyaman dan mewah ala bintang 5 kepada si jahat.

Alkitab sudah mewanti-wanti agar kita jangan pernah memberikan ruang kepada iblis. Dalam Alkitab tertulis “dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” (Efesus 4:27). Dalam versi KJV disebutkan dengan “Neither give place to the devil.“ Atau dalam versi English Amplified dikatakan “Leave no (such) room or foothold for the devil”. Jangan berikan ruang atau tempat berpijak kepada iblis. Iblis bisa dengan nyaman tinggal di dalam diri kita dan mengobrak-abrik iman kita hingga berimbas kepada perilaku-perilaku yang tidak terpuji dan sama sekali bertentangan dengan gambaran yang seharusnya kita miliki sebagai anak-anak Tuhan. Dan iblis sangat senang melakukan itu. Tapi perhatikanlah kembali ayat dalam 1 Petrus 5:8 di atas. Meski iblis selalu dan akan selalu mencari celah untuk menetap dalam diri kita, ia tidak akan bisa berbuat apa-apa jika kita tidak memberi tempat buat dia. Iblis hanya bisa berkeliling, mengaum-aum mencari siapa yang bisa ditelannya. Ia hanya bisa berkeliling di luar pagar, tidak akan bisa menembus kita sama sekali apabila kita tidak membiarkannya masuk. Ketika kita membiarkan sifat emosional kita, kepahitan, menuruti hawa nafsu, mendendam kepada orang lain, mudah membenci orang, selalu hidup khawatir dalam segala hal, cepat merasa takut dan hal-hal jelek lainnya, itu sama saja dengan memasang sebuah iklan yang akan sangat menarik buat iblis. Ketika kita membiarkan kelemahan-kelemahan kita terbuka tanpa kita pedulikan, itu akan menjadi sebuah celah yang sangat lebar bagi iblis untuk menancapkan kukunya dalam hidup kita.

Karena itulah sangat penting bagi kita untuk menjaga hati kita. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23). Guard your heart seriously. Dari hatilah kehidupan itu sesungguhnya terpancar, dan apa yang ada di dalam hati kita akan tercermin dalam cara hidup kita. Jika Firman Tuhan yang mengisi ruang-ruang dalam hati kita, maka itu akan dengan jelas terlihat dari sikap dan perilaku kita. Sebaliknya jika iblis yang berdiam di dalamnya, maka itu pun akan nyata dari cara hidup kita. Yang jelas kita harus benar-benar menjaga dengan serius agar jangan sampai ada ruang kosong di dalam hati kita yang bisa menjadi tempat tinggal bagi iblis, apalagi secara langsung menyediakannya dengan memupuk segala bentuk kenegatifan kita atau menyimpan dosa. Kita harus terus mengisi hati kita dengan firman Tuhan. Lihat pesan Tuhan kepada Yosua: “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” (Yosua 1:8). Jika ruang-ruang dalam hati kita diisi dengan firman Tuhan, itu akan memampukan kita untuk bertindak hati-hati. Disana iblis tidak akan bisa masuk, bahkan lebih dari itu dikatakan kita akan berhasil dan beruntung dalam perjalanan hidup kita.

Bagaimana jika iblis sudah terlanjur masuk? Lawanlah segera. Alkitab berkata “..lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!” (Yakobus 4:7). Cara melawannya sudah diberikan dalam Efesus 6:10-20. “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis… ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.” (Efesus 6:11,13). Mungkin yang jadi masalah bukan menyimpan dosa, tetapi hidup dipenuhi kecemasan pun bisa menjadi celah buat iblis untuk masuk. Untuk hal ini Tuhan sudah berpesan “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7). Atau mungkin pula sikap kita membiarkan kelemahan kita tak teratasi yang menjadi awal masalah, dan untuk itu pun firman Tuhan sudah berpesan: “Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh.” (Ibrani 12:12-13).

Jangan beri ruang sama sekali bagi iblis untuk berdiam dalam diri kita. Apakah kita mau membiarkan atau mengusirnya, semua tergantung kita. Kita harus memastikan tidak ada dosa, kejahatan, kebencian, kepahitan dan sebagainya agar tidak ada satupun celah yang bisa dimanfaatkan iblis untuk berpijak. Isilah terus dengan firman Tuhan, agar iblis hanya bisa dengan kesal mengaum-aum berkeliling diluar tanpa bisa mendekat sedikitpun pada kita. Sesungguhnya kita adalah bait Allah, dan jika demikian tidak ada tempat bagi iblis sama sekali.

Jangan berikan ruang atau tempat berpijak bagi iblis

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

5 pencarian oleh pembaca:

  1. 2 korintus 3:12-4:2
  2. Renungan 2 Korintus 3:12-4:2
  3. tafsiran 2 korintus 3:12-4:2
Tags : , , , , ,

Kesaksian

Ayat bacaan: Markus 5:19
=====================
“Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!”

kesaksianBuat saya selalu menyenangkan ketika mendengar pengalaman hidup dari tokoh-tokoh senior. Lewat pengalaman hidup mereka saya bisa belajar banyak dan itu selalu berguna untuk perjalanan hidup saya ke depan. Bagaimana mereka sukses, atau apa yang menyebabkan mereka jatuh, bagaimana mereka kemudian bangkit lagi dan berbagai pesan-pesan bijaksana dari orang yang sudah mengalami secara langsung. Mendengar kesaksian-kesaksian orang yang diubahkan Tuhan pun selalu memberi kekuatan dan berkat tersendiri bagi saya. Menurut banyak teman saya, bentuk kesaksian nyata seperti ini bagi mereka jauh lebih mengena ketimbang sesuatu yang hanya berdasarkan teori saja. Di balik sebuah kesaksian nyata itu ada bukti, dan manusia memang cenderung lebih percaya pada bukti ketimbang hanya mendengarkan pesan secara teoritis. Karena itu pula saya selalu membagikan pengalaman hidup saya sendiri kepada para murid saya. Bukan hanya yang baik-baik, tetapi juga yang buruk agar mereka bisa belajar dan tidak perlu terjatuh ke dalam lubang yang sudah pernah saya rasakan sebelumnya. Ketika banyak orang beranggapan bahwa mereka tidak punya apapun untuk dibagikan, sesungguhnya sebuah kesaksian kecil tentang kebaikan Tuhan dalam hidup pun bisa bermakna sangat besar bagi orang lain.

Sebuah kesaksian akan keajaiban perbuatan Tuhan dalam hidup manusia akan mampu berbicara banyak mengenai kebaikan Tuhan. Sebuah kesaksian yang paling sederhana sekalipun bisa jadi malah akan lebih efektif ketimbang mengkotbahi orang panjang lebar tanpa disertai contoh yang nyata. Manusia biasanya akan lebih mudah menangkap ilustrasi dari sebuah kehidupan nyata dan akan lebih mudah mencerna hingga mengaplikasikannya ketimbang hanya disuruh menelan bulat-bulat segala sesuatu yang sifatnya teoritis saja. Sebuah pengalaman pribadi tentang sesuatu akan memiliki kekuatan tersendiri untuk menggerakkan orang lain. Ada waktu-waktu dimana kita butuh mendengar berbagai kesaksian dari orang-orang yang mengalami mukjizat untuk menguatkan kita di saat kita tengah tergoncang akibat menghadapi beban hidup atau masalah.  Bisa jadi kita tahu banyak akan janji-janji Tuhan yang diberikan dalam Alkitab, tetapi kita merasa jauh dari janji itu ketika tengah menghadapi pergumulan. Itulah sebabnya berbagai kesaksian biasanya mampu menguatkan kita dan memulihkan iman kita untuk kembali dipenuhi pengharapan akan janjiNya.

Tuhan Yesus pun mengerti akan pentingnya sebuah kesaksian. Kepada murid-muridNya Dia menyampaikan sebuah pesan terakhir sebelum terangkat naik kembali ke tahtaNya di surga. “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1:8). Itu bukanlah tugas yang mudah. Kita diminta bertindak menjadi saksi Kristus baik di Yerusalem, yang berbicara mengenai “area jangkauan” kecil, di lingkungan tempat tinggal atau pekerjaan, Yudea, bericara mengenai area lebih luas yaitu propinsi, mencakup kota-kota atau desa-desa di sekitar kota kita, Samaria, yaitu menjangkau saudara-saudara kita yang belum mengenal Kristus bahkan hingga ke seluruh bumi. Bersaksi bukan hanya tugas pendeta, dan Kita tidak harus menjadi pendeta terlebih dahulu untuk bisa bersaksi. Kita tidak perlu berpikir bahwa kita harus berkotbah panjang lebar di jalan-jalan untuk menjalankan tugas ini. Kita bisa melakukan itu dengan memberi kesaksian bagaimana campur tangan Tuhan dalam kehidupan kita membuat perbedaan dalam kesempatan-kesempatan biasa ketika berkumpul bersama teman dan sebagainya.

Kita bisa melihat betapa pentingnya memberi kesaksian itu di mata Yesus lewat sebuah kisah  “Yesus mengusir roh jahat dari orang Gerasa” (Markus 5:1-20). Dalam perikop ini diceritakan bagaimana Yesus mengusir orang yang tengah dirasuk roh jahat yang keluar dari area pekuburan. Begitu banyaknya roh jahat yang masuk ke dalam orang Gerasa itu, dikatakan sebagai sebuah legiun, hingga tidak ada satupun orang yang sanggup melepaskannya. Bahkan rantai sekalipun tidak cukup kuat untuk menahan. Adalah Yesus yang akhirnya turun tangan dan melepaskan orang Gerasa itu. Untuk mengungkapkan rasa syukurnya, si orang itu pun kemudian meminta agar ia diperkenankan mengikuti Yesus kemanapun Dia pergi. Betapa menarik melihat reaksi Yesus selanjutnya. “Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!” (Markus 5:19). Perhatikan bahwa Yesus memintanya untuk kembali ke kampungnya, lalu bersaksi disana. Orang Gerasa yang disembuhkan itu pun kemudian patuh. “Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran.” (ay 20). Apa yang ia alami adalah sebuah pengalaman luar biasa mengenai bagaimana Tuhan sanggup melakukan apapun dan betapa besarnya belas kasihan Tuhan. Itu akan menjadi sebuah kesaksian indah yang akan mampu memberkati orang-orang lain. Area Dekapolis terdiri dari 10 kota, dan dari ayat 20 kita bisa melihat bahwa orang yang disembuhkan itu ternyata berkeliling dari satu kota ke kota lain di Dekapolis untuk membagikan kesaksiannya. Kita tidak tahu berapa orang yang kemudian bertobat setelah kesaksian itu, tapi saya percaya ada banyak yang diberkati dan kemudian bertobat lalu memutuskan untuk menjadi orang percaya.

Kesaksian adalah salah satu alat yang mampu membunuh iblis dan perbuatan-perbuatan jahatnya, dan Firman Tuhan sudah menyatakan hal itu. “Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut.” (Wahyu 12:11). Ini menggambarkan betapa pentingnya sebuah kesaksian untuk menghancurkan jebakan, tipu muslihat iblis dan kuasa-kuasa kegelapan yang sangat ingin menggiring kita masuk ke dalam api neraka. Sebuah kesaksian tidak harus selalu berisikan mukjizat-mukjizat seperti kesembuhan sakit penyakit, pelepasan, pemulihan, berkat-berkat dan sebagainya. Sebuah kesaksian kecil mengenai bagaimana kita bisa tetap hidup dalam pengharapan di kala kesesakan, bagaimana kita bisa tetap teguh dalam iman di saat sulit, itupun bisa menjadi berkat yang memberi kekuatan tersendiri bagi orang lain. Tidak ada satu orangpun yang tidak punya kesaksian untuk dibagikan. Masalahnya adalah, maukah kita membagikannya kepada orang lain agar mereka bisa mengenal siapa Yesus sebenarnya? Bukan kemampuan kita berbicara atau ilmu  yang kita miliki yang dibutuhkan, tetapi pakailah kuasa Allah yang bekerja di dalam diri kita.

Kesaksian yang paling sederhana pun bisa memberkati orang lain secara luar biasa

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

5 pencarian oleh pembaca:

  1. ilustrasi saksi kristus
  2. ilustrasi menjadi saksi kristus
  3. penjelasan markus 5:19
  4. illustrasi khotbah markus 5:19
  5. khotbah markus 5:1-20
Tags : , ,

Perabot Emas dan Perak

Ayat bacaan: 2 Timotius 2:20
=====================
“Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia.”

perabotan emasEntah bagaimana sendok nasi di rumah saya tiba-tiba lenyap tanpa jejak. Karenanya saya pun mencari sendok baru di supermarket bersama istri saya kemarin. Ada banyak pilihan, dan harganya pun berbeda-beda. Sendok dari kayu berharga sangat murah, dari plastik ada yang murah dan ada yang mahal, sedangkan dari logam lebih mahal lagi. Semakin bagus kualitas logamnya, semakin mahal pula harganya. Yang dari perak pun harganya selangit, apalagi jika ada yang terbuat dari emas. Harga tergantung dari bahan dan kualitasnya, itu sudah menjadi sesuatu yang wajar tentunya. Tidak hanya sendok, tetapi dalam berbagai perkakas, alat, perabot dan benda-benda lain pun hal yang sama berlaku pula.

Jika kita mengaplikasikan hal di atas terhadap kualitas hidup kita, dimana kita saat ini berada? Apa yang diinginkan Tuhan pada kita? Apakah Tuhan memang menginginkan kita untuk memperoleh kemuliaan masuk dalam KerajaanNya atau hanya sekedar lolos dari lubang jarum saja atau cukup menjadi pelengkap penderita? Apakah Tuhan rindu kita memperoleh mahkota kehidupan atau cukup hadiah hiburan saja? Tuhan jelas tidak menginginkan kita berkualitas pas-pasan. Tuhan siap mengangkat kita menjadi kepala dan bukan ekor, Dia siap membawa kita untuk tetap naik dan bukan turun, seperti bunyi FirmanNya dalam Ulangan 28:13. Mengacu pada ilustrasi di atas, sudahkah kita menyadari bahwa kita Dia kehendaki untuk menjadi perabot emas dan perak, bukan sekedar kayu dan tanah saja?

Dalam suratnya kepada Timotius, Paulus menyinggung hal ini secara khusus. “Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia.” (2 Timotius 2:20). Dalam Kerajaan akan terdapat perabot-perabot mulai dari emas, perak sampai kayu dan tanah liat. Tergantung takdir? Sama sekali tidak. Tuhan ingin kita semua untuk bisa menjadi perabot dari emas dan perak! Jika demikian bukan tergantung Tuhan, tetapi semuanya tergantung kita sendiri untuk menentukan kita untuk menjadi jenis yang mana. Tuhan ingin kita menjadi emas dan perak, tetapi jika kita tidak serius menanggapinya kita bisa berakhir sebagai kayu atau tanah. Masih mending jika kayunya bagus sehingga bisa dibuat menjadi perabot yang baik, atau tanah yang berkualitas sehingga masih bisa dibentuk menjadi pot, bagaimana jika kita berakhir menjadi kayu yang lapuk atau tanah yang tidak bisa diapa-apakan, sehingga kita hanya akan dibuang ke perapian?

Lantas bagaimana caranya? Untunglah ketika Paulus menyinggung mengenai kiasan tentang perabot ini dia juga membeberkan caranya. Perhatikan ayat selanjutnya: “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.” (ay 21). Ini berhubungan dengan ayat sebelumnya: “Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.” (ay 19). Menyucikan diri dari kejahatan, itulah yang akan membuat kita bisa menjadi perabot-perabot dari emas dan perak berkualitas tinggi. Hidup suci, hidup kudus, itu harus terus kita lakukan agar kita layak dipakai untuk setiap pekerjaan mulia. Dalam ayat-ayat selanjutnya kita bisa mendapat penjabaran lebih lanjut dari Paulus akan hal ini. “Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni. Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran.” (ay 22-23). Jangan mengejar nafsu orang muda tetapi kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai. Jangan mencari masalah karena itu tidak ada gunanya alias sia-sia, dan bersekutulah dengan saudara-saudara seiman. Selanjutnya kita juga diingatkan agar jangan bertengkar tetapi jadilah ramah dan sabar (ay 24), lemah lembut kepada orang-orang yang sulit agar hati mereka bisa terpanggil untuk mengenal kebenaran. (ay 25). Menyucikan diri, itulah intinya yang artinya sama dengan mematikan semua kedagingan yang masih melekat mengotori diri kita. Dalam surat Kolose kita bisa membaca: “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka)”. (Kolose 3:5-6). Lalu, “Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.” (ay 8-10). Semua ini dikatakan berlaku kepada siapapun. (ay 11). Apabila terasa sulit, jangan lupa bahwa kita punya Roh Kudus di dalam diri kita yang akan dengan senang hati membantu proses penyucian diri ini. Ingatlah bahwa Roh Kudus tinggal di dalam orang-orang percaya (Roma 8:11) dan akan terus bekerja untuk menyucikan kita. (Roma 15:16).

Ada banyak di antara orang percaya yang sudah merasa puas untuk menjadi perabot dari kayu dan tanah. Mereka tidak mencukupi syarat untuk menjadi perabot emas dan perak. Tidak cukup setia, tidak mau memisahkan diri dari berbagai pengaruh yang membawa kecemaran, tidak mau berpaling dari keduniawian untuk berjalan berdampingan dengan Tuhan. Tuhan tidak menghendaki kita untuk berakhir seperti itu. Tuhan siap memakai kita untuk maksud mulia, tetapi kita harus terlebih dahulu menyucikan diri kita. Itulah yang sesungguhnya menjadi panggilan Tuhan buat kita semua, dan seperti itulah kita seharusnya. Jangan berhenti, ijinkanlah Roh Kudus untuk terus bekerja atas diri kita sehingga kita bisa menjadi perabot bernilai tinggi terbuat dari logam mulia.

Jangan berhenti pada kayu dan tanah, tetapi tingkatkan terus hingga menjadi emas dan perak

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tags : , ,

Iri Hati (2) : Mencabut Kabel Iman

Ayat bacaan: 1 Yohanes 3:11-12
==============================
“Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi; bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya ia membunuhnya? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar.”

mencabut kabel, iri hati, memutus kasihApa yang terjadi jika seseorang mencabut kabel dari stop kontak ketika anda sedang menonton televisi? Televisinya akan mati bukan? Sama halnya seperti peralatan elektronik lainnya, jika kabel dicabut, aliran listrik yang mengalir akan terputus dan akibatnya peralatan elektronik yang menggunakan listrik sebagai sumber dayanya tidak akan dapat berfungsi. Lewat ilustrasi singkat ini saya ingin menyambung renungan kemarin.

Kemarin kita telah melihat bahwa dimana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat (Yakobus 3:16). Iri hati bukanlah bagian dari sifat rohani orang percaya. Itu adalah sebuah perasaan yang iblis coba tekankan pada diri kita, bagaikan umpan yang digantung di depan mata, menunggu kita menggigitnya. Mengijinkan iri hati masuk pada diri kita adalah seperti membuka pintu bagi segala kekacauan dan kejahatan untuk masuk. Kasih termasuk salah satu buah Roh (Galatia 5:22), sedangkan iri hati adalah bagian keinginan daging (ay 19-21). Kemudian lihatlah ayat ini: “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging–karena keduanya bertentangan–sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki” (ay 17). Artinya, ketika hal ini terjadi, aliran kasih dalam diri kitapun akan terganggu. Saya mengilustrasikannya sebagai kabel yang tercabut dari stop kontak. Selanjutnya apa yang terjadi? Begitu kasih terganggu, iman kita pun bisa berhenti bekerja, karena “iman bekerja oleh kasih” (ay 6).

Kasih adalah prinsip dasar kekristenan. Ketika kita dikuasai rasa iri hati, selalu merasa diri lebih baik dan lebih benar dari orang lain, kita tidak menyadari bahwa “kabel iman” kita telah tercabut, dan akibatnya kita tidak dapat berjalan bersama berkat-berkat dari Tuhan. Karena itu tidaklah heran jika Yohanes dengan tegas mengingatkan kita agar terus saling mengasihi seperti yang bisa kita baca pada ayat bacaan hari ini. Kemudian Yohanes melanjutkan: “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut” (ay 14), dan “Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia” (ay 15). Maka dengan tegas kita harus menolak kehadiran iri hati untuk masuk ke dalam kehidupan kita sedini mungkin. Kita harus berhenti membiarkan iblis mencabut kabel iman kita. Sudah waktunya kita untuk memulai hidup di dalam terang. Waktu kedatangan Kristus untuk kedua kalinya sudah dekat. Dan ketika Dia datang, tentu kita tidak ingin Dia menemukan kita dalam keadaan rohani yang sakit dan lemah, menjalani hidup dalam kondisi diracuni iri hati dan segala bentuk keinginan daging lainnya. Saya terus berdoa, semoga ketika Dia datang, Dia akan menemukan kita semua berdiri gagah di dalam Roh, penuh kasih, iman dan pengharapan. Saya ingin kita Dia dapati hidup di dalam kemenangan yang telah Dia bayar lunas di atas kayu salib. Pastikan kabel iman kita senantiasa terpasang dengan baik.

Iri hati mengganggu aliran kasih dan mencabut kabel iman. Katakan tidak pada iri hati!

Tags : , ,

Batu Karang

Ayat Bacaan: Mzm 91:2
=====================

akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.”

Hari ini saya akan memaparkan sebuah ilustrasi. Ada sekelompok burung yang tengah terbang melintasi samudera luas. Dalam perjalanannya, tiba2 badai menerpa samudera, gelombang tinggi susul menyusul, sebuah kengerian begitu nyata membuat kelompok burung tersebut tercerai berai. Ada yang terbawa badai, terhempas dan binasa. Namun, seekor burung menemukan sebuah batu karang ditengah samudera. Dan pada batu karang tersebut, ada sebuah celah, dimana burung tersebut dapat berlindung dengan tenang dan selamat dari amukan badai yang menakutkan.

Teman, hari2 ini terkadang sangat menakutkan. Ada banyak hal dalam hidup kita yang bisa menjungkir balikkan keadaan kita dalam sekejap mata. Seringkali kita berpikir, tidak ada jaminan apapun dalam hidup ini yang bisa mengamankan kita dalam setiap situasi dan kondisi. Dalam pemikiran manusia yang serba terbatas, berbagai alternatif sebagai payung pengaman hidup pun bermunculan, mulai dari yang masuk akal hingga hal2 supranatural yang berkaitan dgn kuasa kegelapan. Seringkali orang tidak sabar menunggu datangnya bala bantuan Tuhan, yang hanya diukur dalam ukuran manusia. Pendeknya, jika berdoa saat ini, Tuhan pun akan menjawab langsung doa kita, secara instan. Jika tidak? kita akan segera mencari pola penyelamatan lainnya yg bisa memberikan solusi secara cepat, tidak perduli solusi tersebut datang dari mana asalnya.

Padahal kita punya perlindungan Batu Karang yang kokoh. 1 Korintus 10:4 dengan jelas menyebutkan bahwa batu karang itu tidak lain adalah Kristus sendiri. Hadapi semua masalah dengan tenang, teruslah tekun dalam doa,dan jangan pernah lupa akan Batu Karang tempat perlindungan kita. Kita tidak perlu takut akan kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang. Tuhan sendiri akan menuntun kita dan bersama kita di lembah paling gelap dan kelam sekalipun. Tidak ada perkara yang mustahil bagi Tuhan, buat orang yang percaya. Tetaplah berjalan dalam Tuhan kita, walaupun hari2 yang kita lalui masih gelap dan penuh tanda tanya. Pada saatnya, waktunya Tuhan, hidup anda akan kembali back on track, dengan keadaan yang malah jauh lebih baik dari sebelumnya. Bersama Yesus kita akan menggapai kemenangan demi kemenangan.

Tetaplah tenang dalam setiap masalah, ada Batu Karang yang tetap melindungi kita

Tags : , , , , ,