Renungan Harian

Kumpulan Renungan Iman Kristiani

Renungan Harian - Kumpulan Renungan Iman Kristiani

“Soegija”, dari Empat Jam Menjadi Dua Jam Saja

MEMRODUKSI sebuah film –kata André Bazin—ibarat memilin benang panjang. Mulai dari riset data, studi lapangan dan kemudian menerjemahkan temuan-temuan itu dalam sebuah script dialog dan adegan per adegan. Seterusnya dilakukanlah pengambilan gambar adegan per adegan alias syuting dan kemudian dilakukan proses editing, dubbing suara berikut ilustrasi musik hingga kemudian muncullah sebuah film. Membuat film tentu saja [...]

Perabot Emas dan Perak

Ayat bacaan: 2 Timotius 2:20
=====================
“Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia.”

perabotan emasEntah bagaimana sendok nasi di rumah saya tiba-tiba lenyap tanpa jejak. Karenanya saya pun mencari sendok baru di supermarket bersama istri saya kemarin. Ada banyak pilihan, dan harganya pun berbeda-beda. Sendok dari kayu berharga sangat murah, dari plastik ada yang murah dan ada yang mahal, sedangkan dari logam lebih mahal lagi. Semakin bagus kualitas logamnya, semakin mahal pula harganya. Yang dari perak pun harganya selangit, apalagi jika ada yang terbuat dari emas. Harga tergantung dari bahan dan kualitasnya, itu sudah menjadi sesuatu yang wajar tentunya. Tidak hanya sendok, tetapi dalam berbagai perkakas, alat, perabot dan benda-benda lain pun hal yang sama berlaku pula.

Jika kita mengaplikasikan hal di atas terhadap kualitas hidup kita, dimana kita saat ini berada? Apa yang diinginkan Tuhan pada kita? Apakah Tuhan memang menginginkan kita untuk memperoleh kemuliaan masuk dalam KerajaanNya atau hanya sekedar lolos dari lubang jarum saja atau cukup menjadi pelengkap penderita? Apakah Tuhan rindu kita memperoleh mahkota kehidupan atau cukup hadiah hiburan saja? Tuhan jelas tidak menginginkan kita berkualitas pas-pasan. Tuhan siap mengangkat kita menjadi kepala dan bukan ekor, Dia siap membawa kita untuk tetap naik dan bukan turun, seperti bunyi FirmanNya dalam Ulangan 28:13. Mengacu pada ilustrasi di atas, sudahkah kita menyadari bahwa kita Dia kehendaki untuk menjadi perabot emas dan perak, bukan sekedar kayu dan tanah saja?

Dalam suratnya kepada Timotius, Paulus menyinggung hal ini secara khusus. “Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia.” (2 Timotius 2:20). Dalam Kerajaan akan terdapat perabot-perabot mulai dari emas, perak sampai kayu dan tanah liat. Tergantung takdir? Sama sekali tidak. Tuhan ingin kita semua untuk bisa menjadi perabot dari emas dan perak! Jika demikian bukan tergantung Tuhan, tetapi semuanya tergantung kita sendiri untuk menentukan kita untuk menjadi jenis yang mana. Tuhan ingin kita menjadi emas dan perak, tetapi jika kita tidak serius menanggapinya kita bisa berakhir sebagai kayu atau tanah. Masih mending jika kayunya bagus sehingga bisa dibuat menjadi perabot yang baik, atau tanah yang berkualitas sehingga masih bisa dibentuk menjadi pot, bagaimana jika kita berakhir menjadi kayu yang lapuk atau tanah yang tidak bisa diapa-apakan, sehingga kita hanya akan dibuang ke perapian?

Lantas bagaimana caranya? Untunglah ketika Paulus menyinggung mengenai kiasan tentang perabot ini dia juga membeberkan caranya. Perhatikan ayat selanjutnya: “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.” (ay 21). Ini berhubungan dengan ayat sebelumnya: “Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.” (ay 19). Menyucikan diri dari kejahatan, itulah yang akan membuat kita bisa menjadi perabot-perabot dari emas dan perak berkualitas tinggi. Hidup suci, hidup kudus, itu harus terus kita lakukan agar kita layak dipakai untuk setiap pekerjaan mulia. Dalam ayat-ayat selanjutnya kita bisa mendapat penjabaran lebih lanjut dari Paulus akan hal ini. “Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni. Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran.” (ay 22-23). Jangan mengejar nafsu orang muda tetapi kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai. Jangan mencari masalah karena itu tidak ada gunanya alias sia-sia, dan bersekutulah dengan saudara-saudara seiman. Selanjutnya kita juga diingatkan agar jangan bertengkar tetapi jadilah ramah dan sabar (ay 24), lemah lembut kepada orang-orang yang sulit agar hati mereka bisa terpanggil untuk mengenal kebenaran. (ay 25). Menyucikan diri, itulah intinya yang artinya sama dengan mematikan semua kedagingan yang masih melekat mengotori diri kita. Dalam surat Kolose kita bisa membaca: “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka)”. (Kolose 3:5-6). Lalu, “Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.” (ay 8-10). Semua ini dikatakan berlaku kepada siapapun. (ay 11). Apabila terasa sulit, jangan lupa bahwa kita punya Roh Kudus di dalam diri kita yang akan dengan senang hati membantu proses penyucian diri ini. Ingatlah bahwa Roh Kudus tinggal di dalam orang-orang percaya (Roma 8:11) dan akan terus bekerja untuk menyucikan kita. (Roma 15:16).

Ada banyak di antara orang percaya yang sudah merasa puas untuk menjadi perabot dari kayu dan tanah. Mereka tidak mencukupi syarat untuk menjadi perabot emas dan perak. Tidak cukup setia, tidak mau memisahkan diri dari berbagai pengaruh yang membawa kecemaran, tidak mau berpaling dari keduniawian untuk berjalan berdampingan dengan Tuhan. Tuhan tidak menghendaki kita untuk berakhir seperti itu. Tuhan siap memakai kita untuk maksud mulia, tetapi kita harus terlebih dahulu menyucikan diri kita. Itulah yang sesungguhnya menjadi panggilan Tuhan buat kita semua, dan seperti itulah kita seharusnya. Jangan berhenti, ijinkanlah Roh Kudus untuk terus bekerja atas diri kita sehingga kita bisa menjadi perabot bernilai tinggi terbuat dari logam mulia.

Jangan berhenti pada kayu dan tanah, tetapi tingkatkan terus hingga menjadi emas dan perak

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Iri Hati (2) : Mencabut Kabel Iman

Ayat bacaan: 1 Yohanes 3:11-12
==============================
“Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi; bukan seperti Kain, yang berasal dari si jahat dan yang membunuh adiknya. Dan apakah sebabnya ia membunuhnya? Sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar.”

mencabut kabel, iri hati, memutus kasihApa yang terjadi jika seseorang mencabut kabel dari stop kontak ketika anda sedang menonton televisi? Televisinya akan mati bukan? Sama halnya seperti peralatan elektronik lainnya, jika kabel dicabut, aliran listrik yang mengalir akan terputus dan akibatnya peralatan elektronik yang menggunakan listrik sebagai sumber dayanya tidak akan dapat berfungsi. Lewat ilustrasi singkat ini saya ingin menyambung renungan kemarin.

Kemarin kita telah melihat bahwa dimana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat (Yakobus 3:16). Iri hati bukanlah bagian dari sifat rohani orang percaya. Itu adalah sebuah perasaan yang iblis coba tekankan pada diri kita, bagaikan umpan yang digantung di depan mata, menunggu kita menggigitnya. Mengijinkan iri hati masuk pada diri kita adalah seperti membuka pintu bagi segala kekacauan dan kejahatan untuk masuk. Kasih termasuk salah satu buah Roh (Galatia 5:22), sedangkan iri hati adalah bagian keinginan daging (ay 19-21). Kemudian lihatlah ayat ini: “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging–karena keduanya bertentangan–sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki” (ay 17). Artinya, ketika hal ini terjadi, aliran kasih dalam diri kitapun akan terganggu. Saya mengilustrasikannya sebagai kabel yang tercabut dari stop kontak. Selanjutnya apa yang terjadi? Begitu kasih terganggu, iman kita pun bisa berhenti bekerja, karena “iman bekerja oleh kasih” (ay 6).

Kasih adalah prinsip dasar kekristenan. Ketika kita dikuasai rasa iri hati, selalu merasa diri lebih baik dan lebih benar dari orang lain, kita tidak menyadari bahwa “kabel iman” kita telah tercabut, dan akibatnya kita tidak dapat berjalan bersama berkat-berkat dari Tuhan. Karena itu tidaklah heran jika Yohanes dengan tegas mengingatkan kita agar terus saling mengasihi seperti yang bisa kita baca pada ayat bacaan hari ini. Kemudian Yohanes melanjutkan: “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut” (ay 14), dan “Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia” (ay 15). Maka dengan tegas kita harus menolak kehadiran iri hati untuk masuk ke dalam kehidupan kita sedini mungkin. Kita harus berhenti membiarkan iblis mencabut kabel iman kita. Sudah waktunya kita untuk memulai hidup di dalam terang. Waktu kedatangan Kristus untuk kedua kalinya sudah dekat. Dan ketika Dia datang, tentu kita tidak ingin Dia menemukan kita dalam keadaan rohani yang sakit dan lemah, menjalani hidup dalam kondisi diracuni iri hati dan segala bentuk keinginan daging lainnya. Saya terus berdoa, semoga ketika Dia datang, Dia akan menemukan kita semua berdiri gagah di dalam Roh, penuh kasih, iman dan pengharapan. Saya ingin kita Dia dapati hidup di dalam kemenangan yang telah Dia bayar lunas di atas kayu salib. Pastikan kabel iman kita senantiasa terpasang dengan baik.

Iri hati mengganggu aliran kasih dan mencabut kabel iman. Katakan tidak pada iri hati!

Batu Karang

Ayat Bacaan: Mzm 91:2
=====================

akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.”

Hari ini saya akan memaparkan sebuah ilustrasi. Ada sekelompok burung yang tengah terbang melintasi samudera luas. Dalam perjalanannya, tiba2 badai menerpa samudera, gelombang tinggi susul menyusul, sebuah kengerian begitu nyata membuat kelompok burung tersebut tercerai berai. Ada yang terbawa badai, terhempas dan binasa. Namun, seekor burung menemukan sebuah batu karang ditengah samudera. Dan pada batu karang tersebut, ada sebuah celah, dimana burung tersebut dapat berlindung dengan tenang dan selamat dari amukan badai yang menakutkan.

Teman, hari2 ini terkadang sangat menakutkan. Ada banyak hal dalam hidup kita yang bisa menjungkir balikkan keadaan kita dalam sekejap mata. Seringkali kita berpikir, tidak ada jaminan apapun dalam hidup ini yang bisa mengamankan kita dalam setiap situasi dan kondisi. Dalam pemikiran manusia yang serba terbatas, berbagai alternatif sebagai payung pengaman hidup pun bermunculan, mulai dari yang masuk akal hingga hal2 supranatural yang berkaitan dgn kuasa kegelapan. Seringkali orang tidak sabar menunggu datangnya bala bantuan Tuhan, yang hanya diukur dalam ukuran manusia. Pendeknya, jika berdoa saat ini, Tuhan pun akan menjawab langsung doa kita, secara instan. Jika tidak? kita akan segera mencari pola penyelamatan lainnya yg bisa memberikan solusi secara cepat, tidak perduli solusi tersebut datang dari mana asalnya.

Padahal kita punya perlindungan Batu Karang yang kokoh. 1 Korintus 10:4 dengan jelas menyebutkan bahwa batu karang itu tidak lain adalah Kristus sendiri. Hadapi semua masalah dengan tenang, teruslah tekun dalam doa,dan jangan pernah lupa akan Batu Karang tempat perlindungan kita. Kita tidak perlu takut akan kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang. Tuhan sendiri akan menuntun kita dan bersama kita di lembah paling gelap dan kelam sekalipun. Tidak ada perkara yang mustahil bagi Tuhan, buat orang yang percaya. Tetaplah berjalan dalam Tuhan kita, walaupun hari2 yang kita lalui masih gelap dan penuh tanda tanya. Pada saatnya, waktunya Tuhan, hidup anda akan kembali back on track, dengan keadaan yang malah jauh lebih baik dari sebelumnya. Bersama Yesus kita akan menggapai kemenangan demi kemenangan.

Tetaplah tenang dalam setiap masalah, ada Batu Karang yang tetap melindungi kita